Work Text:
Massachusetts — 1964
Karina buru-buru berlari ke arah pintu depannya, membuka pintu kayu yang di ketuk keras yang lebih tepat jika dibilang seperti dapat di dobrak kapan saja.
“For fuck sake! I’m going to kill who ever… Shit, Jaemin honey what happened?” Nada Karina melembut melihat sosok yang basah kuyup berdiri murung di teras rumahnya.
“Rin, I– I need your help” Lelaki itu bergetar. Entah dari dinginnya udara atau dari keputus-asaan dalam kalimatnya. Karina meraih mantelnya yang selalu tergantung disamping pintu depannya. Wrapping Jaemin in her coat.
“Tenang Jaem. Warm up your self, okay? I’ll brew you some tea” Lantai di bawah keduanya tergenang air. Tidak ada bagian badan Jaemin yang tidak tersentuh air hujan. Mata lelaki itu menatap dalam ke perapian, mengawang jauh seakan enggan menginjak realita.
Karina menyodorkan cangkir yang asapnya masih mengepul. Memindahkannya secara perlahan ke tangan Jaemin.
“Hei, what’s wrong?” Karina berjongkok di depan lelaki itu. Menatapnya dengan penuh khawatir.
“Rin, Haechan. Dia –” Jaemin menggigit bibir bawahnya. Mati-matian menahan air matanya yang sudah berkumpul di ujung mata coklatnya. Karina dengan sabar menunggu Jaemin melanjutkan kalimatnya.
Jaemin mengatur nafasnya. Salah satu tangannya merogoh saku celana, mengeluarkan amplop yang basah.
“This is from Jisung. Haechan– his family knows about me Rin. About us” Tangan Jaemin bergetar. Air mata yang susah payah ia tahan berlomba-lomba turun dari pipinya. Karina meraih tangan Jaemin, menggengamnya erat.
“Those bastard sends him to asylum two weeks ago when he’s visiting them. I– ah, fuck!” Jaemin menunduk, menangis tersedu. Karina menarik lelaki itu ke dalam pelukan. Memberikan tepukan halus di punggungnya.
“Hush hush love. It’s okay. let it all out I’m here” Tangisan Jaemin semakin keras. Semua emosi yang sudah menumpuk sejak datangnya surat terkutuk itu lari ke dalam raungan putus asanya.
♡
Jaemin bangun pagi tadi dengan senyum cerah. Mengingat wajah manis kekasihnya. Bahkan langit mendung di luar sana tak dapat melunturkan rasa senangnya.
“Cuma dua minggu Jaem. They want to celebrate my birthday together. I’ll be home before you realize it” Itu janji kekasihnya. This is the day!
Rasa bahagia itu masih setia menggelantungi hati Jaemin. Sampai pintu depannya diketuk. Sepucuk surat dari Jisung, Tetangga rumah orangtua Haechan yang sudah seperti adik kekasihnya. Jaemin menatap bingung amplop coklat di tangannya. Hal yang tidak biasa kalau dia boleh jujur. Beberapa kali ia berbincang dengan Jisung saat Haechan menelpon lelaki itu. Untuk melepas rindu katanya. Tapi ia tidak pernah merasa sedekat itu sampai Jisung dapat mengiriminya surat seperti ini.
He feels damned.
Surat itu berisi kertas kusut yang ditulis secara terburu. Beberapa kalimatnya bahkan meninggalkan titik tebal dari tinta, seakan ditekan oleh sang penulis. Bahkan pilihan katanya, seakan tak peduli dengan basa-basi perkenalan.
To: Jaemin.
I hope this letter comes to you on time. I hate to tell you this kind of matter through a letter, but I can’t risk my parents knowing that I reached you.
Haechan’s parents send him to Briarcliff mental institution, telling them they discard him and doesn’t want anything because of his sins. I’m hoping you can bail him out since you’re the only one who close enough with him.
Please, help us. I’m begging you. keep me posted through my best friend, Chenle: 617273829
Best regard.
– Jisung
♡
Jaemin sudah mulai tenang. Jeno — kekasih Karina — Juga sudah pulang dari shiftnya di Rumah sakit. Harusnya Jaemin yang memimpin operasi tadi pagi. Tapi Jeno menggantikannya karna Jaemin yang berdalih menunggu kepulangan kekasihnya.
“Alright, let’s go” Jeno berdiri dari duduknya setelah keheningan panjang diantara ketiganya. Mata Karina dan Jaemin mengikuti gerakkan Jeno dengan bingung.
“Kemana?” Sarkas Karina. Masih heran dari maksud perkataan kekasihnya.
“Briarcliff it’s only two hour rides. if we move now, we still got time to get Haechan” Jelas Jeno. Mata Jaemin berkilat. Lelaki itu ikut berdiri.
“Jeno, tunggu! We’re going to bail out someone from a mental institution that runs by church and the government. Gimana kalau mereka minta bayaran besar? or even worse. Gimana kalau harus melewati orangtua Haechan dulu? we can’t risk him further more” Karina menghentikan keduanya.
“You’re right” Jaemin kembali murung setelah mencerna penjelasan Karina. “I can’t let them hurt Haechan”
“Hey, hey! Both of you!” Jeno menjentikkan jarinya, Gaining attention from his girlfriend and his best friend.
“Don’t worry about the money. we can use our saving to help Haechan. Don’t you think, sweetheart?” Karina mengangguk. Tapi bukan itu yang wanita itu khawatirkan.
“Kalau mereka tidak mengizinkan kita karna kita bukan orangtuanya, we’ll find a way. Even if that’s mean we have to kidnapped him from those animals.”
♡
“we’re here for Haechan Lee” Jeno berbicara dengan seseorang yang berjaga di lobi depan. Jaemin berdiri tk jauh di belakang Jeno. Lelaki itu melarang sahabatnya untuk angkat bicara. Tak sanggup membayangkan kemungkinan kalimat buruk mengenai kondisi Haechan yang harus sahabatnya dengar.
“You are his homo buddies?” Kening Jeno mengerut. Tidak suka dengan nada remeh dari penjaga didepannya.
Jeno mengeluarkan kartu pengenalnya. “I’m his roommate” Penjaga itu mengulurkan kepalanya. Menatap tanda pengenal Jeno dan Jaemin secara bergantian.
“what a bunch of animals” Komen penjaga itu lagi.
“Excuse me?” Jeno muak. Tapi ia tahan dirinya. Tenang, ia harus tenang disini.
“You can take him back. Tempat ini sudah kehabisan tempat karna setiap hari gereja dan kota terus menerus mengirim orang penuh dosa ke sini. Make me sick” Jeno hanya diam. Mati-matian menahan diri untuk tidak membuat gaduh.
Setelah menyelesaikan administrasi, Jeno berjalan kembali ke arah sahabatnya.
“how is it, Jen?” Jeno tersenyum.
“He’s going home with us”
Setelah 2 jam yang menyiksa, kedua lelaki itu dapat melihat silhouette Haechan dari kejauhan. Kaki mereka kembali tegak melihat ke arah lelaki yang berjalan lesu dengan baju putihnya.
“Chan” Mata Haechan akhirnya fokus pada Jeno dan Jaemin. Ia tersenyum tipis.
“Jeno, Jaemin. Hey guys” sapa lelaki itu lirih. Mata jaemin menatap nanar ke arah Haechan yang berantakan. Mati-matian ia menahan dirinya untuk tidak lari menarik kekasihnya ke dalam pelukkan.
Rambutnya yang biasa rapih tersisir sekarang terlihat lepek. Mata bulat Haechan yang cerah berubah mendung. Pipinya yang penuh kini hilang tergantikan dengan lekukan cekung yang sangat dalam. Haechan-nya kehilangan warnanya.
“Ayo Haechan. Kita harus bergerak sekarang sebelum jalanan berubah gelap” Jeno menggiring Haechan ke dalam mobil.
Bahkan ketika mereka sudah menjauh dari Briarcliff, Haechan hanya bergeming menatap kosong ke arah jalanan.
Dari jarak sedekat ini Jaemin dapat melihat jelas wajah Haechan. Matanya tak bisa berpaling dari perban yang masih membungkus rapi kepalanya.
Badan Jaemin kembali bergetar. Ia memejamkan matanya, kembali menangis. Those bastard, what have they done to his sweet boy?
“Jaemin, kenapa?” Akhirnya Haechan membuka kembali mulutnya. Bahkan Jeno yang duduk di kursi pengemudi mencuri pandang ke kursi belakang.
Jaemin menggeleng pelan “Nothing, sweetheart” Jaemin berusaha tersenyum. Tapi suaranya berkhianat.
“Don’t cry” Kalimat yang harusnya menenangkan itu terdengar datar. Seakan kosong tanpa emosi.
Jaemin membuang pandangannya ke luar jendela. Bibirnya bergetar.
He’s not the same Haechan.
