Actions

Work Header

Sayonara

Summary:

Dazai akan pergi meninggalkan Yokohama, kembali menghilang dan memulai kehidupan sebagai orang biasa.

Demi menjaga sang anak dari kegelapan.

Notes:

Guys, ini gak bisa buat italic di ao3 ya kalo postnya via ponsel? Oh iya, ini alur nya maju mundul, dan harusnya italic untuk bedain masa lalu dan masa kini. Tapi bingung gimana caranya

Chapter Text

Satu kotak besar sudah terisi dengan barang-barang yang segera dilakban oleh manusia perban, lalu berencana memindahkannya ke sudut ruangan. Agar memudahkan jika pengangkut barang sudah sampai. Surat dan berkas yang ia susun untuk mengundurkan diri dari Agensi sudah tersusun rapi di map coklat, akan ia bawa sekalian saat masuk kantor. Misi terakhir sudah berjalan lancar, dan tiba waktunya untuk Dazai tidak lagi bekerja sebagai detektif di Agensi Detektif Bersenjata. Keputusannya sudah bulat. Dazai sudah merasa cukup melakukan seluruh permintaan teman yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri, Odasaku, untuk membantu orang yang lemah. Dazai sudah membentuk penerusnya dalam melindungi Yokohama, dan melatih Atsushi serta Akutagawa untuk menjadi lebih baik dari duo sebelumnya. Prediksinya benar, Shin Soukoku bisa mengimbangi Soukoku lebih cepat dari perkiraan, dan dengan begitu, Dazai bisa ‘menghilang’ lebih cepat dari rencananya. 

Suara langkah kecil menginterupsi kegiatan sang brunet dari melakban kardus. Sosok mungil yang baru setengah sadar memberikan boneka ikan yang sudah lumayan kusam, sedangkan boneka kepiting berwarna merah ia peluk dengan erat. Rambut coklatnya masih berantakan. Iris birunya menatap Dazai ngantuk. “Mama, Mr. Fish juga dipaketkan!” 

Awalnya, rencana Dazai akan berakhir dengan kematian. Ia sudah merencanakan kematian yang tidak menyakitkan, setelah seluruh pesan terakhir Odasaku ia kabulkan. Bahkan Dazai sendiri sudah memesan pemakaman tepat di sebelah makam temannya itu. Dan Dazai hampir menyewa jasa acara untuk pemakamannya sendiri. Namun hal tak terduga muncul saat Dazai ingin memesan jasa itu. Dua bulan setelah sang brunet membelot dari Port Mafia, ia merasakan tubuhnya yang sedikit bermasalah. Ia lebih mudah sakit dan lemas, nafsu makan yang entah bagaimana lebih banyak dibandingkan biasanya, juga rasa mual yang hebat di pagi hari. Dazai pikir mungkin ia sudah hampir mati, mati sebelum menyelesaikan seluruh permintaan terakhir Odasaku. Namun saat ia merasakan perutnya yang semakin besar, pikiran itu berubah menjadi sebuah kekhawatiran juga kebimbangan. Kekhawatirannya benar terjadi saat ia membeli alat tes kehamilan. Garis dua muncul pada stik putih itu, membuat sang brunet menegak air liurnya berat. Segera kebimbangan muncul di dirinya, antara menggugurkan anak yang ada di kandungan, atau mempertahankannya. Namun kebimbangannya sirna saat Dazai merasakan sedikit tonjolan di perut kecilnya. Odasaku ingin Dazai berada di kehidupan terang, menyelamatkan orang-orang. Dan sosok pertama yang akan ia selamatkan adalah anaknya sendiri.

Saat itu, Dazai segera memantapkan dirinya untuk menjaga calon anaknya, mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk membuat sang anak hidup bahagia, hidup jauh dari kekerasan yang dilalui oleh kedua orang tua nya di masa muda. 

Rencana awal Dazai ingin mengambil nyawanya, berubah menjadi membahagiakan sosok kecilnya. Sang anak sudah berumur empat tahun, dan Dazai berpikir ini sudah waktunya untuk lebih fokus dengan sosok gadis mungil di depannya. Dengan pergi, Dazai dan sang anak bisa hidup menjauh dari kegelapan dan kekerasan. Anaknya bisa hidup layaknya anak-anak seumurannya. Tidak terbelenggu di dalam a0artemen ya g sudah Dazai pertahankan keamanannya saat meninggalkan Sakura.

“Bukannya Mr. Fish bantal kesukaan Kura?” tanya Dazai lembut. 

“Takut Mr. Fish ketinggalan.” 

Sang brunet kembali membuka kotak yang kebetulan belum terlalu penuh. “Nanti Kura tidurnya gimana?”

“Masih ada Mr. Crab!” Tangan kecil Sakura memamerkan boneka merah kepitingnya. 

Sosok kecil itu meletakkan boneka kecilnya saat Dazai sudah membuka kembali kotak. Setelah boneka itu diletakkan, Sakura malah duduk di pangkuan sang brunet. “Mama, kita kapan pergi?” 

Dazai kembali menutup kotak itu dan mulai membuka selotip. “Misi mama yang ini udah selesai, setelah mama ngurus surat-surat, kita bisa pergi." 

Sakura membenamkan kepalanya di tubuh sang mama. “Hanya berdua ya, Ma?” 

Pergerakan Dazai sempat terhenti karena pertanyaan polos anaknya. Sakura saat ini sudah mengerti konsep orang tua. Ia sudah mengetahui bahwa orang-orang mempunyai Mama dan Papa di dunia ini. Sakura selalu bertanya tentang keberadaan sang papa yang tak pernah ia jumpa. Dan Dazai selalu berhasil mengalihkan pertanyaan itu ke topik lain, ia tidak bisa membohongi anaknya, namun ia juga tidak bisa menjawab dengan jujur keberadaan sang papa. 

Papanya Sakura. 

Ingatan tentang percakapannya dengan Papa Sakura kembali melintas. 

Dazai yang identitasnya sudah menjadi buronan Port Mafia, dengan nekat menghampiri salah satu anggota terpercaya organisasi mafia itu. Salah satu anggota yang begitu loyal. Pasangan, bukan, mantan pasangan kerjanya. Chuuya. 

Karena seluruh jawaban yang Chuuya berikan akan menjadi penentu keputusan yang akan sang brunet ambil. 

Karena dasarnya, kejadian itu merupakan kesalahan. 

Tidak sulit untuk mencari keberadaan Chuuya. Sang jingga sering berada di rooftop apartemennya di malam hari, sekadar untuk mencari angin, atau menjernihkan pikirannya yang mungkin sedang kusut. 

Benar saja, Chuuya saat ini sedang berdiri, menyandarkan tubuhnya ke tepian rooftop. Menikmati pemandangan Yokohama dengan sebatang rokok di tangannya. 

Dengan gesit, Dazai segera mengambil batang nikotin itu, lalu menginjaknya hingga mati. Ia tidak mau penbicaraan ini ditemani oleh asap rokok, pun menghirup asap itu membuatnya sedikit mual. 

"Sialan!" Umpat Chuuya. Setelah menyadari sosok yang merebut rokoknya, Chuuya menatapnya tajam. "Apa maumu?" 

"Berbincang sebentar."

Chuuya mendengus kesal. "Berbincang? Sama pengkhianat yang pergi karena kekasihnya mati, huh."

Dazai mengeraskan rahangnya. Chuuya tahu, hubungan Dazai dan Odasaku tidak lebih dari sekedar hubungan abang dan adik. Perasaan yang tidak lebih dari saudara. Dazai selalu menjelaskan hal itu pada sang jingga. Lalu mengapa Chuuya tetap saja mengungkit hal yang salah?

"Kau sangat percaya diri menunjukkan batang hidungmu, padahal aku bisa menyeretmu saat ini juga ke hadapan bos." 

"Chuuya tidak akan melakukan itu," ucap Dazai datar. Ia yakin dengan pernyataannya, Chuuya tidak akan melaporkan keberadaan Dazai pada sang bos. 

Sang jingga hanya berdecak kesal. "Apa maumu?" 

Dazai tidak menjawab. Ia hanya memandang keindahan malam Yokohama. 

Keheningan terus terjadi hingga Chuuya tidak lagi bisa menunggu lebih lama. "Daz-" 

"Apa yang akan kau lakukan jika aku hamil, Chuuya?" 

Iris biru melebar. Kepalanya dengan cepat mengarah ke sang brunet. "Hah?" 

Dazai mengarahkan wajahnya pada sang jingga. Raut wajahnya datar, tidak menunjukkan wajah menyebalkan di balik poni yang hampir menutupi matanya. 

Chuuya mendengus. "Mana mungkin." 

"Jika, Chuuya. Jika. Aku masih punya rahim. Setidaknya kesempatan untuk aku punya anak masih ada." 

Reaksi Chuuya sungguh di luar ekspektasi Dazai. Sang jingga menaikkan alisnya, menatap Dazai seperti Dazai menyatakan bahwa ia percaya bumi datar. "Mana mungkin." Ulangnya lagi. "Kita selalu menggunakan pengaman. Jika kau hamil, bisa jadi ayahnya sosok yang baru saja mati!" 

Tidak. Dazai tidak pernah berhubungan selain dengan Chuuya. Tanpa sadar, Dazai mengepalkan tangannya. 

"Dan kau, mana mungkin tuhan mau menitipkan sesuatu yang berharga kepada iblis wanita sepertimu!" 

Kali ini, Dazai membeku mendengar seluruh ucapan Chuuya. Ia tidak menyangka, pasangan, tidak, mantan pasangannya, akan mengatakan hal itu padanya. 

Rahang sang brunet mengeras, kepalan tangannya mengerat di balik tubuhnya. Kata per kata yang Chuuya keluarkan masuk ke telinganya, menusuk, dan menyesakkan dadanya. 

Mulut Dazai membuka, ingin membantah seluruh pernyataan Chuuya. Ingin berteriak pada sang jingga bahwa ia tidak mungkin memiliki anak selain dengannya. Namun, kalimat terakhir Chuuya membungkam seluruh bantahan yang sudah tersusun rapi di kepalanya. 

Ya, Chuuya selalu menatap Dazai dengan tatapan kebencian. Ia hanya iblis wanita di mata biru itu. 

Menyadari hal itu, Dazai hanya tersenyum tipis. "Ya, kau benar." 

Sang brunet segera pergi dari rooftop. Tidak lagi ingin mendengar ucapan Chuuya, wujud sang jingga, dan beribu kenangan yang mencul di kepalanya, membuat dada semakin sesak.

Ya, apa yang Dazai harapkan dari jawaban Chuuya? 

Chuuya membencinya. 

Kejadian saat itu sebuah kesalahan. Nah, semua kejadian yang ia dan Chuuya lewati, semuanya kesalahan. 

Mana mungkin otak kecil Chuuya ingin repot-repot mengingat kejadian itu. 

Tangan berperban Dazai mengelus rambut yang sangat mirip dengannya. Surai brunet bergelombang. Bahkan potongan rambut mereka sangat mirip, potongan rambut sebahu dengan poni hampir menutupi mata. Perbedaannya saat ini karena rambut Sakura yang masih berantakan, sedangkan sang mama sudah rapi dan bersiap untuk berangkat kerja. Mereka seperti kakak dan adik, karena dasarnya Dazai masih berumur dua puluh tiga tahun saat ini. "Ditempat baru, Kura bakal ketemu sama teman-teman yang lebih banyak! Trus, trus, salju di sana bakal lebih lama. Kura suka salju, kan?" 

Sang anak menganggukkan kepalanya bersemangat. 

Tujuan perjalanan mereka, Hokkaido. Dazai sudah menyiapkan apartemen kecil di pulau paling utara Jepang itu, hasil kerja kerasnya di Port Mafia ia habiskan hampir setengahnya untuk membeli apartemen yang lebih besar dibandingkan apartemen yang saat ini ia tempati dan juga tanah untuknya dan Sakura hidup dan memulai kembali kehidupan dengan berkebun. Sisa uangnya pun sudah ia simpan di sana, karena Dazai berencana akan menjadi seorang petani saja. Namun sebenarnya, sisa uang sudah bisa mensejahterakan Dazai dan Sakura hingga sang anak dewasa, namun Dazai masih butuh kegiatan untuk mengalihkan pikirannya. 

“Mama harus masuk kerja tepat waktu di saat-saat terakhir! Sakura jadi anak baik di rumah ya.”

--- 

"Kau benar-benar akan pergi tanpa mengabari dia, Dazai?" Saat ini Dazai sedang berada di ruang perawatan, menjalani pemeriksaan terakhirnya bersama Yosano sensei, dan berniat membawa riwayat kesehatan Dazai yang dimiliki dokter agensi itu. Dazai terlalu malas untuk mengulang kembali catatan riwayat itu jika ia sakit di Hokkaido, jadi ia tidak perlu melakukan wawancara panjang pada dokter jika ia sedang sakit. 

Anggota agensi yang mengetahui keberadaan Sakura hanya Sacchou, Ranpo, dan Yosano. Ketiganya selalu peduli dengan Dazai dan anak kecilnya itu. Ranpo akan memberikan Dazai sedikit manisan yang ia punya untuk Sakura, Yosano selalu punya waktu lebih untuk melihat Sakura dan mengecek kesehatan sang anak, Fukuzawa akan selalu memberikan Dazai waktu libur untuk bisa menghabiskan waktunya dengan Sakura. Namun selain ketiganya, tidak ada anggota agensi yang mengetahui kehidupan kecil yang Dazai simpan. Semakin sedikit yang mengetahui keberadaan Sakura, maka akan semakin aman kehidupan sang anak. Bukan Dazai tidak mempercayai yang lain, apalagi Kunikida, atau anak didiknya, Atsushi. Namun mereka terlalu polos untuk mengetahui rahasia besar yang Dazai miliki.  

Dazai tahu betul siapa dia yang Yosano maksud. Dokter agensi itu mengetahui sedikit tentang Dazai dan soukoku. Dan lagi, Sakura sangat mirip dengan papanya, dari mata birunya yang begitu cerah, bentuk wajah, hidung, juga mulut, jika keduanya berdiri bersebelahan, tidak ada yang bisa menyangkal bahwa keduanya begitu mirip. 

Hal ini juga yang membuat Dazai tidak ingin banyak yang mengetahui tentang Sakura. Ia tidak ingin informasi ini sampai ke tepinga si jingga. 

Sang brunet menghela nafas. "Ia tidak perlu tahu apapun lagi tentangku. Lagi pula, aliansi Port Mafia dan Agensi tidak menciptakan kembali hubungan kami. Tidak ada lagi Soukoku setelah melawan anggota Guild itu."

"Apa kau tidak penasaran dengan reaksinya saat bertemu dengan Sakura?" 

Tatapan Dazai menerawang jauh, ke lima tahun lalu, di mana sang brunet menanyakan satu hal pada Nakahara Chuuya. Serta jawaban si jingga.

Juga ke waktu pertama Dazai bertemu kembali dengan Chuuya, di ruang bawah tanah Port Mafia. Percakapan terakhir mereka sebelum Chuuya keluar. 

"Tentang percakapan terakhir, kau benar-benar hamil, kan?" 

Dazai tidak tahu raut wajah sang jingga saat itu, ia sedang membelakangi Dazai. 

"Untuk apa Chuuya menanyakan hal itu? Chuuya tidak pedu-" 

"Di mana anak itu?" Potong sang jingga.

Sang brunet hanya tertawa kecil. "Sudah kugugurkan," jawabnya berbohong. 

Keheningan semakin mendinginkan ruangan bawah tanah itu. Dazai hanya sedikit merenggangkan tubuhnya yang terlalu lama diikat. Namun ucapan Chuuya menghentikan kegiatan sang brunet.

"Dasar iblis," bisik Chuuya dan segera pergi. 

 "Jawabannya saat itu sudah cukup jelas untukku," jawab Dazai. Ia tersenyum simpul pada Yosano. 

Sang dokter hanya tersenyum miris. Yosano tidak tahu pasti tentang hubungan Dazai dan mantan pasangan kerjanya itu. Ia tidak mengenal Dazai Osamu sebagai seorang eksekutif Port Mafia. Dan ia tidak bisa memaksakan keputusan apapun pada sang brunet. 

---

Agensi Detektif Bersenjata dan Port Mafia memutuskan untuk merayakan keberhasilan misi mereka bersama di hotel bintang lima, tentu, Agensi akan memeras habis keuangan Port Mafia, dan tidak mengeluarkan sepeserpun uang dari bendahara agensi. Kapan lagi punya kesempatan untuk bermegah-megahan secara gratis? 

Dan seperti biasa, dibandingkan berkumpul di ruangan yang penuh, Dazai lebih memilih menikmati pesta di balkon aula. Merasakan angin malam yang membelai poni dan rambutnya yang dihias sederhana. Jauh dari hiruk piruk kebisingan.

Sang brunet merasakan langkah kaki yang mendekat. Surai perak bergabung bersamanya menikmati malam. "Setelah ini, Dazai san benar-benar akan pergi, ya?" 

Dazai tersenyum tipis. "Aku sudah menemukan cara bunuh diri paling efektif!" 

Anak didiknya hanya mendengus kesal. "Dazai san hanya bercanda, kan?" 

"Hmm," Dazai bergumam panjang. "Tidak juga." 

Sentuhan lembut dari Atsushi menarik perhatian Dazai yang masih memandangi langit. "Apapun itu, aku menghargai keputusan pengunduran dirimu, Dazai san. Asal jangan mati. Kumohon." 

Tatapan memelas Atsushi membuat Dazai mengedipkan matanya. Anak didiknya itu begitu tulus peduli dengan sang brunet. Dan Dazai masih belum terbiasa menerima ketulusan itu. 

Senyum tulus Dazai sedikit melegakan Atsushi. "Tenang saja, dewa neraka masih belum mau menerimaku cepat-cepat menghuni teritorialnya," ucap Dazai ringan. "Tapi, aku akan benar-benar menghilang, tanpa ada yang mengetahui keberadaanku." 

"Setidaknya, masih ada harapan untuk bertemu denganmu suatu saat nanti, Dazai san!" 

Sang brunet tidak tahu harus membalas apa, ia hanya memberikan Atsushi senyum terbaiknya.

--- 

Atsushi sudah kembali ke aula. Saat ini, Dazai sudah duduk di kursi balkon. Kesendirian selalu membuat otaknya lebih aktif. Entah apa yang memulai, tapi ia saat ini sedang mempertimbangkan perkataan Yosano siang tadi. 

Apa reaksi Chuuya saat mengetahui tentang keberadaan putrinya? 

Apakah Chuuya akan senang, atau memandang Sakura dengan tatapan kebencian? seperti sang jingga menatapnya. 

Dazai sangat kebal dengan tatapan kematian itu. Bagaimana pun sejak awal keduanya dipertemukan dengan cara yang salah. Dazai tidak bisa berharap tentang Chuuya yang tiba-tiba memandangnya berbeda. Mereka berdua tumbuh besar di Port Mafia. Sebuah perasaan merupakan hal yang terlarang dalam organisasi yang penuh kegelapan. 

Namun, jika Sakura yang melihat tatapan itu? Dazai tidak sanggup melihat wajah sedih sang anak jika sadar sang papa membenci dirinya karena Dazai. Tidak. Perasaan Sakura masih murni, dan Dazai tidak ingin menodai perasaan sosok mungil itu.. 

Tapi setelah ini, Dazai akan pergi, dan ia tidak akan sempat sekalipun untuk memberitahu Chuuya tentang Sakura. 

Saat itu Chuuya menanyakan keberadaan Sakura, dan Dazai menjawabnya dengan kebohongan. 

Chuuya menyadari kehamilan Dazai. 

Namun ia menjawab pertanyaan Chuuya dengan kebohongan besar.

Bagaimana bila saat itu, Dazai menjawab pertanyaan itu dengan jujur? 

Bagaimana jika Chuuya sebenarnya tidak membenci Sakura? 

Dazai bisa memberikan sang anak kebahagiaan yang lebih dari yang bisa ia berikan. Mengajak Chuuya untuk pergi dari Yokohama pasti sulit. Sang jingga tidak akan sudi mengkhianati Port Mafia yang sudah ia anggap layaknya keluarga. Namun setidaknya, jika Chuuya menerima Sakura, Mereka bisa berkomunikasi, dan Sakura bisa merasakan kehadiran sosok papa di kehidupannya. 

Kesempatan terakhir. Dan ada sedikit harapan yang muncul di dada Dazai tentang Chuuya yang menerima anaknya. 

Entah kenapa, ia memutuskan untuk memberitahu Chuuya tentang Sakura. Mengatakan ia berbohong tentang menggugurkan kandungan.  Ia akan menganalisis raut wajah sang jingga. Jika Chuuya menunjukkan wajah jijik, ia akan mengakhiri usahanya. 

Dazai membuka kalung yang tergantung cantik di leher kecilnya. Ia menyelipkan foto Sakura di liontin, sebagai penyemangat di saat harinya sedang buruk di kantor, lalu sang brunet menegakkan tubuhnya, mencari Chuuya yang ternyata sedang berkumpul dengan lingkaran kecil yang berisikan Yosano, Kouyou, dan juga Ranpo. Dazai perlahan bergabung dengan lingkaran kecil itu. Ia berada di belakang sang jingga saat mendengar pernyataan Ranpo yang membuat suasana lingkaran itu sedikit dingin. 

Tidak banyak yang Dazai dengar. Hanya, “... punya anak denganmu?” 

Tapi Dazai tahu betul kalimat penuh dari ucapan Ranpo. Bagaimana pun, Ranpo mengetahui keberadaan Sakura, dan ia sangat peduli dengan Dazai dan anaknya. 

Sang brunet masih belum siap dengan jawaban Chuuya, sebuah harapan kecil timbul di dadanya. 

Yang segera hancur dengan jawaban Chuuya. “Terdengar sangat menggelikan, detektif. Bayangan bagaimana Dazai versi mini lahir di dunia seperti sesuatu yang sangat mustahil terjadi. Lagi pula, Dazai sendiri yang tidak punya hati pada akhirnya menggugurkan anaknya.” 

Sekali lagi, apa yang Dazai harapkan dari jawaban Chuuya? 

Ia menggenggam kuat liontin, seakan-akan rantai kecil itu sebagai tumpuan gravitasi yang mampu mencegah tubuhnya jatuh ke lubang kekecewaan.

Yosano yang mengetahui keberadaan Dazai, menatapnya dengan tatapan khawatir. 

Entah karena sudah memiliki Sakura di hidupnya dan hidup di agensi membuat perasaan Dazai sedikit lebih lembut, kali ini sulit untuk Dazai memasang topengnya. Ia mencoba sekuat tenaga, dan berharap suaranya tidak bergetar akibat nyeri di dada. 

“Jawaban yang menyesakkan, Chuuya,” gumam Dazai saat melangkah lebih dekat. 

Tubuh Chuuya seketika menegang. Tidak menyadari wanita yang lebih tinggi darinya itu mendengar pernyataannya. Perasaannya semakin campur aduk saat menyadari air mata yang sedikit menggenang di pelupuk mata sang brunet. 

“Lagi pula, pertanyaan macam apa itu, Ranpo san? Aku juga ogah punya pasangan yang bahkan tidak bisa meraih rambutku! Aku tidak mau punya keturunan kerdil!” Ledek Dazai. Ia berhasil memasang kembali topengnya, dan dengan keceriaannya, ia berhasil mencairkan suasana yang sedikit dingin. 

Juga ia berhasil sedikit mengacuhkan rasa sakit di dadanya.

Perasaan bersalah Chuuya berubah menjadi amarah setelah mendengar pernyataan Dazai. Ia menyentak tangan Dazai kasar. “Dazai Sialan! Pembicaraan kami begitu tenang  sebelum kau muncul di sini."  

Saat Dazai dan Yosano saling tatap, Dazai memberikan dokter agensi itu senyuman tipis. Mengisyaratkan, “aku benar, kan?” 

--- 

Dazai sudah kembali ke balkon aula. Berdalih bahwa percakapan mereka begitu membosankan. Di balkon ini, Dazai merutuki keputusannya yang salah besar. Mengharap sesuatu yang terpampang jelas ketidakmungkinannya. Membuat sesak di dada.

Ia tertawa pelan. 

Liontin yang sejak tadi ia genggam, kini ia raba dengan ibu jarinya. Senyum lebar Sakura dalam liontin itu tanpa sadar menghadirkan senyum tipis di wajah Dazai. 

Sakura akan menjadi anak yang cantik, pintar, dan sangat beruntung, jika bukan Dazai yang melahirkannya.

Mulai hari ini, Dazai Osamu bukan lagi seorang anggota agensi. Apartemen kecilnya juga sudah kosong, hanya beberapa pakaian untuknya dan Sakura hingga hari keberangkatan mereka. Hari ini, Dazai dan Sakura bisa menghabiskan waktu mengelilingi Yokohama untuk yang terakhir kalinya. 

Mereka berencana akan mencicipi semua jajanan yang ada di Yokohama. Terlebih jajanan yang Sakura suka. Seperti crepes yang berada di taman kota. 

Saat ini keduanya sudah duduk di kursi taman, Sakura memegang satu crepes dengan topping coklat kesukaannya, dan Dazai yang hanya memilih rasa orisinal. Keduanya bersenandung senang, menikmati makanan masing-masing. Iris biru Sakura menatap burung merpati yang terbang bebas di taman. Rambutnya yang diikat ponytail bagian atas bergerak ke kiri dan ke kanan mengikuti gerakan kepala. 

“Berarti besok kita terbang seperti burung itu, ma?” tanya sang anak penasaran. 

Dazai menjawabnya dengan anggukan. Besok merupakan kali pertama sang anak menggunakan transportasi pesawat. “Kita akan terbaang tinggi. Lebih tinggi dibandingkan burung-burung itu terbang!” 

Iris biru melebar saat memandangi burung yang terbang tinggi. “Apa Kura bisa pegang awan di atas?” 

Dazai menggeleng. “Sayangnya engga. Jendela di pesawat engga bisa dibuka. Kita cuma bisa lihat awan dari dekat aja.” 

Raut wajah kecewa dari Sakura begitu menggemaskan. Dengan cepat Dazai menyubit pelan pipi bulat itu. 

Setelah menghabiskan crepes, keduanya memutuskan untuk mengelilingi pusat pembelanjaan Yokohama, bermain di arena permainan, lalu makan siang di restoran seafood. Sakura beberapa kali meminta pada sang mama untuk dibelikan boneka baru, namun dengan tegas Dazai tolak karena mereka akan melakukan perjalanan panjang besok, tidak memungkinkan keduanya untuk menambah barang bawaan lagi. 

Hari sudah sore, Dazai menggendong Sakura yang sudah terlelap karena kelelahan. Perjalanan terakhirnya hari ini adalah toko coklat. Ia ingin memberikan bingkisan terakhir untuk seluruh anggota agensi. Ranpo dan Yosano akan singgah untuk perpisahan dengan Sakura, dan Dazai bisa menitipkan bingkisannya pada dokter agensi, tidak mempercayai Ranpo perihal manisan. 

Saat ia ingin membayar belanjaan, Dazai mendengar suara lonceng pintu toko yang terbuka. Dan saat ia sudah membawa seluruh bingkisan, Dazai bertatapan dengan manusia yang tidak ia sangka akan bertemu di tempat seperti ini. 

Ozaki Kouyou. 

Kenapa dari banyaknya manusia di bumi, Dazai harus berpapasan dengan Ane san?

Wanita anggun itu juga menatap Dazai kaget. Tidak menyangka akan bertemu dengan Dazai di tempat seperti ini. Yang membuatnya semakin terkejut adalah bertemu Dazai dalam keadaan menggendong anak kecil. 

“Mama, kita di mana?” gumaman Sakura terdengar di telinga Kouyou, membuat raut wajahnya semakin kaget. Dan setelah menyadari satu dan lain hal, Kouyou menatap Dazai dengan raut wajah yang tidak bisa terbaca. Sosok itu menatap Dazai yang sedang menjawab pertanyaan anaknya dengan lembut. Tatapan yang tidak pernah seorang Demon Prodigy berikan pada siapapun. 

“Sangat Kebetulan sekali bertemu denganmu di sini, Dazai,” sapa Kouyou. 

Dazai memberikan Kouyou senyuman tipis. “Senang bertemu denganmu, Ane san. Sayang sekali, aku sedang buru-buru.” Dengan cepat Dazai berjalan meninggalkan toko, menghindari Kouyou. Namun usahanya gagal, sang mafia berhasil menangkap tangan Dazai yang memegang bingkisan coklat dengan erat. 

Di sini lah dirinya sekarang. Menikmati sore hari dengan secangkir teh di salah satu rumah milik Kouyou. Sakura sedang bermain di taman kecil, sedangkan dirinya mengawasi sang anak dari kejauhan. 

“Jadi, sosok kecil itu penyebab pertanyaan aneh detektif saat acara kemarin?” 

Sang brunet tidak mengalihkan perhatiannya dari mengawasi Sakura. “Ranpo san hanya salah mencari topik pembicaraan.” 

"Apa Chuuya mengetahui sosok kecil ini?" 

Rahang Dazai mengeras saat pembicaraan ini menuju ke Chuuya. "Tidak. Lagipula, Chuuya tidak menginginkannya." 

Kouyou mengerutkan wajah. Tidak menyangka dengan pernyataan Dazai. "Kau yakin Chuuya tidak menginginkannya?" 

Tatapan Dazai beralih ke Kouyou. "Aku sempat berbincang dengannya sebelum benar-benar menghilang. Dan ya, dia menyangkal kemungkinan memiliki keturunan denganku. Chuuya membenciku, ane san," nada suara Dazai begitu pelan, tidak seperti yang ia harapkan. Kalimat terakhir Dazai masih sering menyesakkan dadanya. "Sekarang, tahu atau tidaknya dia tentang anak ini, tidak akan mempengaruhi apapun." 

Sosok wanita dewasa di depan Dazai hanya menatap sang brunet dengan tatapan sendu. Tidak, Dazai tidak perlu dikasihani. Ia tidak pantas mendapatkan tatapan itu. 

"Chuuya tidak boleh tahu perihal anakku!" Tegasnya final. 

---- 

Pengumuman tanda sabuk pengaman sudah dihidupkan. Pesawat akan segera lepas landas. Sakura terus menatap jendela dengan wajah terpana. Sedangkan Dazai dengan sabar menahan kesenangan dari balita yang sedang aktif-aktifnya. 

Dengan perjalanan ini, ia akan meninggalkan Yokohama. Tidak akan ada sisa kenangan yang mengikutinya. Dazai akan hidup di lembar baru, kota baru, dan juga kehidupan yang baru. 

Sayonara Yokohama,

Sayonara agensi,

Sayonara Odasaku,

Sayonara… 

Chuuya. 

---