Work Text:
20xx, delapan belas tahun .
Mingyu itu terkenal.
Ya… in a way, dia terkenal. Tidak ada yang tidak tahu siapa dia. Semua orang tahu kalau ketua klub fotografi yang anggotanya hanya sepuluh itu sedikit menutup diri dengan dunia percintaan. Bukan, bukan. Dia bukan sosok yang tertutup, penyendiri, dan tidak punya teman. Kemampuan sosialnya bagus —sangat bagus, malah. Taruh dia dalam satu kelompok yang tidak ia kenal sama sekali dan sepuluh menit kemudian mereka sudah akan terlibat dalam canda tawa yang menggelitik dan obrolan dalam yang hangat.
Penampilannya tidak rupawan? Tidak sama sekali. Menyebutnya sebagai adik kembar Adonis pun rasanya tidak berlebihan. Tidak laku? Man , jika diibaratkan sebagai jajanan pasar, maka Mingyu adalah gorengan di tengah sehamparan kue basah. Ia yang terlaris, penggemarnya mengantre dari kelas satu hingga tiga, baik pria maupun wanita.
Lalu, kenapa?
“Mingyu!”
Mendengar suara itu, Mingyu lantas tersenyum sebelum berbalik, melihat sosok lelaki lain yang hampir sama terkenalnya sedang berlari ke arahnya.
“Terlambat lagi?”
Wonwoo hanya nyengir. “Hampir nggak kebangun. Untung gue pasang alarm lima.”
“Kenapa? Kemarin begadang?”
“He-em.” Wonwoo mengibas-ngibas bagian depan seragamnya sambil berjalan ke kelas mereka. Sebelah tangannya yang lain meraba-raba kantung depan tasnya untuk mencari kacamata. “Tadi malam ada release game baru, Gyu! Habis ngajarin Dino matematika kita berdua jadi main bareng sampai malam, hehe. Terus ya gitu…”
Mingyu menggeleng pelan sambil menghela napas, sudah biasa. “Kebiasaan. Jangan keterusan gitu ah, Won. Lihat itu kacamata lo udah kayak pantat botol. Nanti kacamata lo kayak teropong, mau?”
“Ya jangan!” Wonwoo mendelik sebal. “Sekarang aja gue udah jelek pakai kacamata segini, Gyu. Jangan didoain tambah tebal dong.”
“Nggak tuh.”
“Nggak apanya? Tadi lo jelas-jelas doain kacamata gue setebal teropong—”
“Maksud gue, lo nggak jelek.”
“Basi, ah.” Wonwoo kembali mendengus sebal. Tangannya yang sedari tadi mencari kacamata berbingkai hitam itu akhirnya menemukan barang yang dicari, segera memasangnya di wajahnya. “Nggik jilik tipi jilik bingit. Ketahuan!”
Percaya, deh. Wajah nyinyir dan sinis Wonwoo itu bukannya membuat kesal dan emosi malah membuatnya gemas setengah mati. Dan Mingyu adalah manusia yang lemah pada apapun yang berkaitan dengan Jeon Wonwoo, maka ia layangkan satu usakan lembut di pucuk kepala yang tambah membuat kawannya itu sebal karena tatanan rambutnya jadi berantakan.
"Tapi serius, Wonwoo. Besok ulangan Fisika, jangan main dulu hari ini."
"Hah? Fisika?" Wonwoo beralih menoleh dengan terkejut. "Ulangan fluida?" Mingyu hanya mengangguk sambil menarik kursinya lalu duduk, disusul Wonwoo yang duduk di sebelahnya dengan lesu.
"Mingyu…"
Lagi, Mingyu itu lemah. Jika Wonwoo yang sinis saja bisa membuatnya luluh, maka Wonwoo yang manja akan selalu sukses membuatnya bertekuk lutut.
"Iya, gue ajarin. Nanti gue mampir." Mingyu kembali mendaratkan telapak tangannya pada pucuk kepala yang lain, kali ini memberi usakan halus seakan menyuruh Wonwoo untuk tidur sekarang juga. "Lo kalo begini beneran mirip anak kucing."
"Miaw~" Wonwoo iseng mengeong sambil menggerakkan kepalan tangannya lucu. "Mingyu suka kucing kayak Wonu?"
Demi Tuhan dan segala penguasa alam semesta. Tolong berikan Mingyu kekuatan karena sekarang rasanya Mingyu layaknya es batu di tengah pancaran sinar matahari musim panas. Ia siap meleleh kapanpun dimanapun.
"Stop. Jangan kayak gitu lagi." Nggak sehat buat gue. Mingyu menutup wajah Wonwoo dengan jaket yang tadi ia pakai berkendara ke sekolah.
"Ih!" Wonwoo sudah siap mengomel lagi sebelum ia beralih memeluk erat jaket Mingyu, menjadikannya bantal untuk ia taruh di bawah kepala.
"Gue suka heran deh, Gyu. Kenapa ya, jaket lo tuh nggak pernah bau matahari?" Wonwoo bergumam sambil tetap memejamkan matanya. "Lo pake parfum apa sih? Mau beli juga.”
Mingyu beralih menyamping, menatap wajah temannya yang masih terpejam damai dengan seulas senyum tersimpul di bibir yang lebih tinggi. “Rahasia.”
“Hm?” Wonwoo membuka sebelah matanya malas. “Pelit.”
Mingyu tertawa. “Biarin.” Biar setiap lo nyium wangi ini lo inget gue.
Dan mungkin, Wonwoo ini sudah ahli dalam hal mengenal Mingyu. Atau kalimat yang seharusnya hanya berada di kepala Mingyu tidak sengaja ia ucapkan lantang hingga kini Wonwoo hanya tertawa pelan dan kembali menyamankan tidurnya.
“ You’re such a nice guy, Mingyu.”
“ I am. ”
“ And that’s exactly why you deserve someone better than me. ”
Mingyu terdiam. Senyum lebar yang semula terlukis kini perlahan digantikan dengan seulas senyum simpul. Telapak tangannya yang hangat kini kembali mendarat di pucuk kepala sahabatnya —orang yang ia sayangi sepenuh hatinya.
“Tidur, Wonwoo.”
Dan Wonwoo menurut. Matanya terpejam meski ia masih bisa merasakan usapan lembut di pucuk kepalanya. Matanya terpejam meski ia tahu Mingyu kini masih memandangnya dengan tatapan penuh puja. Matanya terpejam meski ia lagi-lagi merapal maaf karena telah lagi-lagi menyakiti hati sahabatnya —orang yang juga ia puja.
“Gue baru mulai, Wonwoo. I still have 10 years to go and will go for more. ”
20xx, dua puluh satu tahun.
Wonwoo merasa ia bisa gila sekarang juga.
Dunia perkuliahan benar-benar melelahkan, menghabisi energi fisik dan sosialnya habis-habisan dengan berbagai tugas dan kegiatan. Sekarang pukul sepuluh malam dan ia baru tiba di rumah kontrakannya yang ia tinggali bersama Mingyu dan dua orang lainnya; Seungcheol kakak tingkatnya dan Jihoon teman Mingyu dari fakultas lain. Tanpa peduli dengan kemungkinan ditemukan terkapar mengenaskan oleh teman satu rumahnya yang lain, Wonwoo merebahkan dirinya di sofa ruang tengah, ingin mengumpulkan energi setidaknya untuk kembali menaiki tangga menuju kamarnya yang ada di lantai atas.
“Won?”
Suara itu, suara Mingyu yang selalu secara magis membuat tubuhnya yang lelah sedikit rileks. Telinganya menangkap suara langkah kaki yang Wonwoo duga milik Mingyu dan dua temannya yang lain. Meski demikian, ia tetap terpejam, Wonwoo terlalu lelah untuk membuka mata.
“Hey.” Mingyu berjongkok di dekat lelaki yang tengah berbaring itu. “Kenapa rebahan disini? Sana di kamar aja.”
“Hmm.” Wonwoo bergumam, meraih tangan Mingyu yang mulanya berada di pipi untuk ditarik menutupi kedua matanya. “Capek.”
“Adududuh, ini Wonwoo lagi mode manja ya?” Suara Seungcheol terdengar dari balik punggung Mingyu diikuti kekehan dari lelaki lain yang lebih mungil. “Ji, kita yang pacaran kenapa malah mereka yang lebih manis?”
“Ogah manis-manisan sama lo.” Jihoon menjulurkan lidahnya, jelas sekali ia hanya ingin menggoda yang lebih tua. “Won, lo udah makan? Ini tadi dibeliin Mingyu kwetiau goreng.”
“Hmm, belom.” Wonwoo akhirnya menyingkirkan tangan Mingyu dan membuka matanya, membuatnya langsung bertemu dengan tatapan teduh Mingyu yang kini beralih mengusap lembut dahinya. “Tapi nggak laper. Buat besok a—”
“Nggak ada.”
“Ih.” Wonwoo langsung mendelik sebal ke arah Mingyu yang kini juga sudah mengerutkan kedua alisnya tidak suka. “Gue nggak laper, Gyuuu.”
“Nggak mempan.” Mingyu beralih bangkit, melangkah menuju dapur dan kembali dengan sebuah piring di tangan. “Buruan duduk, makan.”
“Ji…”
“ Nope .” Jihoon mengangkat kedua tangannya, tanda ia tak mau ikut campur dan tidak mau membantu Wonwoo membujuk Mingyu. Ya sebenarnya, ia juga setuju sih dengan Mingyu. Wonwoo harus makan. “Gue mau ke kamar. Yuk, Cheol.”
“Eh?” Seungcheol terkejut sesaat namun langsung melempar senyum menggoda. “Ohh, kangen ya sama gue? Cih, gitu katanya nggak mau manis-manisan sama gue? Nanti sekalian itu boleh nggak, yang?”
“Jangan mesum!”
“Iyaaaaa.” Seungcheol menjawab sambil tertawa, langkahnya dibawa mengikuti Jihoon yang sudah lebih dulu mengarah ke kamarnya. “Dah Gyu, Won. Abis makan bersih-bersih terus istirahat ya.”
Dan suara bedebum pintu menjadi pertanda bahwa yang tersisa di ruang tengah hanyalah Mingyu dan Wonwoo. Posisi Wonwoo belum berubah, ia masih berbaring dengan tidak nyaman di sofa dan Mingyu berkacak pinggang di hadapannya.
“Won, makan.”
“Nggak mau, Mingyu…” Wonwoo mengerang lalu membalik tubuhnya agar ia beralih menghadap sandaran sofa. “Mual. Lemes. Mau tidur.”
“Ya itu karena lo nggak makan, Won.” Mingyu beralih menarik tubuh sahabatnya itu dengan lembut hingga terduduk. “Lagian lo ngoyo banget, sih. Habis ngapain aja, sih?”
Dengan berat hati, Wonwoo membuka matanya lagi, menatap Mingyu dengan tatapan memelas hingga rasanya ia hampir ingin menangis. Wonwoo benar-benar lelah, sedikit frustasi dengan kesibukan yang tidak ada henti, ia ingin istirahat barang sebentar tetapi tugas serta kegiatan organisasinya seakan tidak mengizinkan hal itu terjadi.
“Wooooon, jangan nangis.” Mingyu tertawa kecil lalu memeluk Wonwoo erat. “Udah nggak apa-apa. Yuk makan, habis itu istirahat ya? Besok weekend lo nggak boleh kemana-mana, oke? Istirahat aja di rumah sama gue.”
“Mingyu gue tuh lagi kesel!”
“Kesel kenapa sih, cantik?”
“GUE LAGI KESEL jangan bikin tambah kesel!”
Dan Mingyu tertawa sebelum menyamankan duduknya di sebelah Wonwoo, tangannya masih melingkar di pinggang Wonwoo sementara yang lain kini beralih berkeluh kesah mengenai teman kelompoknya yang menghilang tanpa kabar ketika hari ini ada presentasi, buku catatannya yang terkena kuah bakso saat istirahat makan siang, revisi publikasi kepanitiaan ulang tahun fakultas yang menumpuk, anak buahnya yang juga menghilang sehingga ia harus mengerjakannya sendiri, hingga pengemudi ojek online -nya yang nakal karena tidak berhenti melontarkan candaan kotor yang membuat Mingyu harus menahan emosinya.
“... In conclusion , gue–” Wonwoo menarik napas lalu menyandarkan dahinya pada bahu Mingyu. “—apa ya… Gue marah, gue sedih, gue kecewa tapi gue harus tahan semua jadinya gue capek. Too much , Mingyu.”
Mingyu sudah mengenal Wonwoo terlalu dalam hingga akhirnya ia tidak memberi respons apapun. Ia hanya terus mengusap lembut punggung Wonwoo yang terasa semakin kurus saja sambil menyandarkan dagunya pada pucuk kepala Wonwoo. Sahabatnya ini hanya butuh untuk didengarkan, maka Mingyu akan berikan telinga serta bahu untuk dipinjam. Keduanya diam untuk beberapa menit hingga hembusan napas Wonwoo perlahan beralih teratur. Sesi peluk keduanya habis seiring dengan hembusan napas kuat dari Wonwoo.
“Gyu.”
“Hmm?”
“Laper…”
Dan Mingyu tersenyum. Ia dengan girang mengambil piring dan makanan yang sudah ia beli untuk kemudian ia hidangkan di depan Wonwoo. “Mau disuapin?”
“Ya nggak!” Wonwoo menyebik lucu. “Emangnya gue bocil…”
Mingyu hanya tertawa lalu diam duduk di sebelah Wonwoo yang tengah melahap kwetiau-nya dalam suapan-suapan kecil. Wonwoo masih mengeluhkan ini itu dan Mingyu tidak keberatan sama sekali. Sesekali ia menimpali, menenangkan, juga mengeluarkan emosinya ketika Wonwoo mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan.
“Gyu.”
“Kenapa, cil?”
“ Thank you .” Mingyu sudah siap membalas ketika Wonwoo kembali melanjutkan. “Maksud gue… thank you for staying with me . Gue sangat mengapresiasi kehadiran lo selama tiga tahun terakhir. Gue paham kalo ini bukan sesuatu yang mudah buat lo, even more because the… situation . Tapi lo selalu ada buat gue. Even though I still can't do the thing that we know will make you happy the most, I still appreciate you , Mingyu.”
Mingyu terdiam, tidak menyangka akan mendapat sebuah… pesan hangat? dari Wonwoo dan Mingyu tidak bisa berbuat apa-apa ketika rasa hangat menjalar dari hati hingga ke seluruh tubuhnya.
"Wah gila sih…" Mingyu menggumam kecil sambil memegangi dadanya yang masih berdebar cepat. "Lo emang juara satu bikin gue jatuh cinta deh, Won. Nggak ada tandingannya."
"Mingyu, gue serius!"
"Ya gue juga serius, Won." Mingyu lagi-lagi tertawa melihat Wonwoo yang kini sudah mengerucut sebal. " Thank you for such kind words , Wonwoo."
"Hmm."
"Tapi, Won."
"Ya?"
"Gue harap lo nggak terbebani dengan perasaan gue, ya?" Mingyu tersenyum sambil merapikan beberapa helai rambut si manis yang menghalangi pandangan. "Gue tahu dan gue paham situasi lo. Gue akan nunggu lo, sampai lo siap."
Wonwoo mengulas senyum dan mengangguk. Sebelah tangannya meraih tangan Mingyu yang berada di pucuk kepalanya untuk digenggam hangat.
"Makasih udah mau nunggu ya, Mingyu. Tapi lo inget 'kan yang gue bilang waktu itu?"
"Iya, Wonwoo. Gue bakal berhenti kalau memang gue udah nggak sanggup, or if you want me to ."
" Good. " Wonwoo tersenyum. "Semoga lo nggak merasa berusaha sendiri ya, Mingyu. Gue juga lagi mencoba buat ngelawan pikiran gue sendiri."
Sisa malam itu mereka habiskan dengan berbincang beberapa lama, merencanakan kegiatan akhir pekan mereka, lalu beristirahat dengan seulas senyum di wajah masing-masing.
**
“Won, gue suka sama lo.”
“Mingyu…” Wonwoo tersenyum, tatapnya melembut melihat Mingyu yang jelas-jelas gugup di hadapannya. “Gue mau cerita, boleh?”
Mingyu mengangguk, menyetujui permintaan sahabatnya meskipun ia kebingungan terhadap respons atas pernyataan cintanya itu.
“Lo tau ‘kan kalo gue tinggal sendiri?” Mingyu mengangguk. “ Well, gue dulu pernah punya keluarga, Gyu. Gue lahir sebagai yatim piatu, tinggal di panti asuhan sejak bayi sampai usia lima tahun tanpa tahu alasannya kenapa gue ada disitu. Ibu Yola—yang punya panti bilang kalau gue tiba-tiba ada aja di depan pintu. They wrote a letter , katanya, orang tua gue belum siap buat punya gue. They said they made a mistake.”
“ Won…” Mingyu menggenggam tangan Wonwoo yang berada di lahunan lelaki yang lebih mungil. “ You can stop anytime. ”
Wonwoo menggeleng, tangannya balas menggenggam tangan Mingyu dengan erat.
“Usia lima tahun, gue diadopsi oleh satu keluarga.” Wonwoo tersenyum kecil. “ They said I was a charmer. Rasanya gue benar-benar disayang sama mereka, dibeliin ini itu, diajak ngobrol, mereka peduli sama kondisi gue, kesenangan gue. Pelan-pelan, gue mulai lupa dengan kondisi gue yang dibuang sama orang tua kandung gue karena gue merasa mereka benar-benar seperti keluarga kandung gue. Setelah lima tahun tumbuh dengan perasaan tidak diinginkan, gue akhirnya merasa utuh lagi, Gyu.
“ But then after ten years, they ran out of love for me. ”
Mingyu terhenyak. Kejadian ini bukan ia yang alami, tetapi rasa sakitnya bisa ia rasakan hingga rasanya bernapas saja sulit. Bagaimana bisa Wonwoo menahan segala sakitnya sendiri selama ini? Ia hanya selalu bilang ia yatim piatu tanpa menjelaskan lebih lanjut. Mingyu tidak menyangka bahwa apa yang sahabatnya itu rasakan bisa sepelik ini.
“ It would’ve been better if they said it right to my face. Meskipun mungkin sama sakitnya, tapi setidaknya gue nggak menebak-nebak, gue nggak bingung kenapa pas gue pulang sekolah rumah nggak dikunci, keadaannya kosong. I called them a thousand times but I never received an answer . Gue nanya ke tetangga, ke rumahnya Dino, orang tua Dino cuma bisa nepuk-nepuk bahu gue sambil bilang mereka pergi tadi pagi, nggak lama setelah gue berangkat sekolah.
“Tinggal di satu rumah yang besar dan sendirian bikin lo mau nggak mau mikir, Gyu. Gue mikir apa gue ‘tuh emang segitu worthless- nya, ya? Sampai gue dibuang dua kali. Gue sedih, gue sempat mikir —jangan marahin gue, please— kalo mungkin the world would be better off without me.”
“Won!”
“Ih iyaaa, itu dulu kok. Gue nggak mikir gitu lagi sekarang. Udah jangan melotot, Gyu.” Wonwoo terkekeh kecil dan Mingyu tidak habis pikir bagaimana bisa lelaki itu tertawa ketika disini dirinya khawatir setengah mati? “Tapi sekarang pikiran gue berubah lagi, Gyu.”
“Apa?”
“Gue mikir kalau mereka, orang tua adopsi gue, bisa muak sama kehadiran gue setelah sepuluh tahun. Gimana orang lain?”
Wonwoo menoleh ke kanan, matanya langsung bertatapan dengan Mingyu yang sudah lebih dulu menatapnya. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum kembali berucap, “Gyu, gue nggak mau munafik. I do like you, a lot. Tapi, dengan pikiran-pikiran ini di kepala gue, rasanya gue butuh waktu buat memperbaiki diri gue. Gue ini rusak, Mingyu. Gue butuh memperbaiki diri supaya gue pantas bersanding sama lo. I need to prove myself that I'm worthy. ”
“Lo nggak rusak, Won.” Mingyu meremas lembut jemari Wonwoo. “Lo udah pantas.”
“Gue udah mengira lo bakal ngomong gini.” Wonwoo tertawa kecil dan Mingyu ikut tersenyum dibuatnya. “Tapi ini demi gue dan demi kita, Gyu. Kalau seandainya, kita, uhm, pacaran—”
“Kita apa, Won? Nggak kedengeran.”
“Lo jangan iseng!” Wonwoo memukul pelan lengan kiri Mingyu. “Ya pokoknya, kalau sekarang, lo bakal terus-terusan menghadapi gue yang rendah diri. Waktu kita yang harusnya diisi bahagia, malah jadi beban karena gue apa-apa minder dan selalu butuh reassurance . Ya walau emang hidup nggak mungkin bahagia terus sih. Tapi setidaknya, lo nggak perlu repot ngurusin ‘bawaan’ gue yang harusnya bukan jadi tanggungan lo.”
Keduanya terdiam memandangi langit yang kini sudah mulai menggelap. Mingyu paham, setelah apa yang ia lalui selama ini, Mingyu paham alasan itu. Hal yang Wonwoo lakukan ini bukan demi Mingyu, tapi demi dirinya sendiri. Maka Mingyu saat ini memosisikan dirinya sebagai sahabat yang baik, yang mendukung keinginan sahabatnya.
"Oke."
"Oke?"
"Iya, oke." Mingyu menoleh dan tersenyum. "Terus… kita gimana, Won?"
"Mingyu." Wonwoo kembali menggenggam sebelah tangan Mingyu. "Sepuluh tahun."
"Gimana?"
" It took them ten years to leave me , Mingyu. Gue tahu kalau kalian itu berbeda, lo dan orang tua gue, lo beda. Tapi rasa yang gue punya buat lo sekarang sama besarnya dengan rasa yang gue punya dulu. Dan gue juga sama merasa disayangnya sama lo.
"Gue minta waktu sepuluh tahun buat gue memperbaiki diri dan kalau setelah sepuluh tahun lo masih mau gue ada di hidup lo, gue akan dengan senang hati jawab iya, Mingyu."
"Oke."
"Oke? Lo nggak mau mikir… dulu?"
"Nggak. Jawaban gue udah pasti."
"...Oke."
Penantian selama sepuluh tahun, sebuah janji dan komitmen yang cukup berat untuk anak tujuh belas tahun. Tetapi Mingyu sangat mendamba Wonwoo dan Mingyu akan lakukan apapun untuk bisa membawa lelaki dambaannya itu ke dalam peluk dan aman, tempat ia akan abadi merasa diinginkan, dipuja, dan dilimpahi kasih sayang.
Wonwoo, semoga selamat sampai di usia dua puluh tujuh.
**
20xx, dua puluh lima tahun.
“Wonwoo!”
Wonwoo yang sudah hendak melewati gerbang keberangkatan langsung membalikkan tubuhnya. Akhirnya, yang ia nantikan sedari tadi datang juga. Suara favoritnya, kesayangannya, siapa lagi kalau bukan Mingyu?
“Gyu…” Wonwoo tersenyum kecil. “Gue kira lo nggak bakalan dateng.”
“Gue masih marah sama lo.” Mingyu menghela napasnya. “Lo bakal tinggal di negara orang lima tahun, tapi lo baru bilang ke gue dua hari lalu. Gue merasa… nggak dihargai, tau nggak?”
“Bukan gitu—”
“Iya, gue paham lo nggak bermaksud.” Mingyu menundukkan kepala. “ I try hard to understand that pretty head of yours. Gue juga berusaha buat nggak berpikiran negatif… Gue sempat mikir apa lo pergi karena lo akhirnya udah sembuh dari luka lo tapi tetap nggak bisa balas perasaan gue?”
“Mingyu—”
“Bukan karena itu ‘kan, Won?”
Wonwoo tersenyum lembut lalu menggeleng. Tangannya mengusap lembut pucuk kepala lelaki yang lebih tinggi darinya sambil berkata, “Bukan, Mingyu. Sama sekali bukan.”
Mingyu menghembus napas lega. “ Then, I’m glad. ”
“Omong-omong…” Wonwoo menegakkan tubuhnya, matanya melirik cepat ke jam dinding yang tergantung di belakang tubuh Mingyu. “ You know , waktu gue balik ke sini, kita udah lebih dari dua puluh tujuh tahun—”
“Panggilan terakhir untuk penumpang Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA717 tujuan Melbourne. Mohon untuk segera memasuki pesawat.”
“— that’s my call. ”
Mingyu tersenyum dan mengangguk. “ That’s your last call .”
Wonwoo menarik napas lalu menarik lelaki yang lebih tinggi ke dalam pelukan. “ So long, Mingyu.”
Mingyu menggeleng. “ I’ll see you, Won. Gue bakalan clingy mampus biar lo nggak betah jauhan sama gue. Biar lo cepet pulang .”
“Hmm. I’m gonna miss my home too .”
Meskipun enggan dan rasanya Mingyu ingin memasukkan lelaki manis di hadapannya ke dalam saku jaketnya agar ia tidak jauh dari sang dambaan hati, Mingyu perlahan melepas pelukannya. Tangannya merapikan helaian rambut yang jatuh menghalangi wajah si manis, beralih ke kerah kemejanya, lalu tersenyum.
“Gih, berangkat.”
“Hmm. I’ll text you when I arrive? ”
Mingyu tersenyum. “ Sure. I’ll wait. ”
Dan dengan begitu, untuk pertama kalinya sejak usia tujuh belas, keduanya terpisah jarak yang lebih dari jarak antara Kalibata dan Pondok Indah. Membuka lembaran baru di hidup masing-masing yang rasanya sangat menyeramkan namun rasanya akan baik-baik saja jika keduanya bersama.
Ya, semoga keduanya bisa bertahan bersama.
20xx, tiga puluh tahun .
Hari ini, Wonwoo pulang tetapi rasanya ia tidak ingin pulang.
Tiga tahun lalu adalah tahun paling berat dalam hidup Wonwoo setelah ia bertemu Mingyu. Ya karena jelas sekali kehadiran lelaki dengan gigi taring yang seringkali mengintip ketika ia tersenyum itu sangat membantu hidup Wonwoo, secara literal dan metafora. Tahun itu berat bukan karena ia harus bolak-balik presentasi di hadapan investor untuk projek yang ia pegang. Tetapi karena tiga tahun lalu adalah batasnya, batas Wonwoo menggantung pernyataan cinta sahabatnya sepuluh tahun lalu, batas abu-abu dari hubungan keduanya. Sepanjang tahun itu, ia menunggu sahabatnya itu untuk memulai sesuatu. Tetapi nihil. Dari mulai pesta tahun baru di awal Januari hingga malam tahun baru di bulan Desember, keduanya tetap berkomunikasi tetapi tidak ada perbincangan untuk hubungan mereka.
Sebutlah Wonwoo pengecut karena ia pun tidak berani untuk memulai padahal ini semua pun karena keinginannya yang meminta waktu, lalu kenapa ia tidak berani untuk meminta kejelasan? Mungkin sepuluh tahun belum benar-benar cukup karena rasa takut itu masih ada, rasa tidak pantas itu masih membayang. Atau mungkin unggahan Mingyu dan teman-temannya yang selalu tak luput menyertakan satu sosok yang tampak dekat membuatnya takut serta menahan diri untuk terhindar dari rasa kecewa.
Yah, sebenarnya jika kecewa pun, Wonwoo tidak akan menyalahkan Mingyu. Kalau dipikir secara rasional, siapa sih yang mau menunggu sepuluh tahun untuk hal yang tidak pasti? Mungkin, Mingyu membantunya untuk sembuh, mempersiapkannya untuk suatu saat nanti ketika ia harus perlahan mandiri dan tidak dependen pada Mingyu. Hingga mungkin nanti… mungkin, ia akan menemukan rumahnya yang permanen.
"Kak Won?"
Wonwoo menoleh lalu tersenyum. Seungkwan, teman satu projeknya yang sudah ia anggap adik sendiri selama berada di negeri orang. Keduanya akan pulang bersama nanti pagi (karena sekarang sudah lebih dari jam dua belas malam), tiba di Jakarta pukul enam sore.
Sosok yang kini juga sudah mengenal Mingyu karena semua cerita Wonwoo tentang lelaki itu. Seungkwan melangkah masuk dan merebahkan dirinya di atas kasur Wonwoo yang sudah rapi, sudah siap untuk ditinggal pergi.
“ Are you nervous ?”
“Hm?” Wonwoo terdiam sebentar lalu mengangguk. “ It’s weird to get so worked up for coming home, but yes I am nervous. ”
“ You’re nervous about Mingyu .”
“Hm-m, no differences .” Wonwoo ikut merebahkan dirinya di samping Seungkwan. “ He is my home. Or was…”
“Ck.” Seungkwan memiringkan tubuhnya. “Gue berani taruhan Mingyu masih nunggu lo, Kak.”
“ He doesn’t .”
“ He does .”
“Oke. Kita taruhan.” Wonwoo balas menengok pada Seungkwan. “ I’ll drain that bank account of yours with my sorrow .”
“ Nope.” Seungkwan tersenyum lebar. “ We’ll drain that bank account of yours with our joy .”
Wonwoo tertawa kecil lalu menggeleng. “Udah sana tidur. Besok lo nggak bangun gue tinggal ya.” Alih-alih berdiri dan masuk ke kamarnya sendiri, Seungkwan malah menyamankan posisi tidurnya di ranjang Wonwoo. Melihatnya, Wonwoo mengangkat sebelah alisnya lalu menghembus napas pasrah. Sepertinya malam ini ia akan tidur ditemani satu orang di sampingnya. Tidak masalah, toh bukan yang pertama.
“Selamat malam, Seungkwan.”
“Hm-m, sleep tight Kak Won. You have a big day later. ”
Setelahnya, Wonwoo terlelap. Tidak pulas tetapi cukup untuk mendorongnya keluar dari hangatnya selimut dan pergi ke bandara. Tidak pulas tetapi cukup untuk membuatnya terjaga di tiga jam pertama penerbangan. Tidak pulas tetapi cukup untuk membuatnya dapat berdiri dengan tegap di gerbang kedatangan bandar udara Soekarno-Hatta, memandang lautan manusia yang berada di hadapannya.
Ramai, tetapi terasa sepi. Karena yang ia cari tidak ada disana.
“ Kwan, he’s not here. ”
Ada Seungkwan di sampingnya yang kemudian menggandengnya keluar, menuntun langkahnya perlahan untuk mendekati area pick up untuk menanti kendaraan yang akan membawa mereka pulang. Ada perjalanan tiga puluh menit yang entah apa isinya Wonwoo tidak ingat sebelum ia berdiri di hadapan rumahnya setelah berpamitan dengan Seungkwan.
Ia baru saja pulang tetapi rasanya ia ingin berlari pergi.
Menghembus satu napas panjang, Wonwoo memasuki rumahnya. Rumahnya bersih, tidak ada debu yang terlihat dan aromanya pun tidak pengap seperti rumah yang lama ditinggal pada umumnya, malah ada aroma kayu manis yang tersebar di seluruh area rumah, seolah ada yang tengah membuat kukis di rumahnya. Mungkin ini ulah Dino sebab memang ia titipkan kunci pada anak lelaki tetangganya itu.
Tanpa ada pikiran untuk menengok ruangan lain, Wonwoo bergegas masuk ke kamar. Langkahnya terburu memasuki ruangan empat kali lima itu hingga akhirnya ia rebah. Ada hela napas yang terlepas seiring matanya memejam.
Hening, sunyi.
Hingga satu aroma memasuki indra penghidunya. Aroma ini…
Aroma Mingyu. Aroma yang selalu ia hirup sebelum ia terlelap di atas lipatan jaket Mingyu di sekolah, aroma yang selalu sukses membuatnya rileks di tengah penatnya perkuliahan. Aroma yang selaku membuatnya seperti berada di rumah .
Wonwoo segera membuka matanya dan tubuhnya yang otomatis terduduk dibuat mengaduh karena membentur sesuatu yang bidang. Mingyu.
"Won?"
Wonwoo berkhayal… 'kan? Ini pasti efek kurangnya tidur sebelum perjalanan jauh, tidak cukup halusinasi auditori, kini ia juga mengalami halusinasi visual karena demi Tuhan bagaimana bisa saat ini ada Mingyu yang sedang balik menatapnya?!
"Won? Kok bengong?" Mingyu yang ada di hadapannya kini mengerutkan dahi bingung. "Lo nggak kangen sama gue?"
"Gyu…" Wonwoo menggumam sambil perlahan menyentuh Mingyu. " You're really here ."
" Yes I'm here, where should I be when my home is finally back home?"
Mingyu disini. Mingyu, rumahnya , ada disini dan Wonwoo bukan berhalusinasi.
"Gyu— hiks, Mingyu…"
"Loh, loh. Won? Kenapa nangis?" Mingyu jelas kelabakan. Lelaki yang sangat dinantikannya untuk pulang langsung menangis begitu melihatnya. Apa maksudnya? Mingyu harap kehadirannya bukanlah sebabnya.
"Won ssshhh, calm down. Lo kenapa nangis, Wonwoo? Gue ada salah sama lo? Lo nggak mau lihat gue disini?" Mingyu dengan hati-hati merengkuh Wonwoo yang sesenggukan itu ke dalam pelukan. "Wonwoo, tell me . Lo kenapa, sayang?"
Dan jika tadi Wonwoo sesenggukan, maka sekarang lelaki itu meraung semakin keras dengan air mata yang terus mengalir. Mingyu akhirnya menyerah, ia memilih diam sambil terus melingkarkan lengannya di pinggang ramping itu, memberikan usapan dan tepukan yang ia harap dapat menenangkan cantik nya .
Lima menit, sepuluh menit, tangisan Wonwoo akhirnya mereda. Omong-omong, kini mereka sudah berbaring di atas ranjang Wonwoo, Mingyu pegal. Maklum, usianya sudah kepala tiga.
Perlahan-lahan, Mingyu mencoba peruntungan untuk mengurai pelukannya yang langsung menerima penolakan dalam bentuk tarikan dan pelukan yang menjadi lebih erat dari sebelumnya. Dan Mingyu yang masih lemah pada Wonwoo dan semua inginnya akhirnya menurut, membiarkan lelaki berkacamata itu tetap melekat erat dalam dekapannya—yah, Mingyu memang tidak keberatan sih.
"Mingyu."
"Hm?"
"Gue mau ngomong."
" Go on , gue selalu dengerin lo."
Wonwoo menarik napas panjang, meletakkan dagunya pada bahu Mingyu, lalu mulai berbicara.
"Mingyu, gue terlambat ya?"
"Hm?"
"Gue sayang sama lo. Tapi, gue terlambat ya?"
Air mata Wonwoo sudah akan terjatuh lagi tetapi buru-buru ia tahan.
"Gue bersyukur bisa kenal lo, Mingyu. Maaf, karena bikin lo nunggu. Maaf, gue terlambat. Makasih ya, Mingyu. Makasih banyak karena lo udah dorong gue buat sembuh, buat berdamai sama diri gue sendiri. Makasih karena udah jadi alasan buat gue berani belajar percaya kalau gue layak mencinta dan dicinta…
…meski akhirnya lo milih yang pasti dan juga nyerah sama gue."
Dengan kalimat itu, ada peluk yang segera dilepas paksa. Ada Wonwoo yang akhirnya bertatapan lagi dengan manik Mingyu. Ada Mingyu yang sedang berpikir keras apa maksud perkataan Wonwoo tadi karena demi Tuhan ia tidak mengerti sama sekali dengan arah pembicaraannya kini.
"Gue nyerah?"
"Iya… tapi bukan salah lo kok! Gue—"
"Bentar, Wonwoo. Gue nyerah? Gue nyerah sama lo?"
"Iya…?"
Kerutan di dahi Mingyu terlipat semakin dalam seiring ia yang semakin bingung. Dari mana Wonwoo mendapat ide seperti itu?
"Gue nggak pernah nyerah sama lo, Wonwoo. Gue udah janji 'kan kalau gue akan nunggu? Gue akan selalu nunggu sampai lo siap. Gue janji sama lo waktu kita tujuh belas tahun, Won. Gue nggak akan nyerah gitu aja."
"Tapi… sepuluh tahun…"
"Iya? Kenapa?"
Wonwoo menunduk, menatap jemarinya yang saling bertaut gugup, tidak ingin bertatapan dengan Mingyu.
"Ini udah lebih dari sepuluh tahun, Mingyu…" Suara Wonwoo mengecil di akhir kalimat.
"Terus?"
Mingyu tidak mendapat jawaban, tetapi sepertinya ia mulai paham dari mana pembicaraan ini berasal.
"Wonwoo, look at me, please ?"
Diminta selembut itu, Wonwoo mana bisa untuk menolak? Maka dengan perlahan, ia naikkan lagi pandangannya untuk kembali bertemu dengan si pemilik hati yang tengah menatapnya dengan seulas senyum lembut yang tampak tidak berubah sejak pertama mereka bertemu.
"Wonwoo, kita memang janji hanya untuk sepuluh tahun. Gue janji akan menunggu lo sembuh dalam sepuluh tahun. Gue janji akan menunggu lo siap dalam sepuluh tahun. Tapi, bukan berarti ini ada tanggal kedaluwarsanya, Wonwoo.
"Gue sayang sama lo. Mau itu sepuluh tahun atau lebih, gue akan tetap sayang sama lo. Karena dalam otak gue, batas perjanjian kita adalah satu syarat yang lo kasih buat gue Wonwoo. Lo masih ingat?"
Pelan, Wonwoo mengangguk. "Kalau lo capek, lo boleh berhenti, Mingyu."
"Betul. Dan gue belum capek, Wonwoo. Gue belum selesai dan gue belum—ralat, nggak akan nyerah sama lo."
Wonwoo berani bertaruh bahwa saat ini adalah saat ketika jantungnya bekerja paling keras seumur hidupnya hingga saat ini. Detakan jantungnya terasa begitu cepat dan keras, perutnya terasa tergelitik oleh perasaan hangat dan darah seakan naik berkumpul semua di pipinya. Tetapi masih ada satu yang mengganjal.
"Tapi…"
"Tapi apa, Wonwoo?"
" You and that… Hansol guy… aren't you two—you know, uhm, a thing?"
Hening sejenak, sebelum Mingyu melepas lega yang teramat lega malam ini seiring tawanya yang lepas ke udara. Ah, ternyata Wonwoo- nya ini hanya salah paham. Kini ia paham mengapa momen pengakuan perasaan si pujaan hati begitu sendu dan biru.
"Wonwoo darling , have you never asked about Hansol to Seungkwan?"
"Huh? Kenapa Seungkwan?"
Melihat wajah Wonwoo yang begitu menggemaskan diliputi bingung, Mingyu tidak bisa menahan diri untuk tidak mengecupi pipi yang kini terasa lebih berisi jika dibandingkan dengan terakhir mereka bertemu lima tahun lalu. Ada Wonwoo yang memerah malu setelahnya dan Mingyu harus menahan diri untuk tidak menghujaninya dengan kecupan lainnya sebelum ia menjelaskan kekacauan ini.
"Hansol itu pacarnya Seungkwan, Wonwoo. He hangs out with me a lot karena kita kebetulan satu kantor dan berbagi nasib yang sama: ditinggal ayang ke Melbourne."
Wonwoo tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Ia merasa malu, ingin sekali ia mengubur dirinya dimana saja yang penting tidak berhadapan dengan Mingyu sekarang. Tetapi ia juga merasa lega dan senang. Lega karena ternyata ia tidak terlambat. Dan senang karena Mingyu, pujaan hatinya, masih memperjuangkannya, masih menginginkannya .
"Mingyu…" Wonwoo merangsek masuk ke dalam pelukan Mingyu sekali lagi dengan seluruh wajah hingga telinga memerah. Tangannya memegang erat pakaian Mingyu tidak mau melepas. Mingyu, dengan sisa tawa yang masih terlepas, dengan senang hati kembali mengeratkan pelukan sembari membubuhkan kecupan-kecupan sayang di kepala sang terkasih.
"Aduh kamu jangan gemes-gemes dong, Won? Mana tahan aku kalo begini. Maunya aku peluk terus cium banyak-banyak."
"Kamu?" Wonwoo mendongak tanpa melepas pelukannya. "Udah pake aku-kamu aja?"
Mingyu menunduk lalu tersenyum. "Iya lah, takut nanti kamu salah paham lagi—ADUH kenapa aku digigit, kucing nakal?"
"Ya abisnya!" Wonwoo merengut sebal. Mingyu ini tidak tahu apa kalau Wonwoo masih sangat malu atas kesalahpahaman yang terjadi hari ini?
"Hahaha tapi makasih ya, Won. Makasih udah kasih aku kesempatan. Makasih udah percaya sama aku." Mingyu lagi-lagi tersenyum lembut dan memberi Wonwoo tatapan itu, tatapan yang selalu membuat Wonwoo merasa begitu dicinta.
"Hm-m… Makasih juga ya, Mingyu. Makasih udah sabar menunggu. Makasih karena udah sayang sama aku. Semoga aku bisa kasih sayang yang sama besarnya buat Mingyu ya?"
"Hmm, aku tunggu kalo gitu."
Rasanya begitu menyenangkan dan melegakan. Penantian yang mereka jalani dengan perlahan akhirnya berlabuh pada akhir yang semestinya. Wonwoo merasa bahwa ia adalah lelaki paling beruntung karena bisa mendapat sayang sebesar apa yang Mingyu berikan padanya, membuatnya merasa begitu berharga dan dicinta yang jarang ia temukan di awal kehidupannya. Sementara Mingyu merasa bahwa ia adalah lelaki yang paling berbahagia. Bukan karena penantiannya selama ini tidak sia-sia, tetapi karena akhirnya si pujaan hati menemukan lagi nilainya, karena akhirnya si cantik- nya bisa sembuh dari luka dan siap untuk mencinta dan dicinta.
"Wonwoo, sama aku terus, ya?"
Mengangguk, Wonwoo merebahkan diri di atas detak jantung sosok yang membuatnya bahagia.
"Iya Mingyu, sama kamu terus."
**
"Mingyu, tadi kamu gimana caranya bisa masuk ke kamar aku?"
"Lho, kamu nggak nyadar? Aku ada di dapur sejak kamu buka pintu, Wonwoo."
"Hah… Masa sih?"
"Kamu tadi udah keburu galau, sih! Tadinya aku udah mau nyapa kamu, tapi kamu keliatan capek banget jadi yaudah deh."
"Hmm, iya kali ya—Gyu, kamu nyium bau sesuatu nggak sih?"
"Hm? Aku bau emangnya? Nggak kok."
"Ih bukan. Kayak bau gosong… kompor nggak nya—"
"WONWOO KUENYA!"
"Kue apa?"
"Demi Tuhan—bentar ya, Wonwoo. Semoga aku nggak ngebakar rumah kamu di hari kita jadian."
"Hah? Mingyu? Jangan bilang kamu tadi lagi manggang kue terus kamu tinggal?"
"WONWOO KUE KITA GOSONG!"
"Demi Tuhan, Kim Mingyu…"
—끝
