Work Text:
"Saya menyukaimu."
Mendapatkan pernyataan suka bukanlah hal yang baru bagi Tighnari, setidaknya selama ia mengenyam pendidikan di Akademiya tiap minggu entah surat atau ditemui oleh penyata secara langsung... Ia selalu menolak mereka.
Tighnari merasa dirinya terlalu muda untuk memiliki kehidupan asmara. Ia ingin menolak pria dihadapannya hanya saja ia cukup tersentak mendengar kalimat tersebut dari mulutnya.
Jika ia mendeskripsikan lawan bicaranya ia bisa mengatakan bahwa ia sosok yang sangat rasional, lebih dari dirinya. Memiliki rambut berwarna pirus seperti matanya dengan pupil oranye, tubuh bugar berbalutkan kain berwarna hijau gelap.
Ia mengulum bibirnya masih tidak percaya bahwa perkataan yang tak bisa ia telaah itu muncul dari mulutnya:
Apa ia selama ini salah mengira mengenai Alhaitham?
Tighnari membuka mulutnya halus namun tak ada suara yang keluar dari tenggorokannya. Ia menarik menutup mata dan nafas guna merilekskan diri yang ia rasa cukup lama, ia cukup bingung tidak ada respon lain selain pernyataan suka dari Alhaitham.
Apa ini hanya halusinogen dari jamur yang ia dapatkan?
'Cukup masuk akal.' Pikir Tighnari, ia cukup membiarkan halusinogen ini berakhir mungkin sehabis ini ia akan menerima ajak bertemu Cyno untuk berceloteh mengenai efek jamur yang baru saja ia temukan.
Tetapi setelah ia memusatkan pikirannya, mengapa keberadaan Alhaitham dihadapannya tidak memudar? Walaupun lingkungan sekitar cukup ramai suara hewan, telinganya fokus pada nafas yang dikeluarkan oleh ilusi dihadapannya, apa akhirnya membersihkan withering zone memberikan dampak kepada pemilik vision?
Alisnya mengerut masih belum sanggup untuk membuka matanya, ia masih menyangkal baru saja mendapatkan pernyataan cinta dari Alhaitham.
Namun begitu ia dapat merasakan sentuhan hangat di pipinya, Tighnari memberanikan diri untuk membuka matanya.
Tatapan intens oleh Alhaitham menyambut netranya. Bibirnya tersimpul senyum, begitu tangannya mulai mengelus lembut pipi Tighnari. Hal tersebut membuat dirinya terpaku karena ia rasa semua ini cukup tidak logis untuk ditelaah.
Perutnya sedikit terasa hangat, ia hanya menelan ludah dan matanya tak pernah lepas dari pria dihadapannya.
Ia merasa sunyi akan memakannya, ditambah dengan Al-Haitham tidak memecahkan keheningan... kepalanya cukup pusing.
'Sungguh tidak masuk akal.' Pikirnya.
Tighnari membuka mulutnya, mengumpulkan keberanian akhirnya ia bisa mendengarkan suaranya sendiri.
"Saya... cukup tersentak mendengar kalimat tersebut keluar dari bibir Anda." Jedanya, ia memegang pergelangan tangan Alhaitham yang ia lepas perlahan dari menyentuh pipinya.
"Apakah Anda baru saja memakan jamur beracun dari hutan ini atau Anda dalam pengaruh sihir?" Ia tertawa pelan, "ah, atau secara platonik. Saya rasa itu penjelasan yang masuk akal dari pria seperti Anda."
"Tidak. Saya memang menyukaimu Tighnari," tawa tersebut terhenti, matanya terbuka lebar kembali menatap lawan bicaranya. Belum dapat ia lontarkan pertanyaan lagi, Alhaitham melanjutkan kalimatnya:
"Secara romantis."
Sangat tidak masuk akal.
"Omong kosong." Kalimat tersebut spontan keluar dari mulut Tighnari, tak menghiraukan degupan jantungnya. Ia pun memalingkan wajahnya, tak ingin melihat lebih jelas lagi tatapan yang diberikan oleh pria dihadapannya.
Tighnari mengeluarkan hembusan nafas yang tak ia sadar tertahan dalam tubuhnya, ia menutup matanya sebelum meminta maaf kepada Alhaitham.
"Maaf, saya cukup tercengang sehingga kalimat tersebut keluar dari mulut saya." Kali ini ia berusaha untuk merangkai kalimatnya perlahan-lahan supaya ucapan yang selanjutnya ia keluarkan, bukanlah kalimat serampangan.
"Saya tidak ingin tidak memvalidasi perasaan Anda. Hanya saja pertanyaan dan aksi Anda membuat saya tercengang hingga pusing." Tawanya pelan, "saya sempat mengira ini hanyalah halusinogen dari jamur liar hutan ini."
"Namun, sepertinya saya salah dan Anda memang menyatakan suka kepada saya." Ia kembali membuka matanya, kali ini tak menatap balik netra lawannya, cukup menatap bibirnya karena ia tidak ingin jantungnya berdebar tidak karuan.
"Saya merasa bahwa saya yang bodoh dan tindakan saya ini tidak masuk akal." Semuanya terlalu berjalan cepat dalam otak Tighnari, ia ingin semuanya segera berakhir tapi ia tahu, hal itu tidak mungkin terjadi.
"Jangan menilai dirimu serendah itu Tighnari." Alhaitham memutar badannya ke arah hutan, namun tatapannya menuju ke langit. "Saya mengerti pernyataan suka saya muncul tiba-tiba tapi, ini sudah saya pikirkan secara matang." Netranya mengikuti arah tatapannya untuk menemui bulan purnama terang namun tak menyengat matanya.
"Memang sepertinya mustahil untuk kata suka muncul dari mulut saya tapi, mengenal diri Anda membuat saya yakin hal tersebut tidaklah mustahil."
Untuk Tighnari sendiri, ia belum pernah membagikan kata cinta atau suka secara romantis kepada orang lain. Semua ikatan yang ia miliki merupakan ikatan hangat dan nyaman berbentuk platonik. Mendengar ucapan tersebut dari Alhaitham terasa mustahil, melihat pria itu lebih fokus pada aspek lain kehidupan selain romansa.
"Bagaimana Anda membedah perasaan yang Anda rasakan adalah suka romantis?" Ia tak pernah jatuh hati terhadap seseorang, perasaan yang dirasakan Alhaitham ini terasa asing baginya.
"Saya tidak pernah merasakan itu sebelumnya, yang saya tahu suka yang saya rasakan memiliki batas antara keluarga dan kekasih." Dan bagaimana ia baru memikirkan semuanya ketika Alhaitham mengungkapkan perasaan tersebut pada dirinya.
"Saya seperti yang kamu duga, saya juga mencerna perasaan ini perlahan-lahan. saya sempat mengira perasaan saya rasa akan ini adalah takjub, mengingat semua prestasi dan perhatian yang Anda dapatkan. Saya merasa Anda adalah orang yang pantas untuk dipuja." Tighnari cukup terkejut mendengar pujian muncul dari penjelasannya.
"Namun beriring waktu perasaan yang saya duga sebagai takjub itu berubah, ketika pertama kalinya saya merasa panas hati mendengar Anda bersama dengan teman-teman ataupun kolega kerja Anda."
"Saya tahu saya tidak punya tempat untuk merasa panas hati. Karena mereka merupakan bagian dari hidup Anda dan saya sendiri cukup asing dimata Anda. Perasaan ini membuih sehingga saya bertindak tidak sepertinya diri saya. Sehingga muncul pertanyaan dalam kepala saya apakah perasaan ini dengki atas prestasi yang Anda capai? Apakah saya ingin memiliki atensi yang Anda punya?"
"Bahkan pertanyaan apa saya sudah menjadi gila, muncul dalam benak saya." Alhaitham tertawa pelan. "Perasaan suka ataupun cinta tak terlintas di kepala saya, hingga saya menanyakan hal ini pada Kaveh."
"Saya parafrase kalimat yang ia lontarkan:
'Orang gila.'
Dia menyebut saya gila sebelum menceramahi saya dan menyuruh melihat perasaan ini dari sisi lain, sisi yang cukup asing buat saya dan tentu saja untukmu bukan; Tighnari?"
Tighnari menelan ludah mengetahui ke mana arah cerita ini. Dia berharap dia bisa membuat Alhaitham berhenti menjadi aneh tapi, dia tahu pria itu cukup serius dengan perkataannya sekarang.
"Saya mulai bertanya pada diri sendiri, mengapa saya bisa merasa tertarik pada Anda. Untuk diagnosa sederhana, hal ini dikarenakan pencapaian Anda dan pengaruh yang Anda miliki terhadap lingkaran sosial Anda, tetapi bagian irasional dari diri saya tahu itu lebih dari itu."
Alhaitham berbalik untuk melihat kembali padanya.
Tighnari merasa seperti berada dalam cerita light novel klise koleksi Collei.
"Sebagai manusia biasa kita tahu ada dorongan yang tidak bisa kita kendalikan. Perasaan egois ingin memiliki sesuatu; seseorang. Ada bagian dari diri saya yang takut ini akan membuat saya tidak logis dan bertindak bodoh. Walau saya tidak bisa mengendalikannya tapi saya bisa menyangkal perasaan ini, dengan tidak pernah menyentuhnya lagi. Tetapi, mungkin bagian emosional saya menang, saya tidak bisa menyangkal kehadiran Anda dalam pikiran saya…" ia menghela nafas.
"Saya tak bisa menyangkal ketertarikan yang saya miliki terhadap Anda. Karenanya saya menyatakan ketertarikan; suka saya terhadap Anda." Nada yang pria tersebut gunakan untuk mengucapkan butir kata itu tegas dan jujur, bahkan ada kecurigaan di sekelilingnya. Ia ingin mempercayai perkataannya.
"Setidaknya ini untuk menenangkan pikiran saya dan berhenti bersikap irasional." Tambahnya. Mendengar komentar tambahannya memecahkan Tighnari dari fokusnya terhadap lawan bicaranya menjadi tawa, dirinya masih merasa tidak percaya dengan apa yang sudah ia ucapkan ya?
Tidak mudah menerima perasaan asing dan Tighnari tahu itu. Rasanya lucu melihat Alhaitham bertindak tidak rasional untuk sebuah pengakuan.
"Jadi, apa yang Anda ingin saya lakukan dengan pengakuanmu?" Ia bertanya, pria di depannya mengangkat alis menatapnya secara analitis, matanya hampir kehilangan fokus ke arah ekornya yang bergerak dengan sendirinya.
"Ayolah Alhaitham saya butuh perkataanmu, jangan merasa saya bisa mendengar pikiranmu." Oh, tubuhnya sudah rileks kepada pria itu. Telinga berkedut mengantisipasi respon yang akan diberikan olehnya.
Entah apa yang terlintas dalam kepala Alhaitham sehingga pria tersebut seperti berhenti berfungsi untuk sekian waktu.
Tighnari tidak takjub mengetahui alasannya.
Sial, ia tidak menyukai bagaimana terkadang anatominya tak bisa menyembunyikan antisipasi ataupun kegembiraannya.
Ia membawa telapak tangannya tepat di dekat pipi lawan bicaranya dan menamparnya lembut untuk membangunkan pria itu dari apa pun yang melewati kepalanya.
"Bangun. Saya masih menunggu konfirmasimu."
Alhaitham berkedip lalu berkedip lagi, menyadari ia kehilangan kontrol akan dirinya, ia batuk untuk menghilangkan canggungnya.
Tighnari tidak tahu ia harus tersanjung atau tidak, melihat dirinya menjadi alasan mengapa pria di depannya memerah dan kehilangan kontrol akan tindakannya. Tanpa ia sadari kedua tangannya sekarang berada di bahunya setelah pria yang lebih tinggi tersebut memperbaiki posturnya.
"Maaf atas keteledoran saya,"Mata Alhaitham mencuri pandang ke arah tangan pria tersebut yang nyaman di bahunya.
"Saya merasa pilihan ini kembali kepada Anda, saya bisa menerima jawaban yang Anda berikan."
Jadi bukan hanya dirinya yang mencuri pandang, ketika ia melanjutkan perkataannya ia menyadari lawan bicaranya tersentak oleh aksi spontannya sendiri, namun tak melepas kedua tangannya dari pundaknya.
"Jika Anda merasa butuh waktu, saya juga dapat menerimanya." Dengan pilihan yang ia miliki, Tighnari bisa menolak atau mengambil waktu untuk memikirkan pengakuannya.
Awalnya ia memilih menolak dengan alasan ia belum punya waktu untuk asmara, ada yang lebih penting seperti hutan atau mengurus hal lain. Ia berpikir bahwa dengan membutuhkan waktu, ia hanya memberikan ketidakpastian pada Alhaitham.
Menerima perasaan berarti kau akan membangun ruangan baru untuk orang lain, kau tak pernah tahu akan menjadi apa ruangan itu. Lagi pula dengan definisi itu sendiri, ia akan memandang beda orang yang akan bersemayam di hatinya. Lebih dari platonik.
Ketertarikan seperti ini menjadi sakit kepala baginya. Ia tahu Alhaitham juga akan menerima penolakan tapi, hatinya. Pikiran tidak logisnya bernyanyi:
'Bagaimana kalau mencoba dan menerima hubungan itu terlebih dahulu?'
Ia menghembuskan nafas untuk meringankan berat imajiner yang dirasakan. Sial, sepertinya bukan hanya Alhaitham yang bertindak irasional hari ini.
Tighnari melepaskan tangannya dari bahunya. Menggaruk telinganya saat ekornya mengantisipasi kalimat yang ia lontarkan:
"Saya menerima perasaanmu."
Ia mengalihkan pandangannya, tak ingin bertemu dengan tatapan pria itu sesaat. Rasanya canggung memberikan jawaban pendek dikala lawan bicaranya mencurahkan perasaannya panjang lebar.
Cahaya rembulan membiaskan netranya, entah perasaan apa yang bergejolak dalam dirinya namun ia tahu, ini bukanlah gundah ataupun menolak apa yang sudah ia ucapkan. Tighanri berusaha mengalihkan pikirannya dengan terus menatap bulan, rasa hangat berkabung kasih menyentuh jiwanya.
Ia merasakan tangan tersebut mencoba meraih tangannya dan tatapannya tak lepas rembulan namun, ia membalas sentuhan baru tersebut dengan genggaman erat.
Bukanlah hal baru untuk menemukan tangan orang lain yang hangat namun perasaan yang dia rasakan sekarang, cukup baru dan intens.
Alhaitham merubah posisinya ke belakang tubuhnya. Tanpa basa-basi Tighnari jatuh ke dalam dengkapan hangat dadanya, membenamkan seluruh inderanya untuk merasakan pria itu lebih dekat.
Mereka tetap dalam posisi yang sama untuk waktu yang cukup lama, kadang terjadi pergeseran terjadi untuk menjaga satu sama lain nyaman dan stabil. Tidak ada kata yang terucap setelah malam itu, bahkan ucapan selamat tinggal pun tak datang secara lisan.
Sentuhan hangat yang tersisa menjadi jejak untuk satu sama lain, menjadi tanda bahwa semua ini nyata.
Orang dewasa di Sumeru tidak bisa bermimpi, tapi perasaan ini terasa seperti mimpi.
