Actions

Work Header

Jealousy (Two)

Summary:

"You ain't his boyfriend" adalah kalimat yang akan selalu Jeno dengar sepanjang tahun keempatnya di hogwarts ini, sekaligus kalimat yang membuat perasaannya terbakar karena membuatnya sadar bahwa ia bukanlah siapapun untuk Haechan

Notes:

  1. All the characters are not mine.
  2. Fanfiction only.
  3. Written in bahasa indonesia.

Work Text:

 

 

Tidak pernah terpikirkan sebelumnya dalam benak Jeno, bahwa memiki saudara kembar yang terlampau kritis sangatlah menyebalkan. Seringkali Renjun yang kini bertempat di asrama dengan ciri khas burung elang itu berkomentar mengenai hal-hal kecil yang selalu dilakukan oleh Jeno. Salah satu contohnya adalah, bagaimana cara ia menunjukkan rasa cemburunya secara menggebu-gebu terhadap Haechan.

 

Jeno bahkan mulai berhenti menghitung berapa kali Renjun menghampiri dirinya dan memukul bagian belakang kepala Jeno secara mendadak ketika ia sedang menikmati makan siangnya di The Great Hall. Tentu saja pemuda itu mulai berceloteh tentang betapa memalukannya Jeno dan bagaimana Jeno merusak reputasinya sebagai seseorang yang dikenal cerdas dalam bertindak.

 

“Stop, Jeno!” teriak Renjun, sembari melayangkan satu pukulan pelan kepada bahunya dengan buku tebal yang ia pinjam dari perpustakaan. Membuatnya mengaduh pelan, dan menatap saudara satu rahimnya itu dengan sinis.

 

“I’m just staring at him!”

 

Helaan napas sebal terdengar bersamaan dengan suara dentuman kecil yang dihasilkan oleh Renjun yang secara sengaja menaruh bukunya di atas meja dengan keras. Renjun merotasikan matanya, merasa semakin jengkel ketika Jeno untuk kesekian kalinya mengabaikan ucapannya dan lebih memilih untuk menatap Haechan yang tengah bersamaan dengan seseorang yang bahkan Renjun sendiri enggan untuk peduli.

 

Renjun mungkin saja akan melayangkan kembali buku tebalnya pada bahu Jeno, tepat sebelum Eric datang menghampiri keduanya, dan menghela napas lelah.

 

“Ada apa?” tanya Jeno yang akhirnya menyerah terus-menerus menarik perhatian Haechan dengan menatapnya secara intens. Pandangannya beralih dan memilih untuk menunjukkan rasa pedulinya pada Eric yang secara mendadak bergabung dengan keduanya.

 

Jeno merasa heran melihat salah satu teman satu kamarnya terlihat seolah-olah ia baru saja melawan sekumpulan naga Hungarian Horntail yang tentu saja hanyalah imajinasi Jeno. Lagipula, tidak mungkin bukan di sekolah yang terdapat ratusan siswa yang bahkan kesulitan melapalkan mantra semudah mending charm, secara mendadak menunjukkan seekor naga, terlebih jenis naga paling berbahaya? Konyol sekali.

 

“Kalian tahu Professor Eun dari kelas pemeliharaan satwa gaib? Ia baru saja menunjukkan seekor naga di training ground sekolah kita.”

 

“What?!”

 

Eric mengangguk entah untuk alasan apa. Jeno menatap heran Renjun, yang juga menunjukkan ekspresi tidak jauh berbeda dengan dirinya, menunjukkan keduanya jelas berbagi pemikiran yang sama tentang Eric saat ini.

 

“Imagine Jeno! Hungarian Horntail! The most dangerous dragon breed is in our school! Professor Eun must be crazy!” teriak Eric dengan penuh drama, membuat nyaris atensi seluruh murid yang tengah menikmati makan siang mereka, kini terpaku pada ketiganya dan ucapan yang baru saja dilontarkan oleh teman satu kamarnya. Yang tentu saja secara seketika membuat The Great Hall menjadi sangat ramai dengan membahas topik yang sama, yang tentu saja membuat beberapa siswa yang penasaran dengan eksistensi naga berlarian meninggalkan aula utama menuju training ground yang baru saja disebutkan oleh Eric.

 

“Kau gila?!” Teriak Renjun yang untuk kesekian kalinya, kembali memukul kepala seseorang menggunakan buku tebalnya, membuat Jeno meringis membayangkan rasa sakit yang dialami Eric dan juga membayangkan reaksi Madam Lee, penjaga perpustakaan sekolah mereka, melihat buku-buku kesayangannya digunakan secara tidak tepat oleh Renjun.

 

“Astaga Renjun! Tidak bisakah kau memukulku dengan lebih perlahan?!” Desis Eric sembari mengusap kepalanya yang terasa berdenyut, kemudian melayangkan tatapan sinis kepada saudara kembar Jeno, yang tentu saja dibalas desisan yang terdengar sangat tidak ramah dari Renjun.

 

Jeno merotasikan kedua bola matanya, merasa jengah dengan Eric dan Renjun yang memang sejak awal berkenalan tidak pernah terlihat dalam perbincangan normal. Yang dalam kasus mereka, Renjun sama sekali tidak pernah sekalipun tidak menghardik setiap perilaku keduanya.

 

“Tidak bisakah kalian diam!? Berhentilah memukul seseorang dengan bukumu Renjun! Dan kau juga Eric! bagaimana bisa mengatakan keberadaan naga di tengah jam makan siang seperti ini?” Protes Jeno sembari menarik tangan Renjun, sedikit memaksanya untuk duduk dengan tenang, yang tentu saja secara cepat Renjun tepis karena merasa tidak terima diceramahi oleh Jeno yang bahkan berkelakuan lebih buruk dari dirinya.

 

Bukan tanpa alasan Renjun merasa kesal seperti ini. Masalahnya adalah, Jeno bukan hanya bersikap menggebu-gebu dalam menunjukkan rasa suka dan cemburunya pada Haechan. Pemuda yang kini merangkap menjadi pemain terbaik dari team quidditch asrama gryffindor itu bahkan sama sekali tidak segan untuk melayangkan kutukan kecil kepada beberapa murid yang secara terang-terangan mendekati Haechan. Renjun bahkan berani bersumpah ia pernah melihat Jeno melayangkan mantra transfigurasi pada salah satu siswa yang nekat memberikan Haechan coklat pada hari valentine, menjadi seekor katak.

 

Tatapan penuh rasa kesal kini Renjun berikan pada Haechan, yang kini bahkan terlihat sama sekali tidak peduli dengan sekitarnya dan masih menikmati makan siangnya sembari membaca buku yang Renjun kenali sebagai buku yang sama yang dipegang oleh dirinya saat ini. Renjun mendesis, merasa benci ketika ia dan Haechan melakukan hal yang sama, dan memilih untuk melimpahkan seluruh emosinya pada Jeno.

 

“Look at yourself, Jeno! Stop being possessive over someone that is not even your boyfriend! Teriak Renjun tepat sebelum meninggalkan The Great Hall dengan penuh rasa emosi. Jeno bahkan berani bersumpah bahwa ia dapat merasakan guncangan kecil setiap kali Renjun melangkah meninggalkan aula utama akibat sang saudara kembar berusaha melampiaskan emosinya pada langkah yang dihentakkan.

 

“Honestly…”

 

Jeno menoleh, melihat Eric kini menunjukkan ekspresi yang Jeno sendiri lagi-lagi tidak memahami apa yang coba disampaikan oleh temannya ini. “-I kinda agree with Renjun.”

 

Eric menatap Jeno dengan perasaan sedikit ngeri, mengingat teman yang duduk dihadapannya ini memang sangat nekat dalam melakukan sesuatu jika berkaitan dengan pemuda slytherin kesayangannya. Masih segar dalam ingatan Eric bahwa Jeno pernah melayangkan mantra full-body bind curse kepada dirinya dan membiarkannya dalam keadaan terbujur kaku selama nyaris satu hari penuh, hanya karena Jeno mendapati dirinya memberikan beberapa cokelat dari honeydukes kepada Haechan di hari valentine.

 

Yang tentu saja sebuah kesalahpahaman diantara keduanya, karena Eric hanya memberikan titipan dari beberapa siswa tahun keempat yang merasa tidak cukup berani memberikan cokelat kepada Haechan. Dan mereka berpikir bahwa Eric yang terlihat cukup dekat dengan Haechan, merupakan solusi terakhir karena memberikan cokelat kepada Jaemin yang merupakan teman terdekat Haechan, sama saja seperti membangunkan dua ekor naga, yang dalam kasus ini merupakan Jaemin sendiri, dan Jeno.

 

“About?” Jeno menaikkan salah satu alisnya, merasa tertarik sekaligus heran dengan Eric yang baru kali ini memiliki satu pendapat dengan saudara kembarnya. Jeno bahkan enggan melepaskan tatapannya dari Eric yang kini terlihat seperti akan meninggalkan The Great Hall secara terburu-buru.

 

“Don’t you think thats weird, Jeno? You showed all your jealousy and acted possessive toward Haechan, even you aren’t his boyfriend?”

 

 

 


 

 

 

Nyaris satu minggu sejak terakhir kali Jeno melihat keberadaan Eric. Pemuda itu bahkan sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya semenjak percakapan terakhir mereka mengenai perilaku Jeno yang terasa semakin aneh terhadap Haechan, yang sejujurnya membuat Jeno banyak berpikir akhir-akhir ini.

 

Sejak tahun ketiga mereka, dimana Jeno melabeli dirinya sendiri bahwa ia benar-benar jatuh dalam pesona pemuda slytherin tersebut, Jeno memang tidak pernah benar-benar mengatakan bahwa ia mencintai Haechan, ataupun menyukai Haechan. Semua yang Jeno lakukan hanyalah menunjukkan rasa cemburunya, dan memberikan beberapa kutukan kecil kepada murid yang membuat hatinya terasa terbakar. Sebuah pemikiran yang membuat Jeno sadar, setiap kali Haechan melihatnya bertingkah atau melafalkan beberapa jinx, ia hanya menunjukkan wajah seolah tidak peduli dan berjalan melaluinya seolah Jeno adalah makhluk tak kasat mata.

 

Yang mana sedikit menusuk perasaan Jeno, ketika ia menyimpulkan bahwa ia memang melakukan seluruh kenakalan yang membuatnya sering mendapatkan detensi, hanya untuk mencuri atensi dari Haechan, dan pemuda itu bahkan tidak sedikitpun peduli kepadanya.

 

Jeno mengacak rambut blonde miliknya sembari mengerang, merasa pusing karena ia sendiri memang tidak pernah secara serius memikirkan hal ini, sekaligus melampiaskan rasa kesalnya karena baru saja menyelesaikan detensi berupa membersihkan kuali di kelas ramuan tanpa sama sekali menggunakan sihir. Yang tentu saja penyiksaan untuknya terlebih Jeno tumbuh dalam keluarga yang mengandalkan sihir sejak ia dalam kandungan.

 

“—kuharap kau bisa memahaminya, Haechan. Aku akan menemuimu nanti malam.”

 

Pukul sebelas malam, dan Jeno nyaris merasakan jantungnya berhenti berdetak ketika sayup-sayup mendengarkan nama pemuda yang memenuhi pemikirannya selama beberapa minggu ini menggema memenuhi dungeon tempat ia berdiri sekarang. Jeno membalikkan badannya berusaha mencari tahu siapa yang berbicara dengan Haechan di nyaris pertengahan malam ini, dan seketika menyesali perbuatannya.

 

Bukannya mendapati Haechan tengah berbicara seperti biasa dengan siswa lain, Jeno justru melihat sang prefect slytherin yang Jeno kenali berasal dari tahun kelima tengah mengusap pucuk kepala Haechan dengan lembut. Yang membuat Jeno nyaris berdesis marah ketika menyadari bahwa Haechan terlihat tidak menolak sentuhan yang diberikan sang prefect.

 

Haechan memberikan sebuah anggukan dan kembali memasuki asrama yang identik dengan ular tersebut. Membuat Jeno menyadari bahwa prefect yang baru saja ia layangkan tatapan penuh rasa benci itu mulai semakin dekat dengan posisi dimana ia berdiri sekarang.

 

Lagi dan lagi, Jeno mampu membayangkan mantra kutukan jenis apa yang bisa ia layangkan pada prefect tersebut, tetapi perkataan Renjun dan Eric kembali menghantuinya, mengatakan bahwa memangnya siapa Jeno hingga ia bisa menunjukkan rasa cemburu kepada pemuda lain yang akan mendekati Haechan, yang tentu saja membuat amarah dalam diri Jeno semakin terasa menguar.

 

Tanpa perlu berpikir panjang, dengan segera Jeno berjalan menghampiri prefect yang Jeno kenali sebagai Nakamoto Yuta, pemuda dari tahun kelima mereka yang kerap disebut sebagai ‘Mr. Perfect Prefect’ sebagai bahan ejekan oleh siswa laki-laki asramanya, dan juga sering kali dipuja-puja oleh siswa perempuan dari angkatan mereka.

 

Dan Jeno, secara sengaja bahkan tanpa rasa bersalah menabrakkan dirinya pada Yuta, membuat sang prefect menjatuhkan beberapa buku yang ia pegang, dan membuatnya sedikit terhuyung tidak seimbang. Membuat Jeno merasa bangga karena merasa pelatihan seperti tentara dari team quidditch asramanya selama nyaris dua tahun lebih tidak berakhir sia-sia.

 

“Merlin! Watch your steps plea-” Prefect slytherin itu seketika menghentikan ucapannya, terlebih ketika tatapan keduanya saling beradu dan sang prefect jelas menyadari siapa pemuda yang kini berdiri dihadapannya dengan angkuh.

 

“-oh, Jeno Lee,” ucap Yuta dengan sengaja memberikan kesan merendahkan ketika menyebutkan nama Jeno, yang secara jelas disadari oleh Jeno hingga pemuda gryffindor itu menggertakkan giginya secara tidak sadar.

 

“Hello, Mr. Perfect Prefect. Doing your job as prefect huh?”

 

Jeno tahu, Yuta benar-benar tidak senang dengan kehadiran dan panggilan darinya, mengingat pemuda dihadapannya ini jelas menunjukkan sikap dan perilaku yang berbeda ketika berbicara dengan Haechan di depan pintu masuk asrama ular tersebut. Membuat Jeno kembali mengernyit tidak suka ketika mengingat Yuta menyentuh Haechan dengan sesuka hatinya beberapa menit yang lalu.

 

Mengabaikan ucapan dan segala tingkah laku yang ditunjukkan oleh Jeno, Yuta memilih untuk mengambil beberapa buku yang akan ia berikan kembali kepada perpustakaan, kemudian berdecak sebal ketika Jeno secara sengaja menendang salah satu buku yang berada di dekat kakinya. Terlebih kini Jeno secara sengaja menatapnya dengan maksud untuk merendahkan, membuat Yuta menggenggam tongkat miliknya dengan erat dengan melayangkan sebuah mantra dengan kilau sewarna orange yang secara terlambat Jeno tangkis.

 

Locomotor wibbly!”

 

“Shit!”

 

Dengusan penuh rasa puas terdengar dari sang prefect ketika melihat Jeno yang kini bahkan kesulitan untuk berdiri, hingga pemuda dari asrama yang sangat identik dengan singa itu terduduk dalam keadaan kaki yang lemas akibat mantra yang ia lontarkan. Secara perlahan Yuta berjalan mendekati Jeno, sedikit menunduk karena posisi Jeno saat ini berada di bawah dagunya.

 

Jeno membulatkan kedua matanya ketika Yuta secara sengaja menempelkan ujung tongkat miliknya pada dahinya, sekaligus melayangkan tatapan penuh rasa tidak suka kepadanya, membuat Jeno enggan mengakui bahwa ia benar-benar merasa kalah dari sosok pemuda yang sering diejek-ejek oleh teman satu asramanya ini.

 

“No wonder Haechan trying to learn some jinx these days. My poorly baby must be disturbed with your existence, Jeno.”

 

Sebuah seringai penuh rasa kemenangan Yuta tunjukkan, membuat Jeno meringis menyesali perbuatan sembrononya untuk mengajak sang prefect berduel seperti yang biasa ia lakukan pada murid lain. Mengabaikan pemikiran sekilas bahwa Yuta memiliki experience dan pengetahuan yang jauh lebih tinggi darinya, sekaligus membuat Jeno kembali teringat percakapan antara dirinya dengan Renjun dan Eric yang kembali enggan Jeno akui, membuat dirinya merasa teramat rendah.

 

Menyadari bahwa Jeno tidak akan melakukan perlawanan lagi, Yuta menarik tongkat miliknya, kemudian melafalkan sebuah mantra flagrante pada buku yang ia genggam, membiarkan Jeno melihat bagaimana Yuta meringis membiarkan telapak tangannya terbakar secara sengaja ketika menyentuh buku yang baru saja ia mantrai.

 

“Ah, don’t forget Jeno-”

 

Jeno menghela napasnya lega ketika merasakan keadaan kakinya kembali dalam keadaan normal ketika Yuta melayangkan general counter-spell pada dirinya dan buku yang pemuda itu pegang. Tatapan penuh rasa tidak mengerti diberikan oleh Jeno, merasa bahwa prefect slytherin yang ada dihadapannya ini terlampau aneh karena melafalkan kutukan pada dirinya sendiri, bahkan membebaskan mantra pembuat kaki menjadi jelly dari dirinya.

 

“Aku akan melapor pada prefect asramamu, memintanya untuk mencabut seratus poin dari asramamu karena kau menyerang buku yang sedang kupegang dengan mantra flagrante hingga membuat tanganku terbakar, dan mencoba berduel denganku,” ucap Yuta sembari menunjukkan telapak tangannya yang terlihat memiliki bekas luka bakar, membuat Jeno terdiam bermaksud mendengarkan perkataan lanjutan dari pemuda di hadapannya ini.

 

"And stop being possessive towards Haechan, Jeno. You ain’t even his boyfriend, right?”

 

 

 

 

 

- end of part four.

Series this work belongs to: