Work Text:
---
Sasuke mendongak, menatap salah satu wajah patung Hokage di bukit. Usianya baru menginjak delapan tahun namun gurat kedewasaan sudah ada disana. Pancaran matanya yang tahun lalu penuh dengan semangat dan kepolosan telah hilang sejak malam dimana kakaknya membantai seluruh keluarga mereka. Meninggalkan Sasuke seorang diri di desa yang bahkan tidak pernah menghormati klannya, desa yang memandang klannya dengan penuh cibiran. Semua itu karena pria yang wajahnya dipahat disana. Pria yang sayangnya adalah belahan jiwanya.
"Apa kau juga ingin menjadi Hokage seperti mereka?" Tanpa perlu melihat Sasuke sudah tahu siapa sosok yang berdiri disampingnya. Bocah kuning berisik yang suka menantangnya.
"Siapa yang ingin menjadi seperti mereka. Mereka hanya seorang pendosa bertopeng pemimpin desa."
Setengah tahun yang lalu Sasuke telah mengetahui semuanya. Dibagian bawah kuil Nakano terletak seluruh dokumen dan rencana kudeta klannya pada desa namun dibawah sana juga ia tahu jika para Tetua desalah yang menyuruh kakaknya untuk menghentikan kudeta dengan cara membantai seluruh anggota keluarga mereka. Semuanya terkecuali Sasuke.
"Teme, beraninya kau mengatakan hal seperti itu! Apa kau tahu jika Hokage Keempat adalah seorang pahlawan? Dia menyelamatkan desa dari serangan Kyuubi."
"Ya, mungkin Hokage Keempat adalah pengecualian tapi dia tidak menyelamatkan seluruh desa. Klanku telah menanggung sesuatu yang tidak kami lakukan."
Naruto mengerjapkan matanya. Jelas tidak mengerti akan kalimat Sasuke.
"Katakan padaku, Dobe. Kenapa kau ingin menjadi Hokage? Jika kau ingin menjadi Hokage hanya karena kau ingin semua orang memperhatikanmu, maka buang impian itu. Tapi jika kau masih ingin menjadi Hokage, jadilah Hokage yang melampaui para pendahulumu. Jika kau masih menginginkannya, aku akan berada disampingmu dan mendukungmu."
Mata hitam kelam Sasuke menatap mata biru cerah Naruto.
"Siapa kau?" Tanya Naruto. Sosok di depannya bukan sosok yang ia kenal.
"Uchiha Sasuke. Temanmu."
---
"Teme, siapa nama soulmatemu?" Tanya Naruto, mereka saat ini berada di pinggir danau tempat Sasuke belajar katon dulu bersama Ayahnya.
"Kenapa kau bertanya?"
"Penasaran. Aku punya tato soulmate tapi ada di bahuku jadi aku tidak bisa membacanya."
Sasuke dengan segera merobek kaos Naruto terutama dibagian bahunya. Naruto berteriak marah. Sasuke tidak memedulikannya, ia menatap bahu kecokelatan Naruto, disana tertulis dengan kanji yang rapih khas tulisan perempuan dari keluarga bangsawan.
"Kau harus bersikap lebih baik, Dobe. Soulmatemu dari keluarga bangsawan."
"Eh, benarkah? Siapa namanya? Beritahu aku, Teme!"
Sasuke tidak memberitahunya.
"Kalau begitu biarkan aku melihat tato soulmatemu juga."
"Aku tidak memiliki soulmate, aku memiliki nemesis."
---
Lima tahun kemudian ketika keduanya sama-sama berusia tiga belas tahun. Sasuke dan Naruto berdiri di masing-masing patung pendiri desa Konoha. Mereka berada di Lembah Akhir.
"Aku harus pergi."
"Kemana?"
"Ke Orochimaru."
"Kenapa?" Mata biru Naruto berkaca-kaca.
"Dia menjanjikanku memberi kekuatan. Konoha tidak bisa membuat kita berkembang." Sasuke tidak suka melihat air mata Naruto.
"Tapi-"
"Saat aku pergi, Jiraiya juga akan membawamu pergi untuk berlatih."
"Bagaimana dengan Sakura-chan dan Kakashi-sensei?"
"Ada atau tanpa kita Kakashi akan baik-baik saja dan Sakura, ini akan memotivasinya untuk menjadi lebih kuat. Dia gadis yang cerdas, Dobe. Percaya padanya."
"Teme-"
"Ayo kita membuat janji. Saat kita sama-sama telah menjadi kuat nanti. Kita akan bertemu lagi. Kita akan bertarung beriringan melawan musuh."
"Janji?"
"Janji."
Dua jemari mereka saling terpaut sebelum Sasuke melepaskannya dan membelakangi Naruto.
"Teme, jika kau mengingkari janjimu. Aku akan memaksamu kembali bahkan jika harus menyeretmu dengan paksa. Juga, kau telah berjanji untuk berada disampingku ketika aku menjadi Hokage nanti."
"Hn."
Sasuke pergi.
---
Tim 7 berkumpul kembali setelah Sasuke mengetahui kebenaran mengenai Itachi. Ia memang tahu bahwa kakaknya tidak bersalah, semuanya salah Tetua Desa namun mendengar cerita lengkapnya dari Madara membuat kewarasan Sasuke hampir sirna.
Naruto mengisi sahabatnya. Sahabatnya yang telah kehilangan kewarasannya karena kepergian orang-orang yang dicintainya.
"Sasuke, kau sahabatku. Kita telah berjanji untuk saling menjaga dan melindungi."
"Kembalikan Itachi, kembalikan Ayah dan Ibuku, kembalikan seluruh keluargaku. Maka aku akan kembali menjadi sahabatmu."
Naruto menangis histeris namun Sasuke memalingkan wajahnya.
---
Dengan bantuan Orochimaru, Sasuke membangkitkan para Hokage pendahulu, sosok-sosok yang tahu segalanya. Sosok yang ia sebut sebagai para pendosa berkedok pemimpin desa. Diantara mereka, ada satu sosok itu, sosok yang menjadi awal mula pembantaian klannya. Sosok yang namanya terukir di bagian tubuh Sasuke.
"Namaku Uchiha Sasuke."
Tidak ada ekspresi berarti pria yang telah dibangkitkan menggunakan edo tensei itu, nama Sasuke seolah tidak memiliki arti terkecuali nama klannya.
See, takdir memang semengerikan itu untuk Sasuke tapi ia sudah tahu dari awal. Di awal ia melihat darah anggota klannya berceceran di jalanan kompleks Uchiha.
Sasuke bahkan ingin tertawa terbahak-bahak saat pria itu menyebutkan bahwa dirinya kerasukan iblis Uchiha bahkan mengeluarkan cakra skala besar.
Uchiha Sasuke tidak memiliki soulmate, ia memiliki nemesis.
---
Perang Dunia Shinobi Keempat telah berakhir. Sasuke menatap Naruto yang tengah berbicara dengan Ayahnya. Para Hokage yang telah dibangkitkan dengan edo tensei akan kembali ke Tanah Suci.
"Sasuke." Tubuh tinggi Tobirama berdiri didepan Sasuke.
"Nidaime."
"Kau soulmateku."
Tato soulmate yang ada dipinggul Sasuke, tato yang ia sembunyikan dari dunia bertuliskan nama pria didepannya. Pria yang telah mati puluhan tahun sebelum ia lahir, pria yang membenci klannya dan pria yang membuat klannya dibantai. Karena pria ini, klannya dibantai oleh anggota keluarga mereka sendiri. Oleh orang yang paling Sasuke cintai. Kakaknya, Itachi.
"Ironis, bukan? Soulmatemu berasal dari klan yang kau benci dan karena kau, aku kehilangan segalanya."
Tobirama diam. Saat ia dan Hokage lain dibangkitkan Orochimaru telah menjelaskan semuanya bahwa karena ulahnya yang menjadikan klan Uchiha sebagai penanggungjawab Kepolisian Konoha membuat Uchiha mengalami diskriminasi bertahun-tahun, puncaknya ada pada serangan Kyuubi.
Dan bahkan jika bukan karena itu, di Masa Periode Berperang juga ketika dia membunuh Izuna dan membuat Madara menggila karena kepergian satu-satunya saudaranya yang tersisa membuat Madara terhasut manipulasi Zetsu dan menciptakan semua kekacauan ini. Semuanya karena Tobirama.
"Aku tidak mengerti mengapa Dewa menjadikan kita soulmate. Pada kenyataannya kita seperti nemesis, musuh, sesuatu yang tidak bisa bersama, bertabrakan. Kau dan aku."
Tubuh Tobirama bercahaya, tanda waktunya ia untuk pergi. "Kau benar. Kita adalah nemesis."
---
Lima belas tahun kemudian putri Sasuke bertanya pada Ayahnya.
"Apa Papa punya soulmate?" Sarada tahu jika keduanya orangtuanya bukanlah soulmate. Keduanya tidak pernah menyembunyikannya sama sekali. Sakura bahkan memperlihatkan tato soulmatenya pada Sarada tahun lalu.
"Aku tidak memiliki soulmate tapi aku memiliki nemesis."
---
THE END
