Work Text:
---
Seminggu telah berlalu semenjak Dazai mengalahkan Fyodor dan menggagalkan rencananya untuk menghilangkan seluruh pengguna kemampuan di dunia dengan Buku milik Natsume Soseki.
Membutuhkan waktu yang cukup lama memang namun semuanya sepadan akan hasilnya dan juga Pemerintah akhirnya mengatur penghormatan untuk orang-orang yang gugur selama serangan Decay of Angels. Korban telah berjatuhan diberbagai sisi, Port Mafia, ADA, Hunting Dogs hingga warga sipil.
Dazai baru keluar dari rumah sakit pagi ini, ia bersama beberapa anggota ADA yang selamat menghadiri pemakaman yang menjadi tempat penghormatan terakhir untuk rekan-rekan mereka yang gugur.
"Akutagawa-san tidak selamat." Ujar Kyouka.
Dazai mengangguk, Atsushi telah menceritakan semuanya padanya beberapa hari yang lalu. Bagaimana pengguna Roshumon mengorbankan dirinya agar Atsushi kabur dari serangan Fukuchi.
"Walaupun aku tidak terlalu menyukainya tapi dia sangat menghormatimu. Dia beberapa kali membicarakanmu ketika aku masih di Port Mafia."
"Aku tahu."
"Dazai-san tidak ingin memberikan penghormatan terakhir untuknya?"
Dazai mendongak, mencari Gin diantara kerumunan orang-orang, ia menemukannya tengah duduk menangis di depan batu nisan baru -nisan Akutagawa, Hirotsu berada dibelakang gadis muda itu, dari jauh Dazai tahu jika Hirotsu tengah mengucapkan kata-kata penenang padanya.
"Tidak."
Dazai sudah siap untuk pergi dari area tersebut namun langkahnya terhenti saat Higuchi -gadis pirang yang tampaknya mengagumi Akutagawa tengah mengejar seorang anak kecil berambut hitam acak-acakan. Anak itu berlari sangat cepat, menjauh dari kejaran Higuchi hingga ia berhenti tepat disamping Gin.
Dazai melanjutkan langkahnya yang tertunda namun bukannya berjalan lurus menuju pintu gerbang, Dazai dengan sengaja berjalan melewati Gin. Ia penasaran karena melihat Gin dengan segera menghapus air matanya dan memeluk bocah asing itu.
"Apakah ini tempat peristirahatan terakhir Tousan?"
Dazai mendengar bocah berambut coklat itu bertanya penasaran. Ia mengernyit saat mendengar kata Tousan.
Akutagawa telah memiliki seorang putra?
"Ya. Ini adalah rumah baru Tousan, Ryusaku."
Dazai mendengar suara Gin yang senantiasa lembut kini serak. Dazai sebenarnya ingin menghampirinya dan memberikan setidaknya pelukan pada gadis muda itu, lagipula dialah yang membawa Akutagawa bersaudara ke Port Mafia, ke kehidupan mereka sekarang.
Dazai ingin mendengar lebih lanjut namun Atsushi memanggil namanya. Jadi ia menghampirinya. Dazai tidak menyadari jika Hirotsu melihatnya sekilas.
---
Beberapa hari kemudian, Gin datang ke apartemen Dazai dengan Hirotsu.
"Aku turut berduka untuk Kakakmu, Gin-chan."
Gin mengangguk. "Bahkan hingga di nafas terakhirnya, Niisan ingin membuatmu bangga dengan menyelamatkan Atsushi-kun yang mana kau pernah menyebutnya sebagai murid barumu yang lebih baik darinya."
"Tipikal Kakakmu." Dazai melirik map yang ada ditangan Gin serta raut wajah Hirotsu. "Jadi, ada keperluan apa kalian mengunjungiku? Bukannya aku tidak senang Gin-chan, aku akan selalu dengan kehadiran gadis cantik sepertimu tapi sayangnya kau tidak bisa kuajak untuk bunuh diri ganda."
Baik Hirotsu dan Gin hafal sekali akan watak Dazai.
"Aku berharap Dazai-san tidak akan melakukan percobaan bunuh diri lagi, apapun bentuknya setelah Dazai-san membuka map ini." Gin menyerahkan map yang ia pegang. Dari awal Gin melihat Dazai bahkan hingga pertemuan pertama mereka lagi setelah Dazai keluar dari Port Mafia, Gin selalu bertingkah malu-malu namun kali ini wajah cantiknya yang tidak tertutup masker tidak menampilkan ekspresi apapun selain lelah dan sedih.
Dazai tidak bertanya apa isi map tersebut, Gin bukan Chuuya yang ingin ia buat kesal, Gin bisa dibilang salah satu gadis favoritnya dan jumlah gadis favorit Dazai hanya segelintir. Mantan Eksekutif termuda di Port Mafia itu segera membukanya. Didalamnya ada beberapa berkas dan dua foto.
Dazai melihat foto pertama yang menampilkan bocah laki-laki berambut hitam dan bermata coklat cerah. Dari gaya rambutnya Dazai tahu jika bocah ini adalah bocah yang sama yang berlari kearah Gin, Dazai tidak memiliki kesempatan untuk melihat wajahnya namun kali ini ia akhirnya melihatnya dan ia tidak tahu apakah harus tertawa atau menangis. Wajah bocah ini bisa dibilang adalah salinan sempurna Dazai.
Dazai hampir melupakan wajahnya sendiri ketika dia seusia anak ini namun saat melihat wajahnya, Dazai tahu, itu adalah wajahnya ketika ia seusia anak ini. Yang membedakan adalah sejak seusia anak ini, Dazai tidak lagi tersenyum namun anak ini tersenyum lebar didepan kamera.
Dazai memandang Hirotsu dan Gin, keduanya menundukkan kepala mereka. "Ini adalah anak yang sama yang datang ke pemakaman tempo hari?"
"Hai." Kali ini Hirotsu yang menjawab.
"Tapi aku dengar anak ini memanggil Akutagawa-kun dengan panggilan Tousan."
"Dia memang putra Ryuu-nii. Buktinya ada pada foto kedua dan berkas yang ada disana."
Dazai melihat foto kedua dan tidak seperti foto pertama yang menampilkan anak ini seorang diri, di foto kedua menampilkan anak ini dan Akutagawa, tampaknya diambil di hari pertama anak ini lahir namun yang membuat Dazai menyipitkankan adalah anak ini tengah ditidurkan di dada Akutagawa yang tampaknya tidak sadarkan diri, terbukti dari beberapa selang infus yang hampir menyelimuti seluruh tubuh Akutagawa.
"Apa yang terjadi pada Akutagawa-kun hari itu?"
"Selama proses melahirkan, paru-paru Ryuu-nii memburuk, ia hampir tidak selamat hari itu seandainya Mori-san tidak mengoperasinya. Foto itu diambil beberapa jam pasca operasi Ryuu-nii."
Gin ingat sekali hari itu betapa ia berdoa kepada para Dewa di langit untuk menyelamatkan Kakaknya, ia bahkan dengan keras kepala meminta Bosnya untuk membiarkan keponakannya berfoto dengan Kakaknya, takut-takut jika hari itu adalah hari terakhir sang Keponakan merasakan tubuh Ayahnya.
"Akutagawa yang melahirkannya?" Dazai terkejut akan berita tersebut. Ia pun membuka berkas-berkas yang ada didalam map, dari surat dokter yang menyatakan kehamilan Akutagawa hingga beberapa berkas yang tampak lusuh menampilkan informasi bahwa Akutagawa pernah menjadi salah satu korban uji coba ilegal semasa kecil, sebuah uji coba yang membuat seorang lelaki dapat hamil.
"Ya."
Butuh sekitar sepuluh menit untuk Dazai membaca seluruh berkas itu, ia pun meletakan semuanya diatas meja, iris coklat gelapnya menatap tepat pada foto Akutagawa yang koma dengan bayi berambut hitam diatas dadanya.
"Mengapa kalian memberitahuku semua ini? Ingin aku menangkap pada orang-orang melakukan uji coba pada Akutagawa?"
Gin menggeleng. "Dazai-san tidak ingin tahu nama anak ini?"
"Aku memiliki tebakan."
Baik Hirotsu dan Gin tidak terkejut. Dazai tidak menjadi Eksekutif Termuda di Mafia dan sosok yang mengalahkan Fyodor tanpa kepintaran yang mengikuti langkahnya.
"Tapi ya, aku ingin tahu nama anakku sendiri."
Hening menyelimuti apartemen Dazai.
"Seperti yang diharapkan dari Pahlawan Besar Yakohama." Julukan itu diberikan pemerintah kepada Dazai tepat setelah ia menggagalkan rencana Fyodor. "Kau sudah menyadari siapa anak ini dalam hidupmu bahkan jika kau hanya melihatnya sekilas."
Gin sedikitnya menghela nafas lega, ia kira ia harus menjelaskan dari awal karena takut Dazai tidak mau mengakui keponakannya sebagai darah dagingnya sendiri. "Namanya Dazai Ryusaku. Ryu dari Ryuunosuke, Sa dari Osamu dan Ku dari nama teman baik Dazai-san, Oda Sakunosuke. Tapi Kanji Ryusaku juga memiliki arti sebagai Son of Heaven."
"Nama yang indah."
"Ryuu-nii sendiri yang menamainya."
Jemari panjang Dazai menyentuh dua foto yang ada diatas mejanya. "Jadi Akutagawa-kun hamil saat aku meninggalkan Port Mafia?"
Dazai jelas ingat percumbuan yang ia lakukan dengan Akutagawa di rumahnya dulu, tepat satu bulan ketika Akutagawa genap berusia enam belas tahun. Percumbuan malam itu menghasilkan malam-malam lain penuh akan lenguhan nikmat keduanya sampai Dazai meninggalkan Port Mafia.
"Aku pikir Mori-san pasti menyuruhnya untuk menggugurkannya."
"Ya, pada awalnya Mori-san menyuruh Ryuu-nii untuk menggugurkannya namun Ryuu-nii menolak."
"Mori-san tidak tahu jika Akutagawa hamil anakku?"
"Tidak ada yang tahu kecuali aku dan Hirotsu-san sampai Ryuu-nii melahirkan barulah orang-orang berspekulasi. Banyak dari mereka melakukan petisi untuk membunuh Ryuu-nii dan Ryusaku karena kau telah di cap sebagai pengkhianat di Port Mafia namun Aku, Hirotsu-san, Chuuya-san bahkan Kyoyou-san memohon pada Mori-san untuk tidak melakukannya."
"Chuuya dan Ane-san?"
"Hai. Berkat mereka berdua Mori-san tidak mengeluarkan Ryuu-nii dari Port Mafia namun Ryuu-nii harus menjauhkan Ryusaku dari lingkungan mafia. Hirotsu-san menawarkan untuk Ryusaku tinggal dengan keluarganya dan Ryuu-nii setuju."
"Aku ingin bertemu Ryusaku sekarang."
----
Ryusaku tengah bermain dengan Higuchi ketika pintu rumah terbuka dan menampilkan tiga sosok berbeda usia. Hirotsu, Gin dan Dazai.
"Kakek Hirotsu, Bibi Gin!"
Gin menangkap Ryusaku yang berlari kearahnya. Hirotsu menepuk belakang kepalanya dengan lembut.
Sedangkan Dazai yang akhirnya melihat lebih secara langsung wajah putranya membuatnya menyadari jika Ryusaku tidak hanya memiliki wajahnya tapi juga memiliki beberapa fitur wajah Akutagawa. Kombinasi keduanya menyatu dengan sempurna pada Ryusaku.
"Ryusaku." Gin membuka percakapan dengan keponakannya setelah Ryusaku melepaskan pelukannya. "Perkenalkan dia Dazai Osamu, dia-"
"Chichiue." Mata coklat yang hampir mirip dengan milik Dazai itu bersinar. Dia jelas tahu siapa pria didepannya. Tiada hari tanpa Ayahnya membicarakan pria ini. "Dia adalah Chichiue Ryusaku."
"Ya, Ryusaku." Dazai berjongkok hingga mensejajarkan tingginya dengan sang putra. "Aku adalah Chichiue-mu."
Ryusaku tersenyum dan Dazai seketika merasa deja vu, senyum itu mirip dengan senyum Akutagawa beberapa tahun silam. Senyum yang hanya diberikan oleh pengguna Roshumon pada adiknya dan Dazai.
"Tousan sering membicarakan tentang Chichiue. Itu adalah cerita favoritku sebelum tidur."
Dazai menarik Ryusaku dalam pelukannya. Tangannya terangkat untuk mengelus rambut hitamnya. "Kalau begitu, mulai sekarang Chichiue yang akan membacakan cerita untukmu. Sebuah cerita tentang pemuda yang membuatku jatuh hati."
----
Di malam kelima Dazai tidur disamping putranya yang tidak pernah ia ketahui hingga sekarang, Ryusaku untuk pertamakalinya menceritakan tentang mimpinya pada Dazai.
"Chichiue."
"Hm?"
"Aku bermimpi melihat Tousan."
"Benarkah?"
"Ya."
"Apa dia mengatakan sesuatu?" Tanya Dazai, ia mengatakannya dengan lirih namun ada harapan disana.
"Tousan bilang dia sangat mencintaiku dan aku tidak boleh membuat marah Chichiue, aku juga harus selalu menuruti seluruh ucapan Chichiue."
Dazai tersenyum. Tipikal Akutagawa Ryuunosuke. Bahkan hingga kematiannya ia selalu ingin membuat Dazai bangga. "Hanya itu?"
"Ada lagi. Tousan bilang jika dia juga mencintai Chichiue dan dia akan selalu memerhatikan kita dari Surga."
Dazai tersenyum kecil, ia mengacak rambut Ryusaku yang mirip dengannya. Akutagawa hanya memberinya warna rambut namun gaya rambut Ryusaku jelas didapat dari Dazai. "Saat kau bertemu Tousan lagi, bilang padanya untuk mengunjungi Chichiue juga."
"Okay."
Dazai terus memerhatikan Ryusaku hingga putranya tertidur lelap setelah dirinya membacakan cerita mengenai Akutagawa. Dazai turun dari ranjang dan keluar dengan perlahan dari kamar Ryusaku.
Dazai berjalan menyusuri lorong gelap rumah Akutagawa bersaudara.
Semuanya karena Port Mafia, ADA, Decay of Angels, Hunting Dogs. Semuanya karena cintanya pada Yakohama. Seandainya ia tidak membawa Akutagawa ke port mafia dan hanya menyembunyikannya untuk dirinya sendiri, atau seandainya Dazai tidak bergabung ke ADA dan meninggalkan Akutagawa di Port Mafia atau seandainya dia tidak meladeni Fyodor maka Decay of Angels tidak akan mengacaukan semuanya.
Dan diantara semuanya seandainya dia tidak terlalu mencintai kota ini dan menyelamatkan seluruh warganya atau seandainya dia hanya membiarkan Fyodor untuk mendapatkan Buku tanpa melawannya maka Akutagawa mungkin masih hidup.
Seandainya, seandainya semuanya hanyalah seandainya. Akutagawa tidak akan kembali hidup hanya karena seandainya.
"Gin-chan." Panggil Dazai pada adik dari pemuda yang sudah memiliki hatinya. Pemuda yang telah meninggalkannya.
"Hai, Dazai-san?"
"Tolong kemasi barang-barangmu dan barang-barang Ryusaku. Besok kita akan pindah ke London."
----
Seminggu setelah kepindahan Ayah dan Anak Dazai serta Gin. Yakohama hancur karena serangan bom misterius. Tidak ada yang tersisa dari kota sentral pelabuhan Jepang. Juga tidak ada yang tahu alasannya.
Gin menatap Dazai yang tengah memandang taman belakang kediaman baru mereka di London. Gin dapat melihat kekejaman dari mata coklat kemerahan itu. Itu adalah senyum yang sama yang Gin lihat ketika Dazai menjadi Eksekutif di Port Mafia.
Gin tidak mengatakan apapun namun dalam hati ia bertanya-tanya, bagaimana bisa seseorang yang baru sebulan yang lalu menyelamatkan Yakohama juga menjadi alasan kehancuran total kota tersebut?
----
Epilogue 1.0
----
Sehari setelah hari kelulusan SMA Ryusaku dan tepat di hari ulang tahunnya yang ke enam belas tahun, sang Ayah -Dazai Osamu berhasil melakukan bunuh diri ganda dengan seorang wanita cantik bernama Agatha Christie di Sungai Themes.
Sekarang ini Ryusaku tengah berada di ruang autopsi yang memperlihatkan jasad Ayahnya dan Agatha. Keduanya ditemukan beberapa jam yang lalu.
"Hadiah ulang tahun yang sangat sempurna, Chichiue." Ujar Ryusaku pada jasad pucat Ayahnya. Belum dua puluh empat jam yang lalu Ayahnya menyuruhnya untuk mengambil beasiswa ke Oxford dan sekarang sang Ayah meninggalkannya untuk selamanya.
Tidak ada amarah dalam diri Ryusaku karena ia tahu dari Hirotsu dan Gin jika Ayahnya maniak bunuh diri namun berkat kehadiran Ryusaku, Dazai menahan keinginan tersebut selama satu dekade lebih.
Ryusaku membalikkan tubuhnya namun iris coklat terangnya memandang tubuh Agatha. Ryusaku tidak bisa menahan diri untuk mendekat ketika ia melihat kejanggalan pada tubuh wanita berambut pirang itu.
Ryusaku tahu jika Ayahnya tidak memiliki hubungan lebih dengan Agatha, keduanya malah terkesan bermusuhan karena entah kenapa Ayahnya selalu membenci Dewan Pemerintah di Negara manapun dia berada.
Ryusaku menatap wajah Agatha, tubuh wanita ini lebih pucat ketimbang Ayahnya yang berarti dia lebih lama berada di sungai sebelum Ayahnya, lipstik merah yang ia kenakan entah kenapa terlihat berantakan -bibirnya tidak bengkak yang berarti Ayahnya tidak mencium Agatha, leher jenjangnya juga terlihat sedikit memar -walaupun terkesan tidak terlihat bagi orang yang tidak jeli.
Mata Ryusaku memandang wajah Agatha, ada memar besar di keningnya. Polisi mengatakan memar tersebut kemungkinan didapat Agatha ketika ia jatuh ke sungai dan tanpa sengaja membentur bebatuan disana. Ryusaku tidak percaya.
Tangan pemuda itu terulur, ada satu hal yang perlu ia periksa dan jika hal tersebut ada pada tubuh Agatha, maka tebakannya benar.
Ryusaku mengambil tangan kurus Agatha dan memeriksa jari-jari kukunya.
Patah.
Beberapa ujung kuku Agatha patah bahkan ada satu yang rusak. Seolah wanita itu menghalau seseorang yang mencoba menyerangnya.
Ryusaku kembali mendekati tubuh Ayahnya. Tidak ada keanehan sedikitpun pada kecuali perban yang ada di lengannya terkelupas serta ada luka cakaran yang begitu kecil di punggung tangannya.
Dazai Osamu tidak melakukan bunuh diri ganda dengan Agatha Christie melainkan membunuh wanita itu dan setelah itu melakukan bunuh diri sendiri -tentunya setelah membuang tubuh tak bernyawa Agatha dan membuatnya seolah-olah bunuh diri ganda.
Ryusaku dengan mudah membayangkan skenario seperti apa kejadian yang sebenarnya.
Dazai Osamu membekap mulut Agatha Christie dari belakang lalu membenturkan kepala wanita itu dengan benda tajam. Agatha sudah tak sadarkan diri namun masih hidup, maka dari itu Ayahnya menggunakan perban yang sering ia kenakan untuk melilit leher Agatha dan Agatha tipikal wanita anggota pemerintah pasti diajarkan cara untuk membela diri. Dia jelas membela diri dengan mencoba melawan Ayahnya dengan mencakar dan memukul tangan Dazai namun percobaannya gagal total dan ia pun merenggangkan nyawa.
Apa alasan Dazai membunuhnya?
Mudah.
Agatha Christie bukanlah sembarang wanita adalah wanita yang memiliki kursi di pemerintah Inggris. Wanita itu pasti telah menemukan bukti bahwa Ayahnya lah yang membom Yakohama dan Ayahnya jelas harus membunuhnya. Seperti yang ia lakukan pada orang lain.
"Chichiue, semoga kau bertemu Tousan disana. Aku akan menyusul dalam waktu dekat setelah mengakhiri semuanya."
----
Epilogue 2.0
----
Seorang pemuda yang baru genap berusia 17 tahun tengah mengunjungi penjara paling ketat di dunia. Sebuah penjara yang hanya memiliki satu tahanan namun seribu penjaga.
Pemuda tersebut sangat tinggi, ia memiliki gaya rambut hitam acak-acakan bermata coklat terang berjalan dengan penuh percaya diri melalui lorong-lorong gelap yang dingin. Ia mengenakan hoodie coklat dan wajahnya tertutup masker.
Langkah kaki pemuda itu terhenti di depan pintu, tempat tujuannya. Pintu tersebut terbuat dari baja dan tidak ada lubang kunci melainkan tombol angka. Sang pemuda dengan mudah menekan kata sandi yang seharusnya hanya diketahui oleh segelintir orang di dunia.
Bunyi bip lembut terdengar ketika kata sandi yang ia masukan benar. Ia pun mendorong pintu tersebut dan masuklah ia kesebuah ruangan besar. Ruangan itu awalnya gelap gulita namun sensor lampu seketika menyala dan membuat terang ruangan.
Lima meter dari pemuda tersebut, terdapat sebuah ruangan terbuat dari kaca tebal anti peluru yang dapat memperlihatkan isi ruangan tersebut yang memiliki satu kasur dan sebuah kamar mandi yang juga dapat dilihat dengan jelas oleh pemuda berambut hitam itu.
Seorang pria berdiri di tengah ruangan. Ia menatap tepat pada pendatang baru. Seolah ia telah menunggunya.
"Fyodor Dostoevsky." Sapa pemuda itu.
Pria itu tak lain dan tak bukan adalah Fyodor Dostoevsky. Musuh dunia dua belas tahun yang lalu sebelum dikalahkan oleh seseorang yang mereka sebut sebagai Pahlawan Besar.
"Sudah sangat lama sejak aku mendengar namaku sendiri." Fyodor menatap tepat pada mata coklat terang itu. Mata itu membuatnya bernostalgia akan musuh besarnya. Hanya saja mata pemuda ini lebih cerah ketimbang mata musuhnya yang tampak gelap dan kelam. "Dan aku pikir, aku dilarang memiliki pengunjung hingga hari kematianku."
"Aku sudah membunuh seluruh penjaga dan seluruh kamera penjara ini telah mati."
"Sesuai dugaanku kalau begitu. Jadi, katakan padaku. Apa yang membuatmu datang kemari?"
"Aku kemari untuk membunuhmu."
Sudut bibir Fyodor terangkat. Pemuda didepannya begitu menarik perhatiannya. "Siapa namamu?"
Pemuda itu melepaskan masker hitam yang ia kenakan hingga wajah rupawannya terlihat jelas oleh Fyodor. "Dazai Ryusaku."
Fyodor tidak tahu apakah harus berteriak, tertawa atau menangis saat pemuda itu menyebutkan namanya. Masa lalu memang akan selalu datang menghampiri. "Dazai, huh? Jadi kau anak dari Dazai Osamu?"
"Ya." Entah sejak kapan Ryusaku telah menodongkan pistolnya pada Fyodor. Bukan sembarang pistol melainkan pistol yang memiliki kemampuan untuk membunuh pengguna kekuatan. "Kuharap kau membusuk di Neraka."
Dorr!!
"Semuanya telah berakhir, Chichiue, Tousan. Kalian telah mengawali kisah ini dan tugasku adalah menutupnya."
---
THE END
---
