Actions

Work Header

bahagia (dan nyanyian kesengsaraan)

Summary:

Bahagianya Jungkook sederhana, hanya Kim Taehyung; oasis di tengah keniscayaan sengsaranya.

Work Text:

i.

 

Bahagia tak ubahnya bagian paling tak menyenangkan dalam hidup, sebab suatu hari kamu harus rela kakimu dibawa runtuh oleh bangunan yang tak lagi kokoh di pusat kota, bahagia mudah runtuh dan reruntuhannya merupakan bahagia. Semuanya bagai labirin yang hanya akan bawa kamu kembali ke tempat asal kamu mulai semua.

 

Kim Taehyung berada di ambang batas kesabaran ketika menyaksikan dunia memporak-porandakan Jeon Jungkook dan kehidupannya, hanya demi melihat apakah seorang teruna yang ada dalam rengkuh ini mampu menopang bahagia, serta tanggung jawabanya.

 

Atau ketika suatu hari ia tandang dan saksikan pilu dari mata keemasannya kini juga terasa terlampau kelam, Kim Taehyung akan mampir mengulurkan tangan dan menarik Jeon Jungkook untuk keluar dari kubangan kesengsaraan, dan tatapan itu akan mampir padanya sambil berderai air mata.

 

Ada selaksa pilu tiap mata itu basah. Kim Taehyung benci tangisan, terlebih tangisan yang mampir menjalar ke sulur-sulur sungai di pipi yang lebih muda. Terlebih jika tangisan itu tandang sebab ada bagian retak di bagian sisi kaki, atau hatinya, atau ketika ia kehilangan kekuatan di pemakaman Ibu lima tahun lalu, atau ketika adiknya tak lagi bernyawa di tangan—bahagia tak ubahnya janji semu yang diberikan semesta.

 

Kim Taehyung yakin, jika kelak ia datang kembali dengan kekuatan yang lebih magis, maka ia akan hapus semua rekam jejak kematian yang menghantui sepatu Jeon Jungkook di rak sepatu ujung ruangan, menggantinya dengan segelas cokelat panas yang asapnya masih menguap hebat.

 

Malam itu, Taehyung memeluk Jungkook setelah gagal menghentikan sudut matanya membaca kata ‘gagal’ di dalam surat yang tersemat di atas meja. Ada kop dengan logo yang dicetak jelas; kampus impian Jungkook sejak masih sekolah dasar.

 

ii.

 

Jeon Jungkook adalah sebuah permata yang hadir di tengah-tengah kolam lumpur, kotor oleh lumpur, namun sinarnya tetap hadir diterpa rembulan. Ia juga biaskan pelangi tiap kali matahari datang untuk menyapa pagi. Sedang Kim Taehyung akan ada di sana untuk membuka peluk, berikan kecup, dan biarkan yang lebih muda menangis tanpa arah.

 

Sebab, apapun yang terjadi, Kim Taehyung akan berada di sisi Jeon Jungkook selamanya.

 

(Tapi, apakah arti selamanya tanpa kehendak semesta?)

 

iii.

 

“Kak.”

 

Kim Taehyung dilapisi kemeja putih berpotongan semiformal, dengan celana panjang hitam dan pantofel, ketika apron yang dipakainya diikat oleh Jungkook dari belakang. Ada sulur buah ceri yang menelisik masuk kala deru napas Jungkook bertemu dengan kulitnya, namun, pria itu tidak terlalu banyak mengutarakan isi hati. Ini bukanlah hal yang tidak menyenangkan, sebab ia menyukainya—hangat.

 

Setelah bermenit-menit berlalu, maka, Kim Taehyung datang dengan suara yang dibuat sehalus dan selembut mungkin. Imbuhnya saat membalikkan panekuk di atas wajan, “Ada apa, Jeon?”

 

Taehyung mungkin tak menyadari, tapi ada cerkas kelabu yang mampir di mata saat memberikan balasan lain. “Aku sudah pantas bahagia?”

 

“Ya?” Matanya yang cantik dibuat mengerjap. “Apa aku tidak salah dengar?”

 

“Kamu punya telinga yang baik, Kak.” Jungkook menyergah. Taehyung bisa rasakan bola mata yang dirotas malas ketika mendengar Jungkook kembali berkata, “Aku malas mengulanginya, tahu?”

 

“Loh, aku tidak menyuruhmu melakukannya,” kilah yang lebih tua sambil tersenyum lebar. “Kamu ini agak aneh, tapi menawan. Jadi aku tidak akan banyak memprotes.” Walau si lelaki tetap mengecup sisi kepala Jungkook dengan spatula yang masih hangat oleh mentega dan panekuk panas. “Jadi, aku harus menjawabnya?”

 

“Kak.” Ada peringatan di sana. Deritnya terdengar jelas. Tapi Taehyung tahu itu hanya main-main. “Aku tidak akan mengulanginya lagi. Kamu tahu itu, bukan?”

 

Tergelak. Taehyung lempar tawanya begitu saja, nyaris lupa pada panekuk yang nyaris menggelap, jika saja Jungkook tak buru-buru mematikan kompor. “Astaga, oke, oke.” Ia mendorong tubuh yang lebih muda untuk menjauh, pelan, tapi pasti, dan terlampau lembut. “Aku tidak bisa menilai, atau menghakimi caramu mengejar bahagia. Tapi, untukku pribadi, setelah tubuh berotot ini tumbuh lebih dari yang aku perkirakan, kurasa kamu memang pantas mendapatkannya.”

 

“Begitu, kah?”

 

“Ya.” Taehyung biaskan cahaya semangat untuk kelabu yang nyaris datang menghantuinya kelak jika ia betul bertahan di cerkas mata rusa Jungkook. “Kamu percaya padaku, bukan?”

 

Taehyung tahu Jungkook hendak katakan ya, tapi ia juga tahu kata ya itu tak akan pernah keluar. Sebab percaya adalah satu kata sakral, dan Taehyung tak akan menerima omongan kosong. Ia percaya pada Jungkook.

 

iv.

 

Malam itu, Jeon Jungkook datang sendirian di antara sekat-sekat tipis dari lautan manusia yang hiasi jalanan gangnam setiap hari raya, dan Kim Taehyung akan selalu berada di sudut ruangan dengan sundutan rokok di tangan dan asap yang menggenang di sekeliling bibir, tak lupa kacamata dan gayanya yang terlalu stoik untuk sadar jika yang lebih muda sudah siap dengan botolan wine yang dibawa selepas bekerja.

 

“Ini bukan natal.” Taehyung membawa diri mendekat, duduk dan merapat pada kehangatan yang diberikan Jungkook dan tubuhnya yang kekar. “Untuk apa membawa wine?”

 

Taehyung mampu melihat kilat malu dalam sepasang langit yang cerkasnya dihias sulur-sulur gemerlap bintang di bola mata yang lebih muda. Ada rasa geli juga saat yang lebih muda membawa wine itu ke atas meja dengan pandangan yang sengaja dibuang ke mana saja, asal tidak bersirobok dengan miliknya. Ini lucu, sebab sisi malu-malu Jungkook adalah satu dari sekian hal yang hanya bisa ia dapati.

 

Lelaki ini tumbuh terlalu cepat, dengan badan besar penuh otot, wajah tegas, dan potongan rambut paling brengsek yang pernah dilihatnya. Siapa yang akan menyangka dengan perawakan demikian, ada gurat kemerahan dan gestur malu-malu yang menyelip di sela-sela ketampanannya ini, eh?

 

“Aku...” Jungkook menggigit bibir bawah. “Aku hanya ingin merayakan sesuatu saja, dan kebetulan bosku orang baik.”

 

Oh, Kim Taehyung mengangguk-angguk, mengingat kembali Kim Namjoon yang menaungi bar tempat Jungkook bekerja, yang sempat ia temui dua tahun lalu saat Jungkook di rumah sakit akibat terlalu banyak bekerja.  Si lelaki teler karena lupa tidur selama nyaris seminggu, dan terpaksa dilarikan ke rumah sakit, untungnya, Kim Namjoon yang dia tahu memang sebaik yang dikatakan. Pria itu juga manis dan berlesung pipi, tipenya sekali.

 

Tapi, jika kita kembali pada Jungkook, maka Taehyung akan membuatnya jadi si nomor satu di jajaran pria tipe idaman Kim Taehyung. Lihatlah wajahnya yang tampan tapi jadi lebih manis saat mau-malu, siapa yang mampu melupakan sulur-sulur kemerahan di sana, eh?

 

Hanya... merayakan sesuatu? “Apa itu?”

 

Ia mampu merekam baik-baik bagaimana jakun itu naik turun, dengan mata yang dibuat melirik ke segala arah daripada harus terpaku pada cerkas inkuisitif milik yang lebih tua, dan mengingat baik-baik suara madu yang keluar. Katanya, “Aku.”

 

“Kamu...”

 

“Kak, aku. Lima tahun yang lalu.” Jungkook menelan ludahnya sendiri. “Aku lima tahun yang lalu nyaris mati di pelukanmu, aku selamat, dan ini adalah tanggalnya. Kakak lupa?”

 

Taehyung mengesah. “Astaga...”

 

Ada gurat kecewa di sana.

 

“Kakak lupa.”

 

“Aku bahkan tidak ingat ini tanggal berapa.” Ia bergumam tak pasti. “Tapi aku ingat apa yang terjadi lima tahun yang lalu. Jadi, selamat?”

 

Jungkook tersenyum. “Ya, selamat.”

 

v.

 

Sedang, untuk Jeon Jungkook, Taehyung adalah cerkas bintang dan fatamorgana yang jadi satu di antara lelapan debu di angkasa. Ia datang saat dunianya runtuh, saat gelas yang dipegangnya pecah, dan kamu akan temukan sisa-sisa kewarasan Jungkook yang secara mengejutkan berhasil dibawa utuh oleh presensi Kim Taehyung seorang.

 

Kim Taehyung terlalu baik untuknya, jika kamu bisa menilai dari sudut pandang orang terluar di antara keduanya, sebab tangannya yang kurus dan kering kerontang itu mampu membopong Jeon Jungkook dari stadium ruang olahraga menuju unit kesehatan di lantai dua tanpa mengeluh.

 

Kim Taehyung juga mampu membawakan mangga muda, saat Jungkook tak mampu mencecap kembali rasa manis, atau mampu menggambar Ironman (yang bentuknya lebih mirip buah pepaya) di atas perban tempat tangan Jungkook dibebat—akibat terlalu bersemangat menari untuk audisi mingguan. Kim Taehyung juga miliki bahu yang terlalu lebar dengan bentuk kecil dan sempit begitu untuk bendung seluruh tangis yang Jungkook punya.

 

Taehyung bukan lagi fatamorgana.

 

Ia adalah oasis di tengah padang pasir kesengsaraannya yang niscaya.

 

Dia adalah Kim Taehyung.

 

vii.

 

Kim Taehyung juga temukan danau tenang tiap ia tutup mata dan percayakan tubuhnya mungil dalam pelukan hangat Jungkook kala malam datang.

 

viii.

 

Ah, tidak. Jungkook tidak mau menderita lebih lama, maka dari itu, Jungkook akan berjalan lebih kuat demi jemput bahagianya, dan bawa Taehyung ke tempat yang sama.

 

Taehyung, adalah mantera. Taehyung.

 

(Jungkook temukan tubuh mungil Taehyung meringkuk di bawah meja setelah usai bermain dengan anjing yang baru saja Jungkook adopsi, rambutnya jingkrak dengan warna cokelat, ikut tidur di dalam pelukan yang lebih tua. Mereka tampak kembar, dan cantik, dan cantik.

 

Taehyung dan cantik adalah dua kata yang seimbang.)

 

ix.

 

Pagi itu, Jungkook temukan berkas dari rumah sakit yang ia tahu berada di sekitar kantor tempat Taehyung bekerja, lalu ia temukan nama Taehyung yang dicetak besar-besar, dan Jungkook mencelos.

 

(Kim Taehyung – tumor otak, stadium akhir, tidak ada harapan.)

 

x.

 

Kim Taehyung tinggal menghitung hari dan menghitung jam, hidup tak ubahnya detik dalam jarum jam yang bisa kapan saja berhenti, dan ia sudah menyiapkan semuanya. Ia juga siapkan Jungkook untuk hari esok yang menanti, hari esok tanpanya di dalam hati.

 

xi.

 

Dia temukan bercak darah di selembaran tisu, dan tidak berubah, ia temukan lagi cerkas di mata yang mengabu ketika sang empu menutup mata. Ia tahu tidak harapan, tapi ia selalu ingin bahagia itu datang, dalam bentuk Kim Taehyung, walau hanya untuk dua puluh lima tahun hidupnya.

 

xii.

 

Ah, Jungkook tidak sanggup jemput bahagia jika Taehyung tidak ada di dalamnya.

 

xiii.

 

Kim Taehyung bisa lihat Jungkook bahagia di atas podium, bernyanyi untuk seluruh stadium, dengan suara menggema dan wajah yang ceria. Tapi Taehyung sadar, mata itu tak lagi bersinar seperti hari-hari setelah malam itu datang, kini, hanya ada getir, dan Taehyung tak sampai hati untuk memikirkannya.

 

xiv.

 

Jungkook menyerah, Taehyung juga pasrah.

 

xv.

 

“Kak, jika kita terlahir kembali, apa yang akan Kakak lakukan untuk pertama kali?”

 

Taehyung melirik Jungkook dengan geli. “Kamu ini... sangat lucu.” Ia menatap taburan bintang di sepanjang langit. “Aku akan bahagia, sambil jemput kamu, tentu saja. Tidak usah ditanya.”

 

Jungkook memutuskan untuk percaya. Ia percaya. Ia selalu percaya pada Taehyung.

 

xvi.

 

Bahagia itu tetap lekat di hati Jungkook, senyum Taehyung juga abadi di sana. Gurat melodi, cecap manis di tiap minuman beralkohol yang dibuatnya, dan gurat-gurat penuh warna yang ia tumpahkan dalam sebuah kanvas yang tidak diganti selama nyaris belasan tahun.

 

Ini sudah dua puluh tahun, dan Jungkook menunggu semesta menjemputnya untuk mampir ke semesta yang lain.

 

“Kim Taehyung, kamulah bahagiaku.”


Fin.