Chapter Text
Hari sabtu ini adalah hari yang menenangkan sekaligus menyenangkan bagi wanita cantik bernama Charissa Wonwoo Aqilla dan sang kakak sepupu yang tidak kalah cantiknya, Jeaonnie. Keduanya sedari pagi menghabiskan waktu mereka untuk berjalan-jalan mengitari pusat perbelanjaan di bilangan Jakarta Selatan sembari window shopping. Setelah mereka merasa kelelahan, kedua wanita cantik itu memilih mampir ke cafe dengan dekorasi aesthetic dan ruangan ber ac sebagai tempat santai serta duduk-duduk manis. Rasanya benar-benar menyenangkan, sebab sudah terhitung seminggu yang lalu mereka merencanakan agenda hangout bersama ini.
"Yah, hujan lagi, Cha.” kata seorang wanita dengan rambut sebahu berwarna hitam legam, sedangkan wanita yang dipanggil 'Cha' itu segera berpaling ke arah luar cafe dari jendela di sebelah tempat duduknya.
"Wah iya lagi, kak." jawab wanita berkacamata bundar dengan frame tipis itu kepada Jeoannie yang sedari tadi berada di hadapannya, masih menatap hujan yang turun di luar sana.
"Udah pertengahan April juga sih, kak, rainy season is coming.” lanjut wanita berkacamata itu.
Wanita berumur 25 tahun yang memiliki paras ayu, keturunan Solo dan Surabaya. Ia memiliki tubuh tinggi semampai bak model di majalah-majalah, kulitnya yang seputih susu, lengkap dengan rambut hitam sedikit bergelombang yang menjadi mahkota cantiknya. Tak luput juga, maniknya yang tegas itu bak rubah yang cantik, dan hidungnya yang berkerut lucu ketika tertawa membuat siapapun akan tersihir dengan pesona Charissa Wonwoo Aqilla.
“Jadi, gimana menurut lo tentang tawaran gue yang tadi?" tanya wanita yang selalu Charissa panggil dengan imbuhan 'kakak' itu.
Wanita cantik yang hari ini memutuskan untuk menguncir rambutnya menggunakan jeday bergaya half ponytail asal yang memutuskan untuk tidak memoles wajahnya dengan make up, selain merapihkan alis tipis dengan eyebrow pencil yang senada dengan warna rambut, serta bibir yang dilapisi dengan liptint berwarna mauve kesayangannya menoleh ke arah Jeoannie.
"Hmm?" jawabnya sembari memanyunkan bibirnya, tanda bahwa wanita itu sedang berpikir.
"Kak, kalau nawarin tuh bisa agak yang make sense ngga?” tanya wanita cantik itu dengan tatapan yang masih bingung, kenapa bisa-bisanya sang kakak menawarkannya menjadi model pengganti untuk photoshoot edisi majalah mode ternama tempatnya bekerja kepada orang amatiran seperti dirinya.
”Gue tuh ngga punya basic model, badan gue juga standar banget." Tolak Charissa kepada saudara sepupunya yang memang sudah bekerja lama di salah satu majalah mode terbesar di Ibukota.
"My gosh, the basic model isn't necessary, lo cuma diem terus cekrak cekrek denger arahan fotografer, terus udah deh selesai,” kata Jeonnie memberi gambaran termudah untuk sang adik sembari masih berusaha untuk mempersuasi adik sepupunya.
“Lagian it's only temporary, Cha." kata Hannie, merayu adik sepupunya yang masih kekeuh menolak permintaannya itu.
"Serius deh, ini cuma once in a whie aja, gue ga akan ganggu lagi." lanjutnya. Charissa paham betul apabila ia mengiyakan permintaan Jeoannie, tidak ada kalimta 'once in a while' karena bila kakak sepupunya itu menyukai hasilnya, ia akan meminta tolong lagi hal yang serupa.
"For your information, untuk photoshoot kali ini lo pake kebayanya Anne Avantie waktu Paris Fashion Week kemarin." kata Hannie melemparkan senjata pamungkasnya dengan menyebutkan salah satu penjahit favorit Charissa seraya menyeruput kopi hangatnya. Mata Charissa membelalak mendengarnya, ia terkejut karena Jeoannie tidak memberitahukan informasi yang paling penting ini kepada dirinya. Mana mungkin ia menolak menggunakan kebaya perancang kesukaannya?
"Kapan lagi coba lo punya kesempatan pake kebayanya for free?" tanya Jeoannie yang masih merayu wanita yang lebih muda 4 tahun di hadapannya itu mengiyakan tawarannya.
Pokoknya, apa yang Jeoannie inginkan, harus ia dapatkan, karena itu prinsip wanita cantik yang masih berusaha menggoyahkan keyakinan Charissa.
Charissa masih terdiam, memanyunkan bibirnya yang indah, dan dia menyilangkan kaki kanan untuk menumpu kaki kirinya dengan anggun, lalu membuka kacamatanya, dan menopang dagunya dengan tangan kanan, masih memandangi hujan deras di luar cafe, terlihat pula langit sudah mulai perlahan menggelap sembari memikirkan tawaran yang terdengar menjadi sangat menarik dari sang kakak sepupu.
"You don't have to worry that much, photographer-nya juga profesional kok, Cha, dia baru pulang dari US buat pemotretan majalah Esquire. Kerenkan?" lanjut Hannie, kali ini ia sedang memuji sang fotografer untuk membuat Charissa yakin untuk mengiyakan ajakannya.
Charissa merupakan cewek cancer yang paling sulit diyakinkan menurut kamus Jeoannie, kecuali kalau diajak untuk hal-hal yang sesuai dengan passion-nya, contoh, menjadi salah satu volenteer di yayasan panti untuk mengajari anak-anak di sana membaca, menulis dan kegiatan lainnya yang sudah ia lakukan dua tahun belakangan ini, rebahan sembari mengurus kucing kesayangannya, atau ke mall untuk sekedar window shopping seperti yang mereka lakukan hari ini.
"Hmm, lo tadi bilang photoshoot-nya kemungkinan di weekdays kan, kak?" tanya Charissa, Jeoannie mengangguk.
"Gue pasti ngga bisa, kak, kan gue masih kerja." Charissa masih mencoba untuk menolak tawaran sang kakak sepupu dengan seribu macam alasan, karena pada dasarnya satu alasannya menolak tawaran sang kakak karena ia kurang percaya diri akan kemampuannya menjadi model, ditambah lagi seseorang yang tidak ia kenal akan mengambil gambar dirinya.
"Iya, tapi kan maksud gue lo bisa ambil cuti, Cha."
"Lagian bukannya lo bilang kalau cuti lo masih penuh?" tanya Hannie masih berusaha merayu wanita 25 tahun di hadapannya yang hari ini menggunakan long-sleeved berwarna putih dengan lengan kemeja yang sudah dilipat hingga siku yang dipadukan dengan mini flare skirt berwarna khaki.
"Bisa sih," kalimat Charissa terpotong sehingga Jeoannie menaikkan satu alisnya, menandakan bahwa adiknya tersebut bisa melanjutkan kalimatnya.
"Kalau pas foto gue diusir dari set gimana, kak?" tanya Charissa khawatir.
"Ya ampun, Cha, hahaha--" Hannie tertawa mendengar pertanyaan adik sepupunya.
"Photographer-nya super baik, super professional, dia ngga akan tega ngusir lo, kalau Migu ngusir lo, gue yang ngusir dia dari studionya sendiri!" jawab Hannie yakin.
"Serius?" tanya Charissa yang dibalas anggukan pasti oleh Hannie.
"Pokoknya, kak, kalau gue diusir dari set, ini terakhir kalinya lo ngerayu gue jadi model ya?" kata Charissa memperingatkan kakaknya itu.
"Iya, ngga akan, gue jamin, Saskara juga kenal orangnya kok, nanti gue suruh Saskara omelin kalau dia jahat sama lo!" Hannie meyakinkan Charissa dengan membawa Saskara -- kekasih Jeoannie.
“Great! Abis ini gue akan prepare contract and send it to you by e-mail. Ey es ey pi!” suara Hannie mantap walaupun Charissa belum menjawab apapun terntang persetujuan mereka, karena wanita manis itu tahu adik sepupunya tidak akan menolak permintaannya, bertele-tele seperti yang Charissa hanya buying time agar si kakak menyerah, tapi Jeoannie tidak pernah mengenal kata menyerah untuk sang adik, ia punya keyakinan tersendiri bahwa adik sepupunya itu pasti akan sangat cocok untuk pekerjaan ini.
"Pokoknya kebutuhan lo kaya schedule photoshoot, kontrak dan segalanya akan gue urus," Kata Hannie, masih semangat.
"And, Cha, this will be a good opportunity for you tau ngga sih?" lanjut Hannie.
Dari dulu Hannie sebenarnya sudah membaca potensi Charissa untuk menjadi model, entah itu model majalah, model catwalk, atau sekedar model katalog online shopping, pokoknya apapun yang penting model, karena tubuh adik sepupunya itu kelewat bagus kalau hanya untuk menjadi Design Graphic seperti profesinya saat ini, namun, permasalahannya, wanita berambut gelap yang saat ini berada di hadapannya ini selalu menolak setiap tawaran yang ada terkait dengan permodelan, alasannya cuma satu karena ia tidak percaya diri. Padahal, apa sih yang ngga bisa Charissa kerjakan apabila ia mau?
"Do whatever you want deh, toh gue ngga bisa nolak juga." jawab Charissa.
"Dari tadi kek, kan enak kalau kita udah deal.” jawab Hannie seraya tertawa renyah, menjahili Charissa, tentu saja.
Setelah perbincangan perihal photoshoot itu rampung dan sudah sampai pada kesepakatannya, kedua wanita itu kemudian membicarakan hal lainnya, seperti gossip-gossip yang saat ini sedang viral, atau bercerita tentang kegiatan mereka masing-masing, hingga ponsel Jeoannie bergetar tak ada hentinya pertanda ada pesan singkat yang masuk ke dalam inbox-nya.
"Hadeuh, nyokap lo nih liat udah bawel banget minta dianterin ke salon!" kata Hannie setelah mengecek ponsel-nya, lalu menunjukannya kepada Charissa isi chat dari 'nyokap' yang dimaksud. Wanita separuh baya itu adalah kakak dari ayahnya Charissa, kalau di Jawa beliau akan dipanggil bukde, tapi sang ibunda dari Hannie itu tidak mau dipanggil bukde, beliau senangnya bila Charissa memanggilnya juga. Wanita yang lebih muda itu kembali menggunakan kacamatanya dan tertawa kecil melihat perbincangan anak-ibu di room chat yang ditunjukkan Jeoannie.
"Lo beneran ngga mau ikut gue nyalon sama mama?" tanya Hannie.
"Ngga deh, kak, gue masih mau di sini aja." adik sepupu Hannie itu tersenyum, seraya berdiri dan memeluk kakak sepupunya itu.
"Gue balik dulu ya kalau gitu? Nanti nyokap lo ngoceeeeehhhhhh lagi, yang ada gue disuruh geret lo buat ikut nyalon." kata Hannie membalas pelukan sang adik
"Iya, kak, duluan aja kasian mama nungguin lo, gue balik kalau ujan udah redaan, santai." kata Charissa.
"Serius ngga mau ikut gue aja?" tanya Hannie lagi yang dijawab oleh anggukan yakin dari Charissa.
"Ya udah, gue duluan ya, kabarin gue kalau udah di rumah pokoknya!" Hannie mencium pipi kanan dan pipi kiri Charissa, lalu beranjak pergi setelah memastikan tak ada yang tertinggal selain barang milik sepupu cantiknya.
"See you, adik manis." kata Hannie sebelum meninggalkan Charissa sambil melambaikan tangan, wanita berkulit putih yang ditinggal hanya memberikan senyumnya.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam, Charissa yang sedari tadi tenggelam dengan novelnya kini sudah mulai merapihkan barang bawaannya ke dalam tas sedang yang hanya cukup untuk satu buku, tempat kacamata, dompet, ponsel dan liptint favorite- nya.
"Eh, eh, yaaaahh kok mati?" Monolog wanita cantik itu ketika melihat layar telepon genggam pintarnya tiba-tiba gelap -- tak bernyawa. Wanita cantik itu celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri untuk mencari seseorang yang bisa ia pinjami charger handphone, karena saat ini wanita cantik itu tidak bisa sama sekali memesan kendaraan online untuknya pulang.
"Cha?" wanita cantik itu. Charissa sedikit terkejut dan menatap pria tinggi yang sudah berada di hadapannya.
"Mas Kara?" tanya wanita yang segera berdiri dari tempat duduknya karena merasa bersyukur, at least dia bertemu dangan seseorang yang ia kenal. Pria itu adalah Kara, kekasih Jeoannie.
"Kok lo di sini, Mas? Tadi gue sama Kak Hannie." kata wanita Charissa dengan suaranya yang lembut.
"Iya, gue sama temen-temen gue lagi bahas projekan. Lo sendirian? Ga pergi ke salon sama mama?" tanya pria itu yang sekilas menunjuk ke arah bangku teman-temannya sekilas.
"Ngga, mas," jawab Charissa sembari tersenyum
"Terus ini lo mau balik? Masih ujan lho di luar, Cha." kata Saskara.
"Mau pesen car online, tapi handphone aku mati, Mas bawa charger-an ngga?" tanya Charissa yang pasrah, menaruh sedikit harapan untuk Saskara membawa benda yang ia butuhkan.
"Gue sih ngga, tapi gue coba tanya anak-anak dulu, lo tunggu di sini jangan kemana-mana." kata Saskara yang izin pergi meninggalkan wanita cantik itu untuk kembali ke teman-temannya. Charissa mengikuti arah gerak kekasih kakak sepupunya itu, saat sedang memperhatikan sekitarnya, ia melihat ada seorang pria yang memangku semacam album foto sedang berbicara dengan Saskara, mata mereka bertabrakan hingga Charissa harus memalingkan pandangannya. Tak lama pria yang menggunakan t-shirt putih itu kembali ke mejanya.
"Ngga ada yang bawa, Cha, Migu juga ngga bawa tuh." kata Saskara ketika sudah berada di hadapan Charissa.
Nama Migu kembali pop up membuat Charissa bertanya di dalam hatinya, siapa sih yang namanya Migu itu? Kenapa Jeaonnie beberapa kali menyebutkan namanya, dan kali ini Mas Kara.
"Yaudah, mas, ngga apa-apa, aku balik naik MRT aja." jawab Charissa tenang.
Sedangkan dari meja Saskara, ada sepasang mata pria berkulit sawo matang dengan paras wajah yang tampan sedang memperhatikan gerak-gerik wanita cantik yang sedang bersama teman dekatnya itu, mata mereka sempat bertemu tadi, namun, wanita cantik itu mengalihkan pandangannya, sayang sekali, padahal ia masih ingin menatap manik rubah di balik frame yang wanita itu gunakan. Tak lama kemudian tatapannya teralihkan ketika temannya yang lain datang sembari membawa dua cangkir kopi.
"Ih, takut banget tatapannya kaya mau nerkam orang, gila lo?" tanya seorang pria dengan dengan surai mullet blonde dan berkacamata, meletakkan cangkir kopi yang ia bawa, lalu mengambul posisi duduk.
"Dih, siapa?" tanya pria yang memiliki kedua taring dijajaran gigi atasnya itu menjawab pertanyaan temannya sambil sewot.
"Elo lah, liatin apa sih?" tanya pria itu penasaran, sampai ia melihat Saskara yang sedang berbicara dengan seorang wanita cantik.
“Hasil foto Paula minggu lalu lah, apa lagi?” kata pria yang ditanya, pria tampan itu langsung mengalihkan pandangannya dari wanita yang sedari tadi ia perhatikan dan kembali menatap album yang berada di tangannya.
"Hmmm, cantik kok, Gu, eh eh orangnya ke sini sama Kara." kata pria blonde berkacamata itu, pura-pura mengambil salah satu foto yang tergelatak di meja dan menepuk keras paha kekar pria tampan yang berada di sebelahnya, pria itu hanya mampu meringis pelan.
"Yaudah kalau ngga mau, lo ati-ati ya jalan ke MRT-nya, masih ujan, nanti kalau lo berubah pikiran balik ke sini aja, nanti gue anterin." kata Saskara kepada wanita cantik itu.
"Iya, mas, thank you ya." kata Charissa sembari tersenyum dan berpamitan untuk pulang kepada kekasih kakak sepupunya itu.
Saskara sudah duduk, mengambil posisnya dan segera menyeruput salah satu cangkir yang dibawa oleh pria blonde tadi, sedangkan pria tampan yang sedari sok sibuk dengan albumnya itu malah sibuk mengikuti gerak-gerik wanita cantik yang sebelumnya bersama Saskara dan kini sudah keluar dari coffee shop itu, berdiri di pinggir jalan.
“Cewek tadi cantik sih.” Lanjut pria berkacamata itu kepada Saskara. Pria berambut mullet dan berkacamata yang itu bernama Malviano –- semua orang memanggilnya Ano.
“Tapi mukanya kaya ngga asing." lanjut Ano.
"Adek sepupunya Hannie." jawab Saskara singkat, sembari mengambil salah satu album yang tergeletak di meja.
"Pantesan cantik, se-gen." kata Ano sudah tidak heran lagi.
"Lo ngga mau ngenalin sepupu Kak Han sama kita? Lo ngga liat Migu mupeng pengen kenalan?" lanjut pria itu menggoda sahabatnya yang masih pura-pura tidak tertarik dengan wanita cantik yang baru keluar tadi, walaupun pada kenyataannya pria tampan itu sesekali menatap keluar untuk memastikan wanita itu masih di sana atau tidak, matanya sudah tertuju pada Charissa.
Migu, pria tampan yang memiliki nama panjang Migunani Mahendra merupakan pria berbadan tinggi, berhidung mancung, bermanik elang tajam yang memiliki lesung pipit tipis dan tahi lalat lucu di pipi kanan dan ujung hidungnya. Pria yang sebenarnya sudah memperhatikan wanita berkacamata yang duduk membaca buku, dan sesekali menatap jendela, sebelum Saskara dan Malviano datang.
"Hahaha, sorry sorry, anaknya mau ngejer MRT katanya." jawab Saskara.
"Tuh, masih neduh anaknya." tunjuk Malviano dengan bibirnya yang dimanyunkan.
"Kalau gue jadi Migu udah gue anterin pulang sih, mana tega gue liat cewe cantik pulang sendirian, di luar masih hujan, kasian, gue jadi keinget bini gue di rumah.” Lanjut Ano sembari melihat ke arah luar cafe. Wanita yang dimaksud oleh Malviano masih berada di luar cafe, tampaknya masih belum bisa pulang karena terjebak hujan yang semakin deras, dan tidak ada tanda-tanda akan berhenti.
“Ngga enak kayaknya dia pas gue tawarin bareng," jawab Saskara.
"Ya kalau ngga mau dianterin sama Kara, at least pinjemin cardigan Marni kali, Gu, liat deh kemejanya udah basah gitu.” sindir Malviano sembari mencubit kecil outer merah maroon yang temannya itu gunakan.
“Waduuuh, harus dipinjemin cardigan sih, kalau ngga bisa dibungkus orang, Gu." jahil Saskara sembari menatap kaca luar cafe dan menyeruput cangkir kopi hangatnya, dalam agenda menjahili Migu, tentu saja.
Tapi, pria yang dipanggil ‘Gu’ itu langsung menatap ke arah pandang Saskara dan secara tiba-tiba berdiri membuka outer yang sedari siang ia gunakan, menggantungkan fabric itu di lengannya, dan tanpa berbicara sepatah katapun ia berjalan meninggalkan teman-temannya, pergi begitu saja ke arah pintu keluar menghampiri wanita yang masih berdiri di depan coffee shop itu.
Charissa cukup lama berdiri di sana, sembari memegang tas kecil pada dadanya untuk menghalau air hujan yang semakin membasahi tubuhnya, walaupun, tetap saja ia basah kuyup.
'Ini kapan beresnya ya? Mau pulang ngga ada taksi, mau jalan ke MRT pake kemeja basah kuyup gini. Takut banget.' dumel wanita cantik itu dalam hati.
Tak lama ada sebuah cardigan yang mendadak menyampir di bahu untuk menutup punggung hingga bahunya, membuat wanita itu melonjak kaget. Charissa langsung menolehkan wajahnya dan menemukan seorang pria tinggi, bersurai hitam, berhidung mancung, sedang memegang bahunya agar outer rajut berwarna merah maroon yang ia berikan tidak terjatuh dari bahu wanita bermanik rubah itu.
"Eh?" Charissa membuka suaranya, ia terkejut dan dengan refleks langsung memegangi bahunya yang sudah tertutup cardigan .
"Lo basah kuyup, by the way." kata pria itu kepada wanita cantik yang sudah berada di hadapannya.
"You better use this, your clothes are starting to see through, nyaris keliatan dari dalem tadi." Kata pria tersebut membuka suaranya, lembut.
"Oh iya? Ya ampun, sorry." Jawab Charissa agak sedikit panik sambil celingak-celinguk, memastikan tidak ada siapapun di sekitar sana selain mereka berdua, at least tidak begitu ramai. Pria yang berada di sampingnya juga mengikutinya untuk melihat keadaan sekitar, berharap tidak ada pria hidung belang yang menggoda wanita cantik di sampingnya ini.
“Ngga harus minta maaf kok, santai aja,” kata pria tampan itu.
"Lo yakin ngga mau masuk lagi? Ujannya lumayan gede." kata pria itu deng nada yang sedikit khawatir.
"Ngga usah, mas, soalnya nanti kalau aku masuk lagi, bisa ngga kebagian kereta MRT terakhir." jelas Charissa kepada pria asing yang berada di sampingnya.
"Oh gitu, kalau ngga mau dianter Kara, dianter sama gue, mau?" entah keberanian dari mana, malam ini pria bertubuh tinggi dengan percaya dirinya berkeinginan untuk mengantarkan pulang seorang wanita yang tidak ia kenal. Seharusnya dia berpikir dua kali sih untuk mengajak Charissa, dengan Saskara yang sudah ia kenal saja wanita itu menolak, apalagi dengan orang asing sepertinya.
“Eh, ngga perlu, Mas, saya pinjem cardigan-nya aja, boleh?” Charissa menggeleng ribut, dan bertanya kepada pria berparas tampan yang berada di sampingnya untuk meminjam outer rajut miliknya untuk ia bawa pulang.
“Boleh kok, tapi make sure lo pake sampe rumah ya, take care!" Pesan pria itu, sembari tersenyum dan menunjukkan kedua taringnya yang berada di jajaran gigi atas mengintip manis, sebelum meninggalkan Charissa dengan cardigan-nya.
Pria tampan itu pun kembali ke dalam coffee shop, sedangkan Charissa memutuskan untuk segera pulang dan menerabas hujan ini dengan outer rajut yang berhasil ia pinjam daristrangers di sebuah cafe, bersyukurnya, fabric itu sudah menutupi tubuh bagian atas tubuhnya membuat Charissa lebih tenang untuk pulang dengan kendaraan umum.
***
Kini wanita cantik itu telah menggunakan piyama dress- nya yang berwarna hijau dengan handuk yang masih bertengger dikepala untuk mencegah air menetes dari surainya. Wanita berbadan semampai itu kini sudah berada di ruang cuci baju yang terdapat di rumahnya, berniat langsung mencuci pakaian yang telah kuyup karena hujan tadi. Kini semua kain miliknya telah masuk ke dalam mesin cuci kecuali cardigan rajut berwarna merah maroon .
Merk dari salah satu nama luxury brand yang tidak asing di mata Charissa.
“Miwo, what man on earth would calmly lend a 2 million cardigan to a stranger?” tanya Charissa sembari berjongkok dan menunjukkan cardigan merah maroon basah itu kepada teman bulunya yang sedari tadi sudah berada di bawah kakinya, mengikuti kakak-nya ke ruang cuci baju, Miwo hanya mengeong, seolah mengerti apa yang Charissa katakan.
“Lagi ngapain kamu, Cha?” tanya seorang wanita paruh baya kepada wanita yang masih berjongkok di depan mesin cuci memegang outer rajut merah dan berbicara sendiri kepada kucingnya.
“Nyuci, Bun, bajuku tadi basah banget, takut apek.” Jawab Charissa kepada wanita paruh baya yang merupakan mamanya itu.
“Oh, terus, itu kenapa masih ada yang kamu pegang?” tanya sang ibunda sudah berjalan mendekati anaknya yang sudah berdiri.
“Kayaknya yang ini aku laundry aja deh, Bun, soalnya punya orang. ” Kata Charissa.
“Yaudah, simpen di plastik laundry aja, sekalian besok bunda anter sembari ngambil cucian yang kemarin.” Kata sang bunda mengambil cardigan yang masih digenggaman anak semata wayangnya dan memasukkan fabric itu ke dalam plastik laundry yang tadi beliau katakan.
Bunda dengan sigap memberikan rinso, dan menyalakan mesin cuci, meletakkan plastik laundry, menggendong Miwo, serta mengajak anaknya untuk menunggu cuciannya di ruang tengah saja.
“Gimana tadi jalan-jalan sama Hannie?” tanya sang Bunda sembari memotong buah apel untuk mereka berdua ketika sudah duduk tenang di ruang keluarga yang terdapat di tengah-tengah rumah.
“Gitu aja, Charis cuma window shopping, meanwhile Kak Hannie belanja.” Jawab Charissa.
“Bun,” panggil anak wanita cantik itu setelah menggigit potongan apel yang berada di atas meja.
“Dalem?” jawab sang bunda.
“Kak Hannie ngajakin Charis jadi model, freelance aja sih, soalnya model yang harusnya photoshoot sakit,” kalimat Charissa menggantung.
“Charis ngga yakin bisa juga sih, Bun, tapi pengen coba. What do you think? If you don't have faith in me, I will cancel it.” Lanjut Charissa.
“Lho? Kenapa harus di-cancel? Itukan kesempatan bagus untuk kamu.” Jawab sang bunda.
“Siapa sih yang ngga percaya kalau kamu tuh bisa? Kalau Hannie percaya sama kemampuan kamu, apalagi Bunda.” kata wanita itu kepada anaknya, sembari mengelus rambut Charissa yang masih sedikit basah.
“Kamu percaya diri dong, sayang.” Lanjut bundanya.
“Hmmm,” Charissa berdeham.
“Kamu pasti bisa, anak cantiknya, Bunda. Bunda sama Papa akan selalu mendukung semua keputusan si cantik pokoknya.” kata ibunda meyakinkan anaknya, dan Charissa mengangguk menurut perkataan wanita yang lebih tua darinya itu.
“Terus itu tadi cardigan merah maroon Marni punya siapa?” Kata bunda ketika mengingat benda basah yang berada di kantung kresek laundry.
“Punya orang, kayaknya sih temennya Mas Kara, tadi aku ketemu dia di cafe sebelum pulang.” Jawab Charissa jujur.
“Lho, baik sekali orangnya,” kata sang bunda terkesima.
“Iya, soalnya dia bilang baju Charis see through, kan aku basah kuyup tadi.” cerita Charissa.
“Charis lupa bawa payung, soalnya, tadi kata weather hari ini ngga hujan, diboongin aku.” dumel wanita cantik itu kepada mamanya yang dibalas hanya tawa kecil.
“Cewek yang pinjami cardigan ke anak bunda? Kok baik sekali?”
“Cowok, Bun, tapi itu--” kalimatnya menggantung dan wajah Charissa mulai bingung.
“Kenalan ndak?” tanya sang Bunda ikut bingung juga.
“Nha, itu--” Charissa menggantung kalimatnya.
“Charis ngga tau siapa namanya. Cowo itu siapa ya, bun?” tanya wanita cantik itu kepada ibunya.
“Lho, kamu aja ngga tau apa lagi Bunda, nak.” Jawab wanita yang lebih tua itu sambil terkikik karena tingkah laku anak sulungnya.
“Atau kamu tanya saja nanti sama Hannie atau Kara pria itu siapa, terus, kalau sudah ketemu kamu kembalikan deh cardigannya.” Jawab sang bunda yang dibalas anggukan oleh sang anak cantiknya.
Dua minggu sudah berlalu sejak kejadian ia basah kuyup di depan cafe. Wanita cantik itu juga selalu lupa untuk bertanya siapa pria pemilik outer Marni yang masih tergantung rapih di lemari pakaiannya kepada sang kakak sepupu, karena sudah dua kali weekend ini mereka tak bertemu, keduanya sama-sama sedang sibuk. Charissa juga sedang disibukkan dengan kegiatan volenteer-nya dan deadline, sedangkan Jeaonnie lagi sering-seringnya kerja dinas keluar kota, bahkan bertukar pesan saja mereka sangat jarang.
Outer berbahan rajut itu selalu mengingatkan Charissa akan seorang pria yang ia tidak kenali siapa, dengan wajah yang setiap harinya sudah semakin samar, walaupun suara baritone pria itu masih dapat ia ingat jelas. Bila diingat lagi saat itu, betul kata pria yang menghampirinya, setelah sampai di rumah, Charissa dapat melihat long-sleeved putihnya basah kuyup dan memperlihatkan warna dalaman yang dia gunakan kala itu. Charissa masih sangat berterima kasih pada si pria misterius, bila bukan karenanya wanita cantik itu tidak tahu bagaimana harus pulang malam itu, di malam gelap serta hujan yang turun deras di Kota Jakarta, pulang menggunakan MRT dengan kemeja putih basah yang menerawang. Membayangkannya saja membuat Charissa cukup merinding. Wanita cantik itu masih sangat bersyukur, ia bahkan berjanji pada dirinya sendiri, apabila nanti mereka bertemu lagi ia akan mengucapkan terima kasih dan mentraktir pria itu kopi atau makanan enak, apapun.
Tak lama sebuah e-mail masuk ke dalam notifikasi handphone Charissa dengan subject ‘Schedule Photoshoot – Charissa Wonwoo', membuyarkan lamunannya. Tidak perlu menunggu lama, wanita cantik yang sudah membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur empuk miliknya itu segera membuka e-mail dari kakak sepupunya, si dia dengan seksama membaca details untuk pemotretan yang akan berlangsung besok. Bohong jika Charissa tidak gugup, ini merupakan hal baru untuknya, banyak fikiran yang berkecamuk di dalam otaknya, membuat ia melupakan pria yang sedari tadi berada di dalam lamunannya, ditambah lagi pesan singkat dari pemilik nama contact ‘Kak Jeoannie’ membombardir room chat iMess Charissa, mengingatkan untuk photoshoot besok.
Ia meletakkan ponselnya di sebelah lampu tidur yang berada di atas nakas samping tempat tidurnya, kemudian mematikan lampu tersebut, dan memejamkan matanya walaupun jantungnya mulai berdetak tak karuan, ia nervous. Iya, Charissa sedikit worried karena besok adalah pertama kali dalam hidupnya ia melakukan photoshoot.
“Everything will be okay, Charis. Don’t be nervous, don’t be—just sleep.” Kata Charissa menenangkan dirinya sendiri, sembari memeluk Miwo yang sudah melingkar di sampingnya.
Seperti waktu yang dijanjikan, kini Charissa sudah sampai di depan pintu otomatis sebuah studio yang diinfokan oleh kakak sepupunya, di papan salah satu ruko yang berada di bilangan SCBD itu tertulis ‘Adore You Studio’. Wanita yang menggunakan tank-top putih di dalam kemeja sky blue berlengan pendek dan kancing terbuka yang dipadupadankan dengan mini skirt berwarna senada, memperjelas kaki jenjangnya, ditambah lagi dengan rambut yang kini sudah diikat ponytail tinggi, memperlihatkan leher putihnya, wajah polos tak ber-make-up hanya dibantu liptint dan alis agar tidak terlalu pucat serta kacamata yang tak pernah lepas dari wajahnya belakangan ini sedang menghubungi kakak sepupunya yang ia yakin wanita itu sudah berada di dalam.
"Udah nyampe?" Tanya seorang wanita dari seberang telepon setelah deringan ketiga, Charissa menghubungi Jeoannie untuk mengabarkan kalau ia sudah sampai.
"Yup, tapi gue masih di depan studio-nya nih, kak." Jawab Charissa sembari melihat ke kanan dan ke kiri.
“Gue pulang aja kali ya?” lanjut Charissa semakin merasa gelisah. Sesungguhnya dadanya masih berdegup dengan kencang, tangannya juga berkeringat, pagi ini ia semakin gugup.
“Eh, enak aja! Lo masuk dulu, terus, duduk di sofa lobby, kalau gue ke bawah lo ngga ada, awas aja, gue aduin sama bunda.” Ancam Jeoannie.
“Iya, iya, gue bercanda.” Jawab Charissa yang sudah pasrah.
Wanita cantik itu menuruti arahan Jeoannie, ia melangkahkan kakinya masuk ke lobby studio itu, berbicara sebentar dengan resepsionis di sana dan mendudukkan tubuhnya di sofa yang sudah tersedia sembari menunggu kakak sepupunya untuk datang menjemputnya.
“Charissa?” tanya seorang pria berambut mullet blonde, dan menggunakan kacamata frame besi tipis yang berada di hadapannya. Wanita yang sedang menatap ke layar handphone -nya itu menoleh ke arah datangnya suara, lalu berdiri dan mengangguk. Sesungguhnya Charissa tidak asing dengan pria yang berada di hadapannya, wanita itu ingat bahwa ia pernah bertemu dengan wajah pria di hadapannya ini.
“Have we met before? Kayaknya pernah deh.” tembak pria itu sembari mengernyitkan jidatnya, Charissa menganggukkan kepalanya dengan yakin.
“Sepupunya Kak Han kan, kita pernah ketemu di cafe malem-malem pas hujan?” kata pria berkacamata di hadapannya sembari cengengesan sembari mengingat-ingat malam itu.
“Kenalin, gue Malviano panggil aja Ano, gue akan jadi asisten fotografer hari ini.” Suaranya yang ramah sembari mengulurkan tangan membuat Charissa tersenyum dan membalas uluran tangan pria itu.
“Charis,” jawab Wanita cantik itu.
“Mohon bantuannya ya, Mas Ano.” Jawab Charissa dengan sopan dan masih seraya tersenyum, Malviano pun membalas senyuman wanita cantik yang sudah berada di hadapannya.
Malviano dan Charissa sudah berjalan ke lantai 2, tempat pemotretan majalah hari ini akan berlangsung. Setelah sampai di sana, Malviano meminta Charissa untuk menunggu karena pria berkacamata itu akan memanggilkan Jeoannie dan kembali ke tugas asalnya.
“Gue ke sana dulu ya, lo tunggu di sini, gue panggil Kak Hannie dulu.” Kata Malviano yang dibalas anggukan oleh Charissa.
Wanita bertubuh semampai itu menuruti apa yang dikatakan Malviano dan mengamati dengan teliti studio yang sudah bertemakan photoshoot hari ini sembari mencari di mana kebaradaan kakak sepupunya itu.
“Hai!” sapa wanita dengan suara yang sangat ia kenal, Charissa langsung menatap wajah kakak sepupunya.
“Bengong aja, masih deg-degan?” tanyanya lagi.
“Banget, gue boleh pulang aja ngga sih, kak? Tangan gue keringetan, jantung gue udah mau copot, jelek banget tau ngga lo.” jawab Charissa seraya menggenggam tangan Jeoannie, bahkan meletakkan telapak tangan kakak sepupunya ke dadanya.
“Hahaha, don't worry, cantik, you’ll be okay, just follow their lead." Tunjuk Jeoanna ke arah 2 pria yang sedang sibuk menyetting kamera mereka untuk pemotretan nanti.
"Who?" Tanya Charissa yang sudah mengikuti langkah Jeoannie saat sang kakak sepupu sudah berjalan ke arah pria yang ia maksud.
"The photographers atuh, cantik, tadikan kamu udah kenalan sama Ano, sekarang sama main photographer-nya.” jawab Jeoannie santai.
“Kenalan dulu biar nanti pas jepret-jepret ngga awkward." lanjut wanita yang lebih tua itu.
"Migu, Ano," sapa Jeoannie, orang yang dipanggil dengan refleks mendongakkan kepalanya dari kamera yang sedari tadi sedang mereka setting, Jeoannie dan Charissa pun berjalan semakin mendekat ke arah mereka.
Pria yang dipanggil Migu itu langsung berdiri tegak ketika ia sangat mengenali wajah wanita dari coffee shop 2 minggu lalu yang belakangan ini selalu mengganggu pikirannya, dengan percaya diri pria tampan itu berjalan menuju ke dua wanita tersebut. Malviano yang sudah tahu tentang Charissa yang menjadi main model mereka dan melihat gerak-gerik temannya itu hanya tersenyum jahil.
"Hai." Sapa pria tampan tinggi yang menggunakan t-shirt putih yang masih dilapisi oleh kemeja wash off dan celana jeans yang senada.
"Please, meet the model— Charissa." Kata Jeoannie memperkenalkan adik sepupunya kepada dua pria yang ia panggil tadi.
“Ini Migunani as a main photographer dan Ano, tadi lo udah kenalan juga, he's as a sub photographer for today.” Kata Jeoannie sembari memperkenalkan ke dua pria yang sudah tersenyum manis di hadapan mereka.
"Migu, nice to meet you." Ucapnya sembari mengulurkan tangannya terlebih dahulu.
’This voice is so familiar, why?’ gumam Charissa dalam hatinya.
"Charis, nice to meet you too." Jawab Charis dengan suaranya yang lembut, membalas jabatan tangan dan senyum pria itu.
Entah kenapa wanita cantik itu malah semakin gugup.
‘Finally, I got you!’ Ucap Migu dalam hatinya ketika mereka berjabat tangan.
Baik Migu maupun Charissa seolah tak ingin menyudahi jabatan tangan mereka, tangan mereka masih berjabatan dalam diam, walaupun semakin lama pipi wanita canti itu mulai merona dan senyum Migu semakin lebar.
“Ehem, guys? Halo?” ganggu Malviano sembari memukul lengan temannya untuk menyudahi jabatan tangan Migu dana Charis.
Malviano dan Jeoannie tersenyum sembari saling pandang dengan wajah yang mencibir, menjahili Migu yang kini sudah salah tingkah.
“Sekarang mungkin Charis bisa disuruh dandan dan ganti baju kali ya, kak?” kata Malviano seraya menatap smartwatch -nya.
"Oh, iya bener,” kata Jeoannie.
“Okay, sekarang lo harus dandan terus ganti baju ya, Cha. Let's go!" ajak Jeoannie sembari membuyarkan lamunan Migunani, dan mendorong Charissa untuk meninggalkan kedua fotografer yang in-charge hari ini.
Jeoannie dan Charissa kini sudah menghilang dari pandangan kedua pria dewasa itu yang langsung kembali setting pencahayaan dan kamera.
"Akhirnya, ketemu lagi sama yang bawa cardi Marni 2 juta lo." goda Malviano kepada temannya saat mereka mulai mengetes kamera yang sudah mereka setting.
"Hahaha, at least cardigan 2 juta gue bisa balik." jawab Migu sembari membidik kameranya pada benda random yang berada di set-nya.
"Semoga belum ada yang punya ya, Om Migu." jawab temannya sambil menggoda, Migu hanya tertawa getir.
'Iya juga ya, masa cewek secantik itu ngga punya pacar? Kata orang jodoh tuh ketemu disaat yang tidak pernah terduga, misalnya di tukang sate.' gumam Migu ngawur.
"Kata orang jodohkan jorok, No." jawab Migu.
"You got my back, bro!" tawa Malviano.
Malviano tahu sahabatnya dari SMA yang tampan itu tidak akan berani untuk mengambil kekasih orang lain, jangankan kekasih orang lain, mantannya yang sudah ketahuan selingkuh tiga kali saja ia maafkan sampai harus dimarahi oleh Saskara dan Malviano, untungnya tak lama Migu sadar kalau dia sedang dibodoh-bodohi kekasihnya itu.
***
Terhitung 1 jam 30 menit waktu yang dibutuhkan Charissa untuk bersiap-siap. Kini wanita cantik itu sudah menggunakan kebaya jahitan karya Anne Avantie yang berbahan satin super lembut dengan warna hijau pekat, dihiasi oleh payet-payet cantik dan brokat. Bentuk kebayanya adalah sabrina yang memiliki belahan kerah berbentuk V yang cukup tinggi hingga menampakkan jelas cleavage putih wanita cantik itu, memperlihatkan bahu lebarnya serta collarbones kokoh yang menonjol jelas, dan leher jenjangnya. Kebaya cantik itu bersandingkan bawahan dari bahan batik motif berdominan yang senada dengan datasannya, terdapat motif berwarna emas, hitam, biru muda, hijau dan warna-warna cantik lainnya dengan belahan tinggi yang memamerkan kaki jenjang serta paha mulus milik Charissa. Seperti yang Charissa duga, baju ini luar biasa bagus, namun, terlihat sangat terbuka untuknya. Make up yang ia gunakan terlihat tampak cukup sederhana dengan beberapa warna yang sedikit menonjol di beberapa bagian, seperti mata, pipi, dan bibir agar dapat tertangkap di kamera.
"Widiih! Gila sih, lo cantik banget valid no debat!" Kata Jeoannie ketika melihat Charissa sudah siap dari mulai tatanan rambutnya yang di sanggul dengan mawar merah hingga ke bawah kakinya yang sudah menggunakan high heels hitam bercorak dengan heels 7 sentimeter.
"Lo ngga ngerasa gue jadi tinggi banget, kak?" tanya Charissa pelan, ketika sudah melihat dirinya di depan kaca.
"Bagus banget, cocok banget,” jawab Jeoannie kepada adik sepupunya itu.
“Gue udah bilangkan dari dulu kalau badan lo tuh bagus banget? Lo liat kaca lagi deh!” Jeoannie masih mengagumi tubuh Charissa.
“Ya ampun, Cha, gue ngga percaya lo cuma jadi design graphics dengan badan sebagus ini." Celoteh Jeoannie seraya membulak-balikkan tubuh wanita cantik di hadapannya.
"Kak, is the kebaya too open? Liat deh, lo bisa liat belahan dada gue kaya gini." Charissa sedikit mengeluh karena kebagian baju yang terbuka dibandingkan model lainnya sembari menutupinya dengan kedua telapak tangan lentiknya.
"Gila sih, your collarbones and shoulders are the highlights for today, just shut up and take a shoot." jawab Jeoannie tak menghiraukan protesan sang adik, karena untuk wanita berumur 29 tahun itu Charissa sudah cukup sempurna.
"Oke, oke, sistur! Just lead a way. Gue harus jalan ke mana sekarang?" Tanya Charissa, menyerah dengan semua pujian kakaknya.
"Haha, oke, let's go!" Ajak perempuan yang bernama Hannie itu menuju ke arah para kru fotografer.
Charissa dan Jeaonnie sudah berada di set photoshoot hari ini, beberapa kamera yang sudah siap di sana, dua layar monitor yang menyala di seberang set foto, pencahayaan terang yang sudah siap, beserta back drop yang sudah disesuaikan dengan konsep pemotretan hari ini. Pemandangannya lebih tertata rapih dibandingkan saat Charissa datang tadi.
Migunani dan Malviano membulatkan matanya ketika melihat sosok wanita cantik bak bidadari berkebaya datang ke arah mereka. Migu sangat tahu bahwa model utamanya hari ini memang naturally cantik, namun, ia tak tahu bila Charissa Wonwoo Aqilla akan secantik malaikat yang Tuhan kirimkan seperti ini. Bohong kalau jantung Migunani tidak berdetak lebih cepat dari biasanya. Wajah ayu bermanik rubah, berbadan tinggi semampai, dengan kulit putih susu, Migu rasanya sudah tidak bisa berkata-kata lagi.
“Gu!" senggol Malviano, membuyarkan semua lamunan sahabatnya itu.
"Hah?" Migunani sudah tampak kembali ke bumi.
"Charis udah siap itu." kata sub-photographer-nya hari ini.
"Oh, iya, oke, Charis boleh jalan ke set ya supaya bisa masuk ke frame.” Kata Migu kepada modelnya.
"Tolong bantu, No, jangan sampe jatoh." pinta Migu, Malviano langsung menghampiri wanita cantik itu.
“Lo bisa pegang gue deh, takut lo jatoh.” Kata pria berambut mullet dan berkacamata itu ketika sudah sampai di hadapan Charissa.
“Thank you, Mas Ano.” Kata Charissa dan dibalas oleh senyuman Malviano.
Malviano mengantarkan Charissa menuju set dan meninggalkan wanita cantik itu bersama dengan model lainnya yang sudah siap untuk pemotretan.
“Gugup banget ya orangnya?” tanya Migunani kepada temannya yang sudah berdiri di sampingnya.
"Iya, lumayan." jawab Malviano dengan tenang, mereka berdua tampak sudah terbiasa melihat model merasa gugup.
“Hmm, oke.” Migunani tampak mengerti.
"Hai, Charissa, boleh liat ke gue ya." Teriak Migunani sembari tersenyum dan memamerkan kedua taring yang berada di jajaran atas giginya.
“Sorry.” satu kata yang keluar dari mulut Charissa ketika wanita itu merasa bahwa gayanya masih terlalu kaku.
"Kenapa, Charis? Is there something wrong? " Tanya Migu berjalan dengan cepat menghampiri modelnya itu, sedikit khawatir.
Charissa menggelengkan pelan, “Kayaknya gayaku kaku banget deh, Mas Migu.” Kata wanita cantik itu lembut ketika Migunani sudah berada di hadapannya.
Panggilan 'Mas Migu' tidak pernah seistimewa ini untuk Migunani, jantungnya kembali berdebar cepat, tapi ia harus tetap profesional, apalagi di depan Charissa. Ia harus lebih tenang, agar modelnya pun merasa nyaman.
Pria tampan itu melemparkan senyumnya ketika mendengar kalimat itu terlantun merdu dari bibir wanita yang berlapis lipstick merah di hadapannya.
"You look so perfect and pretty, Charissa, so, we won’t take long for this. Santai aja ya." rayu Migunani memuji kecantikan wanita yang berada di depannya. Instead of tenang, pipi Charissa malah memanas mendengar segala pujian dari fotografer tampan di hadapannya. Tidak pernah ada pria yang mengatakan bawha dia cantik dan sempurna dengan nada suara yang merdu, seperti kalimat yang keluar dari bibir Migu barusan.
“Atau lo mau istirahat bentar?” tanya Migunani dengan suara yang lembut.
Pria yang masih menenteng kamera profesionalnya, masih berdiri di hadapan Charissa. Kalau boleh ia ingin sekali mengusir semua orang untuk keluar dari studio ini, meninggalkan mereka berdua, Migu ingin menatap wajah wanita ini sepuasnya dan tak boleh ada yang mengganggu. Sayangnya, ini bukanlah waktu yang tepat untuk melakukan hal gila seperti itu.
Charissa melihat model yang sudah siap di kanan dan kirinya, sehingga wanita cantik itupun menggelengkan kepala saat Migu menawarkannya untuk beristirahat, ia tidak mungkin membuang waktu orang lain lagi. 'Charissa, kamu bisa! Yuk!'
"Ngga usah, mas, kita bisa mulai." cicit Charissa menjawab pertanyaan Migu.
"Good then, just relax ya, Charis, lo cukup ikutin arahan gue dan Ano.” Migunani menenangkan Charissa dan mengelus lengan modelnya itu perlahan, berniat menenangkan wanita itu, namun, tak bisa berbohong jantung Migu masih berdegup lebih kencang. Hanya yang Migu tak tahu, jantung Charissa hampir turun ke perutnya karena perlakuan manis pria tampan itu padanya. Charissa selalu lemah dengan affection.
“I promise, I'll take your best photos, ok?" lanjut Migunani lagi sembari tersenyum sebelum ia meninggalkan set dan kembali ke tempatnya, sedangkan Charissa menjawab dengan anggukan pelan.
Malviano sedang mengarahkan gaya Charissa saat pria tampan yang menjadi main photographer itu sedang menenangkan detak jantungnya dengan pura-pura kembali menatap layar kameranya.
“We can start, bro!” kata Malviano kepada temannya yang dibalas anggukan oleh pria tampan itu.
"Okay,” kamera EOS C70 dengan lensa 50 MM itu sudah mulai membidik sasarannya.
“Thats beautiful, Charis." kalimat ini adalah kata-kata yang tulus dari hati Migu. Saat mulai membidik Charissa, Migu hanya mengucapkan kata 'cantik' serta 'cantik sekali' berkali-kali di dalam hatinya.
"Look at the camera ya, cantik. Satu—dua—” kata Migunani, pria berkulit sawo matang yang sedang sibuk menjepret object-nya.
Suara satu, dua, tiga dan bunyi jepretan kamera bergema di dalam ruangan itu, mengambil foto Charissa dari balik DSLR professional milik Migunani. Jeoannie memonitor hasil jepretan Migunani dua layar berbeda yang sudah disiapkan di sana. Tersenyum lebar, wanita berambut hitam panjang itu merasa sangat puas dengan hasilnya.
"Perfect, Cha!" Ucap Jeoannie seraya melihat hasil-hasil jepretan Migunani dengan Charissa sebagai modelnya.
Wanita cantik yang hari ini menggunakan kemeja oversized hitam itu bertepuk tangan bangga, sembari menghampiri adik sepupunya.
"Bagus banget hasilnya. Lo harus liat, dan lo pasti akan kaget sama hasilnya." Tanya Jeoannie.
"Itu karena Mas Migunya aja yang jago ngambil angle-nya, kak.” Jawab Charissa malu-malu.
“Kayaknya gue kaku banget deh, Kak Han.” lanjut Charissa dengan suara yang mencicit.
"Ngga kok, hasilnya bagus-bagus, Charis. Good work!" kata Migu memotong pembicaraan Charissa dan Jeoannie, lalu berlalu, entah kemana.
"Kan! Kata Migu aja bagus-bagus hasulnya." kata Jeoannie sembari memanyunkan bibirnya.
"Pokoknya, gue akan share hasil foto lo di group keluarga setelah gue, Migu dan Ano pilih-pilih the best of the best.” lanjut Jeaonnie – yang biasanya memang dipanggil Hannie itu.
“Lo ngga akan percaya kalau gue bilang hasilnya tuh damn good! Males gue jelasin ke lo, jawaban lo pasti 'ngga ah, masa sih?' Capek.” Keluh Jeoannie lagi tentang kebiasaan adiknya itu, Charissa hanya tersenyum, sebenarnya ia hanya senang menggoda kakak sepupunya, walaupun ya memang dia tidak seyakin itu sih kalau hasilnya seperti yang dipuji-puji Jeoannie.
"Hahaha, iya iya, maaf. Terus gimana? Ini udahan, kak? Cleavage gue dingin banget." kata Charissa berhati-hati sembari mengambil tangan Jeoannie dan membawanya ke bagian yang ia sebutkan tadi.
"Hahaha iya lagi, ayo kita ganti.” ajak kakak sepupunya sekaligus Fashion Art Director dari salah satu majalah fashion terkenal di Indonesia.
***
“By the way, gue sama team mau makan bareng. Lo ikut ya! Ini bukan pertanyaan tapi perintah, hahaha." Ajak Jeoannie yang sedang menunggu Charissa berganti pakaian, adik sepupunya itu hanya menjawab iya, tanpa penolakan sama sekali. Tidak seperti biasanya.
Waktu sudah pukul jam 5 sore saat Charissa sudah kembali memakai pakaian yang ia gunakan saat berangkat ke studio ini tadi pagi, make up -nya juga sudah dihapus selain alis, kini ranumnya wanita 25 tahun itu sudah dilapisi dengan warna liptint yang selalu ada di tasnya dan duduk di salah satu sudut dekat dengan peralatan kamera. Entah sejak kapan dia sudah berada di sana sembari menunggu kakak sepupunya.
"Sorry, Charis, gue mau ambil tas itu, boleh?" Tanya seorang pria sopan yang membuyarkan lamunannya. Sang fotografer yang hari ini sudah berhasil membantu Charissa menghilangkan kegugupannya di depan kamera.
"Oh sorry, yang mana? This one? " Tanya Charissa menunjuk salah satu tas hitam kepada pria yang sudah berada di hadapannya dan si dia menjawab dengan anggukan. Charissa pun langsung mengambil tas yang dimaksud dan memberikannya kepada pria dengan mole di pipi kanannya.
"Here." Jawab Charissa, menaikkan kedua ujung bibirnya yang tipis, tersenyum manis.
"Thank you." Jawab Migunani ketika mengambil benda berwarna hitam itu.
Saat ini, Migu sedang merapihkan kamera yang ia gunakan tadi ke dalam tas hitam yang sebelumnya diberikan Charissa. Wanita cantik itu memperhatikan gerak-gerik Migu dengan sangat obviously. Dari pria itu yang membuka lensa, kemudian, membersihkannya dengan telaten dan memasukkan benda itu ke dalam tas hitam bersekat, lalu, pria itu menyingsingkan t-shirt putihnya hingga menampakkan tulisan seperti aksara dengan tinta hitam yang terlukis pada biceps-nya. Charissa berkedip cepat -- salah tingkah sendiri -- apa itu yang barusan dia liat? Kenapa sangat.... menggoda?? rutuknya dalam hati.
"Have we met before?” tanya Migunani lagi seraya memasukkan body camera ke dalam tas hitamnya.
“Harusnya pernah sih," kata Charissa dengan penuh percaya diri.
“Maybe you've been to Cecemuwe Café about two weeks ago? On Saturday, I don’t know. ” lanjut wanita cantik itu.
Kemarin memang bayangan akan teman Saskara yang meminjamkannya outer rajut mulai menghilang, tapi ketika mendengar suara Migunani, Charissa sangat yakin bahwa pria di hadapannya inilah pria cardigan Marni merah maroon yang ia cari.
“Still remember me?” tanya pria tampan itu, iya.
"Sure, why should I forget? Your cardigan's still in my wardrobe." jawab Charissa. Mendengar jawaban wanita cantik di hadapannya ini, Migunani merasa sangat puas, ingin loncat dari lantai tiga ruko studio photo itu rasanya, karena akhirnya ia bisa bertemu lagi dengan wanita yang ia cari-cari selama dua minggu belakangan ini.
“Thank goodness it was you,” kata Migunani dengan suaranya yang sedikit berbisik.
“Sorry? ” tanya Charissa ketika ia tidak mendengar jelas apa yang Migunani ucapkan, ia hanya mendengar kata ‘ you ’.
“Gimana kemarin perjalanan pulangnya? Aman?” tanya Migunani.
“Kapan?” tatapan bingung Charissa sangat jelas terpampang jelas di hadapan Migunani. Pria tampan itu jelas sangat gemas dengan wanita di hadapannya itu.
"Waktu hujan kemarin, ada yang ganggu?” Tanya Migunani, Charissa masih mengernyitkan keningnya bingung.
“Oh, waktu itu? Ngga, thank God and thanks to you.” jawab Charissa.
“Cuma cardigan kamu super basah, kasian cardigan 2 millions." kata Charissa, tersenyum manis dan memamerkan kerutan pada hidungnya.
"It's okay, yang penting lo pulang selamat, ngga ada yang ganggu, it worries me." kata Migunani tidak bisa mengontrol apapun yang keluar pada mulutnya sore ini di hadapan wanita yang baru ia temui dua kali.
"A lot." lanjut Migu, Charissa hanya tersenyum mendengarnya.
‘AAAAAAAAAAA, so sweet.’ teriak Charissa dalam hatinya.
‘Eh, Charissa?’ lanjut wanita itu bergumam sendiri di dalam hati.
Sedangkan yang ada dipikiran Migu saat ini adalah, ‘Gue harus dapet nomer Charissa, no matter how!"
***
Seperti yang dikatakan Jeoannie ketika Charissa berganti baju, team-nya dan Migu akan mengadakan makan bersama setelah photoshoot yang selalu melelahkan bagaimapun keseruan saat di set-nya. Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, team Jeoannie satu persatu sudah pulang, ada yang sudah mabuk dan menaiki taksi, ada juga yang dijemput oleh pasangannya, ada yang pulang dengan kendaraan online atau bahkan menggunakan kereta.
“Kak Han, lo dijemput Kara kan?” tanya Malviano yang sedang memapah Jeoannie dan mendudukkannya di kursi taman yang berada dekat dengan restoran tempat mereka mengadakan makan malam tadi, bersama dengan Charissa dan Migu.
“Hmm,” gumam Jeoannie tanpa memberikan jawaban kepada ketiga orang yang berada di sana.
“Lo telepon Kara deh, Gu, ini kalau dia diculik, besok nama kita udah di nisan.” Kata Malviano kepada pria yang berada di depannya, sedangkan Charissa sudah bertukar tempat dengan Malviano, terduduk di samping Jeoannie yang belum sadar.
Migu langsung mengambil ponsel yang ada di kantong celana jeans-nya dan men-dial salah satu contact yang berada di address phone miliknya.
“Kar, ini Kak Hannie ada sama gue dan Ano, lo mau jemput atau gimana?” tanya Migunani kepada pria di seberang telepon saat sambungannya sudah diangkat.
“Ano ngga bawa mobil, Kar, bawanya vespa. ” Jawab pria tampan yang sudah di hadapan Charissa dan Jeoannie saat pria di sambungan telepon itu bertanya.
“Oke, gue suruh Ano pulang kalau gitu,” kata pria itu lagi.
“Ya bisa aja sih gue anter, gue juga sama sepupunya, anyway.” lanjutnya.
“Yup, Charis. Oh gitu? Mau lo aja yang jemput? Oke oke, cepetan ya! Sip, see you!” kata Migunani lagi sembari mematikan sambungan teleponnya.
“How? ” tanya Malviano.
“Lo balik aja, No, gue sama Charis nungguin Kara di sini,” kata Migunani kepada temannya itu.
“Serius nih gue balik duluan? Ngga apa-apa? Atau lo sama Charis aja yang balik duluan, gue dengan pemabuk ini nungguin Saskara.” Kata Malviano memberikan option.
Charissa hanya terdiam mengengar kedua pria di hadapannya berbicara.
“Aku tungguin Mas Kara dateng aja, Mas Migu sama Mas Ano boleh pulang duluan kok.” Kata Charissa sembari memeluk kakak sepupunya yang sedang boozy itu.
Migunani tersenyum melihat mimik wajah wanita yang sudah duduk di depannya, pria tampan itu berjongkok menghadap Charissa.
"Ano aja yang pulang duluan ya? Gue di sini nemenin lo nunggu Hannie dijemput Kara.” kata Migunani sembari tersenyum dan berdiri, sembari dengan reflex mengelus kepala Charissa selintas.
Charissa diam membeku, begitupun dengan Migu yang langsung menyadari tingkahnya, Malviano yang melihat itu hanya tersenyum, menertawakan dalam hati tingkah temannya yang seperti anak SMA sedang jatuh cinta. Sungguh sangat tidak Migunani Mahendra sekali.
Migu dan Charissa masih saling terdiam sedangkan ponsel Malviano sedari tadi bergetar menerima pesan dari istrinya.
“Guys, gue balik duluan ngga apa-apa kan?” tanya Malviano ketika ia sudah membalas chat dari sang istri di rumah.
“Bini lo udah nyuruh balik ya? Masih ngidam?” tanya Migunani kepada sahabatnya itu.
“Iya, ternyata. Pengen peluk doang kalau tidur, jadi gue kudu balik buru-buru, bro, kalau ngga nanti ngga tidur-tidur itu princess gue.” Jawab Malviano sembari tertawa, Migunani ikut tertawa bersama temannya, sedangkan Charissa hanya tersenyum tipis, membayangkan dirinya yang sedang hamil entah dengan siapa dan tidur sembari di peluk. Iya, Charissa memang orangnya senang berkhayal.
“Duluan aja, hati-hati, bro! Salam buat Inuy." kata Migunani.
“Gue balik dulu ya, Charissa, see you on another occasion.” Kata Malviano.
"Hati-hati sama Migu, kalau nakal kabarin gue." bisik pria dengan surai mullet dan kacamatan itu, Charissa hanya tersenyum mendengarnya.
“Makasih banyak hari ini ya, Mas Ano.” Jawab Charissa.
“No worries, hati-hati ya pulangnya nanti.” kata Malviano seraya tersenyum menggoda temannya dan berbalik, meninggalkan mereka bertiga yang masih menunggu Saskara datang.
Hanya ada suara racauan Jeoannie yang sedang mabuk di antara keheningan malam, dan angin sepoi-sepoi. Sudah tiga puluh menit berlalu sejak Malviano meninggalkan Migunani dan Charissa, serta Jeoannie yang meracau tak karuan, sedangkan ke dua orang yang masih sadar itu tidak mengeluarkan kalimat sepatah katapun. Hingga ada mobil CRV 2023 hitam berhenti di depan restoran, dan turunlah seorang pria seraya berlari kecil ke arah tempat duduk orang yang ia kenali, tanpa mematikan mesin mobilnya.
“Gu!” panggil pria itu, pria yang merasa terpanggil itu berdiri.
“Oh, finally lo dateng sih.” Kata Migunani kepada pria itu.
“Sorry ya, Cha! Berat ya ini cewek gue.” kata Saskara sembari langsung menggendong tubuh ramping Jeoannie dengan bridal style ke pelukannya, Charissa langsung meregangkan bahunya yang sedikit kaku karena saudara sepupunya yang tersandar di sana sedari tadi.
Charissa dan Migunani mengikuti langkah Saskara yang membawa Jeoannie dalam mobil CRV yang tadi berhenti di depan restoran, dan menidurkan kakak sepupu Charissa di mobil penumpang belakang.
“Gue balik dulu ya, Cha, Gu. Thanks, udah nungguin.” Kata Saskara sembari menepuk pundak Migu, yang dibalas anggukan oleh teman dekatnya itu.
“Lo balik sama Migu ya, Cha, udah malem, jangan sampe gue dijambakin sama Jeaonnie lagi.” Kata Saskara kepada Charissa.
Kenapa ada kata lagi? Karena kejadian 2 minggu lalu, Saskara habis diomeli Jeoannie karena tidak mengatar adik sepupu kesayangannya itu pulang, malah membiarkan Charissa pergi sendiri ke MRT dengan hujan-hujanan, untung saja si wanita cantik itu tidak jatuh sakit dan sampai di rumah dengan selamat. Jeoannie tidak sanggup bila terjadi sesuatu dengan sepupunya malam itu, jadi, sejak saat itu jelas Saskara sangat trauma.
"Gampang, Mas." jawab Charissa.
Saskara tersenyum memamerkan lesung pipit yang ada di pipi kanannya kepada kedua wanita dan pria dewasa di hadapannya, "Tolong anterin Charis ya, Gu." pesan pria yang lebih tua 4 tahun dari Charissa itu. Migu mengangguk tanda setuju, itu yang akan ia lakukan sedari tadi memang, mengantarkan Charissa pulang ke rumahnya dengan selamat, dan mendapatkan nomor teleponnya. Poin ke dua itu harus.
“Ti-ati, bro!” kata Migunani yang diiyakan oleh Saskara.
Dan di sinilah mereka berdua, setelah mobil Saskara meninggalkan Charissa dan Migunani di depan restoran yang tadi mereka tandangi untuk ronde ke 2, Charissa berjalan mendahului Migunani, namun, pria tampan yang memang lebih tinggi darinya itu mampu mengimbangi langkah kaki sang gadis cantik di sampingnya.
“Yuk, gue anter.” Kata Migunani kepada wanita dengan tinggi 172 sentimeter yang ada di sampingnya. Charissa menatap pria itu dengan seksama.
“Kebiasaan kamu ya, mas?” jawab Charissa dengan pertanyaan kepada pria yang ada di sampingnya.
"Maksudnya?" Tanya Migunani bingung.
“Nothing, but only if I think about it, I guess you like taking strangers home.” Kata Charissa seraya tersenyum renyah.
“When? ” tanya Migunani semakin bingung.
“Two weeks ago, you also offered to drive a stranger home, ingetkan?” tanya Charissa, Migunani kini tersenyum mengingat malam itu ketika mereka pertama kali bertukar kalimat.
“Kalau dia orang jahat gimana?” tanya Charissa lagi.
“Iya, tapi nyatanyakan orangnya ngga jahat.” Jawab Migunani masih tersenyum.
“Lagian hari ini sama waktu itu sama ngga sih? Sama-sama udah malem.” Lanjut Migu.
Tanpa mereka sadari Charissa dan Migunani sudah berada di depan mobil pria tampan itu terparkir. Entah kenapa kaki wanita cantik yang malam itu tidak menggunakan kacamata mengikuti langkah pria tampan yang sedari tadi berjalan bersamanya.
"It's late, Cha, bahaya.” Kata Migunani.
“Lagian lo denger kan kalau Kara nitipin lo ke gue, dan ini mobil gue, so, kenapa ngga just hop in and sit inside.” Lanjutnya.
“Itung-itung lo nemenin gue ngobrol di jalan, dan lo sampe ke rumah tanpa biaya serecehpun, this is free only for the beautiful one.” Kata Migu yang sedang memperhatikan wanita cantik dengan bola mata yang dibumbuhi softlense cokelat muda itu sedang berpikir.
Migunani membuka pintu mobil penumpang bagian depan, seolah meminta wanita cantik yang sudah mencuri konsentrasinya selama dua minggu belakangan untuk segera masuk dan menerima tawarannya. Iya, tanpa Charissa Wonwoo Aqilla tau, pria bernama lengkap Migunani Mahendra yang sudah berada di hadapannya itu mencoba mencari nama akun SNS -nya secara diam-diam, namun selalu gagal, Migunani tidak pernah menemukannya, bahkan ada suatu waktu ia pernah melihat wajah Charissa dan Jeoannie sedang berpose bersama, tapi feed SNS -nya di-refresh oleh Malviano, kemudian foto itu menghilang, saat dicari di feed-nya Jeoannie, ia juga tetap tidak menemukan nama serta akun Charissa, hanya caption ‘Jalan bersama adik cantik’ dengan imoji hati berwarna merah jambu. Kali ini, Migunani tidak akan melepaskan wanita cantik bermanik rubah yang sudah berada di hadapannya, setidaknya berbincang di mobil dan mengenal Charissa lebih dekat di sepanjang perjalanan tidak dosakan? Kata pria tampan yang sedari tadi sudah membuka outer-nya dan menyampirkan fabric berwarna wash off itu di lengannya.
“Feel free to come inside, princess.” Kata Migunani sembari tersenyum dan kembali memamerkan canines’ tooth-nya yang beberapa jam belakangan ini sedikit mengganggu Charissa. Bukan, Charissa bukan tidak menyukainya, malah sebaliknya, kedua taring imut itu membuat pria tampan di hadapannya terlihat lebih menggemaskan.
‘Ayo, Charis kapan lagi?' kata devil pada pundak kirinya.
'Charis, jangan, nanti kamu baper lho! Kalau dia udah punya pacar gimana?" tegur angel pada pundah kanannya.
'Charis, ngga apa-apa kok, cuma nebeng, lumayan kamu ngga usah takut pulang sendirian, inikan udah malem.' devil pada dirinya mulai lebih agresif, dan Charis menyerah.
"Ok, then. Thank you, Mas Migu." Senyum Charissa merekah menerima tawaran pria tinggi itu, dan disambut dengan senyum lebar dari bibir Migu, dan Charissa masuk ke dalam mobil SUV berwarna biru dongker milik Migunani.
***
Lantunan duo HYBS yang berjudul ‘Ride’ mengalun merdu di mobil SUV yang sedang menyusuri kota Jakarta di malam hari, hening di dalam sana. Migunani yang pura-pura berkonsentrasi menatap jalanan, sedangkan Charissa sedang berusaha mengalihkan pandangan dan pikirannya dengan melihat gedung-gedung yang berhamparan di hadapannya.
“Hmm, mas?” Charissa mencoba memecahkan keheningan di dalam benda beroda empat itu.
“Yes? ” jawab Migunani, menatap sebentar wajah wanita yang berada di sampingnya dan kembali terfokus ke depan.
“Mas Ano itu udah punya istri?” tanya Charissa kepo, tawa renyah Migunani menggelegar.
“Kok ketawa?” tanya Charissa bingung.
“Lo tuh penasaran dari tadi tapi ditahan gitu ya?” tanya Migunani, sedikit meledek Charissa.
“Ngga juga, aku lagi nyari bahan obrolan aja.” Jawab Charissa jujur, Migunani hanya tersenyum mengejek dan menganggukkan kepalanya.
“Hahaha, udah, Ano udah nikah, kayaknya setahun yang lalu sih—” jawab pria tampan itu sedikit tidak yakin.
“Hmm, tahun lalu sih bener, istrinya lagi hamil lima bulan, ngidamnya lucu-lucu deh.” Lanjut Migunani.
“Ih, gemes banget." jawab Charissa.
"Kenapa?" tanya Migu.
"Ngga tau, aku suka gemes sama ibu-ibu lagi hamil, mintanya aneh-aneh terus perutnya bulet." jelas Charissa dengan nada suaranya yang mendadak sangat menggemaskan di telinga Migu.
'Ya Tuhan, semoga jodohku Charissa.' kata Migu dalam hatinya karena gemas.
"Terus, istrinya Mas Ano ngidamnya kaya gimana?” tanya wanita berumur 25 tahun itu penasaran.
“Hmm, contohnya apa ya kelakuan si Nuy? Oh, mau liat Ano makan es doger tapi harus di Lembang, waktu itu Ano baru pulang dari Pulau Komodo seinget gue, akhirnya, beneran malem-malem Ano jabanin tuh nyetir ke Lembang, dan istrinya cuma liat Ano makan es doger doang di sana. Yang kebetulan agak extra dingin ya, besokannya Ano izin, amandelnya kambuh.” Cerita Migunani, Charissa tertawa mendengar cerita Migu.
"Aaaa, istrinya Mas Ano lucu banget." Charissa gemas.
“Terus, ada yang lucu lagi, dua bulan pertama tuh Ano yang morning sick, lo pernah denger ngga sih suami yang morning sick? ” tanya Migu.
“Pernah, hahaha, tapi ngga tau akan kaya gimana, memang gimana, mas?” tanya Charissa.
“Kasian banget pasti ya?” Lanjut wanita cantik itu prihatin, membayangkan Malviano morning sick.
“Gue ngga tau rasanya sih, tapi yang gue liat dari Ano emang nyiksa banget sampe itu anak ngga bisa makan apapun selain buah sama susu," jawab Migu.
"Yah, kasian banget, Mas Ano, kurus dong?" tanya Charissa lagi dengan nada suaranya yang sedih.
"Ya lumayan sih si Ano, but in my personal opinion, gue better morning sick instead of istri gue, kebayang ngga sih lagi butuh-butuhnya asupan makan yang banyak buat dia sama anak gue, dia ngga bisa makan karena morning sick, jujur gue ngga tega, ngebayanginnya aja pusing padahal belum ada istrinya, hahahah.” Jelas Migunani santai sembari tertawa renyah, sebaliknya dengan Charissa, degup jantung wanita berparas rupawan itu mendadak berdegup dengan sangat aneh. Belum pernah ia sebelumnya mendengarkan jawaban seperti yang dilontarkan pria yang berada di balik kemudi saat ini. Menurut Charissa, this is love language with another level.
‘Charissa, kamu dilarang jatuh hati.’ Ucapnya angel pada bahu kanannya, hatinya sedang tertawa sendiri saat ini.
“Rumah lo yang mana?” tanya Migunani membuyarkan lamunan wanita cantik itu.
“Di depan, pager abu-abu.” Jawab Charissa sembari menunjuk pagar rumahnya.
“Okay, we've arrived, Princess .” Kata Migu.
“Oh iya, mas, Cardigan kamu udah bersih, mau sekalian diambilkah?" Tanya Charissa sembari membuka seatbelt -nya.
"Next time,” jawab Migunani.
Iya, Migunani Mahendra, pria yang sudah bertekad mendekatkan diri kepada Charissa Wonwoo Aqilla itu berpikir tentu saja pertemuan seperti ini tidak akan cukup untuknya, ia harus membuat pertemuan-pertemuan lainnya, bagaimanapun caranya.
“Lo masuk ke rumah, bebersih, terus harus langsung istirahat. Today is a long day, isn't it?" pinta pria tampan itu sembari menatap manik elang Charissa dan tersenyum.
“Gue minta nomer lo atau uname line lo, everything is okay,” kata Migunani menyerahkan ponsel nya kepada Charissa.
“Asal gue bisa ngubungin lo.” Lanjut pria itu.
Entah kenapa, saat Migunani mengatakan kalimat itu, kupu-kupu yang berada di perut Charissa yang sebelumnya tertidur setelah pria di hadapannya ini mengatakan ia sangat cantik pada saat pemotretan tadi kini sudah kembali terbangun, dan mengitari usus-usunya, rasa menggelitik di dalam perutnya terasa lagi.
"Here, kabarin kalau kamu mau aku kembaliin cardigannya kapan." Kata Charissa sembari tersenyum manis.
"Will do," jawab pria tampan sembari tersenyum, membalas senyuman yang diberikan wanita cantik yang sebentar lagi akan keluar dari mobil SUV-nya.
"Oke, aku keluar dulu?” kata Charissa ragu sembari membuka pintu mobil di kursi penumpang depan.
“Thank you for today and also the ride.” Kata Charissa.
"Sama-sama, Charis. Good night and sleep tight." Kata Migunani sebelum Charissa turun.
"Good night juga, hati-hati di jalan, Mas Migu." Jawab Charissa dengan suara merdunya, lalu turun dari mobil, menunggu mobil itu berlalu dan membuka pagar rumahnya, lalu masuk ke dalam rumahnya.
Yang sebenarnya Charissa tidak tahu, jantung pria di dalam mobil SUV biru dongker yang baru saja meninggalkan perkarangan komplek rumahnya berdegup tak berbeda jauh dari degupan jantung Charissa, pria tampan berkulit sawo matang itu berusaha menahan nervous -nya ketika mereka sedang berdua. Tak apa, selalu ada lain kali untuk Migunani bertemu dengan Charissa, masih banyak alasan lain yang bisa ia gunakan.
"We always have another time, Charissa." Ucap Migu bermonolog sembari mengintip dari kaca spion yang memperlihatkan wanita yang dia antar sudah menghilang masuk ke dalam rumahnya.
***
Charissa kini sudah berbaring di sebelah Miwo yang sedari tadi sudah tertidur pulas di atas tempat tidur wanita cantik itu. Beberapa menit sekali wanita cantik itu mengecek handphone- nya, betul sekali, ia sedang menunggu Migunani menghubunginya, selain ingin berterima kasih lagi karena sudah mengantarkannya pulang, Charissa juga ingin tahu apakah pria tampan yang hari ini sedikit menggocek hatinya itu sudah sampai ke tempat tinggalnya itu dengan selamat.
Namun, Charissa menyerah, sudah setengah jam bahkan lebih ia menunggu, notifikasi yang ia tunggu tak kunjung datang, akhirnya, wanita cantik itu memutuskan untuk membuka kacamata, serta meletakkan ponsel dan mematikan lampu tidur yang berada di nakas sebelah tempat tidurnya. Sebelum ia memejamkan mata notifikasi ponselnya tiba-tiba muncul dari nomer yang tak ia kenal, bahkan profile picture-nya pun sangat asing untuk wanita itu, namun, ia langsung membukanya, berharap itu adalah nomor Mas Migu yang ia tunggu.
From: +821211100604
Hi Charis
Lalu beberapa saat ada pesan masuk lagi.
From: +821211100604
Hi Charis
Ini Migu
Save nomer gue ya haha
Charissa yang sudah menggunakan piyama dress itu langsung terbangun, menghidupkan lampu, memakai kacamatanya dan mengambil posisi duduk menyandar pada headboard tempat tidurnya. Beberapa kali ia mengetik, lalu menghapusnya lagi, kemudian mengetik ulang balasan untuk Migu, hingga benda pipih yang berada di tangannya berdering dengan nomor yang belum ia save hingga ponsel-nya terbang dari tangannya, hampir mengenai Miwo yang masih tertidur.
"Tidur?" tanya pria di ujung sana dengan suara baritone-nya tanpa berbasa-basi.
"Mmm, belum." Charissa menjawab pria di seberang sana dengan nada suaranya yang lembut, ia tahu siapa pria di seberang sana tanpa harus bertanya siapa.
"Kok belum? Nungguin gue sampe rumah? Hahaha." tanya pria di sana dengan tawanya yang renyah, percaya diri saja dulu, sisanya bisa menyusul, pikir Migu.
Iya, ibu jari Migu yang gatal memilih untuk langsung menghubungi Charissa dibandingkan harus menunggu wanita cantik itu membalas pesannya.
"Ngga juga, tapi kalau dikabarin dan udah sampe ya, syukur." jawab Charissa sembari tersenyum malu-malu.
"Macet, mas?" tanya Charissa kepada pria yang berada di seberang sana.
"Ngga, biasa aja, rumah lo ngga jauh kok." jawab Migu dengan suaranya yang terdengar tiba-tiba sangat jauh.
"Terus ini lagi ngapain? Kenapa suaranya jauh banget?" tanya Charissa sembari tertawa kecil.
"Jauh ya? Gue lagi ganti baju, bentar." jawab suara Migu yang masih terdengar jauh dari speaker handphone-nya.
Pipi Charissa terasa hangat sekarang, sepintas pikiran nakalnya merajai, ia sempat membayangkan bagaimana bentuk tubuh pria tampan di seberang sana bila tidak menggunakan t-shirt putihnya, karena sejujurnya ia sangat penasaran dengan tulisan yang berada di biceps sebelah kanan milik Migu yang mengintip tadi sore. AAAAAAAAAAAAAAAA, rasanya Charissa ingin berteriak, tapi tentu saja ia urungkan, ini sudah malam, tidak mungkin ia membangunkan bunda dan Miwo, lagipula ada Migu di saluran teleponnya.
Lima menit Migu belum kembali, sepuluh menit Migu masih melakukan kegiatan yang entah apa di seberang sana, Charissa tidak tahu, tapi ia masih menunggu Migu kembali hingga wanita cantik itu tertidur dengan smartphone yang menempel di telinga dan pipinya. Charissa sudah berada di dunia mimpinya saat ini.
"Hai, sorry, abis dari kamar mandi." kata Migu yang sudah kembali pada sambungan teleponnya, tak ada suara, hanya ada dengkuran lembut dari wanita cantik yang sudah tertidur di seberang sana.
"Sleep already, hm?" ucap Migu dengan suara baritone-nya yang lembut.
"Good night, cantik." lanjut pria tampan itu, mengambil posisi tidurnya yang terlentang menghadap ke langit-langit kamar apartemennya, dan masih meletakkan ponselnya di telinga, mendengarkan hembusan napas teratur milik Charissa di seberang sana. Belum berniat mematikan sambungan teleponnya, hingga ia ikut tertidur.
