Work Text:
“Dadah, Mas. Hati-hati di jalan, ya. Bekelnya jangan lupa dimakan. Nanti pulang aku masakin sayur asem sama ayam goreng. Love you.”
Rentetan kalimat tersebut keluar dari bibir seorang perempuan dengan paras jelita. Ia mendaratkan kecupan di pipi sang suami lantas melambaikan tangan begitu mobil suaminya itu keluar mundur dari garasi rumah. Senyumannya memudar begitu ia melihat mobil tersebut lenyap dari pandangan.
Perempuan itu masuk ke dalam rumah lalu mengambil ponselnya yang masih tergeletak di atas meja makan bersamaan dengan piring-piring bekas sarapan tadi bersama sang suami. Ia duduk, menyilangkan kakinya sembari jemarinya yang lentik itu dengan lancar mengetik di atas ponsel. Wajahnya berubah sumringah begitu mendengar suara di seberang sana. Jari telunjuk tangan kirinya memilin rambut panjang nan lurusnya dengan manja.
“Sayang, jadi, ‘kan? Aku harus kesana jam berapa?”
Wanita murahan rupanya.
***
“Miss you so much, sayang.”
Kecupan mendarat di pipi Taeyong. Perempuan tersebut membalas kecupan tersebut dengan senyuman penuh rayu, “Do you miss me, or do you miss me riding your dick mercilessly?”
Gelakan tawa keluar dari bibir sang pria, Jaehyun namanya. Pria berlesung pipit manis itu melingkarkan lengannya di pinggang ramping sang wanita. Tangannya menjalar ke bawah lantas meremas bokong kecilnya yang begitu mengundang nafsu.
“I can’t believe we've been doing this for almost a year already. I truly can’t stop thinking about you, everyday.”
Hampir setahun berhubungan gelap, hampir setahun pula Taeyong merahasiakan ini dari sang suami. Pagi hingga petang mencari nafkah, suaminya itu mungkin tak tahu kelakar istrinya itu seperti apa. Tak paham memang suaminya yang dungu, atau Taeyong yang terlalu pandai bersikap lugu.
“Johnny kapan ada business trip lagi? Udah bosen aku main siang-siang begini. Ga tahan mau nge-room sama kamu dari pagi ke pagi.”
Taeyong mengangkat bahunya tanda tak tahu. Ia menghembuskan nafas pendek, terlihat gusar, “Mas Johnny belum ngomong apa-apa lagi ke aku sih. Kayaknya emang ada baiknya kita begini dulu aja. Kalo nekat sampe ketauan aku males ribut-ribut.”
Pahanya yang mulus itu dielus dengan lembut oleh Jaehyun. Tangannya mulai merambat naik menyingkap dress mininya. Kakinya dilebarkan, lalu kewanitaannya itu ditekan-tekan dari luar celana dalam.
“When was the last time he had you?”
“Last night.”
Jaehyun tergelak. Ia menampar kecil kewanitaan Taeyong yang sudah mulai basah tersebut, “Jadi aku dapet bekasan aja? Iya? Haha, fuck, why do I despise him so much?”
Pria itu tersenyum mengeraskan rahangnya. Taeyong menggelayut pada lengan kekarnya lalu mengusap pipi sang lelaki begitu lembutnya, mencoba merayu meredakan rasa cemburu.
“Pack it up, I’m not in the mood right now. Fuck I hate him so much, do I? Who am I though?” Pria tersebut menggerutu pada dirinya sendiri lantas berdiri. Taeyong hanya bisa menggigit bibirnya lalu mendecak pelan.
“Go home. Let’s talk about this later.”
***
Sudah selang berapa hari sejak Johnny berangkat ke Pattaya untuk business trip. Pria itu mengatakan bahwa dirinya akan kembali lusa karena kerjaannya di sana belum selesai. Tiap malam ia menelpon istrinya. Tak jarang juga ia mengocok batangnya sendiri di seberang sana sembari mendengar suara istrinya yang lembut itu.
Mungkin terdengar tak pantas, tapi bagi Taeyong hasrat seksualnya harus terpenuhi meskipun itu dengan cara jahat. Perempuan itu mengundang Jaehyun ke rumah. Apalagi agendanya kalau bukan bersetubuh sepanjang hari bak hewan tak berakal? Lebih jahat lagi karena mereka melakukannya di kamar, di hadapan foto pernikahan Taeyong dan suaminya.
Jaehyun yang baru ia kenal sejak sembilan bulan yang lalu mampu membangkitkan hasrat seksualnya lebih-lebih daripada saat ia melakukan hal tersebut dengan suaminya sendiri. Tentu saja ia harus berterima kasih pada teman golfnya yang sudah mengenalkan Jaehyun padanya. Sang gigolo yang lebih muda dua tahun darinya itu tak pernah mengecewakan sama sekali.
“Sayang, enak banget pepek kamu sayang. Ah… Buka bajunya sayang, keluarin teteknya. Aku mau nyusu. Udah tegang gitu pentilnya, aku suka, nih, yang begini.”
Jaehyun mengulum puting susu Taeyong penuh nafsu sembari menggigit kecil. Kejantanannya masih berada di dalam sana. Pria itu terus menggenjot lubang kewanitaan Taeyong hingga akhirnya melakukan pelepasan. Dirinya mengerang namun masih belum mengeluarkan miliknya. Puting Taeyong yang bengkak dan basah itu dia pelintir dengan kuat lalu payudaranya ia tampar dengan kencang.
“Rasain aku bucat di dalem. Anget, ‘kan? Enak nampung peju sebanyak itu, sayang? Gak sabar ngeliat perut kamu gede ngandung anak haram. When that happens I’m going to run away. You’re just my toy anyways.”
Taeyong mengejar nafasnya, tak mampu untuk membalas rentetan kata tersebut. Ponselnya bergetar namun ia mengabaikannya. Yang ia tak ketahui, Johnny telah berubah pikiran dan mengambil penerbangan pulang dari Pattaya sore tadi. Pria itu tak mengabari istrinya dengan tujuan ingin memberikan kejutan. Entah apa yang akan dia lakukan bila melihat kelakuan sang istri dan selingkuhannya saat ini.
“Enakin kontol gue lagi. Buka mulutnya, yang lebar.” Jaehyun dengan nafsunya yang tak kunjung reda itu menggerakkan pinggulnya maju mundur sembari menjambak rambut perempuannya.
“Fuck, enak banget kontol gue anjiiingggg…” Ujarnya sebelum pria itu meludahi Taeyong tepat di wajahnya. Deepthroating memang favorit Jaehyun. Apalagi dengan wajah Taeyong yang begitu cantik dan bibirnya yang ranum nan lembut. Ia bisa seharian berada di posisi seperti ini. Kerongkongan hangat itu serasa memanjakan batangnya.
Musik yang dipasang Taeyong lumayan kencang sehingga ia tak dapat mendengar apapun apalagi dengan kondisinya yang seperti ini. Di lantai bawah, Johnny masuk ke garasi mendapati ada mobil lain yang terparkir di sana. Ia menyeringai. Tentu saja ia tahu bahwa mobil itu ialah milik Jaehyun.
Dadanya terasa sesak namun inilah yang ia nantikan. Melihat istrinya sendiri digauli oleh lelaki lain bak lacur murahan. Jaehyun dan dirinya telah kongkalikong. Hanya Taeyong saja yang tak tahu apa-apa seperti manusia tolol. Mungkin ia akan terperanjat dan syok berat mendapati suaminya itu telah berada di rumah lebih cepat dari perkiraannya.
Johnny naik tangga begitu pelan dan senyap. Musik dari kamarnya semakin terdengar. Ia berhenti sejenak di depan kamar sebelum menekan gagang pintunya ke bawah. Tepat seperti yang telah diprediksi, Taeyong panik. Perempuan itu berusaha sebisa mungkin melarikan diri dari milik Jaehyun yang masih berada di dalam kerongkongannya. Kakinya memberontak, namun Johnny tahan. Pria itu melebarkan kaki istrinya.
“Bocor banget sampe ngowoh begini. Gue beneran ga disisain apa-apa, nih, Jae?”
Jaehyun tergelak lalu menarik batangnya dari kerongkongan Taeyong. Perempuan itu langsung ingin memberikan penjelasan.
“Mas, ngga, kamu salah, aku bisa—AAAKH!!!”
Dirinya menjerit begitu merasakan kewanitaannya ditampar dengan keras oleh sang suami. Badannya melengkung, alisnya mengkerut. Bibirnya itu menganga menahan sakit di bawah sana.
“Lain kali kalo mau enak, jangan enak sendiri. Egois tau, namanya? Dikira suamimu ini ga tau kalo istrinya pro player? Emang cewek tolol ga pernah bersyukur sama satu kontol. Udah bagus dinikahin, malah banyak tingkah. Kamu bisa begitu, aku juga bisa. Kamu ga tau, ‘kan, selama ini selingkuhan kamu main sama aku juga? Ga tau kan? Ya emang tolol. Kamu cewek tolol. Yang diselingkuhin kok lebih pinter daripada yang selingkuh duluan.”
Jantung Taeyong serasa jatuh ke lambung. Ia salah tingkah. Bagaimana bisa suaminya itu tampak biasa-biasa saja menyaksikannya dalam keadaan seperti ini? Dirinya menelan ludah kasar, mencoba meraih tangan suaminya namun dihempas.
Pria tersebut melepaskan kancing kemejanya satu per satu lantas menanggalkan celana panjang dan celana dalam miliknya, “Ga, Mas ga marah, sayang. Dari awal Mas udah tau. I’m just getting along with your game and fortunately he wants to get along with me too. It’s a fair play, isn’t it? We both get to taste each other’s medicine?” Jemarinya mengelus pipi sang istri lalu menciumnya, “After all I can’t get mad at you, I guess. But you have to see what I need to show you.”
Tak lama kemudian Jaehyun menunggingkan badannya. Jaehyun yang selama ini tampak begitu jantan di hadapan Taeyong kini memohon-mohon agar lubangnya dirojok oleh kontol suaminya.
“Massss, sempit banget udah lama gak main. Kangen diisi sama punya Mas. Memek Adek udah dari tadi malem kedutan ngebayangin Mas mentokin Adek,” begitu rengeknya membuat Taeyong menganga tak percaya. Ternyata selama ini dirinya yang dibodohi.
Johnny tersenyum manis padanya lalu menghampiri Jaehyun, menampar bokongnya, dan meludahi lubang lelaki sempit lelaki itu. Jaehyun meringis menahan sakit. Tak peduli sebasah apapun ia dibuat oleh Johnny, rasanya akan tetap sama seperti diperawani untuk yang pertama kali. Tubuh Jaehyun tersungkur maju begitu merasakan kejantanan Johnny masuk sepenuhnya memenuhi duburnya itu.
“M-Mas… Lobang kawin Adek sempit… Pelan-pelan…”
Tangan kanan Taeyong mulai mengusap-usap klitorisnya, tangan kirinya memilin puting begitu nikmat. Desahan Jaehyun begitu merdu bak pemain film dewasa. Tubuh lelaki itu melengkung ketika Johnny menjambak rambutnya dari belakang. Matanya sayu, pipinya memerah. Mulut menganganya itu dimasuki dua jari oleh pria yang menggagahinya. Ia mengulum, menjilat jari-jari itu begitu lihai. Taeyong masih tak percaya akan pemandangan di depan matanya saat ini.
“Lobang Adek paling enak. Lobangnya istri Mas aja gak seenak ini, Dek.”
Mendengar dirinya direndahkan seperti itu membuat nafsu Taeyong meninggi. Perempuan itu memainkan klitorisnya semakin brutal namun rasanya tentu tak sama seperti saat kewanitaannya dimasuki oleh milik lelaki-lelakinya.
Lubang Jaehyun mengeluarkan suara-suara sensual bak video porno homoseks amatiran yang sering Taeyong tonton. Puting susu gigolo itu dicubit kasar oleh suaminya. Taeyong melihat kenikmatan di wajah Jaehyun. Lelaki tersebut kini seperti mengejeknya. Tampaknya Johnny ingin mengubah permainan. Pria itu menyuruh Jaehyun untuk mengukung badan sang istri.
“Masukin kontol kamu ke memeknya. Mas mau jebolin yang belakang.”
Taeyong sontak kaget. Selama ini baru sekali ia bermain dengan lubang anusnya, itupun menggunakan butt plug yang ia beli diam-diam dari marketplace.
“M-Mas aku belum prep, Mas jangan—AH! MAS SAKIT! MAASSSS SAKIT BANGET,” jerit Taeyong dengan air mata mulai mengalir di pipi.
Tentu saja Jaehyun memanfaatkan situasi tersebut untuk mengemut pentil sang perempuan yang telah tegang dari tadi. Begitu sensitif sehingga Taeyong lupa akan sakitnya di bawah sana. Ia mencengkram rambut Jaehyun, mendekatkan kepala lelaki tersebut pada dadanya. Lenguhan erotis keluar dari bibir perempuan itu.
“Gimana digenjot sekaligus gini? Enak, ‘kan? Senengnya kamu begini, iya? Ngelacur di hadapan suami sendiri? Gak malu?”
Taeyong menggelengkan kepalanya. Lubang anusnya itu semakin digenjot oleh sang suami, “Ya perek mana tau malu. Orang udah tau kalo begini enak.”
Kontol sang suami yang panjang itu tercetak jelas di perutnya. Jaehyun menekan perut bagian bawah Taeyong. Perempuan tersebut meringis nikmat sembari mencengkram sprei dingin di bawah sentuhan jarinya. Klitorisnya bergesekan dengan rambut kemaluan Jaehyun, nyawanya serasa di awang-awang. Bulir-bulir keringat mengalir di dahi dan punggungnya. Surai hitam panjangnya berantakan, wajahnya seperti orang sakau. Tak pernah terbayang sebelumnya bahwa ia akan berada di posisi ini, tepat seperti fantasi di dalam otak mesumnya.
“Jae, hamilin. Bucat di dalem. Keluarin semuanya di dalem. Biar dia hamil.”
Taeyong tak memperdulikan hal itu. Persetan bila ia hamil anak haram setelah ini. Jaehyun semakin menggenjot lubangnya dan kini milik lelaki itu melesak jauh ke dalam. Beberapa kali hentakan lagi sampai akhirnya ia mengerang, menyembunyikan kepalanya di leher sang perempuan dalam kungkungan tubuhnya. Johnny menarik kejantanannya keluar dari lubang anus sang istri, lalu memposisikan dirinya di samping perempuan tersebut. Ia meraih payudara kiri Taeyong lalu menggesekan kontolnya pada benda erotis tersebut. Pentil istrinya yang masih keras itu itu ia gesek-gesekan dengan lubang kencingnya. Tak lama kemudian ia mengerang, mengejar nafasnya lalu mengeluarkan pejunya pada payudara Taeyong.
Johnny menarik kepala Jaehyun yang terkulai lemas itu lalu mencium bibirnya. Tak menyangka bahwa dirinya akan senafsu ini pada lelaki yang ia sebut sebagai gigolo itu. Tangan kanannya meremas bokong Jaehyun lalu jari tengahnya mencolok-colok anus lelaki tersebut sembari melumat bibir ranumnya yang begitu seksi. Lenguhan keluar dari bibir Jaehyun, ia ejakulasi untuk yang kedua kali.
“Should’ve known sooner. It feels so nice to have two fleshlights on my hand.”
