Work Text:
Sudah sejak kapan semuanya menjadi seperti ini?
Ichigo Hitofuri dibakar di dalam api.
Itu bukan jenis api yang melalap segalanya dalam merah dan kuning, bukan juga seperti percikan-percikan kebiruan, namun api itu menjelma menjadi sosok yang putih dan sebuah pelukan erat. Rasanya hangat, tetapi fana; karena sebentar kemudian ia menjadi teringat tentang api yang membungkus tubuhnya di zaman dahulu kala, sementara apa yang menjadi ketakutannya terpampang nyata.
Rasanya mungkin seperti neraka, di saat ia mengetahui kesehariannya kini berubah seratus delapan puluh derajat. Kalau sekarang, mungkin rasanya hanya seperti terbakar, sampai-sampai ia menertawai dirinya sendiri yang pernah meratapi tubuh yang berubah dan api yang membakar, atau bisa jadi, ia masih menjadi seorang penakut menyedihkan yang mencoba menertawai diri sendiri.
Api itu tetap tidak tanggal, pelukan itu juga tidak kunjung lepas, sementara ia sudah terlalu lelah; tetapi akhirnya ia memutuskan untuk bertanya, karena sekarang, sebuah pelukan saja terasa seperti hal yang sama sekali tidak lazim, kata-katanya meluncur dalam ragu-ragu, “Siapa yang Anda cari?”
Orang itu menjawab cepat, tetapi nyaris tidak ada yang terdengar, karena ia memenamkan kepalanya di perpotongan antara leher dan pundaknya dan napasnya terasa geli, meski begitu, ia sudah mafhum, dan mencoba mengejanya kembali menjadi sesuatu yang memiliki sebuah arti.
Ia terdiam saat berhasil mengurainya, namun setelahnya tangannya meraih, menyingkirkan helaian rambut yang menutupi telinga orang di hadapannya, ingin kata-kata terasa setajam mungkin, namun ia hanya bisa melontarkan sebilah kata yang berkesan melemah, “Anda ---”
ia hanyalah refleksi
Mikazuki Munechika mencari sosok lain dalam dirinya.
Ichigo tak hanya mendengar, namun melihat dan merasakannya dengan sungguh-sungguh, sampai-sampai terasa sakit. Itu berbeda dengan saat Mikazuki menatapnya dalam ketika ia mengundangnya untuk teh sore, bukan juga lirikan-lirikan kecil yang dilemparnya saat mereka berpapasan, bukan juga dengan namanya yang dipanggil dengan nada rindu yang pekat.
Ia pernah mendengar tentang Tenka Hitofuri. Tentang dirinya yang dulu,yang ia yakin seratus persen berbeda dengan dirinya yang sekarang. Dikejar karena keindahannya, dicintai karena mei Yoshimitsu yang mendarah dalam dirinya, sebagai bukti bahwa ia adalah asli tempaan sang penempa kenamaan. (Ia yakin, statusnya yang tetap tinggi sekarang pun karena mei Yoshimitsu masih tertanda. Jika bukan, tentu saja ia hanya seonggok pedang yang kehilangan fungsinya, baik untuk perang maupun sebagai karya seni.)
Kadang-kadang, Mikazuki memanggil namanya: Tenka-ya, Tenka-ya, dengan penuh perasaan asing yang tidak pernah ia kenali, mengulitinya dalam-dalam, menggali apakah masih ada sosok itu di dalam dirinya yang telanjang, baik secara konotasi maupun denotasi. Ia mengerti, bukan tubuhnyalah yang dirasakan oleh persona pedang terindah tersebut. Bukan pula hatinya yang diinginkannya (tetapi tidak apa-apa).
Ichigo berjengit saat Mikazuki menggigit lehernya dengan keras. Ada sesuatu yang mengalir, mungkin darah. Ia bisa merasakan lidah Mikazuki membasahinya, mengganti cairan yang mengalir hangat menjadi sesuatu yang dingin dan asing. Ichigo teringat soal cerita tentang vampir—makhluk pengisap darah—yang dulu suka diceritakan oleh Aruji-dono, ia rasa ia mengerti sedikit bagaimana rasanya menjadi seorang korban. Ia menutup matanya, merasakan Mikazuki menghujani lehernya dengan ciuman-ciuman ringan yang memabukkan, mungkin saja sebagai kompensasi darah yang keluar. Ia bersyukur ia tidak memiliki hemofilia.
Ia menutup mulutnya, berusaha menahan suaranya agar tidak keluar sembarangan saat jemari sedingin salju Mikazuki menelusuri tubuhnya, dan bulu kuduknya berdiri menahan perasaan yang meluap-luap, jantungnya berdebar keras untuk hal yang ia tidak mengerti apa.
Orang-orang mungkin akan berkata bahwa Ichigo mencintai Mikazuki, namun Ichigo yakin saat itu ia hanya terseret arus dengan Mikazuki yang memperlakukannya dengan lembut, namun dalam sentuhan lembut itu terdapat sembilu tajam yang mengiris hatinya, dan debaran jantung yang keras itu hanyalah sebuah antusiasme belaka.
Pikirannya terpotong saat sentakan rangsangan dingin pada putingnya yang menegang mengembalikan kesadarannya, ia mati-matian (lagi) menahan suaranya saat Mikazuki memainkan putingnya dengan lidahnya, tangannya mengepal menggenggam selimut seerat mungkin.
“Tidak apa-apa jika kau hendak bersuara,” Mikazuki berujar tenang, terkadang Ichigo merasa ingin sekali merobek-robek otot wajah lelaki di hadapannya yang tetap datar seperti riak air di sungai tenang, sementara ia yakin ekspresinya tidak keruan sekarang, meski begitu, tubuhnya yang menjadi lebih rileks dan kepalannya yang melonggar adalah bukti jika ia telah kalah, telak.
Mikazuki mendorong Ichigo yang kemudian terbaring dengan kepala sedikit terbentur, ia memasukkan empat jemarinya ke dalam mulutnya yang tersedak dan terbatuk, sementara lidahnya berusaha bergerak, membasahi jemari yang bergerak ke depan dan ke belakang, tautan liur panjang terbentuk saat Mikazuki mengeluarkan jemarinya.
Satu jemari masuk perlahan, dan ia berjengit saat otot rektumnya berusaha membiasakan diri, ia menyerah kalah sepenuhnya, kedua tangannya berupaya memberanikan diri untuk melingkari punggung lebar sang pemilik nama bulan sabit tersebut.
Satu jemari masuk perlahan dan jemari kedua masuk lebih cepat, membentuk gerakan menggunting, jemari ketiga masuk tanpa ampun, nyaris saja ia berteriak, namun pada akhirnya yang keluar hanyalah airmata yang sedari tadi menumpuk di ujung mata, mungkin darah juga keluar dari bawah sana.
Ia paham Mikazuki menggunakannya sekedar sebagai pelampiasan belaka, dan Mikazuki juga tidak berniat membuat Ichigo ikut merasa puas, karena yang ia lihat hanyalah Tenka, Tenka dan Tenka, tetapi di saat yang sama ia mengerti bahwa Tenka yang dilihatnya itu juga hanya merupakan ilusi belaka.
Lelaki itu selalu mengganti jemari dengan kejantanan dalam saat yang tidak pernah bisa ia perkirakan, dan rasa sakit yang membelahnya menjadi dua itu membuatnya gila, pelukannya makin erat dan ia bahkan sudah menyerah bersuara, yang ia temukan dalam gerakan-gerakan cepat Mikazuki hanyalah rasa sakit, tidak ada kesenangan yang tersisa untuknya
Saat ia berhasil keluar, rasanya lega, namun di saat yang sama perih di seluruh tubuhnya mendominasi, karena Mikazuki tak sekali pun melihat ke arahnya dan raganya mengkhianatinya dengan menikmati semuanya, sementara apa yang dibanggakannya telah hancur berantakan.
“Ichigo-han,” seseorang memanggil seraya menepuk pundaknya, kemudian duduk di sebelahnya dengan seenaknya mengambil dango yang diberi Tuan karena hari itu ia berulang tahun (Ichigo tidak mengerti apa gunanya merayakan ulangtahun, mungkin karena bagi sebilah pedang, konsep waktu tidak berarti), “Ichigo-han baik-baik saja?”
Logat Kansai, berarti Akashi-dono. Ia tersenyum tipis, “Baik-baik saja, bagaimana?”
Akashi menggaruk kepalanya kikuk, pandangan mata menyingkir darinya. “Ya, itu.”
Ia tidak menanyakan maksudnya lagi, karena ia tahu mereka berdua sama-sama paham. Ichigo menarik kerahnya sendiri, dan memerlihatkan kulit yang bersih tanpa bekas apa-apa. Akashi Kuniyuki mengangguk, dan pembicaraan mengering berbanding lurus dengan kikuknya suasana.
Tidak ada dari mereka yang ingin mengingat situasi kemarin: mereka hanya terlibat dalam perdebatan kecil sebagai seorang kakak dan bagaimana mengasuh adik dengan benar dan bagaimana Ichigo kurang setuju saat Kuniyuki terlihat lebih menyayangi Hotarumaru, situasi saat itu memang sudah aneh, dan tidak ada yang ingin mengalah.
Pada akhirnya mereka terlibat dalam pergumulan yang sama kerasnya, Ichigo tertahan oleh tanah dan lawan bicaranya yang menindihnya, tangannya yang bebas berusaha menamparnya, namun hanya kacamatanya yang terlempar. Terik rupanya ikut mendidihkan tensi, menurunkan titik didihnya.
“Aku akan menunjukkan ini pada adik-adikmu,” dia bilang, tangan menarik jaket panjang yang ia kenakan. “Betapa sang kakak berupaya menyembunyikan diri dengan menyedihkan.”
Netranya menajam, “Anda tidak akan melakukannya.”
Hasil dari pertengkaran mereka saat itu adalah: Ichigo kehabisan energi untuk hari itu dan
“Anda sendiri bagaimana?” Matanya menyipit, tangan menepuk-nepuk tulang belikat dan punggung, sementara wajah lawan bicaranya sedikit memerah, samar.
Akashi terluka sedang.
Akashi teringat soal punggungnya yang berbaret-baret merah dan panjang, seperti bekas cakaran, Hotarumaru sibuk merawat lukanya sementara ia harus meladeni Aizen yang sudah terlanjur ingin tahu dan menertawakannya.
(Setelah itu mereka baik-baik saja.)
“Sebaiknya kita segera pergi,” Ichigo bangkit, tangan menepuk-nepuk paha menyingkirkan debu darinya, mata memandangnya dengan jenaka, “Aruji-dono tadi menugaskan kita berdua sebagai anggota tim pertama.”
Akashi tersenyum geli, “Ichigo-han tidak pernah kelelahan.”
“Memang harusnya begitu, bukan,” Ichigo mengangkat bahu, pedang yang ia bawa ia keluarkan, mencoba menyabet satu dan dua kali, dan tersenyum puas saat merasakan hasilnya, melanjutkan kalimatnya, “Akashi-dono menyia-nyiakan mobilitasnya.”
“Itu tidak benar,” Akashi membantah cepat.
“Itu benar.”
“Ke mana tim kita ditugaskan?”
“Sunomata.”
“Mencari Kogitsunemaru?”
Ichigo mengangguk, “Benar.”
“Ichigo-han.”
“Ya?”
“Aku rasa Tuan kita juga tidak pernah kelelahan.”
Tawa ringan lepas dari mulut mereka berdua. “Yang itu juga benar.”
seperti sebuah mimpi
Onimaru Kunitsuna adalah anggota Tenka Goken yang selalu elegan, ia tahu dia berteman baik dengan Tsurumaru-dono dan dia menjadi langganan para penghuni markas yang bermimpi buruk, sampai-sampai rasanya ia bisa saja meminta bayaran dari mereka dan menjadi kaya, meskipun kata-kata yang diucapkannya dengan serius itu belum pernah menjadi kenyataan.
Namun ia tidak tahu mengapa Onimaru-dono selalu menginginkan bayaran darinya. Ichigo Hitofuri selalu bermimpi buruk, dan Onimaru-dono selalu menjadi tempatnya berlari. Onimaru juga akan menebas setan yang menghantui mimpi buruknya tanpa cacat, kemudian memangkunya seraya menyanyikan lagu-lagu nina bobo hingga ia terlelap.
Saat ia terbangun, ia menyadari bahwa ia bukan terbangun karena bermimpi buruk, namun karena ia nyaris kehabisan napas dan rasanya begitu menyiksa—napas tersendat akibat kedua tangan kuat yang memegangi lehernya, lebih pas disebut mencekik—sementara kejantanan yang berupaya menembus masuk sedalam mungkin dari lubang yang terisi penuh membuatnya terlingkupi dengan keinginan untuk berteriak.
Ia bisa gila, ia bisa gila.
Tatapannya menusuk dalam dirinya, dalam sekali, tetapi tidak seperti saat dengan Mikazuki, Ichigo sama sekali tak bisa menebak apa yang ia cari. (Mata adalah jendela jiwa dan menebak-nebak apa yang ada di dalamnya adalah kebiasaan baru Ichigo.) Mungkin ia mencari Tsurumaru-dono. Mungkin juga bukan.
Ia pernah mendengar jika Tenka Hitofuri pernah bertemu dengannya di kediaman keluarga Ashikaga, seperti Mikazuki-dono, ia mengangguk-angguk dalam hati, benar, mungkin mereka mencari Tenka Hitofuri yang sudah tidak ada di dalam dirinya.
Ichigo Hitofuri Toushirou adalah satu-satunya tachi yang ditempa oleh Awataguchi Yoshimitsu, dan ia selalu meletakkan kebanggaannya dalam itu. Dan ia merasa marah, ia adalah satu-satunya tetapi ia kerap mendapatkan perlakuan seperti ini, ia sungguhan tidak tahu orang seperti apakah Tenka Hitofuri itu, dan jika ia diberikan satu kesempatan untuk bertemu, mungkin ia akan memukul wajahnya dan menanyainya mengapa orang-orang mendatanginya namun tidak mencari dirinya. Jika ia datang sebagai ingatan yang terkumpul kembali, mungkin ia akan memukul dirinya sekeras mungkin hingga ia merasa puas.
Ia menggerakkan tangannya, berusaha memberontak, namun tidak menghasilkan apa-apa. Ia melirik dan tanganya telah ditelikung dan ditahan dengan tambang yang tentunya diambil dari sembarang tempat.
Ichigo tidak mengeluh, tetapi juga tidak menghendakinya, alasannya bertahan hanyalah ini adalah bayaran atas kebaikannya memotong setan dalam mimpinya. Ichigo bisa bertahan.
Mungkin saja, Onimaru hanya mencari teman lama. Awataguchi Kunitsuna adalah saudara yang jauh, mungkin saudara kakek dari kakek Yoshimitsu, dan membicarakan tentang keluarga tak urung membuatnya merasa senang. Namun yang tersisa darinya hanyalah seonggok pedang yang bahkan sudah tidak berfungsi, ia teringat saat Onimaru pertama kali dibawa ke markas: Tsurumaru-dono memasang wajah malas dan Onimaru-dono menyingkirkan pipinya, dan ia yang berdiri kaku menjadi sasarannya: “Okatana Yoshimitsu?”
Saat ia mengangguk, rautnya berubah drastis, “Kamu jadi begini?”
Ia tersenyum sopan saat itu, namun raungan kata ‘jelek’ menggema keras-keras meski tersirat.
Lelaki dengan setengah topeng setan menutupi wajahnya itu menghentikan apa yang ia lakukan—mempersiapkannya—saat menyadari bahwa perhatiannya teralih ke tempat lain, sementara napasnya tergantung saat apa yang membuatnya merasa nikmat mendadak dihentikan. Ia mengerang, namun Onimaru tidak mengambil pusing.
“Onimaru-dono—“ ia memanggil, suara serak dan putus asa, sementara di bawah sana rasanya sakit sekali, biarkan saya keluar, biarkan saya keluar dan biarkan saya pergi—
Namun Onimaru Kunitsuna sudah kehilangan minatnya dan ia bergerak melepaskan ikatan tambang yang mungkin sekarang sudah memerahkan pergelangan tangan Ichigo yang kemudian terkulai, netra kelamnya memandanginya dalam dengan kebosanan, “Selesaikan sendiri.”
Dengan gemetar, Ichigo meraih kejantanannya, namun Onimaru menahannya, “Dari belakang.”
(Ia bahkan tidak mengerti mengapa ia menurutinya.)
“—ugh,” ia mengerang, dalam pemikirannya, ia berusaha menciptakan imaji, tentang saat seperti apa ia diperlakukan begini, oleh siapa, ia mempercepat temponya sendiri dan saat ia memasukkan jari kelingkingnya, ia menemukan puncaknya.
Ia terjatuh dan Onimaru menahannya, ia membaringkan Ichigo di pangkuannya kembali saat ia telah menyelesaikan dirinya sendiri dengan baik dan ia memakaikan kembali pakaian yang terlepas, dan senandung lagu-lagu nina bobo kembali terdengar, seolah meyakinkan dirinya bahwa ia tadi hanya bermimpi buruk.
Tsurumaru adalah orang paling akhir yang menggunakan Ichigo, nyaris setiap hari, ia datang dan menemukan Ichigo dengan tanda bekas gigitan dan merah-merah keunguan tersebar, tubuh yang sudah tak sadarkan diri sementara anus mengeluarkan cairan yang sungguhan tidak asing (entah milik siapa).
Ia akan membersihkannya: menggigit di tempat bekas gigitan yang sama dan memperlebar warna merah keunguan, mengganti semua yang tertera menjadi tanda-tanda darinya.
Tidak perlu jemari untuk mempersiapkan, Ichigo sudah terlalu longgar. Saat ia masuk, cairan-cairan putih yang tersisa keluar dan ia tidak peduli tentang betapa salahnya mengambil keuntungan darinya.
Tsurumaru Kuninaga tersenyum, sangat-sangat tipis.
ia ingin cepat
terbangun
Mungkin saja, satu-satunya yang tidak memandangnya dalam dan mencari orang lain dalam dirinya hanyalah sang pedang Mitsutada yang pernah dimiliki oleh .
Ia selalu mengira, barangkali ia datang karena Hasebe-kun, atau Kuri-chan, namun saat ia mendengar ‘Ichigo-kun’ disebut pertama kalinya, badannya rasanya membeku seketika. Saat ia menyadari, ia sudah memegangi perutnya, tertawa terbahak-bahak hingga histeris (Shokudaikiri juga sama terkejutnya).
Barangkali saat ini adalah saat di mana setan merasuki dirinya, ia tahu, dan ia mengerti, dan saat ia sengaja membuka kakinya lebih lebar, Shokudaikiri sudah terlupa dengan rasa kagetnya.
Di saat seperti ini,apa yang akan kauberikan sebagai tanda terima kasih? Yang ia dapat lakukan saat ini hanyalah membuka lebar kakinya, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan pada siapa pun sebelumnya, menyilakannya melakukan apa pun yang ia inginkan (sudah tidak ada jalan untuk merasa ia menghina dirinya sendiri).
Shokudaikiri menyetubuhinya dari belakang.
Dia tentu bukan yang paling lembut, namun dia juga bukan yang paling kasar. Dia juga tidak melakukannya asal-asalan: ia memastikan dirinya juga merasa nyaman, dan kepalanya yang bertumpu bersama kedua lengannya melawan dinding itu mulai terasa pening.
Namun Shokudaikiri tidak membiarkan perhatiannya teralih,
Cairan membasahi wajahnya saat ia keluar.
(ia tidak merasa senang.)
Ia baru sadar bahwa ia tertidur cukup lama saat matanya memberi bayang-bayang kurang jelas, berkedip, lagi, dan lagi, baru ia mendapatkan imaji jelas untuk pemandangan di hadapannya.
“Ichigo-kun, maafkan aku!” Shokudaikiri memandangi Ichigo yang berbaring miring dengan khawatir—kali pertama juga ia dikhawatirkan, pantas saja kadang Uguisumaru-dono memanggilnya dengan sebutan ‘ayah yang keibuan’—dan berkata bahwa ia akan merawat luka-lukanya jadi ia jangan pergi dulu.
Ichigo tertawa lemah, dalam kondisi seperti ini, rasanya ia sudah tidak sanggup bangkit, dan Shokudaikiri memintanya tidak untuk pergi? Untuk tersenyum pun, sudut bibirnya terasa sakit, tetapi ia tidak peduli, “Mohon jangan dipikirkan,” balasnya, dan batinnya melanjutkan, karena Anda adalah satu-satunya yang memanggil nama saya.
Malam itu adalah malam tanpa bulan yang sepi: tim dua, tiga, empat, semuanya dikirim untuk ekspedisi berdurasi panjang, sementara para tantou dan wakizashi memenuhi tugasnya berperang di Jembatan Sanjou.
Ichigo tidak pernah tahu jika Ishikirimaru masih terjaga di tengah malam. Levelnya yang tinggi membuat Ichigo berpikiran bahwa semestinya ia juga ikut dalam salah satu ekspedisi, namun tidak. Dengan langkah sedikit diseret, ia mendekat, “Ishikirimaru-dono,” panggilnya dengan suara pelan, namun pendengaran oodachi Munechika tersebut rupa-rupanya masih sangat tajam.
Lembut ia membalas, “Ada apa?”
“Saya,” Ichigo melihat ke kanan dan ke kiri dengan was-was, dan kata-katanya selanjutnya terdengar ragu-ragu, ia duduk dengan kaki ditekuk dengan pose militer, “Sedang merasa sakit,
Bisakah Anda memotong penyakit saya?”
Ishikirimaru mengangguk.
Ia tidak bergerak sesenti pun dari tempatnya. (Malam ini yang ia kenakan hanyalah kimono biru cerah yang cukup tipis, sementara bagian lehernya cukup terbuka dan memperlihatkan ketakutan terbesarnya.) Ishikirimaru memandang, ia merapal sutra dan menebaskan pedangnya pada Ichigo yang kaget setengah mati hingga ia menutup matanya erat-erat.
Saat ia membuka matanya, refleks kedua tangannya menyentuh kepala dan lehernya, ia benar-benar bersyukur keduanya masih tersambung dengan baik.
Ichigo membungkuk dalam, “Terima kasih banyak.”
Ishikirimaru menggeleng saat Ichigo bertanya imbalan apa yang ia minta, sebaliknya, tatapannya menelusuri badan Ichigo yang mulai menegang. Tidak meminta apa-apa, hanya tubuhnya untuk semalam, begitu sudah menjadi permintaan yang biasa untuknya. (Kimono yang sedikit acak-acakan, bibir yang sedikit bengkak dan bekas-bekas gigitan di sana-sini, Ishikirimaru menghela napas panjang.)
Sang oodachi menepuk-nepuk tempat sebelahnya, meyakinkan dirinya jika ia tidak akan melakukan apa-apa, dan dengan langkah timpang yang sama, ia mendudukkan diri, sedikit berjengit akibat rasa sakit yang terasa.
Yang ia temukan hanyalah cahaya remang-remang, namun ia memutuskan untuk tetap menatap ke depan, kedua tangan bertautan. Kemudian ia membuka mulutnya, menutupnya, kemudian membukanya lagi, “Saya sudah lelah.”
Ishikirimaru tersenyum, dan berkata dengan nada menasihati yang mengingatkannya pada nada ucapannya pada adik-adiknya yang sedang berbuat nakal, “Kalau begitu berhentilah.”
Ia terdiam, cukup lama sebelum ia membalas dengan ragu-ragu, ia terikat rantai milik entah siapa yang memulainya, dan saat itu, ia tidak menutup-nutupi rasa sedih yang muncul di permukaan, “Saya tidak tahu caranya.”
“Kalau Ichigo, dia akan melakukannya dengan siapa saja.”
Saat sedang sibuk, Ichigo akan pergi ke tempat sepi di markas ini, Tsurumaru sudah hafal benar kebiasaan itu, jadi ia melangkah perlahan saja, bunyi klak-klak geta akan terdengar keras juga di malam sepi seperti ini, dan ia sudah terbiasa berjalan dengan langkah halus (untuk memberi kejutan).
Jika ia menemukan Ichigo tidak sadarkan diri, itu sudah biasa. Dan kali ini ia ada di gudang tempat perkakas untuk merawat ladang disimpan. Mungkin yang baru saja menggunakannya adalah Kunitsuna, ia berjengit jijik.
Ia berjongkok, menyingkirkan pakaian yang diselimutkan asal-asalan padanya, memandangi keadaannya: ada bekas darah di bibir, beberapa lebam di punggung dan pergelangan memerah. Sudah pasti Kunitsuna, dan akibat dirinya, Ichigo sekarang lebih mirip seperti korban kekerasan dalam rumah tangga.
Sudah sejak kapan ini terjadi? Sudah sejak kapan semuanya menjadi seperti ini? Jemarinya membelai rambut Ichigo yang (seperti bayi: halus dan lembut) kini acak-acakan, sementara ingatan membawanya ke masa yang telah lewat.
“Semua salahku,” Tsurumaru berbisik, tangan menangkup pipi yang basah oleh keringat, dan mencium bibirnya dengan lembut, netranya makin membeku saat menatapnya. Ia tahu Ichigo tidak suka dipandangi dengan dalam, tetapi orang lain yang dicari, dan Ichigo patut bersyukur karena ia tidak pernah berusaha mencari sosok yang lain.
“Benar, bersyukurlah,” perintahnya, namun tentu saja ia dijawab dengan sepi. “Kamu ini milikku.”
Tangannya terasa sedikit lengket saat lepas dari pipi dan ia mendecih.
Matanya melihat ke arah bawah, meski kesadarannya telah hilang, kejantanannya masih saja berdiri tegak. Ia menghela napas pendek dan mengangkat bahu, ini bukan urusannya, tapi pekerjaannya akan lebih mudah.
Ia menyentuhnya, dan Ichigo mengerang.
Ia menyeringai.
Belum pingsan sepenuhnya.
Netranya menggelap, dan tangannya menggenggamnya, melakukan gerakan naik dan turun untuk memacu puncaknya agar segera datang, untuk hari ini, ia akan membantunya saja. Sudah tidak perlu melakukan apa-apa, mungkin dia juga sudah merasa tidak kuat.
Ichigo berusaha menggigit bibirnya, dan ia menenangkannya, berkata bahwa ia lihai dan Ichigo tidak akan tersiksa terlalu lama.
“Kamu milikku,” ucapnya berkali-kali seperti sedang menggumamkan mantra.
Padanya, yang kesadarannya semakin menghilang seiring dengan ejakulasinya, Tsurumaru berbisik tepat di telinganya,
“Kamu hanya milikku.”
Tuan mereka adalah seorang gadis baik hati berusia enam belas tahun, dan Ichigo tidak pernah berusaha menceritakan masalahnya pada sang Tuan mengingat fakta ini, dan ia biasanya bisa baik-baik saja. Mungkin juga alasan ia tidak pernah bercerita adalah bahwa sang Tuan selalu berhasil mengingatkannya pada adik-adiknya.
Lagipula selama pedangnya baik-baik saja, semenderita apa pun badannya, maka semua baik-baik saja; luka-luka itu tidak akan permanen.
“Menjadi saniwa bukan berarti saya harus meninggalkan pekerjaan di sekolah saya, Ichigo-san,” begitu sang gadis berkata padanya saat ia menemuinya tetap berkutat dengan buku meski Hasebe berkata bahwa tugas-tugas dan laporan-laporan saniwa yang harus dikerjakan telah selesai, “Saya pun juga harus menuntut ilmu.”
Ichigo tidak bertanya mengapa hal-hal yang harus ia pelajari rasanya begitu banyak hingga memecah otak.
Kali ini, Ichigo membantunya belajar ilmu ekonomi dasar. “Besok ada ulangan, dan saya musti mempersiapkannya dengan baik dan benar,” katanya dengan senyum lebar.
Ia berdeham dan melirik buku tebal yang setengah tertutup di sampingnya, “Hukum Gossen satu.”
Gadis itu tersenyum penuh kemenangan, “Jika pemuasan keperluan terhadap suatu jenis benda tertentu dilakukan secara terus-menerus, kenikmatannya akan terus berkurang sampai akhirnya mencapai suatu kejenuhan.”
Ichigo tersenyum tipis, bunyi hukum itu seperti mengingatkannya pada dirinya sendiri, begitu dirinya menertawai sementara jemarinya lugas menarik lengan pakaian agar menutupi pergelangan dengan baret-baret merah berdarah yang nampak tebal.
