Work Text:
New Jersey, 29 Mei 2006.
Bruce berjalan dan berjalan, menuju tempat yang familiar tetapi begitu berbeda dari yang ia bayangkan. Gedung sepi dengan semuanya tak terkecuali debu yang menghiasi seluruh lantai gedung terbengkalai itu. Laba-laba, begitu pula dengan kecoak yang merambat ke sana dan ke sini.
Fokusnya tertuju ke atas setelah mendengar suara korek api. Sepatu boots miliknya bersentuhan dengan tangga yang berdebu, bahkan penghalangnya juga tertutup dengan debu-debu.
Di atas, ia menemukan seseorang. Rambutnya berwarna coklat gelap, kulitnya kecoklatan, namun mulus di berbagai sisi seolah tidak mengenal jerawat dan bekas luka. Pakaiannya simpel; hanya sekedar kaos putih yang bertuliskan "MIT" dan celana jeans panjang.
Obat-obatan tergeletak di sampingnya, begitu juga dengan narkotika. Asap rokok mengeliling ruangan tempatnya hinggap. Ia menghisap rokok itu seolah hidupnya bergantung kepadanya.
Bruce hanya bisa menatap. Seharusnya ia sudah pulang ke Gotham seperti yang ia janjikan, namun penerbangannya harus ditunda untuk beberapa jam, dan ia merasa bahwa dirinya ditarik ke tempat kusam ini. Dia dan kemampuan supranatural miliknya yang aneh.
Bruce terlalu fokus dengan pikirannya ketika ia menyadari bahwa pemuda dengan rambut coklat itu telah menyadari keberadaannya.
Pemuda itu memiliki mata berwarna coklat, semanis madu. Bersinar di tengah terangnya rembulan malam, agak redup setelah mengambil satu hisapan rokoknya. Seperti malaikat yang sudah tidak memiliki niatan untuk memberikan pahala kepada Tuhan.
"Kau merokok?" pemuda itu bertanya sembari mencondongkan sebuah bungkus rokok.
Bruce menggelengkan kepalanya. "Tidak."
"Narkoba?" sekali lagi ia bertanya. Kali ini suaranya sedikit berbeda setelah merokok. Bruce hanya bisa terdiam untuk beberapa saat, kemudian berjalan mendekati sang pemuda. Usianya mungkin sekitar 15 tahun.
"...dengan senang hati," Bruce menjawab. Entah kenapa, ia tertarik dengan tawaran dari pemuda bermata matahari ini.
Yang lain hanya tersenyum. "Aku Tony. Kau?"
"Bruce."
Perlahan tapi pasti, mereka berdua mulai berdekatan. Bruce berada di samping Tony sembari menikmati langit malam yang terlihat di jendela. Tony kemudian berkata, "Senang bertemu denganmu, Bruce."
Yang mereka tahu saat itu hanyalah mengisap rokok dan narkotika yang mereka miliki. Tony sepertinya sudah terbiasa dengan segala bentuk obat-obatan yang ia konsumsi, begitu pula dengan Bruce. Karena mungkin hidup untuk melatih fisiknya selama tujuh tahun akan merubah seseorang.
Bagaimana cara dirinya beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya adalah yang paling penting. Atau setidaknya itulah yang Ra's Al Ghul katakan kepadanya.
Bruce mulai kepikiran tentang bagaimana keadaan orang-orang yang sudah lama sekali tidak ia temui. Rachel, Alfred, Komisioner Gordon. Entahlah, mungkin mereka tidak akan mengerti apa yang telah terjadi dengannya selama ini.
Ia tak tahu harus berbuat apa. Yang ia pikirkan adalah bahwa ia tidak bisa menembak orang yang telah mengeluarkan dua peluru ke kedua orang tuanya. Ia terlalu lemah. Bruce tidak tahu harus mulai darimana lagi saat ini.
Ia merasa lelah. Hatinya berat, mencoba merelakan fakta bahwa ia tidak bisa membalas apa yang telah mereka lakukan kepada kedua orang tuanya.
"Kau tau, Brucie Sayang, mungkin kau membutuhkan teman untuk diajak bicara saat ini," celetuk Tony secara tiba-tiba. Bruce mengalihkan pandangannya dari sang malam ke wajah matahari cerah dari yang bersangkutan.
"Apa maksudmu?"
"Maksudku ya, Hades, aku hanya ingin kamu untuk jadi lebih terbuka mulai dari saat ini. Aku ingin kau merilekskan pikiran, lalu bercerita tentang masalahmu saat ini," ia menjelaskan.
Bruce hanya bisa diam. Terbungkam. Apakah wajah berpikirnya terlihat begitu jelas bagi Tony? Mungkin fakta bahwa Tony sudah memberikan saran seperti itu adalah tanda bahwa ia sudah menyadarinya dari awal.
"Oke, oke. Aku mulai dulu, ya. Kita akan berbincang tentang masalah dan unek-unek kita." Tony, walau bagaimanapun juga, tersenyum ke arah Bruce. "Aku sebenarnya akan dijodohkan dengan seseorang, tapi aku kabur ke New Jersey."
"Aku juga ingin membuat diriku sendiri keluar dari institut karena pamanku yang sudah ingin cepat-cepat mengawini ku. Fakta lucu, ia tidak suka anak-anak pembawa masalah sepertiku. Lalu... Aku juga ingin bertemu seseorang yang sudah lama sekali aku tunggu. Orang yang mungkin sudah tidak bisa mengingat masa lalunya lagi."
"Bagaimana denganmu?" Tony bertanya sekali lagi, matanya berbinar penuh rasa penasaran.
"Aku..." mungkin akan terdengar gila. Tapi mereka berdua sudah melayang tinggi karena rokok, obat-obatan, dan narkoba. Siapa peduli? "Aku ingin membalas dendam kedua orang tuaku, tapi seseorang sudah mengambil kesempatan itu. Aku akhirnya kabur dari rumah selama tujuh tahun."
"Aku takut keluargaku tidak akan bisa menerima diriku lagi setelah aku tiba-tiba saja menghilang tanpa kabar. Aku takut mata mereka hanya akan diisi dengan rasa jijik dan kekecewaan. Aku tidak tahu harus berbuat apa selain memenuhi hasrat balas dendam yang sudah ku dambakan sedari dulu."
"Aku benar-benar kosong saat ini," Bruce melanjutkan. Suaranya parau karena berada dalam ujung tangis yang ditahan. Dia kosong. Begitulah. "Semua harapanku seperti telah pupus."
Tony hanya bisa tersenyum simpatik. "...apa kau pernah berpikir bagaimana yang orang tuamu rasakan ketika mereka tahu bahwa anak mereka saat ini adalah masalah berjalan? Aku pernah terpikir seperti itu."
"Mungkin untuk mengakhiri semuanya juga. Dengan rokok, obat-obatan, narkoba, alkohol. Aku melakukan ini sudah sejak aku berusia 14 tahun dan siap masuk ke Institut Teknologi Massachusetts," lanjutnya. "Aku sudah kehilangan orang tuaku sejak aku berusia 10 tahun. Rasanya hampa."
"Begitu pula dengan diriku. Ketika aku berusia 9 tahun," Bruce bergumam. Mereka berdua seperti membagi kesengsaraan mereka ke satu sama lainnya. "Aku kehilangan mereka dengan cara paling buruk. Aku tidak mengerti mengapa."
"Semuanya memang benar-benar kacau, ya?" Tony tertawa pahit. Nafasnya tercekat di tenggorokan ketika mengutarakan isi hatinya. Bruce bisa merasakannya, entah kenapa. "Dan kau tau mengapa ini semua menjadi kacau, 'kan, Hades?"
"..." Bruce tidak bisa menjawabnya.
Secercah cahaya muncul di pikirannya untuk sekilas.
Dalam hitungan detik semuanya menjadi lebih jelas. Hades. Persephone.
Orang tua Bruce yang asli.
Bruce, bentuk nyata dari hubungan seksual yang dilakukan oleh kedua dewa dewi Yunani itu. Pangeran Dunia Bawah.
...
"Tahu maksudku sekarang, Pangeran?" Tony dengan senyuman manisnya menatap Bruce. "Seseorang yang sudah lama sekali aku tunggu, namun hanya mengingat secercah dari masa lalunya."
"Anthony."
Kesalahan yang dibuat oleh Hephaestus dan Aphrodite ketika bercinta di bumi, Anthony Stark. Bruce begitu familiar dengan jenius satu ini, entah kenapa. Tapi semuanya menjadi jelas. Baginya ini semua sudah cukup.
Mungkin orang-orang akan mengira bahwa ia terbawa suasana, bahwa ia sedang berada di bawah efek obat-obatan. Tapi ia tahu persis perasaan ini. Sama seperti ketika ia kehilangan kedua orang tuanya. Perasaan aneh, sangat aneh, yang begitu ia benci.
Rasa familiar yang menggerakkan hatinya.
Bruce tahu persis apa yang sedang terjadi saat ini. Ia mengingat dengan jelas bagaimana dirinya dan Anthony bertukar janji, kemudian secara berkali-kali lahir di dunia manusia, sebuah siklus yang tidak bisa dihentikan oleh dewa dewi manapun. Janji sang Hasrat dan Keabadian yang tidak bisa diingkari.
Bruce mengingat bagaimana ia terlahir sebagai seorang ksatria di kehidupan pertamanya, Tony sebagai seorang pangeran, dan mereka mati sebagai pasangan rahasia. Di kehidupan kedua, Tony adalah seorang perempuan cantik di masa industrial. Di kehidupan ketiga mereka berdua adalah perempuan di era Victoria.
Kehidupan keempat... Mereka harus rela kehilangan satu sama lain di medan perang. Lalu di kehidupan kelima, ini takdir mereka.
Bruce lahir enam tahun lebih cepat dari Anthony. Membuatnya melupakan segala bentuk janji yang mereka buat. Ikrar mereka yang telah dilupakan. Lalu, disinilah mereka. Di sebuah gedung tua tanpa penghuni yang pasti, obat-obatan, rokok, dan alkohol. Jiwa mereka lagi-lagi bersatu.
Bruce mengepalkan tangannya. Tangan yang perlahan-lahan menunjukkan bentuk aslinya. Berwarna hitam, seperti sebuah virus telah menginfeksi dirinya. Tapi itu tidak menyakitkan. Ini adalah bagian dari tubuhnya. Sang Keabadian, seorang dewa minor; melambangkan keabadian, keputusasaan, dan kekerasan.
Lalu, Tony mendekatkan wajahnya ke Bruce. Hidung mereka saling bersentuhan, dan Bruce tidak bisa menolaknya. Tony dengan figurnya yang seperti matahari, cemerlang dan penuh harapan. Dan Bruce tidak bisa menolak ajakan dari perwujudan Hasrat Seksual itu sendiri.
"Betapa lemahnya dirimu tanpa diriku, hm.." jari-jemarinya bergerak membuka jaket Bruce. "Kamu memang benar-benar simbol keputusasaan, ya, Bruce?"
"Anthony."
"Ya, sayang?" Tony mendekatkan dirinya ke tubuh Bruce lebih jauh lagi. Merasakan bagaimana pedang kebanggaannya sudah berdiri tegak, layaknya tiang-tiang di Dunia Bawah. Dan Tony hanya melihatnya dengan tatapan penuh empati.
"Berhenti menggodaku dan cepat biarkan aku merusak vagina mu," Bruce berkata dengan pedangnya yang sudah berdiri tegak. "Buka kaki itu lebar-lebar untuk diriku, jalang."
Tony tertawa. "Inikah salam sambutan dari dirimu untuk diriku, hm?" Tony menjilat ujung bibir Bruce dengan nada penuh dengan sugesti. "Oh, anak nakal. Cintaku yang nakal dan mesum. Pangeran ku."
Mulut Bruce bersentuhan dengan bibir merah muda Tony. Sementara Tony hanya bisa mengeluarkan sebuah desahan kecil, menikmati permainan mereka yang dimulai dari hal kecil; ciuman. Sebuah ciuman yang intens, penuh dengan hasrat seksual dan keinginan untuk menyatukan hati mereka kembali.
Mereka bergerak secara berirama. Di lain sisi, tangan Bruce sudah bergerak untuk menyentuh alat kelamin Tony yang basah bukan main. Didekorasi dengan warna merah muda yang seperti menggoda Bruce untuk segera melahap benda tersebut.
"Jalang murahan."
"Jalang ini hanya milikmu saja, sayang."
Mereka membuka ciuman mereka hanya untuk melanjutkannya dengan hal yang lebih.
Seperti ketika Bruce tiba-tiba saja memiliki sebotol pelumas dan kondom. Memang gila. Tony hanya bisa tertawa ketika Bruce melepas vibrator kustom dengan "PANGERAN" yang tertulis di pinggirannya. Seperti sebuah ajakan untuk melakukan sebuah dosa di malam hari ini.
Bruce mengaplikasikan pelumasnya di jari dan benda panjang yang sudah menunggu dirinya untuk beraksi menghancurkan kelamin seseorang. Tony mendesah setelah benda yang ada di vaginanya dihilangkan oleh sayangnya, cintanya.
Bruce secara perlahan memasukkan kontolnya. Tony memegang punggung Bruce erat-erat saat itu juga. Mendesah dan mengeluarkan kata-kata yang tidak bisa dipahami oleh Bruce sendiri.
"Sayang—..." Bruce mulai mengatur ritme dan posisinya di dalam tubuh manis dari sayangnya yang sudah menyebutkan nama Bruce seperti sebuah mantra rahasia yang akan menyelamatkannya dalam segala situasi yang dihadapi.
"Kau pasti sudah menungguku sejak lama," bisik Bruce. "Ini adalah hadiah karena telah dengan sabar menungguku hingga sekarang. Apakah kamu suka ini, adiwarna ku?"
"Ngh, sayang. Sayang, sayang, sayang..." nama panggilan itu diutarakan Tony seperti sebuah mantra sihir. Bruce yang kesal segera menutup mulut Tony dengan mulutnya sendiri. "Mmmh..."
Dengan tangan yang jahil, Bruce menyentil pentil Tony yang terekspos setelah Bruce mengangkat baju sang remaja 15 tahun itu. Tangan Tony segera memegang punggung Bruce erat-erat; menghasilkan bekas cakaran yang terlihat jelas.
Benang-benang saliva muncul ketika mereka melepaskan ciuman mereka yang panas. Sekali lagi, suara-suara hawa nafsu mulai keluar dari mulut Tony. Bruce mengabaikannya sementara pandangannya hanya tertuju kepada leher bersih milik Tony. Tidak tersentuh apapun.
Meninggalkan bekas gigitan di sana dan dimana-mana. Bruce seperti seekor nyamuk yang kelaparan setelah melihat bagaimana menggodanya tubuh Tony.
"Ah...—, Bruce, Bruce... Bruce sayangku. Pangeran ku. Bisakah kau lebih cepat? Ku mohon?" Bruce menggerakkan kontolnya dengan lebih cepat di dalam tubuh Tony, membuat yang manis mengeluarkan suara penuh hasratnya. "Aahh!"
"Mmh... Anthony. Anthony. Cintaku," Bruce berkata sembari mencium setiap bagian yang ia lihat di tubuh yang dicinta.
Leher Tony berakhir penuh dengan cupang.
Bruce kemudian memindahkan mereka berdua ke sebuah tempat yang lebih pribadi. Wayne Manor. Bagaimana? Entahlah. Bruce mungkin atau mungkin bukanlah seseorang yang terobsesi dengan sihir di masa-masa kejayaannya sebagai seorang dewa.
Di kamar yang penuh dengan aroma mawar, mereka mulai bercinta sekali lagi. Tony nungging memamerkan bokongnya yang semok, atau setidaknya itulah yang Bruce pikirkan. Sementara Bruce memasukkan penisnya secara perlahan; menjebak Tony di dalam sebuah kesenangan seksual.
"Karena kamu sudah menjadi anak baik hari ini, maka ku pikir kamu sudah berhak mendapatkan hadiah," bisik Bruce. Perlahan tapi pasti, dinding orgasmenya sudah tidak dapat menahannya.
Terlepasnya sperma ke dalam tubuh Tony membuatnya mengerang. Dia menyukainya, sebuah rasa suka yang tidak bisa mereka sembunyikan dari satu sama lainnya.
Bruce berakhir dengan melumat habis bibir Tony di ronde terakhir mereka. Sebuah keheningan melanda, dan mereka memutuskan untuk mandi bersama di Wayne Manor. Dengan Tony yang masih tersenyum seperti seorang idiot.
Mereka berada di kamar mandi. Bersama. Di bathtub pun bersama. Betapa romantisnya hari ini, dan Bruce bisa sejenak melupakan betapa kecewanya dirinya di kehidupan ini setelah kehilangan kedua orang tuanya tanpa mengetahui bahwa itu adalah takdirnya. Takdir yang ia buat sebelumnya.
Bruce menghela nafas panjang. Ia kemudian merilekskan dirinya di bathtub sementara Tony membersihkan dirinya. Bruce dapat melihat bagaimana Tony memiliki bekas operasi payudara. Dia tidak menyadarinya ketika sedang melakukan seks dengan Tony.
"Kau terlahir perempuan di kehidupan kali ini," kata Bruce. Tony menengok ke arah Bruce kemudian mengangguk dengan senyum di wajahnya.
"Aku terlahir perempuan, memang. Tapi aku merubahnya sebisaku. Aku tidak terlalu suka menjadi seorang perempuan," balas Tony dengan suara pelan.
"Itulah sebabnya mengapa pamanmu ingin cepat-cepat menikahi dirimu? Untuk merubah tubuhmu menjadi apapun yang ia inginkan?" Bruce berkata dengan kesal.
"Hm..."
Bruce menyilangkan tangannya dengan kekesalan yang menumpuk di hatinya. Ia tidak tahu persis apa yang terjadi pada Tony selama ini, sebelum ia akhirnya bertemu dengan Bruce kembali.
"Baiklah kalau begitu. Ini sudah saatnya aku kembali ke Massachusetts," Tony berkata. Bruce seperti ingin memberhentikan pacarnya agar tidak meninggalkannya, tapi ia tidak bisa. Ia tahu bahwa ia tidak memiliki hak untuk melakukannya.
"Ku harap kau akan kembali ke dekapanku dengan selamat."
Gotham, 14 Februari 2025
Bruce mencium pipi Tony. Meskipun waktu telah berputar, wajah Tony tidak berubah sedikitpun. Cantik. Sama seperti ketika Bruce terakhir kali melihat bentuk dewa dari sayangnya yang begitu ia cintai. Memang anak dari pasangan Aphrodite dan Hephaestus tidak akan pernah menjadi sebuah subjek kegagalan, ya?
Richard "Dick" Grayson memberikan tepuk tangan kepada mereka berdua. Jason meletakkan kue yang telah ia buat bersama dengan Alfred untuk hari spesial ini. Tim memotret apapun yang bisa diabadikan. Dan semuanya terlihat ramai.
Malam Valentine adalah malam paling spesial dikarenakan di hari itulah Bruce dan Tony benar-benar menjalani sebuah hubungan di masa dimana mereka masih menjadi dewa Olympus.
Tony memegang erat-erat tangan Bruce, kemudian melihat ke arah yang bersangkutan. Bruce hanya bisa tersenyum.
Tony tidak bisa menjadi jelek di matanya, ya? Memang pesona personifikasi dari Hawa Nafsu tidak akan pernah mengecewakan siapapun. Termasuk Bruce yang merasa bahwa ia tidak layak memiliki Tony selama ini.
Dia sudah menua. Dan ia tahu itu. Tapi Tony... Tony selalu menjadi semakin mempesona di matanya setiap harinya.
"Selamat Valentine, sayangku." Tony memberikan sebuah ciuman kecil di bibir Bruce. Dengan ini, mereka benar-benar merayakan hari peringatan hubungan mereka berdua, serta hari Valentine. Betapa manisnya hari ini.
Penuh dengan coklat, gula, dan cinta.
"Begitu juga denganmu, manis ku."
Malam itu kemudian diakhiri dengan sebuah ciuman yang menandakan betapa bahagianya mereka memiliki satu sama lainnya.
"Hari yang melelahkan!
PS; Hades Telah Mencuri Hatiku!"
