Chapter Text
Tempat itu sangat mengerikan. Mayat bergelimpangan di mana-mana, aroma darah yang anyir begitu pekat menyelimuti tanah lapang yang terbakar tersebut. Suara teriakan beserta hunusan pedang adalah bunyi utama yang terdengar, sulut api yang tidak padam juga menjadi salah satu pemandangan yang menghiasi di sana.
Sepasang mata merah kecoklatan itu memandang medan pertempuran dengan tatapan nanar, penuh kemarahan, dan juga bercampur aduk dengan kesedihan. Tubuhnya yang terluka parah ia abaikan, bahkan kekuatannya yang hampir tidak tersisa pun tidak menjadi halangan baginya untuk tetap berjalan menuju salah satu sudut di tempat itu.
Di sana, dia melihat sosok yang menjadi penyebab kekacauan di kerajaannya—dunia— tengah bertarung dalam dengan seorang pria berambut hitam pekat. Pertarungan mereka sebenarnya tidak bisa dikatakan sebuah pertarungan apabila yang terjadi hanya satu sisi, sosok musuh berambut merah yang sama dengannya menghajar pria berambut hitam dengan telak, membuat sang pria berambut hitam kewalahan dan terluka parah.
Sosok cantik berambut merah darah itu menggeretakkan gigi. Dia tidak bisa membiarkan White Star membunuh sang pahlawan—sosok berambut hitam— di tempat ini. Walaupun dia tidak menyukai sang pahlawan karena pengalamannya terdahulu, setidaknya sang pahlawan adalah satu-satunya harapan dunia saat ini untuk mengalahkan White Star. Sangat berbeda dengannya, dia hanyalah sosok sampah dari keluarga Count yang bahkan keberadaannya saja tidak diharapkan.
‘Setidaknya hanya ini yang bisa aku lakukan. Aku bisa memberinya waktu meskipun itu hanya sebentar,’ pikir si cantik berambut merah darah tersebut.
Dengan langkah yang tertatih, dia terus berjalan menuju medan pertempuran antara White Star dan Choi Han. Lingkaran cincin di kedua matanya bersinar, membuat sepasang iris merah kecoklatan itu berkilau layaknya permata yang indah. Tanah tempat medan pertarungan bergetar, akar yang besar muncul dari arahnya dan bergerak cepat menuju arah mereka.
Lalu, pohon-pohon besar dengan daun merah-oranye menyembul dari permukaan tanah. Akarnya bergerak, menyerang White Star yang kini melompat untuk menghindarinya.
“Kekuatan kuno pohon….” White Star menoleh ke samping, menemukan sumber dari serangan itu.
Dia melihat sosok seorang pemuda yang mengenakan baju zirah berdiri tidak jauh dari sana. Namun, yang menarik perhatiannya adalah warna rambutnya yang semerah darah dan juga…
“Waktumu sangat aneh, mereka benar-benar terselubung dan tidak bisa dilihat sama sekali,” gumam White Star. Perhatiannya terarah kepada sosok si cantik berambut merah, dia mengabaikan sang pahlawan yang kini telah terluka parah.
“Sangat mengesankan,” imbuhnya lagi.
White Star bergerak cepat, kini dia sudah berada kurang dari dua meter dari sosok si cantik berambut merah yang masih bernapas berat.
Cale Henitus—nama si cantik berambut merah darah— tidak membalasnya. Cale mengusap pipinya yang terkena lumuran darah, nyala matanya yang masih memiliki lingkaran cincin memandang White Star dengan penuh kemarahan dan juga kebencian. Pria ini adalah penyebab Cale kehilangan ibu, ayah, keluarga, dan juga rumahnya. Dia sangat membencinya.
“Aku juga bisa mengatakan hal yang sama padamu. Waktumu juga terselubung sama sepertiku. Sangat aneh.” Seraya mengambil napas dalam-dalam, Cale pun menyuarakan apa yang dilihatnya.
Annual rings of life, nama kekuatan kuno yang dimiliki oleh ibunya dan juga bangkit dari darah keluarga Thames. Cale yang mendapatkannya pun bisa melihat waktu dan kehidupan seseorang. Meskipun hanya setengah—yang mana setengahnya lagi ada di tangan White Star— yang dimilikinya, Cale bisa melihat waktu seperti apa yang White Star miliki, mereka sama anehnya dengan milik Cale seperti yang mendiang ibunya katakan.
“Heh… sangat mengesankan, tapi aku tidak membutuhkan gangguan dari seekor serangga di sini.”
White Star menjulurkan tangan kanan ke arah Cale. Api yang begitu panas muncul di telapak tangannya, mereka bergerak dengan kecepatan tinggi ke arah Cale dan membakar sosok si cantik berambut merah darah. Api langit yang dikeluarkan oleh White Star menyerang dan membunuh Cale tanpa perlawanan darinya.
“CALE HENITUSE!!!”
Suara yang meneriakkan namanya terdengar di medan pertarungan. Suara yang dikeluarkan oleh Choi Han yang melihat Cale terbunuh mengiringi kepergian Cale, sampah dari keluarga Count Henituse, dari dunia ini untuk selama-lamanya.
*******************
Saat sepasang mata merah kecoklatan itu terpejam untuk selama-lamanya, di tempat lain sepasang mata dengan iris yang sama pun terbuka.
Angin sepoi menyapu wajahnya. Rerumputan hijau dan bunga yang tumbuh di tempat itu bergoyang sesaat saat menyambut si empunya mata terbangun. Mereka terlihat bahagia, bahkan suara gemericik air dari danau kecil yang berada tidak jauh dari tempatnya berbaring pun menyambut kebangkitannya.
Secara perlahan dia bangkit dari posisi berbaringnya di atas rerumputan hijau. Rambut panjangnya semerah darah itu menyapu punggung yang hanya terbalut oleh kemeja lengan panjang warna putih yang dikenakannya. Angin yang bertiup kembali membelainya, membuat rambut sepanjang pinggang miliknya ikut terbelai untuk sesaat dan si empunya tersenyum kecil.
Melihat sekelilingnya, dia seperti tengah berada di padang rumput penuh bunga yang tumbuh di sebuah reruntuhan kuil. Langit biru yang cemerlang menjadi atap, lalu suasana alam yang begitu asri pun menjadi penyeimbang yang kental. Dia… orang yang dipanggil sebagai Cale Henituse di dunia lain akhirnya bisa membuka matanya lagi di tempat itu.
Suara derap langkah kaki datang mendekat. Teriakan kecil penuh kegirangan pun terdengar, lalu sosok seorang gadis kecil yang terlihat seperti berusia sepuluh tahun datang menghampir sosok cantik berambut merah yang masih terduduk di atas padang bunga.
“Tuan… Tuan Dewa, akhirnya Anda terbangun juga!! Saya sudah menunggu Anda!!” seru sang gadis, kentara sekali kebahagiaan yang terpasang pada sepasang mata biru langitnya.
Cale Henituse mengerjapkan kedua mata. Dia tidak lekas menjawab panggilan itu ataupun memberikan penyanggahan mengenai panggilan sang gadis kecil yang diberikan padanya. Cale menengadahkan kepala, ia menatap birunya langit di atas sana dengan tangan kanan terbuka ke atas, seolah-olah dia ingin menangkap sesuatu di atas sana.
Senyuman kecil terulas di bibir merah muda Cale. Beberapa helai rambut panjangnya berkibar sesaat akibat godaan angin sepoi yang datang mendekat. Cale yang terlihat begitu damai benar-benar berbeda dengan Cale yang ada di medan pertempuran, bahkan ekspresinya itu tidak menunjukkan kesengsaraan maupun rasa sakit akibat terbakar hidup-hidup oleh api milik White Star.
“Tuan Dewa, Anda sudah lama tertidur. Apakah Anda bermimpi indah selama tidur panjang itu?” tanya gadis kecil lagi, kali ini ada nada penuh keingintahuan yang terbesit dalam suaranya.
Cale mengalihkan pandangannya. Helaan napas ia keluarkan, mereka terbuka sedikit, seperti rasa lelah yang berselimut dalam ketenangan ingin memuncah. Cale menoleh ke arah gadis kecil, tangannya melambai ke arah gadis itu yang disambut penuh suka cita oleh sang gadis. Ketika gadis itu datang mendekat dan duduk di samping Cale, sang pemuda berambut merah darah menepuk puncak kepala sang gadis, kemudian dia membelai rambut pirang itu dengan penuh kelembutan.
Deheman kecil terdengar sebagai komentar dari Cale. Suaranya mirip seperti melodi yang menyejukkan telinga, senyuman di bibir gadis kecil berambut pirang itu melebar tatkala dia mendapatkan jawaban kecil dari Cale.
‘Dia benar-benar mudah merasa puas,’ batin Cale yang kini merasa sedikit geli.
Lagi-lagi angin yang berhembus dari timur menunjukkan kehadirannya, mereka tidak suka diabaikan oleh Cale dan sang gadis kecil. Desirannya menyapu lembut, sampai Cale harus melindungi wajahnya agar rambut lembutnya tidak menghalangi pandangannya akibat tersapu oleh angin.
“Mimpi indah….” Cale mengulang kalimat yang gadis kecil berikan tadi. Lalu tatapannya meredup sesaat sebelum memberikan jawaban. “Apakah mimpi itu bisa dikatakan sebagai mimpi indah?”
Diabaikan, terpaksa berlaku sebagai sampah, kehilangan keluarga dan rumahnya, lalu mengalami—dan terjun— perang selama lebih dari 20 tahun sebelum tewas di tangan musuh besarnya.
Apakah yang seperti itu bisa dikatakan sebagai mimpi indah? Cale tidak tahu jawabannya.
“Tuan adalah dewa kehidupan dan penciptaan. Apabila Tuan Dewa menginginkan mimpi indah menghiasi tidurnya, Tuan bisa melakukannya,” ungkap sang gadis kecil, senyuman kecil mendekorasi wajah mungilnya.
“Begitukah?” Cale terlihat terkesan. Dia menggunakan satu tangan untuk menumpu dagu, matanya yang berwarna merah kecoklatan itu bersinar terang layaknya sebuah matahari senja di ufuk barat.
“Tapi Hestia, seorang dewa tidak bisa menentukan mimpi macam apa yang akan dilihatnya dalam tidur panjangnya, termasuk pula dewa kehidupan dan penciptaan seperti diriku,” imbuhnya lagi.
Dan mimpi yang Cale alami dalam tidur panjangnya, yang Cale alami sebagai inkarnasinya di dunia, tidak bisa disebut sebagai mimpi indah. Tragedi bertubi-tubi melanda hidup Cale. Pada akhirnya dia harus kehilangan nyawanya dan tidak berdaya untuk mengakhiri hidup musuh besarnya. Apa jadinya dunia itu setelah inkarnasi yang Cale tinggalkan di sana tewas, Cale tidak bisa mengetahuinya.
“Adik kecilku sudah terbangun pada akhirnya.”
Sebuah suara dalam yang menggoda tiba-tiba saja terdengar di tempat itu. Hestia—nama gadis kecil— tiba-tiba menoleh ke salah satu sudut tempat itu saat ia merasakan aura kematian yang begitu kuat muncul di sana. Seorang pria bertubuh tinggi yang mengenakan jubah hitam berjalan dari balik persembunyiannya. Pria itu memiliki kulit kecoklatan dan rambut silver panjang yang ia ikat menggunakan pita hitam.
Aura kematian yang Hestia dan Cale rasakan berasal dari pria itu.
“Dewa kematian sialan,” celetuk Hestia. Dia keceplosan mengatakannya saat wujud sang dewa tiba-tiba saja muncul dan datang begitu saja.
Langkah Dewa Kematian yang awalnya begitu keren dan memiliki kharisma langsung tersandung begitu dia mendengar julukan tidak sopan dari Hestia padanya. Wajahnya yang cool juga berubah, rengekan kecil keluar dari bibirnya, dia menatap Hestia dan Cale bergantian sebelum meraung kecil.
“Caleeee…. Lihat pesuruhmu itu, dia memanggilku sialan tanpa ada rasa ragu sedikit pun!!!” rengek si Dewa kematian, dia bergegas menghampiri Cale yang masih menghiraukannya.
Orang yang dipanggil oleh Dewa kematian bergeming di tempat, masih duduk memunggunginya. Setelah menepuk puncak kepala Hestia sekali lagi, Cale pun bangkit dan berdiri dari posisinya. Dengan kekuatan dewanya, tumbuhan muncul dari permukaan tanah dan membentuk dua buah kursi kayu yang nyaman dengan sebuah meja berada di tengahnya. Cale duduk di salah satunya, lalu Hestia pun menggunakan kekuatannya untuk mengeluarkan satu set perangkat jamuan teh plus kudapan kecil yang kemudian ia tata dengan rapi di atas meja.
“Cale, kau menghiraukanku,” tuntut si Dewa kematian lagi karena Cale tidak memberinya jawaban.
Dengan satu tangan memegang secangkir teh nektar ambrosia yang dituangkan oleh Hestia, Cale tersenyum kecil.
“Bukankah kau tahu sendiri opini seperti apa yang Hestia miliki mengenai dirimu, mengapa harus terkejut lagi kalau dia memanggilmu sialan,” kata Cale dengan kalem. Dia menyeruput tehnya dengan elegan, sekali lagi menghiraukan tatapan penuh skandal yang Dewa kematian berikan padanya.
“Cale, kita lama tidak berjumpa tapi kata-katamu masih menyakitkan hatiku. Huhuhu… aku ini kakakmu, tidakkah kau seharusnya memberiku hormat sedikit saja?!” ungkap Dewa kematian setelah dia mengambil tempat duduk di depan Cale.
Berbeda dengan sikap penuh hormat yang Hestia berikan kepada Cale, gadis kecil itu menganggap sosok penguasa tidur abadi tidak lebih dari seonggok batu atau angin yang bisa diabaikan. Bahkan Hestia tidak segan untuk tidak menuangkan teh nektar ambrosia kepada Dewa kematian. Cale yang melihatnya hanya bisa menyembunyikan senyum dibalik pinggiran cangkir keramik yang masih menempel di bibirnya.
Si cantik berambut merah darah yang dikenal sebagai Cale Henituse atau sampah pengecut di dunia manusia, sebenarnya bukanlah seorang manusia. Dia adalah seorang dewa kuno, satu dari lima jajaran dewa tertinggi yang terlahir oleh kehendak Dewa Chaos, dewa pertama yang terlahir sebelum banyak dunia dan dewa tercipta. Cale merupakan dewa kehidupan dan penciptaan.
Di mata dewa kematian, Cale merupakan sosok yang begitu tenang dan bisa dikatakan sebagai saudaranya walaupun keduanya berbeda generasi. Dewa primordial—termasuk Cale— sudah banyak yang tidak aktif, mayoritas dari mereka banyak yang memutuskan untuk tidur dan menyerahkan pemeliharaan banyak dunia kepada dewa yang lebih muda.
Walaupun Cale memutuskan untuk tidur dan tidak aktif, tidak banyak yang tahu kalau dia memiliki inkarnasi di sebuah dunia manusia sebagai Cale Henituse. Dewa kematian, Dewi matahari, Dewi keseimbangan, Dewa cinta, dan Dewi bulan adalah para dewa yang mengetahuinya.
Tidak ada yang menyangka kalau inkarnasi dari Dewa tertinggi, Cale, akan berakhir tragis seperti ini. Dalam hati Dewa kematian merasa sedikit bersalah, White Star yang mengacau di dunia tempat inkarnasi Cale berada mendapat kutukan seperti ini karena ulahnya juga.
Seperti tahu akan pikiran macam apa yang menggerogoti kepala Dewa kematian, Cale tersenyum kecil. Dia meletakkan cangkir yang dipegangnya ke atas tatakan keramik sebelum dia mengarahkan mata merah kecoklatannya pada sosok dewa ‘muda’ di depannya.
“Azrael, apa kau lakukan dengan mengunjungi domainku?” tanya Cale. Dia membuka pembicaraan karena dewa di hadapannya itu masih diam membisu.
Sang dewa kematian yang tidak berani menatap Cale pun mengacak rambut panjangnya. Dia mengambil napas dalam-dalam, terlihat sedikit tidak nyaman di bawah mata Cale yang terus memperhatikannya.
“Haah… aku merasa sedikit bersalah dengan apa yang terjadi pada inkarnasimu.” Dewa kematian—Azrael— mencicit, suaranya terdengar begitu lirih.
Seraya menumpu pipi di atas tangan yang bersandar di sandaran kursi, Cale mengangkat satu alis. Dia mengerti maksud Azrael, akan tetapi sang dewa memilih untuk bersikap bodoh dan berpura-pura tidak tahu.
“Hoo… kesalahan apa yang kau perbuat sampai kau merasa bersalah seperti itu?” tanya Cale, senyuman penuh ketertarikan di balik kekalemannya pun terulas pada bibir murah muda.
Azrael semakin terlihat tidak nyaman. Dia ingin pergi dari sana, tapi mata merah kecoklatan yang memperhatikannya tidak membiarkannya untuk pergi begitu saja.
“Itu… karena White Star yang mengacau dunia. Ehem…” Dewa kematian—Azrael— berdehem ringan, memutus kalimatnya. Namun kemudian dia melanjutkannya lagi. “Sebenarnya itu bukan kesalahanku sepenuhnya. Dewa tersegel, Dewa keputusasaan, serta Dewi keseimbangan juga bertanggung jawab penuh karena itu. Dewa keputusasaan melakukan perjanjian dengan White Star dan menawarinya untuk menjadi dewa, makanya dia menjadi seperti itu. ”
“Dan Dewi keseimbangan membiarkannya begitu saja.”
“Lalu?” Cale masih tenang, namun bukan berarti dia akan membiarkan Azrael begitu saja.
“Jadi… jadi….”
Melihat betapa tegangnya Azrael sampai dia enggan untuk berkata-kata—atau karena dia takut, Cale mendesah kecil. Dia menyandarkan punggung pada sandaran kursi di belakang, membuat dirinya senyaman mungkin.
“Kau ingin menebus kesalahanmu padaku,” tebak Cale secara tiba-tiba.
Azrael menganggukan kepala. “Benar. Aku tidak terkejut lagi kalau kau bisa mengetahuinya dalam waktu yang singkat. Cale, aku ingin menebus kesalahanku dengan membuat kesepakatan denganmu. Aku meminta bantuan Dewi waktu dan ruang dan Dewa cinta untuk mengembalikan waktu kesedia kala, inkarnasimu bisa kembali ke sana untuk mengubah masa depan.”
“Lalu apa yang kau inginkan sebagai imbalannya?” tanya Cale.
Kali ini Azrael berani mengangkat wajahnya. Senyuman sumringah ikut muncul di bibirnya, membuat sosok sang dewa menjadi lebih enerjik dibandingkan semula.
“Aku akan mengembalikan anak kesayanganku ke dunia asalnya. Dia adalah kunci untuk mengembalikan kestabilan dunia yang dirusak oleh Dewa keputusasaan. Aku ingin kau membantu anakku ketika dia tiba di dunia itu,” tuturnya.
“Dan Dewi keseimbangan akan membiarkan kau berbuat sesukamu dengan mengirim anakmu ke sana?” tanya Cale dengan tenang untuk sekali lagi.
“Dunia itu mengalami kekacauan sampai keseimbangannya hancur juga karena salahnya. Aku bersama yang lainnya menekannya, dia berjanji untuk tidak ikut campur lagi. Oleh karena itu, kau bisa merasa tenang untuk kembali ke inkarnasimu—yah walaupun aku tahu kau tidak pernah takut dengan Dewi keseimbangan,” balas Azrael.
Hening. Setelah Azrael menyelesaikan penjelasannya, baik Cale maupun Hestia yang berperan sebagai pembantu Cale pun tidak mengeluarkan suara. Walaupun keduanya diam, Hestia masih memiliki tatapan ganas yang seolah-olah ingin melahap Azrael hidup-hidup di matanya. Gadis kecil itu terlihat marah, dia merasa tidak terima dengan nasib tragis inkarnasi dewa yang dijunjungnya seperti ini.
‘Dan semua itu adalah salah Dewa kematian sialan ini!!!’ geram Hestia dalam hati.
Tatapan ganas Hestia tidak mempengaruhi Cale sedikit pun. Sang Dewa kehidupan dan penciptaan hanya merasa lucu saja.
“Azrael, apa yang membuatmu begitu percaya diri aku akan menerima tawaranmu seperti itu?”
Pertanyaan yang dilontarkan oleh Cale bertindak sebagai air dingin yang mengguyur keantusiasan Azrael, membuat si Dewa kematian terkesiap.
Menggelengkan kepala untuk mengusir keterkesanan yang dimilikinya, Cale pun kembali melanjutkan ucapannya. “Aku ini hanya seorang dewa primordial yang tua, aku merasa tua dan ingin beristirahat. Mengurusi urusan duniawi tidak lagi menjadi tugasku.”
“Cale, aku yakin kau akan menerimanya. Meskipun kau menyebut dirimu sebagai dewa primordial, tapi aku tahu dirimu. Kau tidak puas dengan apa yang terjadi di dunia itu, lagi pula kau juga tidak terima kalau dunia yang kau ciptakan dengan penuh cinta kasih menjadi hancur karena ulah White Star ‘kan?”
Melihat Cale terdiam, Azrael pun segera mengambil kesempatan untuk membujuk sang dewa lagi.
“Tidak hanya itu saja, kau juga peduli kepada keluargamu di dunia itu. Keluarga Henituse meninggal karena ulah White Star!!” Azrael memberikan pukulan telak kepada Cale, membuatnya terdiam.
Ah… yang Azrael katakan benar. Cale menunjukkan ketabahan dan ketenangannya, bersikap seolah-olah dia tidak peduli dengan apa yang terjadi pada inkarnasi di dunia itu, namun yang terjadi adalah sebaliknya.
Ayah Cale —Dewa Chaos— sering mengatakan kalau Cale memiliki hati yang lembut dibalik kedewaannya. Hatinya mudah tersentuh, dan karena itulah Cale memiliki spot khusus untuk keluarga Henituse dimana inkarnasinya dilahirkan.
Cale tidak terima keluarga manusianya berakhir dengan tragis seperti itu. Azrael benar, Cale peduli.
Merasa tahu dengan keputusan macam apa yang akan Cale ambil, Azrael—sang Dewa kematian sialan dalam kamus Hestia— pun menyeringai kecil. Dia tahu kedatangannya ke domain Cale tidak akan berakhir sia-sia.
‘Rok Soo, anakku, aku melakukan ini juga demi untukmu. Kau dan Cale akan menjadi pasangan yang serasi seperti yang Dewa cinta katakan padaku, aku harap kau akan mengambil kesempatan ini dan menggunakannya sebagaik-baiknya.’
Cale yang malang. Tanpa sepengetahuannya, kesepakatan yang Dewa kematian berikan padanya itu memiliki sebuah konspirasi kecil yang dibuatnya bersama Dewa cinta. Namun, hal ini tidak akan melukai Cale. Justru sebaliknya, kesepakatan ini adalah apa yang akan membuat Cale bertemu dengan benang merahnya.
Chapter 2
Notes:
Trash of The Coun't Family adalah milik Yoo Ryeo Han
(See the end of the chapter for more notes.)
Chapter Text
Melodi itu bergema di telinganya bersamaan dengan hembusan angin, menerpa wajah dan tubuhnya yang tengah terbaring di atas tempat tidur mewah itu. Sepasang mata merah kecoklatan perlahan-lahan terbuka, kesadarannya pun kembali ke tubuh, dan seiring dengan itu pikirannya mulai jernih. Alih-alih langsung bangkit dari posisi tidurannya, ia memilih untuk tetap berbaring seraya membiarkan ingatan demi ingatan bergabung menjadi satu dengan jiwanya.
Ketika Cale kembali membuka mata, hal pertama yang ia lihat adalah kanopi familier dengan langit-langit kamar yang membuatnya teringat pada masa lalu. Tidak berapa lama kemudian, Cale mulai mengubah posisinya—berbaring di sisi tubuhnya, lalu dia menatap tangan mungil yang merupakan tangannya sendiri.
Tangan itu kecil, putih, dan juga mulus tanpa ada luka di sana. Kening Cale berkerut sesaat, dia tampak memikirkan sesuatu sebelum kemudian menghembuskan napas dalam-dalam. Menenggelamkan wajah pada permukaan bantal empuk, mata Cale kemudian berubah menjadi sedikit lebih sayu, lalu erangan kecil lolos dari bibir mungilnya.
‘Apakah ini artinya aku kembali ke masa lalu? Di mana inkarnasiku berada sebelum tragedi itu terjadi.’
Lagi-lagi Cale mengerang, kali ini suaranya terdengar sedikit lelah. Tatapannya menerawang ke samping, ingatan demi ingatan yang tubuh kecil ini miliki akhirnya berhasil Cale dapatkan. Tidak lama kemudian, Cale memejamkan kedua mata untuk sesaat sebelum membukanya kembali.
“Delapan tahun… Azrael, kau mengirimku ke tubuhku yang berusia delapan tahun,” gumam Cale lirih. Dia berbicara pada udara kosong, entah sebenarnya ingin menghardik Dewa kematian atau malah menertawakan diri sendiri. Sebuah ironi benar-benar tersaji di depannya.
Usia delapan tahun dalam hidup Cale Henituse adalah waktu di mana Jour akan meninggalkannya. Ayahnya yang depresi akibat kehilangan ibu Cale pun mengurung diri, dia tidak mau bertemu dengan Cale karena anak itu akan mengingatkannya pada mendiang sang ibu. Tidak lama kemudian, ayah Cale memilih untuk meninggalkan Cale, lalu keluarga barunya datang, dan Cale memulai reputasinya sebagai sampah dari keluarga Count.
Apabila Azrael ingin mengirimnya ke masa lalu, tidakkah sang dewa bisa mengirimnya ke waktu yang tepat?
Lelah... jiwanya benar-benar lelah. Cale ingin beristirahat dan tidak ingin memikirkan apapun untuk sementara. Entah kenapa dia merasa sedikit menyesal menerima tawaran Azrael yang ingin mengirimnya ke masa lalu.
Namun, keinginan Cale untuk tetap beristirahat berbanding terbalik dengan realita. Seseorang mengetuk pintu kamarnya, mengindikasikan kalau kedamaian yang ia harapkan untuk sesaat harus sirna.
“Tuan muda, apakah Anda sudah bangun?” Suara seorang pria paruh baya memanggilnya.
Suara pintu dibuka dari luar pun terdengar, lalu si pemilik suara itu masuk ke kamar Cale. Langkah kakinya tidak menimbulkan suara, begitu halus seperti seorang pembunuh yang tengah mengendap-endap untuk mengintai mangsanya. Sebelum Cale melihat si empunya suara, dia sudah bisa menebak siapa orang itu.
“Ah… Anda sudah bangun rupanya,” ujar si pemilik suara. Ada nada penuh senyuman dalam suaranya.
Satu-satunya orang yang selalu membangunkannya di pagi hari dan menanyakan hal sama adalah Ron Molan, kepala pelayan Keluarga Henituse dan juga pelayan pribadi Cale. Tidak hanya itu saja, Ron juga merupakan orang yang Cale anggap sebagai figur ayah sebelum dia meninggalkannya sendirian tanpa kabar untuk mengikuti Choi Han ketika Cale mengalami koma setelah pemuda itu memukulinya.
Cale termenung untuk sesaat ketika ia melihat sosok Ron. Hampir dua puluh tahun lamanya Cale tidak melihat sosok Ron, dan sekalinya ia bertemu dengan sosok yang telah mengasuhnya sejak kecil itu, Cale tidak tahu harus mengatakan apa. Apakah itu rasa kikuk dan khawatir yang Cale miliki?
“Ron,” gumam Cale, memanggil nama sang kepala pelayan.
“Iya, Tuan muda. Ron ada di sini untuk melayani Anda,” jawab Ron dengan penuh hormat, akan tetapi suara penuh senyum yang dimilikinya mengatakan hal lain. Pria itu terlihat menyayangi si kecil berambut merah dengan caranya sendiri.
Mengalihkan pandangannya dari Ron, Cale bangkit dari posisi tidurannya untuk duduk di atas tempat tidur. Punggung kecilnya bersandar pada kepala tempat tidur, poni rambutnya sedikit menutupi area mata sehingga sebersit emosi di kedua mata merah kecoklatan tersebut tidak dapat terlihat.
“Berikan aku air dingin,” pinta Cale. Suaranya lembut dan sedikit dingin pada saat yang sama.
“Baik, Tuan muda Cale.”
Sesaat setelah Ron keluar dari kamar, Cale mulai mengangkat wajahnya. Alih-alih rasa gusar maupun panik yang terpetak, wajah manis milik Cale tidak menunjukkan emosi apapun kecuali rasa tenang yang dimilikinya. Jiwanya yang telah bergabung sepenuhnya sebagai Dewa kehidupan dan penciptaan membuat pikiran Cale menjadi jauh lebih tenang, emosi yang sering berkecamuk dalam dirinya tidak lagi menjadi volatile seperti sebelumnya.
Cale sadar kalau rasa kemanusiawiannya menghilang sedikit demi sedikit setelah ia bangun untuk kedua kalinya di dunia ini. Apakah itu merupakan hal baik atau tidak, Cale tidak dapat mengetahuinya untuk sekarang.
Cale menurunkan kedua kakinya ke atas lantai. Dia berdiri lalu berjalan menuju ke arah kamar mandi. Berdiri di depan cermin besar dalam kamar mandi, Cale melihat pantulan dirinya secara seksama.
Sosok anak kecil berusia delapan tahun itu terlihat sangat manis, seperti sebuah boneka porselain mahal yang dimiliki oleh bangsawan. Rambut pendek semerah darah, kulit putih alabaster dan terlihat mulus, bibir mungil itu berwarna merah muda sehat, lalu sepasang mata merah kecoklatan yang tampak jauh lebih dewasa dari usia yang sebenarnya. Cale yang berusia delapan tahun benar-benar mirip seperti malaikat manis. Aneh menurutnya.
Auranya benar-benar terpancar sempurna akibat keilahian yang Cale miliki.
“Tuan muda, apa Anda ada di kamar mandi?” Ron yang telah kembali ke kamar Cale pun memanggilnya.
Cale menoleh dari pantulan dirinya di cermin. Tanpa menjawab pertanyaan Ron, ia mengambil air dingin dan membasuh mukanya. Buliran air turun dari pelipis dan pipinya. Rasa segar mengusir kantuk yang hampir sirna dari benaknya. Setelah itu Cale mengambil sebuah handuk kecil untuk mengeringkan wajah.
Setelah merasa jauh lebih segar, Cale beranjak dari sana untuk menghampiri Ron yang telah menunggunya di kamar. Dan benar saja, Ron telah berdiri menghadap ke arah kamar mandi dengan membawa segelas teh hangat alih-alih air putih yang ia minta sebelumnya.
“Air dingin di pagi hari tidak terlalu sehat bagi tubuh Anda, Tuan muda, karena itulah Ron ini membawakan secangkir teh hangat untuk menyegarkan sistem Anda,” kata Ron dengan senyuman kecil penuh keramahan di wajahnya.
Cale tidak memberikan banyak komentar, dia hanya menerima teh hangat yang dibawakan Ron untuknya. Dari aromanya saja sudah kentara kalau teh yang ada dicangkirnya merupakan teh lemon. Kening Cale mengernyit sesaat, ada sebersit rasa tidak suka terulas di kedua matanya, namun anak itu tidak mengatakan apapun sebelum meneguk habis tehnya tanpa menggambarkan ketidaksukaannya.
‘Ho… Tuan muda ini cukup mengesankan pagi ini,’ pikir Ron. Pria itu sedikit terkesan dengan tindakan yang Cale lakukan. Jelas-jelas Cale tidak menyukai teh lemon, tetapi dia masih meminumnya tanpa memberikan ekspresi apapun di wajahnya.
‘Bahkan dia tidak merengek seperti biasanya.’
“Siapkan air hangat untukku,” pinta Cale setelah menyerahkan cangkir teh kosong pada Ron. “Ngomong-ngomong, di mana ibu sekarang?”
“Countess masih berada di Desa Harris untuk menyelesaikan urusannya. Kalau saya tidak salah terka, kemungkinan besar sekarang ini beliau ada di perjalanan untuk menuju rumah,” jawab Ron.
Desa Harris.
Cale memejamkan kedua mata. Dia mengambil napas dalam-dalam sebelum kembali membuka kedua matanya.
‘Dan hari ini adalah awal dari semuanya. Azrael, kau benar-benar mengirimku ke waktu yang sangat ‘tepat’.’ Seraya meletakkan beberapa helai rambut ke belakang telinga, Cale tidak lupa menyuarakan kata sarkastis untuk Azrael dalam hatinya.
“Ron, aku ingin kau melakukan sesuatu untukku,” ujar Cale kemudian.
Dia tidak menoleh ke arah Ron sehingga Cale tidak mengetahui kalau ekspresi yang terulas di wajah pria itu menjadi lebih serius. Mata Cale menatap ke arah jendela kamarnya yang terbuka. Pandangannya sedikit menerawang, bibir merah mudanya pun juga terbuka sedikit. Sosok anak manis itu terlihat lelah namun kekaleman dan aura yang dimilikinya membuat Cale tampak sedikit melankolis—misterius.
“Tuan muda tinggal katakan saja apa yang harus Ron ini lakukan untuk Anda. Dengan senang hati saya akan melakukannya,” ungkap Ron.
“Kau awasi semua pelayan yang bekerja di rumah agar mereka tidak melampaui batas. Aku memiliki firasat kalau sesuatu yang besar akan terjadi hari ini dan apa yang terjadi itu akan membuat beberapa orang mengambil kesempatan untuk melakukan kekacauan,” tutur Cale.
Cale menoleh ke arah Ron. “Dan vassal dari County. Aku ingin kau mengawasi mereka, terutama setelah berita kepulangan ibu dari Desa Harris menyebar.”
Walaupun Ron tidak mengerti mengapa Cale memberikan perintah seperti itu, sebagai pelayan yang loyal dan setia kepada tuannya, Ron menyanggupi perintah yang diberikan oleh Cale.
Setelah selesai memberikan instruksi kepada Ron, Cale pun mandi lalu sarapan di kamarnya. Untuk sekarang dia tidak memiliki niatan barang sedikit pun untuk sarapan bersama dengan Count Henituse, dia belum siap untuk melihat wajah ‘mendiang’ ayah inkarnasinya tersebut.
Deruth Henituse adalah pria yang baik. Dia cakap menjadi Count dan memimpin wilayahnya, namun Cale tidak bisa mengatakan pria itu sebagai seorang ayah yang baik. Mungkin saat Jour masih hidup dia bisa menjadi ayah yang baik, namun setelahnya Cale tidak dapat melihatnya.
Menggelengkan kepala, Cale mengusir pemikiran tidak penting tersebut.
‘Hari ini Ibu akan pulang dari Desa Harris dengan kondisi yang buruk, dia akan meninggal pada hari yang sama. Aku harus mengurus semuanya agar kejadian di masa lalu tidak terulang lagi. Aku tidak bisa mengandalkan Ayah untuk melakukannya.’
Cale berjalan menuju rumah kaca pribadi milik sang ibu. Dalam rumah kaca tersebut Cale melihat banyak tanaman berbagai rupa, dan aura alam yang begitu kental benar-benar terasa dalam tempat itu. Menarik napas dalam-dalam, tekanan yang tidak kasat mata di kedua bahu kecilnya berangsur-angsur menghilang kala kakinya membawa Cale masuk ke sana.
Ia membiarkan kekuatan ilahinya sebagai Dewa kehidupan dan penciptaan keluar sebanyak satu persen. Kekuatan tersebut membuat energi alam dalam rumah kaca menjadi lebih kaya, bahkan tanaman yang awalnya tumbuh subur pun menjadi benar-benar asri. Beberapa bunga yang lalu kini menjadi sangat sehat, bahkan kuncup bunga maupun buah-buahan di sana pun ikut mekar dan tumbuh ranum.
Apabila ada orang lain selain Cale melihat semua itu, mereka akan terperangah penuh keterkejutan. Sebuah keajaiban yang tidak pernah terjadi muncul di hadapan mereka. Beruntungnya rumah kaca itu merupakan bangunan pribadi, Jour telah memberikan perintah kalau tidak ada seorang pun yang boleh ke tempat itu kecuali dirinya dan Cale.
“Bunga kesayangan Ibu, mawar merah yang mencerminkan seorang Thames, satu-satunya bunga yang tumbuh di taman seorang dewa.”
Tangan mungil Cale menyentuh beberapa bunga mawar merah yang mekar dalam rumah kaca. Kekuatan ilahinya membuat bunga mawar tersebut bertambah merah, seperti butiran darah yang ia jatuhkan ketika menciptakan mawar merah Thames untuk yang pertama kalinya. Mereka tampak misterius, indah, dan memiliki karismanya masing-masing.
Cale berdiri di antara bunga mawar yang tumbuh mengelilinginya. Warna semerah darah layaknya warna rambutnya, mereka sangat indah, membuat Cale ingin tersenyum.
“Meski aku kembali ke tempat ini sekali lagi, semuanya masih sama. Aku tidak dapat mengubah segalanya.”
Ada rasa penyesalan dalam suaranya.
Hidup seorang Cale Henituse tidak pernah jauh dari kata tragedi. Di usianya yang masih belia, yaitu delapan tahun, Cale harus kehilangan sosok seorang ibu yang sangat ia cintai. Dan kematian sang ibu merupakan awal dari tragedi lainnya yang terjadi beruntut dalam hidup Cale.
Melihat sosok Jour Henituse nee Thames terbaring lemah dengan tubuh bersimbah darah, Cale tidak tahu harus merasakan apa lagi. Ini adalah kali keduanya dia melihat hal seperti ini, Jour yang berada di ujung hidupnya sebelum meninggalkannya untuk selama-lamanya.
Alih-alih menangis atau meraung penuh pilu, Cale yang berdiri di samping tempat tidur di mana sang ibu terbaring tampak tenang. Tatapannya begitu kalem, tidak lebih dari air danau yang mengalir tenang di musim semi, bahkan semilir angin tidak dapat mengganggunya. Pemandangan ini begitu kontras dengan sang ayah, Deruth Henituse, yang kini tengah menangis sejadi-jadinya dan memohon agar Jour tidak meninggalkannya.
Cale sudah terbiasa dengan ini. Dia sudah mengalami perpisahan di kehidupan pertamanya, dia sudah mengucapkan salam perpisahan kepada sang ibu yang meninggalkannya dulu.
“Sweetie…” Dengan suara lemah dan sedikit parau, Jour membuka kedua matanya dengan susah payah untuk memanggil Cale.
“Mama,” gumam Cale dengan suara yang sama lembutnya.
Dia berjalan mendekat. Setelah mengambil tempat duduk di tepi tempat tidur, Cale mengulurkan tangan kecilnya, ia menggenggam tangan pucat milik Jour dengan lembut. Melihat ekspresi penuh kedamaian sang ibu, hati Cale terasa begitu sakit, namun wajahnya tidak menampakkan ekspresi apapun kecuali ketenangan.
Cale menoleh ke arah Ron, memberinya instruksi untuk membawa Deruth keluar dari kamar sang ibu. Pria itu kelihatan begitu sedih dan patah hati, bahkan Cale memiliki firasat kalau ayahnya akan pingsan pada saat itu juga karena kesedihan berlebih yang dirasakannya.
Setelah Ron membawa Deruth pergi, yang ada di dalam kamar itu hanyalah Cale dengan Jour saja. Mata keduanya saling bertemu, berbagai emosi yang tak bisa terucapkan menggunakan kata-kata pun tersalurkan melalui kehangatan kecil dan pandangan mata. Cale membuka bibir sesaat, namun sepatah kata tidak keluar dari sana, atau lebih tepatnya ia tidak bisa melakukan itu. Ada beribu kata yang sebenarnya ingin Cale ungkapkan kepada sang ibu. Hanya saja, kebisuan menyapanya.
“Sweetie, kamu tidak perlu melakukan itu. Mama sudah mengambil keputusan,” kata Jour tiba-tiba.
Tatapan penuh pengertian diberikan oleh wanita itu. Dia menghentikan usaha Cale yang akan menggunakan kekuatan ilahi untuk menyembuhkan Jour.
Satu tatapan penuh kedamaian dari Jour serta senyuman kecilnya membuat Cale tersadar, ia menarik dan menyegel kembali kekuatan penyembuhnya sesuai permintaan sang ibu. Jour tahu siapa dirinya.
“Anak Mama yang paling imut akhirnya menjadi lengkap lagi, Mama senang melihatnya meskipun ini untuk yang terakhir kalinya,” bisik Jour. Walaupun terdengar lemah, Jour tampak bersemangat.
Cale menundukkan kepala. Ia menyembunyikan diri dari pandangan Jour.
“Mama tahu hal itu?” Cale mencicit kecil, kentara sekali dia memperlihatkan usia tubuhnya yang sebenarnya.
Suara tawa kecil dari Jour meredamkan suasana penuh depresi dalam hati Cale, membuat anak manis itu kembali mengangkat wajahnya.
“Awalnya Mama tidak tahu. Namun, melihat anak Mama yang sekarang, Mama langsung mengetahuinya. Siapapun kamu sebelumnya, kamu tetaplah menjadi anak Mama yang paling manis,” jawab Jour singkat, namun semua itu sudah cukup untuk menjawab semua keraguan dalam hati Cale.
Sebelum Cale dapat berucap lagi, Jour lebih dahulu menyelanya.
“Cale, melihatmu yang sekarang sudah membuat Mama merasa lega. Waktumu yang dulu begitu terselubung dan jalanmu ke depan penuh akan duri tajam, hal itu membuatku sangat khawatir. Namun sekarang…. Waktumu berubah, Mama tidak bisa membacanya.”
Tangan Jour meremas milik Cale, ia pun melanjutkan lagi. “Meskipun demikian, Mama memiliki firasat kalau ini adalah yang terbaik. Mama merasa lega sekarang.”
Sekali lagi, Cale tidak menyelanya, dia mendengarkan kata-kata sang ibu dalam diam.
Setelah mengubah posisi duduk, dengan kedua lutut menyentuh permukaan empuk kasur dan tubuhnya condong ke depan, Cale memeluk Jour yang paling dia sayangi dengan erat namun penuh kehati-hatian. Ia membenamkan wajahnya pada leher sang ibu, mencari kehangatan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun lamanya terpisah dari Jour Thames.
“Sweetie…” Seraya membelai helaian lembut rambut Cale, Jour kembali memanggilnya.
“Setelah Mama pergi, Mama ingin anak Mama yang paling manis tetap bahagia dan tidak terlarut dalam kesedihan,” pesan Jour. “Walaupun Mama tidak memiliki mata surga untuk melihat masa depan, Mama tahu seperti apa Papamu itu. Apabila kau tidak merasa bahagia di tempat yang sama, kamu harus temukan kebahagiaanmu sendiri. Sekali-kali kamu harus menjadi egois demi kebahagiaan itu.”
Cale menggelengkan kepala.
“Cale sayang… sweetie. Maafkan Mama yang telah berlaku egois seperti ini, Mama melakukan semua ini demi harapan kau bisa selamat dari kejarannya. Namun, melihatmu yang sekarang setidaknya Mama merasa lega, anak Mama yang imut dan manis rupanya adalah orang yang besar di masa lalu. Mama senang mengetahuinya.”
“Uhuk…”
Jour terbatuk-batuk, dadanya bergetar, dan tidak lama kemudian darah segar berwarna sama dengan rambut mereka keluar dari sudut bibirnya. Waktu yang Jour miliki di dunia ini tidak berlangsung lama. Jour mengetahuinya. Cale juga mengetahuinya, dia sudah mengalami hal ini untuk kedua kalinya.
Mengangkat tubuhnya dari Jour, Cale menekan dada Jour seraya menyalurkan kekuatan ilahinya untuk menenangkan wanita itu. Walaupun Jour menolak untuk disembuhkan, tapi Cale bisa mengangkat rasa sakit yang dideritanya ‘kan?
Cale tidak lagi mencoba untuk menyembuhkannya, Jour telah melarang Cale melakukan hal itu. Meskipun Cale ingin menolaknya, namun ia menghormati keputusan sang ibu. Jour telah mengucapkan selamat tinggal kepada dunia sebelum dia pergi ke Desa Harris, dia melakukan pengorbanan ini demi keselamatan Cale.
“Sweetie,” panggil Jour lagi. “Setelah Mama pergi, semua yang Mama miliki akan menjadi milikmu, termasuk kekuatan Mama. Meskipun apa yang Mama miliki tidak akan ada artinya, tapi Mama ingin kamu memilikinya. Setidaknya Mama ingin kamu tahu kalau kamu adalah anak Mama dan Mama sangat mencintaimu.”
“Mama…” Sebuah jari menyentuh bibir Cale, memotong apa yang ingin diucapkannya kepada Jour.
Kedua mata Cale terasa panas. Mereka berkaca-kaca dan sedikit memerah. Cale ingin menangis, tetapi air matanya tidak bisa tumpah. Jari itu menjauh dari bibirnya, namun tidak lama berikutnya Cale memejamkan kedua mata saat tangan yang jangan menangkup pipinya, membelai kulit wajahnya dengan penuh kasih sayang.
“Sweetie, anak manis kesayangan Mama… waktu Mama sudah tidak lama lagi. Berjanjilah untuk tidak terus terlarut dalam kesedihan setelah ini… Mama ingin kamu bahagia,” ungkap Jour, ucapannya sedikit terbata dan terdengar sedih.
Cale bisa melihat kalau kematian akan segera memeluk jiwa Jour, waktu kebersamaan mereka tidak akan bertahan lama. Dia mendengarkan semua yang Jour tuturkan padanya.
Saat Jour mulai memejamkan kedua mata perlahan-lahan, Cale tahu waktunya sudah tiba. Dia mencondongkan tubuh ke depan, lalu dengan penuh kasih sayang Cale mencium kening sang ibu. Sentuhan lembut itu juga membawa sedikit kekuatan ilahi dari Dewa kehidupan dan penciptaan kepada Jour. Sebuah pemberkatan Cale berikan kepada Jour yang kini menarik napas terakhirnya.
“Mama, tidurlah dengan damai. Semua akan baik-baik saja,” gumam Cale. Dia membelai rambut panjang Jour, kemudian melanjutkan perkataannya lagi. “Mama, putramu ini sangat mencintaimu. Aku berjanji untuk mencari kebahagiaanku sendiri seperti yang Mama katakan.”
Seolah-olah tahu akan persetujuan yang Cale ucapkan, wajah cantik Jour tampak lebih damai, bahkan senyuman kecil pun terulas pada bibir pucat itu. Tidak lama kemudian, Jour pun memejamkan kedua mata dan dia pun tidur untuk selama-lamanya. Untuk sekali lagi dia meninggalkan Cale di dunia ini.
Cale mengambil setangkai mawar merah yang ia tumbuhkan di rumah kaca. Dia meletakkan mawar cantik itu di atas dada Jour.
Mawar merah Thames, mereka adalah bunga yang tercipta dari darah Dewa kehidupan dan penciptaan di masa lalu. Dia memberikannya untuk Keluarga Thames, dan sekarang dia ingin mawar itu mengiringi kepergian seorang Jour Thames.
Notes:
Terima kasih sudah membaca cerita ini dan juga dukungan yang diberikan. Sampai ketemu pada chapter selanjutnya.
Chapter Text
Tidak sampai satu jam setelah kepergian Jour, berita mengenai kematian Countess Henituse menyebar ke seluruh pelosok area kekuasaan Count Henituse. Banyak orang berduka dan menyayangkan kepergian sang Countess. Di mata penduduk, Jour adalah sosok unik dan baik hati. Dia memiliki aura penuh kecemerlangan, sangat sedikit orang yang tidak mencintainya. Sehingga setelah semuanya tahu mengenai kematian Jour, kesedihan penduduk pun mengiringi kepergiannya.
Tidak hanya duka cita serta kesedihan yang mengeringi kepergian sang Countess. Banyak bangsawan berada di bawah kepemimpinan Count Henituse mengambil kesempatan, bahkan tidak sedikit pula mereka merayakan kepergian sang Countess secara diam-diam. Bagi mereka, Jour Thames tidak lebih sebagai duri di dalam daging mereka, sang Countess selalu menghalang-halangi ambisi mereka padahal sang Countess sendiri hanya berasal dari keluarga Baron yang sudah jatuh.
Cale tahu kalau semua ini akan terjadi, karena itulah dia sudah mempersiapkan banyak hal untuk menghadapinya. Dengan bantuan Ron dan Beacrox, Cale mengendalikan situasi di kawasan Henituse, mulai dari mansion sampai ambisi bangsawan yang mencoba untuk mengambil kesempatan, dengan mudah. Dia tidak bisa mengandalkan Deruth untuk mengambil alih saat ini, pria itu masih terkurung dalam kesedihannya, bahkan mengurus diri sendiri saja dia tidak bisa.
Semua itu sudah pernah terjadi di kehidupan pertama Cale. Kali ini Cale bisa menghadapinya dengan mudah. Semuanya sudah penuh akan persiapan, walaupun waktu yang Cale miliki hanya kurang dari satu hari untuk mempersiapkannya.
“Tuan muda Cale, Anda ke mana saja? Banyak tamu dan kerabat dari Count ingin bertemu dengan Anda,” ungkap seorang pelayan ketika dia melihat anak berusia delapan tahun itu duduk di belakang meja kerja Count Henituse.
Cale berhenti sesaat, dia menoleh ke arah pelayan yang bertanya padanya itu. Sepasang mata merah kecoklatan dengan cincin cemerlang mengelilingi irisnya tertuju pada pelayan itu, membuat sang pelayan merasa tertegun. Mata milik tuan mudanya sangat indah, terutama dengan kilauan bintang di dalam lingkaran iris itu—namun, pada saat yang sama mata itu sangat misterius, seolah-olah Cale bisa melihat apa yang tengah pelayan itu sembunyikan.
Pelayan itu menelan ludah. Dia merasa gugup. Aura milik sang tuan muda benar-benar mengintimidasi secara tidak langsung. Kendatipun demikian, dia tidak bisa mengelak kalau Cale Henituse juga memiliki karisma sampai membuat kedua kaki pelayan itu serasa lemas dan anehnya membuat sang pelayan ingin mendekat, padahal Cale baru berusia delapan tahun. Anak umur delapan tahun mana yang bisa menyamai karisma milik tuan muda Henituse ini?
Suara guratan pena terdengar lagi, kemudian dentingan ringan dari keramik cangkir teh berbenturan dengan tatakan mengikutinya. Cale meletakkan pena di tangan kembali pada tempatnya, lalu dia menyandarkan punggung kecilnya pada sandaran kursi di belakang.
“Bagaimana dengan Count?” tanya Cale gantian.
Pelayan itu menggeleng kepala, ada sedikit rasa simpati terbesit di kedua matanya. “Count mengurung diri di kamar sejak pemakaman Countess selesai, kami—para pelayan— berusaha memberitahu beliau tapi Count tidak mau keluar dari kamarnya.”
Bibir Cale membentuk garis datar. Tatapan matanya yang selama ini selalu kalem pun sedikit demi sedikit berubah menjadi dingin. Ayahnya tidak pernah berubah, tidak di kehidupan pertama maupun di kehidupan saat ini.
“Aku mengerti,” ujar Cale. Dia berdiri dari tempat duduknya. “Aku akan keluar dan menemui mereka sekarang.”
Cale berjalan keluar dari kantor Count dengan pelayan yang membimbingnya di depan. Saat dia melewati koridor, matanya mengedar ke sekeliling, melihat ke seluruh penjuru sudut dan sisi sesaat lamanya. Walaupun Jour sudah meninggal, Cale masih merasakan keberadaannya di tempat ini, seolah-olah jiwa sang ibu masih berada di tempat itu dan dia tidak meninggal.
Tatapannya melembut. Tangan kanannya terjulur ke samping, dan tanpa sepengetahuan siapa pun—si pelayan—di sana ada bola berpendar merah muda melayang dan menghampiri Cale. Bola berpendar itu mendarat pada telapak tangan Cale. Lalu, seperti hewan peliharaan manja, sang bola berpendar merah muda menggosok-gosokkan permukaannya pada tangan Cale dengan penuh kasih sayang.
‘Hangat.’
Melihat hal itu tentu saja Cale mau tidak mau langsung tersenyum. Bola berpendar merah muda itu merupakan bola jiwa milik Jour Thames, dia tampak seperti gadis lugu yang tidak ingat apa-apa setelah keluar dari tubuhnya. Tidak ingin jiwa sang ibu menderita karena terlalu lama berada di luar, Cale menarik liontin dari balik bajunya. Dia memasukkan bola jiwa Jour ke dalam batu rubi yang tergantung pada liontin.
‘Beristirahatlah untuk sesaat, Mama. Batu ini akan menutrisi jiwamu yang terluka dan menyembuhkannya sebelum aku mengirimmu ke petualanganmu yang selanjutnya.’
“Vide mox te, Mama [See you soon, Mama],” gumam Cale kepada sang ibu. Suaranya lirih dan lembut, menyuarakan isi hatinya kepada sang ibu.
Di kehidupan pertama Cale tidak memiliki ingatannya sebagai seorang dewa, sehingga dia tidak tahu kalau sepeninggal Jour wanita itu masih berada di rumah, menemaninya untuk sesaat sampai Azrael menangkapnya. Kali ini semuanya berbeda, Cale melihatnya, dan tentu saja dialah yang akan menjaga jiwa sang ibu sendiri. Melihat Jour tidak ingin meninggalkannya sudah cukup membuat hati kecil Cale terasa hangat.
Kesedihan yang bersarang pada dirinya terkikis sedikit demi sedikit. Layaknya sinar mentari yang menyinari kegelapan di dunia, wajah Cale menjadi lebih bersinar. Kebekuan di ekspresinya melumer, digantikan oleh kebahagiaan—kelegaan— dan membuat auranya menjadi lebih bersinar.
“Tuan muda.” Sang pelayan yang menyadari Cale berhenti dan tidak mengikutinya pun memanggilnya, menyadarkan anak manis itu dari lamunan kecil miliknya.
Cale menganggukkan kepala sebagai jawaban. Dia kembali berjalan dan memerintahkan pelayan itu untuk terus memandunya.
Mereka tiba di ruang pertemuan di mana kerabat, tamu, dan bangsawan bawahan keluarga Henituse berada tidak lama kemudian. Mereka semua memiliki senyum penuh simpati yang ditujukan kepada Cale, namun dari sudut matanya dia juga melihat ada beberapa orang memiliki senyum penuh ejekan sebelum menyembunyikannya.
Mereka yang tinggal di kalangan bangsawan memiliki topeng dan prinsip hidup demi keuntungan diri sendiri, sehingga Cale tidak terkejut lagi akan sikap mereka terhadapnya.
“Cale, kau harus kuat demi ayahmu,” ucap seorang paman yang Cale ingat sebagai kerabat jauh Deruth.
“Benar… benar… ayahmu tengah berduka, karena itu sebagai anak satu-satunya kau harus lebih kuat lagi, Cale,” imbuh salah seorang di antara mereka.
“Cale, kamu adalah satu-satunya pewaris keluarga Henituse dan anak yang ayahmu miliki. Untuk menjadi calon Count di masa depan, kau tidak boleh terlarut dalam kesedihanmu.”
Mereka mengucapkan kata-kata penuh simpati kepada Cale. Walaupun terdengar menyentuh, tapi Cale tahu benar kalau semua itu tidak memiliki banyak arti dan tidak lebih dari sebuah omong kosong belaka. Dalam hati, Cale ingin tertawa penuh ironi.
Di kehidupan pertamanya, mereka juga mengatakan hal sama seperti ini. Dan Cale yang masih kanak-kanak menelan bulat-bulat perkataan mereka, dan akhirnya hal itu membuat bumerang tersendiri bagi Cale di masa depan. Mereka ingin memanfaatkannya, itu sudah pasti.
Dengan senyuman lembut dan berkarisma yang bertengger di bibirnya, wajah manis Cale memiliki ekspresi penuh kemisteriusan. Auranya berkesan kalem, tetapi mereka semua tahu kalau dia tidak sesederhana itu. Dalam hati, para bangsawan yang melihatnya langsung memasang kewaspadaannya meskipun wajah mereka tidak berubah. Entah mengapa sosok Cale Henituse terlihat berbahaya di mata mereka, padahal dia baru berusia delapan tahun dan tidak seharusnya mereka merasakan hal seperti ini dari seorang bocah berusia delapan tahun.
Tidak ada orang lugu dalam kalangan bangsawan, termasuk anak-anak yang dilahirkan dalam kalangan itu. Kemudian mereka sadar akan kenyataan itu.
“Terima kasih, Lord dan Lady, saya akan menjadi lebih kuat demi Ayah dan juga Keluarga Henituse. Sebagai wakil dari Ayah saya, Deruth Henituse, saya juga ucapkan terima kasih kepada kalian semua karena sudah sudi menghadiri upacara pemakaman Countess Henituse,” kata Cale. Dia mengatakannya tidak terlalu cepat maupun lambat, nadanya pas dan mencerminkan kewibawaan dibalik ketenangannya.
Keterkejutan dari tamu ‘terhormat’ itu tidak luput dari mata Cale. Dalam hati, ia mengulaskan senyum lebar, penuh akan kalkulasi dan juga janji. Dia tidak akan membiarkan mereka mengambil keuntungan dari situasi di Keluarga Henituse. Justru sebaliknya, Cale akan mengambil kesempatan dalam situasi ini untuk menekan keluarga bangsawan yang berada di oposisinya lalu mengeratkan tali kekangnya pada wilayah Henituse.
Beberapa dari mereka mencoba mendekati Cale, bertanya banyak hal padanya dan sesekali memberikan pesan kalau Cale membutuhkan bantuan mereka untuk mengurus kadipaten, mereka bersedia untuk membantunya. Tidak hanya itu saja, mereka juga menggunakan kartu sebagai kerabat dekat Keluarga Henituse untuk memperalat Cale agar dia mau melakukan apa yang mereka inginkan.
Lalu bagaimana dengan tanggapan Cale?
Anak itu tersenyum, menjawab semua pertanyaan dengan mulus. Kebenaran dan kepalsuan bercampur menjadi satu, dia menghadapi tekanan orang-orang dewasa di sana dengan baik, bahkan terkesan sangat mudah. Dari sini terlihat kalau Cale Henituse lebih dari sekedar bocah ingusan berusia delapan tahun, pikirannya tidak sederhana, dan dia bisa menyamai pola pikir orang dewasa yang tidak jarang memanipulasi mereka semua untuk mengikuti kemauannya.
Ron yang sedari tadi berdiri di belakang Cale benar-benar merasa terkesan dengan akting tuan mudanya. Pada saat yang sama juga, dia merasa sedih. Ke mana hilangnya anak ceria dengan senyuman hangat itu? Di hadapannya adalah anak yang dipaksa untuk menjadi dewasa setelah kematian sang ibu.
Setelah menerima banyak tamu, Cale baru kembali ke kamarnya larut malam sekali. Cahaya wajahnya tampak meredup, kulit pucatnya itu memperlihatkan kelelahan yang tengah Cale rasakan. Tubuhnya yang selama ini sangat lemah dipaksa untuk terus bertahan di bawah tekanan, tidak heran kalau Cale langsung mengalami demam pada malam harinya. Hanya Ron, pelayan pribadinya, yang kini bersama dengannya di dalam kamar pribadi Cale.
“Ron, apa Ayah masih mengurung diri di kamarnya sekarang?” tanya Cale. Dia mengembuskan napas berat setelah itu, rasanya sedikit panas akibat naiknya suhu tubuh dalam satu jam terakhir.
Si manis berambut merah darah memejamkan kedua mata. Dia mendesah kecil penuh rasa nyaman kala handuk bersuhu hangat diletakkan pada dahinya. Suhu tubuhnya dingin, namun Cale menggigil kedinginan, kompres hangat seperti ini membuatnya jauh lebih nyaman. Terima kasih pada Ron yang telah mau merawatnya, tentu saja hal ini dikarenakan merawat Cale adalah pekerjaannya.
“Count Henituse masih mengurung diri di kamar dan tidak mau keluar sejak tadi siang. Tuan muda tidak perlu khawatir, Ron ini telah memerintahkan pelayan untuk mengantarkan makan siang dan malam ke kamar beliau,” jawab Ron. Matanya menatap sosok mungil yang kini tengah terbaring lemah di atas tempat tidurnya.
Wajah manis bocah berusia delapan tahun itu datar, sangat kontras dengan rona merah di pipi akibat demam yang dideritanya. Di samping merasa terkesan, Ron sedikit kasihan juga kepada bocah ini.
Lemah tidak berdaya, tapi tatapan dingin penuh rasa cemerlang di matanya tidak meredup sedikit pun. Mereka mengarah pada Ron, bahkan satu alis kemerahan pun juga terangkat sedikit.
Perintah tanpa perkataan, senyuman penuh ketabahan di bibir Ron melebar, membuatnya tampak sedikit sadis dibandingkan biasanya. Anehnya, kesadisan tersebut tidak membuat ekspresi anak berusia delapan tahun di depannya berubah, bahkan Cale masih terkesan kalem layaknya air mengalir di danau tenang.
“Seperti yang Anda perintahkan, Tuan muda, kelinci-kelinci lucu yang melompat di area kekuasaan Anda juga tidak berani melompat pagar. Mereka diam meringkuk setelah saya mengunjungi kandang mereka,” imbuh Ron lagi. Dia tampak senang, seolah-olah pengalamannya ‘menggertak’ kelinci lucu sangat berkesan baginya.
Cale memejamkan kedua mata. Dia mengabaikan kesenangan yang dimiliki oleh sang kepala pelayan mengenai pengalamannya. Yang Cale butuhkan adalah hasilnya, dia tidak peduli proses macam apa yang Ron lakukan untuk mengendalikan mereka semua. Para bangsawan dan orang-orang itu untuk sementara berada dalam kendalinya, dia akan meningkatkan genggamannya pada mereka setelah Deruth meninggalkan Kadipaten Henituse untuk liburan seminggu lagi.
Kedua mata itu terbuka lagi. Mereka menatap ke arah Ron dengan sorotan dingin.
“Kerja bagus, Ron, aku tahu bisa mengandalkanmu untuk pekerjaan seperti ini,” ungkap Cale. Dia meminta Ron untuk mengganti kompres di keningnya dan Ron melakukan itu. “Tidak heran Mama mempekerjakanmu sebagai asisten pribadinya, kau bisa diandalkan untuk mengurus segalanya.”
“Hoho… apakah itu pujian yang saya dengar dari bibir Tuan muda?”
Cale tersenyum kecil, lalu dia berkata, “Kalau kau menganggapnya sebagai pujian, aku tidak keberatan untuk memberikannya.”
Merubah posisi tidurannya dengan kini duduk bersandar pada kepala tempat tidur, Cale menyisir rambut merahnya menggunakan jemari tangan. Kepalanya menoleh ke arah luar, di mana langit malam kelam tanpa bintang menyambutnya di luar sana.
“Kelinci-kelinci itu tidak akan menjadi submisif dalam waktu lama, apalagi setelah melihat keadaan Ayah yang tidak bisa keluar dari rasa sedihnya. Kurasa aku harus memilin tali kekang bagus untuk menjerat leher-leher mereka,” gumam Cale tidak lama kemudian.
Dia sama sekali tidak merasa kalau ucapannya begitu ambigu dan tidak pantas diucapkan oleh bocah seumurannya. Namun, lagi-lagi Cale tidak mengetahui hal itu, dan Ron sendiri juga tidak mempermasalahkannya—justru sebaliknya, Ron malah menemukannya sangat menarik.
Perhatian Ron kali ini benar-benar dicuri oleh Cale Henituse. Bocah berusia delapan tahun itu berhasil membuatnya terperangah, lalu keterkejutannya berubah menjadi ketertarikan. Dia tersenyum. Setelah bangkit dari tempat duduknya, Ron pun membungkuk penuh hormat kepada Cale, kali ini tindakannya jauh lebih tulus ketimbang biasanya.
“Tuan muda Cale, saya akan senang apabila Anda mempercayakan semuanya pada saya dan Beacrox. Kami berdua akan melayani Anda dengan sepenuh hati.” Suara Ron tidak keras, tetapi nadanya begitu lantang dan mengisyaratkan kepercayaan.
Cale tidak perlu menoleh ke arah Ron untuk melihat semua itu. Bocah berambut merah darah tersebut mengangguk kecil, memberikan persetujuannya kepada Ron tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. Cale mengalihkan pandangannya dari arah luar, kelopak matanya sedikit tertutup, dia menatap sosok pria pembunuh di depannya dengan tenang.
“Jangan mengecewakanku,” sahutnya kemudian.
“Baik, Tuan muda.”
Cale tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Dia bukanlah seorang peramal ataupun memiliki kemampuan untuk melihat masa depan. Namun, Cale tahu apa yang terjadi sekarang ini telah mengubah masa depan. Setidaknya semuanya tidak akan berakhir penuh akan tragedi seperti di kehidupan pertama inkarnasinya.
Sang dewa tidak ingin peduli dengan dunia manusia. Dewa kehidupan dan penciptaan adalah dewa dingin yang dapat melihat tragedi terjadi di depannya tanpa mengedipkan mata, namun persetujuannya dengan Dewa kematian membuatnya tidak bisa melakukan hal itu. Setidaknya dia ingin membuat area Henituse di mana inkarnasinya dilahirkan tidak hancur seperti apa yang terjadi di masa lalu.
Dan hal pertama untuk melakukan itu, Cale ingin mengambil kendali penuh pada semua yang ada di Kadipaten Henituse di tangan kecilnya.
Malam semakin larut. Langit gelap di atas sana begitu temaram, menyembunyikan cemerlangnya bulan dan bintang dari pandangan manusia di bawahnya. Malam setelah pemakaman Countess Henituse berakhir, Cale Henituse—sang pewaris satu-satunya dari keluarga Count Henituse, mengalami demam tinggi dan beberapa kali tidak sadarkan diri. Kondisinya ini membuat banyak orang menjadi khawatir, bahkan mayoritas pelayan serta penduduk yang mengetahuinya tidak henti berdoa demi keselamatan sang pewaris.
Ironinya, Deruth Henituse masih tetap mengurung diri di dalam kamarnya. Dia tidak peduli dengan keadaan di luar sana, perasaannya masih dirundung kesedihan sampai dia tidak peduli kalau putra satu-satunya tengah mengalami koma beberapa saat lamanya.
Banyak orang menghujat kelakuan sang Count, terutama saat pria itu memutuskan untuk meninggalkan kadipaten Henituse. Alasannya singkat, dia ingin menenangkan diri dengan mengambil liburan. Deruth meninggalkan kediaman Henituse kurang dari seminggu kemudian, tepat di mana Cale masih tidak sadarkan diri akibat komanya.
Beruntung situasi di manor dan pemerintahan kadipaten Henituse tidak mengalami kekacauan akibat Count Henituse meninggalkan wilayahnya. Sebelum Cale jatuh koma, dia sudah memberikan perintah kepada Ron dan juga beberapa bawahannya untuk mengurus semua urusan di wilayah itu, dia juga memberikan rencana tersusun untuk mengatur pemerintahan apabila Cale tidak bisa hadir secara langsung.
Dan dalam rentang waktu itu pula, rumor mengenai sang pewaris yang baru berusia delapan tahun memimpin kadipaten Henituse pun tersebar, bahkan ketika kondisi tubuh sang pewaris bisa dikatakan tidak sehat. Meskipun awalnya banyak orang ragu akan kemampuan Cale, genggamannya pada kadipaten Henituse sangat erat, tidak ada yang luput dari matanya dan dia bisa memberikan perubahan dalam waktu singkat, bahkan ketika Cale sendiri tengah tidak sadarkan diri.
Kepanikan akibat kepasifan sang Count serta kondisi Cale yang terus melemah berhasil dipadamkan oleh perintah Cale melalui Ron dan bawahannya. Semuanya kembali ke sedia kala. Tanpa sepengetahuan semua orang, pengaruh Cale Henituse di wilayah ini begitu besar dan menjadi lebih dominan dibandingkan Deruth. Tidak heran semua ini terjadi, anak itu telah membuat persiapan matang sebelumnya, dia mengambil kesempatan yang ada dalam kepasifan Deruth.
Sehari setelah Deruth meninggalkan wilayah Henituse, Cale yang telah mengalami koma selama tiga hari akhirnya bangun. Dan hal pertama yang ia lakukan setelah terbangun adalah menatap tanda yang seharusnya tidak pernah ada sebelum ini—dan pada kehidupan pertamanya— tapi sekarang muncul di dadanya.
“Apa dunia mengajakku bercanda sekarang? Apa-apaan ini!” ungkap Cale, kepanikan melanda tubuh kecilnya.
Notes:
Terima kasih sudah membaca cerita ini dan memberikan kudo serta komentar. Semoga kalian menyukainya.
Chapter Text
Mawar merah dengan sulur berdurinya dipeluk oleh sepasang sayap besar berwarna perak, duri mawar tersebut melilit perisai perak yang menjadi dasar utama dari sepasang sayap yang memeluknya. Cantik namun berbahaya, rapuh tapi kuat. Tanda di dada kiri Cale melambangkan simbol keanggunan dibalik kekuatan yang besar. Sesuatu yang dapat melindungi tapi juga mematikan pada saat bersamaan.
Tanda di dada kiri Cale merupakan simbol belahan jiwa miliknya, dan satu-satunya orang yang memiliki tanda sama seperti miliknya adalah belahan jiwanya yang entah siapa.
Melihat bayangan yang dipantulkan oleh kaca di depannya, berkali-kali Cale menyentuh tanda tersebut—bahkan tak jarang ia juga mengusapnya, sebuah tindakan ingin menghapusnya namun pada saat yang sama mencerminkan keraguan si manis. Cale serasa seperti orang yang tengah bermimpi, tanda belahan jiwa itu sebelumnya tidak ada di dada kirinya, bahkan di kehidupan pertamanya sebagai Cale Henituse dia tidak memilikinya.
Namun, bagaimana tanda belahan jiwa ini Cale miliki setelah dia terlahir kembali di dunia tidak sempurna ini?
Dia dewa ‘kan? Bagaimana seorang dewa yang seharusnya tidak manusiawi memiliki belahan jiwa di luar sana? Rasanya dunia tengah mengejeknya.
Kembali menatap pantulan bayangannya di cermin, senyuman yang terpatri di wajah manis Cale terlihat begitu jelek. Rasanya dia ingin menangis saja karena tanda belahan jiwa yang membingungkan ini. Dan itulah yang membuatnya merasakan ironi—karena di pemakaman Jour, Cale sama sekali tidak menitikkan air mata.
“Aku merasa semua ini tidak lebih dari konspirasi,” gumam Cale kepada dirinya sendiri. Ujung jarinya sekali lagi meraba bunga mawar merah yang menjadi fokus utama pada tanda belahan jiwa di dada kirinya.
Warna merah pada mawar di tanda belahan jiwa itu mengingatkan Cale pada warna merah rambutnya. Mereka tampak seperti rona darah— menggoda dan mengundang hasrat.
“Hah… semua ini adalah salah Azrael,” desahnya lagi. Kali ini ada nada menyalahkan dalam suaranya, yang sebenarnya tidak terdengar aneh mengingat kembalinya Cale di dunia ini adalah salah Dewa Kematian sialan itu.
Setelah memastikan penampilannya terlihat sempurna, Cale pun turun dari bangku yang menyangga tubuhnya di depan wastafel. Salahkan tubuhnya yang pendek, sehingga menghadap cermin untuk berkaca saja dia harus menggunakan bantuan sebuah kursi pendek. Dalam hati Cale tidak sabar untuk segera tumbuh dewasa, paling tidak tinggi tubuhnya tidak mengecewakan dirinya—meskipun sebenarnya Cale masih menganggapnya kurang tinggi saat tumbuh dewasa.
Dia benar-benar pendek, runtuknya. Haruskah ia meminum banyak susu agar tinggi tubuhnya bisa mencapai 190 cm di masa depan?
“Selamat pagi, Tuan muda Cale. Sarapan Anda sudah selesai dipersiapkan oleh Beacrox, apakah Anda ingin sarapan di luar atau di sini?” Suara Ron adalah yang pertama Cale dengar setelah dia keluar dari kamar mandi.
Benar saja, sosok pria paruh baya yang mengenakan setelan rapi jas hitam dan lengkap dengan sepasang sarung tangan putih terpasang di kedua tangannya telah menunggu Cale di dalam kamar. Ron Molan, kepala pelayan Keluarga Henituse yang juga merupakan mantan pembunuh profesional dari Benua Timur. Dibalik keprofesionalan serta keramahan yang sering dimilikinya, Ron menyembunyikan aura haus darah yang khas dimiliki oleh pembunuh profesional.
Ron Molan adalah serigala berbulu domba. Cale tahu itu sejak pertama kali Jour memperkenalkan Ron padanya di kehidupan pertama. Namun, apakah Cale peduli akan hal itu? Tentu saja tidak. Cale tidak peduli pada apapun kecuali keluarganya sebelum regresi, asalkan Ron bisa menyembunyikan taringnya dan tidak membahayakan keluarga kecilnya maka Cale tidak akan mempermasalahkan masa lalu pria itu.
Lalu bagaimana dengan sekarang?
Jujur, Cale juga masih sama tidak pedulinya. Bahkan keapatisan yang dimiliki oleh Cale melebihi keapatisannya di kehidupan pertama. Selain Cale merasa lelah, kekuatan ilahinya sebagai seorang dewa benar-benar membuat sifatnya sedikit—atau sebenarnya lebih—berubah.
“Aku akan sarapan di kamar,” kata Cale.
“Baik, Tuan muda. Saya akan segera mempersiapkan semuanya,” ungkap Ron seraya membungkuk penuh hormat.
Setelah melihat ke arah Cale dan memastikan tuan mudanya tidak memberikan perintah lainnya, Ron pun beranjak keluar dari kamar besar milik Cale.
Cale menggelengkan kepala. Dia berjalan menuju ruang rekreasi yang terhubung dengan kamar tidur. Setelah mengambil buku tebal bersampul kulit warna cokelat keemasan dari meja nakas di samping tempat tidur, Cale menjatuhkan dirinya pada kursi empuk di samping jendela balkon yang terbuka lebar.
Angin sepoi masuk ke dalam dan membelai rambut merahnya. Beberapa helaian merah darah menyapu wajah Cale, lalu silhuet cahaya lembut menyentuhnya dan membuat si kecil manis itu tampak seperti seorang malaikat. Dia benar-benar menawan dalam figur mungilnya. Orang-orang tidak akan menyangka kalau sosok mungil yang manis layaknya malaikat ini adalah inkarnasi agung dari dewa kehidupan dan penciptaan, salah satu dari dewa kuno yang pertama kali terlahir dari rahim dewa kekacauan.
Merasa nyaman, Cale memejamkan kedua mata selama lima detik sebelum membukanya kembali. Suara helaan napas pun ikut terdengar darinya.
Ia menundukkan kepala. Mata cokelat kemerahan milik Cale membaca kata demi kata dari buku yang kini terbuka di atas pangkuannya.
[Belahan jiwa adalah berkah dari dewa cinta yang diberikan kepada manusia. Tidak semua orang bisa menerima berkah tersebut, hanya satu dari seribu orang yang hidup di dunia ini memiliki belahan jiwa. Masih banyak misteri yang menyelimuti siklus bernama belahan jiwa itu, dan mereka yang bisa menemukan belahan jiwanya bisa dikatakan sebagai orang paling beruntung di dunia.
Sepasang belahan jiwa dihubungkan dengan sebuah benang merah yang mengikat salah satu jari kelingking tangan mereka. Benang merah itu hanya bisa dilihat oleh mereka yang terhubung dengannya, tidak ada orang lain yang bisa melihatnya. Namun, dalam satu kasus spesial, sepasang belahan jiwa tidak hanya dihubungkan menggunakan benang merah, mereka juga memiliki tanda unik spesial yang muncul di tubuh. Tanda itu melambangkan karakteristik dari dua orang yang terhubung.
Apabila mereka yang terhubung dengan benang merah disebut belahan jiwa, maka mereka yang memiliki tanda di tubuh mereka merupakan sepasang belahan jiwa sehidup semati. Tidak hanya dewa cinta menaruh perhatian khusus pada mereka, namun dewi takdir juga memberikan berkahnya kepada sepasang belahan jiwa itu. Belahan jiwa sehidup semati adalah istilah yang tepat menggambarkan mereka. Keduanya akan terhubung lebih erat, bahkan jiwa mereka juga terhubung dengan satu sama lainnya.]
“Bajingan itu….”
Kedua mata Cale membulat sempurna, tangannya yang menggenggam kedua sisi buku bergetar, begitu pula dengan bahu ringkihnya. Aura dingin yang mencekam keluar dari tubuh Cale, rasanya begitu mengintimidasi karena luapan kekuatan ilahinya ikut bergabung menjadi satu. Apabila ada orang berada di dekat Cale, orang itu bisa dipastikan akan pingsan akibat merasakan luapan energi besar yang tidak manusiawi tersebut.
Cale marah.
Tidak. Marah tidak bisa menggambarkan emosinya sekarang ini, murka adalah istilah yang lebih tepat.
‘Aku menyesal tidak membunuh Azrael di tempat pertama. Dia dan Eros adalah dua bajingan yang akan masuk dalam daftar hitamku. Aku akan membuat dua bajingan itu didaur ulang dalam perut Papa ketika aku bertemu dengan mereka lagi!!’ batin Cale yang masih diliputi oleh kemurkaan besar. Kedua matanya benar-benar menggelap dan menjanjikan nasib buruk pada dua dewa agung yang dikutuk olehnya.
Tuk…
Buku tebal itu Cale tutup dengan kasar sebelum ia meletakkannya pada meja kecil di sampingnya. Cale merasa gusar. Ia tidak ingin mempercayai tulisan yang baru saja dibacanya dari buku itu, namun hatinya mengatakan kalau ia harus mempercayainya. Tidak ada yang menyangka kalau dewa kematian yang mengirimnya kembali ke dunia ini akan membuat kesalahan besar—yang entah itu disengaja atau tidak.
Dewa kematian sialan itu pasti melakukan konspirasi dengan dewa cinta dan kedua bajingan yang disebut sebagai dewa itu membuat kekacauan besar pada inkarnasi Cale.
Tangan kanan Cale menyentuh area dada kirinya, di mana tanda belahan jiwanya berada. Dia bisa merasakan kekuatan ilahi unik milik dewa cinta. Kekuatan itu mengekang jiwanya, menghubungkan Cale dengan seseorang di luar sana. Namun, anehnya hal ini tidak membuat jiwa Cale merasa tidak nyaman. Pikiran Cale justru terganggu karena itu.
“Aku harus menenangkan diri,” gumamnya pada diri sendiri.
Cale menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya. Dia melakukan itu beberapa kali sampai Cale merasa lebih tenang dari sebelumnya. Kekuatan ilahinya yang meluap-luap menghilang, begitu pula dengan aura mengintimidasinya. Kini, Cale kembali menjadi sosok tenang layaknya malaikat. Tidak ada yang menyangka barusan dia sempat menjadi iblis yang bisa menghancurkan dunia.
Tok…tok…tok…
Suara ketukan pintu terdengar sebelum Ron masuk ke dalam dengan membawa kereta dorong berisi makanan yang merupakan sarapan Cale.
“Maaf telah membuat Tuan muda menunggu lama. Saya akan menyiapkan meja makan untuk Anda,” ujar Ron dengan senyuman ramahnya. “Selagi menunggu saya mempersiapkan meja makan, Anda bisa menikmati teh hangat yang sudah saya siapkan untuk Anda sebelumnya.”
Ron menyodorkan secangkir teh hangat dengan asap yang masih mengepul di atasnya kepada Cale. Saat Cale menerimnya, ia mencium aroma asam dari teh itu. Si manis itu memberikan tatapan datar kepada Ron—yang tentunya dihiraukan oleh pria paruh baya bernama Ron Molan. Tanpa menyesap teh spesial buatan Ron, Cale meletakkan secangkir teh hangat itu di atas meja kecil.
“Aku tidak suka sesuatu yang berasa asam, termasuk teh lemon buatanmu, Ron.” Cale tidak gentar dengan sosok Ron. Dia menolak meminum teh lemon yang ia rasa berisi 90% lemon dengan 10% teh, tanpa gula atau madu tentunya. Hanya orang bodoh yang akan meminum teh lemon maut buatan Ron.
“Sayang sekali, Tuan muda. Padahal teh lemon sangat baik untuk Anda,” tanggap Ron. Dia tidak keberatan dengan Cale yang menolak teh lemon buatannya.
Cale menghiraukan ucapan Ron. Selera humor Ron sangat buruk, Cale mengasihani orang yang akan menjadi korban teh lemon Ron di masa depan. Sedikit yang Cale ketahui, orang yang akan menjadi korban teh lemon Ron dan tidak bisa menolaknya adalah belahan jiwa Cale sendiri.
Setelah meja makan selesai dipersiapkan, Cale berdiri dari posisi duduknya terus berjalan ke tempat itu untuk sarapan. Karena Cale barusan sembuh dari sakitnya, Beacrox tidak memasakkan makanan berat untuknya, namun sesuatu yang ringan dan mudah dicerna oleh perut kecil Cale.
Anak manis itu tersenyum kecil, masakan buatan Beacrox memang enak. Hampir semua makanan yang pemuda itu buatkan untuk Cale selalu masuk dalam kategori makanan kesukaannya.
“Makanan pagi ini sangat enak, aku menyukainya,” ujar Cale. Moodnya yang buruk akibat pengetahuan mengenai belahan jiwa langsung berubah ringan karena sarapan pagi ini.
Ron tersenyum. Dia tetap tenang saat masakan anak semata wayangnya dipuji oleh Cale—seolah-olah hal itu tidak membuatnya terpengaruh. Hanya saja, bagi Cale yang sudah diasuh sejak kecil oleh Ron, dia bisa melihat kalau Ron benar-benar senang setelah mendapatkan apresiasi dari Cale. Pria yang merupakan mantan pembunuh profesional itu sangat profesional dalam menyembunyikan emosinya.
“Saya pastikan Beacrox mendengar pujian dari Anda, Tuan muda. Dia pasti akan merasa senang saat mengetahui Anda menyukai masakannya,” sahut Ron.
Beacrox pasti senang meskipun dia tidak akan menunjukkannya di wajahnya yang selalu datar. Cale menggelengkan kepala dalam hati. Dia menopang dagu menggunakan tangan yang bertumpu di atas meja, sementara tangan kanannya menggunakan garpu perak mengambil sedikit cheesecake dari atas piring.
Rasanya lumer dan manis. Cale yang memiliki citarasa manis sangat menyukainya. Lihatlah binaran matanya, walau ekspresinya datar tapi matanya tidak membohongi perasaannya.
Sarapan pagi itu berjalan lancar walaupun makanan di atas meja makan hanya berkurang sedikit, perut Cale yang berukuran kecil serta nafsu makannya yang tidak besar membuatnya tidak dapat memakan banyak makanan.
Saat Cale tengah menikmati kue yang khusus dibuatkan Beacrox untuknya, tiba-tiba saja pintu kamarnya dibuka kasar dari depan. Seseorang dengan langkah menggebu-gebu masuk ke dalam. Tampaknya tamu tak diundang ini tengah marah saat memasuki ruangan itu. Begitu dia melihat Cale yang tampak menikmati kuenya, kemarahan yang dirasakan oleh orang itu langsung meluap-luap.
“Cale Henituse, apakah kau pantas menyebut dirimu sebagai pengganti sementara Ayahmu sebagai Count Henituse?!!” geram si pria berkumis. Matanya terbuka lebar dan sedikit merah akibat emosinya yang meledak.

Winter3 on Chapter 1 Wed 12 Mar 2025 03:29AM UTC
Comment Actions
PonyJein on Chapter 1 Sat 22 Mar 2025 08:56PM UTC
Comment Actions
Jejefy_aletraa12 on Chapter 1 Sun 13 Apr 2025 02:50PM UTC
Comment Actions
Binn_211 on Chapter 1 Thu 21 Aug 2025 08:17AM UTC
Comment Actions
Skeneid on Chapter 2 Tue 18 Mar 2025 06:14AM UTC
Comment Actions
murasaki78 on Chapter 2 Fri 04 Apr 2025 10:05PM UTC
Comment Actions
murasaki78 on Chapter 3 Wed 09 Apr 2025 03:23PM UTC
Comment Actions
Jejefy_aletraa12 on Chapter 3 Sun 13 Apr 2025 03:09PM UTC
Comment Actions
noorsamiwwwwf3rgmailcom on Chapter 4 Wed 20 Aug 2025 03:07AM UTC
Comment Actions
Xiao_Bloom on Chapter 4 Wed 01 Oct 2025 09:57AM UTC
Comment Actions