Chapter Text
“Aku dapat ikan.”
Langit jingga menjelang malam, Thelios baru kembali dari patroli singkat. Memastikan tempat bermalam mereka aman, tidak ada bahaya di sekitar. Entah beruntung atau apa, tapi dekat sini ternyata ada sungai yang masih jernih. Jadi dia sempat membersihkan diri sebelum menangkap beberapa ikan segar.
Entah sudah lama sejak terakhir mereka makan yang seperti ini. Selain tanaman liar, yang mereka makan paling makanan kaleng hasil menjarah. Hewan di darat jumlahnya sudah berkurang drastis. Kalau tidak terinfeksi, ya karena banyaknya orang yang sama-sama berburu untuk makan. Di hari baik mereka bisa dapat kadal atau bahkan kelinci, tapi di hari buruk… bisa makan saja sudah beruntung.
Tidak ada lagi waktu untuk menanam atau berternak.
Semua orang sibuk melindungi diri.
“Ikan?” Orang pertama yang menyambutnya adalah Lyon. Kawan perjalanan sekaligus dokter—atau tepatnya, mantan dokter—itu berdecak kagum sebelum melambaikan ikan-ikan yang sudah dibelah dan bersihkan ke arah Vael yang tengah menyalakan api.
Pria dengan kulit gelap itu menaruh banyak tambahan kayu bakar saat lihat Thelios membawa bahan makanan baru. Sedikit banyak lega malam ini tidak makan tuna kaleng lagi. Sudah tiga hari makan makanan yang sama, walaupun sama-sama ikan, setidaknya ada variasi lain.
Thelios ikut duduk di samping dua kawannya. Menusuk ikan dengan kayu untuk dibakar. Sementara beberapa dia lilit dan digantung agak tinggi, yang ini khusus diasap biar bisa jadi cemilan untuk Rielle.
Oh, ngomong-ngomong soal Rielle, kemana anak itu? Tadi pergi bersamanya tapi mereka memutuskan untuk berpisah karena Thelios harus berkeliling, sementara Rielle kembali ke minimarket dekat sini yang mereka jarah tadi siang. Katanya mau ambil obat-obatan yang sempat Lyon lupa ambil sekalian cari minuman kaleng atau snack-snack saat lihat Vael mengeluarkan kaleng tuna untuk dihangatkan.
Karena Thelios tahu tempat itu aman, dia membiarkan Rielle pergi sendiri. Tapi kok sampai sekarang, belum kembali?
“Rielle—” belum sempat menyelesaikan omongannya, Lyon yang tengah membersihkan luka di kaki Vael pakai air bekas rebusan yang sudah dingin menyahut.
“Rielle belum pulang dari tadi. Anak itu pasti lagi asik coba makan sana-sini. Sudah kubilang dari kemarin stop makanan manis, giginya ada bolong, masih saja nakal. Kemarin bilang kepalanya sakit—pasti gara-gara giginya lagi—dia curi obat dari kotakku sampai painkiller buat Vael habis!”
Thelios mendengar Lyon ngomel cuma bisa mengangguk-angguk. Sambil menatap mulas ke luka jahit di paha Vael yang terlihat ngilu. Entah mungkin karena pria itu sebelumnya bekerja di militer atau apa, tapi Thelios masih ingat raut Vael yang tidak berubah saat kaki pria itu tertancap pecahan beling. Bahkan saat Lyon menjahit luka yang terbuka tanpa bius, Vael diam saja. Malah Rielle yang mencengkram lengannya sambil bersendawa dramatis karena perut mendadak mulas.
Baru saat Lyon selesai berceloteh, dia beranjak, “Aku jemput Rielle kalau begitu. Titip… ikan asapnya.”
Sedetik. Cuma sedetik saja dari mode marah-marah, Lyon sekarang toel-toel menyebalkan betis Thelios, “Manisnya, ini pasti ikan asap buat Rielle, kan?” :3
Kalau sudah begini, Thelios langsung tutup telinga, kabur. Terutama karena tahu tidak ada Rielle di sekitar, Lyon makin semangat meledeknya.
“Jangan lupa nanti Riellenya ditembak pakai buket ikan asap!”
Untung ada Vael yang menanggapi, “Lyon, sudah. Jangan diisengi terus.”
***
Menelusuri jalanan yang mulai gelap, Thelios sedikit banyak menyesal tidak bawa obor. Nanti mereka kembali, pasti sudah gelap.
Sekarang sudah tahun 25XX. Tidak ada lampu-lampu jalanan cantik seperti yang sering ia lihat sewaktu kecil. Tidak ada lagi hiruk pikuk orang berlalu-lalang, deru kendaraan, nyanyian burung dan serangga, semua sepi. Tidak ada apa-apa lagi.
Bahkan kalau bisa jujur, Thelios sudah mengalami disorientasi waktu. Tidak tahu tepatnya tanggal berapa, bulan apa, tahun keberapa. Dia hanya bisa melihat dari musim yang berubah terik, daun berguguran, salju tebal, udara lembab dan hewan pengerat mulai berkeliaran.
Dan ini sudah musim semi ketiga sejak kejadian itu dimulai.
Wabah Zombie.
Terakhir dia dengar dari radio militer Vael, hanya tinggal 3 negara yang masih bisa bertahan. 75% manusia sudah musnah, menyisakan makhluk-mahluk tidak berakal yang haus darah berkeliaran bebas.
Warganya sendiri sudah habis. Thelios masih mengingat sore itu saat melatih anak-anak di sanggar beladiri tempat ia bekerja, mendadak semua ricuh. Dan dia tidak bisa melindungi siapapun. Memaki belasan tahun latihannya yang seperti sia-sia, dia menghindari zombie-zombie itu sambil berjalan penuh putus asa. Setiap hari hanya memikirkan mati sampai dia bertemu dengan Rielle.
Belum pernah dia ungkapkan, tapi Thelios tau hari Rielle menjulurkan tangan membantunya berdiri, mengajaknya bicara, mengajaknya ikut bergabung bersama Lyon dan Vael, mengekorinya kemanapun dia pergi biar dia tidak merasa kesepian, Rielle telah menyelamatkan hidupnya.
Bahkan rasanya, Rielle juga yang mengajarkan jatuh cinta. Permintaan Rielle untuk diajarkan bela diri awalnya memang membuka luka lama saat tidak ada satupun muridnya yang bisa ia selamatkan. Tapi juga mengingatkan dia betapa Thelios mencintai pekerjaannya.
Vael yang awalnya ragu untuk menerimanya ke dalam tim juga akhirnya bisa terbuka dengannya setelah bujukan Rielle. Malam-malam Vael mengajarinya membuat senjata, latihan bela diri sengit menggunakan pisau atau senjata yang lain.
Bagaimana Lyon yang selalu mengomel panjang saat mendapati dia dan Vael selalu berakhir terluka setelah sparing, sampai cibiran pria itu saat mengobatinya.
Rielle memperkenalkannya dengan keluarga yang baru. Membuatnya kembali merasa hidup.
Entah sejak kapan, tapi Thelios mulai menyadari dia tidak melihat Rielle sama seperti dia melihat Vael ataupun Lyon.
Rielle berbeda.
Jantungnya seperti dipermainkan setiap pemuda itu ada disekitarnya. Rasanya setiap pagi bangun mendengarkan Rielle yang tertawa saat dimarahi Lyon membuat paginya lebih baik. Candaan, tingkah unik, sampai genggaman tangan mereka untuk saling menguatkan, Thelios menyukai semuanya.
Kalau bukan karena Lyon yang bicara asal menanyakan apakah dia menyukai Rielle, Thelios rasa dia tidak akan menyadari perasaannya.
Agak menyebalkan karena Lyon bukannya mendukung atau membantunya mencari cara mendapatkan hati Rielle, malah pamer hubungan pria itu dengan Vael. Kemudian jadi rutinitas untuk dokter galak itu buat meledek.
Tidak mau mengakui, tapi ini juga yang membuatnya terdorong untuk mengatakan perasaannya.
Thelios sudah membuat janji. Nanti begitu mereka bisa sampai ke negeri seberang yang lebih aman, dia akan menyatakan perasaannya. Entah diterima atau tidak, tapi Thelios tidak mau mengganggu perjalanan mereka dan merepotkan Rielle dengan perasaannya.
.
Minimarket sepi.
Wilayah yang sedang mereka lewati memang pedesaan yang jauh dari kota. Hanya ada beberapa zombie di dekat gerbang masuk, tapi setelahnya hampir kosong. Dilihat dari bagunan yang masih rapi dan barang-barang di minimarket masih tersisa banyak, kemungkinan warga desa ini sudah mengungsi di masa awal-awal wabah zombie menyebar.
Walaupun terdengar menarik untuk jadi tempat mereka menetap lama, tapi tidak ada gunanya mencari resiko. Melihat pergerakan zombie yang tidak memiliki pola, lebih baik menetap di daerah-daerah yang termasuk zona aman dan sudah dilindungi ketat oleh militer. Wilayah yang menjadi tujuan mereka setelah ini.
Thelios mengerutkan dahi saat tidak melihat Rielle dari kaca luar minimarket. Membuatnya cepat-cepat masuk, dan dengan pencahayaan seadanya memicingkan mata berusaha fokus melihat dalam remang, “Rielle?”
Sedetik rasanya tangan berubah dingin saat tidak ada yang menjawab. Hanya gema hampa dari suaranya. Tapi betapa Thelios bisa bernafas lega saat mendapati Rielle terduduk memeluk kaki, bersembunyi di antara rak-rak tinggi.
Lyon tadi bilang soal sakit kepala Rielle. Jangan-jangan…
Buru-buru mendekat, “Rielle, kenapa? Ada yang sakit?”
Rielle mencengkram lengannya sendiri. Kuat. Bahkan kelewatan erat. Membuat Thelios ngilu karena ada bercak darah yang menembus baju putih yang Rielle pakai.
Apa sesakit itu?
Thelios menjulurkan tangannya, mau menyingkirkan tangan yang mencengkram itu. Tapi sesaat jemarinya menyentuh punggung tangan Rielle, pemuda di hadapannya buru-buru mendongak. Menatap kaget. Seolah sedari tadi tidak menyadarinya, tidak mendengar langkah kakinya.
Dan begitu cepat. Thelios melihat Rielle terengah, berpegangan ke etalase untuk cepat-cepat berdiri, kemudian lari. Lari begitu cepat masuk ke bagian belakang minimarket, ke gudang, kemudian…
klek.
… mengunci pintu.
Meninggalkan Thelios yang berdiri termangu. Ujung jarinya merasakan sensasi tersengat seperti menyentuh es. Tangan Rielle dingin . Kelewatan dingin.
Pikirannya berkecamuk, Thelios mengikuti arah Rielle pergi. Mengetuk pintu gudang cepat, berisik, kasar, “Rielle, buka!”
Bola mata yang memerah, bercak kehitaman di leher yang menyebar sampai sisi wajah. Tuhan, jangan bilang…
“Rielle, tolong buka. Rielle!” Kenapa tidak ada jawaban? Kenapa Rielle tidak membiarkannya lihat? Sampai suara yang ia suka terdengar, Thelios akhirnya memutuskan untuk berhenti.
Suara Rielle berubah. Otot wajah yang kaku membuat terbata, “Thelios… pergi…” Suara yang membuat perut Thelios terasa ngilu. Suara di sela geraman dan lenguhan. Khas seperti…
“Aku— digigit, zombie.”
“Sejak kapan?”
“Dua hari…”
Dua hari yang lalu? Dua hari lalu saat mereka salah langkah dan masuk ke wilayah penuh zombie? Dimana Vael mendapat luka tusukan dan dia mati-matian mencari jalan keluar?
Kenapa dia tidak menyadarinya?
Rielle yang seharian berubah diam, tidak ikut mereka membersihkan diri di sungai seperti biasa, terus-terusan memegang lengan, berkali-kali beralasan ada yang tertinggal dan pergi berjam-jam sendirian. Harusnya Thelios sadar ada yang tidak beres.
“Rielle, buka. Biar aku lihat.”
Sunyi. Thelios menggenggam gagang pintu. Memikirkan puluhan cara untuk menghancurkan benda ini dan menerobos masuk. Tapi, lagi-lagi, suara Rielle yang tetap terdengar tenang di tengah geraman, membuatnya hanya bisa diam.
“Thelios, pulang, ya? Baik-baik… sama Vael, Lyon.” Terbata di sisa kesadarannya, “Kamu, baik-baik juga. Begadang, jangan! Makan, banyak.
Dan… bahagia .”
Thelios memejamkan mata ketika mendengar itu semua. Sampai ada suara tubuh yang ambruk, dan detik berikutnya pintu yang menjadi penghalang digaruk kasar, dia hanya bisa diam. Raganya seperti ditarik ke masa lampau. Semua kenangan buruk membanjiri kepala. Membuat dadanya sakit.
Pada akhirnya, dari dulu sampai sekarang, Thelios tidak bisa melindungi orang-orang yang dia cintai. Teman-temannya, anak didiknya, keluarganya, dan sekarang… belahan jiwanya.
Dia kehilangan, lagi.
Sendiri, lagi.
Tapi, Thelios tidak mau. Setidaknya sekarang, dia tidak mau mengalah dengan takdir.
Membuka jaket yang ia pakai, merobek bagian lengan sebelum menghancurkan gagang pintu dan membuka penghalang di antara mereka. Thelios menahan matanya yang mulai terasa basah, bergerak cepat menghalau tangan yang terjulur mencoba mencakarnya.
Dia tahu Rielle. Kelewatan tahu.
Bahkan setelah berubah menjadi sosok yang ia benci, Rielle masih bergerak begitu sama seperti yang pernah dia ajarkan. Menyerang bagian kaki jika musuh lebih besar dan cari titik lemahnya.
Tapi Thelios juga yang selama ini selalu memenangkan sparing mereka.
Jadi dengan mudah dia melilit jaketnya di tubuh Rielle, mengikat bagian lengan yang disobeknya tadi ke mulut orang yang disukainya, membuat sosok itu menggeliat tidak berdaya.
Thelios di sana, diam menatap Rielle yang mendelik, menggeram, sebelum akhirnya bergumam, “Rielle, ayo kita pulang…”
***
“Kemana bocah-bocah itu? Ikannya sampai dingin.” Lyon tengah bergelayut manja. Pun senang-senang saja dapat momen berduaan dengan kekasihnya, tapi hari sudah malam dan dia tidak mau memikirkan resiko terjadi hal buruk ke kedua rekannya yang sudah dia anggap seperti adiknya sendiri.
Usapan di rambutnya bikin dia makin semangat mendusal. Cuma agak menyebalkan karena omongan Vael selanjutnya, “Sabar, Lyon. Paling mereka sedang berjalan-jalan.”
“Stop panggil aku pake namaku!”
“Tapi… namamu memang namamu.” Vael bingung, tidak mengerti dengan protes pacarnya. Tapi pada akhirnya, guncangan di pundak membuat dia tertawa.
“Kita kan udah pacaraaan, panggil pakai sayang kek, pacarku, atau apa. Kalau pakai nama kesannya formal banget!”
“Hahaha, baiklah, sayang?”
Mendengar nada usil dari kekasihnya, seharusnya Lyon mendengus kesal. Pura-pura bertengkar yang manis, kemudian kembali mesra-mesraan yang membuat Rielle ‘eeew’ berat setiap tidak sengaja lihat mereka yang tengah berduaan.
Tapi semua berubah saat dia mendengar langkah kaki dan suara geraman yang familiar.
Buru-buru mengambil pisau yang Vael hadiahkan untuknya, Lyon berdiri. Menggenggam erat, memasang kuda-kuda untuk menyerang.
Vael tengah terluka. Beberapa hari ini perjalanan mereka jadi lebih lambat karena kekasihnya harus berjalan sambil dipapah olehnya dan Thelios. Dan Thelios-Rielle belum kembali! Jadi hanya dia yang bisa bertarung di sini.
Zombie datang, dia harus segera menyerang sebelum—
“Thelios?” Langkah kaki itu… bukan zombie. Tapi Thelios? Kalau begitu dari mana geraman itu datang?
Sedetik rasanya bisa lega karena siluet yang datang mendekat menampilkan Thelios, rekannya. Hanya saja, detik berikutnya Lyon kembali mengencangkan pegangannya pada pisau, mengarahkan tepat ke hadapan Thelios yang berjalan mendekat.
“Tu-turunkan Rielle. Buang dia…”
Semua berkecamuk. Lyon menyayangi Rielle seperti adiknya sendiri. Tapi di obrolan malam-malam mereka, Lyon selalu ingat janji mereka untuk saling membunuh jika salah satu dari mereka berubah menjadi zombie.
Dan sekarang, yang Thelios gendong bukan lagi adiknya yang selalu ia jaga. Rielle sudah tiada. Tapi kenapa Thelios seolah tidak peduli? Malah semakin mendekat, semakin membuatnya awas. Lyon sudah siap untuk bertempur. Dia siap memukul Thelios dengan apapun untuk menyadarkan pria itu.
“Aku kesini hanya untuk mengambil barangku.”
“Thelios, Rielle sudah mati. Yang kau bawa hanya tubuhnya saja!”
Thelios yang tidak menggubrisnya, mengambil cepat barang-barang, membuatnya kesal. Lyon pun sama, sudut hatinya terasa perih mengetahui fakta Rielle berubah menjadi zombie. Tapi disisi lain, adrenalinnya terpacu hebat. Antara melindungi Vael dan ingin menyadarkan Thelios. Salah langkah sedikit, Rielle yang walaupun sekarang terikat, bisa menyerang mereka.
Dan kalau itu terjadi,
Lyon yakin dia tidak punya hati untuk melawan.
Seperti tahu lututnya sudah kelewatan lemas, Vael mengusap pinggulnya. Meminta Lyon untuk bersandar ke bahu sambil tetap menatap awas Thelios, “Thelios, mari kita pikirkan jalan keluarnya. Apa yang terjadi pada Rielle tidak bisa kita hindari, tapi prioritas utama saya tetap keamanan kita bertiga.”
Lagi-lagi, Thelios tidak menyahut. Malah mengencangkan kain yang dipakai untuk menggendong Rielle, sebelum akhirnya menatap bergantian dua orang yang selama ini menjaganya.
Lirih dia berbisik, “Aku berterima kasih untuk bantuan kalian. Tapi mulai dari sini, kurasa lebih baik kita melanjutkan perjalanan masing-masing.” sebelum akhirnya berputar arah, memasuki hutan yang gelap.
“Thelios, kembali.
Thelios!”
***
Thelios tidak bisa tidur.
Suara terakhir Rielle yang mengingatkannya untuk berhenti begadang, makan yang baik, dan selalu bahagia seperti kaset rusak yang terus berputar di kepala. Membuatnya hampa.
Entah sudah berapa hari dia berjalan sendiri membawa Rielle yang sudah terkena wabah, menjadi makhluk abadi dengan tubuh yang perlahan membusuk. Tidak tahu tujuan, tidak punya rencana, Thelios terus berjalan dengan pikiran kosong.
Dia tidak tahu harus apa. Keegoisannya memaksa dia untuk mempertahankan Rielle, tapi akal sehatnya terus menerus mengingatkan apa yang dia inginkan adalah hal mustahil. Bahkan jika ditanya untuk apa dia membawa Rielle seperti ini, Thelios tidak tahu. Dia tidak tahu mengapa hari itu dia mengambil keputusan ini.
Mungkin otaknya yang bermasalah. Mungkin di sudut hatinya dia masih tidak bisa menerima kehilangan orang yang dia cintai secepat ini. Mungkin dia masih ingin memandang wajah itu lebih lama lagi. Masih mau memeluk tubuh yang terasa pas dalam dekapannya.
Setiap hari mendengar geraman, melihat mata merah yang mendelik ke arahnya, Thelios tidak merasakan jijik yang sama seperti ketika dia melihat zombie yang lain. Dia tetap cinta.
Mengusap helai rambut Rielle yang ia baringkan di hadapannya, bermandikan cahaya api unggun, Rielle tetap cantik apapun yang terjadi.
“Penyesalanku hanya satu,” Thelios bergumam entah ke siapa. Tidak ada yang mengerti atau mendengarkannya. Seperti pernyataan yang terlambat, dia bicara ke sosok monster di hadapannya, “Kalau bisa membalikkan waktu, aku akan berhenti menjadi pengecut dan mengatakan hal ini… aku mencintaimu. Semisal kita bisa bertemu lagi, aku tidak akan menyia-nyiakan setiap detik yang kita lalui bersama. Semisal kita bertemu lagi, Rielle, aku akan menjadikanmu pria paling bahagia di dunia ini.
Semisal kita bertemu lagi,
aku akan memberikan apapun asal kamu tetap hidup.”
.
Thelios tersentak dalam tidurnya. Terbangun dengan suara deru langkah dan geraman berisik. Dilihatnya Rielle yang masih di hadapannya menatapnya tanpa suara. Kalau begitu… ini suara apa?
Berdiri cepat, betapa pening langsung menusuk kepala. Kurang tidur, hampir tidak makan atau minum ternyata berdampak sebegini hebat. Memijat pangkal hidungnya, setelah itu Thelios memanjat pohon di dekatnya untuk melihat sekitar.
Betapa dia buru-buru turun, mengambil Rielle. Mengikat asal tubuh pemuda itu ke tubuhnya, kemudian lari.
Ada kawanan zombie mendekat. Dari fisik dan kecepatan mahluk-mahluk itu berlari ke arahnya, Thelios tahu itu jenis zombie yang sudah bermutasi. Kalau terus di sini, dengan jumlah musuh yang mencapai 20, dia tidak akan selamat.
Sialnya, baru beberapa meter, kakinya seperti tidak bisa diajak bekerja sama. Dia terlalu lelah.
Tapi zombie-zombie itu terlalu dekat.
Entah apa yang ada dipikirannya, Thelios mendekap erat Rielle. Kalau memang ini akhirnya, setidaknya dia bisa bertemu dengan Rielle lagi.
Menutup mata, Thelios sudah siap.
Hanya saja,
DUAK!
“Thelios bocah sialan! Selalu saja merepotkan!”
Suara yang familiar. Membuka mata, dilihatnya tangan hangat yang terjulur ke arahnya. Memegang dahi, pipi, sampai pangkal leher. Thelios termangu, di sana dia lihat Lyon melakukan pemeriksaan cepat sebelum mengeluarkan pisau dari saku tangan dan menyusul Vael yang mendorong mundur para zombie dengan tongkat panjang.
“Sayang…” Rintihan Vael terdengar saat tangannya gemetar menahan zombie yang mendekat. Detik selanjutnya, Lyon melompat cepat, menusuk titik lemah para zombie yang ada di belakang kepala, tepat perbatasan tulang leher dan tengkorak.
Thelios melihat pertarungan yang selama ini sering ia lihat dengan kagum. Betapa dua orang di depannya punya sinergis yang sempurna. Dia ingin bangkit, mau membantu. Kalau saja Lyon tidak membentak galak.
“TIDUR SAJA! Sial, kau demam!”
Menggeleng. Kalau dia tidur, apa yang akan terjadi dengan Rielle? Dia percaya Lyon dan Vael bisa menyelesaikan ini semua. Tapi dari reaksi dua orang itu saat mendapati Rielle yang telah berubah, dia tidak mau ambil resiko, “Aku ikut.”
“Thelios, dengar. Percaya pada kami, kami tidak akan melakukan apapun pada Rielle.” Lyon mengeluarkan pisau lain dari saku, menggunakan dua tangannya untuk siap menyerang. Tapi sebelum itu, dia perlu menenangkan bocah sinting ini. Sudah pucat, gemetar kedinginan, masih saja sok-sok punya tenaga.
“Thelios, di utara antidote sedang dibuat.
Kita bisa menyelamatkan Rielle.”
— TBC?
