Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Collections:
Wishful Thoughts Fest
Stats:
Published:
2025-10-26
Completed:
2025-10-29
Words:
3,739
Chapters:
3/3
Comments:
4
Kudos:
67
Bookmarks:
6
Hits:
706

Why Would I Let You In? (With You There's No Pretending)

Summary:

Lima tahun dalam ritme yang pasti; Sion bekerja, bekerja, dan bekerja saja tanpa pernah memikirkan urusan hati. Tembok yang ia dirikan itu kokoh dan tinggi, gerbangnya rapat terkunci.

Sion sudah mendekati kepala tiga, Daeyoung baru masuk dunia kerja; ada banyak batasan yang harus dijaga, apa jadinya jika salah satu dari mereka jatuh suka?

Notes:

Title taken from Juna by Clairo.

Chapter Text

Set in a fictional energy consulting firm where Sion is the Project Manager and Daeyoung is a fresh-graduate intern.

.


Lima tahun bukan waktu yang sebentar untuk bertahan dalam naungan sebuah korporasi.

Sejak usianya masih dua puluh dua dan baru saja menggenggam gelar sarjana, Oh Sion banyak bertumbuh melalui berbagai versi dirinya dari tahun ke tahun. Sekarang ia punya titel sebagai Project Manager di sebuah firma konsultasi ternama, sudah bersahabat dengan semerbak aroma kopi yang diseduh di pantry setiap pagi, pun nama-nama para paman dan bibi cleaning service yang menyapa setiap hari. Kantor yang berlokasi di lantai 21 salah menara pencakar langit itu rasanya sudah seperti rumah kedua Sion di ibukota.

Sion rasa dirinya masih belum cukup untuk masuk dalam kategori ambisius, tapi dia cukup mencintai pekerjaannya, seperti seseorang yang selalu kembali ke tempat yang sama karena tahu ia dibutuhkan di sana. Ada banyak hal dari rutinitas itu yang membuatnya tetap bertahan; mulai dari stabilitas finansial yang ia terima sampai rasa puas setiap kali presentasinya mendapat apresiasi dari klien, pun dari helaan napas lega anggota timnya setelah laporan diselesaikan tepat waktu. Lima tahun bukan waktu sebentar, tapi juga tidak terasa monumental. Hanya berjalan begitu saja bagi Sion dan para rekan yang mengisi hari-harinya.

Ada Wonbin, si Carbon Analyst muda yang kerap membuat orang-orang lupa betapa tajam otaknya di balik wajah mungil dan mata bundar yang selalu tampak bersinar seperti porselen hidup. Ia tak banyak bicara, namun satu kalimatnya saja bisa meruntuhkan argumen siapa pun, seakurat ia mengolah data dan menata angka-angka emisi dalam laporan. Ketika Wonbin berbicara, biasanya itu berarti ia sudah memikirkan tiga langkah ke depan. Lalu ada Ningning si Policy Analyst yang selalu tampil seolah jalanan dari stasiun menuju kantor adalah runway fashion week. Bahkan saat sedang dikejar deadline di kuartal tersibuk sekalipun dimana tim mereka baru bisa tidur pukul 2 pagi sebelum berangkat ke kantor lagi 5 jam kemudian, Ningning tidak sedikitpun kehilangan aura yang membuatnya lebih mirip model sedang off duty ketimbang seseorang yang berkutat mengkaji regulasi setiap hari.

Sion pernah berpikir bahwa kedua orang itu sudah lebih dari cukup untuk membuatnya tetap stabil di tengah dinamisnya hiruk pikuk korporasi. Sion tidak butuh perubahan besar, pun orang baru yang masuk tiba-tiba dan mengguncang hidupnya.

Namun perubahan punya caranya sendiri untuk menyelinap masuk. Dalam hidup Sion, ia muncul dalam wujud seorang lelaki tinggi dengan senyum cerah dan nama baru di daftar kehadiran: Kim Daeyoung.

 


 

Sion tahu tim kecilnya akan berubah—bertumbuh, menyusut, berganti wajah. Orang datang dan pergi; ia sudah terlalu paham ritme itu. Karena itu, saat Kim Daeyoung muncul pada suatu Senin pagi yang terasa biasa saja, Sion tidak mengharapkan apa pun.

Pukul delapan lewat sedikit, dan Daeyoung sudah duduk di meja yang disiapkan untuknya. Sion masih ingat kemeja linen berwarna hijau muda dan rambut yang disisir rapi. Ada aroma segar seperti campuran buah yang melintas setiap kali ia lewat.

Seperti kebanyakan anak baru, Daeyoung awalnya terlihat canggung. Tapi kecanggungan itu menguap terlalu cepat. Dalam hitungan hari, ia sudah menyatu dengan ritme kerja mereka. Sion melihatnya ikut lembur di meeting room sambil menyiapkan slide untuk pitch yang baru disepakati jam sembilan malam; mendampingi Wonbin melakukan finalisasi laporan di menit-menit terakhir sebelum deadline; lalu tetap datang paling awal keesokan paginya.

Suatu hari, Daeyoung datang dengan sebuah paper bag besar dan senyum jenaka. Terlalu cerah.

“Ini, Kak Sion. Biar nggak ngantuk,” katanya sambil meletakkan satu gelas es kopi di meja Sion. Bahkan si empunya pun baru saja membuka aplikasi di ponsel untuk menentukan franchise kopi mana yang beruntung hari ini mendapat tambahan sales dari pesanan tim Sion.

Sion suka kopi. Suka sekali. Dan ini bukan pertama kalinya ia menerima kopi dari rekan kerja tanpa diminta. Namun tetap saja ia menerima gelas berembun itu dengan sedikit ragu untuk formalitas. “Eh, Daeyoung nggak usah repot-repot—”

“Gak apa-apa kok, Kak,” potong Daeyoung lembut. “Americano with peach syrup. Kesukaan Kakak, kan?”

Ia menambahkan sedotan kertas dan selembar tisu, sebelum melenggang ke meja Ningning untuk melakukan hal serupa.

Sion ingin menyederhanakan gestur tersebut. Mungkin Kim Daeyoung hanyalah satu dari sekian pekerja muda yang sedang cari muka. Sion sering sekali menemui karakter seperti itu, dan Sion tidak menyalahkan mereka. Bertahan hidup di dunia kerja tidak mudah.

Namun alangkah lebih baiknya jika Sion tidak menyadari sorot mata Daeyoung.

Sion tahu bahwa di manik bundar yang menjadi dua pasang bulan sabit ketika Daeyoung tersenyum itu tidak ada sedikitpun ambisi seseorang yang sedang mengincar nilai tambah di penilaian kinerja, tidak ada kalkulasi untung rugi dari kebaikan kecilnya.

Daeyoung baik hati, dan peduli. Terlalu wangi, dan tampan. Sion menancapkan sedotan sekaligus menepis pemikiran bahwa ia sedikit berharap kopi yang dibelikan Daeyoung untuk Wonbin dan Ningning bukanlah favorit mereka.

 


 

“Si Daeyoung semangat banget, ya. Kinda remind you of someone, huh?” celetuk Wonbin suatu pagi. Jemari lentiknya menunjuk ke Daeyoung yang sedang di ruang rapat. Di balik pintu kaca transparan, Sion dan Wonbin bisa melihat Daeyoung sedang menyalin rumus-rumus dari papan tulis penuh diagram dan garis panah. Kedua alisnya bertaut, sesekali kedua matanya mengerjap seperti berusaha memahami logika-logika rumit yang menari di depan matanya. Sion hanya tersenyum kecil sambil mengangkat bahu. “Mungkin.”

Wonbin tidak salah. Daeyoung mengingatkan Sion pada dirinya sendiri lima tahun lalu: punya rasa ingin tahu yang besar, yakin bahwa kerja keras akan selalu dihargai, bahwa dunia kerja adalah ajang untuk pembuktian diri. Sekarang, Sion sudah tahu bahwa kenyataannya tidak sesederhana itu.

Sion sendiri tidak tahu kapan ia dan Daeyoung mulai terlibat lebih banyak. Awalnya hanya sekadar membimbing, membantu menyusun laporan, menjelaskan hal-hal teknis. Tapi lambat laun, percakapan mereka mulai bergeser dari pekerjaan ke hal-hal kecil: kenapa lampu kantor terlalu terang, atau siapa yang sebenarnya selalu mencuri susu di kulkas pantry.
Hari-hari berlalu, dan perhatian kecil itu makin sering muncul. Kadang dia mengganti spidol putih yang sudah kering tanpa diminta. Kadang dia bahkan diam-diam merapikan tumpukan dokumen di meja Sion. Hal kecil yang biasanya membuat Sion jengkel kalau dilakukan orang lain, tapi entah kenapa tidak saat dilakukan Daeyoung.

Ningning sempat menggoda Sion, “Kamu punya asisten pribadi sekarang?”

Sion pura-pura sibuk mengetik. “He’s probably just sucking up to me. Semua anak magang biasanya begitu.”

Ningning cuma menggeleng, tapi Sion tidak melihatnya.

 


 

Bulan kedua di kuartal empat dan Sion terbaring di kasur dengan selimut tebal menyelimuti seluruh tubuhnya. Kepala Sion terasa pusing, tenggorokannya perih. Tiga minggu berturut-turut perjalanan dinas, ditambah rapat maraton hingga larut malam, akhirnya menuntut balas.

Wonbin dan Ningning sudah berangkat untuk site visit klien di luar negeri. Kantor mereka sepi, dan Sion kini harus mengalah pada rasa sakit yang menggerogotinya. Ia menatap langit-langit apartemen yang ia tinggali seorang diri. Apartemen itu disewanya sejak tahun ketiga bekerja, ketika penghasilannya sudah sedikit lebih cukup untuk tempat yang nyaman.

Di tengah renungannya, bel apartemen Sion berbunyi. Sion tidak ingat apakah ia memesan sesuatu. Biasanya ia meminta untuk dititipkan ke resepsionis di lobi saja. Keluarganya di luar kota dan yang tahu ia sakit cuma Wonbin, Ningning, serta Yoo Jimin dari Human Resource. Dan Kim Daeyoung. Tentu saja.

Sion memaksa tubuhnya untuk bangkit, ia singkirkan selimut dan berjalan menuju pintu dan.. Astaga.

Kim Daeyoung berdiri di luar apartemennya. Seperti anak anjing yang meminta dibukakan pintu.

“Hai Kak Sion,” sapanya ketika Sion membuka pintu. “Dengar-dengar Kak Sion sakit.”

Sion mengerjap. “Oke. Pertama, kamu tahu alamatku dari mana? Kedua. Kamu mau apa?”

Entah karena tubuh Sion yang lemah, atau karena Daeyoung memang jauh lebih tinggi dan besar, Sion tidak bergeming ketika Daeyoung melangkah masuk apartemen.

“Kakak tinggal sendiri, kan? Aku khawatir, lho. Sudah ke dokter? Sudah makan?”

Sion menarik napas panjang. “Udah ya, Kim Daeyoung. Kamu gak perlu repot-repot tau–” Sion berhenti sebentar karena batuk. “They don’t pay you enough to babysit your sick manager.”

Daeyoung hanya membalasnya dengan kekehan ringan sambil mengeluarkan dua wadah Tupperware berwarna hijau dari tas jinjing. Saat salah satu tutup wadah itu dibuka, Sion dapat merasakan aroma kaldu yang kaya akan rempah mengudara dan membangkitkan selera makannya seketika.

“Aku coba masak sup iga yang biasa dibuat sama Ibu. Ini comfort food andalan keluargaku, by the way. Resepnya turun-temurun dari zaman nenek buyut. Jujur aja sih kak, aku gak yakin punyaku seenak buatan Ibu… tapi aku usahakan masakanku masih edible buat Kak Sion! Yang penting kamu makan supaya bisa minum obat, oke?”

Mulut Daeyoung mencerocos tanpa henti sementara kedua tangannya dengan cekatan memanaskan sup dan nasi di dalam microwave, mengambil mangkuk dari rak di atas wastafel, dan menatanya semuanya di atas meja.

Momen itu, Sion tahu, ia dalam bahaya.