Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-04-15
Words:
1,005
Chapters:
1/1
Comments:
4
Kudos:
161
Bookmarks:
13
Hits:
6,459

Digagahi_Kades_Nikmat.Mp4.2020

Summary:

Niatnya cuma mau songong, tapi Ryul malah berakhir digagahi Pak Kades sore-sore sampe ngga bisa napas.

Notes:

Hai selamat makan guys.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Kwon Ohyul 33 yo
Kim Ryul 29 yo

Ryul dikenal sebagai brandal nakal di Desa Sukabapak. Predikatnya sebagai preman desa bukan sekadar omong kosong; tiap hari kalau tidak memalak pedagang yang ada di sana, ia pasti nangkring di pengkolan untuk menggoda gadis-gadis yang lewat dengan siulan nakalnya. Tak jarang ia goda dengan kalimat-kalimat sensualnya. Namun, segala tingkah bengal itu selalu sampai ke telinga Bapak Kades yang berwibawa, tegas, namun kesabarannya setebal dompetnya.

Sore itu, sekitar jam lima saat kantor sudah sepi dan para ASN sudah pulang, Ohyul memanggil Ryul. Ia sudah jengah. Kali ini laporan datang dari desa tetangga; anak Pak Kades sebelah kena catcalling oleh Ryul.

"Kamu itu bisa nggak, Le, sehari saja jangan bikin susah orang?" suara Ohyul rendah, lelah karena kerjaannya yang menumpuk hari itu.

"Saya dengar warga ngomel terus gara-gara kelakuanmu itu lho."

Ryul bukannya takut, ia justru duduk menyandar dengan satu kaki diangkat ke atas meja kerja jati milik Pak Kades. Mulutnya sibuk mengunyah keripik singkong dari toples di meja, matanya merengut menantang. "Yaudah, suka-suka aku lho, Pak. Kalau Bapak capek ya ngapain urusin aku terus?"

Ohyul memijit pelipisnya perlahan, merasakan denyut di kepala yang kian menghebat akibat tingkah pongah pemuda di depannya. Kepalanya menggeleng pasrah; seolah tak percaya bahwa kewibawaannya sebagai pemimpin desa sama sekali tak punya taring di mata Ryul. Ia bangkit dari kursi jatinya, memutar tubuh untuk membelakangi Ryul sambil mengusap wajahnya yang gusar dengan telapak tangan yang kasar.

Hening sejenak menyelimuti ruangan kantor itu, hanya menyisakan suara deru kipas angin tua dan bunyi kunyahan keripik Ryul yang sangat menyebalkan. Kesabaran yang telah Ohyul pupuk dengan susah payah selama tiga minggu terakhir mendadak retak begitu saja. Ada sesuatu yang bergejolak di balik seragam dinasnya.

"Kamu benar-benar nggak ada kapoknya, ya, Le?" bisik Ohyul rendah.

Ryul yang masih asik menyandar di kursi hanya mendengus remeh. "Lha, Bapak sendiri yang hobi manggil aku. Kenapa? Kangen?"

Mendengar tantangan itu, Ohyul mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Ia berbalik pelan, menatap Ryul dengan sorot mata yang begitu tajam dan lapar, membuat nyali Ryul yang tadi setinggi langit mendadak ciut dalam satu kedipan mata.

"Udah deh, aku pulang aja. Bapak nggak jelas panggil-panggil ke sini cuma buat ngomel," ketus Ryul sambil beranjak menuju pintu. Namun, sebelum jemari Ryul menyentuh gagang pintu, sebuah tangan kekar menyambar lengannya. Ohyul menarik tubuh Ryul dengan kekuatan yang tak terduga, membalikkan badannya hingga menabrak pintu, dan langsung melumat bibir berandal muda itu dalam satu ciuman ganas. Ryul terbelalak, ia meronta, tangannya memukul-mukul bahu keras Ohyul.

“Mmph...”

Begitu ciuman terlepas, napas Ryul memburu, wajahnya merah padam. "Bapak apa-apaan! Aku lapor polisi ya!"

Ohyul tak bersuara. Tatapannya gelap, ia menyeret Ryul kembali ke meja kerja, memojokkannya di sana. Wajah Ohyul terbenam di ceruk leher Ryul, menyesap aroma keringat bercampur bau matahari dari kulit pemuda itu. Ryul mencoba melawan, namun tenaganya seolah menguap; ia lemas seketika hanya karena cumbuan kasar Pak Kades.

"Wong kamu diginiin saja sudah lemas, cah ayu... pake acara goda-godain cewek," bisik Ohyul tepat di telinga Ryul.

Merasa harga dirinya diinjak, Ryul meludah tepat ke wajah Ohyul. Tindakan itu adalah kesalahannya yang sangat fatal. Amarah Ohyul meledak; ia merobek kaos hitam yang dipakai Ryul hingga kainnya terbelah dua. Tak ingin waktu habis sia-sia, ia mulai menyerang dada Ryul, menghisap puting kecokelatan itu dengan rakus, seperti bayi yang sedang kehausan.

"Nenen kamu lho enak gini... sudah, mending jadi istri saya saja ya," gumam Ohyul di sela-sela kenyotan kasarnya.

Ryul menggigit bibir bawahnya, menahan tangis yang mulai mendesak keluar. Ia benar-benar tak berdaya di bawah kuasa pria yang selama ini ia anggap ‘bapak-bapak menyebalkan’ itu. Saat celana Ryul diturunkan, Ohyul tertawa kecil melihat kejantanan Ryul yang sudah setengah tegang.

"Nenennya dikenyot malah ngaceng ya cah ayu..." Ohyul mengecup pipi Ryul yang basah oleh air mata. "Gemesin pol kamu iki."

Ohyul hanya membuka celana dinasnya separuh, mengeluarkan miliknya yang sudah menegang hebat. Ia menekuk kaki Ryul lebar-lebar di atas meja kerja, membasahi lubang perawan pemuda itu dengan salivanya.

"Bapak jangan, Pak... ampun. Aku janji ndak nakal lagi," rengek Ryul, suaranya parau dan bergetar.

Ohyul hanya terkekeh gemas sebelum menghujamkan miliknya perlahan, mengisi kekosongan di dalam diri Ryul untuk pertama kalinya. Ohyul mendesis nikmat saat merasakan jepitan yang luar biasa kuat. "Enak e nduk... sempit banget lho ini lubangmu. Nggak pernah dipake yo?"

Ryul merem melek, jemarinya mencengkeram lengan kokoh Ohyul. Rasa perih dan nikmat berperang di dalam dirinya. "Bapak sakit... keluarin..."

Namun Ohyul sudah hilang kendali. Ia mulai menggenjot dengan irama yang mantap dan bertenaga, membuat meja kerja itu berderit mengikuti tiap hentakannya. Hujaman demi hujaman menyapu titik sensitif Ryul, membuat pemuda itu melenguh parau. Ohyul tidak membiarkan Ryul bernapas; ia kembali mencium Ryul, berbagi saliva yang kini berantakan hingga mengalir ke dagu, sementara tangannya mulai mengocok penis Ryul dengan ritme yang selaras dengan genjotannya.

"Ahhh, sayang... jadi istri saya aja ya nduk... sempit sekali lubang perawanmu ini," geram Ohyul, suaranya berat penuh gairah.

Ryul sudah tidak bisa lagi membedakan rasa sakit dan nikmat. Pikirannya kosong, matanya memutih saat Ohyul mempercepat temponya. Getaran hebat merambat dari pinggang hingga ke seluruh tubuh Ryul. Sensasi panas yang tak tertahankan mendesak di perut bawahnya.

"B-Bapak... Ahhh aku ndak kuat." pekik Ryul parau.

Tepat saat Ohyul menghantam bagian terdalamnya dengan satu hentakan brutal, Ryul mencapai puncak kegilaannya. Tubuhnya mengejang hebat, punggungnya melengkung ekstrem. Tak hanya air mani yang menyembur deras, saraf-sarafnya yang lumpuh karena stimulasi berlebihan membuat Ryul kehilangan kendali atas kandung kemihnya.

Cairan hangat pipis bercampur mani menyembur keluar, membasahi perutnya dan meluber hebat di atas meja jati yang penuh berkas-berkas penting itu. Ryul menangis keras, meracau tak jelas sambil memeluk leher Ohyul erat-erat.

"Bapak... huhuhu," tangis Ryul pecah, air mata dan keringatnya menyatu.

Merasakan jepitan maut dari dalam lubang Ryul yang sedang orgasme, Ohyul tak mampu bertahan lebih lama. Ia menggeram panjang, otot-otot lengannya menegang kaku saat ia menumpahkan seluruh benihnya yang panas dan kental jauh ke dalam Ryul. Sedangkan Ohyul tetap membenamkan wajahnya di leher Ryul yang masih gemetar, menghirup sisa gairah sore itu dengan senyum gemas di bibirnya.

"Sudah... mulai besok jadi istri saya saja ya, biar nggak nakal lagi."

Notes:

@ajudanryul (X)