Actions

Work Header

Breath Between Kisses

Summary:

Intinya NoteSun ciuman sampai pusing terus sun minta note buat makan habis dia aja sekalian

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

 

 

Senja turun perlahan menyelinap masuk melewati jendela kamar kos yang sempit, membawa warna jingga yang lembut dan sedikit muram, seperti sesuatu yang ingin bertahan lebih lama sebelum benar-benar hilang. Cahaya itu jatuh di seprai yang kusut, di dinding yang sunyi, dan berhenti di tubuh Yudistira yang sedang duduk menyender santai di ranjangnya memetik gitarnya dengan santai—terlalu santai, seolah dunia di luar sana tidak pernah benar-benar menyentuhnya. Satu kakinya terlipat di atas kasur, yang lain menjuntai ke bawah, tubuhnya jatuh ke posisi malas yang hampir terlihat disengaja. Dari mulutnya, kata-kata mengalir tanpa arah—ringan, tidak jelas, meloncat dari satu hal ke hal lain seperti tidak pernah berniat selesai—dan sesekali diselingi tawa kecil yang terlalu mudah keluar, terlalu akrab dengan ruang sempit itu.

Dan Arjuna, seperti biasa, tetap ada di sana, berdiri tidak jauh, cukup dekat untuk mendengar, cukup jauh untuk pura-pura tidak peduli. Alisnya berkerut, napasnya sesekali keluar dalam dengusan kesal, tanggapannya pendek, tegas, seperti ingin memotong semua omong kosong itu sekaligus. Namun anehnya, ia tidak pergi. Tidak benar-benar. Seolah ada sesuatu di ruangan itu, atau mungkin pada Yudistira sendiri, yang diam-diam menahannya, membuat setiap langkah yang seharusnya menjauh justru tetap tinggal, terikat pada senja yang menggantung dan suara yang tak pernah benar-benar ingin ia abaikan.

 

“Lo tuh kalau ngomong bisa nggak sih yang jelas dikit?” keluhnya akhirnya, suaranya tajam tapi tipis, seperti bilah yang sudah terlalu sering dipakai. “Asbun mulu ah Dis, dasar savvit”

Yudistira tidak langsung menjawab. Senyumnya muncul perlahan, ringan, seolah dunia tidak pernah benar-benar menyentuhnya. “Biarin.” katanya santai, “yang penting lo masih di sini.”

Kalimat itu meluncur begitu saja—ringan, hampir tidak berarti.

Seharusnya.

 

Namun sebelum Arjuna sempat membalas, sebelum ia sempat melanjutkan kekesalannya, sesuatu yang lain lebih dulu terjadi, lebih cepat, lebih pasti. Tangan Yudistira terangkat, menangkap pergelangan tangannya dalam satu gerakan yang tampak biasa, terlalu biasa untuk dipertanyakan, seperti kebiasaan lama yang tidak pernah perlu dijelaskan. Namun yang membuatnya berbeda bukanlah sentuhan itu, melainkan kenyataan bahwa sentuhan itu tidak pergi. Waktu berjalan satu detik, dua detik, dan Yudistira tidak melepaskannya.

Sebaliknya, tangannya yang lain bergerak santai ke samping, menyingkirkan gitar yang tadi bertumpu di pangkuannya. Benda itu diletakkan begitu saja tergeletak di samping kasur, nyaris tanpa perhatian, seolah ia hanya sesuatu yang bisa digantikan kapan saja. Senja menyentuh permukaan kayunya sebentar sebelum meredup, dan di saat yang sama, ruang di pangkuan Yudistira terbuka—kosong, menunggu. Tarikan di pergelangan Arjuna berubah, lebih tegas sekarang, dan sebelum sempat ditolak, tubuhnya sudah tertarik maju.

Dalam satu gerakan yang terlalu mulus untuk dilawan, Arjuna jatuh duduk di pangkuan sang pemilik mata zamrud, menggantikan gitar yang tadi ada di sana. Jarak runtuh tanpa sisa, napas mereka bertemu terlalu dekat, terlalu nyata. Pegangan Yudistira tidak mengendur; justru menetap, seolah memastikan Arjuna benar-benar tinggal di tempat itu, seolah itu memang tempat yang sejak awal sudah ia pilih untuknya.

Arjuna menoleh, refleks, alisnya berkerut lebih dalam. “Apaan sih—lepas.”

Nada itu tegas. Perintah.

Biasanya, Yudistira akan tertawa. Akan menyerah. Akan menjadikannya bahan bercandaan lain yang tidak ada ujungnya.

Tapi kali ini, ia tidak bergerak.

Pegangannya justru berubah, sedikit lebih kuat, sedikit lebih pasti. Dan itu cukup untuk membuat Arjuna sadar bahwa ini bukan lagi sekadar iseng. Jarak di antara mereka yang tadinya aman, perlahan menyusut menjadi sesuatu yang terlalu sempit untuk diabaikan.

“Arjuna… arjuna… Hobi banget marah marah kenapa sih?,” gumam Yudistira pelan, suaranya turun, kehilangan sebagian dari ringan yang tadi melekat. “Gemas.”

 

Jari-jarinya bergerak perlahan di pergelangan tangan Arjuna, pelan tapi pasti, menggeser posisi pergelangan tangan Arjuna agar tetap berada dalam genggamannya, menahannya dengan tekanan yang cukup untuk terasa, cukup untuk memastikan tidak ada gerakan yang benar-benar lepas darinya. Yudistira sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, bukan untuk mendekat dengan tergesa, tapi untuk mempersempit ruang tanpa memberi pilihan, sementara tangan satunya naik dengan tenang, menangkup rahang Arjuna dan mengarahkannya. Memaksa tatapan itu tetap menghadap padanya. Ibu jarinya menyapu pelan kulit yang memanas, mengusapnya berulang kali seolah menikmati reaksi yang muncul, seolah setiap perubahan kecil di wajah Arjuna adalah sesuatu yang ia ciptakan sendiri. Pegangannya tidak kasar, tapi tidak memberi celah; jari-jarinya menetap, mengunci posisi tanpa terlihat seperti mengunci, dan bahkan ketika Arjuna sedikit bergerak, Yudistira hanya menyesuaikan—menggeser, menarik, memastikan tubuh di pangkuannya tetap di sana, tetap dekat, tetap berada dalam kendalinya.

“Arjuna sayang, Kalau kau aku lepas sekarang…” lanjutnya, suaranya hampir seperti bisikan yang tidak sengaja terdengar, “…memangnya mau ke mana?”

Pertanyaan itu jatuh di antara mereka, berat dan sunyi.

 

Arjuna mengerutkan kening, mengalihkan pandangan dari kekasihnya sambil mencoba tetap berada di tempatnya sendiri, mencoba mempertahankan jarak yang perlahan diambil darinya. “Ke mana aja. Emang kenapa?”

Yudistira mengulang kata-kata itu pelan, seolah mencicipinya. “Ke mana aja…”

Dan tanpa memberi waktu untuk dibantah, tangannya di rahang Arjuna menariknya sedikit lebih dekat, tegas, seperti garis yang tidak boleh dilewati. Tubuh Arjuna yang sudah berada di pangkuannya makin terdorong ke depan, membuat jarak yang tersisa benar-benar lenyap. Yudistira tidak terburu-buru; ia hanya menahan posisi itu, membiarkan detik berjalan lebih lambat dari seharusnya, membiarkan napas mereka saling bertabrakan tanpa ruang. Jari-jarinya kembali bergerak, kali ini lebih pelan, menyapu sisi pipi yang memanas, seolah memastikan Arjuna tetap sadar akan setiap sentuhan yang ia berikan.

“Berarti kau bukan mau ke aku? Hm?”

 

Tangan Yudistira yang bebas naik perlahan, menangkup pipi Arjuna dengan ketenangan yang nyaris berbahaya. Hangatnya menetap di sana, nyata, tidak tergesa. Jempolnya bergerak, mengusap perlahan kulit yang mulai memerah, merah yang terlalu jujur untuk disembunyikan, seperti tomat yang matang di bawah matahari, seperti kepiting rebus yang tidak punya lagi tempat untuk bersembunyi. Sentuhan itu lembut, hampir penuh kasih, namun di dalamnya terselip sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang tidak meminta izin untuk memiliki.

“Arjuna.. Arjuna…” Sang pemilik mata zambrud menghela nafasnya singkat. “Kau lupa ya jun, sejauh apa pun kau pergi,” ucapnya pelan, suaranya kini bukan lagi sekadar suara—melainkan keputusan, “semua itu punya akhir yang sama. Kau, cuma bakalan balik ke aku.”

Dan dunia, pada detik itu, terasa berhenti.

 

Tangan Yudistira yang tadi menangkup pipi Arjuna perlahan bergeser, naik ke tengkuknya, jari-jarinya menyusup dan menahan di sana dengan genggaman yang lebih pasti. Ia menariknya mendekat sedikit lagi, menghapus sisa jarak yang bahkan nyaris tak ada. Wajah mereka kini hanya terpaut setipis napas. Untuk beberapa detik, ia tidak bergerak—hanya menahan, hanya menatap, membiarkan napas mereka saling bertabrakan, saling menghangatkan, saling mengacaukan ritme yang seharusnya tenang. Dada Arjuna naik turun lebih cepat, detaknya semakin keras di telinga sendiri, sementara Yudistira tetap diam, menikmati setiap detik di mana Arjuna perlahan kehilangan kendali atas napasnya sendiri. Semakin memerah. Semakin Indah.

Ah, betapa indahnya kekasih merahnya ini. Yudistira sudah tidak dapat menahannya lagi.

Tangannya yang lain turun ke pinggang Arjuna, mencengkeram lebih erat, menariknya semakin dalam ke pangkuannya, memastikan tubuh itu tetap tinggal di sana. Dan tepat ketika napas Arjuna mulai goyah, ketika jarak yang terlalu dekat itu mulai terasa menyesakkan, Yudistira akhirnya bergerak,tanpa peringatan, tanpa jeda.

Bibir sang zamrud langsung menabrak bibir Arjuna dalam satu dorongan yang tegas, dalam, menelan semua sisa udara yang tersisa. Ciuman itu jatuh keras, menekan, lalu bergerak lebih dalam tanpa ragu, seolah ia tidak sekadar mencium, tapi benar-benar ingin mengambil. Pegangannya di tengkuk menguat, menahan Arjuna tetap di sana, sementara yang di pinggangnya semakin erat, memastikan tidak ada gerakan yang bisa menjauhkan mereka.

Ia tidak berhenti di satu ciuman. Begitu terlepas sepersekian detik—hanya cukup untuk menarik napas yang setengah—ia kembali, lebih dalam, lebih menekan, bibirnya menemukan lagi bibir Arjuna dengan dorongan yang lebih pasti. Sekali, dua kali, berulang, setiap ciuman tidak pernah benar-benar selesai sebelum yang berikutnya datang, seperti gelombang yang terus menghantam tanpa memberi waktu untuk pulih. Napas mereka menjadi kacau, terputus-putus, bercampur tanpa aturan. Arjuna mencoba menarik napas di sela-sela itu, tapi Yudistira selalu kembali lebih dulu, selalu menutup jarak yang baru saja terbuka, selalu memastikan bahwa ritme itu tetap berada di tangannya.

Dan kali ini, ketika ia kembali, tekanannya berubah karna kali ini Yudistira tidak memberi jeda sedikitpun. Tangannya tetap mengunci tengkuk Arjuna, menariknya turun sedikit agar tidak ada ruang tersisa, sementara yang lain mencengkeram pinggangnya lebih erat—dan tanpa peringatan, ia langsung menggigit bibir bawah Arjuna, keras, tajam, tanpa sisa kelembutan yang tadi sempat ada.

“AKH— D-dis”

Tekanan itu datang tiba-tiba, cukup kuat untuk membuat napas Arjuna tersangkut dan tubuhnya menegang di pangkuannya, cukup untuk meninggalkan sensasi perih yang nyata, yang berdenyut di antara napas yang sudah tidak teratur. Ia menahannya sepersekian detik lebih lama, seolah sengaja memastikan rasa itu benar-benar tinggal, sebelum akhirnya melepas hanya sedikit—bukan untuk memberi ruang, tapi untuk langsung kembali, menabrakkan bibirnya lagi dalam ciuman yang lebih dalam, lebih menekan, seolah rasa yang baru saja ia ciptakan itu justru membuatnya semakin enggan berhenti.

N-ngh.. a-ahngh.. Y-yudis… bentar-”

Tangan Arjuna akhirnya bergerak, naik ke bahu Yudistira, menepuk pelan—sebuah refleks, sebuah tanda bahwa udara mulai terasa kurang. Tapi Yudistira hanya memperlambat sepersekian detik, bukan untuk berhenti, melainkan untuk mengatur ulang, sebelum kembali mencium dengan tekanan yang tidak kalah dalam. Ciumannya kali ini lebih lambat, tapi justru lebih menahan, lebih lama, seolah ingin menguras napas yang tersisa sedikit demi sedikit. Ia menahan tengkuk Arjuna dengan mantap, jari-jarinya tetap terkunci di sana, sementara tangannya di pinggang memastikan tubuh itu tidak bergeser sejengkal pun.

Dan ketika akhirnya ia memberi jarak, hanya sedikit, hanya cukup untuk membiarkan Arjuna menarik napas yang hampir habis, ia tidak benar-benar menjauh. Dahinya hampir menyentuh, napas mereka masih bercampur, dan dalam jeda yang sempit itu, ia kembali lagi, lebih pelan tapi tidak kalah dalam, seperti memastikan bahwa setiap sisa ruang yang ada tetap menjadi miliknya.

 

H-hah… Yu..dis.. anjing.. k-kau.. buas banget… s-sialan… h-hah..” Arjuna memberikan protes sambil mencengkram pelan bahu kekasihnya tapi tidak beranjak sama sekali dari pangkuan sang kekasih.

 

Yudistira akhirnya menarik diri sedikit, cukup untuk membiarkan napas Arjuna yang terengah terdengar jelas di antara mereka. Dadanya naik turun cepat, jelas masih mengejar udara yang tadi sempat direnggut darinya, dan pemandangan itu justru membuat Yudistira terkekeh pelan—tawa rendah, ringan, nyaris menggoda. Ada kepuasan yang tidak ia sembunyikan di sana, seolah reaksi itu memang sesuatu yang ia tunggu sejak awal. Tatapannya tetap lekat, tidak memberi ruang bagi Arjuna untuk benar-benar menghindar, bahkan saat ia masih berusaha menstabilkan napasnya sendiri.

Tangannya yang tadi mencengkeram pinggang perlahan bergerak naik, menyusup ke balik turtleneck merah yang dikenakan Arjuna. Ujung jarinya menyentuh kulit di bawah kain itu, hangat, nyata, lalu bergerak pelan menyusuri tanpa tergesa, seperti seseorang yang tahu persis apa yang sedang ia lakukan. Sentuhannya tidak kasar, tapi juga tidak ragu, tenang, pasti, dan tetap dalam kendali. Sementara Yudistira hanya memperhatikan setiap perubahan kecil yang muncul, senyum tipisnya masih tertinggal, seolah semua ini hanyalah permainan yang sepenuhnya berada di tangannya.

“Yu..yudis.. dis.. ngh... dis.. gerah…”

Napas Arjuna yang masih belum stabil, tubuhnya yang sedikit menegang di setiap sentuhan—senyum Yudistira berubah tipis, lebih dalam, seolah menemukan sesuatu yang ia cari. Tangannya yang tadi bergerak di balik kain tidak berhenti, justru naik perlahan ke kerah turtleneck itu, jemarinya menyelip dengan gerakan santai tapi pasti. Tanpa banyak kata, tanpa peringatan, ia menariknya ke atas. Melepas kain itu dari tubuh Arjuna dengan gerakan yang tidak tergesa, namun juga tidak memberi ruang untuk ditolak.

Kain itu kemudian ia lepaskan begitu saja, dibuang sembarang ke samping kasur, seolah benda itu tidak lagi punya arti. Perhatiannya kembali sepenuhnya pada Arjuna yang kini lebih terbuka di hadapannya, tangannya turun lagi menyentuh, kali ini tanpa penghalang, menyusuri dengan tenang namun tetap dalam kendali. Tatapannya tidak pernah benar-benar lepas, memperhatikan setiap perubahan kecil yang muncul, sementara jarak di antara mereka tetap dekat—terlalu dekat untuk dianggap kebetulan, terlalu dekat untuk diabaikan begitu saja.

Arjuna tampak semakin memerah. Bukan hanya di pipinya, tapi sampai ke ujung telinganya, warna itu menyebar seperti sesuatu yang tidak bisa lagi ia sembunyikan. Di mata Yudistira, itu justru membuatnya terlihat semakin indah, semakin hidup, seperti sesuatu yang hanya muncul khusus untuknya. Tatapannya melembut sepersekian detik, namun tetap menyimpan intensitas yang sama, seolah ia sedang menikmati pemandangan itu tanpa ingin terburu-buru mengakhirinya. Tangannya tetap berada di tubuh Arjuna, menahan dengan cara yang tenang tapi pasti, sementara ibu jarinya sempat menyapu ringan sisa kemerahan di bibir itu, hampir seperti kebiasaan refleks sebelum ia kembali mendekat.

 

Dan kali ini, ciumannya datang lebih pelan.

 

Ia menyentuh bibir Arjuna lebih dulu, tidak sekeras sebelumnya, tapi jauh lebih lama—menahan di sana, seolah menikmati setiap detik tanpa perlu terburu. Lalu perlahan, tanpa benar-benar terlepas sepenuhnya, ia bergeser turun, ke sudut bibir, ke dagu, jejak sentuhannya terasa hangat, tertinggal seperti sesuatu yang sengaja ditinggalkan. Dari sana ia bergerak lagi, menyusuri garis rahang Arjuna dengan perlahan, napasnya masih terasa dekat, sebelum akhirnya turun lebih jauh ke leher dan bahu, meninggalkan jejak yang sama. Terasa pelan, tapi penuh, seolah setiap titik yang ia lewati adalah sesuatu yang ia klaim dengan caranya sendiri.

Tangan Yudistira tidak pernah benar-benar diam; jemarinya terus bergerak di tubuh Arjuna dengan ritme yang tenang namun pasti, menyusuri tanpa tergesa seolah sedang menghafal setiap reaksi yang muncul di bawah sentuhannya. Kadang hanya mengusap, kadang menahan sedikit lebih lama di satu titik, cukup untuk membuat napas Arjuna kembali tersangkut. Sentuhan itu tidak kasar, tapi juga tidak ragu, penuh kendali, seakan ia tahu persis sejauh mana harus menekan dan kapan harus melonggarkan.

Saat ia kembali ke bibir Arjuna, gerakannya melambat. Ciumannya tidak lagi sekeras sebelumnya, tapi tetap dalam, tetap menahan. Ia berhenti sejenak di sana, cukup dekat hingga napas mereka kembali bercampur, sebelum ibu jarinya naik menyentuh pelan bagian bibir yang tadi sempat ia lukai—usapannya ringan, kontras dengan intensitas sebelumnya, hampir seperti menenangkan jejak yang ia tinggalkan sendiri. Lalu tanpa banyak jeda, ia kembali mencium Arjuna—lebih pelan, lebih panjang—sementara tangannya tetap bergerak di tubuh itu, menjaga kedekatan yang tidak pernah benar-benar ia lepaskan.

 

“Cantik banget, Arjuna… indah.”

Bisikan itu jatuh pelan di antara napas yang masih belum sepenuhnya stabil, nyaris seperti sesuatu yang tidak sengaja keluar, tapi justru terdengar lebih jujur dari apa pun. Suara Yudistira rendah, hangat, dengan nada yang tidak lagi bercanda—sebuah pengakuan yang disampaikan begitu dekat hingga terasa di kulit. Tangannya masih bergerak pelan di tubuh Arjuna, seolah kata-kata itu tidak cukup untuk menggambarkan apa yang ia lihat, sehingga ia memilih merasakannya juga, memastikan keindahan itu nyata di bawah sentuhannya.

 

“Yudis… ngh… nggak kuat… aku…” Suara Arjuna jatuh patah di antara napas yang masih berantakan, tubuhnya menegang halus di pangkuan itu, seolah sesuatu di dalam dirinya sudah terlalu penuh untuk ditahan lebih lama. Yudistira hanya mengangkat alis sedikit, senyumnya tipis, hampir jahil, seolah ia sudah tahu jawaban dari kalimat yang belum selesai itu.

“Hm? kenapa, Arjunaku sayang?” gumamnya rendah, suaranya tenang tapi menekan. “Mau apa? Coba bilang yang bener.”

Tangannya tetap menahan, tidak memberi ruang, sementara tatapannya turun memperhatikan setiap reaksi kecil yang muncul. Dan Arjuna yang alih-alih menjauh, justru bergerak. Sedikit, tapi cukup jelas. Ia menggeser posisi duduknya di pangkuan Yudistira, dengan sengaja menggesek bagian tengah gundukan celana kekasih hijaunya yang terasa amat tegang dan keras. Gerakan itu membuat napas Yudistira sempat tertahan sepersekian detik, meski ekspresinya tidak benar-benar berubah.

“Gitu?” bisiknya pelan, nadanya masih ringan tapi lebih dalam, seolah ada sesuatu yang berubah di bawah permukaan. Tangannya di pinggang Arjuna mengencang sedikit, menahan posisi itu, memastikan tidak ada yang benar-benar terlepas. Tatapannya naik lagi, mengunci Arjuna di tempatnya, dan kali ini, senyumnya tidak lagi sepenuhnya santai.

“Kalau cuma gitu… masih kurang jelas, Jun.”

 

Arjuna semakin memerah. Kali ini bukan hanya di pipi, tapi sampai ke lehernya, warna itu naik perlahan seperti sesuatu yang tidak bisa lagi ia kendalikan. Napasnya masih berat, dadanya naik turun cepat, dan kalau saja situasinya berbeda—kalau saja ia tidak sedang ditahan seperti ini—mungkin tangannya sudah lebih dulu menjambak Yudistira tanpa pikir panjang. Tapi sekarang, dengan posisi yang terlalu dekat, terlalu terikat, semua reaksi itu tertahan di tubuhnya sendiri, berubah jadi ketegangan yang terasa jelas di setiap gerak kecilnya.

Ia menggigit bibirnya sendiri sejenak, menahan, sebelum akhirnya menatap Yudistira lagi—tatapan yang biasanya tegas itu kini goyah sedikit, campuran kesal dan sesuatu yang lebih sulit ia akui. Tangannya yang sempat mencengkeram baju Yudistira menguat, seolah mencari pegangan, sebelum akhirnya ia bicara, suaranya lebih rendah, lebih pelan dari biasanya.

“…ya lo tau,” gumamnya, setengah menghindar, setengah menantang.

Namun detik berikutnya ia menghela napas, menyerah sedikit pada situasi yang sudah terlalu jauh ini, lalu menatap lurus lagi.

 

“Jangan… berhenti. Lanjutin, Yudis… sampai gue bener-bener nggak bisa mikir. Hancurin gue sekalian, Dis… makan gue sampai habis

 

Dan di senja yang perlahan tenggelam itu, Yudistira meluruhkan, memakan habis Arjuna sampai tak bersisa. Menariknya semakin dalam, semakin rapat, semakin dekat. Suara napas mereka saling bertaut dan melebur, tubuh mereka menyatu tanpa sisa jarak—tanpa lagi mengenal batas apa pun, seolah garis di antara keduanya benar-benar tenggelam dan tak pernah ada. sampai malam dan subuh kehilangan batas, dan waktu sendiri seolah berhenti bernapas di antara mereka.

Notes:

more AU at @akxnra on X