Work Text:
Hatano menghentikan langkahnya beberapa meter sebelum mencapai pintu renta sebuah kapel tua. Kedua manik cokelat yang bersembunyi dibalik kelopak mata yang tampak malas itu pun memperhatikan dalam diam tatkala hari perlahan-lahan menyambut kedatangan sang malam yang pula membawa kesunyian dalam dekapannya.
Pintu kapel berderit dengan sangat menyeramkan ketika Hatano mendorongnya. Tubuhnya kemudian dibawa masuk menuju bilik pengakuan dosa tanpa pikir panjang. Ia duduk dan kedua tangannya bertumpu pada siku, memosisikan dirinya sebagai seorang pendosa yang hendak meminta pengampunan pada Tuhan—meski tujuannya tidaklah demikian.
Hatano membuat dua ketukan dengan jari telunjuknya dan tak lama, dua ketukan yang sama terdengar sebagai balasan—tanda jika Hatano bisa memulai.
“Satu delapan satu dua empat kosong, petunjuk nomor 21 diterima[1],”Hatano mengawali. Sorot pandangnya menelisik di antara kisi-kisi sekat untuk menemukan seseorang dengan tudung hitam tengah mendengarkannya di balik sana, “Wilayah operasi dibagi menjadi dua bagian, selatan dan utara Rawa Pripet. Angkatan udara sebagai pendukung. Angkatan laut dikerahkan untuk menjaga garis pantai Jerman dengan pertimbangan adanya kemungkinan serangan dari Baltik.”
Hatano mendengar tiga ketukan pelan—informasi diterima, lanjutkan.
“Persiapan tengah dilakukan. Hingga saat ini sekitar empat ratus ribu pasukan sudah berada di perbatasan Romania-Soviet dan jumlah akan terus bertambah. Pengawasan udara wilayah Soviet dilakukan dalam Operasi Luftwaffe[2],” Hatano menarik napasnya, “Satu lima kosong lima empat satu adalah penentu. Penyerangan Jerman terhadap Soviet telah diputuskan.”[3]
Ia menutup dengan mengetuk jari telunjuknya satu kali—laporan selesai.
Untuk beberapa saat, Hatano terdiam di tempat. Ia menunggu. Dengan hasil yang Hatano dapatkan kali ini, apa lagi perintah yang akan ia dapatkan? Apa lagi misi yang harus ia kerjakan?
Terdengar suara embus napas panjang di seberang Hatano yang menjadi pembuka tanggapan, “Führer … nekat sekali, eh?”
Sejenak, Hatano sempat tersentak ketika mendengar suara orang yang berperan sebagai penerus informasinya bukanlah Amari.
“Kukira aku tengah berbicara dengan Amari.” Ujar Hatano, “Ternyata itu kau, Jitsui.”
Jitsui—pemuda yang ada di balik sana—mendengus geli, “Amari-san sedang dikirimkan untuk misi lain. Aku ada di sini untuk menggantikannya.” Pembicaraan mereka yang sempat teralihkan kembali diluruskan, “Baru dua tahun penandatanganan pakta non-agresi[4], kurasa? Dan Jerman sudah berani bergerak. Bagaimana menurutmu, Hatano-san?”
“Seperti katamu tadi, nekat.” Balas Hatano cepat.
“Deshou?” Jitsui terkekeh. Kesunyian kapel membuat suara sang pemuda terdengar nyaring dan sedikit bergema. Lalu kekehannya mereda, “Omong-omong, ada hal yang harus kusampaikan padamu.”
“Oh?” Sebelah alis Hatano naik, “Mengenai?”
Jitsui lebih dulu memberi jeda sebelum menanggapi pertanyaan Hatano, “Kosong tujuh kosong satu empat satu, gunbi ni kansuru shiken ... memorandum yang berisi gagasan beserta pernyataan perang terhadap Amerika Serikat telah disampaikan.”[5]
Manik Hatano refleks membulat. Meski pijakan kakinya sekarang berada jauh dari tanah air, segala informasi terkini yang berkaitan dengan Jepang (dan hubungannya dengan negara lain) masih tetap ia peroleh.
Musim gugur 1940, Hatano mendapat informasi jika Jepang menginvasi daerah Indochina-Prancis dan memutus penyaluran senjata serta bahan bakar bagi Cina. Atas tindakan tersebut, Amerika Serikat memberi peringatan dengan menghentikan ekspor pesawat dan suku cadangnya terhadap Jepang. Bagi Jepang, keputusan tersebut dianggap tidak bersahabat dan sepertinya memorandum yang disebutkan oleh Jitsui merupakan langkah yang akan pemerintah Jepang ambil sebagai perlawanan.
“Perang terhadap Amerika Serikat ...” Hatano mengulang. Lantas kedua tangannya terlipat di depan dada dan punggungnya bersandar pada dinding kayu, “Jadi ... Amari diutus ke sana, huh?”
Jitsui mengiyakan kemudian meneruskan, “Laksamana sudah melakukan persiapan dengan Armada Gabungan[6]. Meskipun begitu, kelihatannya Kaisar sendiri belum memberi persetujuan tentang rencana ini[7].”
“Aku punya firasat, cepat atau lambat rencana itu akan berjalan juga.” tukasnya.
Jitsui lagi-lagi mengiyakan, “Jika Jepang berhasil, pihak sekutu tentunya tak akan tinggal diam ...”
Kedua bibir Hatano yang semula terkatup kemudian terbuka. Suaranya tak langsung terdengar, ada beberapa saat ia membisu akibat pikirannya sendiri, “... dan sesuatu yang lebih besar akan terjadi di masa depan.”
Kali ini, Jitsui dan Hatano mempersilakan hening mengambil alih. Bermacam spekulasi, bermacam kemungkinan ... sel kelabu keduanya dilatih untuk tak pernah beristirahat dalam membuat prediksi serta kalkulasi.
“Sesuatu yang besar ini ... bisa saja menghantarkan kekalahan pada Jepang, eh?”
“Saa?” Hatano beranjak seraya mengedikan bahu, “Dalam peperangan, tidak ada kemenangan mutlak pun kekalahan telak. Karena bagaimanapun, semua pihak menelan kerugiannya masing-masing.”
Jitsui tak ingin menentang perkataan sang lawan bicara.
“Yang pasti,” Hatano meregangkan tubuhnya sejenak, “Saat perang berakhir, aku tak ingin kau ikut berakhir juga, Jitsui.”
“Eh? Maksud Hatano-san?”
Hatano berdeham. Untunglah ada sekat sebagai batasnya dengan Jitsui, sehingga pria berparas manis tersebut tak perlu melihat rona wajahnya yang memerah.
“Jangan mati. Itu maksudku. Soalnya kau itu kadang nekat.”
Jitsui mengerjap, mencerna perkataaan Hatano sebelum akhirnya tawa terurai lepas, “Ah, Hatano-san tidak sadar diri, ya? Padahal kan Hatano-san yang sering memancing keributan.”
Hatano mendengkus keki dan tawa Jitsui berhenti.
“Tentu saja aku akan menjaga diriku,” Jitsui berdiri. Tugasnya kali ini usai, saatnya kembali. Informasi Hatano sudah ada di tangannya dan sekarang tinggal ia teruskan pada pusat, “Sampai jumpa nanti, Hatano-san! Berjanjilah untuk membelikanku cassata[8] sepulang dari sini.”
Senyum Hatano terulas tipis, “Iya, aku berjanji.”
Hatano melangkahkan kaki keluar dari bilik pengakuan dosa dan tidak berhenti sampai rupa bangunan tua itu tak lagi tampak di penghujung mata.
.
.
.
