Work Text:
I love you as certain dark things are to be loved,
In secret, between the shadow and the soul.
Aku mencintaimu selayaknya kegelapan harus dicintai,
Dalam rahasia, di antara bayang dan jiwa.
— Pablo Neruda, One Hundred Love Sonnets, “Sonnet XVII”
satu: lebih baik meninggalkan daripada ditinggalkan.
Masa kecil Sunwoo tak lebih dari suatu garis pertahanan dalam perang atrisi antara pasangan yang tak kenal gencatan senjata.
Ayah yang menyelewengkan ikrar pernikahan dengan urusan kerja dan mungkin juga sekretarisnya. Ibu yang kabur dari dingin ranjang ke hangat pelukan pria-pria muda. Pengasuh yang selalu berganti tak pernah tinggal cukup lama bahkan sekadar untuk mengingat warna kesukaannya. Ia pun tak pernah berusaha mengingat nama maupun wajah mereka, sibuk menenggelamkan teriakan orang tuanya. Berpura-pura mereka masih ingat keberadaannya. Berkhayal lebam di lengan adalah ciuman pengantar tidur.
Ia berusaha meyakinkan diri sendiri: ia tak seperti orang tuanya. Kebahagiaannya tak akan bergantung pada orang lain, karena semua orang pada akhirnya akan meninggalkannya. Bahkan ayah bunda yang terlalu keras kepala dan hati untuk mencintai sepanjang masa tanpa berharap kembali.
Ia terbiasa mendorong pergi semua yang mendekatinya sebelum mereka terlalu dekat. Ia tak akan sakit hati lagi. Lebih baik meninggalkan daripada ditinggalkan.
Dan sekarang dia berada di sini, di sofanya, lengannya memeluk pinggang Kevin.
Setelah tahu Sunwoo belum pernah melihat La La Land, Kevin ngotot ia harus menontonnya paling tidak sekali. Film itu baru setengah jalan, tetapi Kevin sudah terlelap dengan kepala bersandar pada bahu Sunwoo. Pasti ia lelah sekali sampai tertidur di tengah film musikal kesukaannya. Sedangkan yang lebih muda masih terjaga, bukan karena tertarik pada filmnya, namun karena takut.
Usia mereka hanya terpaut dua tahun, namun dunianya begitu jauh berbeda dengan Kevin. Kevin yang punya ayah yang mendukung mimpi-mimpinya. Yang mengawali dan mengakhiri hari dengan mengirim pesan I love you ke ibunya dan berbagi akun Netflix dengan kakak perempuannya. Yang menyempatkan merajut sarung tangan untuk murid-muridnya di sekolah dasar bahkan setelah seharian mengajar.
Kevin yang tidak pernah memperlakukannya seakan ia granat, tak ragu meledakkan siapa pun yang mendekat.
Sunwoo hanyalah pengungsi dari negeri yang diceraikan perang saudara: rumahnya, tanah tumpah darah di tangan ayah, air tangis dan marah bunda. Dan Kevin adalah suaka yang tanpa bertanya membuka gerbang untuknya bernaung.
“Kak Kevin, bangun.” Ia mencoba menepuk-nepuk pundak Kevin lembut. “Jangan tidur di sini, Kak.”
Kevin hanya menggumam setengah sadar. “Sebentar lagi ya…”
Sunwoo ingin berkata, Jangan cuma sebentar lagi, Kak, bisa nggak Kakak di sisiku terus?
Namun, ia takut.
Takut menjadi seperti orang tuanya. Takut menyakiti Kevin seperti ia selalu menyakiti siapa pun yang terlalu dekat dengannya. Takut suatu hari nanti ia harus melihat Kevin hancur dan terkubur dalam beban dari semua dosa Sunwoo.
dua: semua ini terlalu indah untuk jadi nyata.
Rokok. Alkohol. Percintaan yang datang seperti badai dan berakhir sama cepatnya, sama ributnya.
Sunwoo hidup mengikuti insting, mengejar kesenangan sesaat dan kejaran adrenalin hanya demi merasa hidup.
Salah satu mantannya pernah bilang ia seperti matahari: indah, menyilaukan, tanpa ampun membakar semua yang terlalu dekat.
Sunwoo berpikir jika ia matahari, maka Kevin, seperti namanya, adalah rembulannya. Setia melembutkan kejamnya matahari, tanpa diminta, tanpa meminta kembali. Tak pernah menyalahkan, selalu siap memaafkan.
Seperti sekarang: seharusnya mereka tak perlu terjebak hujan lebat di restoran seperti ini, kalau Sunwoo tidak terlambat sejam dan mereka makan malam lebih cepat.
“Nggak apa-apa. Kan bukan salah kamu dosennya telat.” Kevin menepuk-nepuk kepala Sunwoo saat ia meminta maaf. “Tas kamu waterproof, kan?”
Apartemen Kevin hanya di ujung blok ini, tak sampai sepuluh menit jalan kaki, tetapi hujan malah semakin deras. “Mau hujan-hujanan?”
Kevin nyengir. “Ya, gimana? Udah jam sepuluh.”
“Gila kamu, Kak.” Sunwoo menggamit tangan Kevin. “Yuk.”
“Let’s go!”
Keduanya tiba di apartemen dalam keadaan basah kuyup, jemari bertaut, senyum di raut. Kevin menutup pintu dan Sunwoo meraup mulutnya. Ia tak berhenti menyesap bibir Kevin bahkan sembari menarik yang lebih tua ke kamar mandi. Mereka bercinta di bawah pancuran air hangat shower seperti pasangan remaja yang dimabuk cinta pertama, hingga kaki kelu dan setiap jengkal kulit ditandai gigi dan kuku.
Kevin menciumnya sekali lagi sebelum tidur, dan Sunwoo berpikir mungkin tak ada salahnya berharap kebahagiaan kecil seperti ini akan menjadikan hatinya rumah.
Namun, saat senyap malam merayap mengisi ruang yang ditinggalkan suara Kevin, resah kembali mencekam benaknya. Biar Kevin berikan kelembutan bagai hujan mencurah, semua hanya sejuk sesaat yang tak mampu redakan kemarau abadi dalam hatinya.
Semua ini terlalu indah untuk jadi nyata dan suatu hari akan berakhir juga. Bila semua tawa berderai dan festival penuh sorai ini usai, namun tidak dengan perang saudara dalam kepala yang isinya senantiasa bertikai, ia harus kembali jadi pengungsi: tanpa rumah, tanpa tempat pulang.
tiga: tangannya tak dapat mencipta, hanya menghancurkan.
“Lagi ngapain, Kak?”
“Bikin origami buat anak-anak.” Kevin menunjukkan kertas warna-warni yang sudah dilipat rapi membentuk hati. “Mau bantu?”
“Aku nggak jago bikin begituan.” Sunwoo bukan Kevin yang pandai menggambar, bermain piano, dan membuat kerajinan tangan.
“Sini, aku ajarin.”
Kevin mengambil dua lembar kertas, memberikan yang merah kepada Sunwoo dan menggunakan yang biru untuk menunjukkan cara membuat hati kertas: lipat jadi empat bagian, lalu bawa sudut bawah ke tengah. Jemarinya elegan, panjang dan terampil. Indah seperti pemiliknya.
Kevin indah, seperti mahakarya, dan Sunwoo adalah pengunjung museum yang hanya boleh menatap. Sementara semua tanda di dinding menyatakan Dilarang menyentuh karya seni. Sementara semua orang di sekitarnya mengatakan Dia terlalu baik buat lo.
Sunwoo ingin berteriak, membuktikan mereka semua salah, tetapi ia tahu mereka benar. Kevin orang yang baik, terlalu baik, dan ia berhak mendapatkan semua hal yang baik di dunia.
Dan Sunwoo bukan orang yang baik.
“...Sunwoo? Kok bengong?”
“What have I done to deserve you?”
“Kenapa kok tiba-tiba?” Kedua sudut bibir Kevin melengkung naik. “You make me happy. That’s more than enough.”
“Tapi aku merasa aku nggak ngapa-ngapain.”
“Kamu nggak harus ngapa-ngapain selain jadi diri kamu sendiri. You’re more than enough. Okay?”
Kevin selalu tahu apa yang harus dikata untuk mengisi rumpang kala kata-kata berjejal dalam kepala Sunwoo hingga tak mampu keluar. Ia seolah mengenal segala sungkawa yang Sunwoo sendiri bahkan tak tahu selama ini terkubur dalam dada, memanggil nama mereka satu demi satu seperti peziarah di makam kawan lama. Mendamaikan perang yang berkecamuk di dalam benak lelaki yang lebih muda.
“Okay, Kak.” Sunwoo menatap kertas di genggamannya. “Eh, ini tadi gimana, ya?”
“Nggak gitu. Dilipat ke atas. Kayak gini…”
Meski ia telah berusaha menyimak, tangan Sunwoo hanya berhasil membuat hati yang berantakan karena terlalu sering dilipat ulang. Origaminya tampak semakin menyedihkan di samping karya Kevin
“Yah, punya aku jelek banget, Kak,” selorohnya. “Kucel gini, kasihan anak yang dapat ini, nanti dia sedih.”
“Kok jelek?” Kevin menjajarkan pasangan hati kertas itu di telapak laki-laki yang lebih muda, jari-jarinya bersentuhan dengan kulit Sunwoo. “See, it’s cute!”
Jemari Kevin lincah mencipta dan mencinta, lembut menjinakkan sesak yang terkurung dalam rengkung Sunwoo. Sedangkan miliknya yang kasar hanya dapat melukis merah luka dan biru lebam.
Ia tak mau menghancurkan hati Kevin—tetapi ia tahu ia mampu melakukannya dengan begitu mudah, semudah merobek kertas di tangannya.
Dan bila hal itu terjadi, sama saja ia menghancurkan diri sendiri: semua yang ia punya saat ini juga akan koyak jadi serpihan.
+1: bersamanya, tidak ada yang tak mungkin.
Setelah makan malam, Kevin mengatakan akhir pekan ini ia akan pergi bersama anak-anak kelas satu ke taman bermain di kota.
“Asyik banget,” komentar Sunwoo tanpa mengangkat wajah dari game-nya. “Aku belum pernah ke sana.”
Kevin membuat suara terkejut dengan dramatis
“Nggak pernah sama sekali?!”
“Nggak,” jawab Sunwoo sambil lalu.
Kevin menarik ponsel Sunwoo dari tangannya.
“Aduh, Kak!” protesnya. “Aku lagi push rank!”
“Abis aku pergi sama anak-anak,” kata Kevin, “kamu harus pergi sama aku.”
“Iya, iya. Tapi balikin HP aku dong!”
Dua minggu setelahnya, Kevin mengajak Sunwoo ke taman bermain sesuai janji. Tanpa menghiraukan Sunwoo yang mengeluhkan terik matahari musim panas, Kevin membuat yang lebih muda merasakan semua permainan di sana setidaknya sekali—termasuk rumah hantu, padahal mereka sama-sama penakut.
“Kalem, Sunwoo, kalem,” kata Kevin selagi mereka menelusuri lorong bangunan yang dibuat seperti rumah sakit yang terbengkalai itu, seakan-akan mereka tidak baru saja berteriak-teriak karena dikejutkan hantu perawat dengan seragam berdarah-darah. “Mereka cuma aktor.”
“Kakak ngomong gitu tapi teriak-teriak juga.”
“Ini namanya sugesti, biar—AAAAAH!!!”
Seorang zombie menyentuh pundak Kevin dengan jari-jarinya yang hijau dan berkuku kuning, membuat Kevin berteriak dan refleks memeluk lengan Sunwoo.
“Sori, Bro! Kita buru-buru!” teriak Sunwoo kepada wajah pucat si zombie yang penuh luka menganga, sambil berusaha tak menatap mata kosongnya yang nanar dalam cahaya temaram.
Ia tarik Kevin kabur tunggang-langgang keluar dari bangunan itu, menerobos jajaran hantu dan monster yang menerjang. Mereka tak berhenti berlari sampai menemukan bangku yang kosong.
“Lain kali nggak usah sok ide ke rumah hantu, deh, Kak,” kata Sunwoo. Keduanya terduduk lemas dalam keadaan masih terengah-engah.
“Nggak apa-apa, pengalaman.” Kevin tertawa.
“Yang tadi meluk aku karena takut siapa, ya?”
“Padahal kamu suka, kan, dipeluk begitu!” Kevin menowel pipi Sunwoo dengan telunjuknya.
“Suka, dong.” Gantian Sunwoo yang terkekeh.
Diam-diam, ia memang senang Kevin secara naluriah memeluk lengannya ketika takut—padahal, sebetulnya Sunwoo yang lebih penakut. Dan ia senang karena kali ini, Kevin-lah yang mengandalkannya, walaupun hanya untuk hal kecil.
“Dasar.” Kevin menggelengkan kepalanya gemas. “Mereka mikir apa ya ngeliat kita lari keluar kayak orang kesurupan?”
“Aku nggak mau balik ke situ lagi,” gerutu Sunwoo.
“Takut banget ya?”
“Takut sih ada, tapi malunya itu lho!”
Setelah rumah hantu, mereka kembali ke flat Sunwoo. Yang lebih muda masuk terlebih dahulu, dan Kevin menutup pintu. Ketika ia berbalik, Sunwoo memeluk tubuhnya.
“Kak, makasih ya buat hari ini.”
Kevin balas memeluknya. “Makasih juga udah menyelamatkan aku di rumah hantu tadi.”
“Aku boleh jujur?” Sunwoo melepaskan pelukannya. “Sebetulnya, aku bukannya nggak pernah ke taman bermain tadi.”
Kevin menelengkan kepalanya, tetapi tidak mengatakan apa-apa.
“Aku pernah, sekali. Waktu aku masih kecil. Mungkin umur delapan, atau sembilan.” Sunwoo menghela napas. “Tapi, pulang dari sana, Ayah dan Ibu bertengkar sepanjang jalan. Bahkan mereka nggak berhenti ribut sampai malam. Seakan-akan mereka lupa aku ada.”
“Sunwoo…”
“Makasih ya, Kak,” Sunwoo tersenyum. Tangannya mengusap pipi Kevin. “Sekarang, kalau memikirkan tempat itu, aku nggak perlu teringat kenangan buruk lagi.”
Senyumnya terlalu indah untuk tak dicium—dan Sunwoo pun melakukannya.
Kevin menyelipkan jemarinya di antara rambut ikal sang kekasih, balas mencium Sunwoo lebih dalam dan lidah Sunwoo mengecap asin, juga sedikit manis dari es krim vanilla yang mereka nikmati berdua di taman sebelum pulang.
Kevin mencium serupa rumah menyambut kelana yang pulang: mula-mula perlahan, namun damba tak dapat dibendung. Digigitnya bibir bawah Sunwoo hingga terbuka bersama lepasnya desah. Memberikan jalan bagi lidah Kevin menjelajahi mulutnya, dua lidah bertemu dan saling adu. Sunwoo melenguh saat lelaki itu mengulum bibirnya yang penuh.
Kevin menyeka jejak liur dari bibir Sunwoo dan memberikan kecupan-kecupan kecil di sepanjang garis rahang Sunwoo yang tajam, lalu turun ke leher, dan ke tulang selangka. Ia menyesap kulit keemasan di pangkal leher. Sedangkan Sunwoo memasukkan satu tangan di bawah ujung kaus Kevin, jemarinya menjelajah otot perut dan dada yang bidang, sedangkan tangan satunya meremas bokong, dan giliran Kevin yang mendesah.
“Sekarang, Kak?”
“Kenapa nggak?” Mulut Kevin terkulum dalam senyumnya yang mirip kucing. “Di luar panas, kita udah keringetan gini. Sekalian aja diterusin.”
Dan Sunwoo pun membawa Kevin ke kamar tidurnya yang berantakan. Ia hampir tak dapat menyalakan lampu karena seluruh perhatian terfokus pada bibir dan tangan Kevin yang tak henti menggerayangi tubuhnya.
Kevin lepaskan kaus yang dikenakan Sunwoo, dan lelaki yang lebih muda menanggalkan celana jeans Kevin. Diremasnya tonjolan dalam boxer brief Kevin, mengundang desah dari bibir kekasihnya sebelum melucutinya.
Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk mencapai kasur dalam keadaan tubuh polos tanpa kain apa pun. Sunwoo duduk di tepi ranjang, botol lube di tangan. Di depannya Kevin berlutut, kedua kaki mengapit paha Sunwoo, tangannya bertumpu pada pundak lelaki yang lebih muda.
Lalu, Sunwoo gerakkan jari telunjuk yang telah licin keluar-masuk lubang anal Kevin, membuat tubuhnya meliuk dan mulutnya mengeluarkan geram. Jari tengahnya menyusul, ikut buat gerakan menggunting, membuat Kevin makin hilang kendali.
“A-ah—Sun—Sunwoo!”
Ketika jari manis Sunwoo ikut menghantam rektumnya, kaki Kevin telah gemetar hebat.
“Sun—Sunwoo…” Kevin meratap di sela napas yang tertatih. “Please… Please take me.”
Sunwoo menyeringai. “As you wish, Kak.”
Dengan telapak tangan, Sunwoo balurkan sisa cairan pelumas pada penisnya yang tegang, dan ia memasukkannya ke dalam lubang Kevin yang sekarang renggang. Gesekan itu membuat keduanya merintih, enak dan pedih bercampur aduk. Sunwoo biarkan Kevin menyesuaikan posisi dengan batang yang merangsek tubuh bawahnya.
“Okay, Kak?”
Kevin meringis. Kukunya tertanam dalam punggung Sunwoo, cukup dalam untuk meninggalkan jejak.
Kevin menggenggam wajah Sunwoo seakan menimang harta karun berharga, jemarinya mengusap peluh dan keluh dari dahi yang isinya berkecamuk. “We’re okay. Everything’s okay.”
Sunwoo mengangguk dan mulai gerakkan pinggulnya, awalnya perlahan, namun temponya terus meningkat. Jemari Kevin yang tak henti menjelajah dadanya membuatnya semakin bersemangat.
“Kamu indah,” bisik Kevin, tatapannya lurus ke mata Sunwoo yang sayu. Tangan kanannya memainkan puting kekasihnya tanpa ampun. Sunwoo balas meremas pinggul Kevin dengan satu tangan dan menjamah penisnya dengan tangan lain, membuat yang lebih tua menggigit bibir menahan seruan nikmat.
“Jangan ditahan, Kak.” Ia pijat kepala penis Kevin yang mulai basah. “Aku mau dengar Kakak panggil namaku lagi.”
“Sun—haaa, Sunwoo—”
Kevin mempercepat hentaknya dan Sunwoo mengikuti ritmenya, napas keduanya memburu seirama hasrat yang menggebu mengejar pelepasan.
“Kak…”
“Sun—woo—ahhh… b-bentar lagi…”
Tangan Sunwoo semakin lincah memompa penis Kevin seirama laju pinggul lelaki itu. Kepala Kevin mendongak, bibirnya melepaskan teriak, dan ia mencapai puncaknya. Putih membasahi perut Sunwoo dan miliknya sendiri. Tak lama bagi kekasihnya untuk ikut klimaks bersama erangan tak tertahan, melepaskan cairan mani mengisi lubang Kevin.
Kelelahan, keduanya memilih untuk saling menyandarkan dahi dalam diam. Mendengarkan detak jantung dan irama napas satu sama lain.
Kevin raih dagu Sunwoo dan cium pasangan bibir ranum merekah, lembut dan dalam dan perlahan. Seakan merekalah empunya seluruh waktu di dunia, dan kecup itu mengekalkan suatu kelembutan yang pernah ada.
Ketika akhirnya Kevin melepaskan ciuman mereka, bibirnya membentuk senyum seperti bunga liar: tidak mekar dalam ketiadaan duka, namun teguh mengakar di tengah medan perang dalam kepalanya.
Dan Sunwoo menyadari dua hal:
ia ingin kebahagiaan ini bertahan,
dan bersama Kevin, semua ini bisa dipertahankan.
