Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2022-02-06
Words:
1,053
Chapters:
1/1
Kudos:
27
Bookmarks:
2
Hits:
945

First Time

Notes:

My apologies for grammatical errors. So, here we go!! enjoy your spicy meal ^,^

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Lee Chan dengan mata yang tertutup dasi, kedua tangan terikat ke atas, dan tengah berada di bawahnya merupakan pemandangan paling indah.

Cantik.

Manis.

Indah.

Setidaknya itulah yang ada dalam pikiran Hansol. Ia mulai melucuti pakaian yang dikenakan Chan, membiarkan tubuh telanjang tersebut terpapar dinginnya pendingin ruangan.

“H-hhansollie~” Rengek Chan, merasakan hembusan nafas yang menerpa puting dadanya.

“Shhh ... calm down baby ....”

Hansol segera mengikis jarak antara mereka, memberikan ciuman lembut pada bibir manis Chan.

Jantung keduanya tidak pernah berdebar seribut ini sebelumnya, hingga lenguhan Chan terdengar ketika tangan Hansol menyentuh lembut permukaan paha Chan.

Hansol beralih mencium dan menjilati daun telinga Chan, sementara tangan satunya menyentuh dan memilin puting dada Chan, membuatnya melengkungkan punggungnya dan mengerang lebih keras.

Chan yang malu dengan reaksinya sendiri, buru – buru mengalihkan wajahnya ke samping dan berusaha menahan suara yang menurutnya terdengar aneh.

Menghentikan kegiatan tangannya, Hansol lantas membuka dasi yang menutup mata indah Chan sedari awal. Menyentuh pipi merona Chan seraya membawa Chan menghadapnya.

“Look at me baby, aku mau lihat wajah cantik kamu, do not hide your pretty face from me.“

“Suaranya juga jangan ditahan ya sayang? Do you understand?“

Chan mengangguk pelan mendengar perintah Hansol.

“Say it,”

“Okay ....”

Mendengar suara rendah kekasihnya membuat Chan semakin terangsang.

“Hansol, please ....“

“What do you want honey?”

“Please be gentle, ini ... ini yang pertama, aku belum pernah—” Chan memohon dengan air mata yang menggenang.

“I will be gentle and make it sweet for you baby,” Ucap Hansol setelah mencium kening Chan dan mengusap air matanya.

Hansol tersenyum lembut, kekasihnya yang berada dibawahnya saat ini belum pernah disentuh siapapun, Chan-nya yang masih polos, sensitif, cantik, indah dan sangat menarik.

Hansol membawa Chan kembali pada ciuman hangat yang penuh afeksi. Tangan Hansol mencengkram leher belakang Chan dengan sangat lembut dan perlahan, membawa Chan masuk semakin dalam. Melupakan rasa takut yang sempat menghampiri.

Keduanya larut dalam gairah, tetap saling mencumbu meski kehabisan nafas. Tak bisa dipungkiri mereka seakan kehilangan akal sehat. Haus akan sentuhan, lagi, dan lagi.

Hansol sedikit meremas pantat Chan sehingga ia mengeluarkan lenguhan tertahan diikuti terlepasnya penyatuan bibir mereka.

Kepala Chan sedikit mendongak ke belakang, yang secara otomatis mengekspos leher putihnya.

“Hansol ...”

“Lepas, lepas ikatannya ... mau—” Chan berkata dengan nafas yang terengah-engah.

“mau sentuh kamu juga ....”

Hansol pun segera melepaskan ikatan yang tak terlalu kuat tersebut, memandang kekasihnya yang terengah karena kekurangan oksigen, bibir yang membengkak dan liur yang menetes setelah dicium olehnya.

For God's sake, Lee Chan tampak sangat indah dan Hansol merasa beruntung bisa mendapatkannya.

“Chan, honey ... my baby Channie ....” Ucap Hansol sambil terus mencium, menghisap, dan menjilat dagu hingga perpotongan leher Chan.

Tangannya menyentuh selakangan Chan dan meremas kejantanan milik Chan. Menghasilkan rintihan penuh nikmat keluar dari bibir Chan.

Perlahan Hansol memompa ereksi yang basah oleh cairan precum. Diikuti oleh remasan tangan Chan pada tengkuk leher Hansol, masih dengan nafas yang terengah-engah.

“Hans‐ faster please ....”

Mendengar permintaan sang kekasih membuat Hansol mempercepat gerakan tangannya.

Nafas Chan semakin tersengal, merasakan sensasi yang tak asing pada perut bagian bawahnya.

“Hans I'm so close,”

“Come ... come for me, honey ....”

Chan mencapai klimaksnya tak lama setelah Hansol berucap. Beberapa menit berlalu, membiarkan Chan menikmati pelepasan yang didapatnya. Hansol turun dari ranjang, melepas semua pakaian yang melekat pada tubuhnya, dan membebaskan kejantanannya yang kian membesar.

Hansol mengangkat kaki Chan, membuat Chan semakin mengekspos bagian intimnya. Perlahan Hansol memasukkan jari telunjuk yang sudah terlumasi cairan lubrikan ke dalam lubang surgawi kekasihnya, membuat Chan terkesiap kaget.

Bibir Hansol mendarat pada puting dada Chan, menjilat dan menggigit puncaknya, serta mengulum kedua puting tersebut hingga lebih keras, sembari meloloskan jari tengahnya pada lubang hangat kekasihnya.

Desahan terus terdengar di seluruh ruangan, yang tentu saja terdengar bagai symphony indah di telinga Hansol.

Chan memegang erat lengan Hansol ketika ia merasakan satu jari lagi, sehingga ada tiga jari yang menjamah lubangnya.

Hansol melonggarkan lubang tersebut dengan perlahan, diiringi cumbuan manis pada bibir mengkilap Chan.

Hnasol menghentakkan ketiga jarinya, mengenai satu titik di dalam Chan. Membuat Chan meracau dan melengkungkan punggungnya dengan sempurna, membuatnya menaikkan pinggulnya, mengejar kenikmatan yang didapat.

Dirasa cukup, Hansol menarik kembali ketiga jarinya, menghasilkan rengekan dari kekasihnya.

“Hansoll more please ...”

“Be patient baby,”

Tanpa menunggu lama, Hansol bergegas menggunakan pengaman yang telah ia siapkan di laci meja samping.

“Sayang, let me loves you,”

“let me take care of you.”

Bisikan Hansol tersebut murni karena ia ingin membuat kali pertama mereka berkesan.

Ujung kemaluan Hansol menyentuh permukaan lubang Chan yang sedikit berkedut, mendorong perlahan.

Raut kesakitan sedikit terlihat pada wajah indah Chan.

“relax sayang ...” Bisik Hansol kala merasakan eratnya jepitan Chan pada kejantanannya.

Tak ingin membuat kekasihnya merasakan sakit, Hansol segera mendorong kejantanannya dalam sekali sentak ke dalam ruang hangat yang melingkupi.

“too tight ....” Hansol menggeram ketika seluruh kejantanannya berhasil masuk mengisi Chan.

Chan sempat tersedak ludahnya ketika penis besar kekasihnya menembus cincin rektumnya, sepenuhnya masuk mengisi lubangnya yang sempit.

“Nghh sollie— hhhansol penuh,” Rintihan Chan menggema di seluruh ruangan, bersamaan dengan kecupan – kecupan yang diberikan Hansol pada tubuh Chan.

Hansol mendiamkan kejantanannya di dalam Chan cukup lama, membiarkan Chan terbiasa dengan besarnya kepemilikannya.

Hansol mulai menggerakkan pinggulnya ketika Chan mengangguk dan memerintahkan untuk bergerak.

Hansol menghentak perlahan pada awalnya namun tusukannya semakin cepat dan dalam seiring waktu.

Chan hanya bisa melenguh dan mendesah, mengucapkan nama kekasihnya dengan kesusahan.

Melihat betapa berantakannya sang kekasih dibawahnya membuat Hansol semakin terangsang, menghentak prostat Chan berkali-kali tanpa ampun.

“feels good ... more please hhhhnggg ....”

Hansol terus menggerakkan pinggulnya, tangannya tak kalah diam menyentuh tiap jengkal tubuh Chan. Keringat keduanya bercucuran dengan bibir yang selalu mengeluarkan erangan nikmat.

Pendingin ruangan seakan tidak berfungsi ditengah kegiatan panas keduanya.

Sensitif karena banyaknya stimulasi membuat Chan mengetatkan otot rektumnya hingga Hansol semakin menambah kecepatan dorongannya. Menghasilkan lengkungan punggung yang indah seraya menggenggam erat lengan berotot Hansol.

Sekujur tubuh Chan menegang dengan mata yang terpejam erat ketika pelepasan menghampirinya. Chan klimaks bersamaan dengan Hansol setelah beberapa hentakan kasar.

Nafas keduanya tersengal, beberapa menit setelahnya baru Hansol keluarkan kejantanan miliknya dari dalam Chan. Dengan segera melepas pengaman yang dipakai dan membuangnya.

Diliriknya Chan yang masih terbaring lemas, merebahkan diri disampingnya kemudian mengecup lembut kening serta bibir sang kekasih.

Hansol membawa tubuh yang lebih kecil kedalam dekapannya, menyalurkan semua afeksi dengan usapan penuh sayang pada sang kekasih.

Hingga Chan semakin meringkuk dalam pelukan Hansol.

“good night, baby ...”

Dengan kalimat tersebut, Chan memejamkan mata indahnya, terlarut dalam buaian mimpi.

The first time always feel so different, so special.

Notes:

Aku nggak terlalu bisa nulis nsfw, semoga dapat memuaskan :D

Ditulis tanggal 13 September 2021.

This fics was cross-posted on my twitter. If you want to check out more of my work, you can follow my Twitter. Thank you!