Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2022-02-21
Words:
3,117
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
47
Bookmarks:
5
Hits:
1,363

intention

Summary:

tentang cemburu yang suka datang, dan berakhir dengan satu rekonsiliasi panas disudut bilik toilet tanpa diundang.

Notes:

familiar? this one was from my twitter yang publish januari.

i made a decision to reposting my fully written stuffs here about 3 weeks or a month or so on (tergantung mood) after i posted them there.
jongho centric enthusiast boleh follow for more! aku juga cukup aktif buat socmed aus! :D

Work Text:

“Tau nggak, kalau kepala pembina tim olahraga pemuda fakultas seni ngeliatin lo terus dari tadi?”

Pertanyaan Hyunjin membuat Jongho mengangkat kepala, dan ia terpaku dalam hening manakala bola mata besarnya terkunci dengan pemuda berjarak kurang lebih lima belas meter di depan. Pria itu mengirimkan satu senyum kecil sebagai tanda sapa, namun Jongho enggan membalas dan kembali fokus pada novel di tangan.

Ada banyak hal yang sebenarnya Jongho mengerti tentang alumni kampusnya yang telah melepas status mahasiswanya semenjak lima tahun lalu itu.

Dia tampan. Bagaimana tidak? Memiliki fitur wajah super menarik dan tubuh meraih nilai di luar ekspektasi orang kebanyakan. Dia begitu gagah, wujud nyata pria tangguh yang dapat dengan mudah menaklukan wanita hanya dengan sedikit permainan kata dan lirikan mematikan. Jongho juga tidak naif, dia juga berpikir bahwa sebagian besar wanita mencoba bermain tangan mengorek isi kantong pria tersebut yang tidak akan habis mengingat pekerjaan menguntungkannya.

“Yunho?” Jongho melirik dan mendapati pemuda tersebut menoleh pada temannya, mereka berbincang dalam volume suara yang begitu kecil kemudian menertawakan suatu hal yang tidak akan Jongho ketahui karena jarak.

Dia pria dengan nama asli Jeong Yunho. Terkenal? Tentu saja, tidak sedikit wanita disekitar Jongho yang menceritakan pria tersebut sebagai sosok kekasih idaman. Mereka akan terus mendamba Yunho sebagai seseorang yang hebat dan memesona.

Selain pintar dalam urusan menyanyi, ia juga dikenal sebagai salah satu koreografer ternama dan pemilik studio tari terpandang di ibukota. Selain itu dia juga ramah pada siapapun, Jongho sangat tahu hal tersebut.

Wanita dari kejauhan datang, menjatuhkan diri tanpa malu di atas paha Yunho hingga pria tersebut membelalak.

“Hyesoo!”

Jongho sadar benar bahwa pusat perhatian seluruh bagian penjuru kafe terarah pada meja Yunho dan teman ngobrolnya.

“Aku kangen tau, Kak! Kenapa Kakak nggak bilang kalau udah pulang dari Selandia baru?”

“Buat apa saya ngasih tau kamu?”

“Aku kan pacarmu, Kak.”

“ㅡUgh!”

Suara tersedak Jongho mengagetkan Hyunjin. Pemuda yang seumuran dengan sang sahabat lantas menepuk halus tengkuk Jongho untuk membantu pemuda tersebut mengumpulkan kembali seluruh nafasnya. Tangannya bergerak mengambil gelas Americano di tangan Jongho dan meletakkannya diatas meja.

“Lo gak papa?” Jongho hanya dapat menggeleng dan menjauhkan tangan Hyunjin dari tengkuknya. “Gak papa, Americano nya lupa gue tiup tadi. Gue ke toilet dulu, Jin, dapat panggilan alam.”

Hyunjin hanya bisa ternganga ketika Jongho berlari keluar kafe dengan membawa serta sling-bag nya bersamanya.

“Padahal pesannya Ice Americano, lho, Jong. Buat apa ditiup?” ucapnya dengan tatapan mengarah penuh pada Jongho yang akhirnya hilang dibalik pintu.

ㅡtanpa memedulikan sepasang mata lainnya yang masih awas memperhatikan tiap geriknya.

 


 

Jongho menatap wajahnya yang basah di cermin wastafel. Ada satu jerawat yang menumpang eksis di ujung pelipis kiri, dan hal tersebut berhasil membuat mood Jongho semakin jatuh.

Suara pintu toilet yang terbuka tidak sedikit pun mengalihkan perhatian Jongho. Ia sibuk merogoh isi sling-bag nya demi mencari obat totol jerawat yang tadi pagi hampir lupa ia bawa karena terburu-buru mengejar keterlambatan kelas. Salahkan pola tidurnya yang berantakan apabila sudah menyangkut dengan tugas yang menumpuk. Sebagai seorang anak pemegang beasiswa menjaga pola nilai tetap di atas ketentuan sudah jadi makanan wajib sehari-hari.

“Ah, dapat.”

Jongho sedikit terperanjat manakala seseorang sudah berdiri di sampingnya, dengan ekspresi geli yang tertangkap penglihatannya melalui cermin, membuat jantungnya bertalu-talu karena terkejut.

“Mau apa kesini?”

Jongho berucap ketus. Jemarinya mengais poni hingga tersisir ke belakang, keadaan tangan yang basah diharapkan membuat posisi tersebut bertahan untuk beberapa saat.

“Ini fasilitas umum, siapa pun boleh masuk, sayang.”

Jongho tidak menyahut, ia sibuk dengan telunjuk yang mengolesi pelan jerawatnya dengan cairan gel bening.

“Tsk, jerawatmu itu lucu, tau? Sama kaya kamu.”

“Mulut buaya.” obat totol jerawat ditutup kemudian dilempar masuk kedalam sling-bag. “Aku gak terima gombalan. Sana gombalin aja pacarmu yang sekarang pasti ngambek kamu tinggal sendirian di Kafe, Kak.”

Yunho hanya bisa tersenyum mendengar nada yang keluar dari mulut Jongho. “Beneran? Tapi yang kedengeran ngambek kok malah Jongho, ya?”

Resleting tas selempang mini ditarik kasar, hidung Jongho mendengus lucu. Sungguh apa pun yang dilakukan pemuda itu terlihat menggemaskan di mata Yunho.

“Idih, siapa juga yang mau ngambek sama buaya darat yang pacarnya bejibun kaya kamu, tuh, Kak?!”

“Eits!”

Jongho membuang muka ketika Yunho menangkap tubuhnya yang ingin melarikan diri keluar toilet. Wajah keduanya hampir bersentuhan, jika saja Jongho tidak lebih cepat bergerak menjauh. “Apasih, Kak? Lepas, gak? Aku sebentar lagi ada kelas!”

“Kelas Pak Yeowoo, kan? Beliau pasti nggak bisa masuk kelas kamu sekarang, dia dapat panggilan kalau istrinya mau melahirkan.”

“Ap—gimana Kakak...”

“Kalau kamu lupa, aku keponakannya, sayang. Lagipula aku masih sangat hafal jadwal semestermu ini, bubblegum. Aku pergi ke Selandia Baru cuman seminggu, Ya Tuhan.”

Jongho tidak bergeming, ia lebih memilih menggenggam tali tasnya kemudian memainkan serat-serat kasarnya yang lepas.

“Jonghooo.” Suara itu membuat Jongho bergetar, Yunho meraih punggung tangan Jongho dan meremasnya halus. “Aku pulang, pacarku.”

“Pacar Kakak 'kan ada banyak.”

“Mereka bisa berjuang dengan mengakui, tapi kamu satu-satunya yang bisa sepenuh hati memiliki.”

“Mulut buaya.”

“Buaya gini juga berhasil naklukin Choi Jongho, kan?”

Dan itu berhasil membuat Jongho terkekeh.

Jongho bisa bermain di belakang jika dia ingin.

Jongho bisa meraih hati siapa pun agar berlutut untuk memujanya.

Namun, sebesar apa pun ia mencoba memeluk tubuh lain, Jeong Yunho satu-satunya yang berhasil menguasai hatinya.

Satu-satunya yang mengaguminya tanpa tau malu dan mencintainya tanpa peduli jika esok matahari membumbung tinggi atau tidak.

Karena semarah apa pun ia dengan prianya, semudah itu pula luluhnya menyergap alih.

Jongho akan terus merasakan gejolak kebahagiaan yang sama selama empat tahun jalannya hubungan mereka.

“Kenapa teleponku semalam nggak diangkat?” Yunho menatap jelaga malam milik kekasihnya dalam, ia sengaja memasang wajah memberengut untuk mendramatisir suaranya. Jongho menangkup pipinya kemudian mencubitnya keras hingga ia mengaduh.

“Buat apa? Pasti mau basa-basi ijin ke rumah, kan? Padahal nggak perlu telpon, biasanya juga tinggal dateng.” Jongho memicingkan mata kemudian memainkan dengan memutar pelan tulang pipi Yunho gemas. “Ayah sama Bunda juga nggak mungkin ngelarang Kakak datang, paling yang ribut doang tuh Kakak jomblo dirumah yang kerjaan nya gangguin kita pacaran mulu.”

“Takut ayah Choi marah gara-gara aku udah buat anak 'perjaka'nya—” Yunho menyengir saat Jongho mencubit pucuk hidungnya penuh peringatan. “Takut ayah Choi marah karena sudah ngebuat bontot kesayangannya ini dumel-dumel gara-gara ditinggal seminggu ke Selandia baru. Bahkan kakak sulungnya aja ngirimin aku foto adek nya yang lucu suka merajuk nggak jelas di rumah karena ditinggal kakak pacar.”

“Kak Sani bacot banget,” hidung Jongho mengerut seperti kelinci, dan Yunho tidak tahan untuk tidak mengecupnya. “Iyalah aku marah. Aku pikir Kakak tuh ke Selandia Baru ada urusan penting, taunya cuman travelling sama temen-temen geng Kakak itu. Sudah begitu, perginya tiba-tiba lagi.”

“Kan Kakak udah bilang mau ngajak kamu, tapi kamu sendiri yang bilang ada ujian tengah semester yang dimajukan dua minggu kemaren, kan?”

“Cuman dua mata kuliah, Kak! Itu juga satu dimundurin jadi minggu ini gara-gara Pak Yeowoo juga, malah banyak lagi temen seangkatanku yang tugas estetikanya belum dikumpul. Coba aja kakak waktu itu tanya, pasti aku udah ikut.”

Yunho tersenyum. Jongho yang merajuk sungguh pemandangan paling lucu untuk disaksikan tanpa bosan. “Maaf, ya, sayang? Nanti kita jalan-jalan berdua ke sana pas libur semester dateng, oke?”

Mana mungkin Jongho berkata tidak untuk hal itu. Maka ia hanya memeluk leher Yunho dan membawa kedua hidung mereka bergesekan. “Janji, ya? Nanti kalau bohong, aku marah lagi loh ini. Nggak mau sayang kakak lagi, mau pacaran sama Kak Wooyoung aja. Biar sekalian bikin Kak Sani kesel, abis dia lelet banget mo nembak kak Wooyoung doang pake acara malu-malu dulu.”

Astaga, Yunho yang sekalipun dicap pria tangguh, mana sanggup dihadapkan dengan kekasih menggemaskannya yang bertingkah seperti ini. Maka ia mengeratkan lingkaran tangannya di punggung sempit pemudanya.

“Kangen kamu, yang.” Jongho mendorong wajah Yunho dan menarik diri dari pelukannya. “Kita masih di toilet umum, Kak.”

“Terus? Toh, mereka tahu kamu itu pacarku.”

Jongho yang jengah lantas memutar bola mata. “Lain cerita kalau ini tempat ketutup, ya, Kak. Kakak mau mempertontonkan kita lagi berbuat yang tidak-tidak di toilet umum?”

“Hm?” alis Yunho menukik sebelah.

Oh?

ㅡOh!

Uh-oh.

Jongho sadar ia salah memilih kata.

“Jadi mau yang ketutup aja, hm?”

“Ya, Kak—Ya, lepas!”

Jongho menggigit bahu lebar Yunho ketika pria itu menangkap dan mengangkat tubuhnya seperti Koala.

“Aish, Kak...”

Bilik terujung Yunho pilih untuk dikuasai.

 

BRUGH!

 

“Bangsat memang itu cewek!”

“Kenapa lagi, sih?”

“Sekali nampar enggak kira-kira, coba lo liat bekas merahnya.”

Jongho tidak dapat banyak bergerak, posisinya terjepit di antara pintu bilik yang terkunci dan tubuh Yunho. Wajah keduanya begitu dekat, dan Jongho sendiri tidak dapat bergerak karena kedua kakinya masih dikunci dengan tangan di antara pinggang kokohnya.

Yunho bereksperimen dengan menggerakkan pinggulnya, keduanya terperanjat bersamaan begitu kejantanan mereka yang masih terselubung dalam celana berbenturan.

“Tunggu, lo denger sesuatu nggak?”

“Denger apa?”

Jongho menarik nafas dan melototi Yunho. Dua bola matanya memperingatkan pria itu untuk tidak bertindak apapun yang dapat menarik kecurigaan lebih jauh dari dua orang lainnya yang sekarang tidak tahu menahu tentang keberadaannya dan Yunho.

Tapi, menjalani hubungan saban tahun dengan dirinya, Jongho mengenalnya terlalu jauh.

Maka tangan mereka berdua sama-sama sibuk. Yunho giat menarik terbuka sabuk Jongho dan menurunkan resleting celananya, sementara Jongho sendiri setengah ribut memukuli dan menarik tangan Yunho menjauh.

“Kak!” desis Jongho dengan suara berbisik. Yunho tertawa tanpa suara. Tangannya sigap menurunkan bagian belakang celana kekasihnya hingga ia dapat merasakan kenyalnya pantat Jongho.

“Siapa disana?”

Jongho menampar mulutnya ketika desahannya hampir keluar begitu Yunho membelai perineum nya dengan begitu lembut. Dia mencubit lengan Yunho ketika ujung telunjuk menusuk lingkaran miliknya dengan perlahan.

“Kak, please.”

“Tahan suaramu, yang.”

Dan Jongho menenggelamkan kepala dalam cekungan leher Yunho begitu telunjuk yang bermain menerobos lubangnya paksa.

“Kak, terlalu kering.”

Sorry, love. Aku terlalu excited.” Yunho mengulum jarinya, kemudian merogoh satu buah sachet pelumas di kantong celana belakangnya. Jongho hanya bisa menatap sayu ketika ujung sachet di gigit Yunho hingga robek kemudian melumuri tiga jarinya dengan cairan bening itu.

Semua dilakukan dengan satu tangan yang masih menahan tubuh Jongho melayang di pintu, membuat sekumpulan jalur nadi yang mengembang di leher Yunho semakin terlihat. Rahang nya juga mengeras dengan nafas mendengus-dengus keras, seperti menahan diri untuk tidak segera menerkam Jongho saat ini juga. Jongho rasa dirinya gila, pikirannya terlampau meliar.

“Eurgh,”

“Sst, tahan, sayang.”

 

TAP!

 

“Gue denger ada yang bisik-bisik di bilik ini.”

Nafas Jongho tertahan, namun Yunho masa bodoh dan berusaha memasukan kembali jarinya yang telah berlumur pelumas ke bawah sana.

“Iya? Gue gak denger apapun.”

“Kapan terakhir kali lo ngebersihin telinga lo? Mau gue korek pake linggis, ha? Padahal bisik-bisikan tadi jelas banget, tolol.”

Gerak mulut Jongho dengan jelas memanggilnya 'Kakak' lirih tanpa suara. Yunho hanya menggeleng pelan dan tatapan matanya mengisyaratkan Jongho untuk tidak banyak bergerak, berkebalikan dengan jari-jarinya yang masih aktif membuka jalur dengan gerakan rancu dibawah sana.

Jongho terperanjat dan nyaris mendengking karena senggamanya terus digaruk hingga terasa menggelitik dinding-dinding anal dan hampir menyentuh prostatnya.

Dia nyaris datang saat itu juga jika saja Yunho tidak secara tiba-tiba menarik jari-jarinya keluar.

Suara kunci yang diputar terbuka membuat Jongho terbelalak.

“Kak!” Tanpa sadar Jongho bersuara cukup nyaring kemudian menarik tangan Yunho yang sudah memegang handle pintu

“Woi, siapa di dalem?!”

Bentakan itu akhirnya terdengar nyaring, tepat di depan bilik mereka. Jongho menggelengkan kepala saat Yunho menyingkirkan tubuhnya dari pintu, dirinya hanya bisa mengeratkan pelukan pada leher kekasihnya sementara kedua kakinya bergantung pada pinggang kekasih kian kuat.

“Kak, jangan gila!” suara bentakan Jongho terdengar tipis. Yunho memberi gestur pada yang termuda untuk tidak kembali bersuara, sorot matanya menginginkan Jongho untuk percaya padanya.

“Kau tahu privasi, ha!?” Suara berat Yunho terdengar sangat tegas, Jongho jadi menggelenyar kemudian menenggelamkan kembali kepalanya di ceruk leher yang tertua.

“Ya, kau menantangku, ha?!”

“Sabar-sabar, Kak,” bisik Jongho saat dilihatnya wajah Yunho mengeras, sungguh Yunho yang marah merupakan sosok yang tak pernah ingin Jongho tarik dari silsilah dirinya, beruntung yang lebih tua begitu jarang menampilkan sisinya ini padanya.

“Kau berurusan dengan orang yang salah.”

“KAK!”

 

KLIK!

 

Sergapan keterdiaman mendera dari dua sisi. Dua pemuda yang jauh lebih pendek dari Yunho tak sedikitpun membuka mulut, terlebih saat setengah tubuh juga wajah pria yang lebih tua enam tahun darinya tersebut berada tepat di hadapan mereka.

“Apa pertanyaanmu masih berlaku?” mata dengan oniks kecoklatan memicing, hidungnya yang tertindik logam mendengus keras. “Hitung aku masuk.”

“A—ah, Senior Jeong.”

Tipikal suara yang ketakutan, gendang telinga Jongho dapat menangkap jelas tanpa melihat bahwa para pengganggu kegiatan mereka tersebut nyatanya mengetahui Yunho dengan sangat.

“Apa?”

“Ah, maaf, Kak Yunho. Kami tidak tahu kalau yang ada di bilik adalah anda.” Pemuda yang berteriak tersebut berucap, sementara yang lain disebelahnya hanya diam dengan salah satu tangan meraup lengan temannya. Kedua pasang mata mereka dapat menangkap dengan jelas sebuah kaki yang memeluk erat pinggang kokoh Yunho.

Sebelah alis Yunho menukik tinggi, salah satu tangan yang tidak menahan tubuh Jongho bersandar pada tiang kusen pintu, berpose hiperbola seakan sedang meninggikan takhta agar mengusir para jelata tak berkepentingan tersebut pergi. “Apa lihat-lihat kaki pacarku?! Pergi, atau aku habisi.”

Dan tanpa tedeng aling-aling, kedua pemuda tersebut terbirit membanting pintu toilet hingga tertutup. Yunho menangkap hal tersebut sebagai kesempatan kemudian membanting pintu biliknya sendiri dan memojokkan kekasih mudanya yang tengah menunduk malu.

Tangan Yunho bergerak menarik dan memangku kedua paha Jongho hingga posisinya sedikit meninggi dengan kedua lengan, dan seluruh fokusnya kini jatuh pada si termuda yang merengek meminta perhatiannya.

Yunho tersenyum.

Dia merupakan lelaki beruntung yang dapat menaklukan salah satu adik tingkat primadona paling baik dan ramah yang santar dikejar beberapa kalangan di seluruh penjuru kampus.

“Indah, serius.”

“K-kak, nanti ada orang lain lagi loh,” peringat Jongho, yang diartikan permintaan untuk mempercepat kegiatan inti mereka.

Sebagian bawah tubuh Jongho tak bisa lagi digerakkan, ia hanya dapat mengandalkan tanganㅡmenggenggam gemas helaian mahkota Yunho yang terasa agak lengket dan keras oleh gel rambut.

“Sayangku,” bibir itu selalu membisikkan perkataan manis, “kenapa kamu secantik ini? Aku mana pernah tahan,” tanpa henti, hingga Jongho yakin bahwa suatu saat ia akan merasa mual akibat merasa penuh dengan seluruh apresiasi yang diujarkan Yunho.

Dua pasang bibir yang berpagut basah, menimbulkan bunyi cipakan nyaring untuk ruang sempit bilik yang sepi.

“Langsung aja,”

Yunho menjauhkan wajah, membuat Jongho kehilangan. Jongho serasa terbakar begitu membuka mata dan mendapati Yunho menatapnya dalam dengan sudut bibir yang tertarik senang, ia dibuat terperosok oleh palung yang dalam dalam oniks yang mengilat tersebut.

“K-Kakak...” Yunho membelai panggul Jongho, telinganya mendengar suara gemetar tersebut atentif.

“Kamu harus usaha sendiri untuk dapetin yang kamu mau, sayang.” Meski berbisik, katup vibrato Yunho yang berdengung dalam sunyi dan atmosfer panas berhasil mengirimkan gemetar, suara beratnya selalu berhasil melemahkan seluruh syaraf Jongho.

Tangan Jongho yang bergerak dalam tremor menarik ikat pinggang kulit coklat Yunho, membuka kancing jins cepat dan menurunkan resleting tak sabaran. Diantara celah tubuh mereka yang diciptakan Yunho, Jongho bergerak menurunkan celana tersebut bersama dengan brief nya.

Dan Jongho disepuh rona untuk yang kesekian, kejantanan Yunho yang mengacung tinggi menantangnya. Yang tertua mendesis ketika jemari lentik kekasihnya menggenggam batang kebanggaan dengan telapak tangan dipenuhi air liur. Keduanya tersedak tertahan begitu Jongho mengarahkan kulup kepala Yunho tepat ke mulut lubangnya yang telah basah dan licin oleh pelumas yang kini bungkusnya sudah tergeletak habis di dekat tabung toilet.

“Akh,” saat bagian kepala itu terhisap, Jongho menarik tangannya dan melingkarkannya di bahu Yunho. Yunho menutup kembali jarak mereka, dan hal itu menyebabkan setengah bagian dari penisnya masuk.

Jongho mengeratkan pelukan, bibirnya terus berbisik pelan ke telinga Yunho untuk tidak memperlambat maupun bermain lembut karena kendala waktu di ruang publik seperti ini. “Kamu bisa manjain aku di apartemenmu nanti, Kak. Untuk yang sekarang cepet aja.”

Maka dengan begitu pinggul Yunho bergerak menerobos, membuat seluruh bagian kejantanannya tenggelam. Jongho mengeluh nikmat dengan responsif, Yunho menghujani lehernya dengan kecupan dan gigitan lembut, membuat Jongho kian lemah.

Tanpa menunggu lama, Yunho bergerak perlahan menarik penisnya kemudian mendebuknya masuk. Bersamaan dengan itu gigitan Yunho pada tulang selangkanya menjadikan napas Jongho terkesiap.

Yunho benar-benar mabuk kepalang manakala otot-otot ketat dinding anal kekasihnya berhasil memijat batang kesejatiannya erat dan membuat ia mendesah berat di leher yang termuda.

Jongho merengek dengan jeda-jeda konstan manakala kecepatan gerakan pinggul Yunho meningkat. Ia hanya bisa mendesah terputus-putus saat bagian bawah mereka terus bertamparan tanpa henti.

Prostat Jongho ditumbuk dengan keras, air matanya menggenang disudut. Jongho berhasil dibuat pening dengan keganasan Yunho kali ini. Tulang belakangnya ngilu mengingat posisi mereka dan kenikmatan yang terus menerus membungkusnya kuat tanpa lepas.

Tubuh Jongho yang terhentak-hentak mengikuti gerakan pinggul Yunho adalah satu-satunya bunyi yang timbul mengiringi desahan mereka. Jongho tersengal dengan tingkah kerasukan Yunho yang mengejar orgasme mereka berdua keras.

Pangkal perutnya Jongho teraduk-aduk oleh gelitikan kupu-kupu yang mampir, testisnya berkedut dan dirinya yakin Yunho merasakan hal yang sama terlebih begitu penis yang memenuhi lubang senggamanya membesar dan ikut berkedut panas.

Rengkuhan tangan Yunho di tubuhnya pun kian mengerat, Jongho hampir tak dapat bernafas karena hal itu menjadikan tubuhnya makin terlipat. Nafas yang keluar tipis-tipis tidak membantu kepalanya yang berputar pusing. Yunho benar-benar gila.

“Aduh!” Belakang kepala Jongho terantuk dinding bilik ketika ia mendongak, Yunho terkekeh dengan napas terengah-engah dan bibirnya membawa pria mudanya dalam satu sesi ciuman panas untuk meredam desahan mereka.

“Eurm!” Jongho mengejang terlebih ketika sodokan Yunho semakin pendek dan cepat, membuat ia hanya bisa menjemput ejakulasinya. Titik putih menjadi fokusnya saat cairan putih itu menyembur keluar dari kejantanannya.

Dan tak perlu menunggu lama ketika dirasakannya perutnya menghangat dan penuh, bersamaan dengan itu gerakan Yunho melambat sebelum akhirnya berhenti menikmati sensasi pijitan rektum Jongho.

Dirinya menurunkan kedua kaki Jongho dari lengannya, hanya untuk kembali menggendongnya dan membawanya duduk diatas pangkuan, sementara Yunho mengistirahatkan dirinya diatas toilet yang tertutup.

Thanks, babe. Kamu memang yang terbaik.”

Jongho hanya mendengkus malas dengan napas yang masih memburu, mengejar dan mengumpulkan seluruh oksigen untuk paru-parunya yang mungkin mengerut karena intensitas seks mereka yang tak kira-kira.

“Tsk, coba bawa buttplug.” Yunho berkomentar, mengelus lubangnya yang sudah kembali mengeluarkan sperma Yunho diantara sela lubangnya yang mengendur rileks, hingga membasahi paha yang tertua, dan membuat penis Yunho yang tertanam disana terasa begitu hangat dan lembab, hingga kekasih Jongho itu melenguh pelan.

Jongho memutar bola mata. “Kalau gitu potong aja penismu, Kak. Biarin aja itu ketanem di sana buat nahan spermamu keluar.”

Yunho hanya bisa tertawaㅡmasih dengan nafas terengahnya, dan memberi jutaan kecupan gemas pada seluruh wajah Jongho yang merengek dan memohon berhenti, mengingat posisinya yang masih berada dalam pelukan erat Yunho tak dapat membuatnya menjauh.

Yunho terlampau yakin.

Saking bahagianya, ia yakin Jongho bisa menjadi faktor mati mudanya suatu saat nanti.

 


 

“Tsk, ternyata ini toh panggilan alamnya, pantes aja Kak Yunho lari cepet banget kaya kesurupan ninja Hatori pas lo keluar Kafe.”

Jongho dan Yunho yang baru saja ingin keluar dengan rapi dan berpakaian kembali dari bilik terkejut mendapati Hyunjin yang berdiri dengan dagu meninggi dan kedua tangan terlipat.

Jongho merapatkan jaket Yunho yang membalut tubuhnyaㅡmenutupi kemeja merahnya dari sisa noda spermanya sendiri yang terciprat ketika dia orgasme.

“Ah, h-hai, Jinnie!”

“Ayo, balik, ICE AMERICANO punya lo nungguin buat ditiup dulu sebelum diminum! Nanti dia keburu dingin duluan.”

Jongho hanya bisa menjedotkan kepalaㅡmenyembunyikan wajah pada dada Yunho yang tertawa melihat tingkah mereka.