Actions

Work Header

Tease

Summary:

Malam itu Juni tidak tertarik dengan hidangan bintang lima yang disajikan untuk merayakan kekalahan Bimbim. Justru ia malah lebih menikmati dengan apa yang Ara berikan di bawah meja.

Notes:

Yeonjun as Juni | Soobin as Ara | Beomgyu as Bimbim | Taehyun as Iyel | Kai as Kenny
----
Ini lanjutan dari prompt yang sempat aku upload di sini tapi bisa dibaca duluan kok! Selamat membaca! ^^

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Berawal dari taruhan bodoh antara Juni dan Bimbim beberapa hari yang lalu, kini mereka berlima akhirnya berkumpul untuk menikmati kekalahan Bimbim. Mereka berdua bertaruh saat kelimanya sedang berkumpul di apartemen Juni untuk agenda movie night rutin mereka. Iyel yang menjadi pencetus taruhan ini, karena tidak tahan dengan kedua temannya yang selalu berkomentar sepanjang film diputar. Kemudian ia mengusulkan ide taruhan untuk Juni dan Bimbim. Siapa yang paling tahan untuk tidak berkomentar selama film diputar akan menjadi pemenangnya, dan yang kalah harus mentraktir fine dining untuk semua anggota movie night di restauran bintang 5.

Extreme Job merupakan judul film yang diputar malam itu, dan memang dasarnya Kenny si paling usil sengaja memilihkan film komedi dengan banyak scene yang dijamin akan membuat Juni dan Bimbim gatal setengah mati untuk berkomentar. Pada akhirnya Bimbim yang kalah di salah satu scene akhir saat sekelompok polisi tersebut tidak bisa menangkap komplotan kriminal akibat dipanggil oleh atasan mereka.

Maka di sinilah mereka berlima menikmati seafood platter, smoked salmon, salad serta roti bruschetta panggang yang dilumuri dengan keju ricotta sembari menunggu hidangan utama dihidangkan.

“Hehehehe enak banget deh biasanya kalo di kosan makan roti bakar cuma pake choki-choki doang.” ujar Kenny sambil memperlihat ekspresi yang dibuat buat saat ia menyantap appetizer-nya.

“Abisin tuh makanan lo sampe piringnya bersih! Gue bayar makanannya pake duit semesteran gue!” keluhnya kemudian memotong motong potongan rotinya hingga jadi potongan terkecil sebagai pelampiasan amarahnya dan dihadiahi gelak tawa dari keempat temannya yang lain.

Namun diantara segala lelucon dan obrolan konyol malam itu, Ara masih sempat memberikan beberapa sentuhan nakal pada Juni kala temannya yang lain tidak menaruh perhatian pada mereka berdua. Awalnya Ara hanya mengusap sisa remahan roti pada bibir Juni, kemudian berakhir dengan ibu jarinya yang mampir sebentar di mulut sang kekasih.

“Ra! Jangan gitu ah!” Wajah Juni seketika memerah ketika tanpa sadar ia menjilat jemari Ara yang sempat berkunjung di mulutnya. Terburu buru ia langsung menutup mulutnya, mencegah kekasihnya itu melakukan hal-hal tidak senonoh lainnya, sembari menatap ketiga temannya yang untungnya sedang sibuk tertawa dengan salah satu cerita guyon dari Kenny.

“Kenapa sih? Kaya anak-anak gak pernah aja ngeliat aku isengin kamu?” tanya Ara santai, kemudian dilengannya dicubit manja oleh kekasihnya.

“Ya tapi kan biasanya itu di rumah, bukan di tempat umum begini.”

“Mau nyobain main di sini gak?”

Potongan salmon yang tadinya dikunyah oleh Juni malah membuatnya tersedak setelah mendengar ide yang dibisikkan langsung oleh lelaki yang lebih tinggi, dan mengalihkan perhatian dari Iyel yang kebetulan sedang duduk di sebelah Juni.

“Kenapa lo kak? Nih minum dulu, makannya pelan pelan.” ujar Iyel sambil menyodorkan gelas dan melirik Ara dari ujung matanya, sedangkan yang dilirik malah membalasnya dengan senyuman usilnya.

Beberapa saat kemudian, Ara kembali menawarkan ide gilanya malam itu dengan mengirimkan pesan singkat pada kekasihnya.

ARA
yang tadi masih berlaku lho
beneran gak mau?

JUNI
kamu tuh bisa gak sih ngasih ide jangan yg aneh aneh kaya gini?

ARA
tapi kamu penasaran juga kan?
ini buktinya yg dibawah udah keras hehe
yakin gak mau nyoba?

JUNI
MAS ARAAAAAA :(
kalo yg lain tau gimana tapi?!!!

ARA
selama kamu gak berisik gak akan ada yg tau sayang
aku juga gak akan mulai kalo gak ada konsen dari kamu

JUNI
yaudah
tapi kalo aku gak kuat kita pulang ya?

ARA
emang aku bakal ngapain sih? :)

JUNI
sana ngomong sama kaca

Tepat setelah Juni membalas pesan terakhir dari Ara, akhirnya hidangan utama mereka pada malam itu disajikan oleh para pramusaji. Mulai dari dry aged beef steak, roasted duck, classic beef ragu, lasagna, dan berbagai macam jenis makanan lainnya yang membuat mata kelima lelaki ini berbinar.

“Gue tau ini gue yang bayar, tapi kenapa gue juga yang paling excited liat makanannya?” Bimbim masih memperhatikan beragam makanan yang disajikan di meja mereka, dan sepertinya kebingungan harus memulai dari mana.

“Menurut gue ya Bim, daripada lo bingung mau makan yang mana; mendingan lo buka kancing celana dulu sih.” jawab Ara dengan tenang sambil mulai membagikan potongan dry aged beef ke piring temannya yang lain. Bimbim yang diberi saran, tapi malah Juni yang gelisah pada duduknya. Otaknya berpikir keras dengan omongan Ara barusan, apakah kekasihnya itu benar-benar cuma memberikan saran pada Bimbim atau itu juga adalah salah satu bentuk kode yang diberikan untuknya?

“Hah? Yang bener aja lo kak? Masa buka celana?!!”

“Yee mesum banget pikiran lo, orang maksud gue kancingnya dibuka biar perut lo gak kesempitan. Tuh liat mata lo udah jelalatan banget, kaya orang gak makan dari SD.”

“Yuk yuk cepetan dimakan keburu dingin nanti gak enak lagi makanannya.” Sebelum Bimbim kembali membalas ledekan Ara, Iyel terburu buru menyendokkan makanannya ke mulut Bimbim yang sudah siap untuk protes tapi semuanya buyar ketika ia mengunyah makanan tersebut.

“ADUHHHH KENAPA ENAK BANGET YA? GUE GAPAPA DEH MISKIN ABIS INI!!” puji Bimbim sambil kembali melanjutkan makannya.

“Berarti abis ini boleh mesen yang lain lagi?” goda Kenny kemudian diberi lirikan khas peran antagonis di sinetron oleh Bimbim.

Sementara teman-temannya yang lain sibuk mengomentari main course, Juni malah agak waswas karena gerak gerik kekasihnya. Padahal sejauh ini Ara juga sibuk dengan piringnya, dan sesekali memberikan ledekan pada Bimbim yang sedaritadi tidak berhenti memuji betapa enaknya semua makanan yang ada di meja mereka malam itu.

Juni masih memantau perilaku Ara hingga akhirnya dia mengambil kesimpulan sendiri, mungkin Ara juga masih membolehkan dia untuk makan dengan tenang. Maka dari itu ia kembali meramaikan obrolan di meja mereka.

Saat sedang asik asiknya menyantap hidangannya, tiba tiba garpu milik Ara jatuh ke bawah meja, saat itulah Juni mulai merasakan perasaan gugup dan penasaran di waktu yang bersamaan.

“Ngapain diambil kak? Kan nanti bisa sekalian diambilin yang baru?”

Namun detik sebelum Ara menundukkan badannya ke bawah meja, Kenny sudah menarik lengannya terlebih dahulu, membuat Juni menghela nafas lega.

“Nggak apa-apa Ken, daripada nanti waiternya lupa mending gue ambil sekarang aja.” ujar Ara sambil melepaskan tangan Kenny dari lengannya, kemudian kembali menundukkan badannya ke bawah meja untuk ‘mengambil garpunya’.

Tepat setelah Ara menghilang dari bawah meja, Juni juga segera menyudahi sesi makannya sebelum ia tersedak dengan daging yang harganya lebih mahal daripada harga dirinya pada Ara. Kebetulan juga sesaat setelah Ara menghilang di balik meja, ada sekumpulan waiters yang mendatangi meja mereka sambil membawa dessert serta performance sederhana.

Sekumpulan waiters tersebut membawakan beberapa hidangan dessert lengkap dengan efek kabut buatan dari dry ice yang direndam dalam air, serta beberapa kembang api yang memberikan kesan festive untuk santapan terakhir mereka di malam itu.

Bimbim, Kenny dan Iyel seketika terhipnotis dengan pertunjukan tersebut, mereka bertiga bahkan tidak sadar kalau Ara masih menghilang di bawah meja mereka dan Juni yang mulai gelisah saat merasakan Ara mulai membuka celananya dan menggoda miliknya di bawah sana.

Miliknya memang sudah mengeras beberapa saat lalu saat Ara sedikit meremasnya kala ia sedang negosiasi dengan kekasihnya untuk mencoba sesi voyeurism malam itu. Namun kini miliknya kembali dimainkan oleh Ara dengan maksud untuk memancing hasratnya. Terkadang Ara juga iseng memasukkan kedalam mulutnya sembari menggoda lubang urethranya dengan beberapa jilatan yang membuat Juni kebingungan bagaimana cara untuk menahan desahannya yang sudah ada di ujung lidahnya.

Ia berharap agar pertunjukan yang diberikan oleh para waiters ini cepat berlalu supaya kekasihnya yang sedang sibuk memberikan oral di bawah meja bisa segera kembali duduk bersamanya. Tetapi memang sepertinya malam itu dewi fortuna lebih memilih untuk berpihak pada Ara.

Kenny dan Iyel justru membohongi para waiters itu dan mengatakan bahwa Bimbim sedang berulang tahun malam ini, sehingga pertunjukan kembang api yang tadinya sudah mau selesai malah dilanjutkan dengan lagu happy birthday. Bimbim juga bukannya menolak malah semakin menjadi jadi, dirinya bertepuk tangan dan turut bernyanyi serta menikmati segala atensi yang diberikan padanya.

Untungnya Ara dapat melancarkan aksinya karena tertutupi oleh alas meja yang menjuntai ke bawah, ditambah dengan additional performance yang diberikan oleh para waiters membuat Ara menyunggingkan senyumnya sebelum melanjutkan kegiatannya untuk menggoda kekasihnya.

Dengan mudah Ara memasukkan penis Juni ke dalam mulutnya dan meremas kedua bola zakarnya, hingga memberikan Juni sensasi ngilu dan nikmat bersamaan. Sesekali ia memberikan hisapan yang kuat hingga pipinya mencekung, seakan milik kekasihnya itu dapat mengeluarkan apapun yang dapat menghilangkan dahaganya. Ara juga memberikan variasi seperti gerakan menelan yang membuat kesadaran Juni berada di ambang batas.

Beberapa menit sebelum lagu happy birthday selesai, Ara merasakan paha Juni yang bergetar menahan klimaksnya, juga tangan kekasihnya yang meraba raba mencari tangannya sendiri. Lelaki yang lebih tinggi tersebut mengalah dan merapihkan celana milik Juni dan kembali duduk di posisinya tepat setelah para waiters itu kembali ke tempatnya masing-masing.

Di tengah euphoria yang dirasakan oleh Bimbim, Kenny dan Iyel, keadaan Juni malah berbanding terbalik. Ia melipat kedua tangannya di meja dan menenggelamkan wajahnya, Ara yang melihat hasil keisengannya malam itu langsung menepuk kepala Juni.

“Juni? Mau pulang sekarang gak?”

“H—hhhh kenapa kamu masangin cock ring sih?” Seketika Juni membalikkan kepalanya dan menghadap kekasihnya. Wajahnya memerah dengan matanya yang berkaca kaca menahan sakit serta klimaksnya yang harus ditahan akibat Ara yang memasangkan cock ring pada penisnya sebelum kembali memasukkannya ke dalam celana yang ia kenakan.

“Kan sayang kalo celana kamu kotor.”

“Tapi kan bisa kamu telen!!” keluh Juni yang sepertinya tidak sadar kalau awalnya bisikan antara dirinya dan Ara kini malah bisa didengar oleh ketiga temannya yang lain.

“Apanya yang mau ditelen?” tanya Bimbim sambil menatap Juni dan Ara bergantian.

Untung, yang didengar oleh Bimbim, Kenny dan Iyel hanya di bagian terakhir saja.

“Ini lhoo, cream cheesenya. Juni katanya pengen makan kuenya tapi cream cheesenya mau dikasih ke gue semua. Iya kan?” jelas Ara sambil membantu Juni membenarkan posisi duduknya.

“Tumben banget? Biasanya kan lo suka kak, kalo ada makanan yang banyak kejunya kaya gini?” Kenny menyantap dessertnya dengan tenang, berbeda dengan Bimbim dan Iyel yang masih memberikan pandangan curiga pada sepasang kekasih tersebut.

“Tadi Juni sempet ngeluh katanya perutnya sakit, kayanya gara gara seharian telat makan deh.” Ara yang mewakili Juni untuk menjawab pertanyaan dari teman temannya, sedangkan Juni sendiri memang saat ini sedang merasakan sakit sih, tapi sakit yang lain.

“Kak Juni! Lo nggak mau rugi banget apa sampe gak makan dari pagi?” Yang tadinya Bimbim dan Iyel memandang curiga ke mereka berdua, sekarang Bimbim justru lebih khawatir dengan keadaan Juni. Tinggal Iyel saja yang masih menaruh prasangka buruk pada Ara dan Juni.

“Nggak apa-apa ya, gue sama Juni balik duluan? Kasian gue juga lupa bawain obatnya dia.”

Bimbim dengan paniknya justru malah setuju untuk menitipkan Juni pada Ara agar ia bisa segera meminum obatnya, dan beristirahat. Ia bahkan menjanjikan Juni akan membelikan sliced cake khusus kalau ia sudah sehat, sebagai ganti karena tidak bisa menikmati dessertnya malam ini.


Sesampainya di mobil milik Ara, bukannya langsung meluncur pulang tetapi mereka berdua memilih untuk menuntaskan kegiatannya yang sempat tertunda. Kini tubuh Juni yang dihiasi dengan beberapa kissmark bersandar dengan manja di kursi samping kemudi. Kesadarannya benar-benar tinggal beberapa persen saja, setelah Ara membuatnya keluar 3 kali malam itu. Sedangkan Ara sendiri sedang menikmati nikotinnya sambil mengusak rambut Juni.

“Bimbim baik banget deh Cil, kamu mau dibeliin kue terpisah tuh nanti. Padahal kan daritadi pas mau berangkat dia marah marah mulu karna duit tabungannya kita pake.”

“Mhhhmmm”

“Udah ngantuk banget?”

“Iyaaaa, ayo pulang aja sekarang.”

“Yaudah dipake dulu dong kemejanya, nanti kedinginan kamunya.”

“Pakein.”

“Kalo aku yang pakein baju, nanti sampe rumah boleh main lagi gak sekali?”

“Ihhh Ara!” Gerutu Juni sambil berusaha duduk dan kembali mengenakan kemejanya kembali, padahal ia inginnya dimanja manja tanpa pamrih oleh kekasihnya itu.

Ara sering diledeki mirip dengan kelinci oleh teman temannya, karena bentuk serta raut wajahnya. Namun menurut Juni, justru hasrat seksual Ara lah yang lebih mirip dengan kelinci, alias tidak akan puas kalau hanya main 1 ronde saja. Minimal sampai Juni nangis dan merengek baru ia akan benar benar berhenti.


Iyel
bim, lo nyadar gak sih?

Bimbim
apaan?

Iyel
tadi pas kita lagi makan
kak ara sama kak juni sus banget

Bimbim
sus?
tadi kan gak ada kue sus nya yel?
lo masih laper ya?

Iyel
enggak deh 
gajadi 🙄
tidur aja bim

Bimbim
okieee ^^
met tidur iyel!

Iyel
yaaaa

Notes:

Pls leave kudos and comments, i really appreciate it and also actually i'm craving for some words from y'all :(

Series this work belongs to: