Actions

Work Header

5 Things + 1 with arajuni

Summary:

5 times Ara caught being silly in front of Juni + 1 times Juni know this boy has a feeling for him

Notes:

Yeonjun as Juni | Soobin as Ara | Beomgyu as Bimbim | Taehyun as Adriel (Iyel) | Kai as Kenny | Ryujin as Raras (Ayas) | Lia as Manda

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

I

Siang itu Ara memilih untuk beristirahat di sekretariat dibandingkan dengan ikut kelas keduanya. Akibat tadi terlalu lama mengantri di percetakan, ia jadi telat 30 menit dan percuma jika masuk kelas karena absennya di kelas tersebut juga tidak akan dihitung. Maka dari itu, lelaki dengan tinggi 185cm itu melangkahkan kakinya ke ruangan yang terletak di dekat taman belakang kampusnya. Baru 15 menit memejamkan matanya, tiba tiba acara tidur siangnya diganggu dengan suara ketukan pintu.

Tok tok

“Misi, ada orang nggak?” perlahan pintu sekretariat itu terbuka dan menampilkan sosok lelaki yang mengenakan kardigan hitam dan belum pernah Ara lihat sebelumnya.

“Nyari siapa?”

“Gue mau naro tugasnya Manda, katanya titip di sekre aja.” jelas lelaki tersebut sambil menunjuk map biru yang sedang ia bawa.

“Oh, taro di sini aja.” ujarnya sambil menunjuk meja yang tidak jauh dari sofa tempatnya berselonjor. Kemudian Ara memandang lelaki itu dari helai rambutnya yang diwarnai biru, hingga ke sepatu converse yang dikenakan.

“Oke, ntar gue bilangin ke Manda tugasnya udah dibawain sama…….???”

“Juni! And now may I know to whom I am talking to?” kemudian ia menjulurkan tangannya ke depan Ara yang masih berselonjor, karena merasa tidak sopan ia terburu buru bangun dari tidurnya, menyebabkan kepalanya terbentur dengan kotak pensil gantung yang berada di dekat sofa.

“ADUH! Sakit ya?”

“Ara!”

“Hah?”

“Eh? Maksudnya nama gue Ara, tapi ini gak sakit kok. Udah biasa kepentok gini.” Lalu Ara membalas jabatan tangan Juni sambil memaksakan tawanya yang justru membuat keadaan diantara mereka berdua jadi semakin canggung.

Untungnya Manda muncul dan segera menghampiri Juni, keduanya pun sibuk dengan tugas yang tadi dibawa Juni dan membicarakannya di meja yang berada di tengah ruangan. Sebelum kembali melanjutkan tidurnya, Ara kembali melirik ke arah Juni yang kebetulan juga sedang melihat ke arahnya. Sebelum mengalihkan pandangannya, Juni sempat memberikannya senyum simpul dan sukses membuat jantung Ara bertalu lebih cepat dari biasanya.

II

Di tengah keramaian kantin, ada Ara yang berdiri di pinggiran sambil membawa nampan makanan yang baru ia pesan. Awalnya ia sengaja memesan makanan dulu sebelum mencari tempat duduk karena hanya datang sendiri ke kantin, dan saat ia sampai beberapa waktu lalu juga sepertinya masih tersisa beberapa bangku dan meja kosong.

Baru saja ia mau kembali ke tempat ia memesan makan, seseorang memanggilnya sambil melambaikan tangannya.

“Ra!! Araaa! Sini sini!” Manda ternyata yang memanggilnya, dengan badan mungilnya ia berusaha berdiri di kursinya sambil melambaikan tangan supaya Ara lebih mudah melihatnya di tengah kerumunan mahasiswa siang itu.

Ara melambaikan tangannya, lalu menghampiri meja yang ditempati oleh gadis tersebut. Ternyata ada 2 orang lainnya yang juga duduk di sana. Manda ditemani dengan Ayas (yang katanya sedang pdkt dengan Manda) dan ada Juni juga!

“Kenapa kaya orang bingung gitu sih Ra? Emang sendirian doang?”

“Iya, gue sendirian doang nih mana kantin tiba tiba rame banget kan! Gue bingung mau duduk di mana. Mana udah keburu pesen makanan lagi.”

“Emang kantin cuma punya lo doang apa?” Sindiran dari Ayas disambut dengan gelak tawa dari Manda dan Juni, sedangkan Ara hanya bisa menghela nafasnya sambil melanjutkan makannya.

Setelah itu, ketiga orang lain di meja melanjutkan obrolan mereka seputar tugas dan beberapa gossip mengenai dosen yang mengajar mereka. Kebetulan karena Ara beda jurusan dengan mereka, maka dari itu dia tidak bisa menimpali banyak pada obrolan tersebut.

“Nda, mau cabut sekarang gak? Nanti keburu rame kalo berangkatnya telat.”

“Oh iya! Ara, gue sama Ayas mau pergi dulu ya ke coffeeshop temennya Ayas. Juni jadi mau ikut gak?” tanya Manda sambil membereskan barangnya dan Ara hanya menganggukkan kepalanya sebab mulutnya masih sibuk mengunyah makanannya, beda dengan Juni yang terlihat sedang berpikir sambil melihat ke ponselnya.

“Mmmm gue nggak jadi ikut deh.”

“Lho kenapa? Katanya tadi mau ikut?!!”

“Males ah ntar cuma jadi nyamuk lo doang sama Ayas.” Sontak semburat merah muda menghiasi pipi gembil milik Manda, Ayas juga terlihat agak panik namun buru-buru ia memutar bola matanya.

“Yeee sembarangan banget nih mulutnya! Udah ah gue sama Manda cabut ya!! Bye!” Sepasang gadis itu akhirnya meninggalkan Ara dan Juni di meja kantin itu. Suasana di kantin memang sedang ramai-ramainya karena jam makan siang, namun Ara justru malah merasa sepi selepas Manda dan Ayas pergi. Mungkin karena hening langsung melingkupi meja yang ia duduki dengan Juni. Lelaki yang duduk di depannya ini sibuk dengan ponselnya sesekali juga menulis pada buku catatannya.

Tetapi mungkin sepi itu hanya imajinasi Ara, buktinya sekarang malah Juni yang berinisiatif untuk membuka obrolan baru diantara mereka berdua.

“Abis ini masih ada kelas Ra?”

“Ada tapi nanti jam 3, kalo lo sendiri?”

“Hmmmm gue sih udah nggak ada kelas lagi, tapi bingung mau ngapain.”

Ara hanya menganggukkan kepalanya setelah mendengar jawaban dari Juni, sejujurnya ia bingung mau melanjutkan obrolan ini lagi dengan apa. Tetapi seperti bisa membaca isi kepalanya, Juni akhirnya mengambil inisiatif duluan.

By the way, you look good in those pink sweater!” pujinya sambil menopangkan wajahnya dengan tangannya, seakan akan ingin menatap Ara lebih serius, bahkan ponsel yang sedari tadi ia mainkan sudah dimasukan kedalam tasnya.

Namun sepertinya pujian yang dilontarkan oleh Juni sama sekali bukan dari 1000 macam jenis pembuka obrolan yang Ara pikirkan dalam otaknya, maka dari itu air mineral yang tadi ia minum malah masuk ke saluran yang berbeda dan menyebabkan ia tersedak.

“RA!! Aduh maaf, coba coba liat ke atas.” ujar Juni yang juga tertular kagetnya Ara dan berusaha membantu agar lelaki yang lebih tinggi darinya ini bisa bernafas seperti semula.

“H—ha? Liat ke atas?” walaupun agak bingung dengan saran yang diberikan oleh Juni, Ara tetap menurutinya dan menatap ke langit-langit kantin sambil mengusap dadanya. Tak butuh waktu lama, insiden tersedak tadi berhenti dalam waktu cepat dan ia menatap Juni seperti orang yang baru saja diberikan uang 1 milyar.

“Ternyata emang beneran manjur ya?”

“Bener kan? Dulu gue waktu kecil sering diajarin gitu sama nyokap gue.” jelas Juni sambil tertawa, memperlihatkan gigi kelincinya yang justru membuat rupa dari lelaki berambut biru ini semakin menarik di mata Ara.

But it’s a bad sign, jantungnya berdetak lebih cepat lagi. Persis dengan apa yang ia rasakan beberapa waktu lalu di ruang sekretariat.

III

Mungkin setelah ini Ara akan berpikir 2 kali untuk menerima ajakan menginap dari Bimbim, karena acara menginap yang dimaksud oleh adik tingkatnya itu bukan sembarang acara menginap. Ara dan Kenny yang diajak Bimbim malah berakhir dengan menghabiskan malam mereka sambil memainkan game yang baru dibelikan oleh abangnya.

“INI TUH GAME HORROR, GUE GAK BERANI MAIN SENDIRIAAAANNNN!!”

Begitu kata Bimbim setelah memamerkan game tersebut, dan seperti sudah masuk ke dalam jebakan, Ara dan Kenny juga sudah tidak bisa menolak. Bagaimana mau menolak, mereka berdua baru sampai di rumah Bimbim jam 1 pagi dan rumah Bimbim letaknya kurang lebih 30 menit dari rumahnya, dan 1 jam dari kosan Kenny.

Setelah beberapa argumen yang diberikan oleh Bimbim, Ara dan Kenny menuruti kemauan temannya itu dan menghabiskan semalam suntuk untuk menamatkan game tersebut. Lalu bagaikan jatuh tertimpa tangga, ternyata diantara mereka bertiga hanya Ara yang punya jadwal kelas pagi di keesokan harinya, sedangkan Kenny dan Bimbim masih bisa melanjutkan tidurnya.

Dengan bermodal tidur satu jam sebelum berangkat, Ara tercepot-cepot melewati kemacetan ibu kota di pagi hari demi jatah absennya. Keadaan kampus pagi itu juga masih terbilang sepi karena kebanyakan kelas di hari jumat selalu di mulai setelah jam makan siang. Selain itu, masih ada 30 menit sebelum kelasnya di mulai, maka Ara memilih untuk ke minimarket untuk beli roti guna mengganjal perutnya.

Di tengah perjalanannya menuju minimarket, beberapa kali ia hampir menabrak orang akibat bermain ponsel sembari berjalan. Tetapi semuanya meleset karena orang-orang yang hampir ia tabrak sudah menghindar atau menegurnya terlebih dahulu.

“ARAAAAAA!!!!” sapa Juni dari sebrang jalan, membuat Ara kehilangan fokus dari ponselnya dan menengok ke sumber suara. Ia tersenyum sambil membalas lambaian tangan Juni. Namun disayangkan mungkin jatah keberuntungannya sudah habis, atau memang Ara yang ceroboh, akhirnya dia jatuh menabrak pilar di koridor yang ia lewati.

“Kenapa sih Ra tiap ketemu gue kayanya lo kena sial mulu? Emang kita gak boleh temenan kali ya?” Juni menghampiri Ara sambil membantu lelaki itu. Selain isi tasnya, kemampuan berbicara Ara juga sepertinya ikut tercecer. Otaknya jadi berpikir lebih keras untuk memilih jawaban yang tepat dari pertanyaan Juni barusan.

  1. Jawaban simpel dan seharusnya dijawab oleh Ara:
    “Ah, enggak kok emang gue aja yang ceroboh. Emang kata siapa kita gak boleh temenan?”

  2. Jawaban lain yang sempat terbesit di pikiran Ara
    “Iya soalnya tiap ketemu sama lo, gue jadi nggak bisa ngapa ngapain. Oh iya nanti abis gue kelas mau makan siang bareng gak? Kalau mau, tukeran nomor dulu gak sih? Masa kita udah beberapa kali ketemuan tapi gak pernah tukeran nomor?”

Untungnya otak Ara masih berjalan dengan benar setelah ia memukul pelan kepalanya (dan membuat Juni semakin khawatir), ia menjawab pertanyaan Juni dengan pilihan pertama.

“Tapi beneran nggak apa-apa? Mau gue temenin ke uks gak?”

“Nggak apa-apa Jun, beneran. Lagian jam segini mah dokter jaganya juga belom dateng kan?”

Juni melirik ke jam tangan yang ia kenakan, “Iya juga sih.”

“Lo sendiri ngapain pagi-pagi udah ke kampus?”

“Gue ada kelas pengganti, bete banget digantinya pagi-pagi kaya gini?”

“Oh ya? Di lantai berapa kelasnya?”

Setelah itu obrolan mereka berdua mengalir seperti teman akrab yang sudah kenal lama. Dalam hatinya Ara bangga dengan pencapaiannya pagi ini, bisa membawa alur obrolan mereka berdua jauh lebih baik dari terakhir ia bertemu dengan Juni.

Namun daripada itu semua, hati terkecilnya juga ikut bersuara, “Juni nyadar gak ya gue make baju yang sama kaya kemarin buat ke kampus? Parfum gue masih wangi kan ya? Ilfeel gak ya dia liat gue bertingkah aneh mulu tiap ketemu dia?

IV

Semenjak insiden Ara bertabrakan dengan pilar, dia jadi kok tukeran nomor dengan Juni. Tapi tenang aja, cara tukerannya nggak pake pick-up-line nya yang cringe itu. Semenjak itu juga mereka berdua jadi lebih sering main, kadang dengan Manda dan Ayas, atau dengan teman-teman mereka yang ternyata saling kenal, misalnya; Bimbim yang merupakan adik kelasnya di SMA ternyata juga adik tingkat Ara di jurusannya.

Seperti contohnya siang ini, Ara diajak untuk kumpul bareng dengan Juni dan Bimbim serta 2 orang temannya yang lain. Ada Kenny yang kebetulan Ara sudah kenal karena ia merupakan adik tingkatnya, sama seperti Bimbim. Kemudian yang terakhir ada Adriel atau biasa juga dipanggil Iyel, nah kalau yang satu ini Ara kenal lewat klub media center yang ia ikuti di kampus. Tapi yang Ara tidak tahu ternyata Iyel ini adalah adik sepupu dari Juni.

Sedari tadi Bimbim dan Kenny sibuk tanya-jawab dengan Ara seputar mata kuliah yang mereka kurang paham, lalu Iyel sibuk dengan kucing yang ada di kedai tersebut. Sisa Juni yang daritadi memandangi Ara yang (sedikit) kewalahan menjelaskan materinya pada Bimbim yang pertanyaannya gak habis-habis, dan Kenny yang selalu bingung ketika pindah ke contoh studi kasus selanjutnya.

Beberapa kali tatapan Juni dan Ara bertubrukan membuat keduanya menunjukkan reaksi yang berbeda, misalnya Juni yang jadi salah tingkah dan tiba tiba ikut Iyel untuk bermain dengan kucing, dan Ara yang tertegun sampai Kenny harus melambaikan tangannya di depan wajah kakak tingkatnya tersebut untuk mengembalikan fokusnya.

“Eh, mesen minum lagi yuk! Kalian mau nambah apa?” ajak Iyel.

“Gue tambah greentea latte.”

“Gue ice americano aja yel.” Juni dan Kenny sudah menambah pesanannya yang sama persis dengan sebelumnya.

“Di sini ada susu gak sih?” tanya Bimbim sambil membolak balikkan buku menu.

“Kenapa gitu tiba tiba mau mesen susu?”

“Lagi pengen aja, emang kenapa?”

“Nanya doang elah, sensi banget sih lu kaya testpack.”

“Sssssst! Udah pokoknya pesenin gue susu kedelai, tapi gulanya dipisah!”

“Nah, tinggal kak Ara, lo mau pesen apa kak?”

Pertanyaan dari Iyel sukses membuyarkan Ara di tengah lamunannya yang kesekian di hari itu, memikirkan bagaimana caranya ia bisa melakukan pendekatan dengan Juni namun tidak meninggalkan kesan menggelikan bagi lelaki tersebut.

“H—Hah? Yang lain udah pada mesen?”

“Iyaaa tinggal lo doang nih.”

“Mau disamain kaya pesenan gue gak?”

“Lo pesen apaan bim?”

“Susu kedelai!” jawab Bimbim dengan bangga.

“Yaudah samain aja.”

“Samain pesen apa?”

“Susu keledai?”

Jawaban dari Ara sontak membuat ketiga temannya yang lain sekaligus gebetannya tenggelam dalam tawanya, beberapa detik setelah mereka tertawa, Ara justru baru paham apa yang mereka tertawakan.

“Tuhkan, makanya jangan bengong mulu. Emang mikirin apa sih daritadi?” tanya Kenny sambil menyeka air matanya.

“Mikirin nilai ujian lo sama Bimbim!! Lagian gue jelasin daritadi gak ngerti mulu sih!”

“Yeee mana pernah lo mikirin gue sama Kenny sampe segitunya, alesan aja nih si cakep!”

“Udah ah, buruan pesenin minum lagi, gue udah haus banget ini!”

“HAHAHAHAHAHAHAHA IYA IYA DIPESENIN SUSU KELEDAI YA KAK?”

“KEDELAI ANJIRRRRRR!!!”

Lagi-lagi Ara bertingkah konyol di depan Juni, namun sama seperti yang lalu lalu, Juni justru menikmati tingkahnya dan Ara juga berharap semoga image nya tidak berubah jadi cowok freak di mata Juni.

V

Memasuki masa menjelang ujian akhir, berarti waktunya juga untuk tumpukan tugas menghantui malam-malam seluruh mahasiswa tidak terkecuali untuk Ara. Seakan belum menambah deritanya, 5 dari 7 tugas yang harus ia kerjakan merupakan tugas kelompok dengan anggota yang berbeda-beda, sehingga lelaki tersebut harus pintar membagi 24 jamnya dalam sehari untuk mengerjakan tugas tersebut juga untuk beristirahat.

Namun sepertinya setelah 2 minggu sibuk kesana kemari, akhirnya lelahnya datang juga. Kali ini Ara masih punya waktu sekitar 1 jam lagi menuju ke jadwal kerja kelompoknya yang lain, oleh sebab itu ia memutuskan untuk istirahat sejenak di perpustakaan. Jangan tanya kenapa lelaki ini tidak tidur di tempat andalannya alias sekretariatnya, karena tempat itu sudah dibooking oleh Iyel dan beberapa temannya yang lain untuk mengadakan monthly meeting, dan Ara tidak mau jadi bahan omongan karena seenaknya tidur di sana saat anggota lainnya ditelan sibuk.

Agar ia tidak ditegur oleh Ibu penjaga perpustakaan, Ara memilih untuk tidur dibalik rak buku paling belakang, rak buku yang berisi buku-buku yang jarang bersinggungan dengan konsentrasi kebanyakan mahasiswa di sini, dan sekaligus menjadi rak buku yang paling jarang dihampiri oleh mahasiswa di kampusnya.

Seperti masuk ke dalam déjà vu, 15 menit setelah Ara terlelap ia dibangunkan oleh suara buku yang terjatuh tak jauh dari tempatnya tertidur. Sebelum ia teriak mengaduh, sosok yang menjatuhkan buku tersebut buru-buru menghampiri dan menutup mulutnya.

“Ra, sorry banget tapi jangan teriak ya nanti ketauan!”

“Ketauan ngapain?” pikir Ara sambil mengumpulkan kesadarannya, kemudian ia baru sadar bahwa oknum yang membangunkan tidurnya kali ini sama seperti beberapa waktu lalu, Juniar Harmono, gebetannya, juga merupakan sosok yang beberapa waktu ke belakang selalu melintas di otaknya.

Setelah beberapa saat, Juni melepaskan tangannya dan mendudukkan dirinya di sebelah Ara, kemudian ia mengeluarkan bantal kecil dari tas yang ia bawa, dan mecari posisi untuk membaringkan dirinya di antara rak-rak buku tersebut.

Merasa daritadi terus-terusan ditatap bingung oleh lelaki lainnya, Juni yang tadinya sudah memejamkan matanya kembali melirik Ara yang ekspresinya susah dijelaskan, antara kaget, kesal, bingung dan malu?

“Kok nggak jadi ngelanjutin tidurnya?”

“Lo juga suka tidur di sini?”

“Loh bukannya yang sering mampir ke rak sini biasanya cuma buat tidur doang?”

“Gue nggak tau sih? Soalnya gue biasanya tidur di sekre…..”

“Kaya waktu itu pas gue samperin ya?” Juni beranjak dari posisinya dan kembali duduk di sebelah Ara.

“Eh? Iya, bener waktu itu pas lo mau bawain tugas buat Manda….”

Lalu Juni balik menatap Ara lebih lama, membuat yang ditatap merasa sungkan dan memikirkan apa yang membuat lelaki itu menatapnya dengan serius. Apakah tadi saat ia tidur ada liur yang tersisa di pinggir bibirnya? Apakah bajunya tadi sempat tersingkap saat tidur? Apakah Juni baru sadar kalau Ara aslinya setampan itu dan rugi banget kalau tidak mau jadi kekasihnya?

Oke, yang terakhir mungkin hanya sisa dari mimpinya Ara saja.

“Ken—Kenapa ngeliatin gue sampe kaya gitu Jun? Masih ada bekas iler ya gue?” tanya Ara sambil menolehkan wajahnya ke arah lain dan mengusap bibirnya menggunakan ujung kemeja yang ia kenakan.

Juni justru tertawa geli sambil mengusak rambut Ara, “Rambut lo tuh udah kaya Jimmy Neutron tau gak? Sampe jabrik kaya gitu, emang tidurnya enak banget apa gimana??”

Satu lagi kejadian konyol yang membuat Ara salah tingkah di depan Juni, yang sukses membuat batinnya bergejolak. Di satu sisi, ia merasa kalau Juni sudah pasti mengiranya sebagai lelaki ceroboh yang selalu bertingkah bodoh, sedangkan di sisi lainnya Ara merasa sukses selalu membuat Juni tersenyum bahkan sampai tertawa jika sedang berpapasan dengannya.

“Kalau misalnya gue nggak bisa pacaran sama Juni, nanti gue seriusin aja deh bakat ceroboh ini jadi slapstick comedian.”

+ I

“Yel, mau nanya dong.”

“Kenapa tuh kak?”

“Juni udah punya pacar belom?”

Manda yang juga berada di ruangan itu seketika langsung menjatuhkan spidol yang sedang ia gunakan, membuat Ara dan Iyel mengalihkan pandangannya pada gadis mungil tersebut.

“Kok lu kaget gitu sih Nda?”

“Lagian kenapa lo nanya kaya gitu ke Iyel?

”Emang gak boleh?”

Noooo, I mean don’t you already know? He’s single and already to mingle with you?

“Hah?”

“Ihhh Ara maksud gue, kalo misalnya Juni tuh udah punya pacar kenapa coba dia mau maunya ngeladenin semua kelakuan bodoh lo? Kenapa coba dia masih pengen nempelin lo melulu?”

Kini Iyel yang gantian menatap kedua kakak tingkatnya yang debat serius seakan akan ini adalah faktor utama penyebab terjadinya perang dunia ketiga, padahal yang diributi oleh mereka berdua.

“Hah? Sejak kapan Juni nempelin gue?”

“Sejak lo kenalan sama dia di sini!! Sejak dia gamau ikut nemenin gue sama Ayas lagi!! Sejak dia suka ngajakin lo main sama Iyel sama anak anak yang lain juga!”

“Masa sih?”

Manda menepuk keningnya sendiri sambil mendengus kesal mendengar pertanyaan dari Ara, bisa bisanya temannya yang satu ini tidak sadar kalau Juni juga menyambut baik gelagatnya selama ini. Percuma kalau IP nya tiap semester selalu cumlaude, tapi kalau disuruh menyelesaikan masalah hati masih clueless seperti ini.

“Tuh tanya sama Iyel, capek banget gue ngomong sama lo.”

“Emang gue tadi lagi nanya sama Iyel kan? Cuma lo tiba tiba kaget gitu!”

“Udah ah pusing gue, udah gak mood gue ngerjain laporan bulan ini sambil dengerin lo.” ujar Manda sambil membereskan barang bawaannya yang berceceran di meja.

“Loh? Nda serius ini?? Yel?? Beneran Juni belom punya pacar? Lagi nggak ada yang ngedeketin juga?” tanya Ara penuh antusias, seakan-akan baru memenangkan lotre berhadiah uang 10 milyar.

Iyel yang melihat kakak tingkatnya itu bertanya dengan semangat hanya tertawa sedangkan Manda menghela nafasnya saking sudah tidak bisa berkata-kata melihat kelakukan Ara yang kini memasang senyumnya dengan mantap.

Tanpa mereka tahu kalau sedari tadi diskusi mereka bisa terdengar hingga keluar dari ruangan, dan ada Juni yang mematung di depan pintu sekretariat. Kedua pipinya memerah setelah mendengar diskusi dari ketiga temannya di dalam sana, walaupun akhir-akhir ini Juni sempat mengira kalau Ara hanya iseng untuk flirting di depannya. Tapi ternyata memang Aranya saja yang sangat naif dan tidak berani untuk bertanya lebih lanjut pada Juni.

“Ngapain Jun nunggu di depan situ? Masuk aja kali, tadi kan gue udah bilang juga ke Manda.” ajak Ayas sambil merangkul Juni untuk masuk ke dalam sekretariat.

Di dalam Ara sedang dipukuli oleh Manda dengan lembaran laporan, dan ada Iyel yang sibuk mengompori Manda. Namun adegan pukul-memukul itu berhenti setelah Ayas dan Juni masuk ke dalam.

“Hi? Ara?”

“Oh iya? Halo juga? Juni?”

“Sorry banget tapi kan di ruangan ini ada gue sama kak Manda juga, kenapa cuma kak Ara yang disapa?”

Notes:

Terimakasih buat yang udah baca sampai sini!! I really appeciate it if you kindly leave some kudos or comments here 🥺 oiya untuk cerita Ara dan Juni yang lain juga boleh dicek ke sini yaa!

Series this work belongs to: