Actions

Work Header

Flowers Named After You

Summary:

Jungwon hanya ingin pergi dari rumah. Itu sebabnya dia mendaftar ke Royal High, sekolah bangsawan yang tingkat keketatan penerimaannya mengalahkan lateks sekalipun. Tidak ada yang menyangka namanya akan keluar dari kotak besar berwarna merah tua itu, termasuk dirinya sendiri. Jadi, di sinilah Jungwon, mencoba mencari tahu apa tujuan hidupnya sembari menutup luka yang sudah lama terbuka.

Ah, dan Pangeran Jay. Jungwon benar-benar harus lari darinya.

Chapter 1: Bells-of-Ireland

Notes:

halo, semuanya, terima kasih sudah berkunjung! maaf lama, ya. udah hampir satu tahun lebih aku gak nulis karena kena writer block. mau bilang terima kasih banyak atas antusiasmenya di base, semoga kalian suka dengan work pertamaku setelah hiatus. selamat menikmati!

(See the end of the chapter for more notes.)

Chapter Text

Badai salju menerjang Dreande di satu hari menjelang akhir musim dingin. Angin menggedor pintu dan jendela rumah yang kokoh, menerbangkan atap jerami gubuk kecil yang ringkih, serta meniup baling-baling pembangkit listrik hingga kecepatan penuh. Jungwon tidak tahu harus bahagia atau berduka. Lagi pula, ini hari ulang tahunnya. Menyanyikan lagu dan meniup lilin warna-warni saat orang lain berusaha untuk bertahan di luar sana terdengar sangat tidak etis.

Seluruh rencananya untuk hari ini kandas. Kue, makanan, dan beberapa jenis minuman dingin lainnya berakhir terabaikan di meja ruang tamu. Teman-temannya tak mungkin datang. Jelas lebih mementingkan nyawa daripada acara kecil-kecilan yang digelar dadakan. Jungwon tidak sedih, sungguh. Ini masih pagi sekali, masih banyak hal berguna yang bisa dilakukan dalam rumah. Mengerjakan soal ujian masuk Royal High, contohnya.

Tidak, jangan salahkan Jungwon atas apa yang mungkin terjadi jika acara ulang tahunnya tetap dilaksanakan. Salahkan saja pihak seberang yang mengirimkan surel beberapa jam sebelum tes dimulai. Bayangkan jika Tuhan tidak menurunkan badai salju tiba-tiba hari ini. Jungwon pasti akan melewatkan kesempatan emas yang hanya datang sekali seumur hidup, yang juga mungkin tidak datang sama sekali.

Lulus seleksi berkas dalam rangkaian penerimaan siswa baru Royal High? Gila. Ini pasti hadiah ulang tahun terbaik yang pernah ia dapat seumur hidupnya. Jungwon tak berhenti tersenyum sedari tadi, berlari masuk ke ruang belajar dan mengunci pintunya rapat-rapat. Pria dewasa yang Jungwon sebut dengan ‘papa’ hanya bisa menggeleng, membereskan ruang tamu sembari memanjatkan doa untuk kebaikan anak tunggalnya. 

Royal High adalah sekolah impian semua orang di Orion. Seluruh individu dari berbagai lapisan masyarakat pasti pernah berandai-andai untuk masuk ke sana. Didirikan khusus untuk anak-anak bangsawan dan konglomerat, sekolah elit ini hanya menerima tiga warga sipil berusia 15-17 tahun dari satu juta pendaftar setiap tahunnya. Alur penerimaan Royal High terbagi menjadi tiga; seleksi berkas, ujian, dan undian yang dinamakan Royal High Entrance Lottery. Nama-nama peserta yang lulus ujian akan dimasukkan ke dalam kotak undian, lalu salah satu anggota keluarga Kerajaan Alderia akan mengambil tiga kertas dari sana. Terdengar tidak masuk akal, bukan?

Ya, tetapi tak ada yang peduli. Lagi pula, di situ letak keseruannya. Royal High Entrance Lottery akan selalu jadi pusat perhatian, mengingat kotak undian tersebut dipercaya memiliki sihir karena selalu memilih orang yang akan menjadi penting di masa depan. Permaisuri Kerajaan Alderia yang saat ini bertakhta, misalnya.

Jungwon mengetikkan username dan password yang ia dapat dari surel dengan semangat. Jantungnya berdegup kencang, tidak sabar melihat seperti apa bentuk soal ujian masuk sekolah menengah atas paling bergengsi di seluruh Orion. Cahaya dari layar komputernya berubah kemerahan, menampilkan desain elegan dengan dominasi warna merah sebelum berganti menjadi barisan-barisan kalimat dengan kolom jawaban di sebelah kanan. Jungwon tertawa kecil sebelum menghela napas.

“Jangan menyerah sebelum mencoba, J. Kau ingin bebas dari sini, kan?”

 


 

Dua minggu telah berlalu pasca hari ulang tahunnya. Jungwon begitu sibuk membantu papanya di rumah kaca mengingat musim semi akan tiba sebentar lagi. Ia bahkan tidak menyadari adanya surel berbintang yang tenggelam di antara surel-surel lainnya. Keluarga Primrose memang memiliki sebuah rumah kaca yang digunakan untuk menanam bunga dan tanaman hias lain. Tidak hanya untuk dijual langsung di toko bunga terdekat, tanaman hias yang dikembangbiakkan di sana juga akan dikirimkan ke tempat-tempat yang jauh.

Suhu udara masih sangat rendah, tetapi bulir-bulir keringat membasahi wajah dan punggung Jungwon. Ia sudah bekerja keras sedari pagi, menjadi satu-satunya orang yang bisa diandalkan sang papa walaupun harus memenuhi rumah kaca dengan aroma pekat dari bunga primrose setiap harinya. Ah, hampir lupa. Jungwon adalah seorang omega.

Mungkin tidak akan ada yang percaya kalau seorang Jungwon Juanne Primrose bukanlah alpha atau beta. Apalagi dengan tubuh yang tidak terlalu besarnya itu, Jungwon sanggup mengerjakan pekerjaan berat sendirian. Pundaknya penuh dengan beban yang terkadang membuat orang-orang prihatin, ditambah dengan fakta bahwa ia hanya tinggal berdua dengan sang papa yang juga seorang omega.

Jungwon tak akan menyalahkan semesta, sungguh. Ia senang bisa lahir dan besar di salah satu kota Kerajaan Dreande. Sejak kecil, tubuhnya selalu mendapat pasokan udara segar dan harum, makanan yang cukup, dan lingkungan yang mendukung. Namun, apa yang terjadi tiga tahun ke belakang adalah sebuah neraka bagi Jungwon. Mengingatnya saja sudah membuat matanya panas.

Tidak. Dia tidak boleh menangis. Setidaknya bukan di rumah kaca yang dilengkapi kamera pengintai ini.

Meletakkan pot terakhir pada tempatnya, Jungwon membersihkan diri sebelum keluar dan mengunci pintu greenhouse. Salju tak lagi turun, membuat orang-orang lebih bebas beraktivitas di luar. Beberapa kali omega berusia 16 tahun itu menyapa tetangganya yang lewat, mengingat jarak rumah dan greenhouse milik keluarganya tidak sampai 200 meter.

Keset kaki yang digantung di pagar beranda adalah hal pertama yang Jungwon temukan. Papanya pasti hampir selesai membersihkan rumah. Sepatu bot dilepaskan sebelum naik tangga menuju pintu depan. Berjalan sambil menenteng sepatu, telinga Jungwon bisa mendengar suara televisi yang cukup keras dari ruang tamu.

“Papa, aku pulang,” salamnya sembari membuka pintu. Jungkook sedang duduk di sofa, menonton siaran dengan khidmat sampai tak membalas salam anak semata wayangnya. Jungwon meletakkan sepatunya di rak, lalu bergegas untuk duduk di samping papanya.

“AH!” Jungkook terlonjak, memukul pelan lengan Jungwon yang sedang tertawa puas. “Jangan mengagetkan Papa begitu, Ju! Bagaimana kalau Papa terkena serangan jantung?”

“Salah sendiri tidak membalas salam Jungwon. Papa nonton apa, sih, sampai lupa sekitar begitu?” protesnya, menarik toples berisikan cemilan ke pangkuannya.

Jungkook memandang aneh ke arah putranya. “Royal High Entrance Lottery? Agenda paling ditunggu anak-anak seusiamu? Bukankah kemarin kamu mengikuti ujiannya, Ju?”

“Oh, maksudnya ujian saat ulang ta–” Jungwon membeku di tempat. Mata kucingnya melebar, tangan buru-buru meraba kantong jaket tempat ponselnya berada. Oh, Tuhan. Sial, sial, sial. Bisa-bisanya dia melupakan acara penting yang mungkin jadi titik balik kehidupannya!

Sementara omega muda itu menggeser layar aplikasi surelnya dengan panik, fokus Jungkook kembali pada tayangan di televisi. Grand Duke Jihoon dari Alderia yang merupakan kepala sekolah Royal High berdiri penuh wibawa di depan kotak undian. Jas hitam yang dipakainya terlihat begitu licin tanpa lekukan. Senyum indahnya mengalahkan kemilau emblem kerajaan dan sekolah di dada, membuat semua yang melihat tiba-tiba jatuh cinta.

Kotak merah besar itu berhenti berputar. Jihoon membuka pintu kecil dan memasukkan tangannya ke dalam. Orang-orang yang menonton seakan ingin pingsan. Gugup dan gelisah menantikan pembacaan nama dari tiga kartu yang ditarik keluar. Salah satu lipatan kertas dibuka. Mikrofon yang ada di leher sang Grand Duke menangkap napas halusnya.

“Dari Kerajaan Sellean,” ucapnya jelas tanpa terbata, “selamat kepada Minjeong Winter Schwarts.”

Baru satu nama, tetapi sorak sorai sudah terdengar dari berbagai arah. Jantung Jungwon ingin lepas dari tempatnya, tak kunjung menemukan surel berbintang yang ia cari. Kenapa banyak surel spam yang masuk ke akunnya hari ini?! Jujur saja, omega itu hampir menyerah. Mungkin dirinya memang tidak lulus ujian, tak ada gunanya mencari surel sampai pusing begini. Namun, bukan Jungwon namanya bila menyerah begitu saja.

Jungkook melihat saudara Raja Alderia itu membuka kertas kedua selagi Jungwon mengulang usaha pencariannya dengan hati yang lebih tenang. Pelan-pelan, batinnya. Keheningan melanda lagi, menunggu sang kepala sekolah mengucap sesuatu.

“Dari Kerajaan Gearadour.” Orang-orang menjadi waspada saat mendengar nama kerajaan yang pernah membuat keributan besar karena masalah internal bertahun-tahun yang lalu. “Selamat kepada Beomgyu Benjamin Carlewood.”

Sudah dua nama. Hanya tersisa satu tempat lagi untuk merasakan kemewahan sekolah bangsawan secara gratis selama tiga tahun ke depan. Hanya tersisa satu kesempatan lagi untuk merasakan kebebasan. Semangat Jungwon menyusut. Sang papa yang merasakan perubahan feromon dari anak kesayangannya itu menepuk punggungnya perlahan. “Tidak apa-apa, Jungwon. Jangan sedih begitu.”

Benar. Seharusnya Jungwon tidak merasakan apa-apa. Peluang untuk masuk ke Royal High lebih mendekati mustahil daripada mungkin. Dia tidak seharusnya bersedih, marah, kecewa, sebagaimana dirinya selalu dilarang untuk mengekspresikan perasaannya. “Kenapa menangis? Yang seharusnya menangis itu Papa! Bukan kamu!”

Sudah lama sekali, tetapi mengapa rasanya masih sangat menyakitkan?

Jungwon menarik napas panjang. “Aku baik-baik saja, Pa. Kemungkinannya memang kecil sekali. Aku bahkan tidak mendapat surel yang menyatakan bahwa aku lulus ujian.”

Jungkook mengintip sedikit ke layar ponsel Jungwon. “Lalu yang berbintang di bawah promosi diskon makanan itu apa?”

“Hah?”

“Ini nama yang terakhir. Mendebarkan sekali, bukan?” Grand Duke Jihoon tersenyum, membuka kertas terakhir dengan cepat. “Dari Kerajaan Dreande ….”

Dua pasang mata itu membesar melihat apa yang ada di dalam surel. Napas keduanya tercekat, saling menatap dengan jantung yang berdebar sebelum salah satunya berteriak. “PAPA, AKU LULUS UJIAN!”

“Jungwon Juanne Aquarii Primrose.”

 

Notes:

bells-of-Ireland ; good luck.

gimana chapter pertamanya? pendek, ya? maaf banget karena masih pembukaan huhu. komen dong reaksi kalian biar aku lebih semangat nulis! jangan lupa kudosnya juga! kalau ada pertanyaan, kritik, dan saran bisa langsung komen juga yaaa~ see you in next chapter untuk ketemu sama pemeran utama kita yang satu lagi! <3

karakter yang muncul di chapter ini :
- Yang Jungwon sebagai Jungwon Juanne Aquarii Primrose
- Jeon Jungkook sebagai Jungkook Timothy Primrose
- Park Jihoon (solois/aktor) sebagai Grand Duke Jihoon Caden Althorne-Wintmore
- Choi Beomgyu sebagai Beomgyu Benjamin Carlewood
- Kim Minjeong (Winter) sebagai Minjeong Winter Schwartz