Work Text:
----
Sasuke memandang sorak-sorak ribuan shinobi disekitarnya. Mereka telah menang. Perang telah berakhir. Semua orang bersuka cita.
Tangan besar bersarung tangan menepuk kepalanya. Sasuke tahu siapa pemilik tangan itu. Hatake Kakashi, mantan Gurunya semasa di tim genin dulu. "Ada apa dengan wajahmu?"
"Debu dan darah."
Sasuke mendengar dengusan dari arah Kakashi namun pandangan sang Uchiha terakhir -kali ini ia yakin bahwa dia adalah Uchiha terakhir dengan meninggalnya Obito dan Madara- hanya terfokus didepannya, dimana ratusan shinobi tengah mengangkat Naruto ke udara.
"Kau tidak bisa memanggil Naruto pecundang lagi. Dia pahlawan sekarang sama sepertimu."
Aku bukan pahlawan, aku adalah penjahat dalam kisah kalian semua. Aku sama buruknya dengan Obito dan Madara. Mungkin itu mengalir dalam genetika klan kami.
"Sasuke-kun." Sakura berdiri di sisi lain Sasuke hingga sang Uchiha diapit oleh Kakashi dan Sakura. "Ayo kita pulang ke rumah."
Ke rumah? Rumah yang mana? Ia tidak pernah memiliki rumah. Otogakure bukan rumahnya, markas Akatsuki juga bukan. Konoha? Apakah Konoha pantas ia sebut rumah? Ketika desa itu yang merenggut seluruh keluarganya. Tidak, Konoha bukan rumahnya.
Ia tidak pernah memiliki rumah, rumah tempat ia pulang, rumah tempat ia berlindung, rumah tempat dimana orang-orang yang ia sayangi berada.
Sasuke tidak memiliki rumah.
Konoha mengambil rumahnya di malam Itachi membantai klan mereka.
Sakura tidak menunggu balasan Sasuke karena ia berjalan kearah Shizune dan Kakashi berjalan kearah beberapa Shinobi, Sasuke mendengar gurunya memberi perintah pada mereka untuk menyegel tubuh Madara.
Sasuke melihat telapak tangannya yang kotor dan penuh luka. Tangan yang membebaskan seluruh dunia dari genjutsu terhebat, mugen tsukuyomi.
Sasuke tahu jika Konoha dan seluruh shinobi tidak akan menerima kehadirannya. Hanya tim 7 yang menerimanya, memaafkannya dan mencintainya. Hanya mereka. Dan Sasuke tidak ingin mereka dikucilkan oleh orang lain hanya karena memiliki keterkaitan dengannya.
Sasuke memejamkan matanya, memfokuskan seluruh cakra terakhirnya pada rinnegannya -Ia berterimakasih pada Sakura karena menyembuhkan beberapa lukanya. Sasuke akan menggunakan rinnegannya untuk berpindah tempat. Ke tempat yang jauh dari orang-orang yang ia kenal.
Ia akan pergi dan ia harap kali ini untuk selamanya. Ia telah menyakiti tim 7 dengan seluruh kejahatan yang ia lakukan terutama semenjak ia bergabung di Akatsuki. Ia tidak ingin menyakiti mereka lebih dalam lagi.
"Selamat tinggal."
Hal terakhir sebelum rinnegan membawanya pergi adalah tatapan khawatir Kakashi, tangisan Sakura dan teriakan Naruto yang memanggil namanya.
"SASUKEE!!!"
---
Di sebuah rumah bordil di pinggir ibu kota, seorang gadis muda berpakaian kimono mewah yang memamerkan bahu putihnya mendekati seorang pemuda rupawan berambut hitam.
"Shiki-kun, seseorang ingin kau menemaninya di kamar nomor 17."
Pemuda bernama Shiki mendongak dari pekerjaannya. Wajah rupawannya yang tidak berekspresi menambah aura dingin pemuda tersebut. Ia lalu mengangguk sekilas dan segera berdiri menuju kamar nomor 17.
Gadis muda yang tadi memberitahu Shiki segera berbicara dengan salah satu rekan kerjanya sesama geisha. "Kenapa Shiki selalu mendapat klien dari kalangan bangsawan? Dia bahkan baru bekerja disini selama tiga bulan."
Geisha yang diajak bicara oleh gadis muda itu hanya tersenyum kecil. "Jika aku memiliki wajah serupawan Shiki-kun, aku juga hanya akan membiarkan para bangsawan yang menyentuhku."
"Amane-chan, kau sudah disini selama dua tahun tapi tarian dan caramu menjamu klien tidak seanggun Shiki-kun. Aku merasa Shiki-kun sendiri datang dari keluarga bangsawan." Celetuk Geisha lain yang ada disana.
Geisha muda bernama Amane itu cemberut. Sebagai perempuan ia merasa harga dirinya hancur karena kalah dari Shiki yang merupakan laki-laki, sebagian kliennya bahkan lebih memilih Shiki ketimbang dia. "Dia tidak mungkin dari keluarga bangsawan, tidakkah kalian ingat saat dia pertamakali datang kemari? Dia benar-benar terlihat seperti gelandangan."
"Gelandangan yang tampan." Ujar Geisha lain yang disambut cekikikan rekannya.
Amane kian cemberut.
---
Seperti yang disebutkan oleh Amane, pelanggan yang meminta untuk ditemani oleh Shiki di kamar nomor 17 adalah seorang bangsawan. Ia merupakan seorang pria berumur sekitar empat puluh tahun namun masih tampak bugar.
"Shiki-san?"
"Hai." Shiki telah duduk di futon, jamuan makan telah disingkirkan karena pelanggan itu ingin segera menikmati hidangan utama yaitu tubuh Shiki.
"Aku dengar dari rekan kerjaku, kau adalah kagema terbaik yang dimiliki rumah bordil ini." Pria itu duduk didepan Shiki, ia dengan kurang ajar mulai melepaskan obi dari kimono yang dikenakan Shiki.
Satu tangan Shiki membelai dagu bangsawan didepannya hingga sang bangsawan menatap wajahnya dan tepat saat mata mereka bertemu, satu iris gelap Shiki berubah menjadi merah dan muncul tiga tomoe disana.
Sang bangsawan tidak memiliki waktu untuk terkejut karena dengan segera ia pingsan.
Shiki dengan tenang mendorong pria didepannya dan meletakannya diatas futon, seolah hal ini telah ia lakukan ratusan kali. Dan ia memang telah melakukannya ratusan kali.
Shiki membenarkan kembali kimononya yang sempat kusut, tiba-tiba terdengar suara puff lembut henge jutsu yang ia gunakan menghilang. Di tempat semula Shiki duduk, muncullah Uchiha Sasuke atau lebih tepatnya Uchiha Sasuke adalah Shiki.
Sasuke berdiri dari duduknya menuju balkon yang ada di kamar tersebut. Ia memandang langit malam yang sunyi tanpa bulan dan bintang. Sasuke juga memadang keramaian dibawahnya, tempat dimana banyak klien menggoda para geisha. Mereka semua adalah warga sipil yang memiliki uang karena rumah bordil ini bisa dikatakan rumah bordil paling mahal yang ada di pinggiran ibu kota. Itu semua berkat Sasuke.
Jika kalian berpikir karena keahlian Sasuke di tempat tidur dalam melayani kliennya maka kalian salah. Hingga hari ini ratusan klien yang mendatanginya tidak pernah ada yang berhasil menyentuhnya sama sekali. Mereka semua hanya berhasil menyentuh kimononya. Itu semua berkat sharingannya. Sebelum kliennya melakukan hal lebih, Sasuke sudah lebih dulu memerangkap mereka dalam genjutsu dan di dunia genjutsu mereka, Sasuke akan mengabulkan seluruh fantasi sex klien mereka. Sehingga saat mereka bangun, mereka mengira telah bercumbu dengannya.
Sasuke mendatangi rumah bordil ini sekitar tiga bulan yang lalu. Ia datang sambil memakai henge dan identitas palsu. Awalnya ia ingin bekerja sebagai penjaga rumah bordil namun saat pemilik rumah bordil membersihkan Sasuke dan melihat wajah tampannya, sang pemilik ingin Sasuke menjadi salah satu pekerjanya, seorang kagema -pelacur muda laki-laki.
Awalnya Sasuke menolak namun sang pemilik ternyata bukan sembarangan warga sipil, Momoi -nama sang pemilik dulunya memiliki kekasih seorang shinobi dan kekasihnya mengajarkan Momoi cara mendeteksi cakra shinobi, ia tahu jika Sasuke adalah seorang shinobi. Karena tidak memiliki pilihan lain, Sasuke akhirnya mengiyakan tapi ia tidak berjanji akan berada disini selamanya dan Momoi setuju. Momoi memiliki firasat jika Sasuke akan membuat rumah bordilnya kembali di masa jayanya dan firasatnya memang tidak salah.
Sasuke bisa saja pergi setelah luka-lukanya sembuh -jutsu perpindahan ruang dan waktu Rinnegannya hampir membunuh Sasuke karena menyerap hampir seluruh cakranya. Namun rencananya segera ia urungkan saat ia menyadari dimana dia berada.
Sasuke tahu ia masih berada di Negara Api tapi ia berada di waktu yang salah. Amat sangat salah karena saat ini ia berada di Periode Waktu Berperang. Dimana Konoha dan empat desa shinobi lainnya belum diciptakan.
Klan Uchiha mungkin menerimanya -mereka akan selalu menerima kehadiran anggota klan mereka namun Sasuke sedang tidak ingin melihat perang lagi. Tidak dalam waktu dekat ini. Maka dari itu setelah ia tahu di waktu mana ia berada, Sasuke segera mencari pemukiman warga sipil.
----
Dua hari kemudian, Sasuke berdiri di sisi barat rumah bordil, dia baru saja menghabisi salah satu pelanggan yang melanggar aturan rumah bordil mereka. Orang-orang yang bekerja di rumah bordil memang bukan orang suci namun mereka memiliki aturan yang telah mereka terapkan dan klien mereka tidak boleh melanggar aturan tersebut.
Disinilah pekerjaan sebenarnya Sasuke dibutuhkan. Dia yang akan menghabisi klien-klien tersebut. Ini juga alasan kenapa para pekerja di rumah bordil sangat menghormatinya bahkan Amane yang tidak menyukai kehadirannya juga tidak dapat burkutik. Menantang Shiki -identitas palsu Sasuke hanya akan merugikannya sendiri.
"Shiki." Wanita dewasa berambut merah muda panjang mendekati Sasuke. "Ganti pakaianmu, kita memiliki klien istimewa malam ini."
Sasuke memandang wanita tinggi berambut merah muda yang tak lain dan tak bukan adalah Momoi, pemilik rumah bordil ini. Saat pertamakali Sasuke melihat wajahnya, ia langsung menebak jika wanita ini salah satu dari leluhur keluarga Sakura. Rambut merah muda serta mata hijaunya mengingatkan Sasuke akan Sakura namun wajah mereka sangat berbeda. Momoi dewasa dan licik sedangkan Sakura manis dan masih naif.
"Daimyo?"
Bukan kali pertama Daimyo datang ke rumah bordil ini tapi biasanya Daimyo akan memanggil mereka ke Istananya dan Sasuke sedikit bersyukur Daimyo hanya menyukai perempuan jadi dia tidak perlu dipanggil ke Istana, ia tahu dari salah satu buku sejarah yang ia temukan di markas Orochimaru jika di Era Periode Berperang, Daimyo suka mengadakan pertemuan dengan Kepala Klan dari Klan Shinobi untuk mendiskusikan sesuatu, bukan perdaiaman tentu saja. Daimyo tidak pernah memedulikan perang antar klan shinobi, asalkan dia tidak mengalami kerugian apapun di perang mereka.
"Bukan."
"Siapa?"
"Pasukan shinobi." Momoi mengeluarkan batu berwarna merah sebesar telapak tangannya. Hanya sekali lihat Sasuke tahu jika itu adalah batu ruby, ruby yang sangat besar.
"Jadi, ada shinobi yang mampu membayar?"
"Ya."
"Mereka bukan Uchiha kan?" Sasuke tidak mengenakan henge dan hanya Momoi yang tahu wajah aslinya namun bahkan wanita itu tidak tahu nama aslinya, hanya saja Momoi bisa menebak dari mana Klan Sasuke berasal. Rambut hitam, mata hitam dan kulit pucat Sasuke sudah menjelaskan semuanya.
"Mereka tidak akan pernah menginjakkan kaki mereka di tempat terkutuk ini."
Sasuke tahu rumor tentang dia sudah mulai beredar —reputasi seorang pemuda yang muncul entah dari mana dan berperan sebagai kagema nomor satu sekaligus penjaga di rumah bordil jelas merupakan hal paling menghebohkan terutama untuk warga sipil dan mungkin beberapa shinobi yang penasaran.
Sayangnya rumah bordil ini melarang shinobi untuk masuk -aturan yang ditetapkan setelah Sasuke bekerja selama satu bulan disini. Momoi setuju namun dia juga bernegosiasi dengan Sasuke, apabila ada shinobi yang membayar sangat mahal -lebih mahal dari Daimyo sendiri, maka Momoi akan mengijinkan mereka masuk. Sasuke mengiyakan karena ia tahu tidak ada shinobi yang akan membayar lebih mahal ketimbang Daimyo.
Terutama tidak Uchiha, mereka tidak pernah mendatangi rumah bordil sama sekali. Bagi Uchiha, rumah bordil adalah tempat penuh dosa -itulah kenapa hanya klan Uchiha yang masih memiliki kuil di kompleks klan mereka, klan lain di Konoha di masa Sasuke tidak memilikinya lagi. Namun ironisnya salah satu dari mereka bekerja disini.
"Kau bisa menolak menemani mereka, Shiki. Tapi kau harus bekerja di dapur selama satu bulan."
Sasuke memberi tatapan tajam pada Momoi. "Itu hanya memberimu semakin banyak keuntungan."
Momoi tertawa. Sebulan yang lalu Sasuke pernah memasak sendiri dan Momoi tanpa sengaja memakan sisa masakan buatan Sasuke di dapur dan setelah itu Momoi selalu merengek pada Sasuke untuk memasakkan sesuatu untuknya namun selalu ditolak oleh sang Uchiha.
"Jadi kau akan menemani mereka?"
"Hn."
"Yakin?"
"Aku bisa menjaga diriku sendiri, Wanita Tua."
Tawa Momoi kian keras. Dia memang sudah berumur empat puluh tahun namun masih terlihat cantik. "Kalau begitu, masuklah lewat pintu belakang. Pasukannya sedang ditemani oleh Amane dan yang lainnya. Aku sudah memberitahu Pemimpin mereka untuk ke kamar paling atas."
Kamar paling atas adalah kamar paling mahal yang dimiliki rumah bordil ini. Selama ini hanya Daimyo yang mampu memesan kamar tersebut. Tapi melihat sebesar apa batu ruby ditangan Momoi membuat Sasuke tidak terkejut.
---
Sasuke mengenakan kimono terbaik yang ia miliki sebelum mengaktifkan hengenya. Kali ia ia juga menekan cakranya ke titik terendah -Sasuke mempelajari cara menekan cakra dari salah satu gulungan milik Orochimaru, sang Sanin ular mendapatkannya dari reruntuhan Uzushiogakure. Sasuke sedikit khawatir jika klan shinobi yang menjadi tamu istimewa ini adalah klan shinobi yang ia ketahui di masa depan.
"Kau tahu, pemimpin pasukan ini adalah salah satu pria paling tampan yang pernah aku lihat dan aku melihat ribuan pria seumur hidupku." Ujar Momoi yang mengantar Sasuke ke kamar paling mahal yang dimiliki rumah bordilnya.
"Lebih tampan dariku?"
Momoi tersenyum, sebagai satu-satunya orang yang melihat Sasuke tanpa henge, dia merasa istimewa. "Tidak ada yang lebih tampan darimu, Shiki. Sayang sekali ia tidak bisa melihat rupa aslimu. Padahal ia telah membayar sangat mahal hanya untuk satu malam."
Henge yang dikenakan Sasuke memiliki struktur khas Uchiha, rambut hitam, mata hitam dan kulit pucat namun wajahnya bukanlah milik dirinya. Sasuke memakai wajah salah satu penduduk sipil yang pernah ia lihat sekilas ketika ia masih berada di bawah sayap Orochimaru. Karena ke khas an yang ia miliki, ia pikir rumor tentang dirinya sudah masuk telinga Uchiha namun klannya tampaknya mengabaikannya, mereka tampaknya tidak mau repot-repot mengunjungi salah satu kerabat mereka yang bekerja di rumah bordil.
"Seperti apa tampangnya?"
"Dia sangat tampan, tinggi dan memiliki bahu lebar. Tidak sepertimu."
Sasuke mendengus. Kebanyakan Uchiha memiliki tubuh ramping dan tinggi badan rata-rata namun bukan berarti tidak ada di klan mereka yang memiliki bahu lebar dan tinggi badan diatas 180 cm. Ayah Sasuke dan mendiang sepupunya, Shisui adalah sedikit dari orang-orang itu. Shishui bahkan baru berusia 16 tahun saat ia meninggal tapi dia sudah sangat tinggi. Umur Sasuke sendiri sudah hampir 18 tahun dan tingginya masih dibawah 180 cm begitu juga Itachi saat ia meninggal. Sepertinya genetika Ibu mereka lebih memberi pengaruh pada fisik mereka berdua ketimbang Ayah mereka.
Di lubuk hatinya paling dalam Sasuke berharap Pemimpin Pasukan Shinobi ini adalah Madara -walaupun seperti yang diucapkan Momoi dan sepengetahuan Sasuke sendiri jika klan Uchiha tidak akan pernah mau menginjakkan kaki mereka disini dan jika pria itu adalah Madara, setidaknya Sasuke akan menyerahkan diri untuk dibawa ke wilayah klan Uchiha. Asalkan ia tidak ikut perang mereka dengan Senju.
Setelah dua bulan berada di era periode berperang, Sasuke merasa dia sudah siap untuk bertemu salah satu anggota klannya. Tidak masalah apakah itu Uchiha yang dia kenal atau tidak. Keluarga adalah keluarga, bahkan jika dia hampir tidak ingat seperti apa klannya sendiri.
Momoi meninggalkannya setelah mereka sampai di depan kamar tempat klien istimewa itu berada, Sasuke sendiri tidak pernah berada di kamar ini karena hanya Daimyo yang mampu membayar kamar ini dan Daimyo selalu meminta geisha untuk menemaninya.
Sasuke manarik nafas panjang dan mengeluarkan. Sudah sangat lama sejak ia melihat shinobi di era ini. Semoga saja pemimpin pasukan ini bukan dari klan Hyuuga, Sasuke tidak suka harus bertarung dojutsu dengan mereka apalagi menambah konflik untuk klannya di masa ini.
Kau bisa melakukan ini, Sasuke. Tatap matanya, genjutsu dia dan pergi. Kau sudah melakukannya ratusan kali. Tidak ada yang membuatku takut lagi.
Dia hanya shinobi, mungkin salah satu shinobi lemah. Tidak banyak shinobi di era periode berperang yang reputasinya sekuat Madara dan Hokage Pertama. Jika ada, Sasuke pasti tahu.
Kumohon semoga pria ini Madara. Aku akan dengan sukarela pergi dengannya. Segila apapun pria itu, dia tetap salah satu keluarganya. Sial, mereka bahkan berbagi jiwa yang sama. Jiwa Indra Otsutsuki.
Namun doa Sasuke tidak terkabul, karena saat ia membuka pintu dan melihat Senju Tobirama, semua yang dia persiapkan menghilang dalam sekejap mata.
Pria itu sedang mencoba menyalakan kembali salah satu lilin beraroma yang pasti telah padam.
Sharingan Sasuke aktif tanpa peringatan, karena Tobirama adalah sosok yang memulai ketidakpercayaan Konoha pada klan Uchiha, awal dari isolasi mereka dari sisa desa. Kebencian Sasuke berkobar tanpa peringatan.
Sharingannya memudar sesaat kemudian sebelum Tobirama dapat melihat ke atas dan menyadari kehadirannya, tetapi kemarahan itu masih ada. Rinnegannya sendiri ia tutupi dengan penutup mata. Sasuke sekali lagi menarik napas dalam-dalam -kali ini lebih halus, ia mencoba menyingkirkan kebencian lama yang sudah dikenalnya yang dia pikir sudah hilang dari pikirannya.
Senju Tobirama adalah orang terakhir yang ingin dilihat Sasuke, dan jelas, tidak mempertimbangkannya sama sekali adalah kesalahan besar Sasuke. Tentu saja ada satu orang di periode ini yang memiliki reputasi sehebat Hashirama dan Madara. Dan orang itu ada didepannya.
Sasuke menutup pintu dan Tobirama mendongak. Dia mengangkat alis ketika dia melihat Sasuke. “Aku meminta Momoi-san untuk melihat penjaga rumah bordil ini."
"Anda sedang melihatnya, Senju-donno." jawab Sasuke seraya berjalan ke arahnya dengan nampan teh di tangannya. Ia mencoba menenangkan emosi negatif yang menggelegak dalam dirinya.
Tobirama bergumam sambil berpikir, membiarkan Sasuke menuangkan secangkir teh untuknya. Sasuke mengawasinya saat dia minum dalam diam, kaki terlipat dan tangan dengan hati-hati diletakkan di pangkuannya. Dia sekali lagi menarik napas terukur lagi, berharap Tobirama tidak menyadarinya.
Tobirama tidak mengenakan baju besi berwarna birunya yang Sasuke tahu selama Perang Shinobi Keempat. Pria itu hanya memakai pakaian serba hitam yang Sasuke yakini adalah pakaian standar shinobi seperti yang dikenakan Kakashi hanya saja gayanya lebih kuno.
"Kemarilah." Ujar sang Hokage kedua masa depan seraya menepuk lantai di sampingnya, Sasuke langsung tahu apa yang diinginkannya.
Manik Sasuke melirik pada dinding kertas di sisi ruangan, yang menyembunyikan tanto yang dia tinggalkan di sana untuk keadaan darurat -dia meletakan senjata di berbagai kamar di rumah bordil.
Sasuke menatap Tobirama. Pria albino ini pembenci Uchiha, akar dari kecurigaan desa, kematian klannya.
Tangan Tobirama memulai membuka kimononya, sang Senju bahkan membisikan sesuatu di leher Sasuke. Sasuke tidak mendengarkan.
Sasuke bisa membalas dendamnya sekarang, mengamankan kelangsungan hidup klannya dengan menghilangkan penyebab pertama kecurigaan semua orang—karena Tobirama-lah yang memberi Uchiha tugas menjadi kepolisian saat Konoha didirikan, sebuah cara untuk memberi mereka citra kekuatan sambil menempatkan mereka di bawah pengawasan ketatnya.
Sasuke hanya harus menemukan waktu yang tepat untuk itu.
Ada adrenalin yang baru ditemukan di nadinya saat memikirkannya, tapi dia bisa menunggu. Saat ini, dia mungkin juga memberikan pria itu apa yang dia inginkan.
Sasuke tidak bisa menggunakan sharingannya untuk menghipnotis Tobirama seperti yang ia lakukan pada klien-kliennya sebelumnya. Pria ini mengembangkan banyak jutsu untuk dapat menghindari Uchiha. Suitonnya memadankan Katon, Kecepatan Hiraishinnya mengalahkan kekuatan mata sharingan.
Ironis, keperjakaanku diambil oleh musuh utama klanku sendiri. Aku bersyukur Ayah sudah lama meninggal, seandainya dia tahu, dia akan membunuhku di tempat. Niisan bahkan tidak akan mampu membelaku.
Sasuke membiarkan dirinya jatuh ke futon besar saat Tobirama membaringkannya, Sasuke mencoba memfokuskan dirinya pada kelembutan futon dibawahnya bukan pada pria tinggi besar yang tengah menjilati nipplenya. Namun sefokus apapun Sasuke, segalanya runtuh saat jemari kasar Tobirama mendorong pintu masuknya.
"Kau masih perjaka?" Mata merah Tobirama menatap serius Sasuke.
"Aku hanya melayani perempuan, Senju-donno." Bohong, bahkan klien perempuan Sasuke selama disini juga tidak pernah menyentuhnya.
"Kau harusnya mengatakan padaku dari awal."
Entah kenapa ke ironisan tidak hanya terjadi pada Sasuke tapi Tobirama juga. Seandainya sang Senju tahu jika ia tengah menyetubuhi seorang Uchiha, klan yang sangat ia benci, dipastikan dia akan sangat terkejut.
---
Tobirama dan pasukannya pergi saat tengah malam. Ketika mereka pergi, para pekerja menatap mereka lewat jendela. Sudah sangat lama sejak terakhir kali mereka melayani seorang shinobi.
Sasuke tidak peduli, dia memilih untuk tinggal di dalam bersama Momoi, duduk di papan lantai dan menatap taman belakang yang mereka miliki di rumah bordil, taman tersebut cukup luas dan diterangi dengan lentera yang tersebar.
Sasuke sedikit meringis saat ia menggerakkan tubuhnya. Tobirama menyetubuhinya tiga ronde tanpa henti dan bagi seseorang yang belum pernah melakukan sex, Sasuke sangat kewalahan.
"Apakah dia mengatakan sesuatu?" Momoi bertanya.
"Tidak." Jawab Sasuke atau sebenarnya ia tidak mendengarkan karena tubuhnya terlalu sensitif akan sentuhan Tobirama. Pria itu pasti memiliki banyak pengalaman.
"Lalu mengapa kau gelisah?"
Karena Sasuke belum melakukannya. Dia belum membunuh Tobirama. Hal yang seharusnya ia lakukan namun Sasuke malah pingsan dan ketika ia bangun Tobirama tengah tertidur sambil memeluk pinggangnya. Keduanya sama-sama masih telanjang. Harusnya itu waktu yang tepat untuk Sasuke membunuh sang Senju namun Sasuke malah memejamkan matanya lagi.
Sasuke tidak tahu mengapa dia tidak melakukannya. Sesuatu terasa aneh namun pelukan erat Tobirama dipinggangnya dan telinga Sasuke yang menempel di dada Tobirama hingga ia dapat mendengar detak jantung sosok yang lebih tua darinya memberi kenyamanan tersendiri untuknya.
Sasuke tidak menjawab pertanyaan Momoi, ia malah balik bertanya. "Apakah dia mengatakan sesuatu padamu?"
Momoi tersenyum. "Dia bilang dia akan kembali."
Sasuke menatap kembali ke taman, memikirkan Tobirama yang telah mencium bibirnya sebelum pergi, seolah pria paling jenius yang dimiliki dunia shinobi tidak curiga sama sekali.
---
Kedua kalinya Tobirama datang, terjadi satu bulan kemudian, kedatangannya hampir sama persis dengan yang pertama kali. Sasuke menyajikan teh, Tobirama melepaskan pakaian mereka berdua dan membaringkan Sasuke.
Satu lagi sex tiga ronde yang mereka lakukan, kali ini Sasuke tidak jatuh pingsan, ia berpura-pura tidur -nafas dan detak jantungnya ia tenangkan. Setengah jam kemudian ketika dirasa Tobirama telah tertidur pulas, Sasuke bangun, ia menutupi sosok lain yang sedang tidur dengan selimut dan mengenakan kembali kimononya.
Sasuke menggunakan cakra iryo ninjutsu -yang diajarkan Karin, untuk menyembuhkan lubang pantatnya yang dihajar habis-habisan oleh Tobirama. Tobirama selalu memulai persetubuhan mereka dengan lembut namun di tengah permainan sang Senju akan berubah menjadi binatang buas.
Selesai dengan iryo ninjutsunya, Sasuke memandang Tobirama. Ia bisa membunuhnya sekarang. Ini adalah kesempatan kedua untuk melakukannya. Ia telah memindahkan tanto di bawah futon saat Momoi mengatakan Tobirama akan datang kembali. Tobirama sedang tertidur lelap sehingga dia bahkan mungkin tidak akan bangun sampai bilahnya sudah menembus setengah perutnya.
Tapi dia melihat wajah damai Tobirama dan merasakan tekadnya goyah sekali lagi. Mereka hampir tidak berbicara dalam dua kali mereka bertemu, tetapi ada sesuatu yang aneh dengan cara Tobirama bertindak di sekitar Sasuke yang bahkan dia sadari dengan sangat baik, dengan cara dia memandangnya, menyentuhnya, dan tersenyum. Bahkan selama Perang Shinobi, Tobirama hanya tersenyum pada Naruto.
Wajah Itachi muncul dibenak Sasuke. Kakaknya, sosok yang paling ia sayangi di dunia telah berkorban banyak untuk desa. Desa yang bahkan tidak mengetahui jasanya.
Membunuh Tobirama pasti akan mengubah masa depan, dia menyadarinya. Konoha bahkan mungkin tidak ditemukan, terutama karena ada kemungkinan besar mereka akan mengetahui bahwa pembunuhnya adalah seorang Uchiha.
"Ahh!" Teriakan Amane dari luar membuyarkan dilema Sasuke. Sang Uchiha dengan segara keluar lewat balkon kamar.
Sasuke dengan segera menemukan Amane, gadis muda itu tampak berantakan, kimononya robek dan ada bekas cekikan di leher putihnya. "Siapa yang melakukannya?"
"Jiro. Dia pergi kearah sana." Amane menunjuk kearah hutan dan dalam sekejap mata Sasuke menghilang, mencari sosok bernama Jiro itu.
Hanya butuh sepuluh menit untuk Sasuke menemukan pria itu dan menghabisinya. Jiro ternyata bukan warga sipil biasa, dia dulunya salah satu pengawal pribadi Daimyo namun dikeluarkan karena mencuri. Saat melawannya Sasuke harus mengaktifkan sharingan serta menggunakan katonnya.
Selesai menghabisi Jira, Sasuke menggendong Amane dan membawanya kembali ke rumah bordil. Amane menggumamkan terimakasih sambil menangis. Gadis muda itu jelas ketakutan.
Pekerja di rumag bordil segera menghampiri Sasuke dan Amane. Mereka segera mengobati luka di leher Amane -Sasuke menolak mereka menyembuhkan luka-lukanya. Iryo ninjutsunya lebih dari cukup walaupun Sasuke kesal karena Jiro berhasil merusak kimono yang ia kenakan. Ini salah satu kimono favoritnya.
"Kau harus mengganti pakaianmu." Ujar Momoi.
Sasuke mengangguk.
---
Sasuke hampir menjerit saat ia membuka kamar dan Tobirama sudah bangun. Pria Senju itu bahkan tengah memegang tantonya.
"Anda sudah bangun, Senju-donno."
"Hm." Mata merah Tobirama yang menatap tanto di tangannya akhirnya melihat Sasuke. Ia mengangkat satu alisnya melihat kimono yang dikenakan Sasuke. "Ada apa dengan kimonomu yang tadi?"
"Seseorang menyakiti salah satu geisha. Jadi aku menghabisinya. Dia lawan yang cukup kuat dan berhasil merusak kimonoku."
"Sayang sekali." Mata Tobirama seakan menelanjangi Sasuke. "Itu salah satu kimono yang cukup bagus."
"Ya, harganya juga cukup mahal. Bahannya sangat lembut dan hanya ditemukan di pusat Ibu Kota."
"Aku akan membelikannya jika ke Ibu Kota." Ucapan Tobirama membuat Sasuke terkejut. "Tanto ini, aku menemukannya di bawah futon."
"Ya, itu salah satu senjataku. Aku menyimpan senjata di beberapa kamar disini. Seperti yang anda tahu, aku penjaga tempat ini, tugasku adalah menjaga para pekerja disini dari klien yang tidak bertanggungjawab, salah satunya yang aku lawan tadi." Sasuke berbohong dengan mulus.
"Tapi kau melawannya tanpa membawa senajata."
"Ya, teriakan Amane-san membuatku panik jadi aku segera pergi tanpa membawa senjata."
Tobirama mengangguk. Ia meletakan tanto Sasuke diatas meja. Momoi membelikannya Tanto beberapa minggu setelah Sasuke bekerja disini.
"Aku melihat pertarunganmu, itu sangat mengagumkan, dimana kau mempelajarinya?"
Nafas Sasuke tercekat. Tobirama melihat pertarungannya dengan Jiro, padahal ia bertarung dengan pria itu di dalam hutan. "Seorang mantan shinobi mengajariku saat aku masih sangat muda. Dia meninggal lima tahun yang lalu."
Sasuke tahu Tobirama tidak mempercayainya namun sosok albino itu tidak mengatakan apapun. Dia malah menarik dagu Sasuke, memberikan ciuman yang cukup intens selama hampir sepuluh menit -Sasuke memiliki keinginan untuk menusuk tanto itu tepat di jantung Tobirama tapi anehnya dia tidak melakukannya.
Tobirama melepaskan ciuman mereka, ia menatap wajah Sasuke cukup lama sebelum akhirnya berjalan pergi.
Entah kenapa rasanya dada Sasuke yang telah ditusuk tanto.
Tobirama meninggalkannya.
---
Seminggu kemudian, Tobirama mengirimi Sasuke kimono hitam dengan bordiran bunga emas yang indah. Amane sekali lagi mengeluh kenapa Sasuke selalu mendapatkan klien terbaik namun dia tidak mengatakannya dengan nada cemburu seperti dulu lagi dan Sasuke sendiri tidak bisa menahan senyumannya.
---
Pekerjaan Sasuke sebagai penjaga sekaligus Kagema di rumah bordil ini harus terhenti ketika ia merasakan kehadiran cakra besar yang berdiri didepan tempat kerjanya. Tanpa perlu melihat Sasuke sudah tahu siapa orang tersebut.
Uchiha Madara.
Sasuke keluar melalui pintu depan. Tidak perlu harus kabur karena inilah yang ia tunggu sejak beberapa bulan yang lalu. "Butuh waktu yang sangat lama hingga akhirnya kau menemukanku."
"Aku menolak untuk percaya bahwa ada salah satu anggota klan ku bekerja di tempat ini." Ujar Madara sambil cemberut. Rumor mengenai seorang penjaga rumah bordil yang memiliki kemiripan dengan anggota klan Uchiha telah ia dengar sejak dua bulan yang lalu namun Madara menepisnya karena ia tahu sejak era Kakeknya, rumah bordil adalah tempat terlarang untuk klannya. "Dan aku pikir aku harus menghajarmu terlebih dahulu agar kau mau ikut denganku."
"Percayalah, satu kali ditusuk olehmu sudah membuatku menemui leluhur kami." Sasuke bisa saja menggunakan rinnegannya untuk melawan Madara namun ia urungkan. Ia tidak mau membuang-buang waktu dan cakranya.
Madara menyipitkan matanya. Menatap wajah Sasuke yang mirip dengan Izuna. Sasuke tidak memakai henge sejak ia keluar dari pintu. "Aku bahkan baru pertamakali melihatmu."
"Hn."
"Siapa namamu?"
"Uchiha Sasuke."
"Sasuke, ayo kita pulang sekarang."
Ucapan Madara mengingatkan Sasuke akan kalimat yang dilontarkan oleh Sakura di akhir perang. Sudah hampir setengah tahun yang lalu.
Di masa depan yang telah menjadi masa lalunya, Sasuke dengan penuh keyakinan tahu bahwa dirinya tidak memiliki rumah disana. Rumah tempat ia pulang, rumah tempat ia berlindung, rumah tempat dimana orang-orang yang ia sayangi berada. Konoha telah mengambil rumahnya di malam Itachi membantai klannya.
Sasuke membalikkan badannya, ia telah pamit pada Momoi dan seluruh pekerja disana ketika merasakan cakra Madara dari jarak jauh. Tahu bahwa waktunya telah selesai bekerja disini.
Apakah rumah bordil ini telah berubah menjadi rumahnya? Tidak. Ini juga bukan rumahnya. Ini hanya tempat ia singgah.
Sasuke menatap tepat pada Madara. Mungkin rumahnya telah menunggunya bersama pria ini. "Pimpin jalannya."
---
"Dia akan baik-baik saja, kan?" Amane bertanya dengan khawatir. Ia memang tidak menyukai kehadiran Shiki karena mengambil hampir seluruh kliennya namun lelaki itu telah menyelamatkan hidupnya.
"Dia akan baik-baik saja." Ujar Momoi sambil mengelus rambut Amane
“Aku lebih kasihan pada Senju-donno." Ujar seorang Geisha lain. "Aku yakin dia akan hancur begitu dia kembali dan mengetahui bahwa kagema kesayangannya telah pergi untuk selamanya."
“Aku ragu dia akan kembali ke sini,” kata Momoi kepada mereka. "Dia mungkin sudah tahu. Aku tahu dari sorot matanya bahwa dia adalah pria yang cerdas. Ketika dia melihat Shiki, sepertinya dia tahu lebih banyak tentang Shiki ketimbang Shiki sendiri.”
"Bagaimana kau tahu itu, Momoi-san?"
Momoi mengangkat bahu. “Aku telah melihat hampir ribuan pria selama aku hidup. Aku tahu kapan mereka jatuh cinta."
---
Sasuke telah berada di pemukiman klan Uchiha selama satu minggu, Madara telah membawanya menghadap Tetua klan di hari ketiga Sasuke berada disini. Ia dan Madara telah mendiskusikan identitas Sasuke -Sasuke menolak memberitahu Madara bahwa dia berasal dari masa depan. Madara tidak mendesak -hal yang mengejutkan Sasuke karena ia pikir Madara sangat keras kepala.
Para Tetua awalnya tidak menyukai fakta bahwa Sasuke pernah bekerja sebagai Kagema namun ketidaksukaan mereka mereda ketika Sasuke mengatakan bahwa dia selalu menggenjutsu klien-kliennya. Tidak ada satu pun dari mereka yang menyentuhnya terkecuali Senju Tobirama namun Sasuke tidak perlu mengatakannya atau para Tetua akan meninggal seketika karena serangan jantung jika mendengarnya.
Sasuke tengah berlatih di halaman belakang ketika ia merasakan cakra yang mirip dengan Madara namun tidak sebergejolak sang Kepala Klan. Ia pun membalikkan badannya dan terdiam seketika melihat siapa yang ada disana.
Uchiha Izuna.
"Jadi kau belum mati?"
Izuna merengut. "Aku hanya dikirim ke misi penyamaran, misi semudah ini tidak akan membunuhku."
Bukan itu yang dimaksud Sasuke namun ia tidak mengoreksinya.
"Jadi, kau yang dibicarakan Aniki, yah?"
"Hn."
"Siapa namamu?"
"Sasuke."
"Seperti nama Kepala Klan Sarutobi yang baru."
Ibunya pernah mengatakan pada Sasuke jika Ayahnya memang memberinya nama seperti nama Ayah dari Hokage Ketiga.
"Hn."
"Kau benar-benar seorang Uchiha." Izuna tertawa kecil. "Ngomong-ngomong kenapa dengan matamu?"
"Terluka."
Sasuke menyentuh mata rinnegannya yang ditutupi penutup mata. Sasuke telah menggunakan segel pelindung cakra pada penutup matanya hingga sensor sekaliber Tobirama dan Madara tidak dapat merasakan rinnegannya. Terkadang Sasuke bersyukur ia pernah menjadi murid Orochimaru, Sannin ular memiliki banyak gulungan mengenai jutsu yang bermanfaat. Tentunya gulungan itu ia curi dari Konoha atau Uzushiogakure.
---
Hari ini tepat satu bulan Sasuke berada di pemukiman klan Uchiha. Ia tengah menemani Kagami berlatih di pagi hari ketika mual menderanya. Kagami adalah keponakan Hikaku namun bocah itu dilatih secara pribadi oleh Madara. Sasuke hampir terkena serangan jantung saat melihat Kagami. Shisui jelas mendapatkan ikal, bulu mata lentik dan mata besar dari Kakeknya.
"Sasuke-san, apa kau baik-baik saja?" Tanya Kagami khawatir. Ia mengejar Sasuke ke kamar mandi. Pada awalnya Kagami memanggil Sasuke dengan imbuhan sama karena bocah itu mengira Sasuke adalah kembaran Izuna namun Madara menjelaskan jika Sasuke dan Izuna tidak kembar walaupun wajah mereka memang hampir mirip.
"Aku baik-baik saja." Sasuke mengernyit jijik melihat cairan empedunya sendiri.
Apa seseorang mencoba meracunnya?
Jelas tidak mungkin, Orochimaru telah bereksperimen dengan tubuhnya hingga Sasuke kebal terhadap segala jenis racun.
"Apa kau ingin melihat Hikari-hime?" Hikari adalah Nenek Madara dan Izuna dari pihak Ibu, dia salah satu Tetua Klan sekaligus salah satu ninja medis terhebat yang dimiliki klan Uchiha. Walaupun tentu saja levelnya sangat jauh dari Hashirama.
"Tidak perlu." Sasuke menepuk kepala Kagami. Kagami adalah murid Madara dan tidak pernah mau dilatih oleh siapapun selain Madara. Hanya saja sejak kemarin Madara dan sebagian besar pria Uchiha tengah pergi ke medan perang melawan Senju.
Tetua telah mencoba mengikutsertakan Sasuke untuk berperang namun Sasuke menolak. Ia dan Madara telah melakukan kesepakatan bahwa Sasuke tidak akan pernah ikut dalam perang klan tapi sebagai imbalannya Sasuke harus melatih anak-anak dalam taijutsu dan ninjutsu serta beberapa kunoichi klan Uchiha dalam pelatihan iryo ninjutsu.
Seminggu kemudian, mual Sasuke kian parah. Bukan hanya mual namun pusing dan sakit kepala serta kelelahan ektrim yang ia rasakan membuat moodnya naik turun.
"Darimana kau mendapatkan itu?" Tanya Sasuke pada Izuna yang tengah menyantap dango.
"Dari dapur."
Sasuke tanpa banyak kata segera berdiri dan menuju dapur. Hal itu membuat Izuna memadang kakaknya yang juga tengah menatapnya.
Lima menit kemudian, Sasuke kembali dengan membawa sepuluh tusuk dango yang dilumuri gula yang memenuhi piring. Madara menahan diri untuk tidak muntah melihatnya.
Sasuke menggigit satu tusuk dango dan mengerang nikmat.
"Sejak kapan kau suka makanan manis?" Madara tidak lagi fokus pada gulungan yang ia baca.
"Sejak saat ini." Sasuke tahu jika ia dan Madara tidak menyukai makanan manis -mungkin karena mereka sama-sama inkarnasi dari Indra, Sasuke bertaruh jika leluhurnya juga tidak menyukai sesuatu yang manis. Namun entah kenapa saat melihat Izuna makan dango, Sasuke juga sangat menginginkannya. Sekarang Sasuke tahu kenapa Kakaknya sangat suka dango. Ternyata dango tidak seburuk itu. "Aku ingin makan ikan."
"Minta Mori membuatkannya." Ujar Madara. Mori adalah penanggungjawab dapur rumah kepala klan. Wanita itu seumuran dengan mendiang Tajima.
"Tapi aku ingin ikan koi yang ada di kolam belakang."
Wajah Izuna memujat sedangkan wajah Madara memerah menahan amarah. Ikan koi yang ada di kolam belakang adalah milik sang Kepala Klan.
"Kau menyentuhnya, aku akan melukai matamu yang lain."
Sasuke cemberut. "Kalau begitu tangkapkan ikan di sungai."
"Di dapur masih memiliki stok ikan."
"Aku ingin ikan yang masih segar." Manik hitam Sasuke menatap tepat pada mata Madara. "Kalau bisa ikan salmon."
---
Disisi lain, di kediaman kepala klan Senju. Hashirama tengah menatap adiknya yang baru saja meletakkan dua puluh ikan salmon hasil tangkapannya dihadapan Hashirama.
"Untuk apa ikan salmon ini, Tobirama?"
Tobirama juga menatap ikan salmon tangkapannya. Ia telah memancing sejak sebelum fajar hingga siang hari. "Untukmu."
Hashirama segera menangis terharu dan memeluk erat adiknya.
---
Keanehan Sasuke tidak berhenti disana, sehari setelah ia mendapatkan ikan salmonnya, Sasuke melempar Kagami ke kolam ikan koi milik Madara.
"Apa yang terjadi?!" Madara mengamuk melihat murid satu-satunya basah kuyup, ia bahkan bisa melihat dua ikan koinya masuk kedalam baju Kagami.
"Sasuke-san melemparku."
"Dan kenapa dia melakukan itu?"
"Dia bilang aku bau. Aku lalu pergi untuk mandi tapi dia masih bilang aku bau, aku mandi lagi tapi dia semakin marah lalu melemparku."
Kesabaran Madara benar-benar habis. Ia akhirnya mencari Sasuke, menyeretnya dan membawanya ke Neneknya.
---
"Kau hamil."
Sasuke terdiam.
"Kau bilang kau tidak membiarkan satupun klienmu menyentuhmu." Ujar Madara, dia menolak saat Neneknya menyuruhnya pergi ketika dia memeriksa Sasuke. Madara mengatakan sebagai Kepala Klan dia harus tahu apa yang terjadi pada anggota klannya.
"Hanya ada satu orang yang menyentuhku." Sasuke berkata sambil melamun. Kepalanya kosong tiba-tiba. "Tapi itu tidak menjelaskan bagaimana aku bisa hamil. Aku laki-laki, laki-laki tidak bisa hamil."
Hikari dan Madara saling melirik. Mereka jelas bingung akan ucapan Sasuke.
"Sasuke, apa kau tahu jika seluruh laki-laki yang memiliki darah Uchiha bisa hamil?"
"Apa?"
"Kau tidak tahu?"
"Bagaimana aku bisa tahu? Laki-laki tidak mungkin bisa hamil." Tidak ada satupun informasi mengenai hal ini dalam sejarah klannya.
"Seseorang yang memiliki darah Uchiha bisa melakukannya, Sasuke. Itu adalah Berkah yang diberikan langsung oleh Amaterasu pada kami. Orangtua Hikaku dan Kagami salah satunya."
Selama ini Sasuke mengira dia berada di masa lalu tapi perkiraannya salah, ia tidak berada di masa lalu melainkan dimensi lain. Dunia paralel.
Sasuke mungkin dapat merubahnya. Dia tidak akan membuat dimensi ini berakhir seperti miliknya. Ia akan memastikan tidak ada Perang Dunia Shinobi Keempat, pun perang sebelum-sebelumnya. Dunia yang damai, dunia tanpa perang, dunia tanpa klannya harus dibantai.
Sasuke akan memastikan dunia itu akan tercapai.
"Sekarang, katakan padaku. Siapa satu-satunya orang yang menyentuhmu itu." Madara berkata serius.
"Kau tidak akan menyukai jawabanku."
"Apa dia seorang shinobi?"
"Ya."
"Sosok yang lebih kuat darimu hingga kau tidak bisa menggenjutsunya?" Madara telah memiliki teori.
"Hn."
"Apa dia memaksamu?"
"Aku membiarkannya melakukannya." Sasuke mengingat ciuman kedua sekaligus terakhir yang Tobirama berikan padanya.
"Katakan pada siapa dia."
"Senju Tobirama."
---
Tobirama dan Hashirama baru kembali dari kediaman sepupu mereka, Senju Tori, kakak dari Senju Touka. Istri Tori baru saja melahirkan seorang anak laki-laki dan sebagai Kepala Klan serta Wakilnya, keduanya harus berada disana.
Tobirama mendengarkan Kakaknya yang tampak bersemangat membicarakan kelucuan anak Tori.
"Kau tampaknya sangat menginginkan seorang anak, Anija."
Hashirama tertawa lebar. "Siapa yang tidak menginginkan seorang anak, Tobirama? Mereka sangat lucu, manis dan menggemaskan."
Tobirama menyesap teh yang dibuatkan kakaknya. "Lalu kenapa kau menolak perjodohan dengan Mito-hime beberapa tahun yang lalu? Seandainya kau menikah dengannya. Aku yakin kau sudah memiliki anak sekarang."
"Aku tidak ingin menikah dengan sosok yang tidak aku cintai." Tawa Hashirama segera hilang. Ada jejak kesedihan disana. Bukan karena Mito tapi sosok lain yang telah memiliki hati kakaknya. "Kau tahu hanya ada Madara di hatiku, kan?"
"Aku tahu, Anija." Terkadang Tobirama menyesal telah memutuskan ikatan persahabatan Kakaknya dan Madara. Seandainya mereka masih berteman, mungkin mimpi Kakaknya menciptakan kedamaian akan tercipta sejak lama. "Lalu kenapa kau tidak melamar Madara?"
Pertanyaan itu ada di kepala Tobirama sejak mengetahui Kakaknya jatuh cinta pada Madara setelah sang Uchiha hampir menggorok leher Hashirama di perang Senju vs Uchiha tujuh tahun yang lalu, untungnya Tobirama menyelamatkannya tapi dia tidak bisa menyelamatkan Kakaknya dari amukan Butsuma.
Mungkin dengan pernikahan kedua kepala klan, aliansi antara Senju dan Uchiha akan terlaksana. Tobirama memiliki firasat jika Madara juga menyukai Kakakanya karena Madara selalu marah jika Hashirama melawan anggota klan Uchiha lain. Entah takut anggota klannya tidak akan sanggup melawan Hashirama atau cemburu Hashirama memerhatikan orang lain. Tebakan Tobirama ada pada yang kedua.
"Para Tetua tidak setuju dan kau tahu jika beberapa petinggi klan masih memiliki paham balas dendam yang dianut Butsuma."
Tidak seperti Madara yang sudah menjadi Kepala Klan Uchiha sejak lima tahun yang lalu, Hashirama baru menjadi Kepala Klan Senju selama dua tahun. Para Tetua dan petinggi klan masih meremehkannya dan menutup telinga akan saran Hashirama untuk berdamai.
"Setidaknya kau harus mengutarakan perasaanmu pada Madara secepatnya, Anija. Sebelum terlambat." Tobirama tidak ingin Kakaknya mengalami hal yang sama sepertinya. Ia terlambat mengutarakan perasaannya pada orang yang ia sukai. Pemuda itu sukses memenuhi seluruh ruang di hati Tobirama hanya dalam dua kali pertemuan mereka.
Tobirama menatap jendela rumah mereka. Salju telah turun sejak kemarin. Itu berarti perang antar klan harus berhenti sebentar. Tobirama memperluas jangkauan sensornya, mencari cakra seseorang dan dia menemukannya.
Shiki tengah bersama Madara.
Tobirama tidak terkejut karena dari awal ia tahu jika Shiki adalah seorang Uchiha. Shiki menyegel cakranya ke titik terendah dengan sempurna, saking sempurnanya ketika Shiki kelelehan dan tertidur, hengenya menghilang dan Tobirama bisa melihat dengan jelas rupa sebenarnya Shiki.
Fitur Shiki jelas mencerminkan Uchiha pun wajahnya yang hampir menyerupai lawan abadi Tobirama di medan perang, Izuna. Yang membedakan mereka hanya rambut, bentuk bibir dan pipi Shiki yang lebih berisi ketimbang Izuna.
Shiki adalah candu untuk Tobirama. Segala hal pada pemuda itu telah menjadi candunya.
---
Sasuke memegang tangan Madara dan menariknya ke kamarnya. "Aku ingin memberitahumu sesuatu."
"Akhirnya kau ingin menjelaskan siapa dirimu yang sebenarnya."
Sasuke tidak terkejut Madara mengetahui siapa dia. "Ya."
Musim dingin sebentar lagi akan berakhir, kandungan Sasuke telah berumur lima bulan. Seluruh klan Uchiha tahu jika dia tengah hamil dan mereka memberinya ucapan selamat yang paling tulus. Sasuke bersyukur mereka tidak menanyai siapa Ayah lain dari bayi yang ia kandung. Hanya Hikari dan Madara yang tahu dan mereka bersumpah untuk tutup mulut.
"Akan sangat memakan waktu jika aku menjelaskannya, lebih baik kau melihatnya di mataku sendiri." Sasuke mendudukan Madara didepannya. "Tapi sebelum itu, aku ingin kau melihat mataku yang lain." Sasuke melepaskan penutup matanya dengan perlahan. "Aku memiliki rinnegan."
Madara melebar melihat mata ungu berpola lingkaran dan memiliki beberapa tomoe disana. "Bagaimana kau mendapatkannya?"
"Rikudou Sannin yang memberikannya padaku ketika kau menusuk jantungku." Mata Sasuke yang satu lagi berubah menjadi mangekyou sharingan. "Sekarang lihatlah semuanya."
Dan Madara melihat semuanya.
---
Madara menghindari Sasuke selama beberapa hari setelah itu, Sasuke memahaminya. Namun Sasuke menghampirinya di hari kelima.
"Itu terjadi di duniaku. Aku percaya kau akan membuat masa depan itu tidak terjadi di duniamu." Sasuke mencium pipi Madara. Sepertinya hobi Kagami yang suka menciumi orang-orang terdekatnya telah menular pada Sasuke atau mungkin dia semakin haus akan sentuhan kasih sayang.
Madara menggenggam tangan Sasuke. "Aku tidak akan melakukannya. Aku bersumpah."
"Boleh aku bertanya sesuatu?"
"Tanya apa?"
"Apa kau menyukai Hashirama?"
Sasuke memiliki tebakan bahwa Hashirama dan Madara di dimensinya sebenarnya saling suka, hanya saja Hashirama menikah dengan wanita lain. Namun di perang dunia shinobi keempat ketika Sasuke mau menghabisi Madara, Hashirama lebih dulu ada disana. Bahkan setelah apa yang dilakukan Madara selama puluhan tahun, Hokage pertama masih sangat baik padanya. Jelas pria itu memiliki perasaan lain untuk inkarnasi Indra sebelum dirinya.
"Aku mencintainya."
"Lalu kenapa kau tidak menyarankan aliansi? Aku yakin dia memiliki perasaan yang sama denganmu."
"Tidak semudah itu. Hashirama baru menjadi Kepala Klan dua tahun yang lalu, posisinya masih lemah ketimbang aku." Madara menatap kearah lain. "Nenekku tahu perasaanku pada Hashirama, dia juga telah mengatakan pada Tetua lain. Mereka menyetujui pilihanku karena cinta di klan Uchiha tidak boleh dilarang."
Sasuke memikirkan hubungan Kakaknya dengan Sepupu mereka, Shisui. Beberapa bulan sebelum pembantaian, Sasuke mendengar desas desus bahwa Kakaknya suatu hari nanti akan menikah dengan Shisui.
Cukup aneh pada awalnya karena Uchiha adalah klan Agamis, mereka melarang alkohol dan rumah bordil namun mengutamakan cinta diatas segalanya. Bagi mereka cinta lawan jenis dan sesama jenis adalah hal yang sama.
"Kapan perang dengan Senju dilaksanakan?"
"Dua minggu lagi." Madara menatap curiga Sasuke. "Jangan bilang kau ingin ikut? Sasuke, kau sedang hamil!"
"Tenanglah, aku tidak akan melakukannya. Aku hanya ingin tahu."
Sasuke berbohong.
---
Medan perang disekitar Tobirama dan Izuna disekelilingi oleh kabut akibat bentrokan Katon dan Suiton mereka. Izuna unggul karena sharingannya hingga ia dapat memukul Tobirama namun keunggulannya hanya sebentar karena Tobirama melemparkan kunai padanya -yang dapat dihindari Izuna dengan muda, sayangnya itu hanya distraksi semata, Tobirama segera melakukan segel tangan yang baru pertamakali Izuna lihat.
"Hirai-"
Brakk
"-shin." Dengan kecepatan luar biasa. Tobirama sudah berdiri dibelakang Izuna, pedangnya menghunus namun hanya sekian detik sebelum pedangnya hancur. Untungnya itu bukan pedang raijin no kennya.
Tobirama menatap kosong pedangnya tapi bukan itu yang menjadi fokus utamanya melainkan tulang kerangka raksasa berwarna ungu yang muncul secara tiba-tiba dihadapan Izuna.
"Izuna!" Madara berteriak menghampiri adiknya. Hashirama mengikutinya dibelakang.
Tobirama membalikkan badannya tulang kerangka besar berwarna ungu itu masih ada disana namun menghilang setelah beberapa saat ketika kehadiran Madara dan Hashirama mendekat. Dan barulah Tobirama sadar, ada sosok lain yang ada didepan Izuna. Sosok itu terduduk sambil memegangi pinggangnya.
"Sasuke!" Madara dan Izuna berteriak bersamaan saat melihat darah merembes keluar dari pinggang Sasuke. Sasuke adalah sosok yang melindungi Izuna dari serangan hiraishin Tobirama menggunakan susano'onya.
"Tidak apa-apa, hanya luka kecil." Tangan Sasuke bercahaya hijau selama sekian menit sebelum meredup dan hilang. "Uhuk."
Cakra Sasuke tidak cukup untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Ia telah menggunakannya untuk berpindah tempat dengan rinnegannya serta mengeluarkan susano'onya. Entah kenapa sejak ia hamil, kontrol cakranya menjadi tidak menentu.
"Shiki." Ujar Tobirama saat ia akhirnya melihat wajah Sasuke. Ia menatap ngeri luka Sasuke. Dengan tangannya sendiri, Tobirama melukai sosok yang ia cintai.
Madara mencengkeram armor depan mantan sahabatnya. "Hashirama, berhenti bersikap pecundang. Jika kau masih menginginkan impian kita menjadi nyata, sembuhkan Sasuke. Jika tidak, maka jangan pernah berharap Uchiha dan Senju berdamai. Aku bersumpah Uchiha akan menghabisi Senju hingga darah terakhir kami menetes di bumi."
Hashirama tidak kenal pemuda asing yang muncul itu namun mendengar ancaman Madara membuat Kepala Klan Senju segera mengiyakan. Ia akan memikirkan Tetua serta Petinggi klannya nanti. Mimpinya dengan Madara harus terjadi. Ia tidak ingin menunggu lebih lama lagi.
"Berbaringlah." Ucap Hashirama dan Sasuke berbaring, ia menggunakan paha Izuna untuk bantalan kepalanya. Tangan Hashirama bercahaya hijau, ia dengan perlahan menutup luka goresan pedang adiknya dipinggang Sasuke. Tidak terlalu dalam namun tetap berbahaya jika tidak segera ditangani. Hanya butuh lima menit untuk Hashirama menutup luka Sasuke namun tangan besar sang sulung Senju mendarat di perut Sasuke. "Namamu Sasuke?"
"Hn."
"Tobirama, apa kau mengenal Sasuke?"
Tobirama masih menatap Sasuke. Kali ini ia bersikap lebih tenang namun jantungnya berdetak sangat keras. "Sasuke? Tapi Namamu-"
"Shiki adalah nama palsu." Sasuke bangkit dari posisinya dibantu oleh Madara dan Izuna.
"Tunggu, kau Shiki." Hashirama menatap adiknya. "Dia Shiki yang sering kau bicarakan?"
Tobirama mengangguk.
"Bagaimana kau tahu?" Sasuke bertanya pada Tobirama. Ia saat ini tidak menakai henge dan seharusnya Tobirama tidak mengenalinya. "Aku selalu mamakai henge."
"Hengemu lepas ketika kau tidur." Tobirama menjelaskan dengan mudah. Ia berdiri disamping Kakaknya.
Hashirama tertawa terbahak-bahak hingga membuat anggota klan Senju dan Uchiha saling menatap bingung.
"Pantas saja janin itu memiliki cakra sepertimu, Tobirama. Sasuke ternyata tengah hamil anakmu." Ucapan penuh semangat Hashirama membuat semua orang terdiam terutama klan Uchiha.
"Sasuke, kau hamil anak Senju?"
"Kakakmu mencintai seorang Senju, Izuna."
Teriakan penuh kengerian Izuna hampir memecahkan gendang telinga semua orang.
Dua Senju bersaudara tidak mempedulikannya. Keduanya sama-sama menghampiri sosok yang mereka cintai.
"Kau hamil?" Tanya Tobirama, ia menatap wajah rupawan Sasuke lalu perutnya yang menonjol.
"Kau pikir perut buncitku ini hasil makan?"
Tobirama tersenyum. Senyum yang sudah beberapa bulan absen dari hidup Sasuke. "Mungkin."
Sasuke mendengus.
"Mau menikah denganku?"
"Kau melamarku tanpa menanyakan perasaanku padamu terlebih dahulu, Senju-donno?"
Tobirama membelai pipi Sasuke. Tangan besarnya hampir menutupi seluruh pipi Sasuke. "Aku mencintaimu. Kau seharusnya sadar itu tapi karena kau dari klan Uchiha, kupikir ketidakpekaan kalian adalah genetika."
"Hey!!" Sasuke mendengar Hikaku memprotes dari belakang. Keduanya tidak mempedulikannya.
"Jadi apa jawabanmu?"
"Aku akan mengatakan Ya setelah aliansi Senju dan Uchiha terlaksana."
Tobirama membawa Sasuke kedalam pelukannya. "Maaf aku menyakitimu."
"Lebih baik kau menyakitiku ketimbang membunuh Izuna. Kematian Izuna akan menjadi akhir dari semuanya." Gumam Sasuke dalam pelukan Tobirama. Tobirama bisa mendengarnya namun tidak menanyakan apapun.
Disisi lain Hashirama tengah menggoda Madara. "Jadi, kau mencintaiku, Madara?"
"Memangnya kau tidak?" Madara berujar dengan sinis namun ada rona merah di pipinya.
"Hahaha. Aku memang selalu mencintaimu bahkan di hari pertamakali aku melihatmu di sungai Naka, aku sudah memimpikan seperti apa pernikahan kita kelak."
Bukan hanya pipi Madara namun telingnya juga ikut memerah. "Bodoh."
"Jadi kapan kita akan melakukan aliansi?" Tanya Hashirama dengan semangat setelah menghentikan tawanya.
"Urus dulu Tetua dan Petinggi Klanmu. Setelah itu surati kami."
Hashirama memeluk Madara bahkan mengangkatnya. Madara mengumpati genetika Senju yang seperti raksasa. "Setelah itu kita akan menikah dan memiliki banyak anak. Kita tidak boleh kalah dari Tobirama dan Sasuke!"
Tendangan Madara menerbangkan Hashirama hingga ke sisi lain medan perang.
"Dasar bodoh!"
"Hahahha. Kau mencintai si bodoh ini!"
---
Membutuhkan satu tahun untuk akhirnya klan Senju dan Uchiha pindah ke desa shinobi pertama. Madara menamai desa ini Konohagakure no Sato dan Hashirama mengusulkan bahwa desa ini akan dipimpin oleh seorang Hokage.
Sasuke tengah berada di tebing tempat suatu hari akan diukir wajah Hokage. Saat ini baik Senju dan Uchiha masih mengadakan pemungutan suara. Ia menatap kebawah, dimana sebagian rumah-rumah telah di bangun. Pembangun memang belum selesai tapi anak-anak dari kedua klan sudah bermain bersama. Tahun ini masih dua klan, tahun depan akan lebih banyak lagi.
Tangan kecil membelai baju bagian depan Sasuke hingga membuatnya menatap kebawah, ke bayi yang ia gendong.
"Halo, Kaia sayang."
Kaia, bayi perempuan Senju Tobirama dan Uchiha Sasuke yang lahir delapan bulan yang lalu. Kaia sekali lagi mengulurkan tangan bulatnya dan memegang pakaian depan Sasuke.
"Kau lapar?"
Bukan Sasuke yang bertanya tapi Tobirama yang muncul menggunakan tanda hiraishin yang ia gambar dipinggang Sasuke. Sasuke telah menghafal sensasi kedatangan Tobirama jadi dia tidak terkejut akan kehadiran suaminya yang tiba-tiba. Tobirama membelai pipi Kaia yang memerah lalu memberikan ciuman pada bibir Sasuke.
"Ayo kita pulang kerumah."
Mungkin di dunia asalnya, Sasuke tidak memiliki rumah untuk pulang namun ia menemukannya disini. Tempat ia pulang, rumahnya, masa depannya.
Bersama dengan Senju Tobirama.
---
THE END
