Work Text:
“JIMIN, lo udah gila, ya?” hardik Hoseok pada Jimin, teman sekantornya, saat pria lebih muda itu mengangkat panggilan teleponnya.
“ Eh? Kenapa, Kak? Lo udah sampai hotel? Ada masalah sama kamarnya? ” tanya Jimin bingung.
“Udah, ini kita semua udah sampai. Barusan check in juga.”
“ Good. Terus kenapa, Kak? ”
“Lo ga bilang kalau gue bakal sekamar sama yang lain.” keluh Hoseok memijat dahi. Dia dan tiga temannya baru saja sampai Busan untuk perjalanan bisnis dan mereka baru saja sampai di hotel. Setelah mendapatkan kunci kamar Hoseok pergi ke area kolam renang dan langsung menghubungi Jimin, orang yang bertanggung jawab dalam pengurusan akomodasi perjalanan dinas di kantornya.
“Oh, iya, Kak. Rate hotelnya tinggi banget, ga bakal nutup kalau seorang sekamar. Gapapa, kan, lo bisa sekamar sama Kak Namjoon ,” jawab Jimin santai.
“Mana ada. Dia lebih milih sekamar sama Jungkook, lah.”
“ Oh .” Ada jeda cukup lama di ujung telepon sampai tiba-tiba Jimin tertawa kencang. “ Jadi lo sekamar sama Kak Seokjin? ” ledeknya.
Hoseok menghela napas kasar. “Lima hari, Jim. Lo kenapa ga bilang dari awal biar gue bisa tap Namjoon, atau ga usah berangkat sekalian. Harus gimana ini gue?”
“ Santai aja, Kak. Mungkin ini saatnya lo buat coba temenan sama dia. Jangan dihindarin mulu. Kali aja balik-balik bawa berita bagus .”
Hoseok memutar mata sebal. Dari suara Jimin, dia dapat melihat seringai dari wajah pria itu.
“ Gue dipanggil nih, Kak. Kalau ga ada masalah, gue matiin, ya. Kalau di hotel ada apa-apa langsung chat aja, biar gue tanyain sama sales -nya. Bye.”
Hoseok membuang napas kasar sambil menatap air kolam di depannya. Lima harinya akan terasa seperti siksaan, batinnya.
***
Hoseok menyeret kaki menuju kamarnya di lantai tujuh. Memikirkan dengan siapa dia harus berbagi kamar membuatnya hampir memutar balik untuk duduk di lobi sampai teman sekamarnya itu tidur. Dari seluruh orang di dunia ini, mengapa dia yang harus sekamar dengan Kim Seokjin untuk beberapa hari. Bukan, bukan Hoseok membenci pria yang lebih tua itu. Sebaliknya, dia sangat menyukai Seokjin sejak hari pertama Seokjin masuk menggantikan posisi manajer yang kosong di timnya. Hoseok selalu merasa percaya diri dan tanpa ragu mendekati orang yang menarik hatinya. Namun tidak dengan Seokjin. Sekilas tatapan pria itu membuat ujung jarinya terasa dingin dan otaknya tidak bekerja seketika. Untuk menghindari dia mempermalukan diri sendiri, Hoseok memilih untuk menjauh dari Seokjin sejauh yang dia bisa.
Bukannya apa-apa, Seokjin itu terlalu sempurna. Dari hasil pencariannya—Jungkook yang mengetikkan nama Seokjin di mesin pencarian di laptop Hoseok—Seokjin memiliki perjalanan karir yang gemilang sejak dia lulus kuliah. Wajahnya yang di atas rata-rata membuatnya cukup populer, dinilai dari fotonya yang terlihat sering datang ke pesta-pesta dan dikelilingi banyak orang di sekitarnya. Sedangkan Hoseok hanyalah Hoseok, seorang pekerja biasa yang tidak memiliki perjalanan karir luar biasa dan jarang datang ke pesta. Dari awal berjumpa, Hoseok rasa Seokjin terlalu luar biasa untuknya. Karena itu dia memilih untuk tidak mencoba untuk mengenal Seokjin lebih jauh selain sebagai rekan kerjanya.
Karena itu, Hoseok tidak pernah sekali pun mengobrol langsung dengan Seokjin di luar agenda rapat. Hal itu sepertinya disadari oleh Seokjin sehingga dia pun tidak pernah mengajak Hoseok untuk mengobrol. Tidak hanya Seokjin, rekan satu timnya menyadari perbedaan sikap Hoseok ke Seokjin. Tak jarang mereka menggoda Hoseok yang alih-alih mendekati sang manajer, dia justru bersikap dingin kepada orang yang dia suka. Hoseok tak pernah ambil pusing. Selain dia rasa dia tidak memiliki kesempatan dengan Seokjin, dia yakin sekali orang seperti Seokjin pasti sudah memiliki kekasih.
Hoseok menarik napas dalam sebelum membuka pintu kamar. Kopernya sudah dibawakan dan diletakkan berdampingan dengan milik Seokjin. Ujung mata Hoseok menangkap Seokjin sedang duduk di atas kasur sambil bermain gim dengan ponselnya selagi dia membuka sepatu. Seokjin sudah mengganti bajunya dan dinilai dari rambutnya yang masih setengah basah, pria itu sudah mandi.
“Hai, Hoseok,” sapa Seokjin menyadari kehadiran Hoseok. Dia menghentikan permainannya sementara untuk mengobrol dengan Hoseok. “Hari ini ga ada agenda, ya. Paling malem aja mau pada dinner bareng. Namjoon katanya bakal ngabarin nanti,” ujarnya.
Hoseok mengangguk. “Oke,” gumamnya. Dia kemudian mengambil baju ganti dan peralatan mandi sebelum masuk ke kamar mandi. Setelah menutup pintu kamar mandi, Hoseok menghirup dalam-dalam aroma sabun dan parfum yang tertinggal di ruangan itu.
Bau Seokjin .
Hoseok memejamkan mata. Bagaimana dia bisa hidup lima hari ke depan dengan Seokjin dan baunya yang belakangan menjadi salah satu bau kesukaannya saat ini?
***
Tiga hari berikutnya terasa seperti neraka untuk Hoseok. Dia bahkan tidak menyembunyikan usahanya untuk tidak berlama-lama berada di dekat Seokjin: dia bangun lebih pagi untuk mandi dan turun untuk sarapan, berada sejauh mungkin dari Seokjin di tengah agenda pekerjaan, dan kembali ke kamar menjelang tengah malam. Hal ini dapat dengan jelas dilihat oleh Namjoon yang langsung menghampirinya dan mengingatkan untuk tidak terlalu menjauhi Seokjin jika dia tidak ingin ada kesalahpahaman di antara mereka. Daripada tiba-tiba gue cium, Nam , katanya yang membuat Namjoon tertawa kencang dan perhatian semua orang tertuju pada mereka.
Agenda mereka selesai pukul 12 di hari keempat. Namjoon, Jungkook, dan Seokjin sepakat untuk jalan-jalan menghabiskan hari, sedangkan Hoseok memilih untuk kembali ke hotel untuk beristirahat. Dia tidak butuh berlama-lama bertemu Seokjin karena astaga , pria itu sepertinya sengaja sekali mengenakan kacamata yang membuatnya terlihat sangat tampan. Demi Tuhan, tadi pagi saat mereka bertemu di lobby setelah sarapan ingin sekali rasanya Hoseok mendorong Seokjin ke dinding terdekat lalu mencium bibir tebalnya. Beruntung otaknya bekerja lebih cepat dan menghentikan pikiran spontan itu sebelum tubuhnya bisa melakukan apa-apa.
Hoseok merebahkan diri di atas kasur, berniat untuk tidur sebentar. Namun, tubuhnya tidak terlalu lelah dan dia tidak bisa memejamkan mata. Dia juga telah mencoba untuk menyalakan TV dan mencari acara yang cukup menarik, tapi tidak ada satu pun yang cukup menarik untuk ditonton. Hoseok menggeram. Dia seharusnya ikut tiga rekannya saja tadi. Sekarang dia sendiri dan tidak tahu harus melakukan apa sampai teman-temannya kembali, setidaknya sampai waktu makan malam nanti.
Sepuluh menit Hoseok habiskan untuk menatap langit-langit untuk mencari ide. Dia kemudian memutar kepala, menatap kasur kosong yang ditempati Seokjin. Tidak bohong dia menghabiskan sekitar lima menit setelah bangun setiap pagi untuk menatap wajah tidur pria yang lebih tua itu. Rasanya tidak adil mengetahui Seokjin masih sangat indah meski sedang tertidur pulas. Dia lalu membayangkan bagaimana rasanya untuk selalu bangun di sebelah Seokjin, menatap wajahnya sampai dia terbangun. Hoseok mungkin akan menciumi wajahnya sebelum mereka berdua harus bangun untuk menjalani hari. Atau mereka akan berpelukan sampai keduanya merasa kegerahan karena matahari sudah terlalu tinggi. Atau mungkin akan ada tangan-tangan usil yang saling menggoda yang berakhir dengan mereka saling memuaskan satu sama lain.
Hoseok menyembunyikan wajah di balik tangan dan menggeram kesal. Sepertinya semua hal tentang menjauhi Seokjin beberapa hari ke belakang ini membuatnya stres. Hoseok melirik lemari tempatnya menyimpan koper sambil menggigit bibir. Dia tahu satu-satunya cara untuk membuat tubuhnya kembali relaks, tapi bagaimana jika Seokjin kembali lebih cepat dari rencana mereka? Hoseok menyalakan layar ponsel untuk melihat jam dan kolom notifikasinya yang kosong, pertanda teman-temannya itu belum akan kembali dalam waktu dekat.
Persetan.
Seokjin pasti tidak akan kembali secepat itu.
Dengan cepat kakinya melangkah membuka kontainer rahasia di dalam kopernya dan mengeluarkan benda panjang berwarna merah muda berikut dengan botol kecil berisi cairan bening kesukaannya. Hoseok selalu bepergian dengan rencana yang matang. Tadinya dia ingin bersenang-senang sendiri karena dia pikir masing-masing orang akan memiliki satu kamar; hal yang selalu dilakukannya saat perjalanan dinas untuk meredakan stres. Rencananya tidak berjalan lancar karena dia harus berbagi kamar dengan Seokjin dan sekarang adalah satu-satunya waktu di mana dia dapat menggunakan dua benda itu. Hoseok kemudian menuju kamar mandi dengan bekalnya di tangan.
Satu sisi kamar mandi itu terbuat dari kaca transparan dengan tirai yang dapat diturunkan dari dalam. Sepertinya setelah kamar mereka dibersihkan, petugas hotel tidak menurunkan tirai dan Hoseok yang sedang berdiri di bawah pancuran air dapat melihat kamarnya dengan jelas. Hoseok menaikkan bahu, hanya ada dia di kamar ini sampai beberapa jam ke depan jadi rasanya tidak perlu untuk dia menurunkan tirai itu.
Hoseok kemudian menyalakan air dan merasakan air hangat dengan suhu sempurna menyentuh kulitnya. Hoseok memejamkan mata, merasakan bagaimana air dari pancuran itu perlahan meregangkan ototnya yang terasa kaku. Tangan kanannya kemudian bergerak perlahan, menyentuh dirinya sendiri dari paha dan naik ke wajah. Hoseok menggigit bibir, bayangan Seokjin di kepalanya mulai terlihat jelas. Tangannya kembali perlahan turun membelai leher dan dadanya. Hoseok mengusap dadanya sendiri dan meremas sedikit lapisan lemak di sana, membayangkan tangan itu adalah milik Seokjin dengan jarinya yang panjang. Beberapa kali Hoseok sering memperhatikan gerakan lihai jari Seokjin di atas keyboard di kantor dan tidak jarang dia membayangkan bagaimana rasanya jari itu di atas kulitnya. Lenguhan pelan keluar dari mulutnya saat ujung telunjuknya menyentuh putingnya sendiri
“Mmhh … S-seokjin,” lenguh Hoseok seraya mencubit dadanya.
Satu tangan lainnya perlahan turun menyusuri perutnya dan terus turun sampai ke paha. Tangannya bergerak semakin dekat ke penisnya. Hoseok menggigit bibir semakin keras dan menjauhkan tangannya. Dia membayangkan bagaimana Seokjin mungkin berdecak tidak suka jika dia menyentuh bagian itu tanpa izin. Dia memikirkan bagaimana Seokjin yang perfeksionis itu akan mengerutkan alis tidak puas atas satu hal kecil yang mengganggunya. Ekspresi seriusnya terlihat sangat seksi dan tak jarang Hoseok memikirkan ekspresi itu saat dia tengah bersenang-senang dengan dirinya sendiri, seperti saat ini.
“Hah … Please ,” mohon Hoseok, entah pada siapa.
Hoseok terlalu dalam dalam fantasinya sampai dia tidak mendengar pintu kamarnya dibuka. Pria yang baru masuk itu menggantungkan jaketnya di lemari dan hanya menoleh sekilas ke pintu kamar mandi saat dia mendengar suara air dari dalam. Langkahnya terhenti saat ujung matanya menangkap bayangan buram dari balik kaca kamar mandi yang tertutup uap. Kepalanya berputar dan terkejut mendapati tidak ada tirai yang biasanya menutupi kaca. Dia baru akan berputar untuk menghargai privasi Hoseok saat dia mendengar suara dari dalam kamar mandi.
“S-seokjin … mhh … please .”
Seokjin menelan ludah. Dia yakin sekali dia tidak salah dengar. Hoseok memanggil namanya sambil memohon. Apa yang sedang dilakukannya di dalam sana?
Seokjin mengikuti kata hatinya untuk melangkah ke arah kasur dan duduk menghadap kamar mandi. Dia kembali menelan ludah melihat Hoseok sedang menyentuh dirinya sendiri, tak sadar akan kehadiran Seokjin.
Sementara itu Hoseok terus menggoda dadanya. Saat dia membuka mata, dia melihat bayangan seseorang dari ujung matanya. Tangannya kemudian menyeka kaca yang berembun itu, lalu terkejut melihat Seokjin menatap ke arahnya. Hoseok baru saja akan meraih tirai saat dia menyadari ke mana arah mata Seokjin: ke tubuh telanjangnya.
Otak Hoseok berhenti bekerja untuk beberapa saat. Saat matanya bertemu dengan milik Seokjin, Hoseok menahan napas. Seokjin menatapnya tajam. Tatapannya turun ke bibir Seokjin saat pria itu menjilat bibirnya. Seokjin lalu bertumpu pada dua tangan di belakang tubuhnya, menyamankan diri untuk mendapatkan gambaran Hoseok di depannya lebih jelas. Hoseok menelan ludah saat Seokjin memiringkan kepala, seolah menuntutnya untuk melanjutkan kegiatannya.
Ditatap seperti ini membuat penisnya berkedut semangat. Hoseok memejamkan mata sesaat. Rasa malu karena ditatap seperti ini oleh seorang Kim Seokjin mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. Dia kemudian melirik Seokjin sekali lagi. Rasa malu itu seketika berubah menjadi panas karena Seokjin tidak hanya menatap lapar setiap lekuk tubuhnya, tangannya juga sedang mengelus bagian depan celananya. Hal itu membuat kepercayaan diri Hoseok naik. Dia kembali membelai tubuhnya dan tersenyum melihat mata Seokjin tertuju pada gerak tangannya.
Hoseok mengusap dada. Jempol dan telunjuknya memilin dan menarik putingnya sendiri. Hoseok sangat suka dadanya disentuh. Erangan dan rengekan kecil tanpa henti keluar dari mulutnya. Dia sangat menikmati dirinya sendiri sampai-sampai lupa bahwa ada yang sedang menikmati aksinya. Dia baru teringat akan keberadaan Seokjin saat ujung matanya menangkap pergerakan dari atas kasur.
Oh.
Hoseok menelan ludah. Celana panjang Seokjin sudah terbuka sampai setengah paha. Tangannya mengusap tonjolan yang Hoseok nilai cukup besar dari balik celana dalam abu-abunya. Matanya kembali menemui Seokjin. Kaca itu kembali berembun, tapi dia masih dapat melihat ekspresi pria itu. Hoseok menyeringai saat otaknya mendapatkan ide untuk menggoda Seokjin lebih jauh.
Hoseok meraih dildo merah muda yang dia simpan tak jauh dari jangkauannya. Sebelum menjalankan rencananya, Hoseok menyeka dinding kaca itu dari embun untuk memastikan Seokjin mendapatkan pemandangan jelas akan dirinya. Seringainya kian lebar menyadari ke mana pandangan Seokjin berada: ke dildo yang ada di tangannya. Hoseok kemudian mendekatkan benda itu ke mulutnya lalu menjulurkan lidah dan menjilat mainan itu dari pangkal sampai ujung. Gerakannya pelan, sangat pelan untuk menggoda Seokjin lebih jauh. Dia tidak dapat menahan senyum puas dari bibirnya melihat bagaimana keras Seokjin menelan ludahnya sendiri. Sebelum melanjutkan, Hoseok menatap pangkal paha Seokjin. Alisnya dinaikkan dan mengangguk, memintanya untuk melepas pakaian dalamnya. Tanpa ragu Seokjin berdiri untuk menurunkan celananya. Dia balas menyeringai saat Hoseok tak bisa melepas matanya dari penisnya.
Oh, sungguh betapa Hoseok ingin memecahkan kaca dan menciumi seringai bodoh itu sampai keduanya kehabisan napas.
Mungkin yang kedua bisa Hoseok lakukan nanti .
Seokjin kembali duduk dengan kaki terbuka. Tangannya memegang pangkal penisnya yang sudah berdiri sempurna. Seokjin cukup percaya diri dengan miliknya ini. Dinilai dari tatapan Hoseok yang tidak bisa berpaling darinya, cukup untuk membuat tingkat kepercayaan diri Seokjin naik dua kali lipat. Seokjin mengurut penisnya pelan saat Hoseok kembali menjilati dildo di tangannya dengan pandangan terpusat pada gerakan tangan Seokjin. Saat Hoseok memasukkan benda itu ke dalam mulutnya, Seokjin mengeluarkan desahan yang dapat terdengar samar oleh Hoseok.
Jika bukan karena dildo yang memenuhi rongga mulutnya, Hoseok mungkin sudah menyeringai sekarang. Melihat bagaimana Seokjin menggerakkan tangannya sesuai dengan gerakan kepala Hoseok membuatnya merasa puas karena memiliki kendali atas pria itu. Puas bermain dengan mulutnya, Hoseok menempelkan dada ke dinding di depannya dengan punggung melengkung agar Seokjin dapat melihat bagian belakangnya dengan lebih baik. Dari posisinya, dia dapat melihat Seokjin menelan ludah. Dengan senyum menggoda, Hoseok mengarahkan mainan itu tepat di depan pintu masuknya.
Hoseok melenguh panjang saat ujung mainan itu memasukinya. Dia menarik napas untuk beberapa saat. Meski dia sudah terbiasa dengan ukuran mainannya, beberapa detik pertama masih sering membuatnya kewalahan. Hoseok kembali menatap Seokjin lalu tersenyum lebar. Pria itu sedang menengadahkan kepala dengan telapak tangan mengusap ujung penisnya. Saat mereka kembali bertemu tatap, Hoseok memasukkan benda panjang itu sampai seluruh bagiannya tenggelam di dalam tubuhnya.
“A-ahh … Hos … Mmm.”
Mendengar namanya dipanggil membuat tubuh Hoseok terasa semakin panas. Dia tidak dapat berhenti menatap pria yang mulai mengangkat-angkat pinggulnya. Hoseok menggigit bibir, bertanya-tanya dalam hati bagaimana Seokjin menggoyangkan pinggulnya: apakah dia suka gerakan yang cepat, atau tusukan pelan tapi dalam? Yang mana pun Hoseok sepertinya tidak keberatan. Memiliki sesuatu sebesar itu mengocok organ dalamnya mungkin sudah lebih dari cukup untuk membuat Hoseok kehilangan akal sehatnya.
“Oh! Aaahh .. mmh, sayang, enak. Di situ … ahh.” Hoseok terus meracau, terutama saat dia menemukan prostatnya sendiri. Dengan susah payah dia menjaga kontak matanya dengan Seokjin meski rasanya sulit. Ekspresi yang Seokjin tunjukkan membuatnya semakin dekat dengan puncaknya.
Seokjin mengocok penisnya semakin cepat. Cairan precum membasahi tangannya yang dia gunakan sebagai pelicin. Dinilai dari ekspresinya, dia sudah sangat dekat. Hoseok yang juga sudah hampir sampai di ujung pelepasannya mengurut penisnya cepat. Badannya bergetar sebelum penisnya memuntahkan cairan putih tepat ke dinding di depannya. Dengan napas terengah-engah dia membuka matanya yang tidak sadar terpejam. Penisnya kembali memuntahkan sisa sperma saat melihat Seokjin yang baru saja mencapai puncaknya dan mengotori perut dan kemeja kerjanya.
Seksi sekali.
Penisnya kembali berkedut. Dia mengutuk dalam hati karena Seokjin dan pesona pasca orgasmenya bisa saja membuatnya kembali ereksi. Hoseok menggeleng untuk menyadarkan diri. Yang barusan mereka lakukan ini adalah sebuah ketidaksengajaan dan mungkin tidak akan terulang kembali. Hoseok kembali memutar kepalanya ke luar kaca. Dua alisnya naik tidak mendapati Seokjin di sana. Dia kemudian mendengar pintu kamar mandi yang dia lupa kunci terbuka. Sedikit terkejut dia melihat Seokjin yang sudah telanjang bulat berdiri di depannya.
Hoseok baru akan membuka mulut, ingin mengatakan bahwa dia mengerti jika Seokjin tidak ingin hal ini terjadi lagi dan berjanji untuk tidak memberitahu siapa-siapa. Belum sempat suaranya keluar, Seokjin mendorongnya ke dinding dan mencium bibirnya sampai Hoseok kehabisan udara. Seokjin tertawa saat melepaskan pagutannya dan menempelkan dahinya ke dahi Hoseok dan memeluk pinggulnya.
“ That was the hottest thing ever ,” bisiknya.
Hoseok merasakan pipinya memanas. Dilingkarkannya lengannya di leher Seokjin sebelum merapatkan tubuhnya dan kembali mencium Seokjin seperti yang selalu diimpikannya.
***
Mereka kemudian berbaring berhadapan di kasur Seokjin—cukup kecil untuk dua orang pria dewasa dan butuh manuver singkat agar keduanya dapat berbaring dengan nyaman. Hoseok tidak dapat berhenti menatap wajah Seokjin. Dia dapat bersumpah wajah seperti ini hanya satu di dunia dan dewa-dewi Yunani pun tidak dapat menandinginya. Tangannya perlahan meraih wajah Seokjin dan membelai sisi wajahnya, memastikan bahwa dia tidak sedang bermimpi.
“Hoseok,” panggil Seokjin lembut. “Aku mungkin tadi salah denger, tapi tadi Hoseok manggil nama aku?”
Hoseok mengangguk meski sedikit malu mengakuinya.
Seokjin tersenyum kemudian meraih tangannya. “ It’ll be awkward if I misheard ,” candanya. “Selama ini aku kira Hoseok ga suka aku?”
Hoseok menaikkan alis. Mana mungkin dia tidak suka pria seperti Seokjin?
“Abisan Hoseok kalau ke aku ketus, ga kayak sama yang lain. Aku kirain aku pernah bikin salah sama Hoseok. Maaf, ya, kalau aku bikin Hoseok kesel?”
Hoseok menggeleng panik. “Engga, Kak. Astaga, bukan gitu. Kamu ga salah apa-apa. Itu cuma … Gimana, ya, bilangnya,” ujar Hoseok menunduk. Pipinya terasa semakin panas.
“Sebenernya aku minta Namjoon untuk sekamar sama Hoseok. Rencananya pengen ngobrol biar kita komunikasi ke depannya enak. Terus Hoseok keliatannya sebel terus kalau udah masuk kamar, jadi aku juga nyamperinnya takut,” ucap Seokjin terkekeh canggung. “Terus tadinya mau minta gantian lagi sama Namjoon, tapi dia ga mau. Itu Namjoon sama Jungkook pacaran, ya?”
“ Fuck buddies ,” jawab Hoseok memutar mata. Dia sudah terlalu bosan melihat dua orang yang sangat tidak bisa dipisahkan itu yang terkadang tingkah laku keduanya membuatnya mual.
“Pantesan,” ujar Seokjin tertawa. “ Then why are you avoiding me? ”
Hoseok rasanya ingin meledak. Kim Seokjin yang tak sampai sepuluh menit yang lalu terlihat sangat panas bermasturbasi dengannya, sekarang bertanya padanya dengan ekspresi memohon yang sangat lucu, persis seperti seekor hamster.
“Bukan salah kamu, Kak. Aku cuma … aku payah dalam hal ginian. I like when you’re around, but I don’t know how to act. Maaf kalau kesannya aku jutekin kamu. You’re out of my league, ” jawab Hoseok menunduk.
Seokjin mengangkat kepalanya tak percaya. “ What? No way! ”
“Beneran,” ucap Hoseok tertawa.
Seokjin menggeleng. “Kalau gitu kita nge- date . I’ll prove to you that I’m in your league, because you are in mine. ”
Hoseok tersenyum malu. Dia kemudian beringsut mendekat ke Seokjin untuk menyembunyikan wajahnya di leher Seokjin. “ I’d like that, ” bisiknya.
“ You’ll like so much more about me. ”
Hoseok mengangguk. Dia pasti akan menyukai banyak hal tentang Seokjin dan dia tidak sabar untuk melakukan itu. “ I will, ” ucapnya berbisik.
