Actions

Work Header

Aeipathy

Summary:

Memiliki Kim Namjoon sebagai kekasih membuat Jungkook merasakan banyak hal baru untuk pertama kali. Tujuh bulan berlalu dan Jungkook sangat ingin untuk berhubungan seks dengan pria itu.
Masalahnya, Jungkook tidak memiliki pengalaman menjadi pihak bawah dan Jungkook tidak ingin mengecewakan sang kekasih.

Notes:

It's dirty. I warned you.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

JUNGKOOK, put it in.”

Jungkook tersentak bangun dari tidurnya dengan napas tersengal dan keringat dingin mengucur dari pelipis meski pendingin ruangannya menyala dengan baik. Diliriknya kasur di sebelahnya yang sudah tertata rapi—pria yang meniduri sisi kasur itu pasti sudah bangun sejak tadi dan membiarkan Jungkook bangun lebih siang.

Saat Jungkook menurunkan kaki dari kasur, dia menggeram tertahan saat merasakan ereksi paginya berdiri tegak seolah bangga menyatakan keberadaannya. Mimpi yang didapatkannya barusan membuat ereksinya kian berkedut. Jungkook tidak punya pilihan lain selain kabur ke kamar mandi secepat mungkin dan mandi air dingin untuk menjernihkan pikiran.

Sayangnya, dunia tidak berpihak kepadanya. Ketika Jungkook keluar dari kamar, pandangannya langsung menangkap sesosok pria tinggi bertelanjang dada sedang berdiri di dapur. Dadanya mengilap oleh keringat pertanda dia baru saja selesai lari pagi. Jungkook menelan ludah. Bayangan dalam mimpinya kembali ke dalam ingatan. Bagaimana sang kekasih memunggunginya dan kemudian—

Babe , ngapain bengong di sana? Sarapan sini,” ucap pria berlesung pipit, menyadarkan Jungkook dari lamunan.

Salah tingkah Jungkook menggeleng dan menghindari mata sang kekasih. Kemudian dia teringat masalah di bagian bawah tubuhnya. Segera dia menarik turun kaosnya untuk menutupi bagian depan selangkangannya. “Mandi dulu,” ucapnya buru-buru berjalan menuju kamar mandi. Jungkook baru dapat bernapas lega setelah menutup pintu kamar mandi dan bersandar di sana. Dia kemudian buru-buru menyalakan air dingin untuk meredakan panas yang dirasakannya.

 

***

 

Kim Namjoon masih bertelanjang dada saat mereka berdua sarapan di atas meja. Cahaya matahari pagi yang masuk lewat jendela menyinari wajah Namjoon dengan sudut tertentu, membuatnya terlihat semakin indah di mata Jungkook. Sambil menggigit roti bakarnya, Jungkook tanpa malu terus memandangi kekasihnya. Tujuh bulan berlalu sejak mereka memutuskan untuk bersama, dan tak sekalipun Jungkook rasa dia akan bosan melihat indahnya paras sang kekasih dalam waktu dekat.

“Jangan diliatin mulu. Nanti sayang,” ujar Namjoon bercanda.

“Udah sayang banget, gimana, dong?”

Godaan yang dilemparkan Jungkook membuatnya mendapat tendangan pelan dari Namjoon di bawah meja. Beberapa kali dia sengaja menggoda Namjoon sampai pria itu tertawa kencang dan menunjukkan dua lesung manis di pipinya. Setidaknya hal itu dapat membuatnya lebih fokus pada wajah Namjoon, dan bukan menatap dada telanjangnya.



Setelah sarapan, mereka menuju supermarket untuk mengisi kulkas Jungkook yang mulai kosong. Setelah kembali ke apartemen, Jungkook memasak makan siang untuk berdua sementara Namjoon harus meeting daring bersama klien dari luar negeri. Setelah Namjoon selesai meeting dan bergabung dengan Jungkook di meja makan, mereka berdua menikmati sisa hari Minggu dengan bermalas-malasan di atas sofa sampai sore.

Layaknya sebuah ritual, setiap Minggu malam Jungkook dan Namjoon akan berada di ruang tengah untuk menonton serial Netflix yang sedang mereka ikuti. Tak sampai setengah jalan, suara dari televisi tergantikan dengan suara basah dan lenguhan halus dari dua sejoli yang sekarang telah beralih duduk berpangkuan di atas sofa. Jungkook meremas rambut pria yang duduk di pahanya saat sang kekasih menghisap bibir bawahnya kuat.

“Mmh, Hyung,” lenguh Jungkook saat Namjoon beralih menaburkan ciuman halus di sekitar rahangnya. Ujung jari Namjoon membelai sisi tubuhnya, memberikan sensasi geli yang membuat bulu tangannya berdiri.

Tepat saat ujung jari Namjoon yang dingin menyentuh kulit pinggulnya, Jungkook membuka mata dan mendorong tubuh Namjoon menjauh darinya. Terkejut sekaligus bingung, Namjoon mengangkat alis menatap sang kekasih. Belum sempat dia mengatakan apa-apa, Jungkook menggeser tubuh Namjoon hingga dia kembali duduk di sofa dan berlari menuju kamar mandi.

Seakan tengah berlari maraton, Jungkook mengunci pintu di belakangnya dengan napas terengah. Diliriknya cermin di sebelah pintu. Wajahnya merah dan rambutnya berantakan. Garis tegas di sweatpants abunya tercetak jelas akibat penisnya yang sudah setengah berdiri. Jungkook memejamkan mata sambil menggigit bibir. Gawat. Dia terlalu cepat ereksi belakangan saat berada di dekat Namjoon, bahkan saat kekasihnya hanya menyentuhnya ringan. Setelah mengambil napas panjang, Jungkook membuka kaos dan menyambar handuk dan mandi dengan cepat.

Jungkook kembali ke ruang tengah setelah mengenakan baju dan kembali duduk di sebelah Namjoon yang sedang disibukkan dengan ponselnya. Jungkook mencoba untuk kembali fokus menonton seakan-akan kejadian yang barusan tidak ada. Sesekali dia melirik Namjoon, tapi pria itu seolah mengabaikannya. Mereka berdua terus diam sampai Namjoon beralasan bahwa dia harus pulang. Setelah Namjoon pergi, Jungkook duduk sendiri di ruang tengah dengan perasaan bersalah.

 

***

 

Memiliki Kim Namjoon sebagai kekasih membuat Jungkook merasakan banyak hal baru untuk pertama kali. Namjoon bukan orang pertama yang dia pacari setelah puluhan gadis takluk oleh rayuannya. Ya, Namjoon adalah pria pertama yang dia pacari setelah menyadari ketertarikannya tidak hanya terbatas pada wanita. Sejak bersama Namjoon, Jungkook merasa lebih bahagia. Dia tidak perlu untuk selalu membuktikan kejantanannya di depan sang kekasih. Namjoon akan selalu menerimanya apa adanya, dan Jungkook tidak pernah lebih nyaman berada di bawah kulitnya sendiri sebelum mengenal Namjoon dalam hidupnya. Yang paling Jungkook sukai dari Namjoon adalah bagaimana dia cukup bijak untuk tidak mendiamkannya berhari-hari dan meninggalkan Jungkook kebingungan untuk membuat mereka kembali berkomunikasi. Mereka berdua nyaris tidak pernah bertengkar–hanya kesalahpahaman kecil yang cukup normal dimiliki oleh setiap pasangan.

Setelah situasi canggung akhir pekan lalu, Namjoon langsung kembali menghubunginya esoknya seolah kecanggungan itu tak pernah terjadi. Mereka bertemu usai kerja hampir setiap hari. Dan seperti biasa, Namjoon akan menginap di apartemen Jungkook saat akhir pekan dan mereka berdua akan menghabiskan sisa akhir pekan dengan berpelukan di atas sofa.

Mencium Kim Namjoon bagi Jungkook adalah seperti sebuah adiksi. Terkadang dia tidak bisa menahan diri untuk tidak mengecup bibir tebal itu. Rasa stroberi dari lip balm yang Namjoon selalu kenakan membuatnya semakin ketagihan. Belum lagi suara yang prianya itu ciptakan saat dia dengan sengaja menghisap kuat bibir bawah atau bagian di bawah telinganya. Seperti sekarang ini, saat mereka berdua berbaring di atas sofa dengan Namjoon  berada di bawahnya, membuat suara indah yang terdengar seperti lagu di telinga Jungkook.

Aroma cologne Namjoon membuat Jungkook semakin mabuk. Di pikirannya hanya ada Namjoon, Namjoon, dan Namjoon. Dia ingin pria yang lebih tua itu untuk menciptakan suara itu lagi. Maka ciumannya semakin turun ke dada. Tangannya dengan buru-buru melepas dua kancing kemeja Namjoon, memamerkan tulang selangka paling seksi yang pernah Jungkook lihat dalam hidupnya.

Terbawa suasana, Jungkook mulai merasakan celananya semakin sesak di bawah sana. Tanpa sadar dia menggesekkan dirinya sendiri di atas paha Namjoon. Omong-omong soal paha, Jungkook selalu suka paha tebal Namjoon. Apalagi sejak pria itu memutuskan untuk mulai melakukan squat dalam jadwal workout -nya, membuat pahanya semakin kencang dan menggiurkan setiap kali dia memutuskan untuk mengenakan celana pendek di sekitar Jungkook. Dan juga paha itu terasa enak semakin dia menggesekkan dirinya sendiri.

Tanpa aba-aba, Namjoon menyentuh dan meremas pantatnya.

Seperti disambar petir, Jungkook tiba-tiba melepaskan pagutan dan menjauhi Namjoon. Ekspresinya terlihat seperti dia baru saja melihat hantu. Tanpa menjelaskan apa-apa, dia berlari ke kamar mandi, meninggalkan Namjoon yang terus menatapnya sampai pintu kamar mandi tertutup rapat dan suara air terdengar.



Jungkook menyelesaikan urusannya sendiri kemudian mandi dengan cepat. Kulitnya masih merah dan rambutnya masih basah saat dia kembali ke ruang tengah untuk bergabung kembali bersama Namjoon. Sebelum dia naik ke atas sofa, dia melihat Namjoon memalingkan wajah lalu menyeka pipi.

“Hyung?” panggil Jungkook khawatir kemudian duduk di sebelahnya. “Kena—”

I have to go, ” ucap Namjoon dingin. Dia kemudian bangun dari sofa dan melangkah menuju pintu apartemen Jungkook.

Jungkook menatap sang pacar bingung. Saat Namjoon melewatinya, dapat dengan jelas dia melihat bekas air mata di pipi. “Hyung, hey , kamu kenapa?” tanyanya meraih tangan Namjoon yang kemudian langsung ditepis. 

Tak menyerah, Jungkook mengikuti Namjoon dari belakang. Namjoon tidak berhenti dan tidak menjawab pertanyaan Jungkook sama sekali.

“Namjoonie Hyung,” panggil Jungkook lemah saat pintu apartemennya tertutup dan Namjoon menghilang di baliknya.

 

***

 

Bagi Jungkook, ada dua orang paling menyeramkan di dunia; ibunya saat dia menghilangkan kotak makan siangnya semasa sekolah, dan diamnya Namjoon. Tujuh bulan berhubungan dengan kekasihnya itu, tidak pernah sekali pun Jungkook didiamkan lebih dari sehari. Namun sekarang sudah hampir satu pekan dia belum mendengar kabar apa pun dari pria yang lebih tua tiga tahun darinya itu.

Jungkook menatap ruang percakapan antara dirinya dan Namjoon yang hanya ditinggalkan dengan centang dua berwarna biru sejak enam hari yang lalu. Bahkan pesan Jungkook yang selalu membuat Namjoon tertarik; “ Kamu mau aku gosip terbaru atasan aku ga? ” tidak juga mendapatkan jawaban. Dicobanya untuk menelepon sang pacar untuk kelima kalinya hari itu, tapi panggilan itu masih berakhir di kotak suara. Jungkook menghela napas. Dia tidak mengerti apa yang dilakukannya sehingga membuat Namjoon marah seperti itu. 

Selain mengirimi pesan dan menelepon Namjoon, Jungkook juga mencoba untuk menjemput sang pacar usai jam kerja. Entah kebetulan atau disengaja, Namjoon selalu sedang rapat di luar kantor setiap kali Jungkook menunggunya. Hal itu diketahuinya dari Hoseok, rekan kerja Namjoon yang melihatnya menunggu di atas motor.

Jungkook menyandarkan kepala di atas sofa. Dia khawatir akan kabar sang pacar, tentu saja. Pikiran tentang kemungkinan terburuk yang mungkin diinginkan Namjoon tak lagi dapat dia kontrol. Semakin dia mencoba untuk membuang jauh pikiran buruknya, semakin keras suara di kepalanya yang mengatakan bahwa Namjoon ingin meninggalkannya. Tidak. Tidak bisa. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya dia jika Namjoon tinggalkan, terutama tanpa penjelasan. Maka dari itu, Jungkook mengambil jaket yang tersampir di dekat pintu dengan sembarang. Dia lalu mengendarai motornya menuju apartemen Namjoon secepat yang dia bisa.

 

***

 

Entah apa yang Jungkook harapkan saat Namjoon membuka pintu apartemen untuknya, yang jelas bukan tatapan terkejut seolah-olah tidak mengharapkan kehadiran Jungkook di sana. Jungkook tetap mencoba untuk tersenyum dan menyapa Namjoon yang masih mematung di depannya.

“Hai. Aku boleh masuk?” tanyanya.

Dengan canggung Namjoon mengangguk dan membuka pintu lebih lebar. Jungkook tersenyum dan berniat untuk mengecup pipi sang pacar, sebelum Namjoon menghindar darinya. Jungkook menelan rasa kecewanya dan berusaha tetap tersenyum. Dia lalu mengikuti Namjoon duduk di ruang tengah.



Beberapa kali Jungkook menatap Namjoon dari samping. Suara dari televisi mengisi ruangan sementara mereka berdua tidak bertukar kata sejak sepuluh menit yang lalu. Jungkook tidak benar-benar memperhatikan tayangan TV itu dari tadi. Pria di sebelahnya terlihat lebih menarik dibanding serial yang dia coba ikuti beberapa pekan belakangan.

Jungkook selalu suka menatap sisi wajah Namjoon. Dia menyukai bagaimana rambut panjangnya membingkai wajahnya dengan sempurna. Jungkook suka mata naga Namjoon yang terlihat tajam dan lembut di saat bersamaan—dia mulai menyukai Namjoon saat menatap matanya. Jungkook suka bagaimana mata itu menghilang saat dia tertawa. Dia juga suka kerutan halus di ujung mata Namjoon terutama saat dia tersenyum. Hal itu membuatnya terlihat lebih manusiawi karena kalau tidak, Jungkook bisa saja mengira pacarnya ini adalah setengah dewa. Jungkook suka lekuk hidung Namjoon yang tak pernah dia lupa kecup setiap mereka bertemu dan berpisah. Pandangan Jungkook turun ke pipi Namjoon. Ada sepasang lesung pipit yang selalu dia rindukan di sana. Dan, oh, jangan lupakan bibirnya. Bibirnya yang empuk dan lembut, selalu berhasil membuat Jungkook tak ingin berhenti menciuminya.

Satu tangan Jungkook kemudian mendarat di lutut Namjoon dan perlahan bergerak naik, dengan sengaja menggoda kulitnya yang tidak tertutup celana. Belum Jungkook bergerak lebih naik lagi, tiba-tiba Namjoon menepis tangannya. Terkejut, Jungkook menatap Namjoon dengan alis berkerut dan bibir bawahnya dimajukan.

“Hyung …”

I don’t have time for this. Say what you want and go, ” bentak Namjoon sambil menatapnya tajam.

Jungkook terdiam. Dia tidak pernah melihat Namjoon semarah ini dan buruknya lagi, dia bahkan tidak tahu penyebabnya. Jungkook mengubah posisi duduknya sehingga tubuhnya menghadap Namjoon sepenuhnya.

“Hyung, kamu marah ke aku kenapa? Aku bikin salah?” tanyanya hati-hati.

Namjoon membuang muka. Matanya terpejam dan menarik napas yang dalam. “Lupain aja,” gumamnya.

Jungkook tidak bisa membiarkan masalah ini tidak terselesaikan begitu saja. Dia kenal betul situasi ini. Tepat saat dia keluar dari pintu apartemen itu, Namjoon akan memblokir semua kontaknya dan menghilang dari hidup Jungkook.

Jungkook tidak mau mereka putus.

“Hyung,” ulang Jungkook. “Aku bikin salah apa?”

“Kamu ga salah, Jungkook. Akunya aja yang terlalu berekspektasi.”

Jungkook memiringkan kepala bingung. “Maksudnya?”

Ada jeda cukup lama yang membuat Jungkook tidak sabar. Belum sempat dia membuka mulut, Namjoon menjawab, “Aku seharusnya ga berharap kalau kamu setertarik itu sama aku. Aku harusnya berhenti buat nyoba setelah tahu kalau kamu ga mau. Sorry .”

Jungkook mengernyit. Tidak tertarik apanya? Jungkook bahkan bisa membayangkan mulutnya penuh dengan liur setiap kali Namjoon berada di dekatnya. “Hyung, aku ga ngerti,” ucapnya.

“Kamu ga sexually attracted sama aku, I get it . Kamu baru di hal ini. I should’ve known. I’m sorry I’ve been pushing you to do things you don’t want .”

Jungkook menganga. Dia tidak mengerti sama sekali apa yang dikatakan pacarnya saat ini. “Hyung–”

“Maaf aku salah ngartiin sikap kamu. Aku kira kamu mau coba. Aku … it’s my fault .” Namjoon menggigit bibir dan mengalihkan wajahnya dari Jungkook. “Kamu pulang aja. Aku mau sendiri.”

Uh oh.

Jungkook dapat benar-benar merasakan hubungan mereka akan berakhir sebentar lagi jika dia tidak melakukan apa-apa tentang ini.

“Hyung,” panggil Jungkook. Tangannya menggenggam milik Namjoon erat. “Kita ngobrol dulu, please? Aku ga ngerti kamu ngomong apa,” ucapnya memohon.

Namjoon masih diam. Rasanya sakit sekali untuk Jungkook karena tidak tahu harus berbuat apa.

“Hyung,” panggilnya lagi, dengan suara sedikit bergetar kali ini. Matanya mulai perih. Apa jadinya dia tanpa Namjoon di sisinya?

Suara alat pendingin dan detak jam dinding terdengar terlalu memekakkan. Namjoon masih sibuk merangkai kata di dalam pikirannya, sedang Jungkook menunggu dalam diam sambil mencoba membaca ekspresi Namjoon. Dia benci ini. Dia benci tidak berbicara dengan Namjoon seperti ini.

“Kamu selalu pergi setiap kita berdua,” mulai Namjoon. Suaranya pelan sekali, Jungkook hampir mengira dia berhalusinasi.

“Pergi?” ulang Jungkook.

Namjoon mengangguk. Diangkatnya kepalanya untuk menatap Jungkook. “Setiap kita make out, kamu selalu tiba-tiba pergi dan balik seolah-olah ga ada apa-apa. Not gonna lie, you got me worked up. You’re just too good at that. Jadinya aku, uhm, you know … horny,” ucapnya. “Tapi kamu yang selalu pergi bikin aku mikir, apa kamu sebenernya ga mau tapi aku yang ga peka dan terus maksain kamu untuk ke arah sana. Di lain sisi, aku ngerasa kalau kamu mau. Aku bingung dan kecewa juga sedikit. Apa ada yang salah sama aku, atau kamunya aja yang ga tertarik ke sexual things sama aku?”

Jungkook menganga. “ I was jerking off to you, Hyung ,” ucapnya hampir berbisik.

Huh?

“Hyung, kamu pernah ngaca, ga? You’re the hottest man ever dan gimana ceritanya aku ga mau kamu?”

“Tapi kamu—”

“Aku …” Jungkook menelan ludah dan menunduk. Wajahnya terasa sedikit panas dan dia tidak berani menatap Namjoon. “Aku ga siap jadi bottom ,” ucapnya malu-malu.

Namjoon tercengang. Alisnya berkerut tidak mengerti.

“Hyung, kamu tahu pacarku sebelumnya cewe semua. Aku ga pernah main di bawah sana . Jadi, uhm , aku belum siap kalau kita ke arah situ ,” lanjutnya.

Jungkook mengepal tangannya yang mulai terasa basah. Dia tahu dia terdengar sangat bodoh sekarang. Dia sudah mencoba berkali-kali untuk meyakinkan diri bahwa dia sudah siap dan Namjoon tidak mungkin menyakitinya. Namun setiap kali Namjoon mulai mengarahkan tangannya ke bagian intim Jungkook, nyalinya ciut dan dia memilih untuk kabur dan menyelesaikan dirinya sendiri di kamar mandi. Tidak pernah disangkanya Namjoon akan menyalahkan dirinya sendiri seperti ini.

“Aku ga pernah minta kamu untuk ngelakuin itu, kan? Maksudku, Jungkook, kita bahkan belum pernah ngobrol tentang preferensi masing-masing.”

“Bukannya kamu top only?

No? Aku suka yang rasanya enak. I prefer both, actually .”

Jungkook menatap sang pacar dengan mata bulatnya. “ Really?

Namjoon tersenyum lega. “Ya ampun, Jungkook. Kamu seharusnya bilang kekhawatiran kamu sama aku, bukan kabur terus bikin aku blue ball sendirian. I’d bottom for you if you want to top me .”

 

Jungkook, cepet masukin.

 

Jungkook menggeleng untuk menghilangkan bayangan Namjoon sedang menungging di hadapannya dengan wajah memelas—

Tunggu dulu.

Jungkook mengalihkan wajah untuk menyembunyikan pipinya yang terasa kian panas. Semoga Namjoon tidak dapat membaca pikirannya atau dia akan merasa jijik terhadap imajinasi liarnya.

Namjoon kemudian meraih tangan Jungkook, membuat Jungkook sedikit melompat dari duduknya. “Sayang, gapapa kalau kamu belum siap, aku ngerti. Aku harap kamu bilang sama aku, jadi akunya ga bingung sendirian. Aku sempet ngirain kamu ga suka bau parfumku sampai aku buru-buru beli parfum baru, atau akunya bau ketek tapi kamu ga mau bilang sama aku.”

Jungkook tersenyum dan menggeleng. Dia selalu suka aroma parfum Namjoon dan saat pria itu tidak mengenakan parfum pun dia masih wangi.

Anyway , kalau ada apa-apa kamu bilang sama aku, ya? I want you to feel good too .”

Jungkook mengangguk. Diraihnya wajah Namjoon dan mendekatkan wajahnya. “Kangen banget. Aku boleh cium?”

“Ga boleh soalnya kamu bikin aku sebel,” jawab Namjoon cemberut.

“Hyung,” protes Jungkook.

“Temenin aku nonton House of the Dragons dulu,” ujar Namjoon.

Jungkook memutar mata. Dia sudah menonton seri itu saat Namjoon tengah dinas di luar kota dan pacarnya itu protes saat tahu Jungkook menonton sendirian. Meski begitu, dia mengangguk. Apa pun untuk kembali mencium bibir tebal yang dirindukannya itu. “Cium dulu buat tanda jadi,” ujarnya memajukan bibir.

Namjoon tertawa kecil dan menutup jarak di antara mereka.

 

***

 

Perlahan Jungkook membuka mata kemudian menaikkan tangan ke atas untuk meregangkan tubuh. Setelah menonton hanya dua episode dari House of the Dragons, mereka berdua tertidur di kamar Namjoon dengan laptop masih menayangkan episode selanjutnya sampai kehabisan daya. Jungkook menengok ke samping, mendapati sang pacar masih lelap dalam tidurnya. Jungkook tersenyum memperhatikan wajah tidur Namjoon. Pria itu lucu dengan alis sedikit berkerut dan mulutnya yang terbuka. Terkadang Jungkook sering bertanya dalam hatinya tentang apakah Namjoon nyata, atau hanya khayalannya saja.

Tak lama Namjoon membuka mata. Dia tersenyum menyadari Jungkook menatapnya. Mereka saling tatap untuk beberapa menit. Jungkook kemudian menyentuh wajah Namjoon dengan ujung jarinya, mulai dari dahi, mata, pipi, lalu bibirnya. Telunjuknya cukup lama berada di atas bibir Namjoon lalu satu pikiran muncul di kepalanya.

Bagaimana jika dia memasukkan jarinya ke dalam mulut Namjoon?

Jungkook menggigit bibir. Di kepalanya, Namjoon terlihat sangat panas dengan tiga jari di dalam mulutnya. Ditatapnya mata Namjoon yang terlihat sayu. Jungkook punya kesempatan untuk mencoba, maka ditekannya bibir Namjoon sampai mulutnya sedikit terbuka. Mengerti apa yang Jungkook inginkan, Namjoon membuka mulut lebih lebar dan membiarkan jari Jungkook memasuki mulutnya kemudian memainkan lidahnya sambil sesekali menghisap jarinya.

Penis Jungkook melompat melihat pemandangan itu di depan matanya.

Bayangannya tidak salah. Namjoon terlihat jutaan kali lebih panas dibanding yang dia bayangkan.

Bagaimana rasanya jika jarinya tergantikan oleh penisnya?

Oh.

Jungkook menelan ludah. Membayangkannya saja sudah berhasil membuat darahnya berdesir. 

Menyadari pria di depannya itu hanya diam menatapnya—tatapan yang sama yang Jungkook berikan setiap kali mereka bercumbu sebelum pergi tanpa permisi untuk memuaskan dirinya sendiri, Namjoon mengeluarkan jari Jungkook dari mulutnya. "Kalau kamu mau kabur lagi, do it now ," ujarnya.

Jungkook menggeleng cepat. Setelah mengetahui betapa Namjoon juga menginginkannya, Jungkook membuat keputusan untuk tidak lagi lari kali ini.

Tanpa Namjoon duga, Jungkook menarik tangannya ke arah celananya. Jungkook meringis merasakan tangan Namjoon menyentuh selangkangannya. "Udah keras gini, Hyung," desahnya.

Namjoon menggigit bibir sementara tangannya meremas penis Jungkook, membuat Jungkook menarik napas dalam dan memejamkan mata. "Hm, sayang banget yang kayak gini suka dikocok sendiri. Padahal aku bisa bantuin."

“Iya? Diisep juga ga?”

Namjoon menyeringai. Dia kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga yang lebih muda dan berbisik, “ You can fuck my throat and use it as much as you want, Baby .”

Jungkook hampir orgasme detik itu juga.

Dia dapat bersumpah Namjoon adalah jelmaan malaikat paling penuh dosa di dunia.

Gigitan kecil diikuti dengan jilatan di telinganya membuat Jungkook melenguh. Jungkook tidak mengerti mengapa Namjoon mengatakan dia sangat menikmati ciuman Jungkook sementara dia tidak ada apa-apanya dibandingkan kelihaian bibir dan lidah Namjoon membelai miliknya. Tidak jarang penisnya mengeluarkan cairan pre-cum hanya dari ciuman Namjoon yang dapat membuatnya melupakan dunia.

Fuck, Baby, can I really blow you? ” tanya Namjoon melepaskan pagutan. Tangannya sibuk meremas ereksi Jungkook di atas celananya.

Jungkook menatap wajah Namjoon yang memerah. Dia ingin melihat wajah itu menunjukkan raut kenikmatan karenanya. Dia mengangguk dan Namjoon perlahan turun dari kasur. Jungkook duduk di sisi kasur dengan Namjoon duduk bersimpuh menghadapnya. Namjoon kemudian mendekatkan wajahnya ke selangkangan Jungkook dan mengusap bagian depan celananya dengan pipinya. Jungkook menggigit bibir bawahnya merasakan gesekan kecil yang Namjoon ciptakan. Pria itu kemudian mengecup ereksi Jungkook sebelum jarinya menarik turun celananya dalam satu tarikan. Penisnya berdiri tegak seolah bersemangat untuk mengenalkan diri ke Namjoon.

Namjoon mendekatkan wajahnya dan tersenyum menatap Jungkook. Hangat napasnya menggelitik kepala penis Jungkook yang sensitif. “Curang banget yang begini disimpen dari aku,” ujar Namjoon cemberut.

Jungkook baru akan menjawab godaan Namjoon sebelum lenguhan panjang keluar dari tenggorokannya akibat usapan lidah Namjoon di ujung penisnya. Entah karena sudah lama sejak terakhir kali penisnya disentuh selain oleh telapak tangannya, atau karena Namjoon yang terlalu lihai menyapukan lidahnya di seluruh batang penis Jungkook, dia merasakan nikmat yang luar biasa. Jungkook menjatuhkan badan ke atas kasur dan melebarkan kaki semakin liar aksi Namjoon di penisnya. Mulutnya tidak bisa berhenti mengulang kata enak dan lagi di antara desahan dan nama Namjoon.

Namjoon sendiri terlihat sangat menikmati permainannya sendiri di penis Jungkook. Aroma dan rasa Jungkook membuatnya semakin bersemangat menggerakkan kepalanya naik-turun dengan ujung lidah yang terus menggoda ujung penisnya. Bagian yang tidak dapat mulutnya raih diurut dengan tangan. Ukuran Jungkook yang cukup besar membuat mulutnya penuh. Meski begitu, Namjoon ingin menelan Jungkook lebih dalam. Dia ingin mendengar racauan Jungkook lebih banyak. Namjoon menahan napas dan mendorong kepalanya sampai ujung penis Jungkook menyentuh belakang tenggorokannya.

Sementara itu Jungkook melenguh panjang. Tangannya meremas sprei alih-alih mencengkram kepala Namjoon untuk membuatnya tetap di sana. Pinggulnya sedikit terangkat setiap kali Namjoon menarik kepalanya untuk mengambil napas. Jungkook merasakan orgasmenya mendekat. Dengan partner-partnernya terdahulu, Jungkook tidak pernah orgasme dari blow job dan sepertinya ini akan menjadi kali pertamanya.

“Hyu … uung,” panggil Jungkook berniat untuk mengingatkan Namjoon bahwa dia akan mencapai puncaknya sedikit lagi. Namun suaranya terputus akibat Namjoon yang lagi-lagi menelan penisnya.

Namjoon meraih jari Jungkook yang kemudian dia bawa ke belakang kepalanya. Jungkook mengangkat kepala untuk melihat Namjoon menarik kepalanya dari penisnya kemudian tersenyum ke arahnya. “ Use me, ” bisiknya.

Jungkook ragu pada awalnya. Bagaimana jika dia mendorong pinggulnya terlalu dalam dan menyakiti Namjoon—meski pria itu belum menunjukkan tanda-tanda tersedak sejak tadi. Namun melihat bagaimana panasnya Namjoon dengan wajah merah dan mulutnya basah oleh liurnya sendiri di depan penis Jungkook, membuatnya ingin mencoba hal itu—menggunakan tenggorokannya untuk kepuasan dirinya sendiri. Maka Jungkook meremas rambut sang pacar dan mendorong kepalanya turun, sementara dia mengangkat pinggul sehingga penisnya masuk lebih dalam. Hal itu dia lakukan berulang kali, tidak peduli beberapa kali Namjoon tersedak yang menciptakan sensasi baru di sekitar penisnya. Jungkook terlalu menikmati sensasi ini sampai rasa panas yang familier kembali muncul di perut bawahnya. Dia bahkan tidak sempat memberitahu Namjoon dia akan keluar sebentar lagi. Jungkook menekan kepala Namjoon lebih dalam saat penisnya memuntahkan isinya di tenggorokan Namjoon. Namjoon sendiri sempat kewalahan karena mulutnya yang penuh dan Jungkook yang terus menekan kepalanya sampai akhirnya dia dapat melepaskan Jungkook dari mulutnya. Akibatnya, beberapa tetes cairan Jungkook mengenai beberapa bagian wajahnya yang dengan senang hati dia ambil dengan jari dan masukkan kembali ke dalam mulut.

 

Dalam 26 tahun hidupnya, Jungkook memiliki pengalaman seks yang bisa dia banggakan di depan teman-temannya. Selain pengalaman kurang menyenangkan yang membuatnya kembali loyo tepat sebelum penetrasi, dia juga memiliki banyak pengalaman mencengangkan yang dia kira hanya akan terjadi sekali dengan partnernya sebelum Namjoon. Ternyata dia salah. Orgasmenya barusan adalah orgasme paling hebat dalam sejarah hidupnya sampai-sampai dia lupa posisinya saat ini. Saat kesadarannya perlahan kembali, Jungkook beranjak duduk. Matanya membesar melihat Namjoon masih duduk di depannya dengan wajah dipenuhi sperma, seketika teringat apa yang barusan dilakukannya.

Oh, God! Hyung!” Dengan cepat Jungkook mengambil beberapa lembar tisu dari atas nakas kemudian menyeka wajah Namjoon. “ Sorry! Aku tadi kelewatan, ya? Sakit, ya? Fuck! Sorry, Hyung. Aku harusnya bisa kontrol—”

Ucapan Jungkook terhenti karena Namjoon menarik tangannya sambil tersenyum. “Gapapa. Kamu enak,” ucapnya lalu menjilat setetes sperma yang masih tersisa di atas bibirnya.

Sial. Jungkook bisa merasakan darahnya mengalir kembali ke penisnya.

Jungkook menarik lelakinya untuk duduk di atas pahanya dan bibirnya menemukan milik Namjoon. Jungkook dapat sedikit merasakan dirinya di atas lidah Namjoon. Dia terus melesakkan lidahnya masuk sampai keduanya kehabisan napas. Namjoon kemudian beralih menciumi rahang dan leher Jungkook. Sementara itu, dua tangan Jungkook yang diletakkan di atas bokong Namjoon meremasnya ringan, memancing lenguhan tipis dari pria di atasnya. Dia lalu memberanikan diri untuk memasukkan tangannya ke dalam celana Namjoon dan meremas dua benda kenyal itu lebih kencang. Hal itu membuat Namjoon mengeluarkan suara indah yang tidak pernah Jungkook dengar sebelumnya.

“Sayang,” ucap Namjoon dengan nada meminta. Pinggulnya dia gerakkan maju-mundur untuk mendapatkan gesekan dari paha Jungkook.

Jungkook kemudian mengarahkan telunjuknya ke lubang masuk Namjoon. Usapan yang Jungkook lakukan untuk menggoda membuat pria itu menggeliat di atasnya. Napasnya terdengar berat. Dia ingin mendengar lebih. “Hyung, can I? ” tanyanya.

Namjoon mengangguk lalu turun dari pangkuan Jungkook untuk membuka seluruh pakaiannya. Seketika Jungkook menelan ludah menatap kulit yang tidak pernah terekspos sebelumnya untuk matanya. Jika paha Namjoon saja sudah sangat seksi, yang ada di pangkal pahanya membuat Jungkook berliur.

“Suka?” goda Namjoon mengedipkan sebelah mata.

“Banget,” jawab Jungkook cepat.

Namjoon tertawa gemas kemudian kembali duduk di atas Jungkook. “ All yours, ” ucapnya kemudian mencium Jungkook. Dia lalu mengambil tangan Jungkook yang tiga jarinya dia jilat dan masukkan ke dalam mulut, persis seperti yang dia lakukan pada penis Jungkook lima menit yang lalu. Melihat itu, penis Jungkook kembali berdiri tegak seolah siap kembali untuk melakukan tugasnya. Setelah Namjoon rasa jari Jungkook sudah cukup basah, dia mengarahkan tangan Jungkook ke bagian belakangnya.

Jungkook memulai dengan mengusap lubang itu dengan jarinya yang basah. Sebelum jarinya masuk, dia berbisik, “Bilang aku kalau sakit, ya?”

“Iya. Masukin, please.

Dengan hati-hati Jungkook memasukkan jari tengahnya yang berhasil masuk tanpa perlawanan sama sekali.

“Dua. Masukin dua,” pinta Namjoon.

Jungkook menurut dan memasukkan satu jari lagi ke dalam Namjoon. Dia menggeram merasakan pergerakan otot Namjoon menjepit jarinya yang bergerak keluar-masuk dengan tempo pelan. Tak lama Jungkook menaikkan temponya, beriringan dengan Namjoon yang ikut menggerakkan pinggulnya. Gerakan itu membuat penis telanjang mereka bergesekan satu sama lain, membuat keduanya merintih nikmat.

Tanpa aba-aba Namjoon meraih laci nakas dan mengeluarkan sebuah botol bening. Dia kemudian menuangkan cairannya ke penis mereka dan kembali menggoyangkan pinggulnya. Jungkook tidak pernah merasakan sensasi yang mendekati ini sebelumnya dan dia sangat menyukainya. Mendengar desahan Jungkook, Namjoon mempercepat gerakannya. Di saat yang sama, Jungkook memasukkan satu jari tambahan sehingga total tiga jari ada di dalam Namjoon sekarang.

“Aaahh … aaahh, Sayang. Enakh … enak bangeth … hmmm,” desah Namjoon. “Sayang, aku–ahh … aku mau dikontolin kamu.”

Astaga.

Berpuluh kali Jungkook memimpikan Namjoon dalam berbagai posisi memohon untuk digagahi. Di antara itu semua, tidak ada satu pun yang mendekati betapa seksinya Namjoon memohon di depannya sekarang seperti ini.

Namjoon dan mulut kotornya.

“Kondom!” seru Jungkook tiba-tiba. Pikirannya yang sudah ke sana kemari membuatnya tidak dapat berpikir jernih dan hanya kata itu yang berhasil dikeluarkannya. “Kondom, Hyung. Kamu punya kondom?”

Namjoon mengangguk. Dengan berat hati dia beranjak dari pangkuan Jungkook untuk mencari simpanan kondomnya. Setelahnya, dia memberikan beberapa bungkus untuk Jungkook dan berbaring di tengah kasur.

Jungkook menanggalkan sisa pakaian di tubuhnya kemudian mengenakan kondom di sekitar penisnya sambil menata pikiran. Hal yang selalu diimpikannya akan terwujud sebentar lagi. Meski begitu, Jungkook tidak dapat bohong bahwa dia sangat gugup. Bagaimana jika nanti dia menyakiti Namjoon? Bagaimana jika dia membuat Namjoon tidak nyaman? Bagaimana jika Namjoon tidak menyukai permainannya? Bagaimana jika dia tidak dapat memuaskan Namjoon sementara dia sangat menikmati apa yang Namjoon lakukan padanya tadi? Bagaimana jika Namjoon kecewa padanya?

Menyadari Jungkook yang sibuk dengan isi pikirannya sendiri, Namjoon bangun dan menariknya ke dalam pelukan.

Sorry, Hyung. Aku … aku grogi,” ujar Jungkook hampir berbisik. “Aku ga tahu harus apa.”

Namjoon menggosok punggungnya lembut untuk menenangkan yang lebih muda. “Gapapa. Aku bantu, kalau kamu masih mau?”

Jungkook mengangguk cepat. “Mau. Mau banget. Fuck, I dreamed about this every single night. Now it’s happening, and I don’t know what to do.

“Sayang, it’s just me, ” ujar Namjoon melepaskan pelukan agar dia bisa melihat wajah Jungkook. “Kasih tahu aku kamu ngebayangin apa biar kita mulai dari sana? Gimana?”

Wajah Jungkook seketika terasa panas. Ada banyak sekali fantasinya tentang pria di depannya ini dan semuanya sangat kotor sampai-sampai Jungkook khawatir Namjoon akan merasa jijik akan pikiran kotornya. Namun bagaimana pun, kekasihnya adalah Namjoon. Namjoon yang tidak pernah mengecilkan apa pun perasaan Jungkook dan membuatnya selalu merasa penting. Meski memalukan, mereka harus mulai dari sesuatu untuk dapat melanjutkan.

“Hyung, tiduran terus kakinya dilebarin,” ucap Jungkook kemudian.

Got it! ” jawab Namjoon mengangguk kemudian mengecup bibir Jungkook singkat. “Jangan khawatir. You’re in a good hands, ” lanjutnya sebelum memosisikan diri seperti yang Jungkook minta.

Jungkook kemudian berpindah ke depan Namjoon dan Namjoon membuka kakinya lebih lebar. Jungkook mengambil waktu untuk mengapresiasi setiap inci pria di depannya ini; dimulai dari kakinya yang panjang dan kencang, pahanya yang tebal dan empuk, perut dan dadanya yang dihiasi otot hasil kedisiplinannya latihan mengangkat beban, bahunya yang lebar, sampai ke wajahnya yang selalu terlihat teduh. Di detik itu, Jungkook tahu dia kembali jatuh cinta untuk yang ke sekian kalinya pada pria ini. Mungkin hal ini akan terdengar bodoh mengingat hubungan mereka yang masih seumur jagung, tapi Jungkook ingin hidup dengan pria ini sampai perutnya buncit dan rambutnya memutih. Pada saat itu pun Jungkook yakin Namjoon masih akan tampak sempurna di matanya.

Jungkook lalu mengangkat kaki Namjoon sampai pahanya menempel di dadanya. Pandangan Jungkook langsung tertuju pada lubang merah muda yang berkedut seolah menanti kehadirannya. Jungkook menggigit bibir. Bahkan pada saat Namjoon tidak melakukan apa pun seperti ini, dia sangat seksi. Jungkook menjilat bibir sebelum menunduk dan menyapa lubang itu dengan sapuan lidahnya.

“Aaahh!! J-jungkookie,” rintih Namjoon.

Jungkook melanjutkan gerakan lidahnya di sana dan sesekali memegang paha Namjoon yang berusaha menjepit kepalanya. Selain seksi, segala hal tentang Namjoon juga enak. Seperti bercumbu dengan bibirnya, bercumbu dengan yang ada di bawah sini juga tidak kalah menyenangkan.

“J-jungkookie … udah, please? M-masukin cepet.”

Dengan berat hati Jungkook menyudahi kegiatannya. Dia kembali duduk tegak, dengan penis mengarah lurus tepat ke lubang senggama Namjoon. Sambil menuangkan pelumas ke penisnya, Jungkook mendekatkan wajahnya ke Namjoon untuk mengecup dahinya. “Hyung, aku boleh masukin?”

Namjoon mengangguk.

“Kalau sakit bilang aku, ya.”

“Iya, Sayang. Now, please. ” Namjoon menekan pantat Jungkook turun menyebabkan penisnya mulai bergerak masuk. Mata Namjoon terpejam dan mulutnya terbuka. Ototnya yang harus meregang untuk mengakomodasi penetrasi Jungkook sedikit perih, tapi juga terasa sangat nikmat.

“Hhh Hyung … sakit?”

Namjoon menggeleng. “Enakh. Ssshhh, Sayang.”

Jungkook menggerakkan pinggulnya pelan sekali. Hangatnya tubuh Namjoon dan ketatnya jepitan ototnya pada penisnya membuatnya merasa kewalahan. Biasanya Jungkook cukup ahli dalam mengontrol diri agar dia tidak cepat-cepat mencapai orgasmenya. Namun untuk kali ini, tampaknya dia perlu usaha lebih agar tidak keluar tiba-tiba. Jungkook menyandarkan dahi di sebelah kepala Namjoon dan sesekali mengecup bahu telanjangnya.

“Hyung, is this okay? ” tanya Jungkook dan Namjoon mengangguk. “Aku cepetin, boleh?”

Yes, please, Baby. Fuck me like … ahh shit! Fuck me like you mean it.

Jungkook bangun kemudian menumpukan beratnya pada satu tangan sementara tangan lainnya meraih dagu Namjoon dan mengecup bibirnya. Pinggulnya kemudian bergerak semakin cepat. Namjoon yang kewalahan karena perubahan tempo harus melepas pagutan untuk mencari udara.

Yes! Ahh like that, Baby. Ah ah aahhh kontol kamu d-dalem banget.”

“Enak, Sayang?”

“Enakh … aahh! Enak banget.”

Jungkook menyeringai puas. Kepercayaan dirinya meningkat melihat Namjoon yang tidak dapat berhenti meracau tentang nikmatnya permainannya. Dia ingin melihat lebih. Ingin melihat pria itu lebih kacau karenanya. Dia kemudian duduk tegak untuk menggerakkan pinggulnya lebih leluasa. Dari posisinya kini, dia dapat melihat bagaimana indahnya Namjoon di bawahnya, memohon padanya untuk terus memuaskannya. Jungkook memegang kedua paha Namjoon lebar-lebar. Bisa dilihatnya bagaimana Namjoon menelan seluruh bagian dirinya. Suara tepukan dari pinggul mereka terdengar seperti alunan lagu yang Jungkook ingin dengar setiap hari.

“Aa-aahh … hahhh.. Hyungie.”

Siapa?

“Namjoon Hyung?”

“H-hyung!! Di … di sana! Aaaahhhh!!!”

Tubuh Namjoon mengejang dan bergetar. Dua tangannya meremas bantal di bawah kepala dan wajahnya berkerut dalam. Penisnya memuntahkan cairan putih ke perutnya sendiri. 

Cantik.  

Jungkook menganga. Dia sama sekali tidak berlebihan untuk mengatakan kekasihnya itu adalah orang paling indah yang pernah ditemuinya dan tidak akan ada yang akan dapat menandinginya.

 

“Jungkookie Hyung,” panggil Namjoon lemah setelah gelombang orgasme pertamanya terlewati. Jungkook menarik tubuhnya sehingga dia duduk di atas paha Jungkook lalu memeluknya.

“Kamu gapapa?” tanya Jungkook mengelus punggung Namjoon.

Namjoon mengangguk. Hidungnya menempel di ceruk leher Jungkook, membuat Jungkook sedikit geli setiap kali napasnya mengenai kulit. “Hyung, enak,” gumam Namjoon.

Dada Jungkook berdebar, dan itu bukan hanya karena apa yang sedang mereka lakukan. Dia tidak salah dengar, Namjoon memanggilnya dengan sebutan ‘Hyung’ padahal sebagai yang lebih muda, dialah yang seharusnya memanggil Namjoon demikian. Namun Jungkook tidak dapat protes. Namjoon menggemaskan seperti ini dan dia mungkin menyukai panggilan itu.

“Hyungie,” bisik Namjoon sambil membubuhkan ciuman pada leher Jungkook. “Mau lagi,” katanya.

Jungkook menggeram. Bagaimana bisa dia menolak saat Namjoon memintanya seperti itu? Diraihnya dagu Namjoon dan mencium bibirnya, selagi dia bergeser untuk bersandar di headboard . Ciumannya kemudian turun ke leher kekasihnya. Ingin sekali rasanya dia meninggalkan jejak di sana, sebagai pengingat untuk mereka berdua besok harinya. Namun Jungkook tidak yakin Namjoon akan menyukai hal itu, maka dia membatalkan niatnya. Dia bisa melakukannya lain kali jika Namjoon setuju.

Lain kali. Tentu saja akan ada lain kali.

Jungkook terus bergerak turun menciuminya sampai ke dada. Giginya menangkap puncak dada Namjoon yang kemudian dihisap dan digigitnya ringan. Di atasnya, Namjoon terus merintih sambil menggesekkan penisnya ke perut Jungkook. Kekasihnya sudah kembali ereksi dan Jungkook tidak sabar untuk kembali memasuki lubangnya.

Tampaknya Namjoon pun sama tidak sabarnya. Dia menarik Jungkook ke dalam ciuman selagi memosisikan diri tepat di atas penis Jungkook lalu menurunkan pantatnya. Posisi ini membuat Jungkook masuk lebih dalam—lebih dalam dibanding sebelumnya, dan mereka berdua mengeluarkan lenguhan panjang. Jungkook menempelkan dahinya pada Namjoon selagi pria itu perlahan bergerak mencari ritme yang tepat untuk mereka berdua.

“Hmm aahh Nam-nnhh-joonie,” rintih Jungkook saat Namjoon memutar pinggulnya, membuat penisnya terasa seperti disedot. Nikmat sekali. “Kontol akunya diapain–aahh, Sayang? Enak banget digituin.”

Namjoon tersenyum puas sambil kembali mengulang yang dilakukannya barusan. “Suka? Kalau ini—OH!!” Namjoon berteriak dan mencengkram bahu Jungkook kuat saat Jungkook mendorongnya dari bawah. Sepertinya Jungkook menemukan prostatnya—dinilai dari respon yang ditunjukkannya barusan. Tanpa ragu, Jungkook mendorong penisnya tepat di titik yang sama berulang kali sampai dia dapat merasakan Namjoon kembali bergetar dan orgasme untuk yang kedua kalinya. Jungkook membiarkan kekasihnya menikmati puncaknya sambil terus memeluknya sampai dia tenang.

 

Butuh waktu sedikit lama dari yang sebelumnya sampai Namjoon melalui gelombang orgasmenya. Selagi menunggu, Jungkook dengan sabar menyeka dahi Namjoon yang basah dan menyimpan rambutnya di belakang telinga. Dia menggunakan waktu itu untuk sekali lagi memuja Namjoon diam-diam. Dia ingin mengingat betapa indahnya ekspresi Namjoon saat ini dalam memori terdalamnya.

“Hyung?” panggil Namjoon lemah. “Kamu belum?”

Oh. Jungkook hampir lupa dengan ereksinya yang masih berdiri tegak di dalam pria itu. Dia menggeleng sebagai jawaban. “Kamu masih kuat? Apa udah cape?”

Namjoon menggeleng. “ I’m okay.

Jungkook mengecup bibirnya sekali kemudian membaringkan Namjoon ke atas kasur. Dugaannya, dia tidak jauh dari puncaknya dan dia tidak ingin berlama-lama karena tidak ingin prianya kelelahan. Jungkook mengangkat satu kaki Namjoon dan mendorong pinggulnya cepat. Namjoon yang masih di dalam pengaruh orgasmenya mencengkramnya semakin kuat semakin cepat penetrasi yang Jungkook lakukan. Beberapa dorongan kemudian Jungkook mencapai orgasmenya. Nama Namjoon terus keluar dari mulutnya seperti mantra. Tubuhnya yang lemas kemudian jatuh ke atas tubuh Namjoon yang menyambutnya dengan pelukan. 

 

No, ” protes Namjoon saat pria di pelukannya itu berusaha untuk melepaskan diri dari pelukannya. Namjoon menyilangkan kaki di belakang Jungkook agar pria itu tidak ke mana-mana. “ Few more minutes, ” ucapnya cemberut.

Jungkook tersenyum lalu mengecup hidungnya gemas. “Akunya bangun lagi nanti,” ujarnya sambil tertawa.

“Ya gapapa. Emang ga mau ngewein aku lagi?”

Jungkook tertawa. Tentu saja dia mau. Bagaimana dia bisa menolak jika seks barusan adalah hal paling luar biasa dalam hidupnya? Gemas, Jungkook mengecup dahi Namjoon lalu berkata, “Kamunya udah ngantuk gini,” ucapnya melihat gurat lelah dari mata Namjoon. “ I’ll fuck you good tomorrow, too, ” bisik Jungkook di telinga kekasihnya.

Berat hati Namjoon melepaskan kaitan kakinya dan kemudian Jungkook menarik penisnya keluar. Dengan sigap Jungkook mengambil tisu untuk membersihkan Namjoon dari bekas sperma dan pelumas. Setelahnya, dilepasnya kondomnya dan mengikatnya sebelum membuang semua itu di tempat sampah.

“Kamu keluar banyak banget,” ujar Namjoon melihat cairan Jungkook di dalam kondom.

Jungkook menaikkan bahu. “Kamu, sih, kelewat seksi.”

Namjoon seketika memerah dan tidak mengatakan apa-apa sampai Jungkook kembali berbaring di sebelahnya. Dia beringsut mendekat dan menatap Jungkook penuh harap. “Jadi gimana?” tanyanya.

“Boleh lah,” jawab Jungkook bercanda, yang membuatnya mendapatkan pukulan di lengan. “Bercanda, Sayang. Enak. Enak banget. Harusnya aku ngobrol sama kamu dari dulu, ya.”

Namjoon tersenyum lebar. “Terus enakan aku apa mantan kamu?” godanya.

“Kamu, lah,” jawab Jungkook sungguh-sungguh.

Namjoon tersenyum puas kemudian menyandarkan kepalanya di atas dada Jungkook, berniat menjadikannya bantal untuknya malam ini. Jungkook membelai kepalanya sampai rasa kantuk mulai menguasainya.

“Jadi, hyung kink, huh?

Seketika Namjoon membuka mata. Takut-takut dia memutar kepala, tapi tidak berani menatap Jungkook di matanya. “ Sorry. Got carried away. Aneh, ya?” tanya Namjoon menunduk. Hal itu sudah menjadi kebiasaan untuknya dan terkadang dia lupa tidak semua orang menyukai itu, dan mungkin Jungkook pun tidak.

Nope. I find it hot, ” jawab Jungkook. Saat Namjoon mengangkat wajah dan menatapnya, Jungkook melanjutkan, “ Do it again next time.

Semburat merah di pipi Namjoon adalah satu lagi hal indah yang Jungkook puja malam ini.

 

***

 

Jungkook membuka mata perlahan. Sinar matahari yang masuk ke matanya sedikit mengganggu dan membuatnya harus memejamkan mata beberapa kali sampai matanya terbiasa dengan cahaya. Menyadari di mana dia sekarang, senyumnya mengembang. Memori tentang tadi malam kembali memasuki ingatannya. Dia lalu memutar tubuhnya dan melihat Namjoon masih terlelap. Tadi malam, mereka memutuskan untuk mandi berdua dan satu sesi saling mengocok penis masing-masing pun tak dapat terelakkan. Jungkook menghadiahi Namjoon dengan bekas gigitan di beberapa bagian lehernya setelah Namjoon mengizinkannya. Bekas gigitan itu sekarang berubah sedikit keunguan, menghiasi leher Namjoon dengan begitu indahnya. Jungkook bergerak mendekat dan menciumi wajah pacarnya berulang kali sampai dia terbangun dengan cemberut.

“Lima menit, Kook,” protesnya.

No. Udah siang, Sayang,” ucap Jungkook terus menciumi Namjoon.

Akhirnya Namjoon menyerah dan menatap Jungkook tajam. “Akunya masih cape,” ucapnya cemberut.

“Yang ngide mandi bareng siapa, hayo?” Jungkook tertawa saat Namjoon mendorong tubuhnya menjauh. Dia kemudian kembali mendekatkan wajahnya ke telinga Namjoon. “Namjoonie,” bisiknya. Satu tangannya bergerak menuruni tubuh sang kekasih. “Hyung pengen kontolin kamu lagi.”

Namjoon terbelalak dan menelan ludah. Dia sudah membangunkan sesuatu dari diri Jungkook dan tampaknya dia adalah satu-satunya orang yang harus bertanggung jawab.

Notes:

I'm off writing smut for the next 3 working days.

Series this work belongs to: