Actions

Work Header

Ekshibisi

Summary:

Memang hanya Wriothesley satu-satunya orang yang membuatnya merasa 'cukup'.

Notes:

Ini adalah commission untuk @piyoritxt, mantap mmg.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Mengerang. Kalau bukan karena lengan yang menimpa pinggang adalah milik kekasihnya, sudah bakal Lyney dorong jauh-jauh. Berat!

Ngulet, tarik nafas panjang sampai tangan terangkat tinggi. Lyney bakal melakukan kegiatan paginya seperti biasa—menangkup, kecup-kecup gemas seluruh wajah Wriothesley sambil membangunkan kekasihnya—kalau pergerakannya tidak langsung terhenti karena rasa penuh di bawah sana.

Dia masih diisi penis…

Semalam mereka bertemu setelah seminggu sibuk. Dari makan malam singkat, berakhir Lyney nangis berisik karena menunggangi kelamin kekasihnya. Kangen— kangen dibuat acak-acakan sampai ngompol.

Meraba perut bawah, pubis, labia, sampai bibir vaginanya yang terbuka karena menampung kejantanan Wriothesley. Dia bersih. Tidak ada semen yang meluber karena kepenuhan.

Gemas. Pacarnya pasti bersihin badannya.

Dia cuma ingat terakhir squirt banyak karena klitorisnya dicubit-cubit terus selama Wrio menyetubuhi dari belakang. Pipinya dicium, pinggulnya ditarik turun untuk menelan kejantanan kekasihnya sampai pangkal ketika dia diisi semen.

Habis itu pingsan.

Luar biasa.

Bikin heran karena kalau ditarik mundur ke masa lalunya, Lyney masih tidak bisa menduga sekarang dia bisa merasa ‘cukup’ hanya dengan Wriothesley. 

Semisal dirinya sekarang bertemu dengan dirinya satu tahun lalu, yakin! 100% yakin! Lyney tahun lalu bakal syok bisa puas dengan satu pria. Tidak lagi kangen ‘ditelanjangi’ banyak mata.

 

Kan! Jadi ingat-ingat masa lalu.

Tapi ugh… 

Dia dulu cukup liar juga, ya…

 

.


.

 

Sebenarnya tidak tahu kapan ini di mulai…

Padahal ada masa Lyney mendelik galak setiap ada pengunjung cabul yang colek-colek di pertunjukan sulap bersama saudara perempuannya. Tidak segan panggil penjaga buat menangkap orang yang coba-coba cari kesempatan untuk ‘masuk’ ke dalam celananya.

Jijik!

Pertanyaan soal berapa yang harus dikeluarkan untuk menghabiskan malam dengan dia. Pertanyaan apakah Lyney pernah melakukannya dengan laki-laki. Pertanyaan tentang pengalaman seksnya.

Semua pengunjung yang bertanya tidak senonoh dia laporkan, dilarang datang lagi! Pokoknya galak!



Tapi semenjak Lyney kehilangan keperawanannya pertama kali… mungkin dari sini dia berubah.

Seks itu enak.

Dia mulai paham kenapa pengunjung-pengunjung itu penasaran. Mencari celah untuk tahu apakah dia juga buka ‘servis’ di belakang panggung. Karena dia pun sama!

Terutama setiap ada pendatang tampan sesuai tipenya mengajak ngobrol usai acara. Mulutnya bicara manis, membahas hal-hal trivial. Sementara matanya jelalatan. Memperkirakan ukuran kelamin pria di hadapannya. Memikirkan bagaimana jika pria itu membayang di atasnya. Buka kedua kakinya lebar sambil memaksa penis gemuk merojok vaginanya. Sampai celana dalamnya basah dan dinding vaginanya berkedut.

Protes keras karena dibiarkan kosong dan tidak ada penis yang bisa dia jepit-jepit.

 

Pusing! Pertama kali Lyney merasakan frustasi karena seks!

Bikin dia kecanduan masturbasi. Turunin celana, gesek-gesek vulva di ujung meja. Merapatkan paha, cubit-cubit klitoris setiap ada kesempatan. Sampai malam-malam menangis karena tidak puas menekan tiga jari menggaruk dinding vagina. 

 

Butuh— dia butuh diisi penis!

 

Maka saat ada pengunjung menghampirinya usai pertunjukan terakhir mereka di musim gugur. Mencari kesempatan, menanyakan apakah Lyney menawarkan ‘sulap’ di atas ranjang,

untuk pertama kali Lyney mengangguk cepat.

 

.

 

Seks pertama dengan pengunjungnya berakhir luar biasa.

Walaupun pria tua itu bukan tipenya. Bahkan agak jelek dan tambun, tapi ukurannya lebih besar dari pria pertama yang mengisinya. Lyney sampai gemetar saat vaginanya yang sudah penuh semen lagi-lagi disuapi penis.

 

Kemudian setelah itu dimulailah ‘pentas’ kecilnya di belakang panggung.

 

Dari satu kemudian dua. Orang-orang itu membawa kenalan atau orang penting untuk merasakan ‘pertunjukan’nya. Tidak pernah terpikir akan ada hari dia menaiki kejantanan bangsawan penting Fontaine.

Lyney yang awalnya kaku pun diajari berbagai macam. Diikat, diminta bersandiwara seperti dominatrix, diperlakukan seperti anjing manis, diminta bertelur mainan seks bulat, menaiki dua penis sekaligus, bermain di ruang terbuka, menari telanjang dan dimandikan mani, ah— banyak!

 

Sekarang dia seperti ahli seks.

Sampai jadi gosip umum kalau di balik layar Lyney menjual diri. 

 

‘Pertunjukan’ terakhirnya terjadi setahun yang lalu. Satu bulan sebelum bertemu dengan Wriothesley. Lyney melompat keluar dari kotak yang ada di tengah-tengah penonton sulapnya setelah menampilkan sulap menghilang.

Tepuk riuh penonton dan dia yang buru-buru berlari ke atas panggung, menggandeng tangan saudarinya untuk memberikan salam membungkuk, “Lyney dan Lynette! Kami undur diri, terima kasih atas kedatangannya. Sampai jumpa di pertunjukan musim depan!”

Adiknya menoleh. Di tengah ramai tepuk tangan dan beberapa pengunjung yang keluar, bisik-bisik bertanya, “Lyney habis ini ikut perayaan dengan kru?”

“Ah, tidak dulu. Masih ada yang harus aku kerjakan.” terengah, mengatur nafas. Lyney memberikan lambaian tangan terakhir sebelum berjalan ke panggung belakang.

“Di musim tur sebelumnya tidak ikut penutupan dengan kru. Sekarang tidak ikut lagi.” protes. Mengekor di belakang Lyney, Lynette tidak tahu apa yang saudaranya lakukan. Banyak gosip tidak benar di belakang sana yang membuatnya menekuk alis bingung. Setidaknya dia berharap ada penjelasan dari Lyney!

Hanya saja usapan di kepala dan senyum saudaranya membuat Lynette mengalah, “Terserah.”

 

...

 

Sedih? Mungkin sedikit. Karena sepertinya Lynette menantikan acara penutupan pertunjukan mereka musim ini.

Tapi— tapi Lyney tidak bisa berbuat banyak karena penutupan pertunjukan mereka ada di hari Jumat. Hari di mana dia melakukan ‘show’ pribadi rutin yang sudah punya 16 pengunjung tetap. Tidak mau ‘pelanggan-pelanggannya’ kecewa.

 

Rasanya dia baru masuk ruangan rahasia mereka saat pinggulnya diraih. Kecupan di pipi dan ucapan selamat untuk pertunjukan musim ini. 

“Saya bawa anggota baru. Dia sepupu jauh, anak dari pemilik tambang, Lyney.”

Kalau cuma dengar dari obrolan, tidak ada yang mencurigakan. Seperti omongan santai saja. Hanya saja tidak ada obrolan biasa dengan lawan bicara menanggalkan pakaiannya satu persatu.

 

Lyney basah.

Baru ada tangan yang menarik atasannya lepas, kepalanya sudah memikirkan hal-hal yang akan terjadi beberapa jam kedepan. Tangan-tangan yang curi kesempatan menyelip di bawah ketiaknya. Mengusap punggung, pinggul, dada. Iseng menekan pusarnya. Mencubit gemas kedua puting yang masih sembunyi biar mengacung keras. 

“Kamu harus perlihatkan sulap menghilangkan benda seperti tadi di panggung ke anggota baru, Lyney.”

Oh— ya… anggota baru. Lyney terlanjur terlena saat pria di sebelah kirinya masukkan tangan ke dalam celana. Memijat pubisnya yang bersih. Sudah dia cukur mulus untuk pertunjukan malam ini.

Jari kasar yang mengusap belahan kemaluannya. Menggosok labia yang banjir. Lalu menunjukan jari yang berlumur cairan bening ke pelanggan lain. Memperlihatkan seberapa Lyney sudah tidak sabar vaginanya dilecehkan.

 

Tapi dia keburu didorong oleh tangan lain. Mendekati orang yang baru pertama kali dia lihat hari ini. 

Masih muda. Mungkin sekitar 20 tahun. Berdiri canggung di sisi ruangan melihat Lyney dikerumuni pria-pria tua hidung belang yang raba sana-sini.

Lyney menjulurkan tangan, meraih pemuda itu mendekat. Menyampirkan helai rambutnya ke belakang telinga, “Tuan— duduk di sini,” menunjuk ujung kasur yang masih rapih.

Lyney merangkak.
Mengerling genit menatap anggota baru yang wajahnya merah, gugup. Tidak peduli tangan-tangan cabul yang melucuti celana, membuat dia telanjang bulat.

Dia mau menunjukan sulap terbaiknya.

 

Sulap menghilangkan penis dengan satu lahapan.

 

Pemuda itu punya penis yang langsing. Kurus. Tapi panjang. Lyney menahan agar tidak tersedak saat menelan dalam-dalam. Sampai hidungnya menekan pubis anggota baru, lalu buat gerakan seolah sedang menelan. 

“Lihat kucing kecil ini. Cuma hisap kelamin saja langsung banjir.”

“Cairan vaginanya sampai menggenang di lantai. Seminggu tidak dikawinin ya begini.”

Buru-buru menaikkan pinggulnya. Cari perhatian, bawa satu tangan ke belakang, menarik labianya ke samping. Pamer lubang kecil yang berkedut-kedut mengalirkan cairan pelumas.

“Jangan ada yang sentuh. Kita lihat berapa lama dia tahan tidak diisi penis.”

 

Baru… baru Lyney mau mengeong protes! Tidak suka dibiarkan kosong. Mulutnya keburu diisi cairan panas. Kental.

Huh? Pemuda ini sudah klimaks?

“Hahaha! Anggota baru langsung ejakulasi. Baru pertama kali merasakan penisnya diemut.”

Lyney melepeh kelamin di mulut, mau menanyakan keadaan klien barunya. Tapi pria-pria lain sudah tidak sabar. Membaringkan dia di atas ranjang dengan kaki menekuk ke dada. Terbuka lebar.

“Kalau vaginanya gak boleh disentuh, aku mau coba analnya dulu. Minggu lalu tidak kebagian.”

“Langsung masukkan saja. Pelacur ini pasti sudah menyiapkan semua lubangnya.”

Memutar pandangannya, ah— ada 7 orang dari 16 langganannya yang hadir hari ini. Dibilang sedikit juga tidak bisa. Tapi cukup menjelaskan bahwa dia akan sibuk digilir.

Tidak ada waktu buat mengkhawatirkan anggota baru…

 

Karena setelahnya ada kelamin gemuk menyumpal anal dan mulutnya. Sementara dua tangannya dibuat sibuk mengocok penis.

Empat orang sekaligus menyentuhnya. Dan— oh! OOH! yang kelima datang.

Lyney mengerang. Buat pria di atasnya memegang belakang kepalanya. Merojok penis ke dalam mulut makin dalam. Suka getaran yang membuat hampir klimaks.

Tapi Lyney tidak bisa menahan diri karena orang yang menyentuhnya sekarang membuka bibir kemaluannya. Mencungkil gemas klitorisnya.

“Anak baru, sini. Jilat.”

Lalu bibir tebal bergerak kaku menggesek klitorisnya. Menghisap-hisap kecil, menjepit dengan bibir.

 

Enak… tapi di saat bersamaan Lyney tidak bisa mengabaikan rasa tidak nyaman karena vaginanya diabaikan.

Gatal— tidak nyaman! Mau, mau digaruk. Mau diisi penuh! 

Melepas genggaman pada penis, Lyney membawa tangan turun. Mengucek mulut vaginanya. Tidak sabaran.

Dia baru mau masukkan tiga jari sekaligus, saat putingnya tiba-tiba ditarik kencang. Sakit!

“Nakal sekali,” tangannya ditarik menjauh. Meninggalkan lubangnya berkedut-kedut cari perhatian, “Anggota baru, menyingkir.”

Hisapan di klitorisnya hilang. Namun selanjutnya,

“HNGG!!!” Kalau mulutnya tidak tersumpal, Lyney bakal menjerit kencang.

 

Vulvanya ditampar.

“Tampar dia lagi. Anusnya langsung menjepit.” 

 

Lalu tidak berhenti. Dari satu sampai lima, kemudian sepuluh tamparan. Lyney gemetar. Sakit… Sakit tapi enak.

“Hari ini jangan ada yang pakai vaginanya. Kasih anak bandel ini pelajaran.”

Ah— ah, jangan! Jangan!!!

 

.

 

Bahkan sampai anus dan mulutnya dipakai bergiliran, tidak ada satupun yang menyentuh kemaluannya.

Lyney frustasi! 

Menjulurkan lidah untuk menunjukan dia sudah menelan semua sperma yang dibuang ke mulut, pinggulnya bergerak gelisah.

Takut-takut menyelipkan dua jari ke vulvanya. Melebarkan labia, mempertontonkan klitorisnya yang keras dan lubang vagina yang kelewatan banjir.

“Tuan— tuan belum pakai Lyney di sini…”

“Loh, hari ini tidak ada yang mau pakai vaginamu.”

Merengek kencang, melihat bergantian pria-pria yang mengelilinginya dengan sayu. Lyney sampai mengangkat-turunkan pinggul seolah bersetubuh dengan angin, “Tuaaan!!! Pakai Lyney di sini!”

“Aaah— tuan, ayo, ayo pake Lyney! Mau, mau penis!” Bahkan sampai geser-geser. Coba meraih kelamin pria tua di sampingnya, mau mengarahkan masuk.

“Tuan, gatal… mau penis!” Merengeknya makin kencang karena diabaikan.

Apa dia harus menangis meraung-raung dulu?! Lyney sudah tidak tahan. Kemaluannya yang merah karena ditampari sudah dia pertontonkan. Cairan vaginanya yang sedari tadi menetes, mengalir sampai anusnya juga diabaikan. Malah dipakai sebagai pelumas anal.

Dia harus apa lagi?!

 

“Coba minta yang betul.”

 

Minta yang betul? Minta yang bagaimana?!

Lyney memutar pandangan. Melihat ke arah pria tambun yang barusan bicara. Melirik ke bawah, penis pria itu sudah keras. Mengacung menantangnya. Membuat Lyney kesal karena kemaluannya yang haus langsung menjepit-jepit. Membayangkan diisi sampai mentok.

Berbalik badan. Merangkak mendekat. Lyney mengusap pipi pada penis yang keras seperti anak kucing. Lidahnya terjulur, menjilat-jilat perut, dada, leher, rahang, sampai pipi sang tuan. Dia berganti posisi menjadi duduk di pinggir ranjang, mengecupi wajah sang tuan.

Mendekap pria tua itu, kakinya dibuka lebih lebar. Dia tekan-tekan pinggulnya maju. Buat penis yang keras menyundul-nyundul selangkangannya.

“Tuan— memek Lyney… mau diisi. Mau diisi penis, diisi semen, mau dihamili. Mau punya anak dari tuan,” o-oh, pria itu tidak menghindarinya seperti tadi. Buat ujung penis menggosok lipatan labianya. Menggoda bibir vaginanya, “Lyney masukkan ya, tu—“

 

Belum selesai bicara, tubuhnya kembali didorong berbaring. Dan dalam satu hentakan, dia diisi penuh.

“HNGG— ngg…”

Lyney orgasme.
Orgasme hanya karena diisi penis.

 

.

 

Tidak tau… Lyney sudah tidak ingat ini penis keberapa yang masuk ke dalam vaginanya. Dia loncat-loncat dengan dada membusung. Menggosok putingnya ke bibir pria-pria yang sepertinya sepakat untuk mengerjai tubuhnya lebih lama lagi.

Karena dari tadi dia dibiarkan mengeong-ngeong cari perhatian. Memohon seperti orang mabuk penis. Digoda, dikerjain habis-habisan.

Menekan dalam-dalam ketika klimaksnya sudah dekat. Lyney memutar pinggul, membuat penis di dalam mengaduk dinding yang sensitif. Penis di dalamnya panjang. Menekan enak mulut rahimnya.

Menjepit kuat, Lyney orgasme.

“Saya belum keluar, manis.”

“S-sebentar, tuan…” mengabaikan klimaksnya, Lyney memijat kelamin di dalamnya. Teknik yang dia pelajari lama, namun selalu jadi andalan karena setiap orang selalu bilang pijatan vaginanya seperti lubang lapar. Menghisap-hisap, seperti mulut yang sedang menyusu.

Kemudian tinggal menunggu detik sampai ada cairan panas mengisinya lagi.

Namun belum semua semen keluar, ada tangan yang menyelip di bawah ketiak. Menariknya lepas dari penis yang masih menyemburkan sperma.

Ada bunyi ‘plop’ ketika kejantanan itu tertarik. Vaginanya menganga. Cairan putih di dalamnya mengalir seperti Lyney kencing mani.

“Woah, dia tidak hamil diisi sperma sebanyak ini?”

“Ah, paling itu yang dia mau.”

Pria-pria yang menunggu giliran atau sudah dapat jatah asik ngobrol. Menjadikan dia sebagai tontonan diantara diskusi. Seperti pertemuan bisnis dengan pelacur kecil sebagai hiburan.

 

Lyney dibaringkan, dan vaginanya kembali disuapi penis.

“Ah, sudah longgar begini.”

“Sini coba kalau aku ikut.”

Gemetar. Lyney tiba-tiba diminta kembali naik ke pangkuan dan kembali berjongkok. Tapi kali ini dia jongkok di atas dua penis keras yang ditempel—disatukan. Dia yang sedari tadi mabuk nikmat, langsung tersadar karena…

karena sekarang dua orang ini ingin memasukkan dua penis langsung ke dalam vaginanya.

Dia tidak pernah satu lubang langsung dimasuki dua begini! Terutama saat yang satu gemuk dan yang satu panjang. Membayangkan dia dibuat longgar sekaligus ditusuk dalam-dalam, membuat vaginanya menjepit udara kosong.

Takut… tapi penasaran.

“Lyney, turunkan pinggulmu.”

“Wah, kalau dua langsung masuk, habis ini dia gak bisa puas dengan penis kecil lagi.” Malah penetrasi ganda ini jadi topik menyenangkan. Pria-pria yang tadi sibuk berbincang, kembali menjadikannya tontonan utama. Membahas vaginanya seolah itu hal umum.

“Kita harus merekrut lebih banyak orang. Biar kucing kecil itu bisa puas.”

“Oh, selanjutnya kita cek berapa lama Lyney bisa tahan disetubuhi sampai pingsan.”

Tawa menggema, sementara Lyney merasakan bulu kuduknya berdiri. Tangan di pinggulnya menuntun dia turun.

 

Menelan dua penis sekaligus…

 

Penuh, penuh, penuh, penuh. Pinggulnya dipaksa turun, melahap habis dua kejantanan, dan…

“OH! Ini pertama kali aku lihat dia squirt.”

Mulut vaginanya terasa perih ketika dipaksa melonggar. Tapi bersamaan dinding kemaluannya ditekan begitu enak.

Lyney orgasme. Deras.
Dan dia tidak ingin kehilangan rasa nikmat itu.

Sebagai penunggang penis handal, tidak ada jeda.

“Ah! Ahh— enak… ngg… Lyney suka… Tuan,
pakai Lyney sampai puas!”

 

.

Lyney terbaring. Lelah. Puas, penuh.

 

Sayang sekali kegiatan mingguannya harus tertunda, karena setelah ini gilirannya mendapat misi dari House of the Hearth. Tempat yang menaungi dia dan saudara-saudaranya. 

Ah pekerjaan merepotkan.

Kalau bisa memilih, dia sepertinya lebih betah di sini. Di ruangan lendirnya. Disuapi mani sampai perutnya kembung.

Mengerang. Ngantuk sekali, tapi dia harus mandi dan pulang sebelum besok pagi Lynette bertanya-tanya.

 

Tapi, eh— Loh, anggota baru masih belum pulang. Mungkin bisa dia naiki sekali lagi. Yum!

 

.


.

 

Fortress of Meropide.

 

Konyol memang. Sengaja mencuri dompet agar bisa masuk ke benteng ini. Tapi mau bagaimana? Dia dapat tugas untuk mengulik peneliti yang masuk penjara karena melakukan percobaan gila. Mencari tahu apa dia bisa mendapatkan hasil-hasil penelitian sang peneliti yang sudah dibakar oleh pengadilan karena terlalu berbahaya.

 

Investigasinya baru mau dimulai setelah membiasakan diri dengan penjara bawah tanah ini saat makan siang pundaknya ditoel. Menoleh, bingung. Dia tidak kenal dengan dua orang ini. Untuk apa mendatanginya, “Kenapa?”

“Setelah makan siang, kepala administrator minta kamu ke ruangan.”

Buat apa?! Rasanya dua minggu ini dia mengikuti peraturan dengan baik.

Kalau begini kan jadi tidak nafsu makan. Kerjaannya belum mulai, sudah berurusan dengan orang yang paling merepotkan di sini. Menyelesaikan makan siangnya, sekarang saja lah. Biar jelas.



Belum sempat bicara, baru kakinya melangkah, Lyney sudah diajukan pertanyaan aneh.

“Saya dengar kamu beberapa kali beli peralatan bersih-bersih dan buku bacaan?”

Menyerngit. Tidak mengerti. Dipanggil menghadap hanya karena hal sepele begini? Tidak masuk akal, “Iya. Memang kenapa?”

“Lyney. Menurut laporan belum ada 2 minggu sejak kamu di sini. Dari catatan harian, kamu hanya pernah ikut kerja lapangan 6 kali. Setelah itu tidak ada catatan lain.”

Oke… terus? Walau menyukai Wriothesley yang memulai obrolan langsung pada intinya—tanpa basa-basi panjang—Lyney masih tidak menemukan kejanggalan sampai sini. Dia mengikuti semua aturan dengan baik. Tidak ada aturan yang bilang tiap hari harus ikut kerja lapangan. Lalu ap—

 

“Bukankah aneh? Seharusnya kupon yang kamu miliki belum cukup untuk beli itu semua.”

 

—sial. Mati kutu. 

Sebelum masuk Meropide, rekannya yang pernah menjalankan misi serupa memberikan beberapa kupon. Katanya ini alat tukar pengganti mora. Dia tidak pikir panjang, langsung membeli peralatan yang dirasanya perlu untuk memulai investigasi.

Tidak tahu kalau pihak administrator juga akan mengecek barang-barang yang tahanannya beli.

Tidak bisa menjawab. Lebih tepatnya Lyney sedang memikirkan alasan.

Tapi pria di hadapannya keburu bicara sembarangan yang membuat dia mengatup mulut. Kesal.

 

“Aku dengar kamu punya pertunjukan ‘sulap’ yang spektakuler.” Buat tangannya mengutip pada kata sulap. Wriothesley tersenyum. Memastikan arti ucapannya sampai pada Lyney, “Apa kamu melakukan pertunjukan yang sama di sini juga?” 

“Apa maksud anda…” galak. Dia jadi waspada ketika administrator itu berjalan mendekat dan pasang wajah sok yang bikin tangannya gatal. Ingin pukuli.

“Tidak ada. Hanya mau tahu dari mana kamu dapat kupon-kupon itu.”

“Apa saya melanggar peraturan kalau mendapatkan kupon dari orang lain, Wriothesley?”

 

Oh lihat! Kucing itu marah dan mulai pakai bahasa formal.

 

“Tidak. Tidak ada yang melarang,” tawanya menyebalkan. Wriothesley melipat tangan, bicara lugas, “Hanya penasaran apa kamu menukar tubuhmu untuk kupon-kupon itu?”

“Brengsek!” Kalau di hadapannya bukan orang penting di sini, Lyney sudah melempar pukulan. Selama ini walau banyak gosip beredar tentang kegiatan sulap di balik layarnya, tidak ada yang benar-benar bisa mengkonfirmasi. Hanya ke-16 orang—sekarang 17— itu saja yang tahu! Dan rasanya tidak ada seorangpun yang punya hubungan dengan administrator Meropide, “Bukan urusanmu!”

Lyney tidak akan sekalipun mencampur urusan lendirnya dengan pekerjaan dari House of Hearth. Menyebalkan sekali ditodong pernyataan keliru begini.

“Oh, berarti benar.”

“Tidak! Dan— ugh, selama tidak melanggar aturan, saya tidak ada kewajiban menjawab!”

“Buktinya kau tidak melakukan bisnis kotormu itu di sini, apa?”

Sialan. Semakin pria itu bicara, semakin buat dia kesal. Lebih baik dia pergi saja. Tidak ada gunanya berdebat dengan orang kurang kerjaan seperti ini.

 

Namun pada akhirnya Lyney benar-benar melemparkan pukulannya ketika dia balik badan—mau pergi, tapi dengan kurang ajar Wriothesley mendekap pinggulnya. Menyelipkan satu tangan masuk ke dalam celana. Menyelipkan jari di antara lipatan kemaluannya.

“Oh, ya. Kering. Setidaknya bukti hari ini kamu tidak menjajankan tubuhmu.”

“Bajingan!”

Pukulannya ditangkis. Tapi Lyney menyerang Wriothesley dengan tangannya yang lain.

Berhasil! Setidaknya dia melemparkan tamparan di wajah yang sedari tadi membuatnya kesal.

 

Hanya saja setelah itu Wriothesley pakai ukuran tubuh mereka yang berbeda sebagai keuntungan. Membalik Lyney sampai separuh tubuh menelungkup di atas meja. Menggenggam kedua lengan yang dia tarik ke belakang dengan satu tangan, sementara tangannya yang lain menurunkan celana pemuda itu.

Ada siulan ketika dia berhasil melihat selangkangan Lyney. Wriothesley tidak bisa melihat mulut vagina atau klitoris Lyney. Labia pemuda itu gemuk. Menutup semuanya.

Baru terlihat saat dia mencubit bibir kemaluan Lyney kesamping. Mempertontonkan lubang yang tiba-tiba berkedut. Menjepit kencang seolah tidak mau dalamnya terlihat.

“Gosip soal ‘kucing’ kecilmu di bawah sini ternyata benar. Sudah dipakai beratus kali pun, akan selalu kembali sempit.” Menekan jempolnya masuk. Menarik bibir vagina Lyney kesamping. Mau lihat bagaimana kalau lubang itu terbuka.

“LEPASKAN AKU!”

“Akan saya lepaskan sebentar lagi. Sementara biar saya coba dulu.”

 

Lyney bisa merasakan punggungnya bergidik saat merasakan ada benda tumpul mengusap belahan vulvanya. Menggesek klitorisnya lama.

Buru-buru menoleh!

Betapa dia ingin menjerit ketika melihat Wriothesley mengeluarkan penis pria itu. Menggosok ujung kejantanan ke titik sensitifnya.

“Lihat,” menyelipkan ujung penisnya ke celah di belakang klitoris Lyney, “Lubang kencingmu dan lubang kencing saya ciuman.”

“Sialan! Lepas! Aku gak mau!”

“Kamu bukannya selalu menerima berbagai macam pelanggan? Sekali dengan saya tidak akan berpengaruh.”

“Tidak sudi! Lepas! Kalau tidak lepas, aku teriak!”

Mendengus. Ditantang begitu, Wriothesley malah menekan ujung penisnya ke mulut vagina Lyney. Mengusap pre-cumnya di sana, sebelum akhirnya menekan masuk.

Pelan.
Menikmati dinding yang menjepitnya kuat-kuat, seolah berusaha mendorong kelaminnya keluar. Pinggulnya bergerak maju, maju, maju, sampai—

“Loh, sudah mentok. Hanya segini saja?” ada sedikit sisa penisnya yang belum masuk, “Saya kira kamu pelacur handal. Masa tidak bisa penis yang sedikit lebih besar?”

Brengsek! Lyney… Lyney hampir teriak untuk membuktikan ucapannya tadi. Hanya saja bibirnya mendadak kelu saat dipenetrasi.

Besar…
TAPI INI BESAR YANG TIDAK MASUK AKAL!

Dinding vaginanya sudah menolak habis-habisan ditusuk lebih dalam. Tapi Wriothesley seperti tidak paham! Sudah tidak bisa masuk lagi! Kepala penis itu mendorong mulut rahimnya. Sakit… Ngilu…

“L-lepas—”

“Sudah loyo?” 

Pergelangan tangannya berhenti digenggam. Tapi Lyney merasa kedua kakinya lemas, tidak ada tenaga. Semua fokusnya berpindah ke kemaluannya yang menolak diiisi penis sebesar kelamin sumpter beast!

 

Hanya saja Wriothesley lebih mementingkan urusan kelamin dari pada dirinya yang merintih!

Lyney diperkosa! Pinggulnya diremas, dipaksa bergerak sesuai irama pria itu menghentak penisnya.

 

“Pada akhirnya pelacur tetaplah pelacur,” menarik penisnya keluar, Wriothesley melihat kejantanannya terbalur cairan pelumas alami, “Kalau sudah diisi penis, ya langsung lupa diri.”

APANYA?! Lyney sedari tadi hanya bisa mengerang karena vaginanya penuh! Tidak nyaman. Tidak punya tenaga melawan!

 

Mana perlu waktu yang lama sampai kejantanan di dalamnya klimaks… itupun! setelah menghantam mulut rahimnya kuat-kuat. Membuat perut bawahnya ngilu.

“Oh… wow,” refleks menjepit Lyney membuatnya melihat mulut vagina yang lebih muda sampai tertarik keluar. Seolah melarang penisnya pergi, “Sebegitu senangnya saya isi?”

Tubuhnya menggigil. Menahan ngilu dan marah. Lyney dibalikkan, dan selangkangannya diusap seadanya pakai tisu. Celananya dipakaikan kembali dan seolah tidak ada apa-apa, Wriothesley menepuk pinggulnya.

“Sudah, sana kembali.”

MARAH! Dengan sisa tenaganya, Lyney menggigit lengan administrator cabul itu! Keras, sampai berdarah.

“SIAL! PANTASNYA KAMU YANG MASUK PENJARA, PEMERKOSA BAJINGAN!”



.

.

 

Sial, sial, SIAL, SIAL!!!

Sejak hari itu— SEJAK HARI ITU, Wriothesley selalu cari cara buat mengakses tubuhnya.

 

Minggu lalu dia sedang perjalanan kembali ke kamar saat tangannya ditarik masuk ke lorong sempit. Pakaiannya dilucuti dan dibuat menaiki penis pria itu.

Lalu sehari setelahnya sok-sok memanggil beberapa orang (termasuk dia) ke ruangan untuk menanyakan mesin yang rusak, padahal Lyney tidak ada di shift yang sama dengan orang-orang yang mematahkan alat itu! Hanya untuk setelahnya menyuruh yang lain pergi dan dia tetap tinggal untuk kembali disetubuhi.

Ada juga malam-malam Wriothesley dengan kurang ajar masuk ke kamar pribadinya, ikut masuk dalam selimut, lalu menuntut semalaman penuh Lyney menghangatkan penisnya dengan dinding vagina yang lembut. Membuat keesokan harinya Lyney berjalan dengan aneh karena selangkangannya ngilu.

 

Hari ini pun sama!

Lyney baru selesai dengan pekerjaan lapangan. Hari ini dia membantu menyiapkan makan siang, sampai tiba-tiba Wriothesley menarik pinggulnya melipir.

Dengan kurang ajar menarik turun celananya. Menekuk satu kaki Lyney naik ke atas kursi, sementara tangannya mengusap-usap celah kemaluan yang basah.

“Spermaku yang tadi pagi belum kamu bersihkan.”

“Pikirkan saja sendiri kapan aku sempat bersihkan itu semua karena kamu tiba-tiba menarik aku ke samping sebelum bekerja lapangan! Sial. Lihat saja keluar dari tempat ini, aku akan menuntutmu ke pengadilan karena tindak pencabulan!”

Lalu seperti tidak mendengar protesnya, Wriothesley kembali mempenetrasinya. Menekan dalam penis sialan yang selalu membuat selangkangannya kelu.

Lyney memukul pundak Wriothesley, “Sial! Pelan-pelan, sakit!”

“Sudah saya setubuhi setiap hari masih saja sakit. Kapan kamu bakal bertingkah seperti lonte yang memohon-mohon untuk saya penetrasi?”

“Aku bukan lonte!”

“Oh ya? Lalu pertunjukan ‘Jumat malam’ itu untuk apa? Acara minum teh?”

Lyney tidak menjawab. Mencengkram lengan Wriothesley saat pria itu menekan penis sampai pangkal.

Iya— iya dia sekarang sudah bisa menelan itu semua. Rasanya seperti mulut rahimnya dipaksa membuka untuk menerima kejantanan sebesar itu!

“Saya keluar.”

Dan lagi-lagi Lyney diisi semen.

 

Wriothesley menarik penisnya keluar. Menyukai Lyney terengah, mengerang panjang setiap dia mengeluarkan kejantanannya.

Lalu vagina itu akan terbuka. Dia bisa melihat spermanya tertampung dengan baik. Dia hanya perlu memijat sedikit bagian mulut vagina Lyney dan… hup! pemuda itu langsung menjepit lubangnya. Sedikit merembes keluar, namun sisanya tertelan dengan baik.

Pakaikan kembali pakaian yang lebih muda, lalu membayangkan seharian penuh Lyney menyimpan semen di dalamnya sampai malam.

 

“Besok tidak usah kerja lapangan. Ke ruangan saya, ada kerjaan lain yang harus kamu lakukan.”

 

.

 

TAPI— TAPI KERJAAN APA YANG MEMBUAT LYNEY SEHARIAN PENUH DIJADIKAN PENGHANGAT PENIS?!

 

Lyney dibuat mabuk. Seharian dipakai seperti toilet.

 

Tadi pagi dia sempat ngamuk karena permintaan konyol Wriothesley yang bilang hari ini akan ada pengecekan catatan, laporan, dan stok bahan yang memang dilakukan secara berkala. Pria itu akan duduk seharian, memeriksa semua dokumen. Dan ketika Lyney bertanya, “Lalu aku ngapain di sini?”

Pria itu dengan gampangnya menunjuk ke arah selangkangan, “Hangatkan saya.”

 

Dia hampir berhasil lari kalau saja celananya tidak dicuri. Bagian bawah tubuhnya dibuat telanjang, dia dinaikkan ke atas pangkuan, dan vaginanya disuapi penis. Disuruh duduk diam di sana.

 

Beberapa kali melawan. Menggigit pundak, leher, lengan Wriothesley. Tapi pada akhirnya selalu kalah kala pria itu di sela sibuk menggerakan tubuhnya naik-turun dan Lyney diisi semen lagi.

Sekarang kepalanya hanya bisa terkulai lemas. Mendekap Wriothesley dengan tangan gemetar, “Capek…”

“Dari tadi cuma diam, masa capek?”

MARAH! Lyney gigit kencang pundak Wriothesley, meninggalkan bekas gigitan lain. Tapi respon yang didapat malah tawa kencang!

Bulu kuduknya berdiri ketika Wriothesley menyelipkan tangan, mengusap punggungnya. Mengikuti jalur tulang belakang, sampai tulang ekor. Satu bokongnya digenggam, dicubit gemas. Buat Lyney sekali lagi mengerang perih karena vaginanya yang kelu otomatis menjepit.

“Capek— perutku sakit. Penuh.” Merengek. Rasanya kembung. Semen di dalamnya tidak punya celah buat keluar karena… KARENA DIA TERLALU PENUH! Lyney bisa merasakan bibir vaginanya meregang maksimal setiap harus menelan kelamin orang sialan ini!

“Padahal sudah puluhan kali, tapi masih belum terbiasa juga?” Helaian rambut Lyney yang basah, lepek, disisir ke belakang. Mengecup sisi wajah orang yang menarik perhatiannya beberapa minggu belakangan, Wriothesley sebenarnya sudah selesai dengan pekerjaannya sejak satu jam yang lalu. Sedari tadi hanya sok-sok membolak-balik kertas, minum teh, menunggu penisnya yang layu karena habis muncrat untuk kembali keras.

“Mana mungkin aku bisa terbiasa! Penis gemuk sialan!”

“Bukannya kamu suka yang besar?”

“TIDAK SEBESAR INI! Dan tidak selama ini juga!”
Selama ini paling banter sesi bersetubuh ramai-ramainya paling cuma makan waktu 3-4 jam. 5 jam paling maksimal itupun karena yang hadir cukup banyak. Dan Lyney melakukan itu semua hanya satu kali dalam seminggu!

Sekarang? Vaginanya kayak pasien sakit. Harus disuapi obat (penis) sehari tiga kali. Sudah begitu, Wriothesley selalu cari kesempatan buat pakai dia sebagai ‘penghangat’ seperti ini. Selangkangannya capek! Capek mengangkang, capek diisi!

Mana— mana kadang dia tidak ada waktu buat bersih-bersih semen di dalamnya. Seharian pakai celana dalam penuh semen, berjalan dengan rasa becek yang membuatnya terus-menerus merapatkan paha. Menjepit biar tidak ada gumpalan sperma yang keluar lagi sebelum dia sempat ke toilet.

 

Rasanya seperti 24 jam diingatkan dengan pria yang ‘mengisi’nya.

 

“Saya pikir setelah setahun menjadi pelacur keliling, kamu sudah ahli,” malah sekarang pria itu mendorong tubuhnya bersandar ke pinggir meja. Satu-satunya kain yang tersisa disingkap keatas, mempertontonkan dua puting kecil yang masih sembunyi malu-malu. Wriothesley meraba sisi pinggul, naik ke dada. Mencubit bergantian pentil Lyney. Dicungkil pakai kuku, sampai mengacung keras.

“Berhenti panggil aku pelacur!”

“Memang salah?”

“Ugh… ah! Jangan digigit!” Buru-buru menutup kedua dadanya. Sakit… Lyney bisa lihat puting kirinya sampai merah.

Tapi malah satu tangannya disuruh minggir, sekarang gantian puting kanannya, “Jawab dulu, memang salah? Kamu kan memang pelacur. Pecun, lonte, perek, apa lagi ya… jalang?”

“Stop!”

Bukannya berhenti, Wriothesley membenamkan wajah di tengah dada Lyney. Menghirup wangi sabun yang bercampur keringat. Kemudian naik ke leher, pipi, dan, “Cium, sini.”

Mengalihkan wajah, “Gak mau!”

“Masa pelanggan boleh cium, saya gak boleh?”

Bisa tidak sih pria ini berhenti membahas kegiatan lainnya?! Dengan langganannya, dia memang mau. Tapi dengan pria ini?

“Kalau gak boleh cium, saya kencingin.”

“B-brengsek!”

Entah dari mana tenaga itu muncul. Lyney meronta, menumpu tangan di pundak Wriothesley, mau kabur!

 

Tapi bagaimana kabur kalau belum sempat penis di dalamnya sepenuhnya keluar, dia kembali dipaksa duduk. Dipaksa kembali menelan batang itu sampai pangkal. Sampai klitorisnya menggesek rambut pubis yang kasar.

Lyney diangkat. Dibaringkan di atas meja. Kedua kaki ditekuk sampai dada, mempertontonkan kemaluan yang sudah bengkak, merah merona.

Wriothesley menarik penisnya keluar sampai separuh. Menyukai bibir vagina sempit yang ikut tertarik seolah tidak rela. Melihat kejantanannya yang banjir cairan pelumas, lalu kembali menyetubuhi Lyney dalam-dalam.

 

Sampai perut bawah pemuda itu menonjol. Ujung penisnya tercetak.
Seksi.

 

“Angh! Engga, udah… Wriothesley! Aku gak bisa, gak bisa lagi—”

“Iya, sebentar lagi, Lyney. Setelah ini istirahat.”

 

Memang betul, sesi seks yang sekarang tidak lama. Tidak sampai satu menit, Lyney merasakan semburan baru. Tapi,

“A-apa itu…” menatap horor ke tautan kelamin mereka berdua, Lyney melihat Wriothesley bergerak malas-malas, menikmati sisa-sisa ejakulasinya…

sambil kencing.

Gemetar, Lyney memegang perutnya yang sakit. Panas, penuh. Rasa tidak nyaman yang membuatnya menjepit kuat penis di dalamnya.

“Salahkan vaginamu yang sedot-sedot seperti vakum. Kan jadinya saya gak tahan pengen pipis.”

Pakai sisa tenaganya, Lyney menendang kuat dada Wriothesley. Memaksa lepas persetubuhan keduanya.

Menatap ngeri ke arah vaginanya yang terbuka lebar, menyemburkan semen yang bercampur urin. Merasakan gumpalan-gumpalan cairan kental meleleh keluar.

Rasanya aneh… aneh… aneh… Dinding kemaluannya berkedut-kedut tidak nyaman berusaha memompa keluar cairan di dalamnya.

Tapi enak…

 

“Wow, dari tadi menyangkal dipanggil pelacur. Tapi orang normal mana yang klimaks hanya karena ini?”

Lyney tidak bisa menahan emosinya. Detik diledek orgasme karena pipis semen dari kemaluannya, langsung nangis kenceng.

Buat Wriothesley terbahak, menggendong pemuda yang tersedu-sedu sambil memegangi selangkangan yang ngilu.

Memandikan Lyney, membawa pemuda itu ke kamarnya. Dan,

 

ah, mungkin bisa dipakai buat hangatkan penisnya lagi.




.

.

.

 

Habis dipakai secara tidak wajar, Satu minggu. Satu minggu penuh Wriothesley tiba-tiba mengabaikannya. Entah apa yang ada di kepala orang sialan itu. Setelah pakai tubuhnya sesuka hati, sudah bosan langsung dibuang.

Beberapa kali bertemu, pria itu hanya menyapanya seolah tidak ada satu bulan penuh vaginanya diisi semen administrator bajingan itu!

Benci!

Dia juga benci dengan tubuhnya yang otomatis langsung memproduksi banyak cairan pelumas setiap Wriothesley lewat. Benci terbiasa disetubuhi di mana-mana, sampai otaknya terprogram untuk selalu siap dipakai sebagai sarung penis.

 

Terlalu sibuk dengan pikirannya, Lyney tersentak kaget saat ada yang menyentuh tangannya.

“Lyney…”

Melotot kaget. Mendapati orang dari House of Heart masuk ke kamarnya, “Kenapa kamu di sini?!”

“Misimu dibatalkan. Ketua marah karena tidak ada perkembangan dan sebentar lagi masa hukumanmu selesai. Aku yang ambil alih.”

Tertegun. Terlalu sibuk dengan Wriothesley, sampai lupa pekerjaannya! Haah, “Baiklah…”

 

ARGH WRIOTHESLEEY SIALAN!

 

.

 

“Tumben. Ada apa tiba-tiba sampai begini?”

“BERISIK! Diam!”

“Loh, mana bisa saya tidak penasaran. Kamu datang, tiba-tiba langsung naikin saya seperti ini.”

 

Ugh… ini semua karena Lyney sudah sampai batasnya! Frustasi kerjaan, frustasi cara menghadap ke ketua nanti, dan frustasi seksual!

Ambil langkah duluan, datang ke kantor administrator. Tidak peduli Wriothesley tersenyum puas melihatnya menghampiri. Lyney butuh dinding vaginanya yang gatal karena terlalu lama kosong untuk digosok, melepas frustasi!

Menelanjangkan diri, menarik turun bagian depan celana Wriothesley, menepuk-nepuk penis yang masih layu ke vulvanya. Menjepit batang gemuk itu di antara labia, menggesek-gesek belahan kelaminnya sampai cairan pelumasnya melumuri kejantanan Wriothesley.

Lalu mengarahkan kepala penis ke bibir vagina,

kemudian duduk. Duduk manis.
Menelan habis sampai pangkal. Membuat dinding vaginanya menjepit kuat. Senang— senang diisi penuh.

“Nggh… haah—”

“Lihat wajahmu. Hanya karena dimasukan penis, sampai mabuk seperti ini.”

“Diam!”

Selama ini dia selalu dipakai sesuka hati, sekarang gantian! Membuang jauh semua rasa bencinya, sekarang fokus cari pelampiasan saja!

 

“Kamu kangen, ya?”

Tapi mau fokus cari enak sendiri, kalau diajak bicara yang nyebelin begini, mana tahan untuk diam dan mengabaikan! Jelas bakal dia tolak keras, “GAK!”

Bikin Wriothesley tertawa kencang, mendekap pinggul Lyney. Merapatkan tubuh keduanya, “Lyney, jadi milikku.”

Apaan ini?! Sudah diabaikan seminggu setelah sebulan penuh dia dipakai sesuka hati, sekarang tiba-tiba ngomong hal tidak jelas begini! “Ugh, tidak mau!”

“Tidak ada penolakan. Kamu milikku,” mengeratkan pelukan, usap-usap wajah di dada ‘kekasih’ barunya. Bikin Lyney kesaaaaal!

 

Berengsek! Mana ada ajakan pacaran sejelek ini?!

 

“Saya penasaran, kalau tidak saya hampiri, kamu bakal datang ke saya atau tidak. Ternyata datang.”

“Terus apa hubungannya?!” Kok jadi ngobrol begini?! Dia kesini mau pakai Wriothesley! Mau ngewe, mau loncat-loncat melepas frustasi. Malah kena stress baru!

“Itu tandanya perasaan saya tidak cuma bertepuk sebelah tangan.”

“KESIMPULAN BODOH MACAM APA INI!?”

 

Lyney jambak rambut Wriothesley kesal.
AAAA! Dia botakin saja pria ini!!!

 

.

.

.




Ah kalau ingat masa-masa awal mereka pacaran…

Masih jelas di kepalanya Wriothesley yang datang mengamuk saat Lyney hanya menganggap pernyataan perasaan hari itu tidak serius. Keluar dari Meropide, dia tidak lagi mau memikirkan pria freak yang pakai tubuhnya sesuka hati.

Kembali fokus menyiapkan pertunjukan untuk turnya, setelah gagal menjalankan misi.

Hari itu dia mau kembali melakukan ‘sulap’ di belakang panggung kalau Wriothesley tidak tiba-tiba datang, menculiknya, marah besar. Ngotot bilang kalau mereka sudah punya hubungan dan Lyney tidak boleh melakukan itu lagi!

Pertengkaran panjang yang berakhir Lyney ikut terbawa emosi, mengatakan pertemuan mereka selama sebulan yang isinya cuma dirinya dipakai sesuka hati, tidak akan bikin dia cinta!

Membuat Wriothesley terdiam, tidak melawan. Kalah.

 

TAPI MALAH HABIS ITU SETIAP JUMAT PRIA ITU DATANG KE PERTUNJUKANNYA! Menculik Lyney setelah acara sulap—

tapi kali ini bukan untuk disetubuhi.

Diajak kencan.

 

Sialnya dia luluh.



“Sedang memikirkan apa, sayang?”

Tersentak, Lyney mendongak. Menatap kekasihnya yang menarik satu kakinya buat melingkar di pinggul. Meraup bokongnya, memperbaiki posisi…

posisi penis di dalamnya sayang separuh keluar, untuk kembali masuk dalam-dalam.

“Ah, Wrio—”

“Dari tadi kamu aku lihat gigit bibir, sedang membayangkan apa?”

“Bu-bukan apa-apa, sayang— ngg, kenapa… kenapa dilepas?”

Karena setelah dicolok dalam-dalam, penis di dalamnya ditarik keluar. Lyney tidak suka… tiba-tiba dibuat kosong begini. Tangannya meraih kebawah, mau ambil kejantanan kekasihnya. Mau, mau disuapi ke dalam vaginanya lagi.

Tapi belum sempat dia masukkan, jari Wriothesley yang kasar malah membelah lipatan vulvanya. Memijat labia yang gemuk. Memainkan jari menggosok klitori, mencelupkan telunjuk hanya untuk menarik bibir vaginanya. Menggaruk mulut lubangnya seolah mau meraup sesuatu.

Kemudian Lyney dipertontonkan jemari yang kelewatan basah. Cairan lubrikasinya…

“Bukan apa-apa, tapi kenapa bisa sampai banjir seperti ini?” Sudah menggosok vulvanya seenak hati, Lyney sekarang dipertontonkan kekasihnya membaluri penis dengan cairan lubrikasinya.

Seksi… Mengocok kejantanan yang membuatnya tidak bisa berpaling. Mengelupas kulup yang menutup kepala penis, Wriothesley mempertontonkan glandsnya yang seperti jamur. Selalu enak menggaruk dinding vagina Lyney.

“Kamu dari tadi bengong, jepit-jepit kontol, goyang-goyang pinggul kayak belum puas semalem aku buat pingsan.” Lalu pinggulnya ditarik buat merubah posisi.

Lyney di atas, berlutut.

Disuguhkan kejantanan yang membuat dia ngiler.

“Sini, naikin aku kalau belum puas.”

Lyney? Jangan ditanya.

Dia sudah dengan senang hati menggengam penis Wriothesley, mengarahkan ujung kejantanan itu mengucek bibir vaginanya. Lalu menyuapi lubang yang haus itu dengan kelamin kesukaannya.

 

Sial… baru kepalanya saja sudah seenak ini…

Memutar pinggul, buat ujung kejantanan Wriothesley mengaduk lubangnya. Menggoda. Menunggu kekasihnya minta dia untuk menelan habis kejantanan pria itu.

 

Tapi apa daya, belum sempat bicara, Lyney keburu dibuat menjerit ketika rantai kecil yang menghubungkan kedua putingnya ditarik. Memaksanya langsung terduduk. Membuat ujung kejantanan di dalam menghajar tepat di mulut rahimnya.

Enak— sakit… tapi enak.

Vaginanya menjepit kuat. Tidak tahan.

Pagi itu Lyney hanya perlu diisi penis untuk bisa menyemburkan cairan bening. Squirt .

 

“Haah— hauh… Wrio!” Protes pun tidak didengar. Malah posisi tubuhnya diganti. Dibuat berbaring, dibuat mengangkang lebar. Siap pakai.

“Padahal sudah lama sejak ini dipasang,” menyentil putingnya yang dipasangi piercing, “Tapi masih saja sensitif.”

 

Iya. Detik dia mengiyakan ajakan berpacaran dari pria itu, untuk pertama kali setelah Wriothesley memulai pendekatannya yang serius, mereka bersetubuh.

Persetubuhan paling gila karena Lyney menahan keinginan seksnya cukup lama, sampai tubuhnya jadi kelewatan sensitif. Tidak tahu berapa banyak dia orgasme sampai ngompol, sampai tidak ada lagi cairan yang bisa keluar.

Lalu klimaks terhebatnya adalah saat Wriothesley dengan sadis mengawali status baru mereka dengan memasang tindikan di putingnya. Menandakan Lyney miliknya. Menjadikan daerah yang selama ini tidak pernah dipikirkannya—karena dia tidak terlalu merasakan enak ketika putingnya dimainkan—menjadi berlipat kali sensitif.

Sampai kekasihnya mengejek putingnya sama sensitif seperti klitorisnya. Cuma perlu dicubit-cubit sedikit, langsung orgasme.

 

“S-stop! Jangan tarik putingku!”

“Kenapa?”

“Aku mau ngompol!”

Habis gimana?! Dari tadi rantai piercingnya ditarik-tarik bersamaan mulut rahimnya dikecup-kecup pakai kepala penis. Lyney sudah berkali-kali orgasme. Menjepit kuat kejantanan kekasihnya, berharap Wriothesley klimaks dan mereka bisa memulai kegiatan hari ini tanpa capek karena kalau dilanjutkan terus, semua energinya bakal habis cuma buat bersetubuh pagi ini!!!

“Ngompol saja. Kamu bukannya suka kencingin aku?”

“Wriothesley!”

Tapi bukannya mendengar dia, malah ditambah klitorisnya dicubit. Kalau begini kan—

 

“Nggh! A-aaah! Aku pipis! Aku pipiss!!!”

 

Lagi pipis pun, tetap saja disetubuhi! Wriothesley menarik labianya ke samping, menonton lubang kencing kekasihnya yang berkedut setiap semburan urin keluar.

Seksi.

 

Lyney lemas. Dia… dia gak kuat lagi.

Tapi—tapi kok malah dia dibuat menungging? KOK DIA DISETUBUHI LAGI?!

 

“Wrio, k-kita habis ini kerja…”

“Sebentar sayang, aku belum keluar.”

“NUNGGU KAMU KELUAR, KAPAN SELESAINYA?!”

 

Tertawa kencang. Mendekap kekasihnya yang menangis minta udahan, Wriothesley mengecup leher, pundak, belikat. Mengucapkan sayang berulang-ulang.

“Lyney, sayangku, pelacur kecilku…
Nanti selesainya. Tunggu sampai aku hamilin kamu.”

 

Lyney cuma bisa menjerit.

 

— WKWKWK, dah!

 


 

EKSTRA:

 

“Kamu harus kerja!” Lyney galak. Tangannya mengepal erat, menjambak Wriothesley yang… YANG SEENAKNYA SAJA NEMPOK DI DADANYA KAYAK CICAK. Cari kesempatan, bilang:

“Sakit ya putingmu. Sini aku kompres.”

habis rantai di putingnya ditarik-tarik sesuka hati.

 

Tapi kompres apaan kalau pakai mulut?!

 

Rantainya dicopot. Lalu bibir kekasihnya seperti ikan, buka tutup mencari putingnya dan langsung hap begitu saja. Emut-emut. Sambil dadanya yang satu lagi dipijit.

Ini aftercare paling jelek, bintang 1! Bukannya cepat-cepan memandikannya, siap-siap berangkat, malah cari alasan buat lebih lama bermanja-manja di kasur. Mengusal dadanya, berganti ke puting yang lain untuk dijilati, dimasukan mulut sampai basah, diemut pelan.

 

Butuh setidaknya Lyney ngomel lebih panjang lagi sampai akhirnya Wriothesley melepas mulutnya, lalu merengek seperti anak kecil, “Aku masih kangen sama kamu. Seminggu kemarin kita berdua sibuk.”

Kalau sedang berdua begini, sudah tidak ada kekasihnya yang sok ganteng seperti awal-awal mereka bertemu. Hobinya melendot manja, super clingy, bahkan bertingkah konyol biar dia tertawa.

“Hari ini kalau latihanku dan Lynette selesai lebih awal, aku mampir ke Meropide,” mengusap rambut Wriothesley. Memijat pelan kulit kepala kekasihnya.

Tubuhnya dipeluk erat sekali lagi, sampai akhirnya Wriothesley bangkit dari ranjang, “Baiklah. Aku tunggu.” balas menyisir helai rambut Lyney, dia menunduk. Meninggalkan kecupan di dahi, “Aku beres-beres dulu, setelah ini kamu aku mandikan.”

 

Tapi baru selangkah menjauh dari ranjang, ada tangan yang menggenggam pergelangannya. Menoleh, lihat kekasihnya bingung, “Kenapa, sayang?”

“Ciumnya cuma di dahi?”

 

Ah… gemasnya.

Wriothesley tertawa. Meraup wajah Lyney dalam tangkupannya. Mengecup satu-satu dari dahi, mata, hidung, lalu bibir. Berulang kali sampai kekasihnya tertawa manis.

 

“Hehe, sudah! Kita mandi bareng aja sekarang.”

Sekali lagi, mencium bibir Lyney, Wriothesley menempelkan dahi keduanya. Merasakan nafas dan kekehan yang ia sukai, “Aku sayang kamu.”

“Aku juga. Sayangku, Wriothesley…”

— NGUENG.

Notes:

Terima kasih banyak untuk Piyori yang sudah commis! Ak baru menyelami pairing ini dan YUUUM!!
Jangan lupa kunjungi twitter aku.