Chapter Text
::
Manhattan Sins
There is No Tomorrow
(Hongjoong x Seonghwa)
:
.
Tahun 1973.
Jika saja, jika saja pada hari itu, Hongjoong tak membantu Seonghwa untuk membunuh ayahnya yang menyiksa dirinya sejak remaja, mereka takkan berakhir seperti ini. Hongjoong dan Seonghwa takkan berakhir, menjadi tinggal di jalanan, menjarah untuk tetap bertahan hidup, dan menjalani sisa kehidupan mereka menjadi pasangan kriminal yang fenomenal. Terus berlari tanpa henti, lantaran jika mereka berhenti, kehidupan akan berakhir.
Sebelumnya, Hongjoong hanya seorang laki-laki pengantar susu biasa. Sebagai seorang anak tunggal yang membantu peternakan keluarganya, dirinya terbiasa untuk membantu orang tua dengan mengantar susu ke rumah-rumah langganannya--walau tak ingin. Benar-benar tak ingin melakukannya.
Salah satunya adalah milik Seonghwa.
Sehingga Hongjoong tahu persis, bagaimana penderitaan Seonghwa bertahun-tahun lamanya. Menerima susu darinya, di depan pintu, dalam keadaan berdarah, dan penuh luka. Lalu dari arah dalam, terdengar suara teriakan kembali, untuk membuatnya segera masuk ke dalam, dan menjadi pelampiasan dari pecutan ikat pinggang sang ayah.
Hongjoong yakin luka yang Seonghwa miliki bukan hanya di fisiknya, namun juga di hatinya.
Maka di satu hari, di umur mereka yang sebaya sudah menginjak 21 tahun, Hongjoong menawarkan sebuah kematian sekaligus kehidupan.
Kematian dari penderitaan Seonghwa.
Dan kehidupan baru untuknya.
Tanpa keraguan, Hongjoong yang sudah menjadi teman bicara singkatnya sejak umur 15 tahun, segera diterima olehnya.
Hongjoong dan Seonghwa merencanakan pembunuhan, dan tereksekusi secara lancar.
Sekarang, umur mereka genap berada di 25.
Empat tahun, berkeliling untuk tetap berada sepuluh langkah lebih jauh, dari pada realita yang menyiksa.
Jangan bertanya apakah keduanya bahagia atau tidak.
Dalam baluran darah mereka yang tak berdosa, yang kini menjadi pelampiasan keduanya atas kemarahan pada dunia, mereka bahagia. Pusat dalam pikiran mereka adalah kebahagiaan diri, bukan penderitaan orang lain.
Sekalipun Hongjoong tak benar-benar memiliki dendam pada dunia, tetapi jika Seonghwa merasakannya, maka ya; Hongjoong juga merasakannya.
Lagi pula, keduanya hanya bertahan hidup, seperti makhluk hidup pada umumnya.
Jikalau diharuskan untuk membunuh, akan dilakukan oleh Hongjoong dan Seonghwa bersama.
Semalam, cukup intens terjadi.
Perampokan pada sebuah minimarket yang Hongjoong dan Seonghwa lakukan nyaris gagal, lantaran polisi tak jauh untuk mengejar mereka. Butuh luka sebagai pengorbanan, untuk bisa lepas dan melarikan diri. Jadi, mungkin sudah 12 jam, Hongjoong mengemudikan mobil tanpa henti, agar keduanya masih bisa tetap bernapas, walau mungkin takkan ada hari esok.
Hingga mencapai antah berantah.
Dengan mobil yang sudah menemani keduanya, sejak curian di tahun awal, Hongjoong dan Seonghwa.
Mungkin harus segera berubah.
Ketika menepi di hamparan luas penuh dengan tanah dan debu, Seonghwa mengarahkan Hongjoong melewati pagar pembatas dekat dengan tower tak terpakai lagi--melihat sudah banyak bagian patah dari besinya. Menabrak garis pembatas, untuk masuk, karena Seonghwa melihat sesuatu.
"Ada campervan." katanya, cemas, melirik sang penyelamat sekaligus belahan hatinya sekarang. "Mungkin tak ada penghuninya. Jikalau ada, tinggal kita bunuh."
Hongjoong menoleh dengan kekehan tertahan.
Selagi Seonghwa mengulurkan tangannya dari samping kemudi, untuk mengacak surai dari kekasihnya tersebut. "Aku hanya memikirkanmu--kamu butuh istirahat. Sudah berapa lama kita berkendara, hm? Dalam keadaan seperti ini, kita tak bisa pergi ke motel, jadi campervan akan membantu."
"Apapun yang kamu bilang." Hongjoong berakhir dengan tersenyum, dan menerima sebuah kecupan di pipi, turun ke lehernya dari Seonghwa sambil masih mengemudikan mobilnya.
Perlahan, seraya melambat, Hongjoong pun menghentikan lajunya, dan memutar pandangan untuk melihat sekitar yang gersang. Kosong, tak ada apapun. Benar-benar seperti ditinggalkan.
Tak disangka, Seonghwa keluar lebih dahulu, sambil memastikan bahwa dia membawa pistolnya. Satu dari sekian yang mereka miliki, untuk melindungi diri sendiri, selain senjata tajam lainnya.
Hongjoong tersenyum sambil mematikan mesin mobil, ikut keluar, dan merasakan terpaan hawa panas di siang menuju sore hari tersebut. Ketika berhenti berkendara seperti ini, barulah terasa lelah menyerangnya. Benar yang Seonghwa katakan, Hongjoong memang membutuhkan istirahatnya.
Di sana, Seonghwa masuk terlebih dahulu ke dalam campervan, selagi Hongjoong memperhatikan bekas perapian, yang tampaknya sudah ditinggalkan sejak beberapa hari lalu. Terdapat dua sofa bekas buangan juga, sebagai tempat untuk duduk bersantai. Mungkin memang tempat ini ditinggalkan.
Hongjoong tak masalah jika Seonghwa masuk lebih dahulu.
Hidup bersama dalam kegilaan, setelah empat tahun ini, sudah bisa membuat Seonghwa bisa menjaga dirinya sendiri.
Melawan, tepatnya.
Melawan monster di dalam dirinya, hasil pembentukan dari ayah kasarnya.
Jadi Hongjoong hanya bersikap biasa, saat mengikuti Seonghwa untuk masuk ke dalam, melihat keadaan dari--sekiranya--tempat mereka untuk bermalam dahulu. Hongjoong mengerang kecil, melihat keadaan yang berantakan, sama seperti yang Seonghwa lakukan. Hongjoong tak terganggu, hanya berpikir sebenarnya apa yang terjadi, karena barang-barang di sekitar tak tampak berdebu.
Sedangkan Seonghwa, yang menuju bagian ujung dari campervan, di mana sebuah ranjang berada, mengeluh karena memang senang hal yang bersih.
Walau tak seluruhnya.
Seonghwa segera menepuk-nepuk kasur untuk sekadar membersihkannya, sebelum menoleh dan melihat ke arah Hongjoong. Tersenyum di sana, Seonghwa mendekat hanya untuk menariknya dari kerah, menghadiahinya ciuman basah secara singkat, sebelum memutar tubuh untuk mendorongnya ke arah ranjang.
Belum Hongjoong bisa bereaksi apapun, sampai pasrah dalam tawa kecilnya.
Seonghwa sendiri tersenyum, mengedik padanya. "Tidurlah dulu. Aku berjaga, takutnya pemilik aslinya kemari. Jadi nanti tengah malam, kita bisa pergi lagi, menjauh agar tak ada yang bisa menangkap kita sama sekali."
"Tak apa kutinggal tidur?" Hongjoong bertanya dahulu, di posisinya, hanya untuk memastikan saja.
Tahu bahwa Hongjoong takkan bisa hidup tanpa Seonghwa sekarang, dan begitupula sebaliknya.
Seonghwa tertawa kecil sambil melepaskan jaket yang dikenakannya. Sedikit mengedik ke arah luar, menenangkan kekhawatirannya. "Aku mau minum saja--ada beer di mobil. Tidur dulu, kemungkinan kapanpun itu, kita takkan mendapatkan hari esok lagi."
Benar keputusan Hongjoong, untuk membawa Seonghwa pergi, dan membangun dunia berdua, bersamanya.
.
.
.
Sejujurnya ini bukan pertama kalinya.
Hongjoong benar-benar sudah terbiasa, ditarik dari kantuk luar biasanya, karena merasakan tubuhnya memanas, selagi kejantanannya menegang. Terkulum oleh rapat dan basahnya mulut Seonghwa, yang senang melakukannya. Alasannya, terobsesi dengan Hongjoong di setiap waktu, sampai tak bisa membiarkannya diam atau beristirahat sekalipun mulutnya berkata demikian.
Padahal Seonghwa memberikannya waktu untuk tidur.
Entah sudah berapa lama Hongjoong tertidur.
Namun dirinya mengerang setelah melirik, sebelum menutup kedua matanya yang masih lengket dengan lengannya sendiri.
"Seonghwa, please... bukankah aku harus menyetir lagi nanti? Semalam kita sudah kejar-kejaran terlalu lama."
Seonghwa tampaknya tak peduli, karena justru malah semakin liar memainkan lidahnya di dalam, menekan-nekan pada batang penis yang semakin menggembung keras tersebut. Memaksanya masuk lebih dalam ke tenggorokannya, mencoba mengetes kemampuannya sendiri dari waktu ke waktu--walau sudah terbukti berulang kali.
Saking lelahnya, Hongjoong benar-benar tak tahu kapan tepatnya celananya dilucuti. Sudah dalam keadaan tanpa celana, bertelanjang penuh di bagian pinggang ke bawahnya. Ternyata memang benar lelah adanya.
Sedikit menyeringai, Seonghwa justru kegirangan karena Hongjoong terbangun. Lenguhan dengan suara berat khas bangun tidur, pun tertahan dari Hongjoong, membangkitkan libidonya lebih jauh lagi.
"Berhenti memperkosaku saat tengah tidur."
"Mnlh--!" Seonghwa yang baru saja menyodokkan kepala penis Hongjoong melewati pita suaranya, mengerang tersinggung. Seonghwa menarik dirinya, melepaskan kuluman dan menatapnya dengan posisi terduduk di ranjang tersebut. "Oh, aku tidak memperkosamu, Tuan. Sekalipun benar yang aku lakukan begitu, kamu pernah lebih parah karena menyuruhku menerima penismu untuk pertama kalinya dahulu, tanpa persiapan dan--"
"Iya, iya, iya, maaf." Hongjoong perlu memotongnya, dengan kekehan kecil, seraya menjauhkan lengannya dari wajah. Digunakanlah lengan tersebut, untuk menarik Seonghwa mendekat. "Ayo, lanjutkan? Percuma berhenti, aku sudah keras sekarang."
Seonghwa bertingkah marah, bahkan sambil memalingkan wajahnya.
Sampai Hongjoong perlu menggunakan kedua sikunya, kini, untuk menumpu beban tubuhnya sendiri. Setidaknya menaikan diri, sedikit memiringkan kepala memperhatikannya. "Ayo? Tak kasihan padaku?"
"Katakan bahwa hanya aku yang--"
"You don't know how much I miss your tight cunt." Hongjoong mengatakannya sambil tersenyum, setelah menyela.
Dengan itu, perlahan Seonghwa mulai melihat ke arahnya, sedikit mendengus jijik. Walau begitu, Seonghwa tetap melepaskan bawahannya sendiri, seluruhnya, sebelum mendorong dada Hongjoong dengan sensual untuk berbaring kembali. "Once again, I'm a man."
"But you got a pretty tight pink hole--"
"Oh, shut up!" Seonghwa protes kesal, naik ke atas dadanya.
Dan Hongjoong, dengan tampang cocky-nya, membalas, "make me?"
"Do not disappoint me, Tuan." Dari arah dada, Seonghwa naik seketika ke wajah Hongjoong, yang sudah menduga--atau tidak--bahwa pasangannya itu akan segera menjadikan wajahnya sebagai singgasana. Tahtanya. Memposisikan sendiri liang yang diagungkan Hongjoong dalam pembicaraan, pada mulut Hongjoong yang refleks terbuka.
Karena Hongjoong sendiri segera menerimanya, dengan senang hati, menjulurkan lidahnya untuk setidaknya melumasi di bagian permukaannya.
Tapi Seonghwa langsung merapatkan pahanya, tak menerima Hongjoong berlama-lama dengan nafsunya yang melambung tinggi. Seonghwa tak peduli Hongjoong akan kesulitan bernapas atau apapun itu, ketika tubuh bagian atasnya dilempar ke arah belakang, untuk dirinya menggunakan satu tangannya meraih penis Hongjoong yang sempat ditinggalkan--mulai memompanya, tak membiarkannya turun satu momen pun. Satu tangan lainnya yang bebas, meremas rambut Hongjoong, untuk membantu mengarahkan kemudinya.
Jujur, benar, secepat itu Hongjoong nyaris kehabisan oksigen di paru-parunya.
Seolah Hongjoong tak sadar, setiap kali memaksa Seonghwa menelan penisnya, menekan kepalanya, sampai wajahnya memerah, matanya memutar ke belakang, dan pipi dipenuhi air mata, tak pernah membuat Seonghwa merasa dekat dengan kematiannya.
Namun Hongjoong menikmatinya. Menjilat, melesakkan lidahnya masuk, atau pun menyesap, pada lubang anal berkedut alami pun dikedutkan secara sengaja itu, membuatnya tak sabar.
Seolah mereka tak becinta setiap hari.
Ya... sebenarnya ada beberapa waktu mereka kehilangan waktu bercinta, akibat pelarian. Tapi kadang dibayar pula dipelarian, untuk sekadar Seonghwa mengocok atau mengulum penisnya, atau Hongjoong mengemudi sambil menarikan dua sampai tiga jemarinya di dalam anal Seonghwa.
Belasan tahun dalam kekelaman, empat tahun dalam kegilaan.
They both are freaks.
Seonghwa, memperhatikan wajah Hongjoong yang jelas merah, dengan tak suka. Tak suka jika Hongjoong butuh berhenti, walau Seonghwa juga tergoda akan bagaimana kejantanan Hongjoong dalam genggamannya, terasa sangat keras dan membengkak.
Pasti... pasti sangat nikmat untuk melebarkan paksa lubang ketatnya.
"Oh, fuck... don't stop..." Seonghwa memohon sekaligus memerintah, agar lidah hangat itu tetap terjepit dinding-dinding permukaan awal dari lubangnya. Hisapan dari Hongjoong sendiri menambah nikmatnya di sana--terbukti dari remasan semakin kuat di helaian rambutnya. Kedua pahanya pun semakin menjepit wajah Hongjoong, sekali bola dan penisnya sendiri mulai tegang, menggesek Hongjoong pada hidungnya. "I need you so bad..."
Kali ini, mau tak mau, Hongjoong meremas paha Seonghwa, seperti memberitahunya bahwa napasnya sudah menipis. Bahkan menekan kukunya, cukup, pada paha putih tersebut. Untuk pembelaannya, Hongjoong kelelahan, belum mendapatkan tidurnya dengan baik, dan dipaksa untuk berhubungan seksual. Juga, dirinya seorang perokok aktif. Jadi, ya, itu adalah pembelaannya.
Yang mana membuat Seonghwa mengerang frustasi dalam gelungan hasratnya, untuk menarik diri dan mundur sampai menduduki perutnya. Terpaksa--atau sebenarnya ingin menyiksanya dengan cara lain.
Di sana, Hongjoong segera menarik napasnya, selagi mulutnya sendiri pun basah dan berantakan karena air liurnya miliknya.
Seonghwa benar-benar tahu, bahwa lubangnya perlu diisi, secepatnya. "Itu hal sama yang kurasakan saat kamu terus berbisik, 'I know you can take me so well, tahan sampai aku selesai' setiap kamu menyodok mulutku secara paksa, Tuan. Pakai otakmu."
"I'm sor--"
Belum Hongjoong menyelesaikan kalimatnya, di antara napasnya yang terengah untuk memasok oksigen baru, Seonghwa telah mendahuluinya. Hal yang Seonghwa lakukan secara berani, sejak seks pertamanya tiga tahun lalu. Sudah dapat membuat Seonghwa, kini, segera menduduki Hongjoong pada penisnya.
Tepatnya, menekan paksa batang keras dan berurat tersebut, menyeruak, melebarkan analnya, untuk ditanam di dalamnya.
Sayangnya, kuluman dan kocokan sebelumnya, sudah membuat Hongjoong dekat dengan ujung. Sehingga ketika mendapatkan satu jepitan ketat secara tiba-tiba, yang pertama terjadi adalah, seluruh maninya menyembur tak tertahankan ke arah dalam lubang Seonghwa, sekaligus meluber keluar karena terjadi bersamaan sosok itu menjatuhkan diri.
Seonghwa mendesah nikmat--terlebih dengan bantuan meningginya nafsu mendengar erangan berat Hongjoong, pun berkedut batangnya, untuk mengeluarkan seluruhnya. Walau terjadi secepat itu, Seonghwa benar tahu cara menyiksanya dengan baik dan benar. Tak lain, adalah dengan segera menggerakkan tubuhnya naik turun, selagi Hongjoong sedang berjalan di posisi paling sensitifnya dari pelepasannya.
"S-Sayang--God, gimme a sec--!"
Seonghwa tak menginginkan itu. Sakit untuknya bukanlah apapun--disiksa sejak kecil oleh ayahnya, membuatnya terbiasa dengan rasa sakit. Seonghwa tetap, secara cepat dan terduga, bergerak. Seperti bagaimana film-film porno, menggunakan obat kuat, untuk menjaga stamina mereka agar bisa bercinta seperti binatang liar. Perbedaannya, Seonghwa hanya perlu mengandalkan libidonya yang tinggi terhadap sosok di bawah tubuhnya. "Weak ass." Seonghwa meledeknya.
Hongjoong ingin protes namun justru napasnya memendek. Tak memiliki pelampiasan, Hongjoong meremas seprai di sampingnya, seraya berusaha menatap ke arah Seonghwa, dengan mulut terbuka dan napasnya yang berantakan. "Oh my fuck--hahhh, se-sebentar--"
"No." Seonghwa bersikeras ingin mencari nikmatnya sendirian. Bahkan Seonghwa mulai mendorong punggungnya sendiri ke arah belakang, untuk menumpukan kedua telapak tangannya pada paha Hongjoong yang mencoba merapat, menatapnya dari jarak seperti itu. "Kamu tahu mengapa aku senang memperkosamu setiap tidur?"
Tak ada jawaban dari Hongjoong, yang berakhir dengan terpejam, seolah jiwanya dihisap habis-habisan. Berada di kondisi paling sensitifnya karena pelepasan, lalu dipaksa untuk siap kembali, membuatnya dipelakukan seperti sapi perah.
Mungkin itu yang memang Seonghwa harapkan, ketika menyandera batang kejantanan itu di antara jepitan dinding hangat analnya sendiri. "Karena kamu lemah, tak berdaya." ucap Seonghwa, dengan terkikik, meremehkan.
Hongjoong tak berniat membantah, karena posisinya sedang demikian. Jadi Hongjoong menunggu--menunggu aliran darahnya bisa lebih mengontrol diri, untuk tak seluruhnya berpusat di ujung sarafnya. Walau sedikit nyeri, dipaksa habis-habisan.
Mereka pikir yang bisa menderita dengan paksaan, hanya mereka yang menerima.
Padahal di sini, bukankah sama jika pada akhirnya Hongjoong diperlakukan seperti dildo hidup, setiap kali dia memejamkan mata untuk beristirahat?
"Aku tahu kamu mencintaiku sedalam itu."
Hongjoong masih terpejam, tapi remasannya pada seprai mereda. Mungkin sudah cukup, untuk kedua pahanya mengeras, sambil dijadikan tumpuan oleh Seonghwa. "Just do whatever you want."
"Of course!" Seonghwa berseru, merasa senang sekali. Seonghwa sendiri mulai menyentuh penisnya sendiri, dengan jemari kurus dan panjangnya, mengaguminya secara cantik. "Aku lihat kamu sudah mereda~"
"Kita sama-sama laki-laki; kamu tahu, aku butuh waktu untuk menyuruh bolaku memproduksi mani kembali, right? Just, have fun with my dick." balas Hongjoong, tapi mulai membuka matanya, untuk tersenyum melihat Seonghwa. Rasanya lengket, terlebih dengan pakaian teratasnya yang tak dilepas, dari kaus pun jaket kulitnya.
Lantaran memang Seonghwa melambat. Atau lebih tepatnya, mengganti caranya bergerak, dari naik turun, menjadi mengulek. Lebih terasa lambat namun intens. Hal itu memudahkan Seonghwa juga untuk memompa penisnya sendiri. "But you're still hard."
Kali ini, Hongjoong memilih tak membalas--tak ingin berdebat. Apapun jawabannya, Seonghwa akan tetap meminta penisnya, jadi akan dirinya biarkan demikian.
Paha Seonghwa berkeringat, menggesek di paha pun pinggung Hongjoong. Cara Seonghwa bergerak dengan punggung condong ke belakang, membuat gerakannya tampak lebih menggoda dari arah perutnya. Terlebih, tampak samar, benjolan tercipta, dan ikut bergerak seiring dengan temponya.
Hongjoong benar-benar diam, dan berlaku seperti hanya sebuah benda. Tak membantu Seonghwa, tak berniat melakukan apapun. Selain yang dilakukannya adalah menumpuk dua bantal, untuk dia tempatkan di belakang kepalanya--membantunya untuk bisa menatap dengan lebih tinggi dari pada posisi rendah sebelumnya.
"Your hard veiny cock..." Seonghwa berucap dalam deru napas memendeknya, mengagumi, merasa lubangnya kian menyempit, untuk menggunakan penis Hongjoong di dalam lubangnya. "Aku tak pernah bermasalah jika suatu hari nanti, keadaan kita berbalik."
"Kamu ingin aku memerkosamu saat sedang tidur?"
Kesal dengan caranya membalas, Seonghwa menarik tubuhnya ke atas, melepaskan diri seketika.
Yang tentu saja membuat Hongjoong panik untuk segera meraih kedua tangannya--terlepas dari remasan Seonghwa pada penisnya sendiri. "Oh, sayang--sayang. Shit. Maksudku, ada alasan aku tak pernah lakukan hal itu padamu."
"Apa?" dengus Seonghwa kesal.
Hongjoong tak rela, sudah dibangunkan, dibawa pada orgasmenya secepat sebelumnya, lalu berniat ditinggalkan. Jadi Hongjoong mengubah ekspresinya, penuh dengan permohonan. "Please, put mine inside you--"
"Jadi tadi apa alasannya?" Seonghwa tetap menodongnya.
Namun Hongjoong merayunya, dengan gerakan pelan, untuk sekadar mengganti posisi mereka.
Sayangnya, Seonghwa tak menginginkan itu, dan segera menekan dada Hongjoong untuk kembali sejajar dengan permukaan kasur. Sambil memutar kedua matanya, Seonghwa mendudukkan diri kembali, dan melesakkan ke mana penis Hongjoong seharusnya berada. Walau kini, Seonghwa membuat dirinya diam, tahu bahwa Hongjoong akan tersiksa untuk itu.
"Please?" tanya Hongjoong lembut. Mulailah, Hongjoong bergerak pada pinggulnya perlahan, menggodanya untuk melanjutkan.
Walau tak berjalan baik, karena Seonghwa mendadak mencekiknya dengan satu tangan. "Stay still!"
"Okay, okay..." Hongjoong menerima, tanpa perlawanan. Rasanya semakin gerah, pakaian teratasnya lengket. Dadanya panas, tapi yang paling penting, penisnya terasa siap untuk digunakan. "Okay, aku hanya tidak pernah menyetubuhimu dalam keadaan tidur, karena aku takut ada hal-hal yang tak pernah kamu ceritakan padaku, dan itu bersinggungan dengan trauma karena ayahmu."
"Kamu pikir... Ayah pernah melecehkanku?"
"Aku tidak berkata 'ya', aku hanya berjaga-jaga." balas Hongjoong dalam pembelaan.
Seonghwa memperhatikannya untuk beberapa waktu dahulu, diam, tenggelam dalam pikirannya sendiri. Sampai terdapat helaan napasnya, untuk kemudian menggerakkan pinggulnya kembali secara pelan, tampak ingin lari dari pembahasan mereka. "It's just... aneh dikatakan oleh seseorang yang merencanakan pembunuhan terhadap ayahku, untuk menyelamatkanku. Kamu seharusnya lebih baik dalam menggunakan atau memanfaatkanku, bukan sebaliknya."
"Aku hanya tahu, kamu satu-satunya orang yang tak kubenci di dunia ini. Sekarang, bahkan jika tak ada hari esok."
Biasanya Seonghwa menangis jika Hongjoong menyetubuhinya secara kasar, tetapi sekarang ketika dirinya memiliki kendali penuh, matanya justru terasa panas. Seonghwa tak mengira, selama empat tahun telah bersama pun, Hongjoong tetap memperlakukannya dengan baik. "Bodoh, kamu tak membenci keluargamu, setahuku..."
"Aku bisa membenci mereka karena eksistensi mereka membuatmu merasa dunia tak adil padamu."
Seonghwa benar-benar tak menyangka bahwa perasaannya bisa dipermainkan seperti ini. Tepatnya, di tengah keadaan berantakan mereka, Hongjoong mengacaukan hatinya kembali. Dalam artian baik--dalam artian bahwa Seonghwa akan terus tetap bersamanya, apapun taruhannya. Sehingga Seonghwa--dari pada menjatuhkan air matanya dan menjadi haru, yang bisa mengganggu momen ini--memilih untuk merapat, untuk mencium Hongjoong di bibirnya. Mengganti cekikan di lehernya sebagai tangkupan oleh kedua telapak tangannya, dan memejamkan mata di sana.
Dengan itu, Hongjoong sendiri membalas ciuman, lembut dan hati-hati. Menyelipkan lidahnya, untuk mendapatkan lebih intens, dari basahnya bagaimana Seonghwa membalas.
Karena seiringan dengan itu, Seonghwa mulai menggerakkan pinggulnya kembali. Naik dan turun dengan jarak tak jauh, tapi tempo yang rapat.
Hongjoong sendiri menyeringai, mendapatkan izin untuk membuat ciuman mereka berubah, dari lumatan yang terasa penuh perasaan itu, menjadi hisapan lebih bernafsu. Hongjoong menerima bagaimana Seonghwa menjatuhkan air liur yang diproduksi oleh mulutnya, untuk dirinya hisap dan telah, bergantian dengan miliknya.
"Mnn..." Seonghwa menarik dirinya, suhu tubuhnya naik, kembali terpusat pada nafsunya. Seonghwa kembali mundur, untuk menumpu kedua tangannya di perut Hongjoong kali ini, untuk memudahkannya bergerak.
Dengan mulut terbuka, dan basah, Hongjoong memperhatikan sosok di atasnya, seraya mulai menyentuh penis memerahnya. Kini, Hongjoong yang meremasnya, untuk membantu memompa, mendekatkannya dengan rasa nikmat di kedua bagian.
Sehingga Seonghwa bisa fokus sendiri untuk bergerak, yang kini dirinya ganti kembali gerakannya, mengulek maju dan mundur, menekan antar kulit mereka, dan menjepit lebih erat batang kemaluan itu di dalam anal ketatnya. Seonghwa terengah dan sesekali menengadahkan lehernya, hanya untuk merasakan bagaimana akal sehatnya dibawa melayang. Otaknya berpindah ke bawah, pada titik nafsunya, untuk membuatnya tak bisa berpikir lagi.
Dari bagaimana jemari Hongjoong memanjakan penisnya, dari bagaimana juga penis Hongjoong memanjakan lubangnya.
Nikmat.
Yang membuat seluruhnya lebih nikmat, untuk Seonghwa, adalah fakta bahwa dirinya hanya hidup berdua dengan seseorang yang membantunya untuk lepas dari penderitaan. Selanjutnya, hanya ini yang ingin Seonghwa rasakan.
Berdua, bercinta gila.
Saat itu, Seonghwa memejamkan matanya erat. Saat bagaimana tubuhnya terasa merinding, gemetar, atau apapun dari sengatan menyerang, ketika seluruh sarafnya berada di ujung. Dekat dengan pelepasan hasratnya, membuat Seonghwa bergerak lebih cepat dari pada sebelumnya, sampai suara antar kulit yang bertamparan, berbalur keringat, terdengar semakin keras. Seonghwa bahkan sesekali mencoba menyentuh Hongjoong di lengannya; berada dalam dilema, ingin Hongjoong berhenti memompa penisnya, atau pun memohon agar tak dilepaskan.
"Oh God, oh God--anghh, please, please...!" rengeknya keras.
Hongjoong mengagumi; dirinya, tubuhnya, suaranya dan keseluruhan dari sosoknya. Hongjoong masih ingat ketika sampai di keputusannya, untuk menghabiskan sisa hidupnya berdua bersama Seonghwa, sekalipun mereka takkan berhenti berlari sama sekali.
Tak akan ada yang pernah disesalinya.
"H-Hongjoong--ahh, fuck..." Seonghwa mendesah, berantakan. Ketika Hongjoong ingin membantu dengan menggerakkan pinggulnya berlawaran arah, dengan tangan gemetarnya, Seonghwa berusaha menahannya. "Stop--hahh! I won't let you--nghh, I'm so close..."
Jadi Hongjoong menarik lepas tangannya dari penis Seonghwa.
Di sanalah seketika, Seonghwa membuka matanya, menatap dengan penuh protes darinya. "Hongjoong--please?!"
"Hm?" Hongjoong membalas congkak, seolah abai. Walau kedua tangannya cukup kotor terkena precum dan segala yang bisa didapatkannya dari Seonghwa, sosok itu memilih untuk melipat kedua lengannya, dan menaruhnya di belakang kepala.
Seonghwa benar-benar sudah nyaris di ujung orgasmenya, sayangnya dirinya kelelahan juga, berada di atas sejak awal. Jadi Seonghwa melambat, tahu bahwa dirinya tetap membutuhkan bantuan Hongjoong, untuk bisa sampai pada pelepasannya.
"Kenapa, mm?"
Walau ada air mata menitik di ujung pelupuknya, Seonghwa tetap menatapnya kesal. Tak ingin meminta Hongjoong mengambil alih, Seonghwa memilih menyerah, dan membiarkan dirinya berada di ujung jembatan nafsunya. "Give me a break..."
"Aku tak melakukan apapun sejak tadi." balas Hongjoong santai.
Dengan memutar matanya kesal--walau bernapas berat--Seonghwa segera memasukkan tangannya ke dalam saku jaket yang Hongjoong kenakan. Merogoh sakunya, mengambil wadah metal berukuran muat dalam saku, untuk dia keluarkan. Berisi rokok, sekaligus pemantiknya.
Hongjoong masih bertahan dengan kedua lengannya, pun sedikit terengah--karena jelas, artinya, kenikmatannya juga terhenti. Terlebih Seonghwa benar-benar merilekskan dirinya, tak menggoda seperti biasanya dengan cara mengedutkan lubangnya secara sengaja untuk memberikan pijatan padanya.
Kesal, Seonghwa pun meraih sebatang, menyalakannya dengan pemantik, dan setelahnya menaruh asal di permukaan kasur tersebut. Satu hisapan pertama, membuatnya masih agak tak nyaman--karena Seonghwa tak terlalu menyukainya--tapi berusaha menikmatinya.
"Begitu caramu mengambil jeda?" tanya Hongjoong, yang mengangkat satu alisnya, bertahan dengan seringainya.
Seonghwa menghembuskan asapnya, keluar dari mulut dan hidungnya. Tak bohong, bahwa tubuhnya sangat sensitif sekarang, tapi dia berusaha meredakannya. Pahanya pegal, Seonghwa ingin mengejar nafsunya sendiri.
Karena jika menyerahkan seluruhnya pada Hongjoong, justru laki-laki itu yang takkan berhenti.
"Shut up, hh," Seonghwa protes, agak membentaknya. Terpotong oleh bagaimana dirinya menghisap kembali, melanjutkannya dengan dengusan. "I need my fucking break. Kakiku bisa tegang--pinggangku juga sakit."
Hongjoong justru semakin tersenyum mendengarnya. "Dengan bertahan di ujung--kamu senang menyiksa diri?"
"Give me a hand, then?"
"You got your own hand." Hongjoong membalas. "Bahkan dua."
Sambil berdecak, Seonghwa berusaha menikmati rokoknya, masih di posisinya. Kali ini sedikit, mengeratkan dinding-dinding rektumnya. "And you got your own hole... so why don't you just fuck yourself?"
"Ah..." Setipis lenguhan lolos dari Hongjoong. Disengaja sebenarnya, senang menggoda Seonghwa. "Sekarang kita bisa lihat, siapa yang sebenarnya lemah di sini."
"Aku hanya butuh diam sebentar." balas Seonghwa sambil memalingkan wajahnya, untuk mengapit rokok dengan kedua belah bibirnya, untuk menghisap lagi.
Namun Hongjoong melihatnya seperti sebuah kesempatan. Hongjoong merebut rokok dari tangan Seonghwa, untuknya sendiri--mengambil alihnya. Hongjoong menghisapnya segera, sambil mempertahankan di bibirnya, dan melihat bagaimana Seonghwa akan protes terhadapnya.
Jelas tak terjadi.
Ketika Seonghwa baru saja akan membuka mulut, Hongjoong telah menggunakan kedua tangannya, untuk memutar posisi mereka tanpa melepas ikatan diri. Seonghwa bahkan tak dibaringkan lembut, sedikit dibanting, untuk Hongjoong kini berada di atas, dengan posisi bertumpu lutut, dan kemudian menempatkan kedua kaki jenjang kekasihnya, di atas bahunya.
Tampak, bagaimana Seonghwa tertahan di ujung lidahnya sendiri, ketika Hongjoong menghembuskan asap rokoknya, sambil merapat, di depan wajahnya. Menyeringai kecil, melihat tatapan ketakutan dari Seonghwa secara mendadak, melihat bahwa dirinya kehilangan kendali.
"Jeda berakhir." Hongjoong tersenyum dan menarik dirinya lurus kembali. Setelah membuang abunya, sembarang ke belakang, Hongjoong mengapit kembali batang rokok tersebut di bibirnya, dan mulai menekan pinggulnya, untuk menyamankan posisinya di dalam.
Punggung Seonghwa refleks melengkung--ada dorongan nikmat, dari kepala penis Hongjoong menyodok tepat ke titik sensitifnya. Sangat dalam. Penisnya bisa-bisa meledak seketika. "Ho-Hongjoong--please let me--"
Hongjoong tak membalas, sama sekali, secara ucapan. Selain perbuatannya yang membalas. Akan bagaimana dirinya, meremas dan menekankan jemari pun kukunya pada pinggul telanjang Seonghwa--jelas akan meninggalkan bekas--dan langsung, tanpa aba, menghentakkan pinggulnya selagi sejak tadi harus menahan diri.
"Ohh--fuck!!"
Tak butuh banyak waktu untuk membuat tubuh Seonghwa langsung tersentak-sentak oleh gerakannya, lemah karena kehilangan kendali, sekalipun sosok itu berusaha menyentuh kedua kakinya sendiri yang gemetaran. Jelas juga membuat aliran darahnya berkumpul di satu titik, menyengat sarafnya, sekaligus akal sehatnya.
"Hongjoong--hah, ahhh!"
Kedua mata Seonghwa bergulir, memutih. Ingin mencari apapun untuk membuatnya berhenti, tak menjadi tak berdaya secepat itu. Seonghwa tahu, jemari kakinya sendiri mengerut, pahanya merapat, dan bahkan ingin kakinya dijatuhkan ke bawah jika tak ditahan. Seonghwa juga tahu bahwa, dalam beberapa detik setelahnya, semburan itu tak tertahankan.
Seluruh maninya menyembur, kuat, sampai langsung membasahi baik pakaian teratas keduanya, juga sedikit mengenai dagu Hongjoong.
Hongjoong hanya menghindar sedikit--cipratannya sama, seperti ketika membunuh ayah Seonghwa di hadapannya. Hongjoong membawa tangannya ke arah mulut, menjepit rokoknya, untuk menghembuskan asapnya, dan mengamati bagaimana berantakan sosok di bawahnya.
"You look like a fuck doll." Hongjoong terkekeh gemas, dalam perasaan jatuh cinta. "Bermain berani, namun pada akhirnya, tak berdaya."
Tak mampu membalas, tak mampu menatapnya.
Tubuh Seonghwa terasa mengerut, menciut, seiringan dengan hasratnya keluar, sampai membuatnya gemetaran. Seonghwa ingin meminta Hongjoong memberikannya waktu, karena dirinya berada dalam keadaan paling sensitifnya, tapi ia tahu bahwa sosok itu akan membalas dendam akan apa yang dilakukannya.
Karena benar saja.
Hongjoong mematikan rokoknya, pada pinggiran campervan--dinding dalam--dan melemparnya sembarang. Untuk mendapatkan akses lebih, menguasai Seonghwa yang tak berdaya kala itu. Hongjoong menjatuhkan kedua kaki Seonghwa dari bahunya, membuatnya menekuk gemetar tak bisa dikendalikan, sebelum menumpukan satu tangannya di leher jenjang yang bersih tak tersentuh dalam beberapa hari ini, sebelum menyodokkan penisnya semakin cepat dan liar, dalam keadaan anal Seonghwa mengatup rapat usai orgasmenya.
"S-Sayang--akkhh, I can't--hanghh... I can't t-take it... anghh!"
Seonghwa sudah tak tahu lagi--apapun tentang dirinya.
Hasratnya sudah terpenuhi, dan ketika dihantam habis-habisan, dirinya tak tahu lagi harus bagaimana.
Seonghwa hanya mendesah, mengerang bahkan merintih bersama dengan air mata jatuhnya, tak tahan dengan stimulasi yang melebihi kemampuannya, memaksa dirinya untuk mengeluarkan air mani lainnya, padahal dirinya belum dalam keadaan siap.
Selagi Hongjoong, terus menggenjot dengan cepat, sekalipun napasnya memberat. Hongjoong mencari ujung nikmatinya, dari bagaimana penisnya sudah berkedut tak terkendali di dalam rektum yang terus menghisapnya becek. "Shit, hhh, yeah, like that... aku tahu sejak pertama kali melihatmu, kamu akan senikmat ini untuk disetubuhi..."
"I--nghh, anghh... I can't... shit, hurts... hahh, ha--too much, Hongjoong--ahhhh!"
Hongjoong tak memedulikannya di sana, selain dari bagaimana dirinya menghentak, dan terkadang menarik diri sampai mendekati ujung, lalu menghentak kuat. Hongjoong sekilas menyeka rambutnya yang lengket sendiri ke belakang, mempekeras tumbukannya, dan mendapati bagaimana Seonghwa bergerak berantakan--untuk menghentikannya, untuk memeluk tubuhnya sendiri, atau juga untuk meremas apapun yang bisa diraihnya.
"Please, please, please--hangghhh! T-too much! Too much--hhngg...!"
Dan Hongjoong menikmati setiap erangannya.
Dan Hongjoong menikmati setiap desahannya.
Dan Hongjoong juga menikmati setiap rintihannya.
Sampai membawa diri Hongjoong, pada titik akhir dari nikmatnya, untuk dirinya segera menghujamkan kuat miliknya di dalam rektum yang mempersulitnya untuk bergerak, karena mengatum rapat. Hongjoong tetak memaksakan diri, dan berhasil menyodoknya sampai mentok, untuk menanamkan seluruh benihnya yang sontak terhisap.
Memberikan Hongjoong kepuasan nyata, "hahhh--ha... f-fuck, Seonghwa... hanhh..."
Selagi Seonghwa meringkuk, dan mengunci bagian Hongjoong, saat membuat tubuhnya merinding dan gemetar dari ujung kaki sampai ujung kepala, untuk mendapatkan seluruh puncah hasratnya. Di tengah sensitif tubuhnya, yang tak bisa menerima apapun lagi, kini mendapatkan seluruhnya.
Hongjoong tampak tersenyum, walau dirinya masih berusaha untuk mengatur napas, melihat kekasihnya benar tak berdaya setelah tadi bermain dengan sok, padanya. Hongjoong mendekat, melebarkan kedua kakinya untuk mendapatkan tubuh dan wajahnya lebih tampak, berkeinginan untuk mencium bibirnya.
Di posisi lemahnya, Seonghwa terkadang masih tersengat seluruh sarahnya yang seperti terbuka--begitu sensitif--dalam air mata. Seonghwa memperlihatkan ekspresi sedih, terluka, karena kalah lagi dari Hongjoong, ketika ingin lebih menguasainya. "Aku bilang be-beri aku waktu..."
"Sayang..." Hongjoong tertawa kecil dibuatnya, menyeka rambut hitam panjangnya--di atas bahu--dengan lembut, terasa basah nan lengket.
"Aku tak bisa berjalan... dan semua... sa-salahmu..." cicit Seonghwa.
Hongjoong tak keberatan dengan itu, hanya dirinya--yang bahkan dada dan perutnya masih kembang kempis, untuk menyesuaikan usai pelepasannya--membela diri. "Aku bahkan masih butuh tidurku, tapi pacarku yang libidonya lebih tinggi dari pada tower di luar, tampaknya--"
Tak terima, Seonghwa menggunakan tenaga tersisanya untuk menepukkan telapak tangannya, pada wajah Hongjoong.
Di mana Hongjoong tertawa, walau rasanya agak menyengat.
Seonghwa saat itu tersenyum tipis, bersama laju napasnya yang mulai membaik, merasa sangat mencintai laki-laki itu.
Yang sebenarnya Hongjoong juga merasakannya, dan ingin tinggal lebih lama dalam keadaan tersebut--atau bahkan menambah ronde. Tapi sayang, dari jendela kecil di ujung campervan tersebut, Hongjoong melihat cahaya bergerak. Seketika dirinya menarik diri, dan tergesa mencari celana.
Tak butuh bertanya, Seonghwa sendiri mengenyampingkan perasaan berbunga--atau lelah tubuhnya--melihat Hongjoong demikian. Secepat kilat juga mengambil celana, untuk mengenakannya, dan mempersiapkan pistol miliknya.
Oh, selalu seperti ini.
Dalam ketidaknyamanan untuk tinggal, tetap saja...
Hongjoong dan Seonghwa akan terus berdua, sekalipun tak ada hari esok untuk mereka.
