Work Text:
Hari itu sama seperti hari-hari sebelumnya. Lampu minyak dan obor dinyalakan satu persatu untuk mengatakan selamat tinggal pada mentari dan menyambut datangnya rembulan. Hiruk pikuk suara orang-orang dari dalam dan luar tembok istana perlahan meredam ditelan kegelapan malam, lalu burung hantu, jangkrik, dan katak akan bersahutan mengisi keheningan.
Malam itu sama seperti malam-malam sebelumnya. Di antara dinding-dinding kayu yang kokoh, beberapa dayang akan datang membawa makan malam untuk setiap anggota keluarga kerajaan. Tak terkecuali untuk sang Putra Mahkota yang pandangannya terkunci pada buku di atas meja, tetap melakukan kebiasaan hariannya.
“Kalian boleh keluar,” katanya, mengibaskan tangan sekali tanpa melihat ke arah dayang-dayang itu.
“Baik, Yang Mulia.”
Sang Putra Mahkota menutup buku yang dibacanya bersamaan dengan pintu kamar yang ditutup. Ia menatap berbagai macam hidangan yang disajikan, tidak ada yang aneh atau mencurigakan. Tangannya mengambil sumpit, menyesuaikan posisinya sebelum menyuap sepotong daging sapi ke dalam mulut. Rasanya tetap enak, sama seperti yang lidah dan otaknya ingat.
Dua puluh menit kemudian, para dayang masuk kembali dan membereskan alat makan yang terbuat dari kaca itu, sebelum akhirnya membantu sang Putra Mahkota untuk bersiap tidur. Jubah berwarna biru tua itu dilepas, digantung dengan gagah di salah satu sisi ruangan. Berganti dengan pakaian tidur berwarna putih, sang Pangeran duduk di atas kasurnya yang rata dengan lantai. Penerangan ditiup hingga padam, kini hanya sinar keperakan dari rembulan yang menemani laki-laki itu dalam kamarnya.
Seperti hari-hari yang sudah terlewati, sang Putra Mahkota berbaring perlahan, mengatur napas, menutup mata, dan membiarkan kesadarannya hilang untuk beristirahat. Seharusnya malam itu menjadi malam yang normal, bebas dari gangguan, dan berlalu begitu saja. Seharusnya itulah yang terjadi. Namun, kenyataannya tidak.
Malam itu, bulan di langit memancarkan cahaya yang aneh dan angin bertiup tidak nyaman, menimbulkan kegelisahan di hati sang Putra Mahkota yang terlahir peka dengan lingkungan. Awan gelap yang tipis pelan-pelan menutupi langit. Mata yang letih itu terbuka lebar, tak mau menutup lagi bahkan ketika bayangan meja di sampingnya sudah tak terlihat. Entah dorongan dari mana, sang Putra Mahkota berdiri dan berganti pakaian ke setelan latihan, meninggalkan bercak-bercak hitam di bantalnya. Jantungnya berdegup kencang, seperti alam memberitahunya bahwa ada yang tidak beres di luar sana.
Sang Pangeran beranjak dari kamar, mengejutkan penjaga yang ditugaskan di depan pintunya. “Yang Mulia, ada apa? Tidak biasanya Anda bangun selarut ini.”
“Minta yang lain memperketat pengamanan sampai matahari terbit. Aku merasa ada yang tidak beres,” ujarnya, membuat sekujur tubuh penjaga itu merinding.
“Akan saya laksanakan, Yang Mulia. Anda tidak perlu khawatir dan bisa kembali beristirahat.”
Sang Putra Mahkota menggeleng cepat. “Tidak. Aku tidak bisa tidur, jadi percuma saja kembali ke kamar. Aku akan berkeliling sebentar untuk memastikan bahwa semuanya aman.”
“Baiklah, tetapi mohon membawa beberapa orang untuk menjaga Anda. Saya akan segera kembali, mohon untuk tidak pergi terlebih dahulu,” pinta sang penjaga sebelum meninggalkan majikannya sendirian.
Tentu saja, sang Putra Mahkota tidak begitu mengindahkan permintaan orang yang lebih rendah darinya. Telinganya sangat terganggu oleh suara angin yang bertiup serta suara serangga yang terdengar mengancam saat ini. Keributan yang mungkin hanya ada di kepalanya membuatnya sedikit pusing. Ia sangat ingin berlari sendirian, tapi tetap menahan diri karena tak ingin kehilangan nyawa.
Kecurigaan yang muncul makin besar ketika semak-semak di sekitar istana berbunyi tidak normal. Sang Putra Mahkota tahu pasti hari ini akan datang. Lagi pula orang-orang itu tak pernah benar-benar menyembunyikan keinginan mereka untuk menyingkirkan dirinya dari tahta. Ribuan cara telah mereka gunakan dalam upaya untuk menghukumnya, mengasingkannya, atau membunuhnya. Namun, ia tetaplah anak kesayangan Yang Mulia Raja, sehingga usaha-usaha itu berakhir sia-sia.
Jika malam ini terjadi di minggu lalu, dirinya pasti lebih memilih untuk melanjutkan tidur daripada repot-repot menyambut kedatangan musuh. Tetapi keadaan sudah tak sama lagi. Sang Raja kehilangan kesadarannya dua hari lalu dan masih belum sadar sampai saat ini. Siapapun tahu hidupnya tak lagi panjang. Perebutan tahta bukanlah hal yang asing lagi, ia pun tahu leluhurnya banyak yang mati dibunuh keluarga sendiri. Dari bumi ini diciptakan, manusia sepertinya memang senang memperebutkan kekuasaan.
Sang Putra Mahkota menggenggam erat gagang pedang yang masih tersimpan dalam pelindungnya, menunggu saat di mana orang-orang itu melompati dinding batu dan menyerangnya bersamaan. Lima menit berlalu tetapi tidak ada apapun yang terjadi. Seketika, sekitarnya dipenuhi keheningan yang mencekam.
“Yang Mulia!”
Drap drap drap.
Sapaan dan suara langkah kaki itu memecah kengerian. Dahi yang berkerut tegang perlahan melemas, bahu menurun lega saat bantuan yang ditunggu akhirnya datang juga. Ikat kepala sang Pangeran bergerak seirama dengan tubuhnya yang berbalik. Ia berpikir akan melihat penjaga yang tadi dikirimnya datang membawa beberapa orang untuk diajak berkeliling.
Kosong.
Tidak ada siapa-siapa di sana.
Kaki sang Putra Mahkota menegang, tangannya dengan sigap menarik pedang yang tersimpan di pinggang, siap menebas sosok yang mencoba menikamnya dari belakang.
Namun naas, saat ia berputar dan ujung bilah itu hampir mengenai leher musuhnya, sebongkah kayu lebih dulu menghantam kepalanya. Dalam sekejap, ia hanya bisa melihat warna hitam dan merasakan bagaimana tubuhnya jatuh menghantam tanah dengan kuat.
BUGH!
Ah, sialan. Tamat sudah riwayatnya.
“Bersulang!”
Cling!
Suara gelas-gelas yang beradu tenggelam di bawah suara musik yang menggelegar dalam ruangan. Lampu disko yang berwarna-warni menghiasi ruangan, berkerlap-kerlip menggantikan posisi bintang yang hilang di langit malam. Orang-orang itu tertawa keras sambil bersenang-senang di lantai dansa, berbincang penuh godaan untuk sekadar melepas penatnya kehidupan.
Seorang pria yang baru menginjak dewasa selama satu tahun duduk santai sambil merangkul dua orang wanita di kanan kirinya. Pria lain dengan tubuh yang lebih besar berbicara dengan mereka, tangan memegang gelas kaca berisi anggur yang cukup mahal.
“Nona-nona, apa yang membuat kalian menyukai bajingan kecil ini?” tanyanya, meletakkan gelas untuk menumpu dagu dengan tangan, menantikan jawaban wanita-wanita cantik itu.
“Eunho tidak kecil, Minjun. Tubuhmu saja yang terlalu besar.”
Minjun tertawa kecil. “Dia baru berusia 21 tahun. Bocah sepertinya tidak tahu apa-apa.”
Mendengar itu, bibir Eunho mengerucut. “Hyung, perlukah kau menjelekkanku di depan mereka langsung seperti ini?”
“Lihat, mana ada pria dewasa dan mapan merengut seperti ini,” ujar Minjun, mencubit pipi pria bersurai abu-abu itu. “Pulanglah, Eunho. Aku tidak tahu apa yang akan dilakukan orang tuamu kalau mereka mengetahui kau memilih pergi ke bar daripada ke perpustakaan.”
Salah seorang wanita itu menahan lengan Eunho. “Jangan pulang dulu~ Malam ini akan ada gerhana bulan, lihatlah pemandangan itu denganku.”
“Benar, Eunho-ya. Ini bukan pertama kalinya kau pergi ke bar, kan? Kenapa harus mendengar ucapan Minjun?” timpal yang satu lagi. “Pulanglah setelah minum satu botol lagi.”
Minjun berdecak kecil, menggelengkan kepala sebelum meneguk anggurnya lagi. Ia menatap wajah Eunho yang kebingungan dan tertarik oleh ajakan wanita-wanita itu. “Kau sudah pernah ke bar sebelum ini? Luar biasa. Terserah kau saja.”
“Hyung, mau ke mana?” Eunho berkedip heran pada asisten pribadinya yang beranjak pergi setelah menghabiskan minumannya.
“Pulang.”
“Bagaimana denganku?”
Yang lebih tua berbalik, melihat Eunho sambil mengangkat bahu. “Kau sudah besar dan sudah sering ke sini sendirian, kan? Kenapa tiba-tiba menempel padaku seperti bayi? Aku malas meladenimu lagi kalau kau lebih percaya orang asing daripada orang yang sehari-hari tersiksa mengurus kelakuan anehmu. Pulang saja sendiri.”
Tangan Eunho yang tertutupi oleh jaket kulit berwarna merah itu langsung melepaskan diri dari orang-orang yang menahannya. “Jangan begitu, Hyung. Kau pasti akan melaporkannya pada ayah dan ibu, kan?”
“Menurutmu?” balas Minjun, berjalan cepat menjauhi kerumunan orang.
“Astaga, Hyung! Tunggu aku!” Eunho mengumpat kecil, langsung berlari mengikuti asistennya yang lebih loyal pada orang tuanya daripada dia.
Dua orang wanita itu menghela napas kala pria-pria tampan itu meninggalkan bar. “Sayang sekali. Kukira aku bisa mengambil sedikit uang dari dompetnya hari ini.”
“Ya, mau bagaimana lagi. Tidak ada yang menyangka pria setampan itu ternyata masih seperti anak-anak. Semua uangnya adalah pemberian orang tuanya. Pantas saja dia takut begitu.”
“Ia takut uang jajannya dipotong, ya? Lucu sekali. Aku harap dia kembali lagi.”
Piip piip piip— ttak!
Dengan wajah lesu, Eunho mendorong pintu apartemennya. Lampu di lorong otomatis menyala ketika ia melangkahkan kaki. Namun, pria itu sama sekali tidak berniat menyalakan lampu di ruang tamu dan langsung membanting tubuhnya ke sofa. Mata Eunho menatap kosong dinding apartemen yang gelap dan dingin itu, tidak bisa memikirkan apapun kecuali hal-hal yang buruk.
Orang tuanya membelikan hunian ini tiga tahun yang lalu saat ia baru diterima di universitas. Eunho masih ingat betapa membahagiakannya hari itu. Ayah dan ibunya yang selalu sibuk bekerja tiba-tiba pulang ke rumah untuk merayakan pencapaiannya dengan makan malam bersama. Bangunan besar di tengah Kota Seoul itu akhirnya terasa seperti rumah. Mengingat jarak dari rumahnya ke universitas cukup jauh, orang tua Eunho memberikannya apartemen agar ia tidak perlu bingung ketika pulang terlalu malam.
Awalnya Eunho menolak. Ia lebih suka dibelikan mobil untuk pulang ke rumah setiap hari. Lagi pula baik rumah dan kampusnya masih ada di kota yang sama. Kedua orang tuanya tidak kekurangan uang. Mereka lalu memberikan Eunho keduanya dengan syarat ia belajar dengan giat dan tidak melakukan hal-hal yang mencoreng nama baik keluarga, karena pasti akan berdampak ke perusahaan mereka.
Di tahun pertama, anak tunggal Keluarga Do itu selalu pulang ke rumah tepat waktu, menolak ajakan teman-temannya untuk berkumpul di luar. Seperti hari-hari sebelumnya, Eunho selalu makan malam di rumah, sendirian di atas meja yang besar dengan porsi makanan yang tak pernah bisa ia habiskan. Jujur saja, ia kesepian. Orang tuanya bahkan tidak memberikannya adik untuk diusili di rumah megah ini. Jadi, pada suatu hari di musim dingin, Eunho meledak, seakan masa pubertas yang harusnya dialami beberapa tahun lalu baru terjadi kala itu.
Pria itu kabur ke apartemen setelah menghancurkan sepertiga interior rumahnya, lalu memutuskan untuk mogok kuliah selama dua bulan. Mirisnya, orang tuanya baru mengetahui hal ini setelah petinggi kampus yang dibayar untuk membantu Eunho melaporkannya pada mereka. Uang jajan Eunho dipotong hampir setengah dan Minjun dipekerjakan untuk memantau kegiatan sehari-harinya. Kalau diingat-ingat, kejadian itu memang gila sekali. Saat ini, Eunho hanya melihat orang tuanya sebagai sumber uang. Oleh karena itu, yang bisa membuatnya takut hanyalah putusnya aliran dana, mengingat dirinya belum bekerja.
Eunho berdiri, membuka tirai yang menutupi jendela besar di sana. Matanya langsung menangkap pemandangan bulan berwarna merah seperti disiram dengan darah. Ia teringat perkataan wanita di bar tadi bahwa malam ini akan terjadi gerhana bulan. Sekujur tubuhnya merinding karena warna merah itu mengingatkannya pada film-film horor.
“Kenapa kepalaku memikirkan itu, sih?!” katanya, buru-buru menggeleng agar gambaran menyeramkan tersebut melompat keluar dari otaknya.
Kriettt—
Dan seakan-akan hal itu benar-benar keluar, pintu kamarnya terbuka sendiri tanpa bantuan angin. Eunho membeku di tempat, badannya seketika lemas hingga perlu bertumpu pada sandaran sofa. Di bawah cahaya remang-remang, muncul sosok asing dari balik pintu, sibuk melihat kanan kiri sambil memegang kepalanya. Ia berhenti melangkah, memutar lehernya ke kiri hingga tatapannya bertabrakan dengan milik Eunho.
“AAAAAAKH! KENAPA KAU BISA MASUK KE RUMAHKU, DASAR ORANG GILA!”
Menyadari tubuh sosok itu lebih kecil darinya, Eunho refleks berteriak dan menjatuhkan orang itu lantai dengan kemampuan bela diri seadanya.
BRUGH!
Sang Pangeran tidak menyangka akan pingsan dua kali dalam jangka waktu sangat dekat.
Saat pertama kali sadar, ia menemukan dirinya di atas tempat tidur yang aneh. Dibandingkan kasurnya yang setara dengan tanah, tempat tidur ini tinggi dan jauh lebih empuk. Ia bahkan berpikir untuk tetap berada di bawah selimut yang hangat dan lembut, melanjutkan tidurnya. Namun, ia tidak bisa. Sama seperti tempat tidur, keseluruhan ruangan itu juga aneh. Banyak sekali benda-benda yang baru pertama kali ia lihat.
Sang Pangeran turun dari kasur, menyentuh berbagai hal sambil mengamatinya. Berhubung ruangan itu gelap, ia tak bisa melihat dengan jelas. Tetapi ia cukup kaget menemukan pantulan dirinya sendiri di sebuah cermin yang besar. Di istana, yang bisa memantulkan cahaya sebesar itu hanyalah air. Ia lalu mendengar suara dari luar, jadi ia mengambil waktu untuk memahami bagaimana cara membuka pintu putih di hadapannya.
Tangannya menjangkau pegangan di pintu, mengikuti naluri untuk menekannya ke bawah.
Cklek. Kriettt—
Alis sang Pangeran naik melihat pintunya terbuka, mungkin tak menyangka akan semudah itu. Ia menemukan pemandangan yang sama asingnya di balik pintu, menengok ke kanan dan kiri sebelum matanya bertemu sosok manusia yang berdiri diam di tengah kegelapan.
“AAAAAAKH! KENAPA KAU BISA MASUK KE RUMAHKU, DASAR ORANG GILA!” teriak orang itu, dengan cepat berlari ke arahnya dan membantingnya ke lantai. Sang Putra Mahkota yang tidak punya waktu untuk memproses semuanya kemudian kehilangan kesadaran. Begitu ia bangun, ada laki-laki dewasa bermuka tegas menatapnya lekat-lekat. Kaget, dirinya sontak berdiri dan mundur beberapa langkah.
“Kenapa kaget begitu? Kau tidak pernah melihat polisi?” tanya sosok berambut putih di samping kursinya dengan nada ketus. Setelah diperhatikan, orang ini adalah pelaku penganiayaan yang membuatnya pingsan beberapa waktu lalu.
“Kau!” Sang Pangeran menunjuk laki-laki itu dengan amarah yang memuncak. “Berani-beraninya kau membantingku! Apakah kau tidak tahu hukuman melukai keluarga kerajaan adalah pemotongan anggota tubuh?! Tanganmu pantas dipotong dengan pedang!”
Pria itu mengembuskan napas lalu tertawa remeh. "Bukankah kakimu yang harus dipotong karena masuk apartemen orang lain sembarangan?"
"Eunho-ssi, sepertinya orang ini punya masalah mental. Mau saya bantu tanyakan ke rumah sakit jiwa terdekat apakah ada pasien yang melarikan diri?"
BRAK!
"Jaga mulutmu!" teriak sang Pangeran setelah menggebrak meja. "Beraninya kau menuduhku orang gila. Aku ini putra mahkota Joseon!"
Eunho menatap laki-laki yang berpakaian layaknya kesatria kerajaan ini sambil menggelengkan kepala. "Mana ada orang gila yang mengaku dirinya gila? Duduklah sebelum kau dimasukkan ke penjara."
Mendengar itu, sang Pangeran kembali duduk sembari mencoba menurunkan amarahnya.
"Ekhem! Oke, siapa nama Anda?" tanya petugas di hadapan mereka berdua.
Sang Pangeran melipat tangannya di depan dada. "Tulis saja Putra Mahkota."
Eunho menoleh dengan pandangan kesal. "Pak, tidak bisakah kita langsung memindai sidik jarinya untuk mengetahui identitasnya?"
Mata petugas itu melebar, seperti baru tercerahkan oleh sesuatu. "Benar. Itu sangat bisa dilakukan." Ia menyalakan mesin yang memancarkan cahaya agak kebiruan, dan menyodorkannya ke depan pria yang mengaku dirinya pangeran. "Putra Mahkota, silakan letakkan telunjuk Anda."
Sang Pangeran melirik curiga, tetapi tetap meletakkan telunjuknya di benda yang aneh tersebut karena tatapan dari seluruh ruangan.
"Terima kasih, tolong tunggu sebentar."
Kaki Eunho bergerak gelisah, menjaga pandangannya pada orang disampingnya, tidak sabar mengetahui identitas asli lelaki aneh itu.
“Uh … Eunho-ssi. Datanya tidak ditemukan.”
“Sudah kubilang aku Putra Mahkota, kan?”
Eunho berdiri dan meminta sang petugas membalikkan layar ke arahnya. Ia menghembuskan napas kasar begitu melihat apa yang dikatakan petugas benar adanya. Di saat yang sama, Minjun memasuki kantor polisi, keringat mengucur di wajahnya walaupun malam ini begitu dingin.
“Eunho, aku dapat rekaman CCTV-nya dari pihak apartemen.”
"Akhirnya. Bagaimana, Hyung? Apakah rekaman itu cukup untuk memasukkannya ke penjara?"
Anehnya, Minjun menggeleng. "Dari kamera, tidak ada orang yang masuk apartemenmu setelah kau pergi sampai kembali lagi, Eunho."
"T-tapi bisa saja—"
"Tidak. Sangat tidak mungkin jika dia masuk lewat balkon, apartemenmu ada di lantai 24."
Mendengar itu, orang-orang yang sedari tadi menguping tidak hanya menutup mulut terkejut, tetapi juga berkedip keheranan. Di sebelah Eunho, sang Pangeran melipat tangannya di depan dada, wajah menyeringai penuh kemenangan.
"Kenapa? Masih tidak percaya kalau aku tiba-tiba muncul dalam kamarmu?"
"Aduh! Tidak bisakah kau memberikannya dengan cara yang lebih sopan? Aku ini seorang pangeran!"
"Setidaknya beritahu aku namamu sebagai bentuk terima kasih karena menampungmu di sini," cibir Eunho setelah melempar sepasang pakaian ke orang asing yang terpaksa tinggal di apartemen mewahnya.
Sang Putra Mahkota menghembuskan napas kesal, membuka lipatan pakaian yang bentuknya seperti pakaian budak di masanya, hanya saja lebih lembut dan terlihat layak.
"Apakah tidak ada ukuran yang lebih sesuai?"
"Oh, Tuhan. Tentu saja tidak ada! Kau pikir aku punya pakaian sekecil itu? Lagipula mana bisa aku percaya kalau seorang pangeran begitu kurus dan pendek."
"Tutup mulutmu, dasar kurang ajar!"
"Kalau begitu beritahu aku namamu agar aku bisa percaya!"
"Bonggu," lirihnya sembari meletakkan kembali pakaian itu di pangkuan. "Yi Bonggu."
"Nah! Apa susahnya sih menjawab seperti itu dari tadi?" Eunho menepuk bahu Bonggu cukup keras hingga pemiliknya merintih. "Ayo, aku akan mengajarimu cara memakai kamar mandi modern. Aku tidak mau kamar tamuku jadi bau tanah."
Kerutan kesal muncul di dahi Bonggu, tetapi ia tidak bisa menyangkal. Eunho berjalan menuju kamar mandi dan Bonggu mengikutinya secara otomatis. Yang lebih pendek memelotot melihat ruangan dilapisi keramik yang sangat jauh berbeda dengan istananya.
Bonggu mendengarkan penjelasan Eunho dengan cermat, matanya berbinar melihat kloset yang dapat menyiram dengan sendirinya, selang yang memancarkan air dengan kekuatan berbeda serta dapat mengeluarkan air panas.
“Apa kau sudah mengerti?” tanya Eunho yang dibalas anggukan semangat dari Bonggu. “Aku akan menunggu di sofa. Kalau ada apa-apa ketuk saja pintunya.”
Pemuda berambut perak itu kemudian keluar dan menutup pintu kamar mandi, membiarkan pria yang lebih pendek darinya mengeksplorasi benda-benda peradaban baru. Jujur saja, Eunho belum sepenuhnya percaya dengan keberadaan seorang time traveler di masa modern seperti ini. Apalagi orang itu mengaku dari masa lalu, ia tambah ragu.
Jadi, Eunho memutuskan untuk menunggu sambil mencari kebenaran terkait Yi Bonggu di internet. Waktu yang dihabiskan Bonggu di dalam sana sangatlah cukup bagi Eunho untuk menggali informasi hingga laman terdalam milik pemerintah. Ekspresinya berubah-ubah semakin lama ia mencari, seakan-akan baru saja menemukan harta karun tersembunyi dan ia tidak tahu cara menutupinya.
Drttt— drttt—
Nama Minjun muncul di layar ponsel dan Eunho langsung mengangkatnya.
“Halo, Hyung? Sudah dapat hasilnya?”
“Identitasnya benar-benar tidak ada di database. Sidik jari, iris mata, bahkan darahnya pun tidak ada. Sepertinya apa yang ia katakan benar. Oh, apa kau sudah dapat namanya?”
“Ya, dia bilang namanya Yi Bonggu. Aku baru saja mencari di internet karena begitu penasaran. Benar-benar ada seorang putra mahkota bernama Yi Bonggu di abad ke-16.”
“Wow. Aku juga akan mencarinya nanti.”
“Terima kasih banyak, Hyung. Hati-hati di jalan pulang.”
“Tumben sekali. Dah.”
Panggilan dimatikan oleh Minjun, membuat Eunho langsung melihat jam yang tertera di layar utama ponselnya. Sudah hampir jam 2 malam dan Minjun baru selesai mengurus kejadian unik yang entah kenapa datang padanya. ‘Sepertinya aku perlu meminta Ibu untuk memberikan Hyung bonus bulan ini.’
Cklek .
“Oi, kau. Di mana aku harus meletakkan pakaian kotorku?”
Sungguh timing yang tepat.
“Masukkan saja ke keranjang coklat di sebelahmu,” Eunho yang dari tadi sibuk berkutat dengan ponsel mendongak, “biar laundry yang— oh.”
Bonggu yang sudah berpakaian lengkap menatap bingung pada Eunho yang tiba-tiba berhenti. Rambut merah mudanya yang masih basah sedikit menetes ke bahu, meninggalkan jejak air di baju yang kebesaran itu.
“Kenapa?”
“R-rambutmu… bukankah tadi masih berwarna hitam?”
Bonggu menyentuh ujung rambutnya. “Apakah menurutmu aneh? Rambutmu saja seperti warna rambut menteri tertua di istana.”
Jujur, Eunho sedikit tersinggung. “Bukan begitu! Bagaimana bisa kau mewarnainya begitu cepat?”
“Mewarnai? Aku lahir dengan rambut seperti ini, bodoh! Aku membiarkanmu tahu karena aku melihat banyak orang di jalan yang rambutnya juga berwarna-warni!” seru Bonggu, warna merah menjalar dari pipi hingga telinganya. “Saat aku lahir, orang-orang menganggap hal ini pertanda kutukan, jadi aku selalu mewarnai rambutku dengan tinta dan arang setidaknya setiap malam. Aku tidak menyangka benda yang kau sebut sampo itu begitu kuat sampai melunturkan warnanya.”
Eunho berjalan mendekati Bonggu, yang membuat sang Pangeran melangkah mundur perlahan.
“Hei, apa yang mau kau—”
Puk. Sebuah telapak tangan jatuh di atas kepala Bonggu.
“Merah muda cocok sekali denganmu.”
Pemiliknya merasa pipinya memanas, segera menjauhkan diri dari Eunho dengan alasan memasukkan pakaiannya ke keranjang. “Apa-apaan senyum bodohnya itu,” lirihnya.
“Ngomong-ngomong, Bonggu-hyung, bolehkah aku memanggilmu begitu?”
“Terserah.”
“Kalau begitu aku akan memanggilmu Kakek Buyut saja karena kau 500 tahun lebih tua.”
Bonggu yang tadi menunduk langsung melotot marah. “JANGAN BERCANDA!”
Eunho tertawa puas melihat reaksinya, mengusap mata sebelum masuk ke pembicaraan yang sedikit lebih serius. “Maaf. Hyung, apakah sebelum bangun di kamarku, kau diserang oleh kelompok pemberontak?”
Yang lebih tua tersentak. “Bagaimana kau … bisa tahu?”
“Aku membacanya di internet.”
“Apa itu internet?” tanya Bonggu sambil mengambil tempat di sebelah Eunho yang kembali duduk di sofa.
“Eh? Aku akan menjelaskannya padamu besok, tetapi disebutkan bahwa penyerangan itu diinisiasikan oleh ibu tirimu.”
Eunho menoleh, cukup penasaran dengan reaksi yang diberikan oleh sang Pangeran. Namun, berbanding terbalik dari ekspektasinya, Bonggu hanya tertawa remeh dan menghela napas panjang.
“Aku sudah tahu. Jadi, apa yang terjadi setelah itu?”
“Kau … ditemukan meninggal enam bulan kemudian.”
Fakta itulah yang pada akhirnya membuat Bonggu terdiam. Setelah beberapa saat, pria itu akhirnya membuka suara untuk mengusir rasa khawatir Eunho.
“Enam bulan, ya … Aku pasti sudah jadi tulang. Kenapa mereka lama sekali menemukannya?”
Pertanyaan itu tidak bisa Eunho jawab karena informasinya memang tidak tersedia. Riwayat hidup Bonggu begitu singkat dibandingkan beberapa raja atau putra mahkota lain, jadi dirinya hanya bisa menawarkan diri untuk menemaninya ke perpustakaan, museum, atau pusat budaya.
“Kalau kau mau, aku bisa menemanimu besok. Sekaligus kita pergi membeli pakaian dan ponsel untukmu.”
Bonggu mengangguk. “Baiklah. Lagipula kalau ceritamu benar, aku akan ada di sini sampai setidaknya enam bulan.”
Eunho menepuk bahu pria di sampingnya. “Jangan patah semangat. Mungkin saja Tuhan mengirimkanmu ke sini untuk menghindari takdir mengenaskan itu.”
Sang Pangeran terkekeh. “Kau benar. Sekarang aku mengantuk, tunjukkan ruang tidur mililkku, pelayan.”
Entah karena ini sudah sangat larut dan Eunho cukup merasa bersalah, pemuda itu hanya tersenyum mendengar panggilan Bonggu, berdiri, lalu membungkuk singkat.
“Mari saya antarkan, Yang Mulia.”
Letupan asap tak kasatmata meluap dari atas kepala Bonggu. “A-aku hanya bercanda!”
Minjun menahan kantuk saat duduk di sebuah toko pakaian pagi ini. Biasanya ia baru membuka mata jam 10 pagi karena Eunho hampir selalu bangun lima menit sebelum jam makan siang. Namun, hari ini anak itu sudah meneleponnya jam 9 pagi dan menyuruhnya bersiap pergi ke pusat perbelanjaan yang baru dibuka jam 11 pagi.
Minjun tidak tahu ada apa di pikiran Eunho yang kini sibuk melakukan mix and match pada tubuh kecil Bonggu. S ebenarnya ia terlihat kecil karena pakaian milik Eunho, tapi untuk ukuran standar laki-laki di negara ini, Bonggu memang sedikit lebih mungil. Pemuda itu bisa saja pergi menyetir sendiri, mengingat mobilnya entah ada berapa di parkiran apartemen. Tapi sialnya, ia memutuskan untuk mengganggu istirahatnya hari ini dan Minjun sialnya tidak bisa menolak.
“Hyung, ini lebih cocok untukmu daripada yang itu,” ujar Eunho sambil memberikan vest berwarna merah jambu yang senada dengan rambut Bonggu. “Setelah ini ambillah foto dengan pohon sakura yang baru mekar. Aku yakin orang-orang akan kesulitan menemukanmu.”
“Foto? Apa itu? Kenapa harus diambil?”
Eunho hampir saja tertawa terbahak-bahak jika tidak ingat dirinya sedang ada di toko pakaian eksklusif yang tidak bisa didatangi semua orang.
Tangan Bonggu dan Eunho sudah penuh dengan berbagai jenis pakaian, padahal keduanya tidak tahu pasti berapa lama sang Pangeran akan tinggal di era ini. Eunho mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam kepada kasir, dan Bonggu tidak paham bagaimana alat pembayaran di dunia ini berubah dari koin yang berat menjadi sebuah kertas tebal yang terlihat mudah patah.
Setelah membayar, mereka pergi ke tempat di mana Minjun duduk, tetapi mereka menemukan bahwa Minjun sedang tertidur. Eunho membangunkan ‘asistennya’ itu dan menyuruhnya pulang saja, karena ia dan Bonggu harus berkeliling untuk membeli barang lain. Mendengar itu, Minjun mengomeli Eunho karena membuang tenaga dan waktunya kalau pada akhirnya ia disuruh pulang.
Minjun benar-benar pulang.
Setelah itu, Eunho membelikan Bonggu sebuah ponsel yang penggunaannya tidak begitu rumit. Sambil menyantap makan siang, pemuda bersurai perak itu mengajari yang lebih tua bagaimana caranya menelepon, mengetik, dan mencari sesuatu di internet. Untungnya, Bonggu sudah mengerti hangul. Akan jadi masalah jika yang datang adalah pangeran dari zaman sebelum Raja Sejong berkuasa.
“Belum genap sehari di sini, tapi kau sangat baik dalam beradaptasi, Hyung. Aku pikir kau akan setidaknya mengeluh tentang makanan atau pakaian, atau bagaimana orang lain berperilaku.”
Bonggu meletakkan sendoknya. “Aku sedang tidak dalam posisi untuk mengeluh. Setelah dipikir-pikir, aku perlu berterima kasih padamu karena membiarkanku tinggal dan mau mengajarkanku semua ini. Tidak bisa dibayangkan apa yang akan terjadi jika malam itu kau membiarkanku di kantor polisi.”
“Hyung, kau hampir membuatku menangis.”
“Jangan berlebihan.”
Eunho kembali dengan cengiran bodohnya. “Sehabis ini ayo main di arcade .”
Bonggu mengangguk, merasa tak lagi perlu untuk bertanya karena pada akhirnya ia akan melihat sendiri apa itu arcade . Hanya saja, sang Putra Mahkota tidak pernah mengira arcade yang dimaksud akan menjadi seseru ini.
“AYO, HYUNG! SEDIKIT LAGI! KAU PASTI BISA MENGALAHKAN REKORNYA!” Eunho berteriak heboh melihat lemparan Bonggu pada mesin basket hanya meleset satu kali dari sekian banyak lemparan.
Keringat mengucur dari dahi Bonggu yang di wajahnya terlukis senyuman lebar. Ia tidak pernah merasa se-bersemangat selain saat berlatih pedang atau berkuda.
TING! YOU WIN!
“HYUNG, KAU KEREN SEKALI!”
“Kalau begitu berikan aku hadiah,” ucapnya sembarangan sambil mengelap tetesan keringat yang menggenang.
Eunho mengangguk riang, menarik pergelangan Bonggu menuju stand bungeoppang . Melihat makanan yang cukup familiar, dada Bonggu rasanya menghangat. Ia menerima satu kantong bungeoppang dari tangan Eunho dan berjalan untuk duduk di kursi terdekat. Setelah membayar, yang lebih muda mengikutinya dan mereka makan bersama dalam diam.
“Enak sekali. Terima kasih banyak, Eunho.”
“Sama-sama. Apa kau mau makan sesuatu lagi, hyung?”
Bonggu menggeleng. Perutnya sudah penuh karena belum ada dua jam sejak mereka makan siang, belum lagi baru saja menghabiskan roti yang manis. Jika diisi lagi, Bonggu takut harus pergi muntah di kamar mandi.
“Aku sudah cukup lelah. Ayo kita pulang saja.”
“Baiklah, hyung.”
Keduanya sudah siap pergi dengan tangan yang penuh tas belanja. Namun, langkah mereka harus terhenti ketika ada sekelompok pria tak dikenal muncul di hadapan keduanya.
“Hei, Chae Bamby. Bukannya kau seharusnya di rumah sakit? Sejak kapan kau kembali?” tanya seorang pria yang berdiri paling depan sambil tertawa mengejek.
Eunho dengan cepat menarik tangan Bonggu untuk menjauh. “Maaf, kalian salah orang.”
“Mana mungkin. Rambut pink dan wajah seperti itu bisa dipastikan hanya ada satu di negara ini. Aku tidak menyangka ia pergi berjalan-jalan dengan pria kaya di minggu pertama semester baru. Sepertinya rumor kalau ia menyukai pria itu benar adanya.”
Bonggu dan Eunho tetap berusaha pergi, setidaknya sampai tangan Bonggu yang lain ditarik paksa hingga tas-tas berisi pakaian mahal itu terjatuh di lantai.
“Lepaskan, sialan. Sudah kubilang kalian salah orang!”
Jujur saja, Eunho tidak mau berurusan dengan orang-orang aneh yang entah kenapa begitu percaya diri mereka tidak salah orang. Tapi, begitu mereka melampaui batas dengan menarik tangan Bonggu dan tanpa aba-aba mendorongnya ke dinding. Eunho tahu ia harus bermain kasar.
Tetapi lagi-lagi, Eunho sepertinya lupa bahwa pria bertubuh kecil itu sudah dilatih membela diri selama bertahun-tahun.
BRAK! BUGH! PLAK!
Bonggu dengan cepat menghalau pukulan yang dilayangkan seseorang padanya, dan memukul balik orang tersebut. Eunho tidak dapat memproses apa yang terjadi di depannya karena berlalu begitu cepat. Yang dia ingat, dirinya bahkan tidak perlu mengeluarkan tenaga sedikit pun sampai empat orang pria kecuali Bonggu terkapar mengenaskan di lantai mall .
Sang Putra Mahkota berjalan dengan tenang melewati orang-orang itu dan memunguti belanjaannya, kemudian menyentuh lengan Eunho menggunakan siku.
“Ayo pulang.”
Dengan pikiran yang masih separuh membeku, Eunho refleks mengambil ponsel dan menghubungi nomor Minjun sembari mengikuti langkah Bonggu.
“Apa lagi kali ini, Do Eunho?!” suara kesal Minjun terdengar dari seberang.
“ H-hyung … itu … Bonggu-hyung baru saja menghabisi empat orang…”
“...”
—Piiip!
Eunho menatap tidak percaya pada panggilan yang baru diputuskan sepihak.
“MINJUN-HYUNG?!”
“Chae Bamby, 21 tahun. Mahasiswa tahun kedua di jurusan Studi Teater, Universitas Terra. Melakukan percobaan bunuh diri dengan melompat dari atap tiga bulan yang lalu. Seperti yang kalian lihat, ia sedang berada dalam situasi koma dan tidak menunjukkan tanda akan bangun sama sekali.”
Empat hari pasca kejadian di pusat perbelanjaan, Eunho dan Bonggu menemukan diri mereka berdiri di depan ruang rawat intensif di sebuah rumah sakit. Di hadapan mereka, terbaring seorang pemuda yang dari ujung rambut hingga kakinya seperti kloning dari Bonggu. Pertama kali melihat fotonya, Eunho sampai merinding sekujur tubuh. Yang berbeda adalah rambut pemuda itu berwarna hitam sebagian dari akar, sementara ujungnya berwarna merah muda.
Jangan tanyakan bagaimana mereka bisa ada di sini. Uang bisa melakukan segalanya di dunia yang kotor ini.
“Orang-orang yang kalian hajar kemarin adalah perundung Chae Bamby. Walaupun tidak ada yang tahu bagaimana awalnya, tapi ada yang mengaku kalau orang-orang itu sudah mengganggunya dari awal karena Bamby memiliki kepribadian yang tertutup.”
Bonggu mengangguk, tak bisa melepaskan pandangannya dari Chae Bamby yang tertidur lelap.
“Siapa yang membayar biaya perawatannya?”
“Chae Bamby sudah menjadi yatim piatu sejak sekolah menengah. Ia tidak punya kerabat sama sekali, jadi pemerintah yang menanggung biayanya.”
Sang Pangeran menghela napas. “Hidupnya bahkan lebih mengenaskan dari kematianku.”
“Hyung, jangan berkata seperti itu!”
Minjun duduk di kursi tamu dengan raut wajah lelah, kantung matanya lebih hitam dari kali terakhir Bonggu melihatnya. Ia melipat tangan di depan dada, bersandar untuk mencuri waktu istirahat. Menjadi ‘babysitter’ Do Eunho memang bukan pekerjaan mudah, itu sebabnya gajinya jauh lebih menggiurkan dari pekerjaan lain.
“Jadi, apa yang mau kau lakukan setelah ini, Bonggu- hyung ? Kita bisa saja menutup kasusnya karena orang-orang itu sudah meminta maaf karena salah sasaran, dan kembali menjalani kehidupan seperti biasanya.”
Bonggu terdiam, benar-benar tidak bisa memikirkan apapun. Toh, perkataan Eunho ada benarnya. Ia tidak perlu berurusan dengan hidup orang lain hanya karena memiliki wajah yang persis sama dengannya.
“Ekhem!” Perhatian keduanya tertuju pada Minjun. “Bagaimana kalau kau meminjam identitas Bamby selama ada di sini? Bukankah itu akan memudahkanmu jika ingin beraktivitas sendirian?”
“Ide yang cukup bagus,” timpal Eunho. “Identitas juga sangat diperlukan apabila kau ingin masuk ke perpustakaan untuk mencari tahu lebih lanjut tentang masa lalu, hyung.”
“Tapi bukankah itu berarti aku harus menggantikannya sementara? Minjun bilang ia sedang mengenyam pendidikan teater kan? Mana mungkin aku bisa mengerti semua itu?”
“Tidak perlu khawatir. Chae Bamby seharusnya sedang dianggap tidak aktif, jadi kau tidak perlu datang ke kampus untuk menggantikannya,” jelas Minjun.
Eunho tersenyum melihat pundak Bonggu yang sedari tadi tegang akhirnya melemas kembali. “Melegakan sekali.”
“Nah, karena kau sudah lega dan Bonggu-hyung mendapat identitas sementara untuk bisa pergi ke luar, kau tidak perlu menemaninya ke mana-mana lagi, Eunho. Sudah waktunya kembali ke kampus dan berhenti membolos mulai semester ini.”
Mata Bonggu berkedip keheranan sebelum akhirnya memukul lengan Eunho. “Kau sering membolos?! Tidak tahukah pendidikan itu sangat penting dalam hidup?!”
“Marahi saja, dia memang pantas dimarahi.”
Lalu, omelan Bonggu yang merupakan pelajar teladan itu berlanjut hingga setengah jam lamanya. Tak ada yang mengingat bahwa mereka sedang membuat keributan di kamar rawat inap sebuah rumah sakit, dengan seorang pasien koma terbaring diam bersama mereka.
Dua bulan kemudian, bunga-bunga masih bermekaran di musim semi bulan Juni. Udara yang mulai memanas menandakan Bonggu sudah hampir tiga bulan berada di masa yang jauh berbeda dengan tempat asalnya.
Selama dua bulan ini, tidak banyak hal yang terjadi. Tapi, baik Bonggu dan Eunho mengalami cukup banyak perubahan. Minjun sampai tidak tahu harus berkata apa melihat anak tunggal dari majikannya tiba-tiba menjadi sangat rajin setelah diberikan ceramah panjang lebar oleh seorang putra mahkota yang baru ia kenal beberapa minggu. Padahal selama ini, mau berapa kali dan berapa banyak orang yang menegurnya, Eunho tetap tidak berkutik dan hanya datang ke kampus demi menjaga aliran dana yang masuk. Kali ini, Eunho terlihat sungguh-sungguh dalam belajar, mengingat ia sudah di tahun terakhir dan harus lulus tepat waktu.
Sementara itu, Bonggu sudah handal menggunakan transportasi umum untuk mengunjungi banyak tempat. Minjun tidak perlu lagi mengantar-jemputnya untuk mencoba setiap perpustakaan yang ada di Kota Seoul. Seperti yang pernah Eunho katakan, informasi terkait pembunuhannya di masa lalu sangatlah sedikit, jadi Bonggu memutuskan untuk tidak melanjutkan pencariannya dan fokus untuk menyusun rencana agar kejadian tragis itu tidak terulang saat ia pulang.
Selagi merancang skema peperangan dengan ibu tirinya, Bonggu juga sering mengunjungi Bamby di rumah sakit untuk sekadar memotong rambut atau kukunya. Ketika Eunho atau Minjun tidak tahu di mana lokasinya, mereka pasti akan menemukannya tertidur di sofa tamu kamar Bamby.
Dua bulan adalah waktu yang cukup bagi Bonggu dan Eunho untuk sama-sama mencari penyebab sang Putra Mahkota terlempar ke masa depan. Tentu saja selain untuk bertahan hidup dan menggagalkan takdir mengenaskan itu, mereka mengingat bahwa Bonggu datang ke masa depan saat terjadi gerhana bulan. Jadi, mereka menebak bahwa Bonggu dapat kembali di gerhana bulan berikutnya, yang hanya berjarak dua bulan.
Pada awalnya, mereka memang menebak bahwa Bonggu akan ada di sini selama enam bulan, karena itu waktu yang dibutuhkan bagi pihak kerajaan untuk menemukan mayatnya. Sekarang, ada kemungkinan bahwa Bonggu akan pergi setelah tinggal di apartemen Eunho selama lima bulan.
Sejak mereka menyadari bahwa waktu mulai menipis, Eunho jadi lebih sering mengajaknya bertamasya, baik di sekitar Kota Seoul atau ke kota lainnya. Setiap akhir pekan, Eunho selalu punya agenda untuk dilakukan bersama Bonggu. Minggu lalu, mereka pergi ke Jeju untuk memetik buah jeruk dan berselancar. Minggu sebelumnya lagi, mereka pergi mendaki di Seoraksan.
Melihat banyaknya foto yang dikirimkan Eunho setiap pekan membuat Minjun cukup kewalahan. Rasanya seperti sepasang kekasih sedang mengejeknya karena tak punya teman untuk diajak liburan. Walaupun begitu, Minjun sangat lega dan bahagia karena Eunho sama sekali tak membuat masalah selama Bonggu ada di sisinya. Ia bahkan tak peduli apa yang memotivasi Eunho sampai berubah drastis. Anggap saja Tuhan akhirnya memberikan pertolongan padanya.
Minggu ini, Eunho dan Bonggu pergi ke Busan untuk bermain di pantai. Memasuki musim panas, pantai di Busan memanglah tempat wisata favorit bagi turis. Sebagai turis dari masa lampau, Bonggu harus datang setidaknya sekali.
Berbaring di kursi sambil menunggu terbenamnya matahari, Bonggu menerima segelas jus semangka dari tangan Eunho. Badannya benar-benar nyeri setelah berlari seharian, bahkan sampai ikut bermain voli pantai dengan turis luar negeri. Namun, Bonggu merasa sangat bahagia. Setiap minggunya, Eunho selalu menambah memori baik yang baru ke dalam hati dan otaknya. Saking derasnya aliran hormon kebahagiaan, Bonggu merasa tubuhnya bisa meledak kapan saja.
“Hyung, kau benar-benar mau menunggu sampai gelap?” tanya Eunho yang duduk menyamping agar bisa menghadap Bonggu. Kemeja motif pohon kelapanya berkibar tertiup angin, menyingkap sedikit lekuk tubuh atletis yang ia sembunyikan.
Bonggu tidak menjawab. Atensinya diambil oleh penampilan Eunho yang terlihat luar biasa di bawah matahari senja. Bonggu tidak pernah tertarik pada lawan atau sesama jenis, tapi ia harus mengakui bahwa pemilik apartemen tempatnya menumpang benar-benar tampan.
“Hyung?”
“A-ah, iya. Kalau kau kedinginan, ayo kembali saja.”
Eunho terkekeh. “Kedinginan? Tidak mungkin, ini musim panas.”
Ya, musim panas. Mungkin itu alasan wajah Bonggu benar-benar panas saat ini. Mungkin musim panas-lah penyebab dari debaran aneh yang ia rasakan ketika Eunho tersenyum padanya, juga penyebab dari kenaikan suhu di sekitar pipi dan telinganya ketika Eunho mengelus rambutnya.
Tapi bagaimana dengan rasa penasaran tentang apa yang dilakukan Eunho sepanjang hari, getaran yang timbul saat Eunho memperlakukannya seperti seorang raja, atau perasaan tidak ingin berpisah ketika Eunho harus pergi ke kampus hari Senin pagi?
Bagaimana … dengan semua itu?
Bonggu tidak pernah merasakan semua ini sebelumnya. Ia mungkin punya kemungkinan jawaban setelah semalaman berselancar di internet, tapi Bonggu tidak punya teman lain untuk memastikan apakah yang ia rasakan itu benar. Lagipula, selama ini ia tak berpengalaman. Ayahnya sudah sangat baik tidak memaksanya menikah walaupun usianya bisa dikatakan perawan tua di zaman itu. Apa alasan Tuhan memberikan pengalaman pertamanya pada pria dari masa depan yang 500 tahun lebih muda darinya?
‘Ah, membuatku pusing saja.’
“Bonggu-hyung, ayo. Kenapa bengong begitu?” ujar Eunho, menepuk pelan si pemilik surai merah muda yang masih duduk walaupun cahaya matahari sudah dilahap oleh lautan.
“Maaf. Ekhem! Apa kita akan makan malam di hotel?” tanya Bonggu, berusaha membuka percakapan untuk melupakan pikirannya tadi.
“Ya,” Eunho menutup pintu mobil setelah membiarkan Bonggu naik, “aku sudah memesan room service. Hyung tidak apa-apa makan steak , kan?”
“Itu lebih dari cukup. Terima kasih banyak, Eunho,” balas Bonggu sambil tersenyum tipis.
Di perjalanan ke hotel, Bonggu dikalahkan oleh rasa lelah dan kantuk. Hotel mereka tidak begitu jauh, tetapi karena lonjakan wisatawan, jalan yang biasanya lancar menjadi cukup macet. Radio mobil memutar lagu musim panas yang menyenangkan, tapi Bonggu tidak terusik sedikit pun dan tertidur dengan lelap. Eunho tidak bisa komplain sama sekali.
Bagaimana ia bisa komplain kalau Bonggu terlihat begitu lucu dengan rambut gulali dan pipi mochinya? Kalau bisa, Eunho ingin mencubit pria di kursi penumpang ini sampai merah dan kecil lalu ia masukkan ke kantong kemeja.
Bonggu tidak tahu, dan mungkin tak perlu tahu, bahwa Eunho memiliki pemikiran yang sama dengannya. Bedanya, Eunho tidak denial dan langsung menyadari bahwa ia menumbuhkan perasaan suka yang lebih dari teman pada sosok penjelajah waktu yang datang jauh dari masa lalu. Persamaan lainnya, Eunho pun harus menahan rasa sukanya agar tidak begitu menyakitkan ketika Bonggu kembali ke waktu asalnya.
TIIN TIIIN—!
Suara klakson menyadarkan pria bersurai perak itu dari lamunannya.
Begitu sampai di hotel, Eunho harus menggendong Bonggu di punggung karena sang Pangeran tidur seperti pingsan. Makan malam romantis yang sudah ia rencanakan pun berakhir gagal. Eunho akhirnya mengunyah daging sapi berkualitas tinggi itu sendirian, hanya ditemani suara drama dari televisi dan hembusan napas stabil dari pemilik ranjang sebelah.
Bulan pun semakin menanjak ke puncak malam. Eunho mematikan lampu kamar setelah memastikan semuanya rapi dan bersih, termasuk Bonggu yang sudah mengganti pakaiannya ke setelan tidur. Eunho yang menggantikan, sih.
Saat pemuda Do itu akan berbaring, ia melihat kotak hadiah kecil yang hampir terlupakan di atas nakas. Seketika ia tak jadi tidur. Eunho membuka kotak itu, memperlihatkan sebuah kalung perak dengan berlian bulat kecil berwarna merah sebagai bandulnya. Ia berencana memberikan kalung ini pada Bonggu sebagai hadiah ulang tahun. Walaupun hari peringatan kelahirannya masih beberapa hari lagi, Eunho ingin memberikannya hari ini.
Jadi, dengan rasa tidak sabaran yang mendorong perilaku impulsifnya, Eunho memakaikan kalung itu pada Bonggu yang sedang tidur, berharap pemilik barunya akan terkejut saat membuka mata nanti.
“Cantik,” lirihnya, membaringkan kepala di sisi ranjang Bonggu untuk memperhatikan fitur wajah sang Pangeran. Tangannya terulur, menyisir rambut sehalus kapas itu ke belakang telinga. Kemudian, ia menemukan dirinya meletakkan ciuman singkat pada dahi Bonggu.
“Oh.”
Berbanding terbalik dengan rasa kagetnya, senyum puas muncul di wajah Eunho, membuatnya berpikir untuk melakukan hal ini lagi di kesempatan berikutnya. Ia pun berdiri, kembali ke tempat tidurnya sendiri dengan riang, seperti anak kecil yang berhasil menyelesaikan misi pertama dari orang tuanya. Dan Eunho menyusul ke alam mimpi, tanpa tahu bahwa mata Bonggu terbuka lebar setelah itu, rona merah menjalar di seluruh wajahnya.
Sang Putra Mahkota terbangun karena merasa lapar. Namun, ia merasakan seseorang sedang mengelus rambutnya, jadi ia menahan diri untuk membuka mata dan menggunakan kemampuan aktingnya. Siapa yang menyangka si rambut abu bodoh itu malah menciumnya?
Bonggu tidak tahu apa maksud Eunho melakukan itu, tetapi yang jelas, walaupun ia kembali malam ini, Bonggu tidak akan menyesali apa-apa.
Mungkin ini yang mereka maksud dengan berhati-hatilah membuat permohonan karena kita tidak pernah tahu kapan dan bagaimana akan terwujudnya.
Tidak ada penyesalan itu sebuah kebohongan besar. Saat Bonggu membuka mata, yang ia lihat bukanlah wajah tampan Eunho ataupun sepiring sarapan hangat yang disediakan Eunho. Begitu tanah, kayu, dan dedaunan kering memenuhi pandangannya, Bonggu tidak bisa menahan air mata yang keluar bersama segunung penyesalannya.
Dirinya sungguh berharap semua ini hanyalah mimpi buruk dan ia akan bangun dengan sapaan selamat pagi milik Eunho yang telah menjadi candu baginya. Namun, suara langkah kaki dan dobrakan pada pintu gubuk, serta tangan dan kaki yang diikat agar membatasi pergerakan benar-benar membuat Bonggu sadar bahwa ia telah kembali ke masa di mana Do Eunho tidak nyata.
“Kami menemukan Putra Mahkota! Segera laporkan ke istana!”
Untuk sekarang, Bonggu harus bersyukur dahulu ia ditemukan dalam keadaan hidup.
Minjun tidak tahu harus bagaimana.
Eunho benar-benar seperti anak anjing yang kehilangan pemiliknya setelah Bonggu menghilang begitu saja tanpa pertanda apapun. Keduanya tahu ia telah kembali ke masa lalu di mana seharusnya ia berada. Keduanya juga tahu bahwa ia berhasil menghindari kematian dengan cara yang mengenaskan, walaupun pada akhirnya sang Putra Mahkota tetap menemui kematian karena sakit yang dideritanya.
Eunho tidak pernah tahu kalau Bonggu punya suatu penyakit. Mungkin karena itu ia terlahir dengan warna rambut yang berbeda. Namun, baik dahulu dan sekarang, warna rambut itu masih menjadi sebuah rahasia. Tidak ada yang peduli lagi, termasuk Eunho. Untuk apa mempedulikan sejarah yang telah selesai 500 tahun lalu? Toh, dirinya bahkan tidak bisa mengucapkan selamat tinggal yang benar pada Bonggu.
Di hari itu, seakan dunia tak membiarkannya bernapas, Eunho menerima telepon dari rumah sakit. Mereka bilang Chae Bamby sadar. Meskipun selama berbulan-bulan kondisinya tidak mengalami peningkatan, Chae Bamby sadar seperti diberikan keajaiban. Eunho sadar bahwa keberadaan Bonggu hanya untuk menggantikan ketiadaan Bamby di zona waktu ini.
Kalau begitu, salahkah ia jika mengharapkan Bamby pergi agar Bonggu kembali padanya?
“Do Eunho-ssi, Chae Bamby-ssi ingin berbicara sesuatu padamu.”
Seorang perawat keluar dari kamar rawat inap, membiarkan Eunho masuk sebelum ia menutup pintunya dari luar. Minjun memutuskan tak ikut ke dalam, menghormati permintaan pasien untuk bertemu dengan Eunho sendirian. Anak tunggal keluarga Do itu bisa melihat sosok yang sangat mirip dengan pujaan hatinya, hanya saja sedikit lebih tirus. Eunho sama sekali tidak bisa melihat keseluruhan wajahnya karena itu membuat hatinya sakit.
“Orang-orang bisa salah mengira kau pasiennya jika berjalan selemas itu, Do Eunho-ssi.”
Eunho tertawa singkat. “Itu candaan yang bagus. Selamat atas pemulihanmu.”
“Terima kasih. Dan terima kasih juga sudah merawatku selama ini.”
“Tidak lama, hanya tiga bulan. Lagipula bukan aku juga yang merawatmu. Ada seseorang bernama Yi Bonggu … dan ia sangat mirip denganmu.”
“Lalu di mana ia sekarang?”
Eunho terdiam, ujung bibirnya naik sedikit. “Jauh. Ada di tempat yang jauh sekali.”
“Kau tidak bisa membawanya kemari?” tanya Bamby, memperhatikan Eunho yang masih menunduk saat berbicara dengannya.
“Kalau bisa menukarkan kekayaan yang aku punya agar ia kembali, aku akan melakukannya.”
Bamby terkekeh. “Sepertinya orang itu sangat berharga untukmu. Kalau begitu kenapa kau begitu sedih?”
“Tuhan tidak membiarkanku mengatakan selamat tinggal yang benar padanya,” ujarnya. “Semuanya begitu tiba-tiba. Perkiraan waktu yang kami buat, semuanya meleset. Kami tidak tahu bahwa itu ada hubungannya denganmu.”
“Hm? Kenapa jadi aku?”
Tangan Eunho mengepal di atas paha, menahan diri untuk tidak memukul orang yang baru bangun dari komanya ini. Pertanyaannya benar-benar membuat Eunho kesal.
“Do Eunho-ssi? Kenapa aku menjadi alasan perpisahanmu dengan Yi Bonggu? Aku … baru saja bangun.”
“Karena kau,” Eunho menarik napas panjang, “kau membuatku tak sempat menyatakan cinta padanya.”
Ruangan itu seketika hening. Selama satu menit, tidak ada yang membuka pembicaraan sampai Eunho merasa janggal dan akhirnya memberanikan diri untuk menatap mata lawan bicaranya.
“Kalau begitu nyatakan saja sekarang.”
BRUK!
Eunho tersentak. Benar-benar tersentak sampai ia jatuh terjengkang dari kursi, dan matanya tetap tidak berpaling dari sepasang iris merah muda yang berlinang air mata itu. Tangannya naik ke udara untuk menampar, memukul, dan mencubit pipinya sendiri, tapi ia tidak bangun.
Ini bukanlah mimpi, dan Eunho tidak akan pernah salah mengenali tatapan indah yang selalu ia sempatkan untuk kagumi setiap hari selama berbulan-bulan.
“B-Bonggu…? K-kau bohong, kan? Tidak mung—”
“Apanya yang tidak mungkin sih, bodoh!” seru Bamby—Bonggu, yang kini melempar selimutnya dan berusaha untuk turun dari ranjang.
“Apa yang kau lakukan?!” kata Eunho panik, segera berdiri dan menahan pasien itu agar tidak meninggalkan tempat tidurnya.
“Memelukmu.” Bonggu menarik tubuh Eunho dan membenamkan wajahnya ke perut yang lebih muda hingga kaos yang dipakai Eunho basah karena air mata. “Aku kembali, bodoh.”
Eunho membalas pelukan Bonggu, membiarkan air matanya ikut mengalir deras. Mulutnya terus menggumamkan kata terima kasih, mungkin ada ratusan kali sampai Bonggu mencubit bibirnya dengan dua jari.
“Hentikan itu. Aku mau dengar pernyataan cintamu.”
Rona merah menjalar hingga ke belakang telinga Eunho. Ia menangkup wajah Bonggu dengan bahagia, mengusap air matanya dengan perlahan sebelum menatap kepingan indah yang menjadi favoritnya.
“Aku … mencintaimu, Yi Bonggu. Terima kasih sudah kembali padaku. Baik dalam raga Yi Bonggu atau Chae Bamby, aku akan tetap mencintaimu.”
Bonggu tertawa, sedikit cegukan karena masih menangis. “Aku juga mencintaimu, Do Eunho. Maaf karena meninggalkanmu begitu saja. Aku bahkan tidak sempat mengucapkan terima kasih atas setiap memori berharga yang kau berikan, atas setiap kesempatan yang kau berikan untuk membebaskanku dari kewajiban sebagai seorang Putra Mahkota. Tiga bulan itu cukup untuk membuatku ingin bersamamu selamanya, Eunho.”
“Aku juga … Hyung. Ayo tetap bersama, jangan tinggalkan aku lagi.”
Bonggu mengusap kasar rambut perak Eunho. “Kali ini tidak akan lagi, aku janji.”
“Ngomong-ngomong, bagaimana kau bisa ada di sini, hyung?” tanya Eunho penasaran, mengambil tempat di sebelah Bonggu agar bisa memeluk pria itu dari samping. “Ke mana perginya Chae Bamby?”
“Hmm, ini cerita yang panjang. Aku tidak punya energi untuk membahasnya. Tetapi pada intinya, Tuhan mempertemukan kami di suatu tempat dan kami membuat suatu kesepakatan. Aku mengambil alih tubuhnya dan ia mendapatkan apa yang ia inginkan.”
“Apa itu?”
“Rahasia. Kau tidak perlu tahu, lagipula aku sekarang di sini kan?” katanya, membalas pelukan Eunho dengan lebih erat. “Kau tidak mau menciumku lagi seperti malam itu?”
“J-jangan bahas itu!”
“Kenapa?”
“Pokoknya jangan!”
Bonggu tertawa, menatap mata Eunho yang sinarnya telah kembali seperti semula. “Kalau begitu, bagaimana dengan rencana liburan ke Hawaii yang kita agendakan waktu itu?”
“Ah, tentu saja bisa dilanjutkan. Aku sudah memesan pesawat, hotel, dan aku punya bebera—”
Chu!
Bonggu mencuri kecupan dari pipi Eunho. Eunho memerah seketika dan Bonggu bisa mendengar jantungnya berdetak semakin cepat.
“YI BONGGU!”
“Kau suka, kan? Mengaku saja!”
“I-iya sih … Kalau begitu yang di kanan juga boleh?”
“Dasar mesum.”
“KAN KAU YANG MULAI DULUAN!”
fin.
