Work Text:
Gatal.
Sethos sibuk menggertak, bikin suara bergemeletuk kecil. Giginya terasa gatal mau gigit-gigit sesuatu, tapi apa daya…
“Endus yang bener, dong.”
Scara—kekasihnya—malah menarik tali pengekang dari kalung anjing yang melingkar erat di lehernya. Membuatnya dia yang duduk bersimpuh jadi oleng, terjatuh ke depan, dengan wajahnya menabrak selangkangan pacarnya,
Coba aja muzzle sialan ini tidak menutup separuh wajahnya, Sethos pasti sudah dengan senang hati usap-usap wajah di kemaluan kekasihnya yang merekah cantik. Tapi apa daya, di permainan mereka hari ini, dia cuma bisa balas dengan, “Woof—” menyedihkan.
Pacarnya yang suuuper indah, melihat dia dengan senyuman jahil. Membuka kaki lebih lebar, meraba paha dalam yang masih ada banyak bekas gigitannya semalam, semakin dekat ke selangkangan, lalu pakai dua jari diselipkan belahan labia gemuk yang menutup, digosok-gosok, setelahnya dua jari itu dibuka.
Scara, pujaan hatinya, cintanya, mempertontonkan klitoris gemuk yang mengacung, lipatan kelamin yang kelewatan basah, dan bibir vagina yang berdenyut—mengalirkan banyak cairan lubrikasi.
“Gara-gara kamu semalem,” pakai ujung jari, menekan klitoris sendiri, Scara berjengit saat sensasi ngilu sekaligus sensitif membuat pinggulnya bergerak gelisah, “Kayak anjing tolol. Dibilang udah isep-isepnya, tapi malah gak mau berhenti.”
“Tapi—” mau protes!
“Sethos.”
Peringatan dari pacarnya karena membalas tidak sopan membuat Sethos mengkerut, kali ini menjawab dengan benar, “Wuff…”
“Lihat sekarang, jadi bengkak begini.”
Habis mau bagaimana? Kemarin pulang dari kampus, ajakan tiba-tiba pacarnya buat main ke rumah, jelas berakhir dengan kegiatan panas di ranjang. Awalnya cuma nonton bareng setelah makan malam sama Tante Nahida—tantenya Scara—ngobrol santai, yang berakhir kekasihnya menggerutu gak suka pas dapet info tugas kelompok yang mepet.
Deadline jam 12 malam, jadinya Sethos dikacangin selama Scara dan posisi jeleknya (setengah berbaring dengan laptop di perut) sibuk nugas.
Dan… apa yang bakal dia lakukan kalau didiemin begini? Jelas ganggu-ganggu!
Dari kecupan di betis, lutut, dan paha yang engga dapet reaksi apa-apa, sampai akhirnya dia digetok karena pelorotin celana Scara dan melancarkan serangan cium ke pinggul, pubis, sampai kemaluan pacarnya.
Dimarahin. Tapi dia ngotot diem di sana, gigit-gigit gemas. Mengabaikan jambakan di rambutnya, pundaknya yang diinjak-didorong, Sethos sibuk! Sibuk bikin Scara berkali-kali menjepit kepalanya, menggosok kelamin ke wajahnya.
Tugas Scara apa kabar? Ya selesai. 30 menit sebelum deadline berunding heboh dengan teman-temannya, revisi-revisi kecil lewat dokumen online dengan Sethos di antara kaki membenamkan wajah ke perutnya, ngulet—puas lihat dia ngomel-ngomel. Sampai akhirnya 5 menit sebelum deadline, dikumpul.
Habis itu… ya mereka tetap ngentot. Cuma sekali aja karena kelewatan capek, seharian sibuk jadi Scara keburu cranky pas pacarnya ndusel-ndusel pengen lagi.
Besoknya, hal yang Sethos tidak duga, Scara bakal balas dendam setelah semalem dia usilin. Sarapan, dadah-dadah sama Tante Nahida yang mau berangkat kerja, sibuk ngerjain tugas kuliah, setelah makan siang, Sethos gemeter dikit lihat pacarnya datang bawa kalung anjing dan muzzle.
Bikin dia heboh: SCARA DAPET BEGITUAN DARI MANA?! Tapi belum sempet protes, sudah disuruh bugil. Dipakein begituan, dan… Sethos rasanya agak ngaceng dikit (banyak) begitu Scara melihatnya sinis, sambil berucap, “Nakal, aku hukum.”
Jadi, kembali ke saat ini.
Sudah tidak boleh ngomong selain menggonggong, sekarang dia dibiarkan ngiler nonton kekasihnya yang menjelaskan kesalahannya semalam sambil menarik tali kekang—membuatnya sedikit tersedak, dengan tangan yang lain sibuk bermain dengan kemaluan sendiri.
“Sudah engga tau diri, kalau hisap-hisap selalu kenceng. Dimarahi juga gak mau berhenti.”
Mengkerut, Sethos cuma balas pakai, “Ungg…” khas merajuk seperti anjing. Salah sendiri, setiap dia hisap klitoris pacarnya, Scara selalu melengkung cantik. Mendesah seksi sambil membanjiri dagunya yang dengan sengaja menggesek mulut vagina kekasihnya. Dia selalu merasa puas setelah melepeh buntalan sensitif itu, klitoris pacarnya bakal kelihatan lebih gemuk. Mengacung, berkedut. Bikin dia mau emut-emut lagi lebih lama.
“Sudah begitu—“ melanjutkan marah-marahnya, kali ini Scara menekan telunjuk masuk ke vaginanya. Mengorek, menarik cairan di dalam sana keluar, “—tidak tahu capek, kontolmu ngacengan terus.”
Sethos kecil dimarahin, bukannya layu, malah makin semangat. Apa lagi begitu telunjuk pacarnya keluar, ada sedikit cairan putih yang bercampur dengan lendir kekasihnya.
“Memangnya memekku penampungan peju, apa?”
Fuuck, masih sisa semennya semalam.
Scara tahu, pacarnya kelewatan semangat kalo lagi menonton kelaminnya begini. Sedari tadi hanya melihat ke sana, berkali-kali Sethos mengecap ludah saat dia mengucek kemaluannya sendiri. Maka pakai cairan vaginanya, dia mengusap setiap lipatan vulvanya. Memijat klitoris, gosok lubang kencingnya, menelusupkan ujung dua jari masuk buat menarik lebih banyak cairan keluar. Buat labianya banjir.
Sambil di bawah sana, kakinya menginjak paha Sethos. Membuat warna kulit mereka yang kontras bersanding. Dia yang pucat dan kekasihnya yang manis seperti coklat yang sering dia gigiti.
Menelusuri paha dalam, sampai selangkangan. Pakai punggung kaki Scara menyundul pelir Sethos yang menggantung gemuk, entah berapa banyak semen di dalam sana yang diproduksi untuk mengisinya nanti. Lalu naik ke batang penis, menginjak kejantanan kekasihnya yang membuat kekasihnya mengerang.
“Anjing yang gak tau aturan, harus dihukum.”
.
Sethos dipakai kayak dildo.
Sudah cuma dibolehin ngendus-ngendus pas pacarnya melubrikasi diri sendiri—bener-bener kayak anjing kebelet kawin, sekarang tangannya disuruh taruh ke belakang punggung, saling genggam saat Scara pelan-pelan naik ke atas pangkuannya.
Pangkal penisnya digenggam, sementara kekasihnya gosok-gosok kelamin mereka, memastikan Sethos basah dengan cairan vagina sebelum Scara menekan ujung kelaminnya masuk.
Gataaaaaal! Tangannya pengen peluk! Mau memastikan pacarnya aman, tidak oleng. Mau bantu sesi penetrasi mereka biar lebih mudah karena sekali saat kekasihnya turun, penisnya salah posisi. Bukannya masuk, malah membelah labia Scara.
Bahkan setiap tangannya yang saling menggenggam tidak sengaja terlepas, dia dapat desisan kesal. Jadinya Sethos kembali mencengkram lengannya sendiri, mengkaing menyedihkan saat pacarnya asik loncat-loncat kecil hanya sebatas kepala penisnya saja.
“Ugg— wuuf!” Berusaha menggerakan pinggulnya naik, mau… mau dinding hangat Scara memeluknya sampai pangkal, tapi baru gerak sedikit, pundaknya digigit terus dapat ancaman jelek! 😞
“Kalau gerak, aku udahan.”
MANA BISA BEGITU?!
Memicing tidak setuju, tapi pacarnya yang super manis malas mendengus sombong. Kecup bekas gigitan di pundaknya sambil menggerakan pinggul memutar. Gerakan yang paling Sethos tahu, kesukaan kekasihnya, karena penisnya (yang sekarang dipakai sesuka hati) mengaduk begitu enak. Menekan semua sudut, sampai dirasa ujung kelaminnya menyundul spot yang enak.
Barulah saat titik kesukaannya disundul, Scara bergerak menunggangi. Membuat gerakan yang sama, menggosok tepat di tempat terenak yang bikin Sethos stress berat.
Sethos juga mau gerak! Mau lebih cepat, mau lebih dalam. Kalau begini, rasanya seperti di edging sampai gila. Terutama karena Scara bakal berhenti saat rasanya ejakulasinya sudah di depan mata, lalu begitu hasratnya jatuh, baru pacarnya bergerak lagi.
“Mmmm!” Menggeram protes!
Tapi yang Sethos dapat adalah kecupan-kecupan manis di leher sampai pipinya. Usapan sayang di pundak, dan bisikan,
“Anjing, Sethos…”
“Anak baik, bisa nurut.”
“Ang…
sial
, di sini enak— ngg, Sethos.
Anjing pinter.
”
Denger pacarnya memuji (sambil kadang memaki), kan dia jadi luluh!
Apa lagi saat kekasihnya mendekap tubuhnya erat. Gemetar, membenamkan wajah ke perpotongan leher, sambil di bawah sana penisnya dijepit kuat. Rintihan pelan, bersamaan tubuh Scara yang menegang. Sethos terlalu hafal dengan reaksi pacarnya pas orgasme.
AAAAA DIA JUGA MAU PELUK!
Sethos menggigit pipi dalamnya. Kelewatan gemas lihat Scara ngusel-ngusel di pundaknya menikmati klimaks. Ada satu menit penuh dia mati gaya, tidak tahu harus bereaksi apa, sampai Scara pegangan ke pundaknya dan…
‘plop’
Penisnya yang masih setinggi menara dilepas dari ‘pelukan’ kesukaannya. Scara berdiri, langsung berbaring ke ranjang sibuk mengatur nafas. Bikin dia melongo.
UDAH? BEGINI SAJA?
Dia bener-bener dipakai kayak mainan seks, dan begitu pacarnya puas langsung ditinggal?
Mau cemberut! Mau tantruuum!
Cuma omongan Scara selanjutnya membuat dia buru-buru melepas muzzle yang terikat di mulut, lalu loncat menerjang kekasihnya.
Scara, membuka kaki, menepuk vulva yang masih berdenyut merasakan nikmat, mengundang kekasihnya pakai kerlingan genit, “Sethos, sini.
Kalau mau klimaks, cari sendiri.”
.
Scara rasa, dia salah ngomong. Harusnya dia enggak provokasi Sethos seperti itu. Sudah tau punya pacar nafsuan, dikit-dikit ngaceng, dikit-dikit sange. DITAMBAH usil bukan main dan paling doyan lihat dia ngomel-ngomel.
Harusnya dia tau.
Karena sekarang, seperti balas dendam, bukannya buru-buru masuk-gesek-klimaks, terus mereka peluk-peluk mesra sebelum beres-beres karena hari sudah sore dan mereka janji bakal masak makan malam ke Tante Nahida, Sethos sekarang seperti hewan lapar.
Membenamkan wajah di selangkangannya, menyeruput rakus mulut vaginanya, sementara hidung pria itu bercumbu dengan klitorisnya.
Gila!
Sudah dikode buat cepat selesaikan persetubuhan mereka, malah mau lebih! Scara mencengkram lengan yang menggenggam pinggulnya. Tangan Sethos yang memegangnya erat biar tidak banyak gerak.
“Sethos! Udah— mmmn, ah! Aku sensitif!”
Menjulurkan lidah, Sethos gak denger. Tepatnya, tidak mau dengar. Lagi asik. Bibir vagina pacarnya masih membuka bekas penetrasi barusan. Bikin dia bisa menyecap kenyang cairan yang masih mengalir. Naik sedikit, sekarang belah bibir atasnya menekan klitoris gemuk kesukaannya sementara lidahnya cari celah menekan lubang kencing pacarnya. Dijilat cepat pakai ujung lidah, yang sukses membuat Scara berdenyut, mengatup otot vagina karena sensasi geli di sana.
Baru setelah itu semua, dia masukkan klitoris kekasihnya ke dalam mulut. Dihisap kencang, seperti bayi kelaparan. Sesuatu yang sukses membuat tangan Scara yang mencakar lengannya berpindah.
Kali ini jambak rambutnya. Kencang.
Bersamaan dengan orgasme enak yang membuat pinggul kekasihnya mengejang. Bergerak tidak teratur bersamaan dengan meongan lucu.
“Nmm… naaanh ah!”
Saat-saat seperti ini, biasanya Sethos bakal membiarkan pacarnya menikmati klimaks. Tapi karena balas dendam, jemarinya menerobos liang vagina yang menyempit saat klimaks. Menekuk jari, digaruknya titik sensitif yang ia hafal di luar kepala.
Gspot Scara.
Ditekan kencang dari dalam, dan detik selanjutnya, Sethos terkekeh saat ada cairan bening menyembur ke wajahnya.
“ANGG! MMN— Setooosh!” Scara mengerang kencang, rambut panjang ikal pacarnya sekarang dia tarik seperti tali kekang. Seperti tidak peduli nanti bakal repot melepaskan bagian kusut yang dia cengkram. Karena sensasi nikmat bertubi bikin kepalanya seperti mau pecah, gila! “Tolol, tolol!” memaki, dasar pacar menyebalkan!
Scara mau tendang pundak pacarnya, kalau saja kakinya tidak gemetar keenakan. Dia… dia squirt.
Dan bukannya berhenti, kasih dia jeda, Sethos dengan senang hati kembali bercumbu dengan klitorisnya, sementara di dalamnya sekarang ada tiga jari yang terus menggaruk bagian sensitifnya. Ditekan dalam-dalam, kemudian tiga jari itu dibuka lebar sambil ditarik keluar. Sinting!
“Kamu marah-marah, tapi lihat, deh. Setiap aku mau keluarin jariku—” menjeda omongannya, Sethos mengecup buntalan saraf yang sedari tadi dia kulum. Sembari satu tangannya yang menganggur menarik labia kekasihnya kesamping. Mau lihat lebih banyak kemaluan Scara, “—kamu langsung jepit-jepit. Kenceng banget, kayak gak rela kalau aku lepas.”
“Enggak!”
“Masa engga?” coba membuktikan omongan pacarnya, Sethos menarik jarinya keluar. Hal yang membuat Scara tanpa sadar melentingkan pinggul, “Ini aku keluarin, langsung ngebuka gitu. Sepi ya, kalau engga aku isi?”
Menggeleng cepat, Scara membawa tangannya turun. Mau hus-hus jari Sethos yang masih membuka labianya, “Awaas!” Sudah! Sudah selesai nontonin vaginanya begini!
Tapi sepertinya Scara salah langkah.
Karena sekarang, Sethos yang sedang ambil kendali.
Tangannya ditampik, tapi yang terutama… kemaluannya ditampar. Kencang.
“NGGH! Sethos!” Sakit! Nyebelin karena bukan berhenti, labianya dibuka lebih lebar, sekarang klitorisnya yang ditepuk-tepuk kencang. Berkali-kali, membuatnya kewalahan, dan…
“Udah! Udaaah, mmnng— Sethos idiot, tolol! Anjing! Aku, aku pipis… pipis—ah!”
“Pipis aja, sayang.”
MANA BISA BEGITU!
Scara mengerang panjang, tungkainya kelewatan lemas tidak bisa dia bawa buat menutup. Cuma bisa tergeletak pasrah saat klitorisnya dicubit. Ditarik kencang dan—
syuuur…
Membusungkan dada, Scara sudah tidak tahu lagi. Antara ngompol atau orgasme, dia tidak tahu! Matanya sudah membalik, tidak lagi fokus. Rasa sakit dan nikmat bercampur hebat menghajarnya.
Dan di tengah itu semua, tanpa ia sadari, Sethos memposisikan diri di antara pahanya. Ditengah ejakulasinya yang paling gila, dia dipenetrasi.
Dinding vaginanya yang menjepit rapat karena lonjakan klimaks sekarang dipaksa membuka. Menerima penis tebal kekasihnya dalam-dalam. Kelewatan dalam, sampai rasanya seperti mulut rahimnya dibuat membuka .
“Ungg… mmn… Sethos—” mengerang kacau. Scara bisa merasakan matanya mulai basah. Overwhelmed sama semua ini.
Tangan yang mengusap dadanya bergerak menariknya dalam pelukan mesra, bersama dengan kecupan-kecupan kecil di pipi dan bibir. Sethos bergerak pelan. Kelewatan pelan, sampai rasanya setiap lekuk penis pacarnya bisa ia rasakan jelas.
“Sayang, manisnya.”
Nyebelin, baru kayak gini dia disayang-sayang. Scara mencakar main-main punggung kekasihnya, sebelum akhirnya ikut balas mendekap. Merengek, “Udah,” yang dibalas dengan,
“Aku kan belum keluar.”
Refleks, Scara memaki, “Anjing.”
Dan dibalas dengan senang hati, “Woof!”
Sethos buru-buru membawa Scara dalam ciuman malas yang isinya hanya lumatan lamban. Sudah tahu pacarnya mau ngomel panjang, jadi dia stop dulu. Menjepit bibir bawah kekasihnya dengan bibir, menjilat belahan manis yang terbuka, Sethos sibuk mengecup.
Sambil di bawah sana, dia mulai bergerak. Cepat.
Entah sudah berapa puluh kali seks mereka, tapi setiap kali, rasanya Sethos selalu ketagihan. Scara terlalu handal memerah penisnya, menjepit-melonggar dengan tempo yang beriringan dengan gerakan keluar-masuknya. Dinding vagina kekasihnya lembut, panas. Selalu mengeluarkan suara becek yang kelewatan seksi, karena setiap Scara terangsang, kelamin kekasihnya seperti air mancur yang terus mengeluarkan pelumas.
Fuck, bahkan sudah tidak terhitung berapa kali dia mengambil cairan lubrikasi kekasihnya buat diusap ke penis sendiri, jadi pelumas setiap dia masturbasi kalau Scara lagi capek dengan sesi seks mereka.
“Scara,” bergumam, Sethos menghentikan cumbuan mereka saat pinggul kekasihnya menyambut baik semua hentakannya. Balas mendorong naik, bahkan dia tidak perlu bergerak, Scara sibuk mencari enaknya sendiri, “Tadi bilang sudah capek orgasme. Tapi ini mau lagi, eh?”
Mendelik. Sethos sudah tau, tapi masih saja nanya, “Berisik!” Tangannya bergerak turun, mencari bokong kekasihnya. Menarik Sethos yang berhenti menggenjotnya, “Geraak—“
“Aku gerak, tapi kamu sambil cubit nenen, dong.”
“Hiss—“ Sethos banyak maunya! Scara memicing, lihat pacarnya yang menegakkan punggung, tidak menimpanya lagi. Bikin dia mau gak mau meraba dadanya sendiri. Pakai telunjuk, colek-colek putingnya yang sedari tadi tidak dapat perhatian.
Setelah dua pucuk dadanya mulai mengeras, baru dibawah sana Sethos kembali bergerak. Enak…
“Dicubit, sayang, aku gerak kamu langsung diem.”
Apaan? Scara baru mau menurut, keburu tangan pacarnya ambil alih. Memilin putingnya, ditarik-tarik gemas. Membuat sensasi geli sampai ke perut bawahnya, “Apa, kamu udah, aah, cubit duluan.”
“Habis gemes.” Puting pacarnya dulu tidak sebesar ini. Entah, mungkin sesi-sesi mereka yang bikin tubuh kekasihnya berubah, “Bisa gak ya, kamu klimaks cuma karena putingnya aku mainin?”
“Gak ada kayak gitu!”
“Mana tau, kan belum coba.”
Scara rasanya mau terus menimpali. Tapi dibawah sana, ada yang lebih penting untuk diperhatikan, “Stop bahas ini, gerak!”
“Loh, aku udah gerak.”
“Yang cepet!!!”
Tawanya meledak. Sethos kalah, pacarnya lucu banget, “Iya, sayang. Gerak kayak gini?” Menarik penisnya hanya tinggal ujungnya saja yang menyangkut di vagina kekasihnya, detik selanjutnya dia menekan cepat. Diam setengah detik, kemudian ditarik lagi dengan lambat, sebelum kembali menghentak dalam.
Dan hanya lima hentakan, bersamaan cubitan di puting dan usapan di klitoris kekasihnya, Sethos bisa merasakan pubisnya banjir.
Scara, lagi-lagi, klimaks.
“Sudah keluar lagi?”
Di kesempatan seperti ini, saat kekasihnya mabuk orgasme, Sethos pakai kesempatan yang sama untuk mengejar klimaks.
“AH! Angg, Sethooos! Sethos anjing, tolol!” Scara, ditengah nikmatnya, lagi-lagi, dipakai dengan begitu hebat. Sethos tidak lagi menghentak dengan tempo. Pacarnya menggenjot kacau, yang penting penis tergosok dengan liang senggamanya, “Aku habis keluaaar!” Merengek protes, menekan perut bawah kekasihnya buat berhenti bergerak—yang tentu hanya sia-sia—Scara pening!
Terutama seperti tidak mau klimaks sendiri, Sethos memancingnya lagi. Menggosok klitorisnya, memijat lubang kencingnya, dan terakhir gumpalan sensitifnya ditarik. Kencang.
“Itil aku! Itil aku— udaaah! Jangan dicubit terus! HNGG, pipis, aku pipis… Sethos, pipiss…”
Sethos? Mana peduli. Penisnya kelewatan enak merasakan vagina kekasihnya meremat kencang. Bahkan ia mencari sensasi ini. Sensasi seperti penisnya didorong keluar oleh otot dinding senggama Scara. Membuatnya dengan senang hati menekan kejantanannya lebih dalam. Sampai mulut vagina Scara melingkar di pangkal penisnya dengan apik.
Dan di posisi dalam begini, dia klimaks. Menyemburkan semen ke dalam rahim kekasihnya, sementara Scara yang mengeong soal ngompol ternyata klimaks tanpa mengeluarkan apapun. Dry orgasm.
Sethos menikmati ejakulasinya. Bergerak malas, menyukai bunyi becek antara semen dan cairan pelumas kekasihnya yang bercampur. Sementara Scara terkapar tanpa tenaga, mengatur nafas yang kacau, sambil mencari tangannya buat digenggam.
Pegangan tangan di tengah sesi nikmat orgasme rasanya menggemaskan. Merunduk, mengecup punggung tangan Scara yang ia genggam, Sethos berbisik, “Scara, enak?”
Dan Scara yang sudah terhanyut dengan kegiatan mereka, menjawab lirih, “Enak…” membawa tangan Sethos menyentuh perutnya. Menyentuh tubuhnya lebih banyak, “Spermamu, panas. Penuh.”
Sethos selalu tau dan pasti tau.
Pun sering kena makiannya, Sethos tau apa yang jadi kesukaan Scara. Walau malas diakui terang-terangan—karena pacarnya yang super iseng bakal ngebahas ini terus-menerus—rasanya setiap sentuhan Sethos di kulitnya, sensasi panas yang menggelitik, bersama cengiran yang khas, dia seperti dibuat jatuh cinta lagi.
Sayang saja…
“Kamu juga enak.” Sethos menekan masuk penisnya yang mulai layu, masih belum rela seks mereka selesai, “Di dalem sini lembut, panas. Kamu pinter banget sayang, mm… iya, jepit kayak gitu. Enak.” Manis, dia puji, kelaminnya dapat hisapan kencang, “Kalau masih bisa keras, aku mau lagi.”
…kadang nyebelin kayak gini!
Detik dengar Sethos bilang mau lagi, pakai sisa tenaga, Scara merangkak mundur sambil menatap sengit, “GAK ADA!”
Bikin Sethos jadi pengen iseng, “Ayoo sekali lagi.”
“Gak!”
“Loh, mau kemana sayang? Tititku kok dilepeh keluar?”
“GAAAAK! Sethos bajingan! Cabul! Otak cabul!”
Apa setelah adegan ‘berusaha kabur’ sesi mereka jadi selesai? Jelas enggak. Sethos dan segala macam idenya, pakai kesempatan Scara yang kelewatan lemas buat duduk di penisnya. Bilangnya, aftercare lucuk. Padahal jarinya tidak berhenti usap-usap klitoris pacarnya yang kelewatan sensitif.
“Kamu ngompol dulu, baru deh kita selesai.” 😚
“Lihat aja, kupotong tititmu nanti!”
***
Scara lemas.
Tenaganya habis, dikuras sama pacarnya yang cengengesan senang sambil usap selangkangannya pakai handuk. Bikin sebel, jadi dia menyindir, “Ketawa.”
Sethos yang sudah kebal, asik senyum-senyum, Menunggu Scara selesai minum sambil mengeringkan badan pacarnya.
Mereka sudah mandi, dia sudah ganti sprei juga!
Scara rewel dari tadi mau tidur, tapi karena kasur yang jadi tempat kejadian ngentot hebat mereka kotor, dan mereka harus bersih-bersih juga, jadinya sesi istirahat diundur 20 menit.
Menyisir helai rambut Scara yang basah setelah ia bantu pacarnya berpakaian, Sethos merunduk. Mengecup sayang dahi, kemudian bergantian kedua mata kekasihnya, “Tidur, dulu gih. Aku beli makan malem dulu sebelum tante pulang.”
Mendekut, gemas. Lihat! Pacarnya mengangguk lucu sebelum merangkak naik ke kasur yang sudah bersih, peluk guling sambil terkantuk-kantuk melihatnya.
Sethos mengambil sprei kotor di lantai, mau buru-buru masukin mesin cuci dulu sebelum cari makan. Kalau sudah gini, ya jelas pasti batal menepati janji ke Tante Nahida buat mereka aja yang masak makan malam. Makanya agak ngebut sebelum jam pulang, Sethos ngacir.
Tapi betapa jantungnya seperti jatoh ke tanah, karena begitu keluar kamar pacarnya, dia dengar suara ‘tuk-tuk-tuk’. Suara yang kelewatan familiar, suara pisau bertemu dengan talenan.
Karena begitu dia belok mau taruh baju dan sprei kotor, TANTE NAHIDA UDAH PULANG! Masih pakai baju kantor, menyiapkan makan malam.
Tante pacarnya ngelihat dia yang canggung bawa setumpuk barang bukti hasil seks heboh, cuma senyum seperti tidak ada apa-apa, “Scara tidur?”
“I-iya tante…”
“Kalau udah di masukin mesin cuci, sekalian di nyalain aja. Mesih cucinya udah penuh.”
Sethos gemeter.
Ini, ini ketahuan kah? Gak mungkin Tante kekasihnya yang kerja sebagai dosen sekaligus guru besar di kampus mereka gak tau apa yang sudah mereka perbuat. Jalan patah-patah, kelewatan kaku, Sethos menurut. Masukin sisa baju kotor, nyalakan mesin cuci.
“Kalau sudah, bantu potong sayur sebentar, boleh, Sethos?”
Baru mau bengong. Tapi karena dipanggil, Sethos langsung buru-buru mendekat. Mengambil pisau, potong-potong sayur yang sudah dicuci.
Canggung banget, men!
Apa lagi setelah itu, celetukan Tante Nahida membuatnya pengen gali tanah dan sembunyiin kepalanya di sana.
“Kalian kalau seks, pakai kondom, kan?”
AAAAAAAAAA, KUBUR DIA SEKARANG!
— Sudah!
