Actions

Work Header

strangers in the night

Summary:

Halte dan lagu mempertemukan mereka.

#Octoberabble: day 6 - favorite song.

Notes:

If no one got me, I know Frank Sinatra got me. Title is the name of the song, fyi.

Work Text:

Keadaan stasiun di jam sibuk pulang kantor adalah momen yang melelahkan pula mengerikan. Jiyan harus berdesak-desakan dengan ratusan orang dewasa, berlarian berpindah dari satu peron ke peron lain, digempur oleh campuran aroma antara parfum menyengat dan ketiak yang menusuk hidung, atau perasaan was-was takut dicopet—semua itu harus Jiyan hadapi setiap lima hari per minggu demi bisa masuk ke gerbong kereta dengan harapan kondisi anggota tubuhnya masih utuh.

Tetapi untungnya kebiasaan itu sudah berubah semenjak Jiyan resign dari pekerjaan sebelumnya dan sekarang untuk berangkat ke kantor dan pulang, ia beralih menggunakan bus. Di halte selagi menunggu, Jiyan memasang earphone wireless seperti biasa lalu jarinya sibuk mencari lagu yang cocok untuk diputar di malam yang dingin sehabis hujan saat sebuah tepukan di pundaknya membuat ia mendongak.

"Boleh aku duduk di sini?" tanya orang asing itu, menunjuk tempat kosong di samping Jiyan.

"Oh, silakan duduk aja enggak apa-apa, kok."

"Makasih."

Jiyan mengangguk.

Di hari berikutnya, Jiyan bertemu lagi dengan orang itu, berdiri menyenderkan bahunya di tiang plang halte sedangkan ia duduk. Sekarang tanpa tertutup oleh tudung jaket, Jiyan bisa melihat detail dari lelaki tersebut; memilki rambut putih panjang yang dicepol berantakan, tinggi (mungkin sepantaran dengan Jiyan), telinganya disumbat oleh earphone kabel dan kepalanya mengangguk-angguk sedikit—sepertinya mengikuti alunan nada lagu yang sedang didengar.

Di minggu berikutnya, Jiyan berlari ke arah halte karena hujan deras tiba-tiba turun membasahi tubuhnya. Saat sampai, mata Jiyan memperhatikan keadaan halte penuh oleh orang-orang yang sedang mengamankan diri dari hujan dan tentu saja pandangannya bertemu dengan lelaki itu lagi. Tiba-tiba orang itu berdiri dari posisi duduknya dan mendekati Jiyan.

"Duduk sini, kayaknya bus bakal telat dateng karena busway-nya kebanjiran."

"Makasih, ya."

Lelaki itu mengangguk.

Siklus pertemuan antara Jiyan dengan si lelaki yang tidak ia tahu namanya terus berulang selama beberapa minggu, di tempat dan jam yang sama seolah mereka berdua ditakdirkan untuk bertemu di sana. Semakin sering mereka berpapasan, Jiyan jadi semakin tertarik dan penasaran ingin mengenal lebih dekat pria itu. Beberapa kali ia kepergok basah sedang melirik dan melihat reaksi lelaki itu dengan seringaian kecil di bibir nya yang jika Jiyan sentuh mungkin akan terasa... ah sudahlah, sangat tidak etis rasanya Jiyan mempunyai pikiran seperti itu terhadap orang tak dikenal.

Di malam minggu, dimana tidak ada orang lain selain mereka berdua yang sedang duduk bersebelahan di kursi halte menunggu jadwal bus terakhir, Jiyan memberanikan diri.

"Hai," sapa Jiyan. "Kita kan udah sering banget ketemu, setiap hari malah. Jadi, boleh kenalan enggak?"

Lelaki itu nampak terkejut sesaat, ekspresi wajahnya seolah bertanya: 'Kamu ngomong sama aku?'

"Calcharo." jawabnya, melepas earphone dari telinga. "Kamu?

"Aku Jiyan," ia langsung menyodorkan tangan untuk bersalaman dan dibalas oleh Calcharo.

"Kamu suka dengerin lagu, ya?"

Calcharo menganggukan kepala. "Ngebantu banget dengerin musik itu buat mood aku, apalagi habis seharian kerja."

Kekehan kecil lolos dari mulut Jiyan. "Musik apa yang suka kamu dengerin? Aku butuh lagu baru buat ditambah di playlist."

"Jujur aja, aku dengerin apa aja selama enak didenger telinga. Mau itu dangdut, rock, blues, reggae, hiphop, bahkan k-pop jadi ga tentu."

"Lengkap banget ya, udah kayak Mr. DIY, apa yang dimau semua ada." 

Untuk pertama kalinya Jiyan melihat Calcharo tertawa, getarannya memunculkan kupu-kupu berterbangan di perutnya. "Kamu biasanya suka denger musik dengan genre apa?" tanya Calcharo.

"Hmm, menurut aku jazz, classical atau rnb sama pop, tapi aku ngga masalah sama genre lain kalau lagi mood."

"Cocok sama pembawaan kamu."

"I'll take that as a compliment."

Calcharo tersenyum. "It is a compliment."

Entah Jiyan berhalusinasi atau tidak, tapi dia merasa Calcharo menurunkan pandangan mata ke bibirnya selama beberapa detik. Jiyan menjadi tertantang mengambil langkah berani selanjutnya.

"Cal,"

"Jiyan,"

Keduanya tertawa, membawa kehangatan di halte yang dikelilingi dinginnya kegelapan malam.

"Kamu duluan." suruh Jiyan.

"Oke, sekarang aku balik nanya, apa lagu favorit kamu?"

Tanpa perlu membuka ponsel Jiyan langsung menjawab, "I've Got A Crush On You." 

Bagai bom atom yang meledak, semburat merah dalam sekejap merekah di pipi Calcharo, wajahnya menatap Jiyan tak percaya juga bingung.

"Lagu dari Frank Sinatra, maaf aku lupa sebut nama penyanyi nya." Jiyan tersenyum jahil.

"Oh,"

"You didn't get the clue?

"Oh." kata Calcharo, kini lebih ditekankan, menyadari apa yang dimaksud Jiyan. "Kalau gitu, sekarang giliranku."

"Apa lagu favorit kamu?"

"Mari bercinta." Calcharo jawab dengan ekspresi serius.

Jiyan merasa jantungnya jatuh menggelinding. "Kamu serius?"

"Itu lagu dari Aura Kasih, maaf aku lupa sebut nama penyanyi nya." ucapnya, mengejek Jiyan yang sudah lebih dulu menjahilinya.

"Aku kira kamu-"

"Kita baru aja kenalan, Jiyan. Kalau kamu ngebet mau kita lakuin itu aku bisa-"

"Calcharo!"

Bus terakhir pun akhirnya datang.

Series this work belongs to: