Work Text:
Satoshi mupeng.
Walaupun engga terang-terangan ditunjukin, plus dia masih pakai ekspresi datar pas ngeliatin pacarnya yang selonjoran malas kekenyangan sambil tepuk-tepuk perut (padahal gemes abis).
Belakangan mereka berdua sibuk. Tepatnya, begitu proyeknya selesai, sekarang gantian Naoki yang banyak urusan. Engga ada kesempatan dua-duanya kosong buat ‘pacaran seru’. Bahkan bisa punya waktu buat makan malam berdua begini saja, sudah jarang. Walaupun mereka sekantor, tetap saja, punya urusan masing-masing.
Buru-buru menyelesaikan cuci piring dan lap cipratan air sekitar wastafel, Satoshi mengeluarkan gelas kaca yang sempat dia masukkan freezer begitu mereka sampai apartemen. Apa lagi kalau bukan untuk penutup malam mereka? Bir dingin!
Satu kaleng buat bareng-bareng, membagi sama rata ke dua gelas beku biar suhunya tetap terjaga. Menghampiri Naoki yang meraba-raba lipatan sofa cari remot TV, Satoshi menekan bokong gelas ke dahi pacarnya. Bikin dia dapet sedetik delikan galak, sebelum ekspresi kekasihnya berubah senang.
“Terima kasih,” ambil gelas dari tangannya, Naoki menyalakan televisi sambil ambil tegukkan besar. Sendawa kecil pacarnya bikin Satoshi gemas.
Ikut duduk dan taruh gelasnya di meja, lupa sama niatnya ikut menikmati bir, Satoshi ambil satu kaki Naoki buat taruh di pangkuan, “Aku pijetin, ya?”
“Tumben.”
Mendengus, mengurut pergelangan kaki Naoki, “Seharian kamu mondar-mandir, aku yang lihatnya aja capek. Apa lagi kamu.” Satoshi memijat betis pacarnya yang sekeras batu, “Masih banyak kerjaanmu?”
Menyesap habis bir di tangan, Naoki malah ngelirik gelas kekasihnya yang masih penuh. Curi kesempatan karena Satoshi tidak bisa banyak gerak dengan kedua kakinya di paha pria itu, Naoki ambil minuman pacarnya, “Bahkan belum mulai. Proposal belum selesai, Senin depan baru presentasi rencana.” Cuma diingat saja bikin pening.
“Kan. Aku bilang kemarin, masukin aku ke timmu. Tapi kamu malah nyuruh aku ngerjain urusan lain.”
Mendengus, “Mana bisa fokus kalau kita barengan.”
Begini nih kalau pacar dan senior kerja dirangkap jadi satu. Tiap hari ketemu juga belum tentu bisa berduaan. Mana di kantor juga engga ada yang tau mereka pacaran. Orang-orang taunya cuma Satoshi Hasegawa dan Naoki Miura jangan dikasih kerjaan barengan. Bisa-bisa kayak anjing dan kucing, berantem terus.
Mencebik, pijet-pijet yang Satoshi kasih jadi agak kenceng. Sengaja bikin Naoki mengerang protes, sampai tepuk pundaknya, “Sakit!”
“Bukannya kamu suka kalau sakit?” Tangannya yang menggenggam betis Naoki dia geser naik. Menggosok belakang lutut, merasakan lipatan lembab di sana sebelum meremas paha pacarnya. Cari daerah yang paling empuk buat diremat—di paha dalam, menelusup ke bawah celana pendek Naoki.
Lirikan galak gak bikin dia berhenti. Malah balas menatap kekasihnya dengan damba, Satoshi mencubit pelan pangkal paha Naoki.
Membuat pacarnya mengeluarkan dengungan lucu, sambil menghimpit tangannya di antara paha, “Mmn—”
“Nao, kalau dijepit gini, aku engga bisa lanjut pijetinnya, dong…”
Dibilangin begitu, Naoki malah menggesek kedua pahanya. Menekan lebih kuat sambil mengerling ke arah Satoshi, tahu pacarnya setelah ini bakal—
gyuut
—cubit lebih kencang. Sampai ngilu.
Tapi sensasi sakitlah yang membuatnya bulu kuduknya berdiri, perutnya terasa geli, jantungnya berdegup kencang, dan dia mau lagi.
Untungnya Satoshi adalah orang yang paling cepat menangkap apa yang Naoki inginkan. Malah tidak perlu pakai ngomong, paha Naoki dicengkram kuat. Didorong ke samping, dibuat mengangkang sampai ujung celana kekasihnya terangkat. Memperlihatkan lipatan paha pacarnya yang super seksi.
Di kepalanya, sudah ada seratus gaya jilat-jilat dan endus-endus perbatasan paha dan selangkangan Naoki. Bayangin. Harum sabun habis mandi dicampur sama wangi keringat pacarnya. Yum!
ding…
Habis itu dia bakal gigit-gigit, sampai kepalanya dijepit paha empuk.
ding… ding… ding…
Terus, terus, terus, dia bakal emut titit pacarnya yang imut sambil mainin jari di lubang senggama Naoki,
tring… trililing…
dan BERAKHIR MEREKA SEKS HEBAT, HAHAHA! Selamat tinggal 2 minggu tanpa seks, saatnya makan Nao—
“Sebentar, ada telepon.”
Loh…
Satoshi terdiam. Sudah di posisi siap terjang, tiba-tiba pacarnya beranjak pergi begitu saja, ambil ponsel di meja.
Loh, loh, loh, kok jadi begini?
Melihat tangannya yang mengambang kaku di udara, Satoshi patah-patah menoleh lihat Naoki kasih tanda pakai tangan memintanya menunggu sebentar. Sambil kasih isyarat kalau ini urusan kantor.
Naoki berkacak pinggang. Berdiri jarak 2 meter darinya. Kelihatannya sih sama-sama bete karena sesi mesra-mesra tertunda. Cuma mungkin karena pacarnya jadi project leader, mau gak mau harus menanggapi. Siapa tahu, penting.
Hanya saja, nada ketus karena diganggu Naoki saat awal menjawab telepon langsung berubah khawatir, dan pacarnya ngacir begitu saja ambil tas dan ngeluarin laptop.
Bikin dia merenung.
Ini… cuma sebentar, kan? Kan?
Tititnya loh, udah mengeluarkan semangat perjuangan. Masa harus pukul mundur?
Duduk merenung di sofa, biar engga kelihatan sedih-sedih banget, Satoshi gonta-ganti saluran TV. Sesekali melirik Naoki, cari apa ada tanda urusan kekasihnya selesai.
Sempat sumringah saat panggilan di tutup. Tapi Satoshi kembali mengerucutkan bibir begitu Naoki malah telepon orang lain. Dan sekarang sudah 10 menit sejak dia ditinggal begitu saja.
Mau televisi sekarang menampilkan acara komedi yang kadang menginspirasinya buat ngerjain Naoki, Satoshi sama sekali tidak bisa fokus. Gimana fokus, kalau semua darah dari otaknya lagi berkumpul di satu titik?!
Sampai menginjak menit 20, pacarnya udah engga ada telepon-telepon lagi, tapi duduk anteng depan laptop, Satoshi akhirnya mampir sambil lesu.
“Kerjaan?”
“Hu’um…”
Mana dijawab seadanya begini, “Engga bisa besok aja?”
“Ini buat besok,” sebentar, berhenti dari revisi besar-besaran, Naoki menghadap pacarnya. Ambil tangan Satoshi yang berdiri di samping, kecup punggung tangan kesayangannya, “Tidur duluan aja.”
Rasanya Satoshi pengen tantrum guling-guling…
Cuma lihat Naoki yang selalu ia kagumi setiap sedang serius, membuatnya tersenyum mengalah. Dewasa, dewasa, ayo jadi pacar yang suportif!
Di hadapan kekasihnya, Satoshi kecup puncak kepala Naoki. Menyemangati sambil kasih peluk eraat super singkat.
Padahal begitu masuk kamar,
langsung heboh gigit bantal. T___T
***
Mungkin karena umur ditambah pengalaman kerjanya yang belum sebegitu banyak, Satoshi belum pernah merasakan jadi tim leader buat proyek kantor. Cuma berkaca dari pacarnya yang sudah dipercaya untuk pegang urusan penting perusahaan mereka, Satoshi paham kalau… capek banget.
Sudah capek fisik, capek otak, capek mental.
Makanya dia selalu kagum lihat Naoki yang begitu luwes tek-tokan dengan orang lain, mengurus jadwal dan tugas untuk semua anggota tim, dan menghadapi klien dengan sempurna.
Walaupun ini juga yang bikin pacarnya muter-muter kayak gasing. Cuma sempat tarik nafas 5 menit, sebelum ada saja yang harus diurus.
Niatnya nanti pas pulang dia bakal kasih Naoki pijetan mautnya (bukan yang versi cabul!), biar pacarnya bisa tidur rileks dan punya tenaga buat menghadapi esok hari yang lebih berat.
Cuma kalo lihat room chat mereka yang isinya stiker-stiker gemas—yang kelihatan sedih dan loyo—dari Naoki yang menginfokan kalau hari ini bakal lembur, kayaknya engga bisa…
ARGH! Rasanya Satoshi pengen loncat dari kursi, peluk Naoki, mpuk-mpuk sayang kekasihnya yang bekerja keras, kasih makan enak, sambil pasangin koyo andalan ke pundak dan punggung pacarnya.
Hanya saja karena dia dan Naoki backstreet, mana bisa?! Malah orang-orang kantor tahunya dia dan Naoki rival abadi, plus dia adalah junior kurang ajar yang dari awal masuk sudah tarik ulur emosi senior (kecintaannya), sambil mendeklarasikan kalau tahun itu dia yang bakal dapat penghargaan pegawai terbaik, merebut title yang bertahun-tahun dipegang erat Naoki.
Jadi, kalau mau mempertahankan facade yang mereka pakai selama ini, dia engga bisa lovey-dovey sembarangan. Malah lebih pas kalau dia nyamperin pacarnya sekarang, dan taunting-taunting nyebelin.
Hiks…
Ikut merapikan barang di meja begitu lihat staf yang lain lagi beberes pulang, Satoshi sudah menyiapkan ‘script provokasi’ paling pedas sebagai salam jumpa ke senior terkasihnya.
Proyek yang dia dan timnya pegang sebelumnya dapat pujian langsung dari direktur karena efisien dan sangat disukai klien. Jadi niatnya dia akan samperin Naoki yang lagi berkerumun sama tim pria itu, menyindir, “Kalian lembur lagi? Lama banget ngerjain gini doang,” sambil sombong betapa timnya kemarin bisa selesai lebih cepat dari target awal.
Sudah hehehe sendiri membayangkan perdebatan penuh cinta antara dirinya dan Naoki sebelum dia pamer pulang cepat (yang biasa diakhiri spam minta maaf pakai stiker paling imut karena bercanda kelewatan).
Tapi baru berdiri, baru jalan mendekat, BARU PASANG WAJAH CONGKAK ke arah tim pacarnya yang lagi duduk rapat-rapat buat diskusi, baru mau membakar suasana pulang kerja divisi mereka, telinganya mendengar kalimat yang bikin hatinya terbakar lebih dulu.
“Naoki-san, mau menginap di tempatku buat ngerjain ini?”
SIAPA?! Siapa orang yang dengan berani sebut pacarnya langsung pakai nama panggilan? Dia saja,,, dia saja kalau di kantor selalu panggil Naoki pakai nama keluarga. Siapa yang mendahului langkahnya?! Dan siapa yang berani sok akrab begini sampai nginep-nginep segala?!
Melirik sadis ke pria di samping kekasihnya, Satoshi kenal orang ini. Dongoharu (Tomoharu).
Sejak awal bocah itu masuk, Satoshi tidak pernah suka. Terutama karena anak itu terang-terangan bilang Naoki adalah senior panutan. Ngikutin pacarnya kayak anak ayam, terutama karena sempat punya hubungan mentor-mentee pas awal-awal masuk divisi mereka. Dan sekarang, masuk ke tim pacarnya juga?! Sialan.
Memicing galak. Rasanya pengen obrak-abrik dunia.
Apa lagi pacarnya menanggapi dengan, “Hm, kita lihat nanti.”
KENAPA ENGGA DITOLAK?!
Lupa sama niat awal jadi pemantik api pertengkaran divisinya, Satoshi menyeret kaki ke pintu keluar. Mati-matian menahan diri tidak rebut pacarnya dan dibawa pulang.
Niat sindir-sindir gagal. Tahu kalau ngelihat muka Tomoharu, dia bisa langsung jedotin kepalanya ke pemuda ganjen itu.
Jadinya Satoshi cuma bisa buka ponsel, kirim pesan super menyedihkan ke pacarnya:
nanti pulang
plis, plis, plis
aku jemput di stasiun
gak ada nginep-nginep!
gak boleh!
TT —— TT
***
Naoki tau pacarnya manyun terus setiap dia angkat telepon kerjaan di apartemen. Tau juga kalau setiap ada kesempatan, kekasihnya yang lucu itu suka ngasih kode-kode buat pacaran dan berusaha tetap kelihatan cool setiap pada akhirnya banyak hal yang mengganggu.
Cuma mau seberusaha apapun kelihatan jadi pasangan yang suportif sama kerjaannya, kalau sudah pacaran lama begini, dia bisa menangkap ekspresi mikro Satoshi. Contohnya: sudut mata yang berkedut pas dia stop cium-cium begitu ada panggilan masuk, bibir yang berusaha dibuat tersenyum—walaupun pojok-pojoknya kelihatan kaku—pas dia masih duduk di depan laptop walau sudah hampir tengah malam, bibir bawah yang mencebik setiap dia terkantuk-kantuk pas Satoshi lagi asik cerita (kelewatan capek sama kerjaan, mau ngobrol saja tidak ada tenaga), dan yang paling manis picingan setiap dia menyebut nama Tomoharu.
Gemes. Gemes. Gemes…
Kasihan sih, tapi tetep gemes!
Kalau ditanya, Naoki maunya sih buang kerjaan dan kasih semua waktunya buat Satoshi. Tapi delima kehidupan dewasa, mana bisa seperti itu! Terutama sekarang dia lagi mengincar promosi biar bisa memanjakan Satoshi dengan apa yang pria itu mau. Proyek yang dipegang sekarang pokoknya bakal dia kerjakan dengan sempurna.
Tapi karena agaknya merasa bersalah, terutama karena tahu Satoshi engga terlalu suka sama Tomoharu tapi tetep dia masukin ke timnya (ini juga karena banyak pertimbangan!), Naoki akhir pekan ini mau bikin pacarnya senang! :d
Caranya?
Jelas dengan bangun jam 6 pagi!
Bukan buat beres-beres dan bikin kediaman mereka bersih, ataupun bikin menu kesukaan Satoshi biar mereka sarapan di kasur, apa lagi kasih surprise blowjob yang selalu sukses bikin pacarnya menggelepar.
Naoki ngantuk-ngantuk menyeret kaki ke ruang tengah, menyeduh kopi hangat, buka jendela, ambil tas, buka laptop, kerja.
Semalam masih banyak yang harus dikerjakan, tapi Satoshi sudah lipat tangan, ketuk-ketuk kaki, sambil melototin dia dari ambang pintu. Bikin dia mengkerut dan akhirnya nurut saja sewaktu dipaksa tidur.
Jadinya sekarang, pagi buta dia menyelesaikan kerjaan yang tertunda.
Jam delapan, Naoki cuma bisa menahan tawa karena Satoshi yang baru bangun, masih awut-awutan, berdiri terbengong-bengong melihat dia sudah duduk manis depan laptop.
“Kamu… kamu semalem kabur buat kerja ya pas aku udah tidur?!”
Dituduh begitu bikin Naoki mendengus, “Enak aja. Aku bangun pagi.”
“Memang bisa?”
“Bisa, ini buktinya.”
Satoshi tepuk jidat. Stress berat punya pacar workaholic.
Pun bete mampus karena Naoki begitu bangun langsung pacaran sama laptop, Satoshi tetap bikinkan sarapan sederhana. Protes sedikit karena belum makan apapun, pacarnya sudah ngopi.
Tapi cengiran dari Naoki, ucapan terima kasih, ditambah ngusel-ngusel lucu di dadanya pas dia berdiri di samping pacarnya, bikin luluh.
Pada akhirnya dia engga bisa komentar apa-apa lagi dan melakukan rutinitas akhir pekannya: beres-beres.
Menyalakan robot vacuum, masukkan baju ke mesin cuci, menyikat toilet, membersihkan debu halus di perabotan, jemur baju, masak nasi dan bikin menu makan siang, maksa Naoki yang lagi rapat online buat makan—sambil dia ikut makan juga, menggosok bak cuci piring, ganti filter exhaust di atas kompor, pilah-pilah sampah, dan terakhir mengepel lantai.
Satoshi puas. Seperti ada rasa bangga sendiri lihat apartemen mereka rapih begini. Biasanya kalau sudah begini, dia bakal mandi, lalu menunggu waktu malam karena kadang mereka bakal kencan di luar sambil cari makan.
Tapi melirik Naoki yang sampai buka tablet buat dijadikan layar kedua, kelihatan super sibuk, Satoshi cuma bisa gigit jari.
Hemp, malam dia pesan pizza saja, lah. Nonton tayangan yang lagi populer, duduk sedih karena dikacangin pacar.
“Haaaah…” menghela nafas gede. Sedikit banyak cari perhatian. Tapi melirik (lagi) Naoki yang sama sekali tidak menoleh, Satoshi mencebik.
Bukannya Naoki engga denger atau apa. Cuma dari tadi dia menahan diri biar tetap fokus! Diam-diam saja. Tapi selain Satoshi setiap lagi mengurus rumah selalu kelihatan 100x lebih seksi, sekarang ditambah gemes karena sedikit-sedikit melirik, sedikit-sedikit caper, sedikit-sedikit berdiri di belakangnya buat ngintip—coba menerka-nerka tinggal berapa banyak lagi yang masih harus Naoki kerjakan. Kombo seksi dan imut!
Maka begitu kerjaannya selesai dan jam menunjuk angka tiga, Naoki berdiri, merenggangkan tubuh, mendengus puas.
“Sudah selesai?”
Celetukan Satoshi begitu melihat dia pindah posisi buru-buru dijawab, “Belum.” Jalan-jalan sedikit merilekskan badan setelah seharian duduk. Ambil snack di kulkas, nyamperin Satoshi yang kembali merengut sambil bolak-balik saluran TV. Naoki senyum licik karena dia punya rencana rahasia.
Melengos kembali ke meja pura-pura sibuk padahal matikan laptop, pura-pura kegerahan dan bikin rencana mau mandi sebelum balik kerja padahal lagi ‘siap-siap’.
30 menit asik sendiri, baru duduk manis di samping pacarnya.
Bikin Satoshi melirik, “Katanya belum selesai.”
“Masa engga boleh istirahat sebentar?”
Cebikan di bibir Satoshi pada akhirnya pudar juga. Tahu Naoki capek, dia tarik satu kaki kekasihnya ke pangkuan. Pijet-pijet, “Masih banyak?”
“Engga, kok,” mendengkur halus karena pegal di paha setelah seharian duduk diurut enak, “Tomoharu bantu banyak, dari kemarin dia paling semangat sama proyek ini.”
“Heem…”
“Kayaknya sejak setengah tahun belakangan performanya juga makin bagus. Boss kemarin puji presentasinya.”
“Hmm…”
“Kemarin pas aku lembur, Tomoharu juga masih tinggal bareng anak-anak yang lain, padahal udah kusuruh pulang—bagiannya udah selesai. Emang sih habis itu pergi, tapi engga lama balik lagi. Beliin semuanya pizza.”
“....”
“Kayaknya Tomoharu niat dapet penghargaan karyawan teladan akhir tahun.”
Satoshi bisa merasakan sudut matanya berkedut. Dari tadi udah berusaha jawab seirit mungkin biar Naoki berhenti bawa-bawa Dongoharu, malah dibahas terus!
“Terus Tomoharu juga—”
“Nao, bisa stop sebut nama bocah itu, engga?”
Nyengir. Bukannya berhenti, Naoki malah nempel-nempel ke pacarnya. Turunin kaki yang lagi dipijet, toel sedikit dagu Satoshi, “Takut ya, sekarang punya saingan~”
Mendengus, “Saingan apaan,” buang muka, malas meladeni kalau Naoki lagi iseng begini. Apa lagi kekasihnya pasang raut usil begitu. Pasti mau godain dia terus.
“Habis setiap ada Tomoharu langsung tantrum.”
“Enggak.”
Toel-toel lagi, kali ini ke pipi Satoshi, “Masa? Masa? Masa?”
Dipancing begini, Satoshi langsung tangkap tangan jahil yang colek-colek. Lihat Naoki mayah—engga bisa marah betulan. Niatnya mau main-main ngambek, terus pundung jelek. Ngasih hiburan kecil di tengah sibuk pacarnya, karena habis ini Naoki balik ke laptop lagi.
Cuma begitu menoleh, Satoshi tidak bisa berkata-kata. Bukan karena senyum jahil khas kekasihnya, yang selalu kelihatan imut. Tapi senyum nakal Naoki sambil menarik sedikit kerah baju, menampilkan collar merah yang kontras dengan kulit salju kekasihnya.
“Nao—” tercekat, Satoshi lengah. Tidak terpikir Naoki punya rencana begini!
“Jadi, engga marah kalau aku bahas Tomoharu.”
“Kerjaanmu…”
“Engga marah?”
Sial. Sudah berapa lama mereka tidak bangun tensi kayak gini? 2 minggu? 3 minggu? Gara-gara Naoki selalu kelihatan capek, dia gak berani nyenggol-nyenggol soal seks.
Tapi kalau pacarnya menyerahkan diri begini di depan mata? Namanya minta dihukum.
Satoshi mengetuk kaki ke lantai, berpikir sebentar cara bikin pacar masokisnya senang. Sebelum menepuk paha, tanda Naoki buat naik ke sana, “Buka bajumu, duduk sini.”
Dengan senang hati Naoki menanggalkan pakaiannya satu persatu. Malah sengaja bersolek di hadapan Satoshi. Mengusap lehernya yang terikat kencang dengan tali kekang, turun ke dada, menarik kecil piercing di putingnya, perut, sampai pinggul. Sebelum membuka kaki, menampilkan kemaluannya yang sudah keras.
Bergelayut ke pundak Satoshi, Naoki duduk manis. “Mmnn~” malah sengaja menekan selangkangannya ke milik Satoshi yang masih tertutup celana. Sensasi kasar, sedikit perih kulit kemaluannya yang sensitif bergesek dengan kain bikin dia tidak mau berhenti.
Tapi karena begini, jadi dapat remasan kencang di paha, “Nyaah—!” memekik, mau protes! Satoshi menancapkan kuku. Sakit!
Cuma begitu mendongak, lihat raut datar Satoshi, Naoki membatalkan niat. Bulu kuduknya meremang, jantungnya berdegup berisik. Tahu wajah itu, tahu cengkraman kuat di tubuhnya, dia bakal dihukum. Kasar~♡!
“Nao, aku belum ngapa-ngapain. Tapi kenapa ini udah ngucur begini?”
“Ngg!” Berdengung, Naoki terlonjak begitu penisnya yang udah keras disentil. Membuatnya menggerakkan pinggul gelisah, berusaha menghindari ujung jari Satoshi yang jahil. Toel-toel kelaminnya, tapi engga ada rencana ngasih stimulus lebih. Mengeong centil, Naoki merengek, “Satoshi—”
Satu sentilan terakhir, Satoshi setelahnya menepuk sisi paha Naoki. Main perintah, “Ambil kondom di kamar.”
Menggeleng cepat, “Engga usah kondom.” Sudah lama engga seks, Naoki mau diisi penuh pakai cairan kekasihnya. Tapi lagi-lagi, karena engga nurut, penisnya disentil. Kali ini lebih keras. Bikin dia memekik kencang, “Ngh!”
“Ambil kondom, Nao.”
Satoshi bisa melihat pundak kekasihnya gemetar, dan bibir mencebik tidak setuju. Tapi Naoki tetap menurut, turun dari pangkuannya, berjalan cepat ke kamar mereka.
Dan karena ini semua, Satoshi bisa lihat lube yang mengalir banjir dari bokong kekasihnya. Kucing nakal ini memang minta dihukum.
“Ini…” lihat Naoki ogah-ogahan kasih kondom ke arahnya, Satoshi menggigit pipi dalam menahan gemas.
Bersandar ke punggung sofa, dia kembali tepuk-tepuk paha, tanda kekasihnya untuk kembali naik ke pangkuan sementara dia merobek bungkus kondom. Sambil melihat Naoki, dia memberi perintah lain, “Putingmu, taruh sini,” pakai tangan lain menunjuk bibir.
Omongan yang bikin Naoki terdiam sebentar, sebelum buru-buru menurut. Tidak lagi duduk, dia berlutut di atas sofa mengangkangi Satoshi. Bikin tubuhnya lebih tinggi, karena posisi ini bikin dia bisa menggosok pucuk dadanya ke bibir sang kekasih.
“Satoshi…” bergumam pelan, menahan geli karena kecup-kecup kecil yang pacarnya kasih di sekitar aerolanya, jilatan di ujung puting, dan gigitan di piercing yang tertancap di sana.
Naoki tahu dadanya sensitif. Malah makin gila sejak dia sengaja pasang piercing. Masih ingat dulu, kesenggol sedikit aja langsung gemeteran. Sakit! Sakit yang membuatnya bergairah.
Makanya, begitu Satoshi menjepit piercingnya pakai bibir, habis itu ditarik jauh sampai putingnya manyun-manyun, Naoki cuma bisa mengeong manja. Meremat rambut belakang kekasihnya, melampiaskan ngilu yang bikin kemaluannya makin banjir.
Apa lagi pacarnya kasih perhatian kedua putingnya sama rata. Habis yang kanan digigit sampai bengkak, sekarang yang kiri diemut rakus.
Rasanya bisa klimaks cuma dari permainan di dadanya.
Hanya saja, baru mau gesek-gesek sedikit di perut pacarnya, cari stimulasi biar bisa klimaks, Naoki tersentak kaget begitu pangkal penisnya seperti diikat. Kencang.
Merunduk, lihat Satoshi jadiin kondom yang tidak lagi tergulung buat jadi cockring dadakan. Naoki bergidik. Sensasi menggelitik di perutnya yang bikin dia hampir klimaks kayak ditarik hilang.
“Satoshi—”
“Hm?”
“Mau keluar, lepas…”
Bukannya merespon, Satoshi malah mendorong mundur pinggul kekasihnya. Membuat Naoki tidak lagi membayang di atasnya, kembali duduk manis di pangkuan. Sementara dia menarik keluar kejantanannya, dan seenaknya asal suruh, “Naik sini.”
“Aku belum longgar…”
Omongan yang bikin Satoshi mendengus. Alasan apa lagi yang mau pacarnya pakai? Sudah sengaja bikin dia kesal hanya untuk menggodanya. Setelah itu sulit sekali menurut dan banyak mau. Sekarang, pakai alasan belum siap padahal jelas-jelas dia lihat bokong kekasihnya penuh pelumas.
Menyelipkan tangan di antara paha kekasihnya, meraba perineum, kemudian kerutan anal yang kelewatan basah. Bahkan dua ujung jarinya bisa dengan mudah tersedot masuk.
“Apaan. Bahkan sekarang kalau ada dua penis di sini, dua-duanya bisa masuk sini dengan mudah,” menekan dua jari masuk sampai pangkal, kemudian ia lebarkan. Lihat pacarnya yang langsung mengulet manja keenakan. Satoshi menarik jarinya keluar, “Bilang aja kamu kangen lubangmu dicongkel, kan?”
Naoki mengangguk cepat. Enggga bisa bohong pas Satoshi mengingatkannya dengan sensasi jemari kekasihnya dibuat seperti kail, garuk-garuk dinding sensitifnya. Apa lagi kalau sambil cincin analnya dijilat…
Kerutan ototnya berdenyut membayangkan itu semua. Menjepit jari di dalam. Coba goda pacarnya biar ngelakuin yang dia mau, “Mau… mau diisi jari— mau dijilat juga” mau, mau bokongnya dimainin sampai dia pipis-pipis.
Tapi (lagi-lagi) bukannya merespon baik, Satoshi melepas stimulasi di analnya. Malah mengikat dua kali kondom di penisnya. Bikin ngilu!
“Ang—! Sakiit!”
“Naoki, kamu itu…” melumasi kejantanan sendiri pakai lube dari bokong kekasihnya, Satoshi menarik tangan Naoki untuk menggenggam pangkal penisnya, “yang namanya perek, kerja dulu baru minta upah. Ini belum ngapa-ngapain, sudah banyak mau.”
Perek? Perek katanya…
Dapet omongan begitu—setelah sekian lama—membuatnya sempat mematung. Tapi kaget itu cuma sebentar, karena setelahnya begitu patuh, Naoki mengangkat bokong, berjongkok di atas penis Satoshi. Bergumam pelan, “Satoshi— Satoshi, maaf… Nao belum jadi perek yang becus.”
Ah… tanpa lihat pun, Naoki tahu ekspresinya sendiri pasti kelewatan cabul. Semburat di pipi, mata yang menatap lapar kelamin kekasihnya, bahkan liurnya mengalir tidak karuan cuma gara-gara ujung kejantanan Satoshi gosok-gosok cincin analnya.
Mencelup glands pacarnya masuk, lubangnya langsung menyeruput lapar. Berdenyut berisik, mau menikmati setiap senti kejantanan Satoshi lamat-lamat…
“Lama.”
“NGHH!” Tapi bukannya dibiarin meresapi sesi penetrasi setelah sekian lama, pinggulnya didorong turun. Dipaksa menelan habis, menggaruk semua titik gatal yang dari tadi berusaha dia abaikan. Enak.
Punggungnya melenting cantik. Sementara tangannya mencengkram erat pundak Satoshi, melampiaskan sensasi nikmat. Kalau bukan karena penisnya diikat seperti ini, Naoki yakin dia bakal kayak keran bocor.
“Mnn~” mendengung, menjepit kuat.
Engga dikasih waktu (lagi), bokongnya keburu diremat kencang, terus dipukul! Dan begitu dia engga kasih respon cepet, Satoshi tampar pantatnya lagi.
Merengek, buru-buru bertumpu ke pundak kekasihnya buat jadi pegangan, Naoki lompat-lompat kecil.
“Gitu, dong. Masa harus dipukul dulu biar gerak, sayang.”
“Satoshi…” mendesah nama kekasihnya, Naoki pusing. Sensasi nikmat berturut-turut, tapi engga ada pelepasan. Kalau bukan karena dia harus peluk belakang leher Satoshi karena pacarnya tarik collarnya untuk mendongak, biar pria itu bisa memberi tanda di pundak dan dadanya, Naoki bakal jadi nakal dan copot kondom yang terikat di penisnya.
Mengecup jakun, tulang selangka, sampai sternum kesayangannya, Satoshi membenamkan wajah di ceruk kekasihnya begitu Naoki memutar pinggul. Mengaduk liang senggama pria itu pakai kejantanannya.
Gila. Naoki dan semua goyangan pinggang yang mantap itu. Kadang pacarnya melompat tinggi sampai penisnya hampir tertarik keluar. Tapi begitu dirasa capek, Naoki bakal menguleni kelaminnya, ditancap begitu dalam, hanya bergerak sedikit, tapi dinding otot itu seolah menghisap-hisap rakus kejantanannya. Habis itu begitu ada tenaga lagi, bertahan di posisi squat, hanya menstimulasi glandsnya pakai cincin anus yang kelewatan lentur.
Bahkan kalau tidak lagi terikat begini, Naoki bakal terus bergerak—selama dia tidak menyuruh berhenti—walaupun harus sampai ngompol karena overstimulasi.
Seperti onahole yang memang dirancang untuknya.
“Sakit— Satoshi… nggh, mau keluarr!” Naoki capek. Penisnya sakit. Berkali-kali seperti diujung tanduk, berkali-kali seperti mau klimaks, tapi karena engga ada yang bisa dikeluarin, rasanya tidak lega.
Dan pacarnya yang super tega, malah pijet-pijet kemaluannya yang linu. Bikin dia tersentak berkali-kali, menjepit penis di dalamnya, “Sakiit— aangh!”
“Sudah aku bilang, Nao. Kalau belum selesai kerjanya, jangan banyak mau.”
Tapi dia udah pening! Naoki bahkan engga tau harus ngerespon gimana lagi. Lebih baik dia dibiarin ngucur terus sampai kering, daripada diiket begini!
Dia ngelakuin semua, tapi pacarnya engga kunjung klimaks! Bikin protes, “Satoshi lamaa keluarnya!”
“Kamu sih, udah longgar. Mana bisa klimaks kalau engga ada rasanya begini,” jelas ini bohong. Satoshi gak tau berapa kali dia gigit pipi dalam sendiri, cakar paha sendiri, berusaha mikirin 100 domba loncat-loncat, biar engga klimaks. Sudah dibilang, Naoki dan goyangan mautnya… kalau dia lepas kontrol, engga ada 1 menit udah ejakulasi.
Cuma omongannya jelas bikin pacarnya cemberut, merajuk. Sampai mati-matian menyempitkan dinding anusnya, hingga setiap lekuk kejantanan Satoshi terasa.
Lagi-lagi, walau rasanya seperti hampir keluar, Satoshi mendengus remeh, “Kurang. Bahkan sampai rasanya ngantuk.”
Tapi sekali lagi, Naoki dan gilanya.
Pun raut pacarnya kesal, kekasihnya itu masih menarik tangannya. Mengulum dua, kemudian tiga jari. Ditelan habis sampai pangkal. Membuat ujung jarinya menyentuh langit-langit mulut Naoki.
Dan setelah itu, pacarnya mengarahkan tiga jarinya ke lubang anal yang sudah terisi penuh. Sambil bergumam, “Memeknya Nao— ditambah sumpelannya biar sempit.”
Satoshi mana menolak.
Malah sensasi jemarinya menekuk, mengisi, mencari prostat kekasihnya, berdampingan dengan kelaminnya sendiri, mengundang reaksi mengairahkan dari Naoki.
Naoki yang kewalahan berjongkok, duduk di atas kelaminnya. Bergerak maju mundur, mengeong centil begitu menempelkan selangkangan, bukaan kolon pria itu dikecup ujung penisnya, sementara prostat dicongkel oleh jarinya.
Pemandangan yang membuat Satoshi diujung tanduk.
Tidak lagi menunggu kekasihnya bergerak, Satoshi menghentak pinggulnya naik. Menghantam dalam, bikin pacarnya cuma bisa memekik dan mendekapnya erat. Sementara dia pakai liang senggama Naoki seperti tempat masturbasi.
“Satoshi— anggh… Satoshi, Satoshi!”
Namanya yang terus disebut seperti nyanyian merdu. Buru-buru menarik keluar, kasar, jarinya dari anus Naoki, tangannya melepas ikatan di penis kekasihnya. Mencengkeram bokong Naoki, diangkat tinggi, sebelum menekan kejantanannya dalam-dalam, dan klimaks.
Banyak, mengisi pacarnya sampai penuh.
“Mnn—!” Dan bersamaan dengan itu semua, Naoki mengeluarkan hasrat yang sudah belasan menit dipendam.
Syuuur…
Naoki mengeluarkan banyak cairan bening, membasahi perutnya seperti kencing. Pacarnya gemetar, memeluknya erat. Sementara di bawah sana liang kekasihnya berdenyut, seolah meminum haus spermanya.
Sinting.
Perlahan, walau masih dilanda nikmat, Satoshi mendorong buku-buku, barang, remot, apapun yang ada di meja ruang tengah. Membaringkan Naoki yang masih mabuk orgasme, sambil perlahan menarik keluar penisnya yang masih setengah keras.
Pose yang kelewatan seksi dengan tubuh terbaring lelah, kaki mengangkang, dan cincin anus kekasihnya menganga mengeluarkan gumpalan semen.
Kalau dia agak gila, tidak ingat seminggu ini Naoki lembur, bahkan hari ini dari pagi masih kerja dan mati-matian membuat waktu untuk mereka bercinta. Satoshi bakal pakai penisnya untuk meraup semennya yang meleleh keluar, menyuapi liang kekasihnya pakai sperma. Lalu melakukan perngentotan paling bombastis sampai pagi.
Cuma karena dia sadar diri dan punya otak, niatnya mau ambil handuk buat lap-lap sedikit sambil kasih waktu Naoki atur nafas. Siapin bak air panas buat pacarnya berendam. Habis itu pas pacarnya mandi, dia menyiapkan makan malam kesukaan Naoki. Sehingga malam itu ditutup pake peluk-peluk mesra sampai keboboan.
TAPI, kalau dia yang udah berdiri dan siap memanjakan kekasihnya semalaman malah disuguhi Naoki yang merengek manja, memanggil-manggilnya…
Pada akhirnya Satoshi cuma pria lemah.
Mana tahan lihat Naoki cemberut lucu, berusaha menyuapi kembali lubang sendiri pakai spermanya yang berceceran, sambil protes, “Kok berhenti? Lagi~”
Satoshi malam itu crot hebat gara-gara pacarnya yang kelewatan seksi kayak incubus.
Tapi habis itu besoknya jambak rambut frustasi, kata-katain diri sendiri berprilaku seperti hewan karena Naoki berakhir demam :”D
— DAH!
