Actions

Work Header

Small Bed, Hundred of Kisses

Summary:

Kasur sempit milik Peach menjadi saksi kala malam yang sendu menjadi kali pertama Kian dan Peach beradu kasih. Kian memastikan bahwa ia dapat memberikan momen pertama kali bagi yang tak akan terlupakan.

Notes:

Happy reading Narawinss 😘, sorry dor the typos. Tinggalkan kesan dan komentar ya!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Bunyi detak jarum jam memenuhi sudut kamar. Cahaya rembulan menyusup dari sela-sela kelambu, mengintip masuk ke dalam bilik kamar yang sunyi.

Dua anak adam menempatkan diri berdampingan di atas kasur yang sedikit lebih besar dari ukuran single bed. Keduanya menatap kosong ke arah langit-langit kamar dengan isi pikiran yang berisik. Tak ada yang berani bersuara duluan, ataupun memejamkan mata menuju dunia mimpi.

Suara degup jantung terdengar begitu keras, bagai disetel pada volume terbesar dengan pengeras suara. Saling bertautan iramanya satu sama lain. Pundak mereka bersentuhan, seperti disengaja untuk tidak dilepaskan, karena ingin.

Peach menggerakkan tubuhnya pelan, mencari posisi yang lebih nyaman dari posisi canggung ini. Tapi saat tubuhnya hendak bergeser, sebuah tangan besar melingkupi tangannya dari bawah selimut. Menggenggam dengan hangat jemari kurus dan lentik miliknya.

Seakan berkata, “Jangan pergi.” Lalu Peach kembali terdiam, bergerak kembali ke posisi semula.

“Kian”, “Peach”

Keduanya saling memanggil. Lalu kembali terdiam karena merasa bergitu canggung dengan atmosfer di sekitar mereka.

“You go first.” Kian mempersilahkan Peach untuk berbicara terlebih dahulu.

Peach tersenyum tipis, “Kian, makasih banyak buat hari ini.” Lalu Peach menengok ke kanan, mendapati sepasang netra berwarna coklat terang sedang memandangnya begitu dalam.

Kian tersenyum, menampilkan deretan gigi putihnya yang rapih. Perlahan ia membawa tubuhnya naik, menumpukan tubuh pada siku sebelah kirinya. “Sama-sama sayang, terima kasih kamu sudah mau terbuka sama aku dan membiarkan aku masuk ke dalam duniamu.”

Peach menatap lekat wajah Kian, menyisir seluruh indera pada wajah tampan sang kekasih. Dari telinga nya yang lebar, alisnya yang tebal, hidungnya yang mancung, matanya yang indah, serta bibir merah yang begitu tebal. “Kamu tampan sekali, Kian. I really like your eyes.” Peach meraih wajah Kian, mengusap lembut garis rahang yang lebih tua.

“It’s all your, Peach. You own me.” Tangan besar nan hangat milik Kian mengelus tangan Peach yang berada di wajahnya. Keduanya saling menatap begitu dalam, cahaya rembulan yang samar-samar masuk ke dalam kamar memberikan penerangan ala kadarnya. Tapi tetap mampu menunjukkan raut wajah keduanya yang begitu penuh dengan cinta.

Perlahan, keduanya semakin mendekat. Hangatnya napas mulai menyapa kulit Peach, membuat adrenalin dalam dirinya begitu menggebu. Telinga Kian pun tak mampu menyembunyikan rasa gugup itu, kulitnya merah padam dan memanas.

Kedua mata Kian mencari netra Peach, seakan meminta izin. “Peach, please allow me to make you mine tonight.” Nada bicaranya tak menuntut, justru begitu lembut dan membuat hati Peach menghangat.

Peach meneguk ludah. Pikirannya melayang. Pasalnya, Kian adalah kekasih pria pertamanya. Bahka dengan mantan kekasih wanitanya, ia tak pandai mengadu kasih di atas ranjang. Ada sorot ragu dalam dirinya, dan Kian sadar akan hal itu.

Dalam jeda sejenak, Kian berusaha meyakinkan Peach dengan sorot mata yang menenangkan, hingga Peach akhirnya yakin. Ia kemudian mengangguk atas permintaan yang Kian ajukan. Setelah mendapat lampu hijau, Kian akhirnya menempelkan ranum tebalnya pada milik Peach. Meraup benda kenyal itu bagai santapan di malam hari.

Bunyi kecipak mulai mengalun di udara, Kian terus memberikan kecupan basah pada bibir atas dan bawah milik Peach secara bergantian. Kepalanya ia miringkan ke kanan dan ke kiri mengikuti irama cumbuan. Peach perlahan mengalungkan lengannya pada leher sang kekasih, menarik semakin dalam tubuh Kian dan memperdalam ciuman mereka.

Tangan Kian pun tak bisa diam, perlahan Pecah merasakan usapan lembut pada perutnya. Tangan besar itu sudah bergerilya di bawah selimut, mencari kulit halus yang terus ia usap demi mentransfer kehangatan.

Cumbuan mereka semakin panas dan mendalam. Pasokan udara kian menipis, tapi Peach begitu menikmati bibir tebal milik Kian yang terus menyecap mulutnya. Tangan milik Kian terus merambat naik, lalu terparkir di atas dada Peach untuk menangkup bongkahan otot hasil gym Peach setiap harinya.

“Mhmm, ahh Kiann…”

Suara lenguhan dan desahan dari sela-sela cumbuan mereka terdengar. Peach merasa tubuhnya semakin memanas dan sensitif atas sentuhan Kian pada dadanya. Sebelum mereka semakin tersenggal, Kian melepaskan ciuman mereka.

Ia menjauhkan tubuhnya sedikit, lalu menatap Peach yang masih terengah akibat hilangnya pasokan udara. Bibir tipis itu membengkak, samar-samar jejak air liur terlihat di sekitar mulut Peach. “Peach, kamu berantakan banget sayang.” Ada rasa bangga dibalik senyuman Kian malam itu.

“I can’t wait to make you feel good, I wanna worship you Peach.” Masih dengan tangannya yang berada di dada Peach, Kian berusaha membantu Peach melepaskan kaos tidurnya. Lalu bergantian melepas tanktop yang melekat pada tubuhnya.

Peach kembali menidurkan diri, kali ini sudah bertelanjang dada. Matanya memincing, berkabut dan penuh dengan gairah. Dirinya seperti sudah mempasrahkan diri pada Kian.

Kian yang sudah tak mampu menahan dirinya, kembali meraup bibir Peach. Kali ini ciumannya jauh lebih panas dan bergairah. Tak ada lagi kata lembut. Lidah mereka itu bermain, saling mengikat dan menyapa dalam rongga mulut. Sesekali Kian mengulum lidah panjang milik Peach, serta mengabsen seluruh deretan gigi rapih nya.

Kelua tangan Peach meraih tengkuk Kian, menguncinya dalam dekapan yang hangat. Memperdalam cumbuan mereka seakan-akan mereka adalah santapan terakhir dalam dunia ini. Kedua jempolnya mengusap telinga Kian yang memerah, rasanya begitu kontras dengan telapak tangannya yang mendingin akibat suhu ruangan yang begitu rendah.

Peach merengkuh leher Kian, menguncinya dalam kedua lengannya. Kian yang sedikit kewalahan menyeimbangkan sang kekasih, menahan pundak Peach dengan lembut, menyisakan sedikit ruang agar keduanya tetap bisa bernapas.

Tangan besarnya mengusap pelan tubuh Peach. Dari pundak, lengan, punggung, hingga pinggang Peach yang ramping. Tubuh telanjang mereka saling berhimpitan, kulit bertemu kulit. Kian mulai menggeser tubuhnya untuk berada tepat di atas Peach, mengukung sang kekasih di bawah tubuh besarnya.

Kedua ranum mereka terus memagut, bermain lidah dengan begitu lihai. Peach membuka kedua matanya, menatap kekasih besarnya dari bawah. Rasa hangat menjalar dalam tubuhnya, melihat seseorang begitu memperlakukan dirinya dengan sangat berhati-hati. Seakan-akan takut dirinya akan hancur bila Kian bermain terlalu kasar.

Kian akhirnya melepaskan pagutan mereka. Menatap dalam Peach yang berada di dalam kukungannya. “Peach.”

“Hm?”

“Apa kamu benar-benar mengizinkan aku?”

Peach meraih pipi Kian, dan kembali mengusapkan. Ia mengangguk sambil tersenyum. “Kian, I want you to be my first time.”

Senyum Kian merekah lebar, “As you wish my princess.” Kian mengecup leher Peach, menghujaninya yang ratusan kecupan. Tidak begitu kasar hingga meninggalkan tanda, tapi cukup untuk membuat tubuh Peach kegelian.

Bibir Peach pun tak tinggal diam, ia mengecup pundak dan lengan tempat tattoo milik Kian berada. Peach dapat merasakan benda keras mulai menusuh pahanya yang hanya berlapis celana pendek rumahan. “Eunghh, Kiann. I can feel your dick, you’re so hardd.”

“Hard for you, sayang.” Kiang mulai menggerakkan pinggulnya, menggesekkan kemaluannya yang masih dibungkus pakaian tipis ke paha mulus milik Peach.

“Ahhh, ja-jangan digesek Kiann.” Kian tersenyum licik, dan justru menggencarkan gesekan penisnya pada paha Peach. “Kamu tegang juga ya, sayang.”

Peach menutup wajahnya dengan kedua tangannya, mukanya merah padam akibat merasa malu. Ini kali pertama ia berhubungan seksual dengan laki-laki. Dan tubuhnya memberikan responsif positif terbadap setiap sentuhan yang Kian berikan.

Di sela gerakkan pinggulnya, tangan Kian menyusup di balik selimut. Menjalar dari pinggang telanjang Peach, dan kemudian meraih bagian salatanya. “Wow, kamu keras banget ini.” Tubuh Peach menggelinjang atas sentuhan yang diberikan.

Peach masih terus bersembunyi di balik tangannya. Perlahan tangan kiri Kian melepaskan tempat persembunyian itu dari wajah kekasihnya. “Kenapa malu, sayang? Aku akan lihat kamu seutuhnya malam ini.”

“Aku belum pernah kayak gini sama cowok, Kian. Aku malu.” Kian tertawa pelan melihat tingkah menggemaskan kekasihnya itu. “Gak usah malu, ini tandanya kamu benar-benar terpikat sama aku. Wajar dong kalau kamu tegang, yang aneh justru kalo kamu tetep loyo meskipun udah ciuman dahsyat sama aku.”

Peach memukul pundak Kian, memang pacar dangdutnya itu selalu mampu membuatnya malu akibat kata-katanya. Peach kemudian mengangguk, membenarkan seluruh perkataan kekasih besarnya.

“Aku lanjutkan boleh?”

“B-boleh. Aku mau dipegang lagi sama kamu.” Dengan tersipu Peach berhasil menyampaikan keinginannya. Dengan semangat 45, Kian kembali mencumbui tubuh Peach. Pinggulnya kembari bergerak, tangannya kembali meremas bagian selatan Peach, dan mulutnya mengecupi dada Peach yang berotot. Lidahnya menari untuk menjilat kedua puting Peach yang mencuat. Sesekali menghisapnya untuk memberikan jejak kemerahan.

Tangan Peach tak bisa diam begitu saja, jemarinya menyusup diantara rambut tebal milik Kian. Mengusap, menarik, dan meramasnya untuk menyalurkan gairah dalam tubuhnya. Desahan keluar dari mulut kecilnya, membuat Kian semakin pusing kepayang.

Peach semakin memasrahkan dirinya, membuka kakinya lebar membentuk huruf W agar Kian bisa dengan leluasa berada di antara dirinya.

 

Awalnya ia takut, semua hubungan yang pernah ia jalani selalu kandas. Dan Peach selalu merasa dirinya adalah penyebab dari kegagalan-kegagalan hubungan yang ia miliki sebelumnya. Tapi Kian membuatnya terbuka, membuatnya pasrah, ia merasa diperhatikan. Hatinya menghangat setiap Kian meyakinkan pada dunia bahwa Peach aman bersamanya. Maka dari itu, ia pasrah.

Kian terduduk diantara kedua paha Peach yang terbuka lebar. Sorot matanya jatuh pada tubuh Peach yang telanjang di bawahnya. Terlihat begitu cantik dan rapuh.

“Peach, aku lepas ya celananya?” Semua hal yang Kian lakukan, akan selalu meminta izin sang kekasih. Ia tak ingin pengalaman pertama yang ia berikan pada Peach malah menjadi petaka baginya.

Peach mengangguk pelan, meski tubuhnya berkeringat dingin akibat gugup, dirinya juga tak bisa menahan diri untuk ingin disentuh oleh Kian.

Perlahan Kian meloloskan kedua kaki jenjang Peach dari celananya. Pakaian dalamnya ikut lolos sehingga Peach tak lagi terbungkus oleh sehelai kain pun. Tubuh Peach memanas, ia berusaha merapatkan kedua pahanya, menyembunyikan kejantanannya yang terekspos.

“Hei, what are you doing princess? Are you shy, hm?” Kian tersenyum licik sambil meraih kedua lutut Peach untuk kembali membuka selangkangan sang kekasih.

“Oh shut up Kian!”

Lalu Kian tertawa lembut. Betapa menggemaskannya Peach saat dirinya malu-malu, wajahnya memerah, dengan bibir pink itu, membuat Kian semakin jatuh suka.

“Baby, I’ll make your first time the best thing that happened in your life. Kamu bisa percaya sama aku, sayang.” Kian kembali menundukkan diri, menekan bagian selatannya pada diri Peach yang terbuka. Bibirnya mengecupi dada hingga perutnya, menyalurkan getaran gairah pada sang kekasih.

“Peach, aku sentuh boleh ya?” Kian kembali meminta izin atas tindakan yang akan ia lakukan.

“Kian.” Peach memanggil sang kekasih dengan nada sendu, dengan tatapan penuh arti.

“I gave you all my permission. Kamu gak perlu minta izin terus. I’m all yours.” Peach mengusap pipi Kian lembut.

Mendengar perkataan dari Peach, Kian mengangguk mengerti dan segera meraih kejantanan sang kekasih. Ukurannya tak begitu besar, tapi pas di tangan Kian. Genggamannya dapat melingkupi penis Peach dengan sempurna.

“Ahh, Kiann-hh.”

Tubuh Peach bergelinjang, kedua tangannya meremas sprei dibawahnya sekuat tenaga. Seketika ia merasakan bintang-bintang bertebaran di perutnya. Kedua pahanya masih terbuka lebar, membuat Kian bisa leluasa ‘menyiapkan’ Peach.

“Relax baby.” Sembari tangan kanannya menggenggam penis sang kekasih, tangan kirinya Kian tempatkan pada pinggul Peach. Mengusapnya untuk membuat tubuh Peach lebih rileks.

Perlahan Kian mulai memompa tangannya naik-turun, membuat penis sang kekasih semakin menegang dan mengeras. Lenguhan terus menerus keluar dari bibir tipis Peach. Rasanya begitu nikmat saat kejantanannya dipijat, diremas oleh yang lebih besar.

Kian mempercepat gerakkan tangannya, membuat pinggul Peach ikut bergerak maju mundur seiring dengan irama tangan Kian.

“K-kiann ahh. Ahhh geli, kaya ada yang mau keluar. Mhmm-ahh lebih cepett.” Tangan Peach yang sebelum meramas sprei, kini beralih menggenggam pergelangan tangan Kian. Gerakkannya berusaha menahan tapi mulutnya terus mengatakan Kian untuk tidak berhenti.

“As you wish, princess.” Dengan senyum kemenangan, Kian mempercepat gerakkan tangannya. Tangan kirinya beralih menuju selatan untuk memainkan bola testis sang kekasih. Menambahkan bentuk stimulasi pada tubuhnya.

Peach semakin tak tahan, punggungnya melengkung tak kuat menahan hasrat. Dirinya hampir mencapai orgasme pertama di malam itu. Kian semakin mempercepat tangannya, meremas testis Peach. Sampai akhirnya tubuh Peach bergetar, untaian cairan putih menyembur keluar dari penisnya.

Bercak putih menodai dada dan perut Kian yang berhadapan langsung dengan selatan Peach, kedua tangannya pun tak luput dari semburnya sperma.

Dada Peach naik turun, berusaha menstabilkan napasnya yang terengah dari pelepasan pertamanya. Pahanya bergetar dan begitu lemas.

“Good job, sayang. Enak?”

Peach mengangguk malu. Kian terkekeh, “The night still long, Peach. Aku akan kasih kamu semuanya. You will never forget this experience with me.”

Kian memajukan tubuhnya, kembali meraup bibir sang kekasih. Tangannya sibuk dibawah untuk melepaskan celana kain miliknya. Membebaskan kejantanannya yang sudah begitu tegang dan keras.

Tubuh keduanya bersentuhan, sambil terus bercumbu. Penis keduanya saling bergesekkan, membuat Peach kembali menegang. Tubuhnya kembali memanas membayangkan penis sang kekasih yang besar akan masuk ke dalam tubuhnya.

Peach mengunci kedua kakinya di pinggang Kian, melingkarkan kakinya agar tubuhnya semakin terkunci. “Aku mau kamu Kian.”

Di sela ciuman mereka, Peach membisikkan mantra. “Kamu masih belum siap, save the best for the last sayang.”

“Tapi aku mau enakin kamu. Kamu udah bikin aku keluar, your dick is so hard Kian.” Yang semula malu-malu, kini Peach dapat menggodanya.

“Ah fuck, baby.” Dengan frustrasi Kian melepaskan ciuman mereka dan terduduk kembali di kasur. “You wanna try blow job?”

Peach membelalakkan matanya, tubuhnya ikut terduduk, menumpukan tubuh pada kedua tangannya. Jari telunjuknya mengarah ke arah penis Kian yang begitu besar, laku ke arah mulutnya. Kian mengangguk, mengiyakan pertanyaan dalam pikiran Peach yang hanya dikatakan lewat telepati.

“Kamu besar banget Kian, emang muat?” Peach bertanya dengan polos dan bingung. Tersirat rasa takut dan penasaran akan semua pengalaman baru yang ia dapatkan malam ini.

Kian tertawa, “Kalau kamu masih ragu, biar aku aja yang lakuin semua malam ini, Peach.” Kin mengusap lembut surai sang kekasih. Saat Kian hendak merebahkan kembali Peach, tangan kecil itu meraih lengannya. “A-aku mau coba.”

Kian menatap wajah Peach dengan sebelah alis terangkat. “Aku mau coba blow job itu, aku mau enakin kamu juga.” Peach menundukkan kepala, malu terhadap kata-kata yang baru keluar dari mulutnya.

“Are you sure?” Kian kembali memastikan. Peach menaikkan kepalanya dan mengangguk mantap.

“Okay, kita coba. But if anything happen, or when you feel uncomfortable. Please tell me, okay?” Peach kembali mengangguk.

Kian mulai menata posisi tubuhnya, punggungnya bersandar pada kepala kasur dengan kedua kakinya ia buat mengangkang membentuk huruf W. Peach menempatkan diri diantara kaki Kian dan terduduk pada tumitnya. Ranjang kecil itu terasa semakin sesak.

Peach meneguk ludah, jakunnya naik turun merasakan perasaan gugup. Tatapannya tak lepas dari kejantanan Kian yang begitu besar dan panjang. Perlahan tangan kanannya meraih batang besar itu. Telapak tangannya bahkan tak mampu menangkup penis Kian.

“Hisshhh, ahhh Peachh.” Kian melempar kepalanya ke belakang saat tangan dingin itu menyentuh kulitnya. Tangan besarnya melingkupi tangan Peach yang menggenggam kemaluannya.

“Kocok sayang, naik-turun. Ahhh, iya gitu sayang. Mhmm.” Peach menaik turunkan genggamannya, mengurut kenjatanan milik kian dengan irama pelan. Gurat pembuluh darah terasa nyata di kulitnya, begitu berurat. Peach mulai mengikuti nalurinya, dengan tuntunan tangan Kian yang membantunya bergerak.

“Lebih diremes sayangg.” Pinggul Kian mulai bergerak, memaju mundurkan tubuhnya agar penisnya bergerak lebih cepat dalam genggaman Peach. Yang kebih kecil belajar dengan cepat, dan saat penis Kian semakin mengeras, Peach mulai mendekatkan wajahnya pada benda besar itu.

Peach menatap ke arah Kian, meminta validasi atas tindakannya. Saat Kian mengangguk, Peach menjulurkan lidahnya dan mulai menjilat batang kemaluan sang kekasih dari pangkal hingga ujungnya.

Tak disangka, gerakan itu membuat Kian menegang. “Fuckk, Peachh oh my god.” Tangannya yang bebas meraih rambut sang kekasih dan menariknya, membuat Peach terdorong kedepan.

“Kulum.”

Nada suaranya tak lagi lembut, tapi tegas dan menuntut. Gairah dalam diri Kian sudah terpancing, menginginkan pelepasan secepatnya.

Peach membuka mulutnya, perlahan memasukkan ujung penis kekasihnya ke dalam rongga mulutnya. Rasa asin langsung menyerang indera pengecapnya. Cairan pre-cum keluar dari ujung penis Kian.

Peach mulai mengulum, perlahan menyesuaikan perasaan baru yang timbul dalam dirinya. Ia bahkan tak mampu memasukkan setengah penis sang kekasih.

“Fuckkk, ahh ahhh, sedot sayang-mhmm.”

Peach mengikuti perintah sang kekasih, mulutnya mencoba bermain. Sambil terus memajumundurkan kepalanya, sesekali lidahnya terjulur dan memainkan ujung penis Kian.

“Tangannya sambil ngocok.”

Tangan Peach kemudian bergerak, berirama dengan gerakkan kepalanya. Penis Kian semakin berkedut, pinggulnya tak lagi bisa diam tapi ikut bergerak memasukkan penisnya ke dalam mulut sang kekasih.

“Ughh.” Peach sedikit tersedak, air mata keluar dari ujung matanya. Kian yang menyadari itu langsung berhenti.

“Sorry, sayang. I’m too rough.” Kian mengelap sudut bibir Peach yang berantakan akubat precum nya.

“Was it good?”

“So good, Peach.”

“Then I’m okay, use me as much as you want, Kian.” Peach kembali mengulum penis sang kekasih. Memasukkannya hingga kepala penis Kian menyentuh tenggorokkannya.

“Ahhh, I’m almost theree. Fuckk-hh.” Semburan sperma memenuhi mulut Peach, bahkan meluber dan menetes ke atas kasur.

Pandangan Kian masih meremang, tapi ia berusaha untuk memastikan kondisi Peach. “Hey lepehin, jangan ditelenn.”

Kin menyodorkan tangannya kedepan mulut Peach, dengan begitu polos Peach mengeluarkan cairan putih dari mulutnya. Pemandangan itu membuat Kian kembali menegang, libidonya naik saat Peach terlihat begitu berantakan dengan sperma miliknya yang memenuhi mulut Peach.

“On all fours.” Sebuah perintah tegas. Mereka kembali berganti posisi. Kini Peach bertumpu pada kedua lutut dan tangannya. Membuat bokongnya terpampang sempurna.

Kian menatap Peach dengan lapar, pemandangan indah tersuguhkan di hadapannya. Tangannya yang penuh dengan air mani miliknya, ia oleskan ke arah lubang milik Peach.

“Ahh, K-kiann. Anehh.” Peach merengek saat merasakan sensasi aneh dan geli pda bagian selatannya.

“Just trust me, Peach.” Bagaikan sebuah mantra, Peach akhirnya memberikan 100% kepercayaannya pada Kian.

Kini, Peach yang sudah basah dengan cairan sperma miliknya. Dibukanya belah bokong itu. Jari telunjuk Kian mulai bermain di atas kerutan milik Peach. Lenguhan dan desahan tak mampu lagi ditahan.

Telunjuk Kian terus menggoda Peach, perlahan memasukkan ujung jarinya, berusaha melonggarkan lubang sang kekasih. Punggu Peach melengkung, mendapati rasa nikmat dari jemari panjang Kian. Gerakannya maju mundur tak terlalu cepat, pelan tapi pasti, menekan seluruh area. Jari tengahnya ikut masuk, membuat gerakkan menggunting, memastikan Penisnya bisa muat untuk masuk nanti.

“Ahh ahhh ahhh, Kiannn. Mhmmm enak bangett, mau lagii. Tambah lagi jarinyaa.” Rengekan Peach adalah perintah yang harus dipatuhi. Kini jari manisnya ikut masuk, melonggarkan lubang Peach dengan ketiga jarinya. Kian berusaha meraih titik kenikmaatan sang kekasih, mencari prostatnya.

Pikiran Peach melayang, tatapannya kabur akubat serangan nikmat. Tiga jari besar milik sang kekasih sudah dapat membuatnya penuh. Yang ia pikirkan hanyalah bagaimana cara penis Kian bisa muat masuk ke dalam lubang miliknya.

Ritme jari Kian semakin cepat, bergerak kesana kemari mencipatakan bunyi basah yang memenuhi ruangan. Tangannya yang bebas meraih kembali penis yang lebih muda. Membut benda tegang itu semakin ingin meledakkan cairannya untuk kedua kali.

“Ughh babyy, kamu sexy banget. Aku gak sabar masukkin penis aku ke lubang cantik kamu.” Peach hanya bisa mendesah lebih kencang.

“AHH KIANN, a-aku mau keluarr. Ahhh lebih cepet lagii. AHHH.” Saat jemari Kian menyentuh prostatnya, saqt itu juga Peach kembali mencapi putihnya. Spermanya membasahi sprei dibawahnya. Kasur mungil itu nampaknya akan jebol di pagi hari.

“Sayang, aku masukkin ya. Aku gak tahan kagi.” Tanpa menunggu anggukan, Kian sudah memposisikan ujung penisnya pda anal Peach. Membuat Peach sedikit berteriak.

“KIANN, kamu besar bangett, gak muatt.”

“Bisa sayang, kamu udah longgar banget. Kita coba pelan-pelan yaa.” Kian memberikan sedikit dorongan pda pinggulnya hingga penisnya setengah masuk.

Peach tersentak, kedua tangannya mencengkrqm kuat kain di bawahnya. Rasa sakit dan nikmat datang secara bersamaan.
Kian memposisikan kedua tangannya pada pinggang sang kekasih, menjaganya agar tetap stabil.

Kini penisnya tenggelam sempurnya, Kian memperhatikan bagaimana lubang anal Peach menelan penuh kejantanannya. Ia menahannya sesaat, memastikan kekasihnya itu dapat menyesuaikan ukurannya.

“Gerak Kian.. kamu boleh gerak.”

“If it’s getting too much, please tap me Peach. Or just pinch me hard.” Kian memberikan sedikit arahan, takut saat dirinya mulai kelepasan, sang kekasih malah menjadi korban.

Kian mulai menggerakkan pinggulnya, begitu pelan sehingga Peach dapat beradaptasi dengan perasan baru yang terjadi. Peach merasakan geli pda perutnya, penis besar sang kekasih nampaknya bisa meraih perut bagian bawahnya.

Desahan keluar dari mulut keduanya, kenikmatan malam itu terus berlanjut. Kian mempercepat temponya, menciptakan bunyi tabrakan antar kulit yang basah oleh peluh. Sesekali Kin mengusap bokong sang kekasih, memberikannya tamparan-tamparan pelan hingga kulitnya kemerahan.

Tubuh besarnya membungkuk, dan kedua tangannya ikut bertumpu di atas kasur, meraih kedua tangan milik Peach yang bergetar. Tubuh mereka bersatu, saling berbagi gairah dan kasih sayang.

Kian meraih wajah sang kekasih, meraup kembali bibir Peach dan mencumbunya. Dibelakang, pinggulnya terus bergerak, menyetubuhi yang lebih muda.

Malam berjalan begitu panjang, Kian dan Peach kembali mencapai orgasme mereka. Tak cukup hanya disitu, Kian membalikkan tubub Peach agar kembali telentang.

Diangkatnya kaki sang kekasih agar bisa mengangkang lebih lebar, dan meletakkannya di atas pundaknya. Kian menempatkan diri diantara Peach, penisnya kembali masuk ke dalam anal yang lebih muda. Kini temponya semakin cepat, air mani yang ia gunakan sebagai pelumas memberikan rasa licin dan lengket, memudahkannya untuk keluar masuk.

Peach semakin pasrah, kedua tangannya ia kalungkan di leher Kian. Tubuh putihnya penuh dengan sisa air mani dan keringat. Membuat Kian yang menatapnya dari atas tak habis akan gairah.

Kejantanan milik Peach mulai kehilangan energinya, setelah mencapai putihnya sebanyak 3 kali. Tapi stamina sang kekasih tak ada yang bisa menandingi, dirinya terus digenjot. Perlahan matanya mulai sayu, rasa kantuk akibat kelelahan menyergapnya.

Kian mendapati hal tersebut sangat menggemaskan. “Udah capek, sayang?”

Peach menggeleng. Aksinya bertolak belakangan dengan kondisi dirinya saat itu. “Satu ronde lagi ya? I promise I’ll take care of you after this.” Peach tak hisa berkomentar, hanya menuruti apa yang Kian inginkan.

Cairan berwarna bening keluar dari penis milik Peach, spermanya sudah habis tak bersisa. Kian mengusap pelan rambut Peach, membuatnya semakin nyaman untuk tidur.

“Kamu kalau mau tidur gapapa, sayang. Biar ini aku tuntasin sendiri.” Setelah itu Peach tak lagi mendengar apapun, dirinya sudah pergi ke alam mimpi. Matanya terpejam dan bulu mata lentiknya begitu mengundang Kian untuk mengecup mata indah itu. Namun samar-samar, Peach masih bisa merasakan benda panjang dan besar berada dalam tubuhnya.

Kian masih berusaha mengejar orgasme nya, sedangkan sang kekasih sudah terlelap tidur. Satu hentakan, dua hentakan, tiga hentakan, Kian akhirnya mencapai puncaknya. Tubuhnya melemas, terhuyung kedepan, menimpa tubuh rampung Peach.

Tubuhnya masih bersatu, cairan berwarna putih menyeruak keluar dari sela-sela lubang sang kekasih. Kian mengatur napasnya, menyandarkan diri pada dada Peach. Tangan kanannya meremas dada sekal sang kekasih, memainkan putingnya pelan. Kian masih ingin bermain.

Dihisapnya kembali puting Peach yang kemerahan, menyesapnya seperti bayi meminum ASI dari sang ibu. Peach mengerang dalam tidurnya, merasakan dadanya dipermainkan. Lenguhan dan desahan kecil terdengar. Akhirnya Kian melepaskan.

Kian merengkuh tubuh dibawahnya, berusaha mengontrol tenaganya agar tak mengganggu tidurnya. Tangannya membelai lembut tubuh Peach, mengusap area-area yang memerah bekas kecupan.

Perlahan Kian mulai menutup mata, membungkus diri mereka dengan selimut tipis. Tubuh mereka masih bersatu, dan tak ada niat untuk berpisah.

Notes:

Yayy, finally bisa upload lagii setelah seminggu lebih nulis gak selesai-selesai 🥲. Hope you guys like it! Please connect with me through my x : naraphuw_14 💕