Actions

Work Header

Hari Terakhir

Summary:

Itu adalah hari yang biasa di antara hari-hari lainnya di awal musim gugur. Namun, bagi Suo, itu adalah yang terakhir untuknya menjadi siswa Furin, menjadi wakil Sakura, menjadi guru Nirei. 

Itu adalah yang terakhir, dan dia berusaha menikmatinya sebaik mungkin. 

Work Text:

Suo Hayato bangun pada jam yang sama, seperti hari-hari sebelumnya. Dia melewatkan sarapan, berpakaian rapi, dan berangkat ke sekolah sedikit lebih pagi. Itu selalu menyenangkan untuk berdiri di sisi jendela kaca kelasnya, menatap ke gerbang dan menyaksikan satu persatu murid lainnya tiba. 

Sakura dan Nirei biasanya datang bersama, mengobrol dengan gembira meskipun Nirei lebih banyak berbicara dan Sakura menanggapi dengan sepatah dua patah kata. Kiryu terkadang masih menatap layar ponselnya saat berjalan, tapi dia akan membalas sapaan dengan senyuman lembut saat namanya disebut. Tsugeura selalu heboh, dan sebenarnya cukup menyenangkan untuk menonton tingkahnya, selama dia tidak terlibat terlalu dekat. 

Sugishita kadang datang lebih awal dari Suo, jadi Suo tidak melihatnya ketika memasuki gerbang. Kadang dia singgah sebentar di kelas tanpa mengatakan apapun, lalu bertolak ke atap untuk membantu Umemiya berkebun. Umemiya sendiri kerap datang lebih akhir, dan dia jelas punya banyak urusan di sepanjang jalan. Sekali waktu itu adalah adik-adiknya di panti asuhan yang perlu dibujuk-bujuk, lain kali itu adalah warga kota yang butuh bantuan untuk mengecek loteng. 

Kaji biasa datang bersama Kusumi dan Enomoto dalam satu paket lengkap, pun Seiryu dan Uryu selalu muncul berbarengan. Yang lainnya juga satu persatu datang. Hiragi dengan mukanya yang berkerut oleh stres tertahan, Momose dan buku sketsanya yang tidak pernah ketinggalan, Mizuki yang sesekali memperbaiki posisi kacamata. Suo menyaksikan detail-detail kecil semacam itu tanpa pernah bosan.

Lalu, Umemiya berseru keras dari pengeras suara, dan para perwakilan kelas diminta ke atap untuk pengumuman singkat. Pada dasarnya Umemiya hanya ingin memamerkan kebun tomatnya yang akan segera panen, dan khusus hari ini saja Suo berlama-lama mengamati sayur-sayuran yang Umemiya banggakan tersebut. 

"Suo, kau mau bantu petik pas panen besok?" Umemiya dengan semangat bertanya sambil menepuk bahunya. 

"Tentu saja ..." Suo menyetujui nyaris sebelum sempat berpikir, dan dia merasa sedikit sengatan rasa bersalah saat melihat senyum Umemiya melebar. 

Kiryu kemudian menghampirinya setelah Umemiya bertolak ke kerumunan lain. Anak laki-laki berambut pink itu mengajaknya bermain tenis untuk meladeni tantangan Tsugeura dan Sakura, selagi Nirei bertindak sebagai penghitung skor. Suo mengiyakan saja, menikmati permainan singkat itu yang diputus oleh bel masuk, dan Sakura tentu saja mencak-mencak karena skornya masih di bawah. 

"Tambah waktu lima menit lagi, Kiryu-kun, Suo!" Bahkan Tsugeura juga ngotot. Dan itu sama sekali tidak mengherankan bahwa dia sangat kompetitif bahkan untuk hal-hal kecil seperti ini.

Kiryu tertawa riang. "Ah, ayolah, kita bisa lanjutkan besok, kan, Suo-chan?"

Suo mengangguk halus, merapikan meja tenis itu meskipun Sakura masih terlihat tidak puas. Ujung-ujungnya Nirei mendorong punggung Sakura untuk bertolak ke kelas, dan Kiryu memastikan Tsugeura melakukan hal yang sama. 

"Suo-san, ayo!"

Suo mengerjap, menyadari dia masih berdiri di tepi meja permainan, sementara keempat orang tersebut menunggunya beberapa meter di depan. "Aku singgah di kantor guru dulu, kalian duluan saja," ucapnya kemudian, yang bukanlah sekedar alasan bohong buat ditinggal. Guru kelas mereka memang kerap menitip lembar kerja, dan Suo adalah yang biasa disuruh untuk mengambilnya dari meja. 

Suo mengerjakan soal-soal latihan, berpikir dengan agak sedih bahwa dia sudah tidak di sini saat nilainya dibagikan. Ah, dia juga tidak akan sempat menjalani ujian kenaikan kelas, ataupun menjadi siswa tahun kedua. 

"Suo, kau sudah selesai?" Anzai menghampiri mejanya sambil memegang kertas soalnya sendiri. "Ajari aku, dong!" pintanya tanpa menunggu jawaban. 

"Bagian mana ...?"

"Semuanya!" 

Suo terkekeh, lantas Kakiuchi dan Takanashi turut mendatangi mejanya lengkap dengan alat tulis. Suo tidak keberatan menunjukkan kepada mereka cara mengerjakan soal-soal tersebut, tetapi semakin banyak yang datang dan Kiryu menyarankan agar dia sekalian saja berdiri di depan papan tulis.

Ketika jam makan siang, Nirei menyantap bekalnya dengan lahap, Sakura menghabiskan roti-roti yang diberikan gratis oleh penduduk Makochi di perjalanan berangkat tadi, dan Suo bergabung dengan set cangkir tehnya yang kelihatan mewah.

"Suo-san ... kau simpan itu di mana selama ini?'"

"Loker, tentu saja ~"

"Dan kau bisa-bisanya terlihat heran ketika tahu Tsugeura bawa protein sebungkus besar?" Sakura mendelik dengan tidak habis pikir. Dilihat dari sisi manapun, jelas kelakuan Suo lebih patut membuat takjub.

"Terus, dari mana air panasnya, Suo-chan?" Kiryu turut melontarkan tanya. Suo tidak terlihat menenteng termos, jadi mengapa cangkirnya menguarkan asap khas air yang suhunya seratus derajat?

"Ada kompor yang bisa dipinjam di laboratorium IPA."

"Hei?!"

Suo mengabaikan keterkejutan tersebut, dan menyesap tehnya pelan-pelan. Sakura masih menggerutu, tapi dia lalu mencelupkan rotinya ke dalam cangkir, melunakkan adonannya yang kering agar lebih mudah dikunyah. 

"Ngomong-ngomong, Sakura-kun, apa kau sudah tahu cara merebus air dengan ketel itu?" celetuk Suo, tiba-tiba membahas barang yang dia hadiahkan untuk mengisi kekosongan perabot di rumah Sakura. 

"Huh ... tentu saja? Ketelnya bakal bunyi pas airnya sudah mendidih, kan?"

Suo mengangguk. "Bagus sekali, karena kau akan butuh banyak minum air hangat ketika musim dingin tiba nanti ~"

Sakura mengerutkan kening dengan heran. Dia yakin musim dingin masih kurang lebih sebulan lagi, jadi bukankah ini masih terlalu cepat untuk Suo membahasnya? Bagaimana pun, sebelum dia sempat mengomentari, wakil kaptennya itu telah mengalihkan topik, dan Sakura hanya bisa membatin tentang betapa tidak jelasnya anak itu.

Sore ini mereka patroli. 

Suo satu tim dengan Sugishita, dan mereka keluar kelas paling akhir karena Sugishita masih mengantuk. Suo bahkan menyempatkan diri menghapus tulisan di papan tulis, selagi menanti Sugishita menegakkan kepala dan berkedip-kedip seolah mengumpulkan nyawa. 

Ketika akhirnya mereka keluar kelas dan menuruni tangga, mereka kebetulan berpapasan dengan Hiragi yang sedang mencak-mencak di telepon. Begitu menutup panggilan, kakak kelas mereka tersebut dengan wajah masam mengeluarkan obat lambungnya dari saku. 

"Ada apa, Hiragi-san?" Sugishita mengambil inisiatif untuk bertanya, menduga-duga apakah ada situasi darurat di sudut kota, yang butuh penanganan segera. Atau ...

"Ah, itu cuma Umemiya." Hiragi menyahut sambil mengibaskan tangannya. "Sudah sana, kalian lanjut saja patroli. Jangan bikin masalah dan hati-hati."

"Baiiik ~"

Hiragi menoleh sejenak pada sahutan Suo yang kelewat riang, dan mengerutkan kening. Yah, tidak ada yang salah, kan? Sugishita terlihat normal, dan Suo juga masih seperti biasa. Namun, kenapa dia merasakan debaran aneh yang khas setiap hal-hal buruk akan terjadi? Hiragi pada akhirnya tidak bisa berpaling. Dia tetap menatap punggung adik-adik kelasnya itu sampai menghilang di balik gerbang, barulah menghela napas sambil memijit kening. 

Ah, pasti pikirannya cuma sedang kacau karena Umemiya lagi-lagi bertingkah seenaknya. 

Suo dan Sugishita memang tidak menemui masalah berarti, pun tim-tim lain juga menyelesaikan rute masing-masing tanpa terluka. Ada usul dadakan di grup chat untuk makan-makan di Pothos, dan Sugishita memutuskan untuk pulang saja. Berbaur dengan teman sekelasnya adalah sesuatu, tapi bercampur dengan anak-anak kelas lain pula masih terlalu melelahkan buatnya. 

"Suo-san, ayo latihan dulu sebentar!" Nirei melambaikan tangannya penuh semangat saat mereka bertemu di persimpangan jalan. 

"Eh, tidak capek?"

"Aku ingin memperlancar teknik yang kemarin!"

Maka, Nirei dan Suo mengambil waktu sejenak untuk latihan di taman, selagi Sakura--yang satu tim patroli dengan Nirei--mengatakan bahwa dia akan menunggu di Pothos dan bertolak duluan. 

Itu benar-benar hanya latihan yang singkat, dan Suo berpuas-puas memuji Nirei yang memang berkembang pesat. Lagipula, ini mungkin kali terakhir Nirei akan dengan senang hati tersenyum saat Suo mengomentari bahwa pukulannya bagus. Karena, besok-besok mereka berhadapan, Nirei kemungkinan besar akan memperlakukan pujian yang sama sebagai hinaan.

Ketika mereka menyudahi sesi latihan sore itu dan singgah ke Pothos sesuai janji, Sakura benar-benar telah menyiapkan dua kursi kosong sehingga mereka tidak perlu repot-repot mencari-cari. 

Suo menikmati keramaian di sekelilingnya dengan raut tenang yang biasa. Sakura yang kehabisan kopi, Momijikawa yang nyaris digeplak Kotoha dengan panci, dia merasa agak sayang bahwa besok-besok dia tidak akan bisa menyaksikan pemandangan serupa lagi. 

Lalu, malam benar-benar turun, dan selagi Suo mengucapkan 'sampai jumpa besok' tanpa ada yang janggal, dia menyimpan harapan tertentu bahwa semua orang akan baik-baik saja meskipun dia menghilang. 

"Indah sekali ...."

Sambil menatap bulan, Suo bergumam singkat perihal betapa dia mencintai berada di Makochi, di kota ini, dikelilingi orang-orang ini. 

Ah, dia sungguh-sungguh ingin menghentikan waktu, tetapi malam akan segera berganti pagi, dan dia tidak bisa lagi berangkat ke Furin keesokan hari.