Actions

Work Header

Property of an Eagle

Summary:

Pupus harapan Miya Atsumu untuk melihat tato rubah terlukis indah di punggung lelaki cantik yang membuatnya mabuk kepayang. Karena saat kimono disibak, tato elang bermata emas sudah mengotori kulit mulusnya.

Ah, ia harus membelinya. Harus.

Haikyuu © Haruichi Furudate

Chapter 1: I'm home

Chapter Text

Tidak ada salahnya bagi yakuza untuk beristirahat selepas melaksanakan transaksi, terlebih karena banyak peluru yang terbuang dan luka gores yang diterima para anggota. Padahal ada dua puluh orang yang pergi dalam transaksi ini, cukup besar hanya untuk mengurus kroco yang gemar menghambur-hamburkan uang dan jatuh dalam hutang. Miya Atsumu sebagai bagian dari keluarga oyabun dengan murah hati membiarkan orang-orang kelelahan ini untuk bersantai di rumah bordil terdekat–walau harus berada satu kota di luar prefektur. 

Mereka saat ini berada di perbatasan Osaka, agak jauh dari pelabuhan transaksi. Setidaknya mereka harus menjaga jarak selepas berbuat onar atau polisi lokal akan mengincar Inarizaki- gumi sebagai pelaku. Walaupun sebenarnya tidak mungkin juga. Tidak ada manusia waras yang ingin mencari gara-gara dengan kelompok brutal yang hobi memukul dan menembaki musuh mereka (secara diam-diam tentunya).

“Rintarou-kun, tolong urus yang lain. Sebagai anggota baru kau harus bersikap baik pada kyoudai -mu,” pesan lelaki berambut pirang itu sambil menyalakan cerutu. Asap tembakau berhembus dari mulutnya setelah beberapa kali menghisap ujung batang. Yang disuruh malah mendecak di belakang, seakan protes dengan perintah seenaknya tadi.

“Jangan menolak perintah mentang-mentang kau direkrut langsung oleh kembaranku,” imbuh Atsumu sambil sekilas melirik. 

Suna Rintarou sebisa mungkin memasang raut datar alih-alih masam. Berada langsung di bawah pengawasan Inarizaki- gumi tidak berbeda jauh dari berada di bawah pengawasan bos lamanya. Toh ia seperti sedang pindah ke cabang pusat saja. Para kyoudai atau kakaknya di sini sama-sama gemar memperbudak, menyuruhnya ke sana kemari tanpa henti seperti babu.

“Kau dengar aku? Lagipula lukamu tidak sebanyak mereka. Kau juga akan dibantu pelayan-pelayan cantik di sana,” sebut si pirang sambil menunjuk gerombolan wanita dengan kimono warna-warni. Setidaknya cukup bagi Rintarou untuk cuci mata di sela perintah yang datang silih berganti.

“Siap,” jawab lelaki itu lantang. Ia segera berhambur ke arah pria-pria sekarat yang berkumpul di pelataran rumah.

Atsumu lebih memilih masuk ke dalam seorang diri. Agak tidak mungkin bagi mereka semua untuk berkumpul di satu ruangan dan minum sake tanpa beban. Sebagai salah satu calon bos besar, ia perlu belajar mempedulikan kondisi tubuh para anggota. Orang sakit tidak boleh berpesta, mereka harus istirahat.

Tapi lucunya, ia malah enak-enakkan dan berpesta sendiri sekarang (karena tubuhnya tidak mendapat luka berarti). Si pirang terkekeh singkat sebelum para pelayan memberinya setelan kinagashi biru tua. 

Atsumu duduk seorang diri di sudut lain aula bersama sake dan kudapan gurih pada meja. Beberapa anggota sempat bergabung untuk bercengkrama. Mereka sudah diberi salep luka dan dibalut perban, jadi bukan masalah besar. Yang menjadi masalah sekarang adalah Atsumu dan kebutuhannya untuk melakukan sesuatu mengingat mereka berada di rumah bordil sekarang.

Agak sayang bila ia tidak mencicip barang satu atau dua entitas menawan Osaka. Maka dari itu sejak setelah menyesap sake pertama, kedua maniknya terus-terusan mengedarkan pandang, memperhatikan satu persatu pelayan dan penghibur di aula. 

Seseorang dengan hiasan sakura di rambutnya sempat mendapat kedip genit. Namun ia langsung pergi. Sayang sekali sosok tadi begitu pemalu, padahal wajahnya manis. Tapi untung saja gadis tadi menolak. Bila tidak, manik coklatnya tidak akan menemukan pemandangan indah di sudut lain, berseberangan dengannya. 

Kimono sosok itu hitam, senada dengan warna rambut ikalnya. Tidak tertutup dengan rapi dan sengaja tersingkap untuk memamerkan sepasang tungkai mulus tak bercela. Ia seorang lelaki, namun wajahnya kontras dengan bawahan ayahnya yang kasar dan garang. Ia begitu cantik, dengan sepasang tahi lalat di dahi dan mata legam yang sekarang balas memandangnya. Persetan dengan jenis kelamin. Toh, kecantikan tidak memandang apa kau berbatang atau punya rahim.

Sama seperti Atsumu, sosok itu juga sedang memegang cerutu. Bedanya ia menggunakan pipa panjang—sembari menunjukkan jari-jari nan lentik. Bahu sosok itu turun ketika melepas sesap dan membuat kain hitam ikut bergeser, memamerkan pundak kiri yang makin mengundang hasrat si pirang. Asap tembakau berhembus dari bibir ranumnya, membuat Atsumu semakin betah mengunci tatapan, memperhatikan setiap gerik penghibur rumah bordil itu.

“Bos,” panggil sang bawahan yang mengira Atsumu tengah melamun. Ia memutus kontak mata dan beralih pada pria berperban di seberang mejanya, sekadar membuktikan bahwa pikirannya sedang berada di sini.

“Sake?” tawar pria itu sambil siap-siap mengangkat botol.

Namun Atsumu lantas mematikan api cerutunya dan bangkit berdiri. Ia tersenyum simpul, menolak kebaikan hati anggota mereka. “Aku ingin cari udara segar. Jadi silakan nikmati waktu kalian sampai pagi,” ujar Atsumu, berkilah agar bisa pergi ke sudut lain aula untuk menyambut fantasi liar yang terbayang di dalam kepalanya.

Langkah cepat menghampiri si ikal. Tangannya yang buru-buru meraih dan menarik sosok tadi ke sisi lain rumah bordil, meminta waktu lelaki itu untuk dirinya sendiri.

“Aku tidak sedang menyerobot antrian siapapun, kan?” Ia bertanya formalitas dan dibalas senyum—yang sepertinya—formalitas pula. Namun dengan intensi apapun itu, senyum tetaplah senyum. Dan Atsumu dengan senang hati menerima milik entitas cantik ini.

“Tidak sama sekali, Tuan.”

Ah, jawaban yang begitu formal. Atsumu benci berjarak dengan calon pemuas nafsunya. Terlebih sosok yang belum ia ketahui namanya ini. 

“Atsumu saja,” sahut si pirang pelan, sembari menyandarkan tangan di dinding kayu dan menjaga bibirnya sendiri agar tak langsung menyambar, “dan namamu, cantik?”

“Apa pentingnya nama hamba bila nantinya nama Tuan yang akan disebut sepanjang malam?” Sepasang manik legam itu menatap sayu. Jemarinya kini menyusuri garis rahang Atsumu, seolah sedang mengagumi fitur wajahnya.

Ibu jari dan telunjuk mengapit dagu, perlahan menarik si pirang untuk maju dan bercumbu. Namun dengan cekatan Atsumu menahan, mencengkram pergelangan sosok itu sembari menyeringai jahil. 

"Kau sangat buru-buru bahkan sebelum memanggil namaku sebagai pemanasan," sebut Atsumu seraya membawa pucuk hidung mereka untuk saling menempel. Ia bisa mencium aroma tembakau dari napas si cantik. Begitu pula sebaliknya. Mereka sama-sama baru saja menghisap cerutu tadi.

"Atsumu-sama, izinkan hamba membawa Tuan ke kamar—,"

"Apa bersanggama di luar sini dilarang?" sela lelaki semiran pirang itu sambil menyelipkan jemari di antara helai-helai ikal. 

Yang ditanya tiba-tiba diam, mungkin terkejut dengan kalimat frontal Atsumu. Tapi si pirang hanya tersenyum sebagai balas tatapan kaget itu, kemudian mendaratkan kecup singkat di depan bibirnya.

"Karena kau sudah menyebut namaku, aku jadi tidak sabar. Maaf," kilah Atsumu sebelum mengangkat lelaki cantik itu dalam gendong. 

Dipandanginya rupa menawan dari dekat. Si pirang semakin merasa bersemangat. Ia bisa menyita seluruh pikirannya hanya dengan sekali tatap. Bahkan hanya dengan mengelus paha saja, miliknya sudah terasa keras. Antara harga lelaki ini memang mahal atau dirinya saja yang mudah terangsang malam ini. 

Tapi yang manapun itu Atsumu tidak peduli. Kalau memang mahal pun, seorang anak oyabun tidak mungkin tidak bisa membayar jasa seorang pelacur. Dan kalau memang ia mudah terangsang pun, lelaki itu sejauh ini tidak menolak tingkah nakalnya. Bahkan saat jemari di paha berpindah untuk meremas pipi bokong, ia malah memeluk leher Atsumu dan mendesah kecil di sisi telinga.

Lampu hijau.

"Di mana kamarmu, cantik? Izinkan Atsumu-sama membuatmu meneriakkan namanya sepanjang malam," sebut si pirang sembari membawa lelaki itu menyusuri lorong. 

Ia menjawab lewat bisik lembut, dengan kedua tangan masih melingkar di leher Atsumu seakan mencari kehangatan. Segera anak oyabun itu melesat ke deretan bilik cinta di ujung lorong, memasuki kamar secara acak sesuai arahan dan membaringkan lelaki cantiknya di atas futon.

Biasanya semua laki-laki lebih senang membanting, namun Atsumu benci melihat ekspresi kesakitan calon partnernya sebelum diserang. Ia ingin keduanya sama-sama merasakan nikmat. Pertama, agar ia tidak dicap sebagai konsumen kasar dan di-blacklist rumah bordil . Kedua, agar ia terkenal di kalangan orang-orang cantik memiliki hubungan baik dengan para pelacur. Apalagi sosok yang satu ini, yang sudah menawan seluruh akal sehatnya. 

Bisakah Atsumu langsung membelinya saja alih-alih menggunakan jasa rumah bordil? Lelaki ikal ini akan sangat sempurna bila berada di sisinya, dengan tato rubah merah di punggung yang menandakan bahwa ia adalah kepunyaan Inarizaki-gumi. Ia akan tinggal di kamarnya dan menyambut Atsumu selepas pulang kerja, lalu mereka akan bercinta lagi dan lagi.

Fantasi yang agak gila bahkan sebelum mereka memulai sesi sanggama. Padahal Atsumu baru menggendongnya saja. Ia belum melucuti kimono lelaki itu dan mendaratkan sesap-sesap ke setiap jengkal tubuh. Ia belum mengungkung lelaki itu dalam dominasinya dan menghujamkan penisnya ke dalam liang hangat. Ia belum menghentak lelaki itu hingga air mata kenikmatan membasahi manik legamnya.

Belum. Belum ada yang Atsumu lakukan. Ia sekarang hanya menindihnya, menatap rupa menawan itu dengan kedua matanya. Lapar dan haus menjadi satu. 

Dalam diam, ia mencumbu bibir sosok itu terlebih dahulu. Menelusupkan belahan di antara belahan, mengecap pahit tembakau di antara basahnya lidah, kemudian bergumul lama di atas alas tidur. Napas keduanya memburu oleh taut bibir, sementara tangan Atsumu meraba-raba untuk menggamit jemari si cantik. Telapak kasar bertemu permukaan halusnya. 

Ciuman itu putus setelah beberapa saat. Dengan jejak-jejak liur serta hembusan hangat. Jemari lain Atsumu yang tidak menggamit kini bergerak turun dan menyusuri sepanjang tubuh, meraih ikatan obi di belakang punggung dan memutar sabuknya hingga lepas. Ia lempar kain panjang itu ke lantai, sebelum menyerang si cantik lagi.

Bibir mereka kembali bertemu dalam cumbu dan surai pirangnya ditarik pelan seiring pinggul Atsumu bergerak, membuat kelamin keduanya saling bergesek. Lelaki itu melepas ciuman setelah beberapa detik, sebelum ia bangun dan membalik tubuh si penghibur. Disibaknya kimono ke atas, hingga gundukan yang sejak tadi ia remas tampak oleh mata.

"Atsumu-sama …" 

Sebutan pertama masih berupa rintih pelan. Sebentar lagi ia pasti akan berteriak puas, membuat suaranya sendiri serak keesokan paginya.

Pasti. Atsumu akan memastikan itu terjadi.

Maka dari itu sekarang jarinya bekerja setelah dikulum sejenak hingga basah. Dua ruas masuk perlahan, melebarkan liang hangat yang akan menjadi sarang bagi kejantanannya semalaman. 

"Nh— Atsumu-sama!" pekik si ikal. 

"Pelan, cantik. Nanti suaramu habis," bisik lelaki itu di sisi telinga. 

Sementara jari-jari Atsumu tengah melakukan pemanasan, bibirnya menciumi tengkuk, menggigit-gigit pelan hingga pekik berubah menjadi rintih lagi. Kejantanannya telah siap di depan celah sekarang, mengambil ancang-ancang sebelum memasuki sarang yang ia idam-idamkan sejak tadi. 

Tubuh lelaki ikal itu menegang ketika sanggama mereka dimulai. Liangnya pun menyambut hangat, menjepit erat hingga Atsumu agak kesulitan bergerak. Ia perlu berulang kali mengajak si cantik bercumbu agar lebih rileks, agar pinggulnya bisa bergerak untuk mencari kehangatan. 

Napas keduanya kembali memburu. Peluh menetes dari pelipis dan membasahi wajah. Atsumu terus mendesak, sembari bibirnya tak henti membubuhkan kecupan pada pundak sosok itu. Tangan kirinya menggamit jemari si ikal dan tangan kanannya menarik turun kain hitam untuk memperlihatkan punggung, bakal tempat tato rubah merahnya nanti—

Tapi tidak. 

Tidak secepat itu.

Manik coklatnya membuka lebar ketika melihat apa yang ada di punggung lelaki itu. Sebuah tato elang dengan mata emas. Bukan sembarang desain yang bisa dibuat di studio pinggir jalan. Itu milik anggota geng lainnya, mirip dengan rubah merah yang bersarang di dada Atsumu sekarang.

Milik gerombolan yakuza jauh di utara Honshu, Shiratorizawa-gumi di Prefektur Miyagi. Mereka organisasi yang berkecimpung di industri media, musik, beberapa pabrik minuman beralkohol, juga klub malam dan rumah-rumah prostitusi.

Tak heran Shiratorizawa-gumi memiliki harta karun secantik ini, semenggoda sosok yang mendesah merdu di bawahnya sekarang.

Atsumu terkekeh pelan sembari mundur, membiarkan penis tegangnya melepas urgensi di luar liang. Kimono hitam sosok itu kini kotor oleh cairan putih. Namun bukan masalah besar, toh seonggok pakaian bisa dicuci dengan mudah. Membersihkan sisa-sisa air mani di dalam lubang anal jauh lebih susah.

"Aku tidak bisa mengotorimu," komentar si pirang sebelum melepas seluruh pakaian lelaki itu dan melemparnya ke lantai. Ia menarik si ikal bangkit, kemudian membawa tubuhnya ke atas pangkuan.

"Kau bukan pelacur rumah bordil biasa," sebut Atsumu sambil menyusuri pipi sosok itu dengan punggung jari, "ya … walaupun sebenarnya aku sangat ingin mendengar tangis nikmat saat penisku menusuk lubangmu."

Ia hanya diam dan menatap, memperhatikan sepasang manik coklat yang sedang mencari maksud tersembunyi.

"Kau tidak membawa benda tajam apapun, berarti kau tidak berniat menyakitiku. Kau juga tidak menyembunyikan racun di gigi untuk membunuh seseorang. Lalu apa tujuanmu duduk di pangkuanku?"

Pertanyaan tadi tak kunjung mendapat jawab. Bibir ranumnya masih mengatup rapat. Atsumu sebenarnya juga tidak ingin mendesak jauh. Lelaki itu masih betah berada pada posisi ini semalaman, bersama entitas cantik yang tak jemu-jemu ia puja dalam hati.

"Apa aku masih belum boleh mengetahui namamu, anggota Shiratorizawa-gumi ?"

Sosoknya mengerjap pelan, seolah tidak menyangka Atsumu akan langsung sebut merk. Sebagai balas dari pertanyaan, si ikal memajukan tubuh. Ia menyandarkan dagu di pundak Atsumu sebelum berbisik pelan.

"Hamba akan memberi tahu apabila Tuan berjanji tidak akan membocorkan keberadaan hamba di sini pada siapapun," jeda sejenak sebelum tengkuk Atsumu diusap pelan, "ngomong-ngomong, ada lebih dari satu cara membunuh orang tanpa benda tajam atau racun."

"Apa bersanggama denganmu juga termasuk?"

"Tidak," potong si ikal seraya mundur dan menatap sepasang manik coklat lekat-lekat. 

Atsumu tersenyum usil sambil memindahkan tangan ke paha sosok itu, meremas pelan lalu naik dan menangkup pipi bokongnya lagi. "Jadi namamu, cantik?" tagih si pirang.

"Sakusa Kiyoomi."

"Kiyoomi? Mengapa sangat menggemaskan?" celetuknya sembari meremas gundukan penuh di belakang, membuat pemiliknya melenguh kecil.

"Jadi … Omi-kun? Aku bisa menanyakan sesuatu?"

Yang dipanggil ganti menatap aneh. Baru kali ini ia bertemu seseorang yang memberinya panggilan khusus walaupun baru kenal beberapa saat yang lalu. 

"Bertanyalah."

Si pirang terdiam sejenak. Tangannya naik menuju lengan dan mengusap lembut. Tatapan lelaki itu berubah menjadi lebih hangat, berusaha agar tampak lebih ramah.

"Aku tidak jadi bertanya. Tidak apa-apa, kan?" sebut Atsumu pelan. Kini jemarinya meraih pipi, mengusap pelan penuh afeksi.

"Bukan masalah."

“Aku ingin langsung membelimu saja.”

Pertanyaan barusan dibalas tawa. Kiyoomi pasti sedang menganggapnya bercanda.

“Aku bersungguh-sungguh,” tegasnya seraya masih mengusap pipinya, “aku tidak pernah bercanda soal uang.”

Elusan kesekian ditahan oleh genggam tangan. Agak mengejutkan lelaki secantik ini memiliki tenaga yang cukup kuat untuk mengimbangi. "Saranku tidak perlu mencari gara-gara dengan geng lain, putra oyabun Inarizaki-gumi . Kau bisa ditertawai seisi organisasi bila menghambur-hamburkan uang demi barang rusak."

"Seleraku tidak pernah jelek jadi jangan merendah dan menyebut dirimu sendiri barang rusak, Omi-kun," balas Atsumu sebelum mencuri sebuah kecupan di pucuk hidung, "lagipula kau bukan barang. Aku ingin membelimu karena itu satu-satunya cara untuk mengeluarkanmu dari Shiratorizawa-gumi dan menjadikanmu milikku.”

Kiyoomi tertegun oleh ucap barusan. Manik legamnya menatap lekat. Atsumu melihat sendu di dalam sana, juga harapan-harapan yang entah apa isinya.

“Apapun untukmu. Liburan ke luar negeri, kimono mewah, lalu seks hebat setiap malam bersama pria tampan ini. Bagaimana? Sebutkan hargamu dan truk uang akan datang ke Miyagi besok pagi."

Tatapan sendu tadi hanya berlangsung sekejap saja. Ia tertawa kecil setelah Atsumu memaparkan tawaran masa depan. Semuanya terdengar amat fana juga mustahil di telinga sosok itu.

Kiyoomi menyandarkan dagunya di bahu si pirang. Bibir terbuka tipis untuk berbisik, "Kuharap kau bisa mendapatkan apa yang kau inginkan, Atsumu-sama."

Setelah terucap, Atsumu tidak merasakan apapun. Gelap meliputi pandangan dan tubuhnya mendadak limbung oleh pukulan di tepi leher. Ia pingsan.

Kiyoomi bangkit dan membaringkan lelaki itu di atas futon . Perlahan dan hati-hati, persis seperti perlakuan Atsumu di awal masuknya ke kamar ini. Kemudian si ikal mengambil asal pakaian ganti di laci kamar. Ada setelan kimono cadangan yang cukup pas dengan tubuhnya. Ia memasang obi di pinggang sebelum keluar dan membawa serta kain hitam yang telah kotor.

Sembari mengendap-endap Kiyoomi berjalan ke kawasan di luar rumah bordil, berhenti pada sebuah gudang penyimpanan dengan banyak tong berjejer. Ditaruhnya kimono kotor ke lantai, juga bekas pipa cerutu yang sempat ia hisap.

Gudang itu adalah sebuah markas, markas pribadi tempat lelaki cantik itu tinggal selama berada di Osaka dengan harapan tidak ada yang menyadari pelarian singkatnya. Ia akan membakar semua bukti di sini, bukti yang menunjukkan bahwa lelaki itu baru saja bertemu dengan Miya Atsumu.

Hari pasti telah berganti sekarang, seiring kain hitamnya luruh oleh kobaran panas. Kiyoomi duduk di pinggir, memandangi nyala api sembari pikirannya melayang jauh ke masa lalu, saat ia mendengar pernyataan serupa dari orang lain.

'Aku ingin membelimu karena itu satu-satunya cara untuk mengeluarkanmu dari Shiratorizawa-gumi.'

Kekehan getir lolos dari mulut. Lelaki ikal itu menertawai dirinya sendiri karena percaya kalimat tadi akan terwujud suatu hari nanti.

Walau nyatanya tidak. Bahkan setelah tujuh tahun berlalu penuh dengan siksa fisik dan batin, ia belum pernah sekalipun merasa bebas dari neraka ini.

Karena tak ada yang mau mengeluarkannya setelah mengetahui kebenaran dan betapa banyak harta yang mengalir dalam celengan babi organisasi atas penderitaan Kiyoomi. Tidak pernah ada.

Satu-satunya harapan yang pernah ia miliki pun ikut memalingkan wajahnya.

;

Hal pertama yang Atsumu dengar saat membuka mata bukanlah suara si cantik lagi. Bukan pekik atau desah merdu dari bibirnya. Bukan juga ancaman kosong yang berbunyi bahwa sosok itu bisa membunuhnya dengan tangan kosong—walaupun sebenarnya hampir bisa karena ia sendiri dibuat pingsan oleh pukulan tangan kosong.

Sakusa Kiyoomi. Ya. Atsumu pasti akan mendapatkan lelaki itu bagaimanapun caranya. Walaupun harus merepotkan diri naik kereta berjam-jam Hyogo-Miyagi dan membayar jumlah yang besar, ia tidak peduli. Uang dan waktu itu perkara mudah.

Baiklah, kembali pada suara menyebalkan yang mengusik tidurnya—atau lebih tepat bila disebut pingsan.

"Atsumu-sama! Buka matamu!" 

Mata sipit dan jidat yang terpampang lebar di depan wajahnya itu pasti milik Suna Rintarou. Hanya dia yang berani mengganggunya dari semua orang di kelompok misi ini.

"Sudah kubuka," sahut si pirang tanpa beranjak dari posisi berbaringnya, "mau apa?"

Sebelum Rintarou bicara apapun, dari belakang lelaki itu terdengar para anggota yang saling berbisik. Tidak jelas dan Atsumu sejujurnya tidak ingin tahu juga apa isinya. Pasti sesuatu seperti pesan dari markas pusat.

Oyabun -sama memanggil Anda untuk pertemuan keluarga,” jelas laki-laki belah tengah itu sambil membungkukkan badan.

Tidak salah lagi.

Padahal Atsumu ingin bersantai sambil membuat rencana brilian untuk membeli seorang lelaki cantik. Tapi ia harus bangun sekarang. Akan sangat tidak sopan untuk mengabaikan perintah orang yang sudah berpartisipasi menyumbang bibit dan membiayai kehidupannya hingga sekarang.

Lelaki pirang itu bangkit berdiri dan melepas kinagashi birunya, menengadahkan tangan untuk meminta setelan jas baru pada Suna Rintarou yang masih terdiam di tempat. Bingung.

“Hei, anak baru, cepat ambilkan pakaian formal Atsumu-sama,” senggol seorang pria dengan bekas luka panjang di atas dahi. Buru-buru Rintarou berhambur keluar dan bertanya pada pelayan rumah bordil manapun yang lewat, mengajak mereka untuk kalang kabut bersama. 

Bekerja pada bos yakuza manapun memang sama saja.

Sama-sama merepotkan.

;

Markas pusat Inarizaki-gumi tidak jauh dari Osaka. Hanya berjarak satu kota, masuk ke dalam Prefektur Hyogo. Sebagai pusat dari industri pangan yang mengatur penyebaran hasil tani dan ternak, sang oyabun tidak berencana menyembunyikan markas mereka. Beliau hanya membangun beberapa tempat perlindungan di area terpencil dan memberikan donasi besar untuk beberapa kuil agar para biksu mau melindungi mereka saat bahaya datang.

Pertemuan keluarga Miya juga berlangsung di sana, di tingkat atas yang memiliki pemandangan apik. Tapi Atsumu tetap mendengkus pelan, mengumpat dalam hati sambil berpikir apa yang akan mereka lakukan di lantai empat puluh semisal ada gempa bumi mendadak.

“Mengapa kau sangat lama?” sambut sosok dengan wajah persis miliknya. Itu Miya Osamu, kembaran Miya Atsumu. Lelaki itu lebih suka mendekam di kantor cabang dan mengurus para peminjam uang yang bermasalah. Suna Rintarou misalnya–yang untungnya bernasib baik karena Osamu tiba-tiba kasmaran.

“Bukan urusanmu,” balas Atsumu sembari duduk di atas kursi, melirik potongan daging sapi yang terhidang rapi. Manik coklatnya kemudian menatap lurus, seakan menyuruh pria tertua di meja itu bicara langsung ke inti sebelum steak mereka semakin dingin.

Dehem pelan menginisiasi pertemuan keluarga, membuat Osamu ikut menatap sang ayah, fokus. “Sebagai calon pemimpin Inarizaki-gumi, aku ingin kalian berdua menghadiri rapat besar di Yokohama. Gantikan aku dan jangan membuat onar,” sebut pria itu sambil mulai memotong daging di piring. Pesan pentingnya berhenti di situ. Tidak ada penjelasan lanjut seperti apa yang akan ada di rapat itu atau apa tujuan mereka harus mengikuti rapat itu. 

Bukan sesuatu yang mengejutkan. Toh, ayah mereka memang sok misterius sejak dulu. Kembar Miya yang berakhir menemukan jalan mereka sendiri.

“Dengar, ayah bicara padamu,” celetuk Osamu sambil melahap potongan pertamanya.

Atsumu di sebelah menatap jengkel, ingin sekali membalas ejekan saudaranya yang secara tidak langsung menggarisbawahi kata ‘onar’. Mengapa anak itu tidak bercermin? Seperti tidak pernah buat onar saja. Ucapan sinis itu hanya terpancar dari mata Atsumu. Ia tidak sudi membuang-buang tenaga untuk membalas ejekan kosong. Lebih baik menghabiskan daging sapi berkualitas yang dipanggang dengan saus gurih ini.

“Kalian berdua akan bertemu dengan orang-orang dari organisasi lain,” celetuk sang ayah. Pria itu secara tidak langsung sedang melerai perang dingin yang terjadi di antara anaknya. “Jangan bertengkar di tengah rapat. Aku sudah tua. Tidak bisa setiap saat turun tangan dan menyelesaikan urusan kalian berdua.”

“Baik, ayah,” sahut keduanya bersamaan.

Makan siang itu berlangsung tenang. Dan sang oyabun bangkit dari kursinya sebagai penutup sesi. Namun di saat Osamu masih membungkuk hormat, Atsumu malah bangkit terlebih dulu dan berlari menahan tangan pria itu. Ketika ayah mereka berbalik, lelaki pirang itu langsung membungkuk lagi. Sembilan puluh derajat untuk menunjukkan rasa hormat juga permohonan agar pertanyaannya mendapat jawab.

“Tolong izinkan aku bertanya mengenai rapat besar yang ayah ucapkan tadi,” sebut Atsumu lantang, “ini soal organisasi lain. Apa semua perwakilan Jepang akan hadir di sana?”

Si pria diam sejenak, mengusap dagu sembari mengingat-ingat. 

“Perwakilan Nagano akan hadir. Lalu perwakilan-perwakilan Tokyo juga pasti akan berada di sana,” jawab oyabun Inarizaki-gumi dengan nada yang semakin penuh selidik.

Karena Atsumu masih menunduk seakan mengharapkan jawaban lain.

“Dari rumor yang ayah dengar, perwakilan Osaka dan Miyagi juga akan datang kali ini. Apa kau sudah mendengar jawaban yang kau inginkan, Atsumu-kun?”

Osamu di belakang dengan raut curiga memperhatikan bagaimana si kembaran bangkit dari bungkuknya dan tersenyum simpul pada ayah mereka. Mungkin sedang mengincar sesuatu di Osaka yang baru saja ia tinggalkan tadi pagi.

Atau Miyagi? Tapi apa pula urusan Atsumu dengan elang-elang itu?

“Sudah, ayah,” balas Atsumu dengan nada kelewat sopan, “silakan nikmati waktu istirahat ayah. Biar kami yang menghadiri rapat besar atas nama Inarizaki-gumi .”

Palsu. Pasti ada maunya , batin Osamu.

Untung saja ayah mereka tidak punya rasa penasaran sebesar dirinya dan langsung meninggalkan ruangan. Si rambut kelabu di sisi lain menahan lengan Atsumu, menagih penjelasan lanjut sebelum di pirang beranjak lebih jauh.

“Aku bertanggung jawab agar kau tidak membuat onar di bawah nama organisasi. Jadi katakan padaku, Osaka atau Miyagi?”

Pertanyaan inti itu mendapat balas senyuman jahil. Atsumu mendekat dan berbisik di telinga Osamu, sengaja membuat kembarannya itu panas oleh amarah.

“Kalau kau berpikir aku sedang menargetkan Shugo Meian mantanmu di Osaka, itu salah besar,” ejeknya sebelum mendorong lelaki itu agar tak lagi memegang lengannya.

“Kunyuk,” umpatnya selagi Atsumu berjalan ke arah lift. Shugo Meian bukan mantan Osamu. Ia hanya gemar berkunjung ke kantor dan memberi beberapa bingkisan gratifikasi atas pasokan beras ekstra.

Mata coklat Atsumu menatap sinis ke arah si kelabu selagi pintunya perlahan menutup. Tepat beberapa senti sebelum ruangan kotak itu melesat ke bawah, ia meneriakkan ejek terakhir.

“Kita kembar. Kalau aku kunyuk berarti kau juga kunyuk, sialan!”

Serial pertengkaran lain yang tak pernah usai, begitulah kembar Miya. Terlepas kedua lelaki itu berhubungan baik di balik layar dan saling bekerja sama. 

Kali ini Atsumu tidak ingin membiarkan Osamu tahu. Ia sudah berkali-kali mengejek kembarannya itu saat dengan tiba-tiba merekrut seorang anggota baru (yang sudah pernah ia tiduri). Itu membuatnya kesal dan berpikir bahwa Osamu bisa sewenang-wenang dengan posisinya. Lalu saat itu Atsumu mengacungkan jari tengah dan berkata bahwa ia tidak akan melakukan hal sebodoh itu.

Walaupun sebenarnya mengumpulkan pundi-pundi uang demi membeli anggota organisasi lain terdengar lebih bodoh. Osamu tidak melepas uang sepeser pun. Ia hanya memanfaatkan hutang yang dimiliki bos Rintarou dan memanipulasi anak itu agar menjadi miliknya.

Cerdik—walaupun lagi, melepas hutang sama dengan melepas uang juga.

Andai saja Sakusa Kiyoomi hanya anggota cabang Inarizaki-gumi . Ia tidak akan pusing memikirkan bagaimana cara mendekati perwakilan Miyagi untuk bertanya berapa harga yang pantas untuk memiliki si cantik.

Seberapa mahal harga seorang lelaki berambut ikal menawan yang membuat hatinya luluh semalam?

Tiba-tiba saja sebuah ide terbesit di kepala si pirang. Ia mengurung diri di ruangannya setelah berhenti di lantai kisaran dua puluh. Dua puluh lima, tepatnya. 

"Aran-senpai," sapa Atsumu dengan nada ceria pada ponselnya. Di seberang sana, penerima panggilan mendengkus jengah, seolah ditelepon laki-laki berambut pirang itu bukanlah pertanda baik.

Karena memang benar. Ia akan jadi super sibuk setelah ini.

"Maukah kau mencarikan data untukku?"

"Data apa lagi?"

"Arahkan pemancarmu itu ke utara Hoshu dan carikan aku beberapa barang cantik di Miyagi," sebut Atsumu diikuti siulan singkat. Tangan kanannya yang kosong meraih jarum panah dart, melemparnya ke papan tembok.

Nyaris saja mendapatkan mata banteng.

"Laki-laki? Perempuan?" celetuk Aran dari sambungan.

"Laki-laki."

"Warna mata?"

"Apa warna mata mempengaruhi harga?"

"Tidak juga. Tapi kurasa kau tidak benar-benar ingin mencari beberapa barang cantik. Jadi cepat beri tahu aku dan jangan kebanyakan bermain dart ."

Lelaki berkulit gelap itu sungguh hafal kebiasaannya.

"Hitam," balas Atsumu, dengan nada berat yang menunjukkan keseriusan.

"Kau yakin? Aku hanya menemukan data seorang bocah ingusan di sini. Sangat tidak masuk dalam kriteria cantikmu."

"Foto?" minta Atsumu dan dalam beberapa detik sebuah file terkirim ke ponsel. 

Benar kata Aran. Itu foto bocah ingusan dengan poni rata seperti tokoh kartun berkebangsaan negara latin yang gemar menanyakan arah.

"Tapi aku yakin melihat tato elang di punggungnya. Menurutmu mengapa laki-laki mata hitam yang kumaksud tidak ada di database mereka?"

Aran di sisi lain memijat pelipisnya jengkel. "Kau sudah menjadi yakuza sejak lahir, mengapa bertanya padaku? Tentu saja mereka menyembunyikannya."

"Tidak," sela Atsumu, "maksudku mengapa? Kita biasanya hanya menyembunyikan identitas orang jika itu menyangkut nasib hidup organisasi—tunggu."

Sambungan itu hening sejenak.

"Tidak ada yang menyadap pembicaraan kita, kan?" tanya si pirang, memastikan.

"Tidak kecuali Osamu-sama mengupingmu dari balik pintu."

"Bukan masalah besar. Dia bodoh,” sahut Atsumu sembari memicing melalui lubang kunci pintu, memastikan kembarannya benar-benar tidak menguping. Bisa gawat nanti.  “Oke, kembali pada urusan kita."

"Ya?"

"Kalau begitu, menurutmu apa kelemahan terbesar Shiratorizawa-gumi ?"

;

Butuh dua setengah jam untuk pergi ke Tokyo, tujuan terakhir lelaki ikal itu. Ia ingin melihat kediaman keluarganya sebelum membaur dengan orang-orang metropolitan, bekerja serabutan, dan menyambung hidup dengan bebas. 

Kiyoomi baru saja menolak tiket emas hidup enak dari putra oyabun di Hyogo. Semata-mata karena ia tak ingin orang itu membeli dan membuat Shiratorizawa-gumi tahu jejak pelariannya. Sementara lebih baik begini, hidup tanpa arah namun bebas. Dan hal terpentingnya, Kiyoomi berada di kandang sendiri. Ia tidak perlu merasa tersesat di tanah orang lain.

Liburan singkat di Osaka berakhir dengan cepat setelah ia meminta izin untuk mencari udara segar di pelabuhan dan kabur seadanya. Beruntung sebuah rumah bordil tengah ramai di hari kedua pelarian. Kiyoomi berpura-pura menjadi penghibur baru—dengan cepat diterima karena paras yang menarik. Ia lekas diberi kamar sementara dan mempersiapkan diri untuk melayani pengunjung untuk semalam. Lelaki itu berhasil menggaet hati seorang putra oyabun, namun kabur oleh perasaan was-was.

Sekarang pun hatinya masih was-was. Perjalanan bus siang itu tidak berjalan tenang. Kiyoomi terpaksa menghabiskan beberapa yen untuk mengelabui siapapun yang melacak tujuannya.

Setelah berputar-putar, akhirnya ia memantapkan hati. Kaki memijak daerah pesisir Kamakura, tempat sebuah rumah terbengkalai berdiri. Tidak terlalu layak lagi karena rumput liar tumbuh di sana-sini. Catnya juga sudah mengelupas.

Lelaki ikal itu menemukan ayunan di cabang pohon mangga. Sudah rusak dudukannya dan tak mungkin juga ia naiki saat sudah sedewasa ini. Ayunan itu sudah menjadi sebuah kenangan, bagian dari masa-masa indah yang tak dapat terulang kembali karena sebuah tragedi.

"Aku pulang," ucap Kiyoomi dengan tatapan sendu. Air mata perlahan menetes membasahi pipi.

Hatinya tengah tercabik di tengah kesepian. Sebab Kiyoomi tahu sosok yang harusnya menyahut salam tadi tak ada lagi di dunia ini. Masih terbesit dalam benaknya suara tembakan, teriakan, juga darah yang menggenang di lantai. 

Semuanya hanyalah mimpi buruk . Itu doa yang terucap dalam mulutnya selama tujuh tahun belakangan. Tapi melihat rumah terbengkalai ini, Kiyoomi sadar bahwa doanya tak mungkin terkabul. Ia hanya bisa berdiri di halaman, menangisi kenyataan pahit yang seolah tak berujung.

Kakinya terlambat berlari saat sekelompok orang datang menyerbu dan menahan tangannya. Tubuh itu gemetar dalam kuncian. Takut bercampur geram.

"Kiyoomi," panggil suara familier di belakang punggungnya, "semua orang mencarimu."

Lidahnya tak mampu menyahut. Hanya napas berat yang berhembus dari mulut. Tangannya tegang ingin berontak namun tak sampai. Bahkan hingga sosok pria bersurai zaitun di belakang tadi berjalan menghampiri, menatapnya lamat-lamat sembari mengucap pelan.

"Ayo pulang."

Pulang ke mana? Ia tidak bisa menyebut kamar palacuran itu sebagai rumah. Tidak meski mereka memberinya baju dan makanan mewah. Kiyoomi tidak bisa merasakan kehidupan di sana. Tidak saat jeruji lah yang menutup kamar itu alih-alih pintu dan dinding.