Chapter Text
“Pokoknya gue mau oleh-oleh yang kelihatan kalau itu tuh dari Hongkong.”
“Hmm.”
“Kalau bisa branded deh, biar ada yang bisa dipamerin.”
“Hmm.”
“Eh tapi kan katanya lo mau ke Disneyland ya, boleh tuh souvenir yang lucu-lucu.”
“Hmm.”
“Eh ngomong-ngomong souvenir, gue lagi butuh sumpit! Please jangan lupa beliin gue sumpit. Wajib.”
“Hmm.”
“Ini respon apaan sih hmm, hmm, hmm aja lo. Berikan gue atensi agar gue tahu lo sedang menyimak.”
“Sumpah Ji, lo berisik banget.” Ucap Junhui sambil sibuk menyeret koper besarnya di belakang dengan satu tangan, dan tangan satunya merapatkan ponsel di telinga. “Gue bahkan masih di Soetta!”
“Ya kan early briefing dulu, takut lo nyampe sana gak dapet wifi.”
Walaupun jelas sahabatnya tak akan melihat gerlingan bola matanya yang sinis, tetapi Junhui tetap melakukannya. “Gue tuh sebetulnya males dititipin gini, lo kan tahu gue dari Hongkong masih mau lanjut ke destinasi lain. Masa iya gue travelling bawa-bawa belanjaan lo yang sebanyak dosa?”
“Gaya lo ya segala travelling, mentang-mentang revisian udah di tanda tanganin. Inget, jadwal wisuda belom turun.”
“Dih, bodo amat ya? Yang penting gue udah sah lulus di mata hukum.”
“Nikah kali, udah sah di mata hukum.” Terdengar suara dengusan dari seberang sana. “Yaudah intinya jangan jauh-jauh, nanti nyasar terus gak bisa pulang.”
“Kemana tuh jauh?”
“Zimbabwe?”
“Gue mau liburan, bukan mau jadi musafir!”
Respon Junhui yang dramatis ternyata membuat Jihoon terbahak puas. “Jam berapa nyet, pesawat lo?”
“Tiga puluh menit lagi.” Dirinya mengecek jam yang ada di lingkar tangan sejenak. “Gue masih duduk di longue nih, tadi abis jajan boba.”
“Minum air putih anak muda, sayangi ginjalmu.”
“Bawel.” Balasnya kemudian tanpa jeda. “Pokoknya gue mau puas-puasin sebelum daftar S2.”
“Hmm.” Sekarang gantian Jihoon yang bergumam dengan malas. “Gue gak heran sih kalau tiba-tiba lo udah ngangkang sembarangan.”
“Enak aja! Gue gak pernah ya ngewe sama stranger. Catet.”
“Yaelah, inget kata pepatah: travelling leaves you speechless, then turns you into a storyteller .”
“Quotes dari mana itu?”
“Baru gue google barusan.”
“Kampret.” Serapah Junhui dengan menggebu-gebu. “Udah deh intinya belanjaan lo gue beli yang sekiranya masih muat masuk koper, gue gak mau repot-repot bawa. Terus lo jangan kebanyakan telepon gue, kan ini ceritanya Getaway Mission .”
“Judul doang Getaway Mission, bosen dikit juga nge chat gue lo entar.”
“Engga, gak bakal. Bokap gue udah supply banyak tabungan buat liburan kali ini dan gue akan manfaatkan itu dengan semaksimal mungkin, oke?”
“Ya, ya, ya. Udah sana lo boarding. Matiin nih telfon kalau emang lo udah gak mau lagi ngomong sama gue, kalau lo emang mau terbang setinggi dan sejauh mungkin, kalau—”
“Dramaaa. Eh Ji, by the way —” Sebentar, sebentar, tunggu dulu.
Satu detik keheningan.
“Ha? By the way apaan?”
Dua detik keheningan.
“Woy?”
Lima detik keheningan.
“Jun? Kesambet setan bandara lo?”
“Bentar Ji,” Ucapnya setengah tercekat. “Bentar.”
“Anjir, suara lo gak ngenakin. Beneran kesambet setan bandara?”
“Shut up, gue lagi tatap-tatapan sama pilot ganteng.”
“Ya dia juga gak bakalan bisa denger suara gue kali.” Jihoon, teguh pendirian dengan sikap masa bodonya. “Emang kenapa lo diliatin?”
“Gak diliatin, kita gak sengaja bertatap mata.”
“Ck. Masih juga di Tangerang, udah sinetron aja Getaway Misson lo.”
“Sumpah Jihoon, dia sama sekali gak berpaling.”
“Ya lo lah yang berpaling.”
“Gak bisa!”
“Kenapa gak bisa?”
“Tatapannya.”
Tawa Jihoon yang kali ini meledak sejadi-jadinya sampai Junhui harus menjauhkan ponselnya dari daun telinga. “Najis banget lo kampret.”
“Ji, gue serius.”
“Serius apaan?”
“He looked at me like I'm a five-stars meal. ”
“Terus lo liatin dia kayak gimana?”
“Kayak gue rela ngangkang sembarangan.”
“Jangan sampai gue matiin ya telepon nya ya, Jun.”
Dirinya ingin memotong pembicaraan tersebut dengan mengatakan jangan, jangan dimatiin dulu. Gue masih butuh sebuah distraksi agar peristiwa tatap ini gak berakhir canggung . Namun tak satupun kalimat terlintas dari bibirnya kala itu. Semuanya berlawanan, segalanya bertentangan.
Alasannya tidak lain dan tidak bukan adalah sang pilot tampan, yang masih dengan koper kecil di genggaman berdiri tanpa berkeinginan untuk memindahkah fokus matanya dari wajah Junhui sedikit pun.
Kesan pertama yang dirinya tangkap dari pria berseragam itu adalah lesung pipinya yang dalam bahkan ketika hanya bibirnya yang sedikit menekan ke dalam, tanda bahwa kepalanya tengah penuh memikirkan sesuatu. Apa itu tepatnya, Junhui kurang tahu. Satu-satunya hal yang dirinya ketahui saat ini adalah bahwa ada banyak disfungsi yang terjadi hanya karena adu intens bola mata itu.
Hal kedua adalah sebuah realisasi bahwa sang pilot luar biasa... lezat. Bagaimana seragam putih itu menempel sempurna pada tubuhnya, topinya yang menutupi sebagian rambut, ototnya yang menyembul di setiap sudut, alisnya yang dari waktu ke waktu naik lalu turun kembali ketika memindai, dan bibirnya . Bibir tebal merah jambu yang bahkan tak melakukan apa-apa selain berada di tempatnya.
“Ji.”
“Apaan, nyet? Sehat gak sih lo?”
“Gue horny.”
“Anjiiiiing.”
“Ji, yah, temennya dateng. Mau pergi dia.”
“YA BAGUS?!”
Pria pendatang itu menepuk pundak sang pilot, dan untuk pertama kalinya pandangan itu berpaling dari Junhui menuju ke tempat lain. Dan ada, ada sedikit , kekecewaan yang kemudian mulai bermunculan di dada. “Duh mampus... beneran pergi dia, Ji.”
“Aduh, capek gue... Udah deh, Jun lo juga harusnya masuk pesawat gak sih sekarang?”
“Iya sih...” Bibirnya mungkin berucap demikian, tetapi dadanya masih bergemuruh kala merasakan percik tensi seksual yang baru saja memecah di udara. Dan Junhui yakin bukan hanya dirinya yang merasakan hal tersebut. Pasti bukan. Ia yakin.
“Woy? Belom ngaceng kan, lo?”
“Belom, anjir.” Tepat saat dirinya mengucapkan hal tersebut, sebuah pengumuman suara yang mengisyaratkan penerbangannya bergema di seluruh penjuru bandara. “Yaudah deh, udah dipanggil nih gue.”
“Iya, have a safe flight. Inget kalau kamar mandi di pesawat itu ukurannya sekecil akhlak lo.”
“Emangnya gue mau ngapain!”
“Ya a friendly reminder aja.”
“Gak ada friendly, friendly nya reminder lo. Udah ah gue tutup ya.”
“Mmm.”
“Daah, don’t miss me .”
“Gak akan!”
Dan sambungan telepon pun terputus.
Junhui membangkitkan tubuhnya dari kursi yang sedari tadi di dudukinya dan kembali menggengam koper dengan satu tangan, dan berjalan lah dirinya menuju pesawat dengan sebuah harapan besar bahwa Hongkong akan dapat menghilangkan segala kepenatan yang disebabkan oleh skripsi tebalnya di Jakarta sini.
Captain announcement adalah hal terakhir yang didengarnya sebelum tertidur dengan bantal kucing kesayangan mengitari leher.
Good afternoon ladies and gentlemen this is your captain speaking. I would like to welcome you to Garuda Indonesia Airlines. This flight is number 0808 heading to Hongkong, China will be in the air for a total time of 4 hours and 50 minutes. Please be sure you are seated and your seatbelt is fastened, and get ready for takeoff.
A good flight, at last . Junhui mengetahui hal tersebut dari bagaimana tidurnya begitu nyenyak selama dua jam pertama dan kemudian menggunakan sisa waktu di udara untuk makan siang dan menonton film. Bangku di sebelahnya kosong, yang adalah merupakan sebuah jackpot mengingat pengalaman terbangnya selama ini selalu diwarnai dengan tangisan anak kecil entah mengapa.
Ada waktu dimana segelas wine dalam genggaman juga kaki yang disilangkan bersamaan dengan mata yang memindai awan putih membuat dirinya merasa seperti memiliki seluruh dunia, dan bahwa ia kini adalah orang dewasa utuh yang telah menyelesaikan satu tahapan dalam hidupnya. Tenaga terkuras dan juga tubuh pontang panting ketika menyelesaikan tugas akhir terbayar dengan penerbangan yang sempurna di waktu liburannya.
Ponselnya masih sepi hasil dari jaringan wifi yang sampai saat ini belum ia temukan. Jalan satu-satunya dengan menunggu sampai tiba di hotel, dan Junhui tak mempunyai masalah dengan itu. Masalah yang tengah dihadapinya malahan rasa ingin buang air kecil yang tak dapat dibendung lagi, dan menemukan toilet lewat tanda yang dilihatnya adalah yang kemudian dirinya lakukan.
Junhui baru selesai memasang kembali kancing celananya ketika suara seorang pria yang tengah mengobrol di telepon mulai menyeruak ke seluruh ruangan toilet . Katanya kepada lawan bicara yang entah dimana, iya, baru di Jakarta dua hari lagi. Sori deh Gyu, kemarin ada temen gue yang minta tuker shift karena istrinya mau lahiran. Iya, Hongkong. Oke, nanti gue kabarin. Oke. Will do.
Sesuatu mulai menggelitik pendengarannya seiring dengan suara pria tersebut yang masih terus berbicara dengan samar. Ia merasa seperti pernah mendengarnya entah dimana, namun kepalanya yang berputar karena Wine kesulitan untuk diajak bekerja sama. Untungnya beberapa detik setelah mencerna Junhui akhirnya menemukan jawaban.
This is your captain speaking.
Ah.
Buru-buru ia tuntaskan urusannya sebelum kemudian membalikan tubuh ke belakang dan berpapasan dengan pria tersebut. Menemukan fakta suara itu asalnya dari kapten yang mengendarai pesawatnya adalah sebuah hal yang lumrah, tetapi menemukan bahwa orang tersebut merupakan sang pria berseragam pilot yang beberapa jam lalu baru saja melakukan adu tatap intens dengannya adalah sebuah hal yang levelnya jauh menjadi lain.
Dan tatap intens di antara mereka kembali terjadi.
Dan hanya ada mereka berdua di dalam toilet sana.
And oh, fuck it.
Junhui adalah yang pertama berpaling ketika jantungnya terasa seperti akan meledak. Lalu ada dirinya yang berjalan kikuk menuju wastafel, dan sang pria yang dalam diam berjalan ke depan urinoir. Keadaanya bertambah kikuk ketika suara air yang mengucur dari wastafel keluar bersamaan dengan agenda buang air kecil pria tersebut.
Beberapa detik kemudian tanpa disadari karena dirinya yang terlalu banyak menundukan kepala, sang pilot telah berdiri sambil mencuci tangan di sebelahnya. Cermin besar di depan mata, tak membantu Junhui dalam menghindari pandangan mereka yang lagi-lagi bertemu.
Ada sesuatu yang bergemuruh di dalam perutnya ketika pria tersebut menyabuni satu persatu jarinya dengan telaten. Tiap sisi, tiap jenjang, tiap lekukan. Licinnya jemari tersebut membuat usapan demi usapan terasa begitu janggal, begitu menggoda, begitu erotis. Dan Junhui bisa merasakan hal tersebut di setiap inci dari sendi dan darahnya.
Jakunnya bergerak naik dan turun ketika susah payah menelan saliva, dan kemudian sang pria tersenyum.
“Halo.” Begitu ucapnya, ketika tengah mengeringkan tangannya dengan beberapa lembar tisu.
Junhui tersentak di tempat. Balasan dalam kata halo adalah yang seharusnya ia ucapkan, namun kini bibirnya tersegel di luar perintahnya. Sebuah anggukan samar adalah yang akhirnya ia berikan.
“Kerja?”
Sedang apa kamu disini, Junhui mengartikan pertanyaan tersebut sebelum menggelengkan kepalanya. “Liburan.”
“Sendiri?”
Anggukan lainnya.
Alis sang pilot menukik naik. “Ah.”
“Bapak yang tadi terbangin pesawat dari Jakarta kesini, ya?”
Alih-alih langsung menjawab, sang pria mendengus dan hampir tak kuasa menahan tawanya.
Intimidasi tidak langsung itu membuatnya menciut. ”Salah?”
Pipi itu menyemburkan sebuah lesung yang begitu manis. “Betul.”
“Terus kok ketawa?”
“Karena saya dipanggil bapak?”
“Harusnya apa? Captain ?”
“Boleh.” Sang pria mengiyakan. “Liburan dalam rangka apa?”
“Lulus kuliah.”
Anggukan lainnya dari pria di sebelahnya. “Abis ini mau ke...?”
“Ke hotel dulu, capek.”
“Hmm.” Gumaman itu harusnya menjadi sesuatu yang biasa, kalau saja sang pria tak melakukan itu sambil satu demi satu melepas kancing seragamnya.
Junhui menunduk. Dan Menunduk. Dan semakin dalam menunduk. Sayangnya, sang kapten tak paham tentang siapa dan apa yang tengah Junhui hindari ketika dengan gagah berani mengajukan pertanyaan selanjutnya. “Hey, saya boleh minta tolong?”
Pada pantulan cermin besar yang saat ini menunjukan sang kapten dengan seragam pilot yang terbuka dan lekuk perutnya lah Junhui tengah memandang. “Ya?”
“Kancing celana saya agak keras.” Si dia, dengan wajah datar. “Boleh tolong dibantu?”
Belum genap tiga puluh menit ia tiba di negara yang bukan tanah kelahirannya, dan ia sudah diminta berlutut di depan selangkangan orang asing.
Dirinya kemudian membeku di tempat sembari memutar banyak skenario dalam satu waktu tentang film-film klise yang biasa di tontonnya. Sure , hal seperti ini akan lumrah terjadi kepada mereka yang merasakan sebuah tensi sensual dan menuntaskannya lewat kepuasan sementara. Ada nama yang tepat untuk menggambarkan situasi tersebut: a quickie.
Namun sayangnya ini adalah kehidupan nyata, dan tak pernah ada dalam imajinasinya bahwa hal seliar ini akan benar-benar terjadi. Harusnya tidak terjadi . Dunia ini kejam, dunia ini penuh dengan orang jahat. Tapi bagaimana caranya mengkategorikan seorang pilot super tampan, bertubuh lezat, dan berlesung pipi manis sebagai salah satu dari mereka yang konteksnya negatif?
Junhui memantapkan hatinya bersamaan dengan orang asing yang terburu-buru memasuki toilet. Jalannya dipercepat, dan pada urinoir lah si dia menuju. Beberapa detik setelah menuntaskan urusannya, sang pria sampai di depan wastafel dengan maksud membersihkan tangan. Baik dirinya dan juga si kapten terdiam di tempat dengan pandangan kikuk yang diarahkan kemana pun kecuali satu sama lain.
Selesai dengan segala agendanya, orang asing itu kemudian keluar. Giliran mereka untuk kembali berada di dalam toilet besar nan sunyi yang hanya berisikan presensi satu sama lain.
Dan sang kapten berdeham.
Dan Junhui kembali tersentak di tempat.
“Mau bantu?” Pertanyaan itu kembali serta merta di bombardir dan Junhui tak kuasa meremas dan mengepalkan tangannya sendiri.
“Bantu bukain, kan?”
“Iya, bantu bukain. Keras.”
Bagian mana tepatnya yang dimaksud keras , Junhui masih belum bisa menentukan. “Oke.”
Ia memberanikan dirinya untuk menggeser tubuh ke samping kanan. Sedikit. Sedikit . Dan sedikit lagi. Ragunya terlihat jelas, namun jarak yang kian lama kian terkikis menandakan bahwa ada progress yang terjadi disana. Ia bergeser sampai akhirnya hanya ada jarak beberapa inci di antara mereka. Lesung pipi manis itu, kini dapat dilihatnya dari sisi yang begitu menggiurkan.
Lalu Junhui mulai memposisikan jemarinya untuk membuka kancing celana sang kapten.
Entah ilusi atau kenyataan, tapi dirinya kini sedang merasakan napas sang pria yang sedikit demi sedikit menerpa pori di wajahnya. Tentu ia tak berani untuk mengadah dan bertemu dengan bola mata lebar itu, dan usahanya untuk terlihat kasual dan tenang terkhianati oleh getar tangannya sendiri.
Sebuah fakta menarik: kancing celana sialan itu benar-benar susah untuk dibuka.
Ada sebagian dirinya yang ingin tertawa. Ada sebagian dirinya yang mulai berpikir mungkin ini semua benar-benar tentang permintaan tolong murni . Namun spekulasi itu dipatahkan dengan napas sang pria yang berderu riuh ketika Junhui tak sengaja menggesek pergelangan tangan di otas organ lunak dan panjang.
Momen dimana kancing itu akhirnya terbuka, dirinya mulai linglung. Junhui hampir jatuh ke samping ketika mencoba untuk bangkit kalau tangan kokoh itu tak menahannya di tempat. Sayangnya, pertahanan tersebut memerlukan sebuah usaha dimana tubuh mereka harus saling menempel erat agar menang melawan gravitasi.
Tepat ketika ia mengalungkan tangan di leher sang kapten untuk menahan diri, ada ceruk kulit yang menyemburkan hangat terpampang dengan begitu terbuka. Junhui tergoda untuk melakukan sesuatu disana, namun keberaniannya belum sampai pada tahap itu.
Suara berat sang pria yang getarnya sampai ke tubuh Junhui membuat dirinya menutup mata dengan takut. “You okay? ”
“Mhm.”
“Kancingnya udah terbuka. Terima kasih.”
“Welcome? ”
Mengapa tak ada satupun dari mereka yang bergerak? Bagaimana kalau ada yang masuk dan melihat adegan tak senonoh yang tengah mereka perbuat? Sang kapten, dengan kancing celana terbuka dan lekuk perut yang terpampang nyata. Lekuk perut yang kini ada tepat di depan penis Junhui!
Pria di depannya dengan mulus berhasil memindahkan telapak tangan agar dapat bertumpu pada tulang belakang Junhui sebelum kemudian perlahan demi perlahan menekan. Ia menekan, untuk membentuk sebuah friksi dari kulit mereka yang saling bersentuhan. Dan lagi. Dan lagi. Hingga Junhui sendiri tak tahan dan akhirnya ikut melakukannya—mendorong dirinya sendiri hingga mereka tak tersekat ruang.
Lalu kini kepalanya luar biasa pening.
Licik, mereka itu. Sama-sama paham dan mengerti apa yang mereka inginkan tetapi terlalu enggan untuk membuat sebuah signifikansi. Namun apa yang ada disini tak dapat diulur lebih lama lagi. Ini adalah tempat umum, dan cepat atau lambat seseorang akan memergoki.
Junhui yang akhirnya memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya dan menemukan bola mata pria tersebut setelah berusaha keras untuk menghindarinya sedari tadi.
Sebuah senyum mengembang dari wajah sang kapten kemudian. Katanya dengan intonasi yang penuh dengan pujian, "God, that lips. "
Dan sebagian dari raga Junhui terangkat dari tubuh mendengar kata-kata tersebut. "Kenapa?"
"Bikin saya gila dari semenjak lihat pertama kali."
Bukan hanya dirinya yang ingat kejadian sakral mereka beberapa jam yang lalu. "Oh ya?" Namun dirinya berpura-pura suci.
Dan sang kapten tahu itu. "Kamu juga ngelihatin saya."
"Seneng aja liat cowok pakai seragam." Dirinya lagi, masih berpura-pura suci.
"Jadi kalau saya gak pakai seragam ada kemungkinan kamu gak akan balas tatapan saya?"
How can i resist that handsome face? adalah balasan yang seharusnya Junhui lontarkan tapi putuskan untuk simpan diam-diam dalam hati.
"Mungkin."
"Kalau gitu saya ganti bajunya bisa nanti aja."
Ah, jadi itu alasan dari kancing seragam yang tanpa aba-aba dibuka.
"Memang kita mau ngapain?"
"Menurut kamu?"
Both of them played the game well.
Dan segalanya menjadi lebih intens setelah itu, dengan telapak tangan sang kapten yang berpindah untuk meraba pipinya dengan lembut. Dengan hati-hati. Dengan penuh atensi. Satu alisnya terangkat ketika matanya memindai Junhui dari ujung kepala dan berhenti di bibirnya. Hanya di bibirnya, seakan meminta izin.
Boleh?
Junhui menjawabnya dengan dorongan lebih pada tubuhnya yang menekan, semakin menekan, lebih menekan lagi , pada seluruh inci dari tubuh sang kapten.
Dan pria itu kemudian mengambil langkah nekat pertamanya dengan mendorong Junhui sekaligus membimbingnya untuk menuju ke salah satu bilik. Pandangannya tak terlepas lalu menjadi bertambah intens langkah demi langkah, dan segera setelah mereka berada di dalam sana pintu toilet tertutup dengan begitu sempurna.
"Hai." Cengir sang kapten ketika mereka berdiri di dalam ruangan sempit itu kemudian. Nadanya begitu ceria, kekanak-kanakan, namun di satu sisi terasa nyaman dan hangat.
"Hai."
"Good? "
"Mhm."
"Boleh cium?"
Junhui melebur. "Boleh."
Dan mencium, adalah yang selanjutnya masing-masing dari mereka lakukan. Keduanya begitu tak sabaran, itu sudah pasti. Ada kasak-kusuk gaduh yang akan membuat siapapun di luar sana bertanya-tanya apa yang sekiranya terjadi di balik pintu sana. Tangan Junhui yang kebingungan meletak akhirnya bertumpu pada celah pembatas di kanan dan kirinya, sedangkan sang kapten menjaganya agar tak jatuh dengan genggaman pada setiap sisi dari lekuk pinggang.
Junhui tak pernah mencium orang dengan seberantakan ini sebelumnya. Dirinya bukan si polos yang tak pernah melakukan kegiatan seksual dengan mantan-mantannya, namun agenda di hari ini membuat ia merasa bagaikan manusia terliar yang pernah ada lewat bagaimana mereka bahkan tak mencoba untuk mengambil jeda dari waktu ke waktu.
Bibir yang saling melumat, lidah yang bertarung untuk mendapatkan dominasi, gigi yang menggigit dan menyengatkan rasa sakit yang dikonversi menjadi nikmat, lalu lenguhan-lenguhan kecil yang merangsang syaraf mereka agar merasakan libido meninggi. Teori tersebut ternyata tidak salah, karena segera setelah mulut sang kapten berpindah ke leher Junhui ada si dia yang hanya bisa pasrah ketika kepalanya terlempar ke belakang dengan bola mata berputar di atas kenikmatanid
Dalam sebuah kalimat berbunyi do you want this as much as i did? yang ditanyakan oleh pria asing di depannya dan anggukan yang Junhui berikan, mereka mulai melucuti pakaian satu sama lain.
Segalanya terjadi begitu cepat, bisa dibilang. Junhui memaklumi hal tersebut karena inilah definisi sebenarnya dari sebuah quickie. Pun begitu, sang kapten tak pernah serta-merta menggunakan kuasa dengan semena. Ada konsiderasi disana dalam setiap gerakannya, disertai dengan mata yang selalu bersiap manakala Junhui menunjukan sebuah ketidaknyamanan. Yang seharusnya tak diperlukan, mengingat urusan mereka tak pernah harus sampai sedetail itu.
Dirinya yang kini tak berbusana dari pinggang ke bawah itu duduk di atas toilet dengan melebarkan kakinya sebisa yang ia mampu. Bukan hanya karena ada sejumput rasa malu tentang mengekspos arena privasi di depan orang asing, tapi bilik tersebut begitu membatasi mereka untuk bergerak leluasa
Gue gak heran sih kalau tiba-tiba lo udah ngangkang sembarangan.
Junhui di luar kemauannya tertawa kepada dirinya sendiri ketika mengingat gurauan tersebut dan kenyataan bahwa tak sampai satu hari kemudian hal tersebut menjadi kenyataan.
"Kenapa ketawa?" Sang kapten bertanya dengan sedikit kegelian dan rasa penasaran.
"Gak apa." Balasnya, sambil mengamati pria di depannya dan jemari yang melingkari kepunyaanya: sedikit mengelus, sedikit mengocok. Urat-urat berwarna pekat mulai menyembul di setiap sisi, dan bulu kuduk Junhui seketika berdiri.
Apakah dirinya—dalam kenyataan yang bertentangan dengan apa yang terucap dari bibirnya, akan benar-benar mengijinkan orang asing yang ia tak tahu namanya, latar belakangnya, segala-galanya, untuk masuk ke dalam dirinya?
"Having a second thought? "
Mengapa pria ini terdengar begitu penuh perhatian ketika ia seharusnya melakukan sebaliknya? "Engga, kok."
"Jadi boleh dilanjut?"
"Boleh."
"No condom? That okay? Jujur saya gak expect akan ngelakuin ini di tempat umum sebelumnya. Bukan tipe yang bawa barang itu kemana-mana juga."
"Are you clean? "
Sang pria mengangguk tanpa jeda; tegas, percaya diri. "Clear as crystal, saya jamin."
"Then go ahead. "
Sang kapten menyiapkan Junhui dengan jemarinya sambil mengocok kepunyaanya sendiri. Perkara kegiatan ini akan menjadi sangat sakit karena tak ada pelumas di dekat mereka itu ia tahu, tapi menolak ketika libidonya telah berada di titik tertinggi juga merupakan misi bunuh diri. Jadi ia pasrahkan segalanya tanpa ambil pusing.
Satu jari. Rasanya bagaikan digigit semut.
Dua jari. Rasanya seperti sesak dan terbakar.
Tiga jari. Bola matanya berputar dan mabuk tak karuan.
Semua jari yang ada disana akhirnya keluar dan digantikan oleh kepunyaan pria di depannya yang telah berdiri dan mengeras.
Junhui butuh menggengam sesuatu yang kokoh. Sakitnya begitu menusuk seluruh sendi di dalam dirinya sampai otaknya membeku seketika. Kalau ditanya siapa namanya, kemungkinan ia tak akan bisa menjawab. Namun seks itu aneh. Berkali-kali melakukan dengan mantan yang sebelumnya, selalu ada saat dimana rasa sakit adalah sesuatu yang malahan membuatnya termotivasi untuk bertahan.
Yang seperti kata pepatah: bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Dan senangnya muncul ketika sang kapten membuatnya terbiasa dengan berdiam diri tanpa memaksa.
Ada suara pintu dibuka lalu ditutup dari bilik sebelah. Lalu hening, lalu suara air yang keluar dari dalam flush . Sepanjang kejadian kikuk tersebut, mereka berusaha sebisa mungkin untuk tak mengeluarkan suara sampai akhirnya orang itu pergi.
"Boleh gerak?"
"Iya."
Masuk. Menekan. Menumbuk. Keluar. Masuk. Menekan. Menumbuk keluar. Menumbuk. Menumbuk. Menumbuk. Tekanan luar biasa dalam yang membuat kepalanya berputar tujuh keliling. Semua itu, harus keduanya rasakan tanpa bantuan pelumas yang dapat memudahkan ruang gerak.
"GOD! "
"Okay? "
Anggukan. Anggukan. Anggukan. "Okay... "
"Kasih tau ya, kalau saya berlebihan."
Gelengan. Gelengan. Gelengan. "Nggghhh... "
"Damn, your hole. " Desah sang kapten dengan kepalanya yang terlempar ke belakang. "Boleh coba diketatin?"
Junhui melakukanya tanpa berpikir dua kali, menyebabkan pria di depannya menutup matanya rapat-rapat sambil terus memaju mundurkan pinggangnya. Siapapun, siapapun yang masuk ke dalam toilet saat ini akan dapat merasakan bau seks yang tersebar dari bilik mereka yang terlalu liar, terlalu menikmati.
"Ah! Ah! Ah! " Desahnya tak karuan, tak kuasa menahan rasa nikmat pada lidah yang melingkar di putingnya.
"Shit kenapa bisa seenak ini?" Dan balas pria di depannya dengan telapak tangan yang masih menahan dan menggerayangi.
Sepuluh menit, dirinya menghitung. Sepuluh menit kepunyaan sang kapten ada di dalam dirinya sebelum pada detik-detik terakhir jemarinya terlingkar di penis Junhui dengan maksud agar mereka dapat keluar bersamaan.
Junhui keluar lebih cepat dari yang diduga karena ibu jari sang kapten yang terus menekan-nekan ujung kepalanya seakan kiamat sudah dekat, dan pria di depannya menyusul beberapa detik setelahnya. Semburan sperma hangat di dalam sana keluar dari dalam lubang seiring dengan organ panjang yang kini melemas ketika dikeluarkan inci demi inci.
"Wow."
Junhui medengus dengan tubuhnya yang mulai merasakan lelah. "Yeah, wow. "
To his surprise, sang kapten langsung buru-buru mengambil tisu dan membersihkan lubangnya dengan begitu atentif. Ia pastikan untuk melakukannya dengan lembut dan hati-hati agar tak menimbulkan rasa perih, dan ia pastikan pula agar segalanya kembali rapi seperti semula dengan memasangkan kembali celana Junhui yang menggantung di bagian mata kaki—tepat di atas sepatunya.
Dirinya menggunakan kesempatan tersebut untuk menelaah sang kapten dengan seragam yang kini berantakan sambil menggumamkan wow, i just fucked someone on his uniform for real di dalam hati.
"Sip, udah bersih dan udah beres."
"Thank you... "
"Welcome . Sori ya saya buru-buru, kru yang lain udah nunggu di luar supaya kita bisa ke hotel bareng."
"No worries, capt. No promise was ever made anyway. "
Senyum lesung pipi itu. "Mau keluar bareng?"
Junhui menggeleng. " You go ahead. "
"Oke. Habis ganti baju saya langsung pergi, ya."
"Take care. "
"You too, dearest. "
Dan perlahan demi perlahan sang pria menghilang dari balik pintu. Tanpa bekas, tanpa jejak, tanpa pernah berniat untuk ditemukan.
Junhui keluar dari dalam bilik itu lima menit kemudian. Pantulan dirinya di cermin sana membuatnya bergidik, dan realisasi bahwa ia masuk ke dalam sana meninggalkan tas di luar membuatnya bergidik. Kalau ini adalah di Jakarta, dompet dan ponselnya pasti sudah raib entah kemana. Untungnya semesta masih merestui rencana liburannya dengan tak menghilangkan apapun.
Karena saat ini Junhui butuh menelepon Jihoon. Sangat, sangat butuh.
("Ji!"
"Kan, gue bilang juga apa. Belom ada sehari tapi lo udah ngehubungin gue lagi. Tadi siapa coba yang bilang mau terbang berpetualang dan gak mau diganggu?"
"Tutup mulut lo, ini urgent."
"Urgent apaan? Cepet gue sibuk."
"I think... i think i found the perfect theme and title for my holiday.” )
***
Cermin kamar mandinya kini sepenuhnya berembun dan tak mampu untuk memantulkan apapun. Penyebabnya mungkin karena rintik dari shower yang terus menjatuhkan titik air demi titik air, penyebab lain mungkin karena Seungcheol sudah terlalu lama berada di dalam sana. Yah, satu jam sudah dapat dikatakan lama, bukan? Apalagi ketika ia adalah tipe yang tak pernah mandi lebih lama dari dua puluh menit.
Maka dari itulah ia benci menjadi banyak pikiran, karena kemudian ia akan melakukan hal-hal yang tak biasa dilakukannya seperti ini.
Tangannya mengusap pelan cermin tersebut agar dapat sedikit melihat pantulan dirinya sendiri. Sungguh pria malang, ia disana itu. Gairah hidupnya seperti hilang ditelan bumi untuk alasan yang klise dan sedikit tidak masuk di akal. Seungcheol mencoba untuk samar-samar menerbitkan senyum di wajah sebelum akhirnya bergidik geli kepada dirinya sendiri.
Dengan tubuh yang kini telah sepenuhnya kering ia memutuskan untuk keluar dari dalam kamar mandi ketika ujung jemarinya sudah mengerut hampir sempurna.
Keluarnya ia dari kamar mandi disambut oleh sahabatnya yang tengah berkutat dengan laptop lalu berpindah pada kamera. Lalu berpindah lagi, lalu berpindah lagi sampai akhirnya ia menoleh dan mendapati Seungcheol tengah memandang dengan satu handuk bergerak acak di antara rambut-rambutnya.
"Mandi apa minta wangsit lo?" Sapanya, yang bisa dikategorikan tidak senonoh mengingat Seungcheol tak ingat pernah mengizinkan sang pria untuk masuk.
"Kapan dateng?"
"Setengah jam yang lalu."
Dirinya berjalan menuju kitchen island dan menemukan kopinya di cangkir yang sudah tidak lagi mengepul namun tetap ia sesap. "Gak denger gue."
"Ya makanya tadi gue tanya, mandi apa minta wangsit?"
"Sori, lagi mumet."
Sahabatnya bahkan tak melirik. "Ketoprak tuh, yang kedemenan lo."
"Ciragil?"
"Mmm." Gumam sang pria bongsor, fokusnya masih terbagi antara laptop dan kamera. Terkadang Seungcheol bersyukur ia adalah seorang pilot, karena berlama-lama di depan alat elektronik sungguh bukan kegemarannya. Namun dirinya dan sahabat yang berprofesi sebagai fotografer itu memang acap kali berbeda dalam banyak hal. " I still don't know kenapa lo suka banget."
"Ya karena enak?"
"Enak, emang, tapi porsi sama harganya berbanding terbalik. Yang depan kompleks rumah gue cuma sepuluh ribu porsinya bisa ngasih makan satu kompleks."
"Ya beda lah," Dan kemudian Seungcheol menjatuhkan diri di atas sofa. "Ada demand, ada supply. Iya sih, judulnya ketoprak—tradisional. Tapi Ciragil udah punya nama. Gak akan ada yang mau beli Starbucks kalau hukumnya gak begitu."
Mingyu menaikan satu alisnya curiga. "Ngambil kelas ekonomi lo di cockpit ?"
Seungcheol mendengus sambil setengah terkekeh. "Sialan lo."
"So what's wrong? "
Pertanyaan menjebak. "Apanya?"
"Sweet escape lo di kamar mandi barusan."
Terkadang bisa menjadi sangat nyebalkan bukan, mempunyai sahabat yang begitu mengerti kalian? "Masih kepikiran gue, Gyu."
"Buset dah Cheol, kelewatan lo." Tidak masalah, bukan pertama kalinya sang sahabat memberikannya sebuah teguran tentang konteks yang akan segera mereka bahas. Seminggu belakangan Seungcheol bagaikan hidup di dalam mimpi buruk. "Judulnya quickie, tapi galaunya berhari-hari."
"Ya engga," Alasan. "Gue cuma nyesel aja kenapa gak sempet tanya nama dan minta kontak."
"Buat apaan?"
"Biar hati gue tenang."
"Gaya lo, hata-hati. Anak baru lulus kuliah itu, kampret."
"Kan." Seungcheol mengacak-acak rambutnya frustasi. "Percuma gue ngomong sama lo."
"Engga nih, sori sebelumnya, like what do you expect, man? It's supposed to be not a biggie anyway, right? "
"iya, iya. Lo selalu maha benar." Balasnya dengan malas.
"Kacau lo gak masuk akal untuk seseorang yang biasa ngelakuin casual sex , bos. Sama pramugari lain perasaan gak uring-uringan begini?"
Dirinya memberikan gerakan tangan mengusir dan wajah yang muak atas tamparan kenyataan yang berkali-kali dilemparkan kepadanya. "Okay, i get it. Now shush. "
"Shash, shush, shash, shush, ganti baju lo, kampret. Setengah jam lagi kita jalan."
Firasatnya mulai tak enak. Matanya diam-diam membelalak, dan Mingyu mulai sadar akan hal tersebut. So much for hiding things agar dirinya tak terkena damprat lagi hari ini.
"Jangan bilang lo lupa?"
Dia lupa. "Gue lupa."
"DUDE! " Rengek Mingyu dengan dramatis. Pekerjaanya sekarang sepenuhnya terlupakan. "Wonwoo's birthday dinner! "
Dia memang lupa. "Rame gak entar?"
"That's not the question you supposed to asked! " Rengek Mingyu semakin menjadi-jadi.
"Sori deh, sori... Lagi males gue ketemu orang banyak. Gak mood."
"Wah gila lo." Mingyu membanting bantal kecil yang tadinya ada di pangkuannya. "Gawat."
Yep, gawat. Tanpa diberitahu pun, Seungcheol sudah menyadari akan hal tersebut.
Mengapa sebuah kegiatan seks yang bahkan dilakukan tak lebih dari sepuluh menit itu membuatnya stress berat, dirinya pun tidak tahu. Yang jelas, saat ini di dalam pikirannya hanya ada bayakan akan bagaimana jemari lentik itu bermain di atas kancing celananya, wajah mungil itu bersembunyi di ceruk lehernya, tubuh harum itu mendekat padanya tanpa sisi dan ruang. lenguhan erotis itu menelisik telinganya, dan lubang hangat dan ketat yang menyedot kepunyaanya dengan begitu nikmat.
Dan Seungcheol ingin lagi. Ia ingin melakukan hal yang sebelumnya tak sempat ia lakukan: penyiapkan emanasan agar si dia tak kesakitan, memberinya banyak pujian, mengecupi seluruh inci tubuhnya, membuatnya nyaman dan aman, dan memeluknya agar sang pemuda tahu bagaimana Seungcheol begitu berterima kasih karena telah diberikan kepercayaan.
A quickie shouldn't be this sensitive, right?
Lagi dan lagi, ia mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. "Stress gue Gyu, sumpah."
Untuk pertama kalinya semenjak ia mengeluhkan masalah ini kepada sang sahabat satu minggu yang lalu, responnya berujung pemakluman. "Yaudah gini deh, nanti gue bilang sama Wonwoo lo lagi kurang sehat jadi gak bisa join . Tapi kalau anaknya ngambek then that's on you. I'll only do my best to cover your mess."
"Got it. " Responnya dengan lemas. Umurnya baru tiga puluh, tapi sakit kepalanya sudah membuatnya merasa sepuluh tahun lebih tua. Dan semua ini disebabkan oleh seorang pemuda yang bahkan baru menyelesaikan pendidikan perkuliahannya.
"Tahu gak menurut gue lo butuh apa?"
"Apaan?"
"Going away into the unknown. "
Dengusannya yang kali ini begitu sarkas dan pahit. "Lo pikir gue Elsa Frozen?"
"You're actually listening to that? "
Wajah Mingyu yang menghakimi membuatnya menciut. "Gara-gara ponakan gue."
"Okay, whatever. Maksud gue, take a break . Tapi ke tempat dimana lo bisa bebas dari manusia terutama orang-orang yang lo kenal. Easy."
Maybe? "Jadi menurut lo gue harus ambil cuti?"
"For your own good, why not. Siapa tau nemu distraksi."
Yeah, why not
Dan lalu dirinya terdiam. Berpikir. Merenung. Membuat bibirnya perih hasil dari lamunan yang terlalu dalam. Dan bergerak tak nyaman. Lalu mulai bermunculan keberanian demi keberanian yang sedikit demi sedikit menyeruak.
"Menurut lo gue nekat gak sih kalau ngabisin sisa cuti buat kabur ke Maldives?”
Seungcheol ingat bagaimana kala itu ia mendapatkan sebuah tatapan sinis dari sang sahabat. Lagi-lagi sudah biasa, dan ia tak ambil pusing tentang itu. Concern nya saat ini adalah bagaimana cuti berjumlah empat belas hari akan mendapatkan approve dari kantor.
Bulan yang belum memasuki masa-masa high season membantu keinginannya itu terwujud, ternyata. Karena tepat dua hari setelah ia mengajukan permohonan cuti. emailnya berdering dengan sebuah pemberitahuan pendek. Lalu bagaikan sekali kedipan mata, Seungcheol tengah berada di sebuah helikopter kecil yang terbang menuju salah satu pulau paling eksotis..
Bisa dibilang melihat dunia dari kacamata dalam ketinggian beribu-ribu meter di udara sudah menjadi makanan sehari-hari baginya, namun menikmati pemandangan tersebut tanpa harus khawatir nyawa penumpang yang bergantung di atas pundaknya adalah sebuah perasaan yang jauh berbeda. Batasan yang kali ini ia rasakan membuat dirinya begitu bahagia, karena yang saat ini Seungcheol inginkan adalah tak merasakan penyesalan yang mendalam atas jatah cutinya yang kini terkikis habis.
Siklus kecemasannya terus berjalan dengan pattern yang sama persis: penyesalan karena impulsivitas membawanya begitu jauh dari rumah, lalu tak menggubrisnya karena ia merasa ini perlu, lalu kembali menyesal, namun kembali ia yakinkan dirinya sendiri, dan terus begitu sampai akhirnya sesuatu menyakinkannya.
Dan sesuatu itu, adalah lautan biru jernih dengan pulau-pulau kecil nan indah mengelilingi.
Seungcheol dapat mencium aroma asin dari air laut bahkan ketika jarak antara dirinya dengan daratan masih berada begitu jauh. Dapat merasakan ombak yang menyapu kakinya, burung yang beterbangan di atas kepalanya, segarnya cocktail yang menuruni tenggorokannya, dan sebuah tidur nyaman di dalam bangku Heron Maakanaa. Ia dapat merasakannya sampai ke tulang ketika matanya tertutup dan terbang dalam sebuah khayal.
Beberapa orang di dalam rombongan termasuk dengan dirinya tiba di pulau Joali pukul sepuluh pagi. Sebuah cuaca yang sempurna, dimana matahari telah naik namun sepoi angin pagi yang sejuk masih berkeliaran di udara dan matanya tak harus memicing karena cahaya yang membutakan.
Seungcheol sudah pernah berlibur ke sini sebelumnya. Kala itu ia pergi seorang diri untuk merayakan tahun baru demi menghindari serangkaian acara keluarga yang akan membuatnya terjebak di antara pertanyaan-pertanyaan tak nyaman, dan kali ini ia kembali kabur karena menghindari perasaan tak nyaman. Why are you always running away, asshole?
("Le, ibu mu ini sudah tua... masa hidupnya sudah dalam hitungan jari. Kapan bisa dikasih gendong cucu?"
"Calon nya aja belum ada bu... gimana mau kasih cucu?"
"Ya dicari toh, le... Sudah tiga puluh lima, umurmu. Karir sudah sukses, hidup sudah mapan. Ingin cari apa lagi di dunia. kamu itu?" )
Pulau Joali di ingatannya adalah sebuah tempat yang membantunya untuk menjadi netral. Kawannya adalah suara kesunyian, lantunannya adalah suara ombak. Disini, isi kepalanya tak pernah campur dan aduk. Ada sebuah magis dimana langkahnya pada gumuk pasir hanyalah tentang ketenangan hati, pandangannya pada matahari yang terbenam adalah tentang keindahan alam, para pemusik yang menunjukan kebolehannya di pinggir bar kolam renang adalah tentang berbaur dengan pengunjung lainnya, dan mencicip makanan adalah tentang estetika cita rasa.
Dengan asam garam sebanyak dan senyata itu, seharusnya ia dapat membawa dirinya yang normal ketika kembali ke Jakarta, bukan?
Seharusnya.
Kalau saja sang pencipta tak mengatur skenario hidupnya untuk menjadi layaknya novel romansa bergenre metropop.
Langkah kakinya baru saja menginjak villa bernomor tujuh belas kala itu. Segala interiornya masih sama persis, suasananya masih sama persis, dan perasaan did dalam dadanya masih sama persis. Satu-satunya yang berbeda hanyalah sebuah suara familiar yang tengah mengajukan pertanyaan kepada staff hotel tepat di depan kamarnya.
"Excuse me, the hot water in my room won't function properly. Is it possible for you to help me fix it? "
"Very much do, sir. Which one is your room? "
("Boleh cium?"
"Boleh."
"Take care."
"You too, dearest." )
Kesempatan, terkadang adalah hal yang menjebak. Seungcheol pernah mengalaminya berkali-kali di masa remaja ketika impiannya masih merupakan apa yang ia junjung tinggi. Dirinya selalu ingin menjadi seorang guru olahraga. Menjadi seorang pelatih, membimbing anak-anak yang penuh semangat dan impian. Ia gagal satu kali di waktu itu. Entah karena usahanya yang belum maksimal, entah karena takdir berkata begitu.
Namun dirinya yang masih belia dan polos menggunakan kesempatan keduanya. Seungcheol kembali berusaha, kembali membulatkan tekat, kembali bersemangat, dan kembali gagal . Semenjak saat itu, ia trauma dengan kata bernama kesempatan kedua. Dan kini skenario yang sama persis terjadi kepada dirinya. Skenario ketika kesempatan keduanya kini ada di depan mata.
Permasalahannya adalah Seungcheol masih sulit menggerakan kaki di tempatnya berpijak. Seluruh tubuhnya, bagaikan membeku dimakan kebodohan atas keberanian yang menciut. Menciut. Dan terus menciut.
("No worries, capt. No promise was ever made anyway." )
Kakinya buru-buru berlari keluar. Untungnya, keputusan yang datang dengan bertele-tele tak membuat pemuda itu telah pergi menjauh dari hadapannya. Ia masih disitu, dengan sebuah punggung yang ditutupi kemeja putih bercorak pohon palem.Perangai Seungcheol yang kaku membuat kalimat pertama yang terpikirkan olehnya menjadi begitu norak dan basi karena ia belum sepenuhnya yakin, namun ucapnya pada sebuah pertemuan yang tak diduga-duganya akan terjadi itu,
“Hei.”
Sang pemuda membelalakan matanya. Lalu terdiam. Lalu perlahan memicing. Dan tanpa aba-aba kembali membulat sempurna. “Oh shit. ”
Ia ingin terbahak sembari mengatakan yeah... oh shit indeed, tapi niatnya itu ia urungkan agar tak membuat sang pemuda menjadi senggan di hadapannya. “Another holiday? ”
“Capt ngapain disini?”
Mencoba untuk menghapus kamu dari ingatan tetapi malah terjebak disini bersama kamu? “Liburan.”
“For real?! ”
“For real. ” Kemudian terbitlah senyumnya.
“Wow...” Ucap pemuda manis itu di depannya dengan rahang yang menggantung. “Wow.”
I know... wow.
“Disini dari kapan?” Mulai Seungcheol lagi, membuka topik baru.
“Hmm baru kok, jam tujuh pagi tadi. Sebentar capt— ” Pemuda itu memindahkan fokusnya kepada staff hotel lalu mengatakan you can go first and fix it, i'll talk with my friend for a bit before catching up. Sang staff mengangguk dan berlalu, kemudian mata mereka kembali bertemu. “—iya, jam tujuh.”
“Ah,” Three hours difference. What a God’s plan. “Udah pernah ke Maldives sebelumnya?”
“Nope .” Rambut sang pemuda yang halus ikut bergoyang seiring dengan gelengan kepalanya. “First time. ”
“Sendirian lagi?” Pertanyaan esensial, dan jawaban penentuan. Karena kalau pemuda di depannya seketika mengumumkan bahwa kekasihnya ada disini, mungkin Seungcheol akan langsung mengubur dirinya di gumuk pasir sana dalam-dalam.
Dan kemudian jawaban itu akhirnya datang. “Sendirian lagi.”
“Oke.”
“Udah?” Sang pemuda terlihat tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya namun tetap menanggapi dengan gurauan ramah. “Gitu aja?”
“Engga.” Your moment, Cheol. Your moment. Embrace it. “Mau jalan-jalan sama saya?
Ajakan barusan adalah sebuah ajakan impulsif, itu tentu saja. Maka dari itu sebuah anggukan persetujuan yang diberikan oleh sang pemuda berhasil membuatnya kalang kabut. Pertama karena senang bukan kepalang itu menerbitkan sebuah cengiran bodoh di wajahnya, dan yang kedua adalah karena tak ada itinerary pasti yang sudah ia mantapkan sedari jauh.
Pada akhirnya ia hanya mempersilahkan mereka berdua untuk berjalan di atas jembatan kayu untuk menuju area pusat pulau.
Kalau berjalan kaki di Jakarta sana selalu merupakan hal yang paling Seungcheol tak sukai karena lingkungannya yang tak ramah, Maldives membuatnya mengapresiasi langkah demi langkah yang dipijaknya ketika ia berada di sini. Matanya itu, layaknya dimanjakan oleh warna biru di atas air laut dan hijau dari pepohonan yang tersebar sejauh mata memandang.
Kesempurnaan kali ini dibungkus dengan pemuda manis yang ikut berjalan dengan anggun tepat di sebelahnya. "Kamu laper?”
Si dia menggeleng.
“Mau minum?”
Gelengan lain. “Masih pagi.”
“Capek?”
Gelengan berikutnya. “Excited.”
“Suka olahraga?”
“Lebih suka rebahan.”
Seungcheol terkekeh sambil menggelengkan kepalanya. “Kamu sama ponakan-ponakan saya sama aja ternyata.”
“Bukan sama kayak anaknya capt?”
Ah, dia memancing. “Saya belum punya anak.”
“Belum ada cincin juga di jarinya.”
Pancingan lainnya. “Iya, belum.”
“Kok tiba-tiba liburan? Kan belum musim liburan.”
Pernahkah kalian ditanyakan sebuah pertanyaan yang sebab juga akibatnya adalah orang tersebut sendiri? “Stress saya.”
“Karena kerjaan?”
“Iya.” Little white lies. “Kamu dari mana ini? Jakarta juga?”
“Ih enggaaa. Kemarin aku di Hongkong kan seminggu, terus habis itu langsung terbang kesini.”
“Hmm... perjalanannya udah direncanain berarti?”
“Udah dong! Ada catatan itinerary nya di buku diary.”
Cute. ”Beneran mau liburan ya ternyata.”
“Ya masa bohongan?”
Lihat bibir merah jambu yang ditekuk itu? Kalau saja dirinya adalah pria brengsek yang tidak tahu tata krama, mungkin sudah diserangnya sedari tadi. ”Maksud saya, niat banget gitu.”
“Karena habis ini mau langsung lanjut S2, capt. You know how it is lah ya, kalau gak dipuas-puasin liburan sekarang saya bisa jadi bujang lapuk yang kerjaanya nyusun tesis doang.”
“Oke kalau gitu, bareng aja.”
Ajakan ambigu barusan membuat alis sang pemuda menukik naik jauh ke atas. “Maksudnya?”
“Maksudnya kalau kamu gak keberatan kita spend activity bareng aja disini. Kan saya sama kamu tujuannya satu, mau liburan. Saya udah pernah kesini juga, jadi lumayan tahu apa aja yang sekiranya worth to do. Oh, sebentar, maaf. Saya ngomong gitu kok gak mikir kalau kamu mau have quality time of your own , ya? Maa—”
“—Oke kalau gitu. Enaknya ngapain dulu, capt ?”
Jawaban spontan barusan membuat Seungcheol mengulum senyum dalam diam bagaikan dia adalah remaja di balik seragam putih abu-abu nya. ”Enaknya kenalan dulu, mungkin?”
“Oh.” Si dia seperti baru saja menelan mentah realisasi tentang hal tersebut. “Kenalannya pakai nama asli atau samaran?”
Dan disitu lah untuk pertama kalinya Seungcheol terbahak sampai kepalanya harus terlempar jauh ke belakang. “Hah?”
“Ih, itu lho... what happens in Vegas, stays in Vegas? Summer fling? ”
“Saya?” Tanyanya dengan sunggingan bibir yang penuh goda. “Summer fling kamu?”
“Ini gambaran besarnya aja... kan kemungkinan besar habis dari sini saya gak akan ketemu capt lagi?”
Masuk akal, namun tetap sebuah mindset yang unik. “Nama saya Seungcheol. Dan itu nama asli, yang ada di KTP. Saya bisa tunjukin kalau kamu mau liat.”
“Eh engga, gak usah! Junhui percaya.”
Bibir itu kembali dirapatkannya untuk menahan rasa gemas. ”Junhui.”
“Junhui.” Beo sang pemuda kemudian.
“Junhui mau ngeteh di rumah pohon Manta Ray?”
Sebuah anggukan mantap adalah apa yang selanjutnya Seungcheol dapatkan pada pagi hari yang cerah itu.
Pijakan terakhirnya di rumah pohon sejuk berisi sofa dan sebuah meja kecil berbulan-bulan lalu membawanya kepada kilas balik bahwa hanya ada dirinya dan salah satu buku Sherlock Holmes (seri keberapa dan yang mana ia sedikit lupa). Rencananya hari yang panjang itu akan ia isi dengan menyelesaikan buku tersebut, namun apa daya, kesunyian disana malahan membawanya dalam sebuah tidur yang panjang dan lelap.
Yang kali ini agak jauh berbeda. Sangat, sangat jauh berbeda. Tidur disaat seluruh tubuhnya merasakan adrenaline atas presensi Junhui di sampingnya, adalah sebuah kemustahilan.
"Oh jadi kamu S2 nya mau ngambil bisnis lagi?"
"Mmm." Sang pemuda merespon sambil menyesap tehnya.
"Mandat dari papa, dan mandat dari keluarga turun temurun. Pokoknya prinsip di dalam keluargaku tuh kalau kita bukan anak bisnis dan jenjang pendidikannya lebih rendah dari S2, then it's gonna be hell setiap ada acara kumpul keluarga."
Saya juga merasa begitu, tetapi dengan alasan yang sepenuhnya jauh berbeda. "Menurut saya selama kamunya gak terpaksa dan memang mumpuni dari ranah finansial sih gak apa. Toh berinvestasi untuk pendidikan sama aja berinvestasi pada kualitas diri, kan?"
"Yes. Aku juga mikirnya gitu, capt."
"Seungcheol." Ucapnya dengan nada memperingati akan sebuah negosiasi di antara mereka dimana ia lebih nyaman untuk dipanggil dengan nama alih-alih ditambah embel kak , atau lebih parah lagi om.
"Iya, Seungcheol. Cheol, for short?"
"Boleh." Dan diresponnya rencana pemendekan nama panggilan itu dengan positif. "Boleh tanya kenapa Maldives?"
"Kenapa apanya?"
"Ya mungkin ada specific or personal reason. " Atau scientific kenapa kamu dan saya bisa berakhir dengan bertemu kembali disini, di atas segala ketidakmungkinan.
"Dunno." Katanya dengan kedua bahu yang diangkat dengan santai. "Aku melihatnya pergi kesini tuh layaknya pergi ke sebuah antah berantah yang indah? Into the unknown. "
Curse that into the unknown theory . Anggukan pemahaman (yang nyatanya tidak) adalah yang selanjutnya ia layangkan. "Gimana teh nya? Junhui suka?"
Si dia mengecap mulutnya dengan polos untuk merasakan. "Enak-enak aja, sih? Another expensive tea? "
Sebuah statement yang sepenuhnya benar, dan Seungcheol kesulitan untuk menyangkal. "Masih inget tadi namanya apa?"
"Ceylon tea? "
"Mhm." Gantian dirinya yang bergumam sambil bersandar santai pada tumpukan bantal di belakang punggung. “Khasiatnya yang paling terkenal bisa untuk pemacu libido dan gairah seksual."
Menyembur. Air teh yang sudah hampir jatuh ke tenggorokan itu, menyembur ke udara dan ke lantai.
"MAAF!" Teriak Junhui dengan panik, sepanik-paniknya panik. "Maaf, maaf, maaf! Keselek..."
"Iya gak apa." Balas Seungcheol lembut. "Basah gak bajumu?"
"Engga..." Ibarat kucing kecil nan manis, Junhui mencoba untuk menyembunyikan dirinya dari rasa malu. "Ada tisu gak, Cheol?"
"Hm? Yang ini kotor, bekas saya pakai. Kita minta lagi dulu aja ya. Itu bibirnya..." Seungcheol menggeser duduknya untuk mendekat ke arah sang pemuda. Lebih dekat. Lebih dekat lagi. Lebih dekat lagi seakan tengah reka ulang adegan mereka di toilet sana kapan hari. Lalu setelah jangkauannya telah pasti, ia gunakan ibu jarinya untuk menyeka sejumput titik air yang berjatuhan di dagu sang pemuda.
Junhui tak sengaja mendongak dan menemukan Seungcheol yang memandang dengan segala rasa dan asa akan hasrat yang bergejolak di dalam diri. Bukan, bukan efek teh. Ini adalah sepenuhnya salah tujuh hari penuh desperasi akan mereka yang dipisahkan jarak dan ketidaktahuan akan satu sama lain.
"Hai." Senyumnya bagaikan sebuah déjà vu.
"Hai." Dan sang pemuda menjawab dengan cicit yang mendenyutkan setiap sendi dalam diri Seungcheol.
"Aneh gak sih kalau saya bilang semingguan kemarin kepikiran kamu?" Jujurnya, dan menimbulkan sebuah tatapan tak percaya dari si dia.
"Aku?"
"Should've treated you better than a cramped and dirty toilet."
Pemuda itu serta merta menunduk dan merapatkan kedua sisi kakinya, berharap dapat menggulung dirinya hidup-hidup. Dan Seungcheol tak menyukai sebuah kenyataan bahwa mahakarya ini mencoba untuk menyembunyikan indahnya.
Maka ia letakan jemarinya di atas lutut Junhui. Untuk dapat mencegah. Untuk dapat merasa. Untuk dapat merangsang. Untuk dapat menggambar sebuah teritori kepemilikan. Awalnya berupa usapan. Lalu pijitan. Lalu remasan. Lalu semua secara bersamaan sampai akhirnya pemuda di sampingnya kehilangan kewarasan dan mulai mengeluarkan suara napas yang tak beraturan.
Ucap Junhui dengan keberanian yang akhirnya terkumpul, "Can i say what i want? "
Balas Seungcheol dengan adrenaline yang sudah terpompa dengan penuh, "Of course. "
Ternyata alih-alih mengucapkan, Junhui lebih memilih menunjukan. Memerintahkan. Ada telapak tangan yang dengan pelan mendorong belakang kepala Seungcheol untuk bersembunyi di ceruk lehernya. Pemuda itu, ingin merasakan lehernya dijamah.
Seungcheol tentu mumpuni dan menyanggupi. Ini, adalah sebuah ranah yang tak hanya sekali dilakukannya. Rumor bahwa sebagian besar pilot akan melepas penat dari persinggahan satu ke persinggahan lain bersama dengan partner terbangnya? Terverifikasi. Dan kini hal tersebut ia terapkan kepada seorang pemuda indah.
Junhui merespon dengan positif. Sangat, sangat positif lewat jemarinya yang menjambak rambut sang kapten dengan segala kekuatan di dalam diri. Dan seberapa besar rasa perih yang disebabkan oleh jambakan itu adalah indikator dari tumpuan rasa nikmat yang tengah pria itu rasakan. Ringan untuk kecupan-kecupan kecil, sedang untuk lumatan-lumatan erotis, dan kencang untuk—
"Shhh... ngghh... " —gigitan yang menyengat.
Desahan itu, desahan itu , dengan magis membuat segala stress yang ada di dalam dirinya sepenuhnya menghilang.
Satu hal yang Seungcheol sukai dari Junhui adalah pemuda itu tak pernah membuatnya bingung. Tak pernah membuatnya merasa jadi si dia yang berkeinginan dan memaksa, merasa jadi si dia yang berdosa. Karena pemuda itu selalu mengingingkannya segalanya sama besar. Selalu membuatnya menjadi dua arah.
Salah satunya adalah dengan ikut mengecupi pipi Seungcheol ketika pria itu tengah sibuk, ikut memberikan tekanan dan rangsangan kepada bagian tubuh mereka yang lain, dan ikut menyampaikan aspirasinya. "Is this okay? "
"Apanya?"
"Kita kayak gini di tempat terbuka..."
Pertanyaan itu membuat Seungcheol tak kuasa menahan tawa. "Kamu tahu gak Maldives ini sebetulnya tempat untuk apa?"
"Tempat untuk apa...?"
"Couple in honeymoon. "
To his surprise , Junhui tertawa. “Right.”
Menganggap jawaban tersebut sebagai lampu hijaunya, Seungcheol mulai berani memindahkan kemudinya dari leher menuju ke bibir. Ciuman mereka basah dan berantakan. Muncul saat dimana tak ada kontrol diri sehingga semua saliva yang berjatuhan tak mereka hiraukan, ada saat dimana mereka merasa segalanya membengkak tapi tak mereka jadikan pertimbangan, ada saat dimana tangan yang mulai bergerilya ke tempat tak senonoh tapi tak mereka pedulikan, dan ada saat dimana desahan mulai menggila namun tak mereka hentikan.
Semuanya, dilakukan atas nama rasa nikmat.
“Saya suka pegang pinggang kamu.” Begitu kata Seungcheol, memuji bersamaan dengan ibu jarinya yang mengusap-usap di lekuk sana. It’s like i'm holding something precious. “Geli gak?”
“Geli... tapi geli enak.”
“Gimana tuh geli enak?”
“Bikin terangsang.”
God, the words send his blood into his head instantly. “Enak ya kalau terangsang? Bikin kepingin saya masukin?”
Tak pernah sekalipun dalam hidupnya, Seungcheol membayangkan akan mengucapkan kalimat tersebut kepada seorang anak yang kurang lebih usianya baru 22 tahun. But there he was , menjadi om-om di umur 35 berbirahi tingi.
Untungnya Junhui lalu menjawab, “Iya.”
Seungcheol hampir menangis dalam rasa lega ketika mendengar kalimat tersebut. “God, I'm gonna devour you. ”
“Jangan disini...” Dan ditolaknya permintaan itu masih dengan telapak tangan yang menggerayangi Seungchepl dari balik kemeja. Dirinya sudah bilang kan, kalau Junhui punya magisnya sendiri? Karena jemari lentik itu dengan pintar memilin puting Seungcheol tanpa harus diminta dan diarahkan.
“Kenapa memangnya?”
“Kurang leluasa?”
Hampir . Hampir saja jantungnya copot, akan sebuah praduga bahwa tak akan ada kali kedua bagi mereka. ”Gak nyaman ya?”
“Iya...” Jawabnya lembut, selembut kain sutera yang biasa dikoleksi oleh ibunya di rumah. “Maaf.”
“No big deal .” Pertama kalinya semenjak bibir mereka bersatu, Seungcheol melepaskan dan sedikit memundurkan dirinya untuk melihat kekacauan yang dibuatnya. Wajah, rambut, pakaian, dan segalanya yang terlihat pada diri Junhui menjadi berantakan dan terlihat menggoda. “Mau lanjut jalan-jalan ke tempat lain?”
Jawabannya datang dalam sebuah anggukan mantap.
Sebuah hal yang mungkin aneh dilakukan oleh hubungan mereka yang berdasar pada seks, namun sisa dari hari itu mereka habiskan dengan membicarakan topik wajar: tentang kehidupan, pengalaman, pendidikan, pertemanan, keresahan, pekerjaan, dan isu-isu sosial. Percintaan mungkin adalah apa yang mereka jadikan sebagai pengecualian mengingat kadar kesensitifan, namun lain dari itu mereka adalah dua insan dengan dua kepala dan sejuta pemikiran yang saling ditukar dan dipilah.
Obrolan itu terus berlanjut bersama dengan kaki mereka yang menyusuri garis pantai. Bersama dengan ombak yang menyapu pasir. Bersamaan dengan pohon rindang yang berubah fungsi menjadi atap ketika menyantap makan siang di halaman belakang Mura Bar, dengan langit yang perlahan berubah oranye dan para pengunjung yang mulai berkumpul untuk menghadiri cocktail party , dan bersamaan dengan sunset yang bisa dinikmati seiring dengan live music dari pinggir bar kolam renang.
Menit demi menit itu, cukup bagi mereka untuk akhirnya menghapus sebuah predikat orang asing tanpa nama dan identitas.
“Kirain isi pulau ini beneran cuma kita berdua, ternyata kalau dikumpulin gini lumayan banyak juga.” Ucap Junhui lebih kepada dirinya sendiri.
Namun Seungcheol tetap menjawab. “Orang yang lagi berbulan madu lebih seneng ngumpet di kamar supaya intimasinya lebih puas dan maksimal?”
“I see... ” Junhui mengulum bibirnya dengan canggung. “Biasanya habis ini ngapain lagi, capt?”
“Live music ini sampai tengah malam sih, boleh aja kalau kamu tetep mau stay disini. Tapi biasa saya jam delapan juga udah tepar dan balik ke kamar.”
“Okay... let’s? ”
“Balik ke villa?”
“Mhm.”
“Alright.”
Ketika Junhui mengajukan ajakan tersebut, Seungcheol menyimpulkan segalanya yang normal: bahwa dia lelah, dan tubuhnya mengatakan untuk beristirahat. Namun pada kenyataanya, mereka kini ada di depan water villa kepunyaan Seungcheol untuk melepas namun tak ada satupun dari mereka yang beranjak.
“Gih, masuk.”
Sesuatu dalam diri Seungcheol teremas ketika mendengar kalimat tersebut. “Oke, saya masuk.”
“Oke.”
Junhui menunduk, Seungcheol menggaruk tengkuknya dengan kikuk sambil mengarahkan pandangan kemanapun kecuali sang pemuda, dan dia bodoh. Dia bodoh karena membiarkan Junhui pergi beberapa langkah menjauh. Dia bodoh, karena tak mencoba memanfaatkan empat belas harinya dengan maksimal. Dia bodoh, karena—
“Junhui.”
Pemuda itu berbalik. “Hm?”
“Mau stay up all night di villa saya aja?” Jemarinya bergetar, napasnya tertahan, kakinya melemas.
Semua penderitaan itu berakhir ketika sang pemuda, tanpa basa dan basi, membawa langkahnya untuk mendekat dan memasuki rumah bernomor tujuh belas terlebih dahulu. Punggung yang menjauh itu membawa senyumnya mengembang.
Bagian kesukaan Seungcheol dari villa di atas laut tersebut adalah bagian belakang rumah. Disana terdapat sebuah kolam renang private berukuran tiga puluh lima meter persegi, hammock yang diletakan tepat di atas air, sebuah pemandangan megah dengan laut luas dan tak berbatas, lalu sisi kegemarannya: the almighty lounge chair.
Seungcheol tengah meracik minuman di mini bar yang ada di kamar ketika dari sudut matanya ia menangkap Junhui yang sedang mencelup kedua kakinya ke dalam kolam renang. Pemuda itu terlihat rileks, terlihat menikmati, dan terlihat menggoda dengan kancing kemeja nya yang terbuka dua dari atas. Seungcheol ingin, sangat begitu ingin menghabiskan sisa malam untuk mewujudkan segala fantasi yang tengah berkecamuk di dalam dirinya.
“Masih kuat kalau saya kasih whisky ? Atau mau soda?”
“Kalau soda kapan maboknya, pak?”
Seungcheol menaikan satu alisnya, penasaran. “Jadi niatnya begitu?”
“Yes.” Jawabnya dengan mantap.
Dirinya mengangguk-anggukan kepala sambil berjalan mendekat dan ikut duduk di sisi Junhui. Ia berikan satu gelas di tangan kanannya ke dalam genggaman sang pemuda sebelum lanjut berbicara. “Kalau saya sih ada niatan lain.”
Pancingan tersebut ternyata berhasil membuat si dia menolehkan kepala dengan cepat dan penuh antusiasme. “ Which is...? ”
Dan Seungcheol teguk minuman yang ada di genggaman tangan kirinya. Cairan pahit itu tak langsung ditelannya; alih-alih begitu, ia serta merta menarik lembut rahang Junhui dan menjatuhkan sebuah kecupan merangkap transfer minuman. Sang pemuda menerimanya dengan terbuka.
“Begitu?” Dia bertanya, sehabis Seungcheol menarik diri.
“Iya, begitu.” Dan dijawabnya kemudian.
Foreplay barusan, ternyata adalah garis start untuk Junhui bertindak. Karena dengan kejamnya ia mendorong halus Seungcheol agar seluruh tubuhnya masuk ke dalam air sebelum menarik dan menjepitnya di antara sela-sela paha.
Di bawah langit malam dan laut yang terbentang luas di belakang sana kemudian ia berkata, “Jadi mau devour me ?”
Jangan tanya apa yang terjadi selanjutnya, karena Seungcheol dengan cepat mengarahkan seluruh tenaga yang tersisa untuk menarik kepala Junhui mendekat sebelum mengecupnya; kembali basah, kembali berantakan, kembali tak karuan. Di sisi lain, sang pemuda sibuk membuka pakaian mereka di atas desperasi akan kulit yang bertemu dengan kulit. Junhui yang tak berbusana itu mengundang Seungcheol untuk memindahkan lidahnya pada puting, memutarnya berkali-kali di sekitaran, dan memutar lagi, dan memutar lagi.
Dan Junhui, menangis dalam kenikmatan.
Fase selanjutnya dalam sesi kotor mereka adalah Seungcheol yang menyerang bagian-bagian dalam dari paha Junhui. Tentu posisinya yang berada di dalam kolam renang memudahkannya untuk menahan kaki sang pemuda untuk tetap terbuka, dan kini aksesnya lancar bagaikan jalanan Jakarta pada musim mudik.
Celana pendek tipis yang masih menempel pada pinggang Junhui telah mencetak gundukannya dengan sangat sempurna akibat dari air yang mengombak kesana kemari, dan Seungcheol menyeringai dalam hati karena itu adalah perbuatannya. Itu, adalah hasil dari mahakarya yang ia ulur dan ulur sebelum akhirnya meledak.
“Seungcheol...”
Namanya . Itu namanya yang disebut dengan begitu penuh desperasi.
“Ya?”
“Haa— Keep going.”
Dan mandat itu, segera ia patuhi.
Kesurupan sepertinya, dia itu. Karena sepuluh menit dalam sebuah tingkatan napsu yang membawanya untuk mengecupi setiap inci dari tubuh Junhui menghasilkan banyak tanda merah di sekeliling. Mungkin besok pemuda ini terpaksa harus memakai pakaian yang tertutup. Atau mungkin, tak akan diizinkannya sang pemuda untuk bertemu siapapun dalam rangka menunjukan sebuah kepemilikan.
“Capt , dingin...”
Tubuhnya yang terendam setengahnya di dalam air itu ternyata juga merasakannya. “ Alright let’s go inside .”
Ketika mereka sampai di dalam setelah melepaskan semua pakaian yang basah dan menutup pintu luar rapat-rapat agar tak merasakan angin malam yang menusuk, kemudi akhirnya dilemparkan kepada Junhui. Lebih seperti dia yang merebut, tepatnya. Karena segera setelah tubuh Seungcheol yang tak berbusana dijatuhkannya di atas tempat tidur ada mulutnya yang meraup dengan begitu rakus.
“Holy shit! ” Dan amuk Seungcheol.
Dari ujung sana Junhui hanya melirik dari sudut matanya, berlaga seakan-akan dia adalah manusia polos.
“Fuck, fuck, fuck... ” Masih Seungcheol, masih dengan kepunyaanya yang berdiri tegang dan mengeras di dalam rongga mulut Junhui, dan ia yang maju-mundurkan pinggang seakan kiamat sudah dekat.
“Capt? ”
“Shhh—yes? ”
“I don’t want it to be hurt this time... ”
“Okay .” Lenguhnya, lirihnya, desahnya. “ Okay, okay, okay. I’ll prep you good. Nanti kita pelan-pelan supaya melebar dulu, ya?”
“Thank you... ”
Seungcheol menunggu hingga dirinya mengeluarkan putih sebelum membalikan keadaan hingga kini Junhui yang berada di bawah. Dengan segenap kesabaran ia baluri jari dengan pelumas sebelum memasukan satu jari, dua jari, dan yang ketiga sebagai bentuk finalisasi.
“Good? ”
“Kok cepet ya...”
Seungcheol mencoba untuk menjadi netral. “Ada cerita mungkin, semingguan kemarin?”
“Engga!” Balas sang pemuda buru-buru. “Terakhir sama kamu.”
Kata itu. Magis dalam setiap kata itu yang seakan membatasi Junhui untuk melakuan dengan selain dirinya karena dia ingin. “Oh gitu...”
“Yaudah lanjutin...”
“Apanya?”
“Fuck me? ”
“God .” Seungcheol dengan lemas menjatuhkan kepalanya di atas pundak pemuda di bawahnya. “Mulut kamu.”
“Ayo...”
Sayangnya, ia bukan pria kuat yang bisa menolak permintaan tersebut. Sayangnya, Choi Seungcheol dengan Junhui yang terbaring dibawahnya adalah seorang pengecut yang rela diperintah. Dan tugasnya sekarang ini adalah melaksanakan.
Maka ia genggam kepunyaanya yang berdiri dengan gagah itu untuk masuk. Dan menekan dalam-dalam. Lalu menumbuk dengan percaya diri. Dan mempercepat ritmenya. Lalu mengulanginya. Kemudian larut dalam sensasi dan fantasi. Terus maju dan mundur. Menimbulkan berbagai macam gesekan. Mencipta friksi. Menghasilkan nikmat. Memaksa Junhui untuk melantunkan—
“Ah! Ah! Ah!”
“NGGH SEUNGCHEOL!”
“Don’t stop. Don’t stop. Don’t stop. Don’t stop!”
“Suka... Enak... Lagi...”
“Fuuu... aku mau keluar!”
Dan keduanya melepas.
***
Pagi itu Junhui bangun dengan perasaan yang berkeinginan untuk menjadi binal. Mungkin siapapun akan bertingkah seperti apa yang dirinya rasakan sekarang, kalau di sebelah mereka tengah terbaring satu sosok dengan punggung berlekuk indah. Posisi wajahnya yang telungkup menabrak bantal mengingatkan dirinya akan peristiwa malam tadi, dimana kedua dari mereka terlanjut lelah untuk bahkan mengatur posisi nyaman ketika tidur.
(“Hey, you’re crushing my body!”
“I didn’t do anything.”
“Capt, seriously you’re heavy.”
“Iya sebentar, saya sudah jompo.”
“Pas devouring me perasaan perkasa-perkasa aja.”
“Junhui, mulutnya.” )
Dirinya mencoba untuk bergerak seminimum mungkin agar tak menggangu tidur sang kapten. Untuk mengisi waktu luangnya, Junhui menyibukan diri dengan memandang wajah yang menggepeng di atas bantal itu lewat senyum yang dikulum. Bulu mata itu, mengapa begitu panjang? And look at those lips. God damn. d’d definitely lick that biceps as well. Would he mind kalau gue bilang mau ada di dalam dia sambil digendong di depan tubuhnya yang gagah?
Bed cover berwarna seputih salju itu sedikit tersingkap ketika akhirnya sang kapten merubah posisinya menjadi telentang, dan sesuatu di antara selangkangannya mulai menarik perhatian. Meaning,
waktunya beraksi.
Junhui merangkak bagaikan kucing ke balik selimut tebal itu. Ia merangkak dan terus merangkak, sampai akhirnya terhimpit di antara kedua paha kokoh itu. Disana lalu ia mempersiapkan jemari untuk mengelus. Lidah untuk membasahi. Telapak tangannya untuk menggengam. Lalu bagian terakhir: rongga mulut untuk menghangati.
Ia adalah seorang manusia biasa yang haus akan validasi. Semua itu terlihat dari bagaimana Junhui berusaha keras agar agenda binalnya pagi itu dapat memuaskan si dia. Pun sakit, ia coba dorong organ panjang itu sampai ke pangkal. Menyentuh langit-langit. Terlubrikasi dengan sempurna. Menyemburkan hasil sebagai tanda bahwa sang kapten telah berhasil mencapai puncak.
Namun seharusnya ia tahu bahwa hal itu tak akan tak mudah. Sekarang ini yang ada malahan Seungcheol terbangun setelah menemukan tempat persembunyian di balik selimut sana, lalu mengusap kepalanya dengan atentif.
"Good morning, naughty boy. "
And it goes straight to his groin. Fuck.
"Morning ..." Balasnya dengan bibir yang belepotan. "Gak apa kan ini?"
Si dia menggeleng. "Mau lebih."
"Yaudah... digoyangin ya pinggangnya?"
Dirinya kembali meraup kepunyaan sang kapten setelah sang empunya mengangguk. Kali ini alih-alih dia sendiri yang bergerak, ada Seungcheol yang juga mengangkat lalu menurunkan kembali bokongnya agar ujung kepala kepunyaanya dapat menyentuh kerongkongan Junhui. Terkadang pelan. Terkadang dalam dan membuatnya tersedak. Terkadang begitu cepat. Namun hasil dari semua itu tak mengecewakan karena si dia terlihat begitu puas juga menikmati.
"Ah, shit... Pacar-pacar kamu yang sebelumnya apa gak gila tiap lagi kamu blowjob gini? Hm?"
Junhui thinks it's already the praise that he seeks.
They continue with the morning sex, indeed . Birahi yang kembali meninggi, kaki yang kembali mengangkang, suara kulit yang kembali bertabrakan, dan desahan yang kembali menggema. Pemandangan laut luas di belakang mereka terasa seperti surga yang terjangkau acap kali mencapai sesi klimaks. Seakan-akan mereka sedang berada di ambang hidup dan mati, dan sengatan listrik dari sensasi ketika sperma mereka bermuncratan adalah lorong waktu yang tengah membawa keduanya ke dimensi lain.
Kegiatan mereka terpotong dengan stamina yang menurun dan perut yang bergemuruh. Seungcheol mengajaknya untuk menyambangi buffet breakfast setelah membersihkan diri dan berganti baju, yang kemudian disesali Junhui karena sang kapten tak pernah mau diam. Bahkan ketika mereka terduduk di meja pinggir pantai yang telah disiapkan khusus, tangannya diam-diam mengocok kepunyaan Junhui dari bawah meja.
“Please... please... please... ngghhh... haaa—oh God! ”
Makanan terabaikan. Ketakutan tak dipedulikan. Bahkan dirinya sendiri pun memberikan tekanan kenikmatan dengan memasukan satu jarinya ke dalam lubang untuk mengejar klimaksnya.
Mengunjungi water sport center area juga merupakan suatu hal yang sepenuhnya salah. Di atas boat karet dengan isi mereka berdua di atasnya dan lokasi yang berada di tengah laut, ada Seungcheol yang melucuti pakaian Junhui dari pinggang ke bawah.
"Nungging, ya? Hm?"
Bagaimana bisa menolak ketika si dia mengucap kalimat tersebut tepat di samping telinganya menggunakan suara berat dan segala-galanya yang kotor?
“Nurut banget sih kamu, kitten? Emang seneng ya saya suruh-suruh? Seneng kalau saya kasarin kayak begini?”
"Capt, please... Don’t tease...”
"Tapi enak kan, baby?"
"You have no idea."
Eksperimen mereka hari itu berjalan sekembalinya dari makan malam di sebuah restaurant Jepang. Junhui yang ada di villa Seungcheol alih-alih miliknya sendiri sudah seperti merupakan kewajaran, dan ada malam tanpa akhir dimana mereka memanfaatkan setiap sudut ruang untuk bercumbu.
Namun yang kali ini, dirinya punya permintaan khusus. "Hey, Cheol?"
"Iya, ganteng?"
"What do you think about doing me inside the pool? "
Mata sang pilot membelalak penuh keterkejutan. "Di dalam air gitu maksudnya?"
"Mhm."
Dan dari lounge chair empuk disinari terik matahari yang bersahabat Seungcheol memberikan jawabannya dalam sebuah kecupan lembut di pinggir bibir. "Mau saya maininin kamu di sana?"
"Mau." Jawabnya tanpa ragu. Kata-kata sang pria yang lebih tua, selalu berhasil membuatnya terangsang. "Mau, mau, mau. Fuck me there. "
Apa yang orang-orang bilang bahwa kita dapat dibutakan oleh nafsu, baru saja ia alami sendiri. Dan melompat ke dalam kolam, adalah yang selanjutnya mereka lakukan. Di sana ada Seungcheol yang menggenjot dan Junhui yang mengocok kepunyaanya sendiri. Dan terus mengejar. Dan terus mengejar. Dan terus sampai akhirnya lenguhaSukan pilu mereka bagaikan dapat membangkitkan seluruh zombie di tidur lelapnya.
“Enak...” Lihat tangisan pilu itu? Tangisan yang datang karena rasa nikmat yang tak terbendung. “Suka banget diginiin sama kamu, Seungcheol... Mau di cium, mau dimasukin, mau dipelintir putingnya, mau semua...”
Bohong kalau Junhui bilang tubuhnya tak menggigil sehabis itu. Jemarinya menjadi keriput, dan tenaga juga raganya bagaikan disedot keluar tanpa pernah bisa kembali. Namun Seungcheol cepat tanggap akan hal tersebut karena yang selanjutnya pria itu lakukan adalah menggendong tubuh basah Junhui untuk dibawanya ke dalam, ke tempat dimana dirinya bisa menjadi aman.
Menghanduki, memakaikan sang pemuda baju bersih, memastikan tubuhnya menghangat, membaringkannya di atas tempat tidur, dan membiarkan tubuhnya beristirahat dengan nyaman.
“Masih kedinginan?”
Bukannya menjawab, ia malahan membuka lebar kedua tangannya: menunggu, berharap, menyambut. “A hug would do. ”
Dan pelukan adalah apa yang selanjutnya ia dapatkan. “Lubangmu perih gak, dek? Gak berenti ini kita dari semalem.”
“Ya coba aja liat om, dari tadi kamu masih ada harus prepare aku lagi, gak? Selalu langsung masuk, kan?”
Satu alis pria yang ada di depannya menekuk dengan murung. “Panggil saya apa tadi kamu? Hm?”
“Om. Kamu kan udah tua. Jompo.”
“Kalau memang udah jompo saya gak akan bisa bikin kamu mendesah sekenceng itu, jelek.”
I know, capt. I’m just messing with you. ”Sakit sih lumayan... Paused dulu sebentar boleh, ya?”
“Gak sebentar, kitten. Kita paused sampai kamu sanggup untuk bilang play lagi. Take your time.”
“Okay ...”
“Saya boleh ngelakuin sesuatu, gak? Sebelum kamu istirahat.“
“Hm? Apa?”
Pria itu, sang pilot nan gagah yang kini hanya berpakaian celana pendek dari pinggang ke bawah lalu menuju ke dalam kamar mandi sebelum kembali keluar dengan sehelai handuk. Benda lembut putih itu terlihat sudah dibasahi, dan Junhui mengejang ketika tiba-tiba Seungcheol memposisikan dirinya untuk membasuh lubangnya dengan sebuah nyaman dan hangat dari handuk lembab itu.
Seluruh dadanya menciut takut.
“Enakan gak setelah dipijet gini?“
"Mhm..."
"Good, then. Makasih ya Junhui, karena udah mau ngeladenin saya."
"Aku juga ngerasain enak, Seungcheol. It's a mutual thing."
"Still ." Dasar dia ini. Lihat usahanya yang masih mengusap lembut dengan penuh afeksi itu.
"Cheol udah, kalau diusap terus nanti jadi mau..."
"Mau apa?"
"Dimasukin lagi."
Sang pria terkekeh pelan. Tubuhnya sedikit membungkuk, dan dikecupnya lubang itu dengan sebuah sentuhan selembut kapas. Junhui memejamkan mata sambil meremas sprei di genggamannya.
"Boleh, tapi nanti. Sekarang istirahat."
"Okay."
"Rest well, baby. I'll let you do anything to me as soon as you're up."
Pagi ini Junhui bangun dengan Seungcheol yang memberikan sebuah pesan bahwa dirinya akan berada di di gym sampai jam sepuluh nanti.
Tak ada niatannya untuk menyusul dengan nyawa yang baru saja terkumpul dan tubuh yang masih sepenuhnya melemas, jadi ia putuskan untuk menggunakan pagi itu untuk merendam tubuhnya di bathup. Namun sayang, sang kapten masih belum juga datang ketika dirinya kini sudah bersih dan lebih bersemangat.
Junhui mendudukan dirinya atas hammock halaman belakang sambil bersantai kemudian. Ia pindai galeri fotonya satu persatu, mencoba untuk mengunggah beberapa dokumentasi agar ada beberapa jejak digital di dalam media sosialnya akan liburan kali ini. Membalas beberapa chat, memberi update informasi kepada Jihoon seputar Seungcheol, dan memeriksa timeline twitternya, ia kembali bersantai dalam keheningan sesudahnya.
Tiga puluh menit kemudian didengarnya kasak kusuk dari dalam rumah yang kemungkinan besar asal datangnya dari sang kapten. Buru-buru ia menghampiri, sebelum kemudian menemukan sang pria yang tengah menggali kopernya sendiri.
"Hey?" Sapanya dengan perasaan berdebar, entah mengapa. Untungnya, senyum ramah yang sang kapten beri kembali membawa ketenangan dalam hatinya.
"Hey."
"Udah, ngegym nya?"
"Udah." Tahu apa yang kemudian beliau lakukan? Menarik Junhui mendekat untuk meninggalkan kecup di bagian kening. Di bagian kening, dari seluruh spot yang ada pada tubuhnya. "Kamu udah sarapan belum?"
"Aku makan raisin oatmeal yang kamu tinggalin di meja."
"Good." Ya Tuhan, Junhui suka lesung pipi itu. "Sebentar ya, saya mau mandi dulu. Lengket habis olahraga."
"Okay."
Berdirinya Junhui disitu membawanya kepada sebuah pemandangan unik dimana pada koper Seungcheol terdapat sepasang seragam familiar. Seragam yang menjelaskan identitas profesi sang kapten, dan seragam yang lagi-lagi menimbulkan sebuah ide di kepalanya.
"Cheol?"
"Yes, baby? "
"Kamu liburan kesini bawa seragam?"
"Hm?" Sang kapten menelaah sebelum menangkap apa yang dirinya maksud. "Oh, ini? Saya habis dari sini gak pulang soalnya, langsung ke bandara. Kerja lagi."
"I see... " Dadanya menciut tanpa sebab. "Kamu capek gak sekarang?"
"Kenapa memangnya?"
"Aku mau main sama kamu sambil kamunya pakai seragam. Lagi . Tapi yang kali ini lebih proper."
"Boleh, sayang." Lembut, nada balasannya terlalu lembut sampai-sampai Junhui melebur. "Sekarang?"
"Sekarang." Karena waktu terus berjalan. Karena aku gak mau menyia-nyiakan sedetik pun. Karena aku ingin lebih banyak menghabiskan waktu sama kamu.
"Sekarang, kalau gitu."
Dan Seungcheol mulai memakai seragamnya di atas tubuhnya yang baru kembali dari gym itu. Ia memakainya, dan membuat Junhui merasakan banyak kilas balik dalam satu waktu: tentang pertemuan pertama mereka, pandangan pertama mereka, sentuhan pertama mereka, dan seks pertama mereka.
Ada sang pria yang kemudian menangkup kedua wajahnya dengan intimasi yang membuat dadanya hampir meledak. "Junhui."
"Iya?"
"Kalau kamu punya keinginan, saya juga punya keinginan. Boleh ya, saya minta?"
"Boleh... apa?"
"Saya mau coba dimasukin sama kamu."
Permintaan itu bukan hanya membuatnya membelalak, namun juga tercekat dalam napasnya yang tiba-tiba menjadi sulit. Bukan, bukan karena ia tak menginginkannya. Hanya saja pompaan adrenaline atas permintaan tersebut bagaikan efek dosis dari cold brew extra two shots yang biasa dibelinya di Starbucks: mendebarkan.
"Saya mau kamu ada di atas. Mau gak bisa berkata-kata karena ada kamu di dalam saya. Mau ngerasain enak setiap pinggang kamu bergerak. Mau dihancurin sama kamu.”
"O—" Susah payah ditelannya saliva yang menyangkut. "—Okay. "
Seungcheol dengan seragamnya kemudian membaringkan diri di atas tempat tidur. Posisi itu akan memudahkan dirinya untuk memandang segalanya yang akan Junhui lakukan kepadanya, dan dengan begitu hatinya akan menjadi lebih tenang. Sang kapten ada disana untuk memastikan jemari Junhui terlubrikasi. Untuk memastikan Junhui menjadi yakin ketika memasukan jarinya ke dalam Seungcheol. Untuk memastikan mahakarya itu tak akan menghilang dari hadapannya. untuk memastikan Junhui tahu bahwa segala rasa yang kini tengah tergambar adalah hasil dari dirinya yang hebat.
"Yes, that's it. "
"Udah enak, ya?"
"Enak, Junhui. Kenapa segala yang kamu lakuin tuh enak, sih? Kamu pinter banget, indah banget, selalu bikin saya kagum."
Lagi-lagi Junhui melebur menjadi jutaan partikel, dan Seungcheol semakin ingin merasakan dirinya dihancurkan oleh milik sang pemuda yang kini mengacung tinggi itu.
"Yuk?" Ajak sang pria kemudian.
"Masukin sekarang?"
"Masukin sekarang." Balasnya lagi untuk meyakinkan, karena Junhui tahu bahwa Seungcheol paham segala keraguan yang ada di dalam dirinya.
"Ketat." Kepala. Itu baru beberapa inci di bagian kepala. "Ini gak bisa..."
"Bisa. Dorong terus, ya?"
"Kamunya nanti sakit gimana?"
"Sakit dulu, nanti kan enak?"
"Okay ..." Junhui mencoba untuk menekannya kembali. Semakin masuk. Semakin melebar. Semakin terbakar. "Ketat banget, Cheol. Oh my God..."
"Bisa, sayang. Lagi."
Dan pada akhirnya sang pilot tersentak ke belakang ketika pemuda di atasnya memberanikan diri mengerahkan segala kemampuannya. Mereka kembali bercumbu. Kembali meraup. Kembali menghancurkan. Kembali mengerahkan segala cara untuk mencapai titik kenikmatan.
"Junhui sayang, kitten , lebih cepet ya? Hancurin saya lebih kasar lagi."
"Aku gak bi—" Dan dirinya merengek. Mengeluh. Menangis. Meraung. "—ah! Aku gak bisa... ngghh... "
"Fuck ... lebih cepet, lebih cepet, lebih cepet..."
"Capt i'm loving this."
"Yeah? "
"Suka, suka, suka. Suka ada di dalem kamu, suka bikin kamu gila, suka tiap dipuji sama kamu... Enak..."
"Iya sayang, enak. Kamu hebat. Kamu indah. Sayangnya aku, kan? Gerak terus, ya?"
" Shhh... aaah! Cheol, Cheol. Cheol —! "
"Holy shit." Kepala mereka sama-sama berputar. "Apa, kitten? Kamu mau apa?"
"Mau—GOD—udah mau keluar!"
"Oke," Sang kapten membungkus kelima jemari pada kepunyaanya sendiri. "Iya," Dan mengocok. "Ayo." Terus mengocok.
Mereka melepaskan, Junhui jatuh di atas tubuh sang kapten, dan mereka tak berkemampuan untuk bangkit dari tempat tidur sepanjang sisa hari itu.
***
Ironis bagaimana hari terakhir Seungcheol disana baru Junhui ketahui ketika mereka tengah terbaring di atas gumuk pasir pada suatu senja berwarna oranye. Hari-hari berlalu, intimasi terus memacu, dan tetap ada batasan dimana pada akhirnya mereka harus dihadapkan pada suatu tamparan kenyataan.
Di bawah keindahan langit Maldives dan pada hari ke-14 mereka disana kala itu, keduanya mencoba untuk menuntaskan banyak hal dalam satu waktu.
"Junhui."
"Apa."
"Tuh, kok gitu..."
"Itu udah dijawab bukannya?"
"Iya, tapi pasif. Saya minta maaf kalau kesannya maksa, tapi saya butuh jawaban kamu karena saya harus pergi besok."
("Pulang dari sini nanti, kamu tetep mau ketemu saya atau engga? Tapi memilih hal itu banyak konsekuensinya, Junhui. Saya itu sibuk, saya akan jarang ada dan hadir presensinya. Tapi kalau persoalan kesetian dan tanggung jawab, saya selalu bisa jamin." )
"Aku gak tahu, Cheol. Maaf." Belum. Gak Secepet ini. Butuh lebih banyak waktu. Dirinya masih muda. Masih butuh bersenang-senang. Masih butuh seorang kekasih yang akan selalu ada dan tak terpisah jarak dan waktu.
"Yasudah." Sang kapten sedikit bangkit sebelum mengecup pipi, lalu hidung, lalu bibir, dan kemudian kening. "Saya paham."
Tapi, coba bayangkan kalau setelah semua yang terjadi akan ada pria ini tak bisa lagi kau temui?
"Cheol aku juga bakalan sibuk... Kalau kamu sibuk, aku sibuk, nothing's gonna work . Soal itu kamu ngerti, kan?"
Alih-alih memperdebatkan, sang kapten hanya memberinya sebuah senyum penuh pemakluman. Untuk pertama kalinya Junhui benci melihat lesung pipi manis itu.
"Iya, ikut jawaban kamu aja. Saya gak mau dan gak bisa maksa, Junhui. Tapi kalau ditanya pendapat, saya pasti akan bilang sesuatu yang berkebalikan dari kamu. Apa yang saya kira patut diperjuangkan, akan saya perjuangkan. Dan kamu patut diperjuangkan.”
Matahari terbenam di Maldives kala itu tak seindah hari kemarin.
Realisasi dan paniknya, muncul ketika dirinya kembali bertemu pagi. Ketika sisi tempat tidurnya telah kosong, dan setelah koper familiar yang biasa dilihatnya kini sudah tak nampak.
Dan Junhui menemukan dirinya berlari. Dan berlari. Dan masih berlari.
Menyusuri segala tempat dengan banyak jejak Seungcheol, dan menjeritkan segalanya di dalam hati ketika menyadari dirinya sendiri lah yang menutup peluang akan memori itu untuk tak bisa terulang kembali.
Namun untungnya, ragunya tak membawa keterlambatan yang akan membuatnya menyesal dalam seluruh sisa hidupnya. Karena di bawah langit biru Maldives pagi itu, si dia yang hampir pergi, si dia yang namanya ia teriakan dari kejauhan, pada akhirnya menoleh.
(“Hey! I’ll take the risk. I’m willing to take it.” )
