Actions

Work Header

Dancing in the Rain

Summary:

Tentang Hoseok dan rencananya untuk kencan yang sempurna dengan sang tetangga.
Sayangnya, Dewi Fortuna tampaknya senang untuk mengujinya, bahkan di salah satu rencana penting di hidupnya.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Apa yang lebih menyebalkan dibanding hujan deras mengguyur satu kota saat sedang kencan pertama di taman dengan pria paling tampan di dunia? Hoseok pikir tidak ada. Sayangnya, itu adalah yang sedang terjadi kepadanya.

Ya, Hoseok sedang berkencan dengan tetangga di sebelah unit apartemennya yang Hoseok berani bersumpah, tidak ada pria lebih tampan yang pernah ditemuinya dalam 28 tahun hidupnya. Setelah kode-kode terlewat kentara yang mereka bagi setelah Hoseok mulai menempati apartemennya sejak 5 bulan yang lalu, dia akhirnya memberanikan diri untuk mengajak Kim Seokjin, pria berwajah tampan yang sekaligus adalah tetangganya, berkencan. Demi Tuhan Hoseok sudah menyiapkan rencananya dengan matang: pergi ke taman dengan alasan beberapa titik di sana sangat instagram-able —Hoseok tidak sama sekali beralasan untuk dapat menyimpan satu atau dua foto Seokjin untuk dirinya, dilanjutkan dengan makan gelato , dan berakhir dengan makan malam di restoran Italia tak jauh dari kompleks apartemen mereka. Rencananya sudah sangat sempurna dan pasti berkesan untuk kencan pertama. Sayangnya, tampaknya Dewi Fortuna membencinya dan tidak membiarkan Hoseok memiliki satu pun dari rencananya yang berhasil.

Sekali lagi Hoseok menghela napas dan menatap langit yang masih gelap. Tidak mungkin rasanya hujan akan berhenti dalam beberapa menit. Baju yang hampir semuanya basah ditambah angin yang berembus kencang ke arahnya membuatnya sedikit menggigil. Di sebelahnya, Seokjin tampak sedang menengadahkan tangan menampung air yang mengucur dari atap halte tempat mereka berteduh sambil menunggu bus untuk membawa mereka kembali pulang.

“Udah lebih setengah jam, kenapa ga ada yang lewat, ya?” tanya Hoseok gusar sambil kembali memantau posisi bus terdekat dengan halte mereka. Sayangnya sejak tadi, tidak ada satu bus pun yang lewat.

“Eh, hari ini tanggal 16 bukan, Seok?” tanya Seokjin yang dijawab Hoseok dengan anggukan. Dia kemudian melirik jam di tangannya sebelum kembali menatap Hoseok yang menunggu lanjutan kalimatnya. “Kayanya hari ini sopir bus pada demo, deh. Aku baru inget kalau mulai hari ini,” ucap Seokjin menyengir lebar.

Hoseok seketika menganga. Astaga, cobaan apa lagi ini? “Serius, Kak?” tanyanya sambil membuka portal berita. Benar saja. Berita tentang tuntutan kenaikan gaji dari sopir bus kota ada di bagian teratas beserta dengan jadwal alternatif yang tersedia. Sayangnya dari tempat mereka sekarang, mereka harus berjalan kaki sekitar satu setengah jam untuk mencapai stasiun kereta terdekat dan dengan hujan yang tak kunjung berhenti seperti ini, tampaknya tidak mungkin mereka berjalan kaki ke sana.

“Iya. Tadi bus kita ke sini kayanya bus terakhir, deh,” jawab Seokjin.

Lutut Hoseok terasa lemas seketika dan dia membawa dirinya duduk di bangku halte.

“Hoseok, kenapa?” tanya Seokjin melihat kepala Hoseok tertunduk kemudian duduk di sebelahnya.

Should’ve planned this day better ,” jawab Hoseok bergumam. “Harusnya aku ngajakin Kak Seokjin ke tempat lain aja. Atau at least ngecek cuaca jadi bisa siap-siap kalau hari ini hujan. I should do better .”

To be fair , aku juga ga ngecekin cuaca. Too excited to be asked out by you, it seems .”

Hoseok memutar kepalanya cepat ke arah Seokjin dan menatap pria itu dengan tatapan tidak percaya. Bilang apa dia barusan?

“Jadi,” ucap Seokjin sambil berdiri tiba-tiba. “Kita mau nunggu di sini, atau kita pulang?”

“Masih deres gini, Kak. Stasiun juga jauh banget dari sini.”

“Hujan sedikit ga bakal bikin sakit, Seok.”

Hoseok memiringkan kepala tidak mengerti. Sementara Seokjin tiba-tiba berlari menyeberang jalan yang sepi dan berbalik menghadap Hoseok setelah dia sampai di ujung. Hujan yang amat deras membuat Seokjin otomatis kuyup dari kepala hingga kaki. Meski begitu, ujung bibirnya tertarik membentuk senyum lebar, persis seperti anak kecil yang sedang bermain di tengah hujan.

Tampan sekali .

Bukannya ikut berlari menyusul, Hoseok membeku di tempat, memerhatikan betapa indahnya senyum tetangganya itu. Ujung hidung dan pipinya merona akibat dingin, menambah kesan menggemaskan meski pria itu lebih tua dua tahun dari Hoseok. Diam-diam Hoseok memegang dadanya sendiri untuk merasakan debaran dari dalam dadanya.

“Hoseok, sini!” panggil Seokjin melambaikan tangan.

Hoseok ragu pada awalnya. Apa yang nanti akan dikatakan orang melihat dua pria dewasa berlari di tengah hujan, padahal mereka bisa saja berteduh di salah satu toko sambil menunggu hujan reda. 

Ah, biarlah. Ga bakal ada yang kenal juga.

Setelah melihat ke kanan dan kiri memastikan tidak ada kendaraan yang lewat, Hoseok segera berlari menyusul Seokjin. Tubuhnya seketika basah dari kepala sampai kaki. Tiupan angin yang semakin kencang sedikit membuatnya menggigil. Namun rasanya menyenangkan, seperti kembali kepada memori belasan tahun yang lalu saat Hoseok lupa membawa payung dan harus pulang dengan kondisi tubuh basah kuyup seperti sekarang. Ditambah melihat senyuman Seokjin yang menunggunya di sisi jalan membuatnya berlari semakin cepat.

Tepat sebelum Hoseok sampai di depannya, Seokjin kembali berlari diikuti Hoseok di belakangnya. Seperti dugaan Hoseok, semua orang yang mereka lewati menatap dengan tatapan penuh penghakiman seakan bertanya-tanya orang dewasa macam apa yang rela membiarkan diri mereka kehujanan dan bukannya mengopi saja di kafe terdekat atau setidaknya membeli payung di minimarket . Namun Hoseok tidak peduli. Mendengar suara tawa Seokjin jauh lebih penting baginya saat ini dibanding tatapan dari orang yang mungkin tak akan lagi ditemuinya besok.

Sesekali dia dan Seokjin berhenti untuk mengambil napas. Mereka berdua bahkan sengaja mengambil jalan terjauh dari komplek apartemen mereka agar dapat bermain di bawah hujan lebih lama. Satu waktu, Seokjin tiba-tiba mengajaknya untuk bertaruh siapa yang dapat lari lebih cepat. Hoseok, budak cinta yang tengah kasmaran, memilih untuk berlari lebih lambat agar dia dapat melihat punggung Seokjin berlari di depannya. Ah, begitu saja sudah membuat hati Hoseok berdetak tidak keruan. Meski kalah pada akhirnya, tawa lebar Seokjin rasanya jauh lebih baik dari segala yang ada di dunia.

Lelah berlari, mereka berdua akhirnya memutuskan untuk beristirahat sebentar meski jarak apartemen mereka hanya tinggal 500 meter dan mereka sudah dapat melihat gedung apartemen itu dari tempat mereka berdiri.

“Hoseok, kamu tahu ga kalau di film-film biasanya kalau udah hujan gini ngapain?” tanya Seokjin.

Hoseok menaikkan alis tidak mengerti. “Ngapain?”

Seokjin kemudian melangkah ke depan Hoseok. Dia sedikit membungkuk dan menaikkan tangan kanannya. “ May I have this dance?

Hoseok menahan tawa dengan menggigit bibir. Mereka akan terlihat seperti sepasang orang bodoh yang menari di tengah derasnya hujan. Walau begitu, dia tetap mengambil tangan Seokjin yang kemudian membawanya berjalan beberapa meter sebelum mendekatkan tubuh mereka dan menaruh tangannya di pinggang Hoseok. Dengan musik tidak beraturan yang digumamkan Seokjin dari mulutnya, mereka menari bak sedang di pesta dansa. Mereka terus menari dan berputar-putar sampai keduanya masuk ke gedung apartemen dan dengan cepat berlari ke arah lift . Tidak peduli concierge yang menatap mereka tajam karena sudah membasahi lobi karena tetesan air dari baju mereka.

Hoseok dan Seokjin tinggal di lantai yang sama, dengan unit kamar Seokjin berjarak dua pintu dari Hoseok. Setelah sampai di depan unit Hoseok, Seokjin ikut menghentikan langkah seolah ingin diajak masuk oleh Hoseok.

“Masuk, Kak,” tawar Hoseok paham maksud Seokjin dan membukakan pintu untuk mereka berdua.

Berbeda dengan saat mereka berlarian menuju apartemen sambil tertawa, setelah pintu unit Hoseok tertutup mereka berdua hanya diam dan saling tatap. Area foyer yang sekarang basah tak dipedulikan oleh Hoseok. Perhatiannya terpusat pada mata almond Seokjin dan juga bibir tebalnya yang sedikit menggigil.

It was fun, ” mulai Seokjin memecah keheningan.

Hoseok mengangguk setuju. Otaknya tak dapat membentuk satu kalimat untuk menjawab ucapan Seokjin karena terlalu sibuk memikirkan bagaimana rasanya jika bibir mereka bersatu. Tanpa dia sadari, Seokjin melangkah semakin mendekatinya.

I’d do it again. You?

Hoseok mengangguk. Tentu saja dia akan pergi ke sejuta kencan dengan Seokjin.

Good .” Perlahan Seokjin mendekatkan wajahnya ke Hoseok. Satu tangannya meraih dagu yang lebih muda hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa senti.

I don’t kiss on the first date, ” bisik Hoseok.

“Mhm? Too bad, then, ” balas Seokjin kemudian mengikis jarak di antara mereka dan menempelkan bibirnya ke Hoseok. Hoseok segera membalas ciuman itu dengan kedua tangannya memeluk tengkuk Seokjin agar dia tidak ke mana-mana. Hoseok tersenyum di antara pagutan. Kim Seokjin, pria yang ditaksirnya sejak awal berjumpa, saat ini sedang menciumnya di apartemennya sendiri.

Mungkin Dewi Fortuna tidak terlalu membencinya.

***

“Kamu, sih, ngajakin aku nge- date pas hujan,” dengus Seokjin sebal. Hidungnya yang mampet membuat suaranya terdengar lucu. Mereka berdua pilek dan demam akibat menerjang hujan dua hari sebelumnya. Karena sama-sama sakit, Seokjin memutuskan untuk menginap di apartemen Hoseok sampai merasa lebih baik. Alasannya agar mereka berdua dapat saling merawat dan mengingatkan untuk minum obat.

Di sebelahnya, Hoseok mencebik dan menyenggol lengannya pelan. “Kamu yang ngajakin aku lari-larian padahal hujan deres,” ucapnya cemberut.

Seokjin tersenyum. Dia kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Hoseok sambil merapatkan selimut ke tubuhnya. “ Worth it, though .”

Hoseok ikut tersenyum sambil menyandarkan kepala di atas kepala Seokjin dan memejamkan mata.

 

Worth it, indeed.

Notes:

Happy belated birthday, Kak Ay!
Huhu maafkan it takes sooooooo long and I just had time to finish it 🥺
It was short but I hope you enjoyed! ❤️
May all of your wishes come true and 2seok keeps sailing yay!!