Chapter Text
"Moricchi!!!!" Seru Kaoru sambil mendobrak pintu. Di tangannya, dia membawa kantong plastik yang entah apa isinya. "Lihat gue dapet apaan!"
Moricchi langsung meninggalkan cuci piringnya, "Apaan? UOOGHHHH!!!! LU DAPET DI MANA???"
"Hehe, di toko sebelah tempat gue photoshoot tadi. Gue lewat bentar, eh ada ginian. Akhirnya gue beli buat lu" kata Kaoru.
"Ini figur limited edition, lu yakin mau kasih ke gue?" tanya Chiaki.
"Iyaa, percaya dah sama gue."
Wajah Chiaki seketika berseri, "Makasi Hakaze!!"
Kaoru membalas pelukan Chiaki, lalu melihat sekitarnya. "Senacchi mana?"
"Oh..." Raut Chiaki kembali serius ketika mendengar nama Izumi disebut, "Dia di kamar. Katanya lagi gak enak badan."
"Gak enak badan gimana? Morning sickness?"
"Kayaknya... Dia sempet muntah tadi, makanya sekarang gue mau masakin bubur aja" jawabnya.
Alisnya mengernyit, "Sampe gitu... Gue jadi khawatir." Kaoru mengabaikan Chiaki dan pergi ke kamar Izumi. Pikirannya campur aduk. Salahkan insting alphanya yang tiba-tiba bekerja.
Kaoru masuk tanpa mengetuk, berdiri sejenak untuk membiasakan matanya dengan gelapnya ruangan. Dia perlahan duduk di tepi kasur sambil mengelus rambut kelabu pasangannya. Merasa senang ketika Izumi tidak menolaknya, Kaoru mengeluarkan feromon menenangkan.
"Masih gak enak?" bisiknya.
Izumi berbalik menghadap Kaoru. Bibirnya pucat, matanya terlihat lelah, membuat hati Kaoru terasa sakit. Izumi hanya menjawab 'Mm..' yang tidak begitu membantu.
"Moricchi lagi bikin bubur, habis ini makan ya, sayang?" Izumi tidak menjawab, tapi berusaha untuk merayah ke leher Kaoru. Kaoru membantunya duduk lalu sedikit memiringkan kepalanya agar Izumi mendapat lebih banyak akses.
"Rasanya kayak ada dua Kao-kun sama satu Morisawa ngacak-ngacak perut gue" gumam Izumi.
"Kenapa gue ada dua? Eh, tapi gak heran sih kalo Moricchi cuma satu. Dia kalo semangat, gak ada tandingannya" balas Kaoru.
"Berarti lu lemah sampe butuh dua buat nyaingin Morisawa."
"Padahal gue yang alpha dominan" Kaoru mengeluarkan jurus tangisan palsunya. Sayangnya tidak mempan pada omega mereka (yang paling mereka sayang hingga rela melakukan apapun demi membuat Izumi bahagia), Izumi hanya memutar bola matanya.
Usai air mata buaya Kaoru mereda, Izumi tertawa kecil. "Tapi, coba lihat dari sisi lain."
"Hm?" Kaoru berusaha berpikir lebih dalam, "Gue ada dua, berarti kembar gitu?"
Izumi tersenyum seakan Kaoru berhasil menyelesaikan teka-teki. Mata Kaoru perlahan melebar; meragukan kesimpulan yang ada di kepalanya. "Lu serius?" ucap Kaoru sambil meletakkan tangannya di atas perut Izumi.
"Kalo lu pingin banget mungkin bakal beneran" senyum Izumi masih belum hilang dari wajahnya. "Jangan ngomong ke Morisawa, nanti dia iri."
Kaoru menatap mata Izumi yang penuh keyakinan. Dia tidak bisa menahan air mata yang mulai membendung. Kaoru lemah dengan hal seperti ini.
Chiaki masuk ke kamar Izumi sambil membawa semangkuk bubur yang masih hangat. Dia mencoba menyalakan lampu dan disuguhi dengan Kaoru yang meringkuk di samping Izumi.
"Bukannya yang sakit Sena, ya? Ini malah Hakaze yang dipat-pat, gak kebalik?" tanya Chiaki kebingungan.
"Dia lagi kumat, biarin aja. Buruan sini, gue mau nyium feromon lu juga, ada yang kangen soalnya" pinta Izumi.
Chiaki meletakkan mangkuk itu di atas meja tidur, lalu memenuhi permintaan Izumi. Dia membiarkan Izumi menempelkan hidungnya ke lehernya, mengendus tengkuknya dan membuat bulu kuduknya berdiri. Chiaki mengelus perlahan punggung Izumi, membuatnya rileks dalam pelukannya.
Setelah Izumi merasa puas, Chiaki menunduk hingga setara dengan perut Izumi. "Sering-sering gini dong, jangan malah bikin papa mual terus," ucap Chiaki seperti bicara pada anak kecil, "kalo gitu kan kita makin sayang sama adek."
Izumi merasa lebih banyak tersenyum hari ini. Izumi membelai perut datarnya, "Dengerin tuh, jangan masuk telinga kanan keluar telinga kiri."
"Haha, jangan kasar gitu, awas gedenya gak suka sama papanya sendiri," Chiaki mengambil mangkuk yang dia abaikan tadi, "ayo makan dulu mumpung adek belom berulah lagi."
"Moricchi suapiiinnnn" Kaoru merengek.
"Ambil sendiri, ini punya gue" Izumi menerima suapan dari Chiaki, dia tidak menyangka jika bubur biasa akan terasa lezat dilidahnya. "Lu makan dulu sana, baru balik kan?"
"Gak mau. Maunya nemenin ayang di sini."
"Lu pergi makan sana atau tidur di sofa seminggu?" Izumi mengancamnya, tapi tangannya mengusap rambut pirang itu.
"Yaudah..." sebelum pergi, Kaoru mengecup pipi Izumi dan bibir Chiaki.
"Gak adil" gerutu Izumi.
Chiaki mengecup bibir omega itu, "Gini lu juga dapet ciumannya Hakaze."
Wajahnya memerah. Izumi ingin mengatakan jika tidak begitu konsepnya, tapi tertahan. "Suapin aja gue daripada lu sok manis gitu."
"Maaf, gue emang manis."
Tidak lama, Kaoru kembali dengan sepasang roti panggang di tangannya. Hal itu tidak terlewat oleh celotehan Izumi. Seperti biasa, Kaoru mengabaikan Izumi dengan kecupan di ubun-ubun usai Izumi memarahinya.
Hidup bersama bertiga, tidaklah buruk.
