Chapter Text
Musik dansa mengalun dengan sayup, menembus sudut terpencil dari istana— sebuah paviliun di ujung barat. Tempat yang tepat bagi seorang pelayan seperti Isagi Yoichi untuk mengistirahatkan diri, usai mempersiapkan pesta dansa di hari ulang tahun sang Putra Mahkota dari Kerajaan Cilicia, Mikage Reo.
Manik sang pelayan menerawang istana yang berdiri dengan megah melalui paviliun. Di sanalah para bangsawan berkumpul dalam balutan pakaian mewah. Berdansa, saling membanggakan diri di tengah pergaulan kelas atas. Jelas, bukanlah lingkungan yang sesuai bagi seorang pelayan seperti Yoichi.
“Yoichi?”
Sang pelayan tak mampu menahan keterkejutannya. Ia pun segera mengalihkan pandangan menuju sumber suara, mendapati sosok sang Putra Mahkota — Mikage Reo, tengah berdiri di sisinya.
“Apa yang membawa anda kemari, Yang Mulia?” Samar, Yoichi dapat mendengar musik yang masih setia mengalun dari istana. “Bukankah seharusnya anda masih berada di istana?”
Reo bergerak mendekat, memberikan belaian pada pipi sang pelayan. Bibirnya mengulas senyuman yang begitu lembut. “Aku kemari untuk menemuimu, Isagi.”
“Anda harus segera kembali, Yang Mulia,” ujar Yoichi dengan tegas. “Mereka pasti sedang mencari anda sekarang.”
“Mereka?”
“Yang Mulia Raja, Yang Mulia Ratu,” Yoichi berhenti sejenak, sembari memalingkan wajahnya. “Dan para gadis.”
Reo terkekeh pelan. Nampaknya, seseorang tengah cemburu. Begitu manis, pikirnya.
“Yang Mulia Raja dan Yang Mulia Ratu telah mengundang para gadis bangsawan dari seluruh penjuru negeri. Seharusnya anda menemui mereka, Yang Mulia. Barangkali, anda dapat berdansa dengan beberapa gadis.”
“Tidak ada Isagi Yoichi di antara para gadis itu. Tidak ada alasan untukku menemui mereka.”
“Anda begitu keras kepala, Yang Mulia.”
Seakan tak mengindahkan ucapan Yoichi, sang Putra Mahkota justru mengulurkan tangannya. Menatap sang pelayan begitu dalam, tanpa mengusir senyum di wajahnya.
“Ingin berdansa?”
Meski ragu, Yoichi menerima uluran tangan tersebut. Mempersilakan Reo merengkuh tubuhnya, membawanya berdansa mengitari paviliun, mengikuti irama samar yang dihantarkan oleh alunan musik di istana. Beberapa kali Yoichi menginjak kaki sang Putra Mahkota. Tak heran, dansa bukanlah aktivitas yang biasa dilakukan seorang pelayan sepertinya. Namun sang Putra Mahkota nampak tak keberatan dengan injakan kaki sang pelayan. Matanya menatap Yoichi begitu lekat, mengagumi lelaki manis di hadapannya.
“Kau begitu indah, Yoichi.” ucapan tersebut sukses menghadirkan rona merah pada pipi Yoichi. “Jauh lebih indah dari seluruh bangsawan di negeri ini.”
Isagi tersenyum mendengarnya. “Anda terlalu berlebihan, Yang Mulia.”
Reo merapatkan tubuhnya, membawa wajahnya mendekati Yoichi. Menghadiahkan sebuah kecupan pada bibir indah sang pelayan.
“Kau begitu indah, Yoichi. Jika dengan menjadi keras kepala dapat membawamu menjadi permaisuriku, barangkali aku akan menjadi raja paling keras kepala suatu hari nanti.”
Mendengar hal tersebut, Yoichi pun tak mampu menahan tawanya. “Tentu anda akan menjadi raja paling menyebalkan yang pernah saya temui, Yang Mulia.”
Kembali, keduanya bersatu, saling memberikan kecupan hangat satu sama lain. Pada paviliun di ujung barat, dunia telah menjadi milik kedua dua insan tersebut.
