Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-03-23
Words:
2,521
Chapters:
1/1
Comments:
3
Kudos:
12
Hits:
72

sementara

Summary:

Jongin pernah berjanji dengan semesta untuk selalu bersama dengan Kyungsoo kala ia berkelana mengelilingi dunia. Namun, untuk sementara, taman kota di komplek perumahan kekasihnya pun tidak apa-apa.

Untuk sementara, ini sudah cukup, sudah sempurna.

Notes:

i remember this was supposed to be a chaptered fic. but that was my 2022 me talking so once again, you know what, hell yeah.

was inspired by mesra-mesraannya kecil-kecilan dulu - sal priadi.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

“Buk, nasi goreng seafood semaput bungkus 1 ya!”

Tawa renyah dan sorak sorai sekumpulan mahasiswa yang duduk tidak jauh darinya menyapa kedua telinga Jongin kala ia meletakkan tas di atas meja. Ia mengernyit, alis berkerut dan memicing tidak suka ke arah kerumunan mahasiswa yang sepertinya lebih muda darinya. Jongin tidak pernah begitu suka dengan keramaian. 

Tampaknya Jongin terburu-buru, kedua tangannya terlihat masih sibuk merogoh tas, memasukkan laptop dan secarik kertas yang sudah terlipat tak karuan ke dalam salah satu kantong di tasnya.

“Tumben enggak makan di sini, Mas?” tanya salah satu penjual di kantin tersebut yang sudah familiar dengan Jongin—karena ia memang sering makan siang di sini. Wanita yang walau sekiranya sudah berumur setengah abad itu dengan cekatan menuang segala macam bumbu dapur ke dalam penggorengan. Ibuk , Jongin dan warga kampus lainnya akrab memanggilnya dengan panggilan itu.

Dengan tangan yang masih terselip di saku celana dan kemeja—Jongin yang teledor berusaha mengingat di mana ia menyimpan kunci motornya—ia tersenyum kecil. Lengkungan di bibir yang seketika menghapus kerutan di dahinya, seolah beberapa menit yang lalu ia tidak baru saja berlari turun tangga dari lantai 3 kampus seusai kelas berjam-jam di studio. Seolah semuanya baik-baik saja .

Senyum hangat yang terbit tiap kali dan hanya ketika satu sosok hinggap di pikirannya, mengusik benaknya. Seperti ini, dengan bayang-bayang cintanya mengisi kepala ini, Jongin tidak terlihat seperti mahasiswa yang dihantui tugas dan deadline -nya. Jongin tampak seperti bocah SMA yang dimabuk cinta, seperti sosok Jongin bertahun-tahun yang lalu—mengingatkan dirinya pada hari di mana hatinya dicuri oleh ketua PMR galak dengan senyuman yang tak kalah memabukan .

Lucu sekali kalau dipikir kembali, nyatanya Jongin memang masih layaknya dimabuk cinta. Lima tahun yang lalu atau yang akan datang, kekasih hatinya itu tetap akan selalu membuatnya mandam. Hilang akal tak terbayang. Memanipulasi isi kepalanya hingga Jongin hampir percaya bahwa yang ada di dunia ini hanya mereka berdua.

“Mau nge- date dia, Buk!” 

Tenggelam dalam isi kepalanya sendiri, Jongin tidak sadar bahwa ia kini tidak lagi sendiri. Jongin menoleh ke kanan dan mendapati salah satu teman seprodinya, Sehun, yang tersenyum lebar— memejengkan rentetan giginya yang membuat Jongin mendengus.

Walah , baru tau Ibuk si Mas Jongin punya pacar toh . Tak kira kamu gak punya, Mas. Habis kalo ke sini sama konco-konconya mulu!”

Jawaban si Ibuk membuat Sehun tergelak, sedangkan Jongin hanya bisa menggelengkan kepalanya malu. Kalau dipikir-pikir, Jongin memang hanya ke sini bersama Sehun, teman seprodi atau satu organisasinya saja—itu juga kalau Jongin diajak. Jika tidak ada ajakan, Jongin lebih memilih untuk makan di sekitar kosannya. Kalau bersama Sehun pun, terkadang ditemani oleh kekasih dari temannya itu, Junmyeon namanya, mahasiswa hukum yang lebih tua dari mereka berdua.

Si Kim menggaruk tengkuknya yang tidak gatal tersebut, tiba-tiba malu ketika pusat perhatian tersorot padanya. “Ah iya, Buk. Entar kapan-kapan saya bawa deh pacar saya ke sini. Ntar kita makan geprek matah Ibuk yang enak parah!”

Sehun melirik ke arahnya. Jongin bisa merasakan tatapan temannya tersebut. Dapat merasakan seutas pertanyaan yang menggantung di udara, terbang dan menancap punggungnya. Sudah hampir 3 tahun Sehun mengenal Jongin, kali pertama saat ospek dahulu ketika mereka ditempatkan di satu kelompok. Nyatanya sampai sekarang Sehun masih belum pernah bertemu dengan kekasih Jongin itu. Tidak pernah secara langsung.

Potret-potret manis yang dapat ditemukan di laman Instagram pribadi Jongin nyatanya tidak cukup untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan banyak orang. Siluet, potret genggaman tangan, wajah misterius di balik pemilik beanie hitam—hanya membuat orang-orang semakin penasaran. 

Kim Jongin, at the end of the day, is still an enigma. Pemuda yang aktif mengikuti organisasi, digemari perempuan maupun lelaki karena paras dan kepribadiannya. Tak heran jika banyak orang bertanya-tanya, siapa pemilik hatinya.

Jongin harap Sehun dapat mengerti. Sejujurnya Jongin memang tidak begitu dekat dengannya—tidak begitu dekat dengan siapa-siapa. Ia lebih memilih untuk menghabiskan waktunya di luar kampus, jika tidak memiliki jadwal rapat organisasi, tugas kelompok, atau kepentingan lainnya—jika memungkinkan. Because Jongin will always choose him over anything.

Dan Jongin sendiri tidak punya pilihan lain, karena itu adalah keinginan dari kekasihnya sendiri—tak ingin bertemu tatap muka dengan teman-teman Jongin. Jika Jongin diperbolehkan menunjukkannya ke dunia, ke semua temannya, kerabat dan keluarganya, sudah pasti ia lakukan itu. 

Jadi kali ini, Jongin hanya bisa tersenyum tipis, melihat si Ibuk yang mesem lebar dan mengacungkan jari telunjuk ke arahnya. “Beneran ya, Mas. Ibuk tunggu loh. Nanti Ibuk siapin geprek matah paling maknyos .”

“Iyaaa, beneran Buk.”

Tangan Ibuk mengulur memberikan sebungkus plastik nasi goreng, Jongin kemudian merogoh saku celananya. Selembar uang dua puluh ribu ia letakkan di atas papan. “Makasih banyak ya, Buk. Doain pacar saya sehat terus biar bisa main ke sini.”

“Iya dong, Ibuk doain semoga Mas Jongin sendiri juga sehat terus yaaa.”

Dengan tas yang sudah dijinjing, Jongin melangkah mendekati temannya yang masih sibuk berkutat dengan ponsel di genggamannya. “Cuy, belom pesen lo?”

Merasa bahunya ditepuk pelan, Sehun mendongak. “Nungguin si Kakak,” jawabnya sambil mengayunkan ponselnya, dengan layar yang menunjukkan bahwa temannya tersebut sedang menelepon seseorang. Junmyeon , pastinya.

“Okeee. Betewe , tolong banget ya call WA gue kalo ada tugas dadakan dan urgent . Mau nginep nih gue, palingan HP juga jarang dibuka.”

“Iya iyaa, Moonkyu juga pasti bakalan neror WA lo kok.”

Jongin terkekeh, mengangguk setuju. “Sip, kalo gitu gue balik duluan ya?” Kembali ditepuk bahu Sehun sebelum akhirnya Jongin memutar tumit dan melangkah pergi menuju pintu keluar kantin.

“Eh iya Jongin! Toko bunga langganan lo katanya mau tutup cepet abis beberapa jam abis jumatan, kata gue lo gercep dah,” seru Sehun sebelum Jongin melangkah lebih jauh dari kantin.

Jongin memalingkan kepalanya sesaat, mengacungkan jempolnya. “ Thanks, Hun!” 

Siang hari itu begitu terik. Walau begitu, kantin FIKOM tetap padat dikunjungi oleh mahasiswa dari berbagai jurusan. Langkah Jongin menuju tempat parkiran beberapa kali terhentikan karena banyaknya orang yang berdatangan. Hampir semuanya memegang selembaran kertas di tangan mereka.

Pantulan cahaya dari spion motor hitam miliknya membuat Jongin dengan tak sadar mengangkat tangan, mencoba melindungi kedua matanya dari terik matahari. Ia meringis pelan ketika telapak tangannya berhadapan dengan jok. Secarik kertas terpampang di atasnya. 

Art Exhibition Halloween-Themed Special in Bandung! Jongin membaca judul poster tersebut di dalam hati.

Ini mah poster yang tadi .

Jongin menengok ke kanan kiri, tidak ia dapati tempat sampah di sekitarnya. Alarm ponselnya malah tiba-tiba berbunyi, waktu menunjukkan pukul 1 tepat. Melupakan niat awalnya untuk membuang poster tersebut, Jongin dengan tergesa-gesa menggulung dan melipat lalu menyimpannya di saku saku kemeja. 

Untuk saat ini, yang ada di prioritas Jongin adalah dirinya sampai di toko bunga dekat gerbang kampusnya sebelum toko itu tutup. Sudah menjadi kebiasaan Jongin untuk membeli sebuket bunga sebelum bertemu dengan kekasihnya.

Walau sejujurnya, pacarnya itu tidak begitu suka dengan some cliche romantic grand gesture shits. Alay, menurutnya.

Menurut Jongin, tidak masalah buket bunga itu ia beli. Anggap saja seperti pemanis untuk mesra-mesraan kecil-kecilan mereka.

Dengan helm terpasang di kepalanya, Jongin menancap gas dan motor hitam besar itu melesat meninggalkan parkiran kantin.

Panasnya siang itu mengingatkan Jongin dengan bunga matahari— and his personal sun , Kyungsoo.



Waktu menunjukkan sekitar pukul 1 lewat 30 menit ketika mobil hitam milik Jongin berdenyit nyaring, ketika ibu jarinya memencet sebuah tombol pada kunci mobil yang dipegangnya. Pandangan pria itu berpendar, memindai sudut taman dan tanahnya yang terlihat masih basah. Bibirnya secara tidak sadar tertarik membentuk senyuman. Didapatinya sebuah pot penyiram bunga di atas dipan dekat gerbang.

Jongin kenal betul siapa kira-kira dalang dari pemandangan di hadapannya ini.

Mendung langit siang itu ketika ia sampai di rumah Kyungsoo. Sangat kontras jika dibandingkan cuaca setengah jam yang lalu. Terdengar derit lantai bersinggungan dengan pintu kayu, lima langkah dari sisi kiri Jongin. 

“Jongin kok kamu enggak bilang sama Bunda waktu mau nyampe rumah sih?” Raut muka Bunda terlihat kesal ketika Jongin menatapnya, walau ia tahu wanita itu tidak benar-benar kesal dengannya.

“Tadi Jongin nelfon Kyungsoo kok, cuma gak diangkat berarti tidur ‘kan?”

“Ya iya, si Adek lagi molor itu di kamar. Abis ngebon dia. Harusnya kamu telfon Bunda lah!” lanjut ibu dari kekasihnya itu, tangannya melambai menyuruh Jongin untuk masuk ke dalam rumah. “Itu apa tuh? Kamu beli makan di kampus, ya?”

Setelah meletakkan sepatunya di rak—kebiasaan Jongin yang muncul tentu karena certain someone yang begitu sering mengingatkannya betapa menyebalkan melihat sepatu berserakan—Jongin mengangkat bungkus plastik nasi goreng yang ia tenteng. “Iya, Bun. Kapan hari Kyungsoo pernah bilang mau makan nasi goreng seafood pedes katanya.”

Yang tentunya tidak akan Kyungsoo makan nanti. Tidak bisa. Tidak boleh.

Bunda pasti paham hal itu, karena wanita itu tidak memberi respons apa-apa. Beliau malah mendorong Jongin ke arah tangga, tidak mengindahkan buket bunga matahari yang ada di genggaman Jongin lainnya. 

It is indeed a normal sight for her to see.

“Bangunin Kyungsoo buat makan gih, udah mandi dia tuh tadi selesai ngebon . Nungguin kamu pulang kuliah, malah ketiduran dia.”

“Bawa makan siangnya sekalian aja ya, Bun?”

Bunda melirik kedua tangannya yang masing-masing mencengkam sesuatu. Salah satu alisnya naik, sepertinya Bunda baru menyadari kehadiran buket bunga matahari di tangan kirinya. Tatapannya melembut, hitam kedua pupilnya membesar—tatapan yang sering kali Jongin dapati dari wanita yang lebih tua itu.

Bunda sangat amat bersyukur Kyungsoo punya kamu, Jongin. Kalimat yang sering kali dilontarkan kepada Jongin, di saat-saat tertentu seperti ini. Yang biasa Jongin lakukan adalah memijit pundak Bunda pelan dan balik menjawab dengan sepenuh hatinya,

Jongin yang harusnya bersyukur, Bun .

Tawa lembut kemudian terdengar dari Bunda yang mencoba menutupi matanya yang berkaca-kaca, mengusap bawah matanya perlahan. “Udah naik aja. Ntar Bibi yang bawa ke atas. Kamu masuk kamar Adek aja dulu.”

Gelap, itu hal pertama yang Jongin dapati ketika kenop terputar dan pintu terbuka. Walau pendar cahaya samar-samar merayap masuk melalui jendela, kamar Kyungsoo yang bernuansa biru tua dan hitam tetap gelita di mata Jongin. Lampu di atas meja kecil di samping kepala tempat tidur Kyungsoo juga dibiarkan tak menyala.

Kyungsoo pasti ketiduran.

Ia melangkah mendekati tempat tidur, di mana Kyungsoo berbaring dengan kedua tangan bersedekap. Kerutan muncul di dahinya, hidung bangir manisnya mengerut dan kedua matanya mengerjap.

Good morning, sunshine. ” 

Kecupan di dahi, pucuk hidung dan lekukan bibir atas adalah hal pertama yang Kyungsoo rasakan sesaat setelah ia membuka matanya. Mulutnya spontan melengkung ke atas. 

“Apa sih, kok tiba-tiba muncul gini kayak jin tomang.”

Raut tersinggung di wajah Jongin membuat Kyungsoo terkikik. Masih dengan senyum lebar terpatri, Kyungsoo mengusuk matanya agar rasa kantuk yang masih tersisa dalam dirinya dapat seketika hilang.

“Idih, sotoy banget emang ada jin tomang yang ganteng kayak gini?” protes Jongin tidak terima, mengerucutkan bibirnya sok imut . “Lagian emangnya kamu pernah liat jin tomang?” 

“Lah ini di depan aku,” goda Kyungsoo, tidak dapat menyangkal bahwa Jongin yang manyun di hadapannya ini hanya membuatnya semakin terhibur.

Pacarnya itu malah mendengus, memajukan tubuhnya dengan bertopang kedua siku di sisi kanan kirinya hingga jarak yang tersisa di antara bibir mereka hanyalah satu tarikan napas. 

I brought you sunflowers, ” bisik Jongin. 

Pucuk bibir keduanya tak sengaja bertemu ketika Jongin melafalkan kata demi kata. Kyungsoo kembali memejamkan matanya, merasakan embusan napas Jongin menyapu lembut kulit wajahnya.

Kyungsoo being Kyungsoo , yang tak puas menggoda kekasihnya, malah menceletuk, “Alay banget.”

Jongin mendengar itu, sudah hafal dengan kelakuan kekasih kecilnya ini. Namun, tampaknya Jongin juga sudah biasa tidak peduli. Karena ia malah memajukan tubuhnya lebih dekat, menghirup harum Kyungsoo dalam-dalam sebelumnya akhirnya mempertemukan kedua bibir mereka, menyesap, menggigit dan menarik bibir bawah tebal kekasihnya itu.

“Kangen.” 

Kyungsoo kembali tergelak, suara merdu yang Jongin rasa tidak akan pernah bosan didengarnya. “Idiiiih, lebay banget sih pacar gue ini? Padahal sebelum aku kemo minggu lalu udah ketemu loh.”

Ciuman di bibirnya itu kemudian perlahan pindah ke pucuk kepala Kyungsoo yang dibaluti beanie abu-abu, menutupi kepalanya yang tak didapati sehelai rambut. Jejak jemari Jongin lambat-lambat menjalar ke bawah, menerka telapak tangan Kyungsoo lalu mengaitkan jari mereka berdua. Jongin perlahan berbisik, “Maaf ya.”

Sesungguhnya Kyungsoo sudah muak tiap kali Jongin mengeluarkan kata maaf seperti ini. Setiap kali keadaan seperti ini terjadi, ketika Jongin sibuk dengan dunia perkuliahannya dan Kyungsoo yang harus berdiam diri di rumah untuk pemulihan. Karena itu Kyungsoo tertegun diam, membiarkan kekasihnya itu meracau sesuka hati.

“Maaf aku kemarin bener-bener sibuk banget. Maaf aku cuma sempet ngunjungin kamu beberapa hari doang, cuma sebentar dan itu pun kamu lagi bobo. Maaf ya, sayang? I will make it up for you .” 

Like you always do, Kyungsoo ingin menambahkan.

Kyungsoo sudah kerap kali berada di situasi seperti ini. Ia hanya bisa mengangguk, tidak membiarkan dirinya tertegun terlalu lama, tidak membiarkan dirinya tenggelam terlalu dalam. 

Because he hates this feeling of being utterly helpless, powerless, defenseless. 

Of being weak .

Kadang kali kala dingin malam menusuk terlalu dalam, air hujan turun terlalu deras —Kyungsoo membiarkan dirinya tenggelam dalam pikirannya lebih lama, lebih jauh hanyut. Pertanyaan-pertanyaan yang diawali dengan sepasang kata yang tak begitu sering Kyungsoo lafalkan, terlalu takut jika malah membawa petaka. Kyungsoo tidak berani, bahkan hanya untuk sekadar mengharapkannya.

Bagaimana jika?

Bagaimana jika dirinya tidak dikutuk oleh semesta? 

Jika dirinya tidak perlu mengunjungi rumah sakit dua minggu sekali. Tidak perlu membatasi pilihan makanannya. Tidak perlu mengonsumsi berbagai macam obat setiap harinya. Tidak perlu pusing menutup kepalanya dengan topi karena rambutnya masih terlihat sempurna—masih seperti sediakala.

Bagaimana jika dirinya dapat melanjutkan kuliahnya?

Jika dirinya diperbolehkan pergi ke kampus bersama Jongin, tidak perlu menutup diri dari teman-teman kuliah kekasihnya itu. Diperbolehkan pergi mengunjungi pameran Jongin sampai tutup. Diperbolehkan mencium bibir pujaan hatinya di depan banyak orang, tanpa perlu pusing memikirkan respons orang-orang lain. Karena Kyungsoo yang sempurna adalah yang sediakala. Hidupnya yang sempurna adalah hidupnya sediakala.

Dan Jongin, Jongin cintanya yang amat begitu sempurna. Kyungsoo hanya ingin kekasihnya itu mendapatkan yang sepadan.

Dan Kyungsoo—Kyungsoo tidak sepadan. Tidak seperti ini .

Bagaimana jika?

Sepasang kata yang hanya Kyungsoo bisikan kepada angin malam, satu rahasia antara dirinya dengan Tuhan, rapalan doa dan pinta beratasnamakan angan-angan. Karena pada akhirnya, tidak ada balasan sesuai yang ia harapkan. Tidak akan pernah ada.

Bibir Kyungsoo bergetar tak disadari, jarinya meremas jemari Jongin lebih kuat dengan mata terpejam. Ia tarik napas dalam-dalam lalu diembuskannya perlahan. Ketika ia membuka matanya, kembali ia dapati dua manik mata indah favoritnya menatap dirinya lamat-lamat. “Mikirin apa sih, Cantik?”

Suara tawa yang keluar dari mulutnya terdengar tercekat, seolah separuh dirinya masih menahan napas, masih ingin teriak penuh frustrasi dan menangis. Namun yang Kyungsoo ucapkan adalah, “Bukan apa-apa.”

Jongin tahu Kyungsoo tidak sepenuhnya jujur dengan dirinya, tetapi ia tidak mendorong kekasihnya untuk mengatakan hal yang sesungguhnya. Ia menghela napas, kembali mengecup bibir merah ranum milik Kyungsoo, kali ini begitu lama. Seperti ingin melukis permanen rasa dan lekuknya di ingatannya.

“Kata Bunda kamu udah mandi, masa iya?”

“Ih, apa itu maksudnya ngomong gitu?”

“Ga kenapa-napa, orang cuma nanya doang emang gak boleh?”

“Gak-gak terima. Ngeselin banget? Kamu juga bau kandang ayam, ew , jauh-jauh sana!”

Dan Kyungsoo? Kyungsoo balas kecupan itu dengan sama gairahnya, sama inginnya. Ia mengulum bibir bawah Jongin di antara rentetan giginya, menerka langit-langit mulut kekasihnya dengan ujung lidahnya—mencoba menyimpan perasaan ini, momen ini, di benaknya.

Karena saat ini, pada momen ini, tidak ada dingin malam yang menusuk ataupun rintik hujan yang menenggelamkan. Yang ada adalah Kyungsoo dan Jongin, sebuket bunga matahari yang tergeletak di atas meja lampu di samping bantalnya, sebungkus nasi goreng seafood semaput , dan gerimis hujan sebagai pelantun melodi mengisi ruang udara dan sepi. 

Untuk sementara, tidak ada sediakala. Untuk sementara, Kyungsoo bisa memanipulasi pikirannya bahwa ini semua sempurna. Kyungsoo dan Jongin, bersama, adalah sempurna.

Notes:

ive always liked how this turned out.