Actions

Work Header

Di temenin si cantik waktu demam.

Summary:

Wangi dari kakak cantik setelah mandi memang menggoda, tapi siapa sangka yang di bawah lebih menggoda.

Notes:

Reminder it's fanfiction, Enjoy reading!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

 

 

 

 


 

 

 

Ujian akhir semester di fakultas Leehan telah berakhir, begitu pula dengan Sungho. Keduanya sepakat, setelah ujian rampung mereka akan keluar berjalan-jalan untuk menyegarkan diri dan isi pikiran, setelah menderita hebatnya dengan ujian. Namun, malang sekali nasib Leehan, karena dia malah jatuh sakit tepat di hari terakhir ujian. Karena tanggung hanya tersisa 1 hari terakhir, Leehan tetap memaksa untuk mengikuti ujian. Meskipun Sungho sudah menasehati nya untuk mengikuti ujian susulan saja di minggu depan, Leehan tetap saja bandel dan tidak mendengarkan nya.

 

Untung saja, ujian berjalan lancar untuk Leehan maupun Sungho. Sungho yang hitungannya adalah kating Leehan, langsung menyusul ke ruangan ujian Leehan untuk menjemputnya pulang. Mereka yang awalnya berencana untuk melepaskan penat dengan wancana jalan-jalan mengelilingi kota, berubah rencana menjadi menginap di kosan milik gadis yang lebih muda saja. Sungho tidak masalah, asal Leehan akan tetap baik-baik saja.

 

Kepala Leehan benar-benar pening, sesampainya di kosan, dia langsung ambruk di kasur tanpa melepaskan kaos kaki, jaket, maupun topi kupluk yang biasa ia kenakan. Kosan yang awalnya terasa luas, dengan ukuran 5x4 tersebut, rasanya menjadi sempit karena Sungho mulai sering berkunjung dan menginap disini. Namun uniknya tetap terlihat rapi karena Sungho juga yang selalu membereskan kamar berantakan milik Leehan. Maklum, wanita memang selalu rajin. Sungho membiarkan Leehan bermalas-malasan, dan mandi terlebih dahulu, mendahului sang pemilik kosan yang sudah tertidur dengan lelap diatas kasur.

 

Yang lebih tua pun tidak mengambil waktu terlalu lama, setelah 7 menit, dia sudah selesai membasuh diri. Di saat pintu di buka, di saat itu juga sabun berwangi bunga lavender langsung menguasai bau seluruh ruangan. Mengalahkan pengharum ruangan. Leehan yang masih tidur pun ikut pangling saat mencium bau wangi nya. Lantas ia langsung menoleh kearah wanita yang baru selesai mandi tersebut, dan dia lebih terkejut dengan apa yang dia lihat saat ini.

 

Sungho menggunakan celana pendek. Iya, celana pendek. Memang dia suka menggunakan celana pendek, Leehan tau sekali. Namun, celana pendek yang di gunakan Sungho saat ini di atas paha, mengekspos kulit putih bersihnya yang biasanya selalu ia hias dengan kecupan-kecupan berwarna merah kebiruan. Pandangan mata Leehan tidak bisa lepas sedikitpun dari paha Sungho, sebelum Sungho sendiri yang membuyarkan fokus nya.

“Sayang… Mandi dulu gih, terus baru tidur.” Ucap Sungho sembari mengecek suhu tubuh Leehan pada dahinya untuk kesekian kalinya hari ini, panasnya sudah reda, hanya tersisa hangat saja yang membalut dahinya. Leehan menggeram, memanyunkan bibirnya layaknya anak kecil yang hendak merengek.

 

Mandiin...” Tutur Leehan dengan nada merayu, dan senyum jahil yang terbentuk di bibirnya, berusaha menggoda Sungho. Sayang sekali, godaan tersebut tidak mempan dan malah di balas cubitan pada pinggangnya yang terasa sakit— sekaligus geli. Leehan makin tantrum, tapi sebelum itu berlanjut, Sungho langsung menggendong Leehan yang beratnya 11/12 dengannya dengan tangan kosong. Membuat yang di gendong sedikit terkejut, dan mengalung kan tangannya di leher Sungho. Mau ‘tak mau dia menurut saja, lalu Sungho menurunkan nya tepat di dalam kamar mandi dan meninggalkannya begitu saja. Membuat gadis yang di paksa untuk mandi itu berdecak kesal karena misinya gagal.

 

Sekarang, yang lebih muda justru mengambil waktu begitu lama, sudah 30 menit sejak dia masuk ke kamar mandi, dan di menit ke 30 itu, suara pancuran air barulah berhenti. Sungho tidak terlalu memikirkannya, mungkin gadis itu keramas dahulu. Sungho yang sedang fokus pada hp mendengar pintu kamar mandi itu terbuka, dan Leehan keluar dengan handuk yang mengelilingi kepalanya, dengan baju yang biasa ia kenakan waktu di dalam rumah.

 

“Lama banget, kamu keramas gini gak takut makin panas nanti sayang?” Leehan tidak menjawab dirinya, namun terus mendekat dan loncat ke dalam pelukan si kating. Melingkar kan tangannya di sekitar pinggang ramping nya, menenggelamkan wajahnya di dada lembut Sungho. Leehan dapat dengan jelas merasakan jantung Sungho yang berdetak dengan stabil nya. “Mhnnn, wangi sayang.”

 

Leehan terus mendusel ke arah Sungho, bahkan menautkan kaki mereka agar bersentuhan. Sungho mengelus pucuk kepala Leehan, seolah menuntunnya untuk lebih terlelap dalam kantuk. Nyatanya, tidak begitu. Sungho sudah kembali beralih fokus pada ponsel nya, meski tangannya tetap membelai kepala Leehan dengan lembut.

 

Dari waktu ke waktu, bukannya semakin terlelap, Leehan justru makin banyak bergerak dengan gelagat yang terasa ‘tak nyaman’ di pelukan Sungho. Awalnya Sungho mengira itu hanya karena salah posisi, sehingga ia tidak menghiraukan nya. Namun, lama-kelamaan gerak-gerik Leehan terasa makin aneh. Terlebih ketika kaki Sungho terhimpit di antara kaki Leehan, dan Leehan terus bergerak dengan cara yang ambigu.

 

Leehan—” kalimat Sungho terpotong di saat dia menatap Leehan yang seluruh wajahnya sudah berwarna merah-merona, pinggang Sungho yang di rangkul Leehan di bawa untuk makin mendekat, dan Leehan secara terang-terangan mulai menggesek paha telanjang Sungho diantara selangkangan nya. Sinting, bocah ini lagi sakit, masih saja sange-an kalo kaya gini doang. Leehan tidak bisa diam di kala Selangkangannya terus bergesek dengan paha mulus Sungho, geraman kian terus lolos dari mulutnya yang tidak suci.

 

Ghhngg, kak.. hahh.. P-panas..” Sungho akhirnya mengalihkan fokus dari handphone nya, dan membawa Leehan untuk terduduk di satu sisi paha putih mulus nya secara hati-hati. Genggaman tangan Leehan makin mengerat di pinggang Sungho, satu tangannya ia bawa untuk bertumpu di bahu lebar milik Sungho. Sedangkan kakinya mulai gemetaran untuk menjaga dirinya tetap stabil di atas paha Sungho, sembari tetap menggesek kan klirotis nya dengan tempo yang sangat amat berantakan.

 

Bahkan celana dalam leehan saja belum di lepas, tetapi basah sudah tercetak di antara selangkangan nya. Membuat pemilik paha yang Leehan duduki tertawa geli melihat Leehan yang sangat memohon akan sentuhan nya. Sungho tidak tinggal diam, tangannya bergerak untuk meraih kedua buah dada Leehan yang ukurannya sedikit lebih kecil dari miliknya, namun sangat pas untuk dia genggam dengan kedua telapak tangannya. Di remaslah kedua buah dada Leehan tersebut, mencubit putingnya yang mengecap jelas di luar tanktop warna merah muda yang Leehan kenakan. Leehan merintis ‘tak karuan, entah rasa ‘tak nyaman atau enak yang dia rasakan, namun dapat Sungho pastikan tangan Leehan makin mencekram pundaknya, mungkin saja bekas cakaran sudah tercetak di punggung indah nya.

 

“Kamu gak pake bra kaya gini sengaja mau goda aku? Gerak terus, jangan diem.” Sungho menjeda ucapannya, menghembuskan nafas beratnya yang tertahan. “Lepas, lepasin celana dalem kamu.” Layaknya anak anjing yang patuh dengan majikannya, Leehan langsung melepas celana dalamnya, melemparkannya ke sembarang arah dan menyisakan tanktop yang bahkan tidak ada gunanya tersebut, untuk tetap menempel pada tubuhnya layaknya menjaga harga diri yang bahkan sudah runtuh di hadapan Sungho. Lantas Sungho meraih dagu Leehan untuk membawanya kedalam ciuman yang mulanya terasa pelan, serta lembut. Namun, tangannya mulai masuk kedalam tanktop merah muda Leehan, menelusuri punggung halus nya, berusaha membawanya lebih dekat— dan dalam. Tanpa memutuskan persatuan bibir mereka sedetik pun.

 

Mnnhh—” Kali ini giliran Sungho yang menggeram, karena tangan Leehan yang semulanya mengalung di sekitar leher Sungho, tiba-tiba beralih ke dada Sungho yang jauh lebih berisi dari miliknya. Leehan ‘tak main-main, dia meremas buah dada Sungho layaknya squishy yang memang di buat untuk di remas, namun yang ini khusus hanya untuk dirinya. Ciuman mereka makin berantakan, entah karena Sungho yang kehilangan fokus nya, ataukah Leehan yang nafas nya makin ter engah-engah.

 

Akibat Leehan yang sudah melepaskan celana dalam nya, kini Sungho dapat dengan jelas merasakan memek Leehan dengan sopan mencium pahanya, dan basah kian turut membanjiri paha Sungho. becek. Sungho akhirnya menjadi yang pertama memutus ciuman mereka, keduanya terengah-engah untuk mengejar nafas masing-masing. Sedangkan, paha Leehan makin bergemetar sembari terus di gesekkan. 

 

Cantik, kamu cantik banget sayangku.” Sungho benar-benar gemas melihat gadisnya. Otak Leehan kosong di puji seperti itu, Leehan bahkan tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya karena tiba-tiba menginginkan sentuhan yang menstimulasi dirinya, terutama dari kekasihnya, Sungho. Pinggulnya terus maju, dan mundur, mengejar ujung yang terus ia cari sedari tadi. Sungho juga turut bergerak untuk menciumi leher jenjang Leehan yang belum terjamah sedikit pun, mengecup nya halus, menggigit, dan meninggalkan tanda merah kebiruan sebagai tanda kepemilikan. Akibat leehan yang bergerak maju-mundur, Sungho dapat melihat jelas di hadapannya, buah dada leehan turut ikut bergoyang seirama dengan gerakan maju-mundur leehan. membuatnya makin gemas.

 

Hahh.. K-kak.. Mnhh lagi— Ah!” Tangan Sungho menyinkir kan tangan Leehan dari dadanya, dan kembali pada buah dada Leehan untuk memilin puting Leehan yang sudah bengkak akibat terus ia pilin. “Mnhh.. Nenen, nenen aja kak. Enghh.”

 

Sangat patuh dengan ucapannya, Sungho langsung turun untuk mencium kasar dada kanan Leehan tepat pada puting nya. Meskipun kain masih membalut nya, Sungho tidak peduli dan makin menghisap, memutar, membolak-balikkan lidah, serta menggigit nya. Membuat basah tercetak di kain yang menutupi payundara Leehan. Permainan lidahnya terlalu kasar, membuat Leehan yang mulanya tidak bertumpu pada apapun justru mencengkram rambut panjang berwarna blonde milik Sungho, yang malah makin membawa Sungho makin dalam menghisapnya.

 

k-kak.. sumpah, kalo— nghh! kalo gini terus.. hahh.. aku bakal.. ngh! kak—” tidak peduli semua omelan yang keluar dari mulut yang lebih muda, Sungho terus saja seperti berada di dunia nya sendiri, menikmati tubuh sang gadis miliknya tanpa terlewat satu titik pun.

 

Anghh— kak, ampun.. ampun.. h-hiks mau pipis.. aku pipis....” Jackpot. Isakan perlahan terdengar dari Leehan, menandakan jika dia sudah mencapai batas kuatnya untuk bertahan. Kakinya bergetar hebat, memek nya makin basah hingga memunculkan suara becek yang tidak senonoh, masuk untuk menusuk telinga mereka berdua. Membuat sungho membantu Leehan dengan mendorong pahanya untuk menggesek memek nya lebih kasar, Leehan benar-benar sudah mencapai batas maksimal nya. 

 

A—ah! Kak Sungho— Hnggg! Fuck..” Di detik itu juga dia meneriakkan nama Sungho, akibat orgasme pertamanya, yang membanjiri paha Sungho, sprei, bahkan bajunya sendiri. Dinding vaginanya berkedut tidak main, bagaimana juga dengan Sungho yang sedari tadi menonton itu semua.

 

butuh beberapa waktu untuk Leehan kembali ke dunia nyata, mengembalikan tingkat kesadarannya ke semula. Sungho pun mencium pipinya dengan lembut, sebelum dia menuntun Leehan untuk duduk di kasur kembali. Leehan malah bingung. “Kak, kan kamu belum…”

 

“Udah, gausah. Kan kamu lagi sakit.” Leehan memanyunkan bibirnya, tidak terima dengan ucapan Sungho. Leehan menarik lengannya dan merengkuh pinggang Sungho untuk berbaring di kasur, tepat di bawahnya. Sungho bahkan tidak sempat bereaksi apapun, sebelum Leehan menghisap bibirnya, lalu turun, perlahan, di selingi oleh ciuman-ciuman halus, dan berhenti di dada kanan milik Sungho. Leehan pun menarik kaos Sungho keatas, melepaskannya, dan menyisakan bra berwarna hitam kesukaan Sungho, yang bahkan sudah off-site dalam melindungi dada si cantik. Tidak banyak waktu yang di perlukan Leehan untuk melepaskan bra tersebut dan membiarkan dada Sungho terbebas. Gemes, orang secantik ini gak leehan pacarin ya rugi dong. 

 

“Leehan... Kamu masih demam loh,” Sungho masih saja terus mencari celah untuk menghentikan aksi Leehan. Namun sebenarnya Sungho bukan takut jika demam Leehan makin naik, namun, dia takut jika Leehan yang setengah sadar ini akan bermain di luar kontrol. Cupu memang, tetapi nyatanya, Leehan memang selalu kasar, namun selalu nikmat.

 

“Kamu juga panas loh kak. Tapi panasnya gara-gara sange kan?” Sungho ingin mengutuk dirinya sendiri, karena bukannya marah di ejek Leehan seperti itu, memek nya malah berkedut-kedut. Kalo sudah seperti ini, tidak ada celah untuk Sungho untuk kabur dari Leehan. Bahkan celana pendeknya yang menjadi dalang dari semua kejadian ini akhirnya juga terlepas bersamaan dengan celana dalam nya. Keduanya di lempar ke sembarang arah oleh Leehan, tidak menyisakan satu helai kain pun menempel di tubuh Sungho. 

 

Enghh! L-leehan... Leehan!” Baru saja celana itu dilepas, jari Leehan sudah sibuk sekali, jari-jari Leehan digunakan untuk mengucek klirotis yang lebih tua, dengan tempo pelan yang justru malah menyiksa— dan nikmat, jari-jarinya mencolok-colok klirotis Sungho seakan-akan ingin memaksanya masuk. Tangan kiri nya, di gunakan untuk merengkuh pinggul tulen Sungho yang memberontak, agar lebih tenang. Lenguhan nikmat terus terdengar bersamaan dengan bergerak nya jari-jari Leehan di klirotis si cantik.

 

“Becek banget memek kamu kak, Serius kamu udah sebasah ini ga ikut aku bucat tadi?” Sungho merasa di diskriminasi namun dia hanya diam, menutup suara, dengan menggigit bagian bawah bibirnya, menahan lenguhan atau maki-an yang akan keluar dari mulutnya. Leehan melepaskan tangan kiri nya yang ia gunakan untuk menahan Sungho, dan di bawa lah kedua kaki Sungho untuk melebar dan memberi akses Leehan lebih luas. “Cantik, cantik banget kamu kak. Memek kamu kedut-kedut, cantik banget.”

 

"Han, sumpah han.. Satu-satu.." Sungho mencengkram rambut Leehan di saat dia sedang menciumi tenguk nya, meninggalkan bekas kemerahan— bahkan biru, lenguhan terus keluar di kali Leehan terus menyesap tenguk wangi sang kakak. Di detik itu juga, Leehan memasukkan jarinya, menanan kam 2 jari yang kini bergerak keluar-masuk dan menggunting di dalam Sungho. Kaki Sungho yang semulanya melingkar di sekitar pinggang kecil Leehan tiba-tiba menegang, dan geram an turut keluar. "Hnggg— Leehan, jangan gini.. Hhhahh, enakk..."

 

Meskipun Sungho terus berusaha memberhentikan dirinya, Leehan tau mulut si kating ini gapernah bisa di rem sedikitpun. Mau, tapi malu. Selalu begitu. Tangan Sungho yang mencengkram rambut panjang Leehan terlepas di saat Leehan turun, untuk mencium dada kanannya kembali, menargetkan putingnya yang sudah memerah akibat di mainkan oleh Leehan. Sungho mencengkram pundak Leehan, melampiaskan rasa nikmat yang dia rasakan. Jari-jari Leehan terus bergerak lincah, membuat suara becek makin terdengar lebih jelas. Air mata yang membendung di mata Sungho akhirnya runtuh dan membasahi pipinya yang halus. Saat Leehan mesudahi aktivitas menyusu nya, dia menatap Sungho yang wajahnya makin berona merah, dan basah. Mengusap pipinya dengan tangan kirinya, agar jejak dari air mata tersebut hilang.

 

“Kak, Cantik, sama aku terus ya kak?” Ucap Leehan, entah itu di ucapkan dengan sadar atau tidak. Namun bersamaan nya dia mengakhiri kalimat itu, Leehan makin mempercepat gerakan jarinya, menekan tepat pada G-spot Sungho. Tidak membiarkan yang lebih tua angkat bicara, Leehan justru menambah jarinya, kini sudah 3 jari yang tertanam di memek Sungho. “Kakak.. Cantik, aku sayang banget sama kakak…” 

 

Hngh.. Leehan.. Ah— kakak juga sayang Leehan..” Desahan terus mengganggu di antara kalimatnya, Leehan dapat merasakan dinding-dinding Sungho berkedut di sekitar jari-jarinya, dia makin menekan dinding-dinding memek Sungho tanpa ampun, bahkan makin mempercepat gerakan keluar-masuknya, hingga Sungho kelojotan hebat. “Leehan.. Udah, Mau pipis — Hghh, pelan-pelan! Leehan — “

 

Racauan terus keluar dari mulut Sungho, tangannya menarik sprei yang semulanya terpasang rapi sekarang sudah tertarik tingga lepas. Banyak juga pekerjaan Sungho hari ini. Leehan mencekram paha Sungho makin kuat, melebarkan nya, cairan yang keluar dari memek Sungho terus mempermudah kan nya untuk menambah kan 1 jari nya lagi. “Aku pipis — Leehan! Ah — Udah — Leehanhh!

 

Saat nama sang gadis itu di teriakkan oleh suara lembut Sungho, cairan mulai merembes keluar dari memeknya. Dia squirting. Sungho muncrat sampai-sampai membasahi sebagian besar dari sprei kasur nya yang sama berantakan nya dengan Sungho. Terpaksa, jari-jari Leehan terdorong keluar dan membiarkan Sungho menikmati orgasme nya. Sungho bahkan tidak bisa membedakan mana pipis, mana cairan squirtingnya saat ini, karena cairan itu terus keluar hingga pahanya — dan seluruh tubuhnya gemetaran. Nafas nya tersenggal di saat ia rasa kenikmatan itu sudah lewat, berusaha memburu nafas nya setengah mati di saat masih di dalam rengkuhan Leehan.

 

“Kak.. gapapa kan?? kak…” Wajah Sungho basah, entah itu karena air mata, ludah, atau bahkan bekas ejakulasinya. Yang pasti Sungho sangatlah berantakan di buat Leehan. Leehan gemas dengan Sungho, dia menghadiahkan kakak cantik nya itu dengan ciuman lembut di pipinya, dan kecupan kilas di bibirnya. “Cantik nya. Makasih ya kak, you have done your best.

 

Sungho membalasnya dengan geraman lembut, sepertinya energinya sudah terlanjur habis, Leehan pun membawa Sungho untuk duduk, dan mengajaknya membersihkan kekacauan yang mereka perbuat barulah tidur dengan pulas. Mandi dua kali kan jadinya. Kini malah Sungho yang bermalas-malasan, karena Leehan yang makin menyebalkan, Sungho meraih lengan Leehan dan membanting Leehan untuk tertidur di kasur, di bawah nya lagi.


Kok buru-buru sih udahan nya, kamu belum aku buat pipis-pipis padahal.” Tamat lah riwayat Leehan, karena di 5 detik setelah Sungho mengakhiri kalimat nya, dia sudah berada di hadapan memek Leehan, menyesap nya layak anjing kelaparan saat melihat santapan nikmat. Malam itu pun terus berlanjut lebih panjang, walau keduanya sudah makin panas, entah demam atau rangsangan, yang pasti keduanya sudah di kuasai oleh nafsu sepenuhnya.

 


 

Notes:

Udah ya, author loyo.