Work Text:
Sekolah sangat sunyi bahkan kita bisa mendengar hentakan kaki jika seseorang berjalan di lorong. Sunyi, itulah yang ada di benak Rifa sekarang.
Hanya tersisa dua nyawa di lantai tiga. Belum sepenuhnya warga sekolah meninggalkan tempat penyerap energi itu, beberapa guru memang biasanya pulang setelah jam 5, biasanya murid-murid yang rumah bukan tempat berpulang dengan berat hati meninggalkan "rumah" mereka pada jam 4.
Namun hari ini tidak seperti biasanya. Guru-guru memang seperti biasa mengerjakan kerjaan mereka di ruang guru—di lantai dua, tapi tidak terdengar suara celotehan murid yang lain. Tidak biasanya sekolah sudah sepi, padahal baru jam 3.
Tapi dua insan yang berada di ruang studio lantai tiga sepertinya tidak mau buru-buru untuk pulang ke rumah. Mereka menikmati suasana sepi, berdua.
Ruang studio menjadi pelarian untuk dunia yang sangat berisik. Tempat dengan beragam kejadian terjadi di sana. Tempat teraman untuk mengutarakan perasaan yang tertahan dalam diri.
Rifa sedang sibuk dengan laptop-nya, mengedit video di capcut dengan video yang ia putar beratus-ratus kali; Daren dengan pikirannya yang berisik mencoba untuk tidur.
Sepertinya Rifa sudah jenuh dengan video yang sama, ia langsung menutup aplikasi capcut untuk menjaga kewarasannya. Mengalihkan pandangannya yang sudah tidak tahu berapa lama ia pakai untuk menatap laptop-nya ke seluruh ruangan studio, pandangannya jatuh ke Daren yang terlihat resah karena tidak kunjung tidur.
"Daren, lu udah tidur?"
Dahi Daren mengkerut, alisnya menyatu. "Mau nyoba tidur." Kesal dengan pertanyaan Rifa yang membuyarkan fokusnya untuk tidur.
"Lu tau kan studio is the safest place in this school?"
"Iya kali?" Mungkin dalam hati Daren ia sudah memaki-maki Rifa yang terus-terusan mengajaknya berbicara.
Rifa menarik nafasnya, berharap jawaban Daren lebih dari pertanyaan singkat yang kedengarannya meremehkan pernyataan Rifa "Maksud gua tuh kayak, lu bisa ngutarain apa aja yang dipikiran lu, lu bisa ngelepasin rasa capek lu di sini. Kayak di sini tuh gak ada batasan, mau obrolin apapun boleh." Jawaban Daren yang sesingkat itu langsung dibalas panjang oleh Rifa dengan satu tarikan nafas.
Kelopak mata Daren tetap teguh menutup; pikirannya tetap fokus untuk mencoba tidur. "Oke, oke. Gua paham maksud lu, trus apa? Lu pengen ngomong apa Ri?"
Seolah dunia berhenti, Rifa hanya menatap Daren dengan nikmat. Mengamati seluruh struktur muka Daren, menghitung tahi lalat yang ada di wajahnya, mengagumi bintik-bintik cokelat yang menurut Rifa itulah jawaban dari kenapa Daren sangat disukai oleh para perempuan di sekolah. He's so cute itu ucapan yang secepat kilat lewat di pikiran Rifa. Melihat surai yang dipotong agaknya berantakan, dengan gradasi pirang ke bawah membuat Rifa ingin sekali mengacak-acak rambut Daren. Seandainya Daren tidak menutup matanya dengan tangan mungkin Rifa hanya akan terpaku pada matanya saja.
"Gua tau lu ngeliatin gua ya." Merasa terintimidasi dengan tatapan Rifa, Daren bertanya sekali lagi "lu mau ngomong apa? Buru, gua mau tidur!"
"You mean the world to me, Daren." Rifa tidak bisa—tidak akan pernah—mengatakan itu ke Daren. Dari sekian banyaknya kata yang hanya sampai di tenggorokan, hanya kata itu yang paling mencekik untuk Rifa. Mungkin dunia juga enggan disebut namanya dari jiwa yang mencintai sesama.
Kata-katanya masih terbayang di kepala, ingin sekali mengutarakannya langsung ke insan yang tepat berada di depannya. "Gak jadi ah, udah tidur sana! Makanya jangan begadang, Dar." Hanya itu yang bisa Rifa ucapkan, keberaniannya hilang entah kemana, lenyap termakan sunyi.
Sepertinya percakapannya dengan Rifa membuat ia perlahan masuk ke alam bawah sadarnya. Daren tahu Rifa ingin mengucapkan sesuatu yang penting, tapi kantuk telah menguasai setengah pikirannya.
"Bacot lu, Ri."
Rifa hanya terkekeh geli mendengar gerutunya Daren. Ia mengamati Daren yang perlahan-lahan terlelap dalam tidur yang ia butuhkan.
Keadaan seketika menjadi sunyi, lagi. Rifa hanya bisa menertawakan pikiran bodohnya. Ruangan studio sepertinya juga bukan tempat untuk berlindung dari kecaman dunia yang tidak mengakui cintanya.
Menurut Rifa, berdua dengan Daren di studio sudah bisa menghangatkan hatinya, Ia tidak perlu mengungkapkan perasaannya; tidak perlu menceritakan "aib" dirinya. Hanya dengan kehadiran Daren di sekolah, di kelas, dan di studio sudah menyatakan bahwa dirinya sepenuhnya milik Daren.
