Work Text:
huru-hara kali pertama menjadi wanita dewasa, setelah satu hari baila menyadari ia terseret kembali ke suatu perputaran waktu yang lagi dan lagi mengantarnya ke peristiwa yang sudah lampau terjadi. tahun 1815, dan baila yang baru menjadi wanita dewasa juga diminta untuk bergegas melakukan aksi menjadi wanita dewasa di suatu pesta besar dengan persiapan yang memakan waktu satu hari penuh sejak kembali ia diberi izin semesta untuk membuka mata setelah lalui tidur panjang.
ia yang dimandikan, jelas sekian banyak dayang-dayang yang sibuk bukan main mengurusi satu-satunya tuan putri yang baru berpijak di zona masa dewasa. setelah mandi, lalu ini, dan itu, dan tidak sesingkat yang diharapkan meski maunya begitu. baila bilang baila lapar, dan roti satu-satunya yang ia santap begitu beberapa dayang berhasil ia bujuk sampai mau untuk beri ia setidaknya yang bisa mengganjal perutnya saat ini. bukan lapar yang menyiksa, memang, tapi baila lapar.
lalu, apa?
sore harinya bahkan sudah harus bersiap menuju area pesta besar yang akan berlangsung sampai larut malam, seperti pesta-pesta pada umumnya di era itu yang dijadikan oleh kaum perempuan sebagai ajang mencari cinta sejati.
cinta sejati? baila jadi menertawai pikirannya sendiri.
"ada apa, sayang?" sang ibu bertanya, yang sempat ia lupa di masa ini ia kembali dihadirkan sosok keluarga lengkap yang merupakan kalangan bangsawan besar (bukan bangsa yang besar) di era itu.
kontan baila sebagai yang ditanya memilih enggan menjawab. ia respon sang ibu cukup dengan gelengan kepala, tanpa pengetahuan lebih perihal dirinya dengan riasan dari ujung kepala sampai ujung kaki sudah persis seperti wanita dewasa dalam keadaan bersiap untuk dinikahi pangeran tampan.
tapi sayangnya, jika baila boleh bernegosiasi, ia lebih menginginkan bersama sesama wanita. baila yang selalu menyadari apa maunya, baila yang sedari awal tahu perihal ia yang 'berbeda' dari perempuan-perempuan kebanyakan. namun ia hanya satu-satunya, dan tidak bisa.
sampai sudah masanya kereta kuda bermukim, lantas dipersilahkan juga untuk turun dari sana dan pijakkan kaki di suatu tempat dimana orang-orang dewasa akan berdansa dan mencari pasangannya begitu sudah saling menemukan cinta sejati dan saling mau untuk mengenal satu sama lain.
besar dan mewah adalah dua hal utama yang baila garisbawahi sebagai deskripsi mutlak tempat yang kini ia pijak. tangan kirinya memegangi topeng masquerade berwarna merah jambu muda. perpaduan warna merah jambu muda dengan warna putih yang mendominasi pada gaunnya malam ini ujungnya ia pegangi dengan satu tangan bebasnya. namun seorang pria menawarkan tangan untuknya pegangi sampai masuk ke dalam.
"terima kasih." ucapnya setelah itu lekas lepas tangannya dan tarik dirinya untuk segera pergi begitu menyadari pria itu hendak menahannya dengan sekian banyak konversasi yang sama sekali tidak baila minati untuk sekedar menjawab secara singkat. ia baru dewasa, baru bisa merasakan rasanya menjadi perempuan dewasa, dan inginnya masih mengamati banyak hal yang dilakukan sebagai perempuan dewasa di pesta dansa.
satu hal yang baru ia tangkap adalah menjadi perempuan dewasa nyatanya menyenangkan untuk sekedar dilihat dari luarnya, sebab sedikit banyak kala ia sibuk langkahkan kaki untuk berlalu-lalang di tengah hiruk pikuk ramai yang berbalut kemewahan dan tata krama sebagaimana bangsawan berperilaku di pesta dansa adalah hal yang terlalu kaku; menurutnya. pun alunan musik yang dimainkan para pemusik disana juga sudah dilantunkan, sedang hingar bingar campur aduk konversasi juga mendominasi. tapi tahu-tahu, sang ibu entah darimana mendatanginya dengan senyum serta membawa tiga pria sekaligus yang sama sekali tidak ia ketahui perihal asal-usulnya.
"mungkin ingin memulai konversasi dengan saling membangun percakapan antara kalian satu sama lain?" dan itu yang ibunya katakan sebagai bentuk persilahkan-an bagi orang-orang tidak dikenal ini untuk berbicara dengannya.
baila... sama sekali ingin kabur dan berteriak seperti orang gila sembari mengatakan kalau ia tidak menyukai laki-laki. bayangan perihal ia yang dinikahi seorang pria, lalu ia digauli dan ditiduri, lalu ia mengandung seorang anak dan melahirkan, semuanya membuat ia mual. bagaimana jika sebuah benda panjang berurat dan tak bertulang akan memasukki lubang miliknya? hanya, baila membayangkan itu pun sudah geli bukan main. ia tidak suka benda yang dipunyai pria, menurutnya seperti kepala hewan berudu jika bentuk berudu nya sedikit diperbesar.
alih-alih memilih kabur begitu saja setelah sang ibu memilih minggir dan membiarkannya tenggelam dalam konversasi yang sebetulnya tidak baila minati sama sekali, ia memilih untuk berbicara sesantai mungkin serta bersikap sangat jauh dari seharusnya perempuan dewasa berperilaku dihadapan laki-laki dewasa. baila sembari berbincang, juga sambil memegangi piring berukuran sedang yang menjadi wadah bagi makanan kue-kue kering yang dihidangkan. lalu baila sendawa seakan-akan ia sudah kenyang, meski sekedar berpura-pura, membuat ketiga pria itu pada akhirnya memilih pergi dan tak lagi minat.
"aku gak suka mereka bertiga," ucapnya begitu ibu kembali mendatanginya dan bertanya keheranan. "mungkin aku ingin mencoba mencari sendiri sesuai seleraku?"
"baila say-"
"barangkali nanti dapat yang jackpot? siapa tau, anak raja yang tampan dari wilayah sebrang sekaligus, kan ibu juga nanti yang senang."
belum sang ibu biarkan kembali baila untuk kembali menjelajahi setiap sudut tempat mewah itu, nyatanya sang anak sudah lebih dulu melangkah dengan menyusuri keramaian. meninggalkannya dengan pertanyaan besar mengenai satu kata, "jackpot...?"
sementara baila yang berhasil menyusuri ramai dan orang-orang sudah sejak tadi memulai pesta dansanya itu pun memilih untuk sekedar menonton saja. hanya sebentar, karena hasratnya untuk melihat-lihat banyak hal nyatanya lebih besar. lantas ia susuri jalan dengan lalui sisi-sisi kosong meski tetap ditengah-tengah ramai. namun ia rasakan saat itu sebuah tangan menuntunnya pergi sampai ia sudah berada diluar keramaian serta mewah di dalam. masih baila lihat bagaimana tangan dengan berbalut sarung putih keemasan itu bertaut dengan tangannya yang juga dipakaikan sarung berwarna pink.
"maaf terlalu tiba-tiba. tapi kamu udah merasa aman belum?" tanyanya, yang baila sendiri bingung untuk menjawabnya.
kedua matanya menatap telak kepada perempuan sedikit lebih tinggi dihadapannya, yang masih mengenakan topeng masquerade putihnya. "maaf lagi," lantas dibukanya itu topeng. "sedaritadi aku memperhatikan kamu yang terlihat tidak nyaman dengan keramaian. kukira memang kamu sedang mode panik atau bagaimana, jadi..."
"oh," baru saat itu baila mengerti. ada beberapa kata yang tersusun selaku kalimat untuk ia lanjutkan setelahnya, namun mulutnya seakan kelu kala kedua matanya turut menetap untuk menatap wajah perempuan di hadapannya. rasanya baila gelagapan, meski kepalang tau hendak bicara apa. lantas akhirnya, "aku baila."
"cantik."
dan pipinya saat itu memanas bukan main. pun ia sendiri rasanya tidak mampu menahan senyum.
"arti nama kamu itu cantik," kata perempuan itu. "namaku christy."
baila mengangguk kepala tanpa mengerjapkan kedua mata. berkali-kali, sembari ia usahakan untuk mampu bicara, sampai akhirnya "okay, hai..." satu-satunya yang mampu ia ucapkan.
yang bernama christy itu tersenyum, bahkan tertawa setelahnya sebab memang baila sangat amat terlihat gelagapan dan... lucu? "ngomong-ngomong, aku baru lihat kamu hadir dari sekian banyak pesta."
"ini pertama kalinya buat aku," baila sampaikan fakta itu dengan jujur. "kamu tau... ini kayak, rata-rata pengalaman pertama perempuan yang baru dewasa."
lalu disana christy baru memahami. "dan sebetulnya gak ada yang menarik juga menjadi perempuan dewasa, kamu tau? karena setelahnya harus nikah, dan mengurus suami dan anak. kira-kira kalau sudah masuk ke masa itu, kapan bagi kita untuk mengurus diri sendiri?"
dan bagaimana cara mengakui ke orang yang baru baila temui perihal dirinya yang memang tidak selera dengan makhluk Tuhan bernama laki-laki?
"lagipula perihal ketertarikan seseorang dengan sesama jenis di era sekarang harusnya lazim-lazim aja," lalu christy bilang begitu.
baila? kedua matanya membelalak lebar.
lalu? kembali ia ditarik mundur bersama waktu. baila kembali ditempatkan pada saat-saat dimana tangan berbalut sarung putih keemasan itu menariknya keluar dari keramaian pesta dansa, seperti beberapa waktu sebelumnya.
"kamu sudah tau namaku, kan?" adalah rentetan kata yang tersusun menjadi sebuah kalimat pertanyaan, yang kontan membuat baila mengernyit bingung. lantas belum juga ia tanggapi dengan bingungnya, christy kembali mengatakan, "aku juga tau siapa namamu."
terlihat kepalang tergesa. christy bahkan jauh terlihat sepuluh ribu kali lipat lebih lelah dibanding dirinya. sampai berpeluh, sampai tata rambutnya sedikit berantakan dari yang semula dilihatnya. "satu menit lagi jam dua belas malam-"
lantas?
"senang bisa berkenalan dengan kamu, baila."
dan setelahnya, ia ditinggal pergi. sendirian, dibawah kelam langit tengah malam dengan bantuan pencerah bernamakan bulan yang sedang terang-terangnya.
-
satu nama kian menjajah isi pikirannya. baila berkali-kali sebut sebuah nama meski tanpa perlu perangainya bertindak dikala otaknya yang begitu sibuk sebut satu nama.
christy.
dan baila, suka, meski kesannya terlalu bodoh dikarenakan yang kemarin terlalu singkat dan tidak jelas. dan baila suka, begitu sejak saat diberitahu saat malam itu ia memiliki kesempatan yang rasanya seluas samudera.
christy.
dan baila, untuk kali kedua akan menghadiri kembali pesta dansa yang tentu tidak ditempat yang waktu itu.
waktu itu, ya? sekedar membayangkan peristiwa waktu itu dengan tersebutnya dua kata 'waktu itu' saja rasanya sudah membuatnya bertingkah tidak jelas. entah apa namanya, tapi baila dibawah jauh sekali dari perasaan sedih dan apapun yang berlandaskan ketidakmauan; kalau sudah dibahas apapun perihal waktu itu.
bukan lagi mengenakan gaun dengan perpaduan warna merah jambu muda dan putih, dan kali ini ia memilih warna perpaduan warna hijau sage dengan balutan renda-renda emas. rambutnya sengaja dibiarkan setengah bergerai dan tetap dengan gaya rambut sebagaimana perempuan dewasa yang hadir ke pesta dansa. mungkin nanti perihal 'waktu itu' akan terulang lagi, dan ia sendiri tidak sabar dengan pesta dansa kali ini.
sampai akhirnya saat itu tiba, baila yang sudah sampai setengah mati menunggu secara tidak sengaja menumpahkan sesuatu ke seorang pria ketika ia hendak mengambil minuman. minta maaf berkali-kali ia lakukan sebab memang ia akui perihal keteledorannya, namun tangannya yang hendak menyeka basah pada pakaian pria itu dengan handkerchief (sapu tangan) miliknya itu terhenti. pergerakannya tercekal oleh sebuah tangan.
christy dengan pakaian pelayan, dengan pakaian pelayan serupa dengan banyaknya pelayan perempuan di pesta kali ini. dan baila yang masih tercengang sekedar memperhatikan bagaimana christy yang sepenuhnya menggantikan tanggungjawab atas keteledorannya menumpahkan minuman ke pakaian seorang pria.
hendak ia ditinggalkan lagi, baila yang sudah menyadari itu lantas bergerak lebih cepat untuk menahan kepergian christy. "jangan pergi." pintanya.
"aku harus." sedangkan christy secara halus mencoba melepas tangannya yang ditahan.
"christy, kan?"
yang ditanya sekedar menjawab dengan anggukan kepala. jauh lebih sungkan, dan jauh lebih terasa kesenjangan sosial diantara keduanya.
"aku tau kamu," baila berkata lagi. "tolong jangan buru-buru pergi."
"kamu cuma tau namaku, bukan berarti tau aku. anggaplah yang waktu itu bukan aku."
"gimana?" jelas ia tidak mengerti. "setelah yang waktu itu...?"
*flashback on*
hiruk pikuk di dalam sudah sepenuhnya teralih dengan hamparan bintang ditengah kelam langit tengah malam hari bersama bulan diatasnya. samar-samar ramai dari dalam sudah tidak lagi terdengar begitu tangan kembali saling tertaut, disaat yang satunya turut membiarkan dirinya bersama dengan yang kini membawanya jauh dari keramaian.
"disana ramai sekali," ucapnya, dan secara sengaja memang digantungkan begitu saja oleh baila yang hendak bertanya. "kenapa disini?"
"aku pikir kamu tidak nyaman ditengah keramaian," jawabnya.
"sebenarnya, gak segitunya juga, sih." pada akhirnya, ia jujur. baila mengatakan kejujuran, dan begitu tautan tangan keduanya terlepas, ia pakai tangannya itu untuk menggaruk tengkuk lehernya yang sebetulnya tidak terasa gatal. rasanya... sangat asing, tapi ia suka. "bagus juga disini. sepi, dan bisa lihat bulan juga."
"benar," lebih senang lagi saat baila mendengar christy menyetujui apa yang ia katakan tadi. sampai akhirnya ia menoleh, dan mendapati christy yang tanpa sedikitpun alihkan pandangan darinya. "bulannya lagi bagus."
rasa yang semula terasa asing baginya kian membuncah, dan ia sendiri jadi semakin asing dengan perasaannya sendiri. baila seakan hendak menerjunkan diri ke kolam air mancur di depan sembari berteriak.
"ngomong-ngomong," maka ia lah yang pertama memutus kecanggungan dan sunyi. "kamu bisa menari?"
"apa belum pernah menari tetap bisa dihitung bisa?"
"kenapa begitu?"
"karena," christy menggantungkan terlebih dahulu jawabannya. "belum ketemu pasangan yang tepat untuk aku ajak menari bersama."
"oh... begitu," mungkin, dan bisa jadi. tidak semua orang ingin menari jika belum menemukan pasangan yang tepat, meskipun bisa. baila yang baru memasukki ranahnya sebagai perempuan dewasa cukup mengangguk, seakan paham, seakan mengerti. "ketemu orang yang tepat seperti yang kamu katakan tadi, kira-kira butuh berapa lama?"
"aku sendiri juga gak tau pasti."
"tapi kamu sudah ketemu siapa orangnya?"
christy mengangguk. "maunya sih, begitu."
"kenapa jawabannya kayak gitu?"
"karena aku nya mau."
masuk logika, dan lagi-lagi baila mengangguk kepala. "kalau aku boleh meminta, sih, maunya juga gitu."
"kenapa?" tanya christy.
"bukan di era ini kan kita bisa bebas memilih kita mau sama siapa?"
"sebetulnya, bisa," christy secara kontan menjawab, dan lagi-lagi sengaja ia gantungkan terlebih dahulu. tangannya yang masih terbungkus sarung tangan itupun akhirnya dibuka, untuk ia genggam tangan baila yang masih terbungkus sarung tangan berwarna merah jambi muda. "kalau kamu berani." dan satu tangan bebasnya kini mulai berada di pinggang baila.
"aku, berani."
baila berani, meski masih memiliki banyak kata "tapi" yang belum mau membebaskannya untuk menjadi berani. baila yang perempuan, menyukai perempuan. baila yang perempuan, tidak seperti perempuan-perempuan yang lebih senang membicarakan masa depan sebagai istri seorang laki-laki dewasa dengan status dan derajat setara atau bahkan melebihi. baila masih suka membicarakan seks, tapi bukan bersama laki-laki. ia berani, meski masih memiliki banyak "tapi" yang melingkari tubuhnya sampai detik ini.
baila berani, mungkin sekedar untuk membiarkan dirinya merasakan cinta disaat umurnya sudah menginjak usia dewasa.
"menari dengan orang yang tepat itu rasanya... seperti ini." seakan-akan christy memvalidasi apa yang sedang ia pikirkan, sebagai yang menuntunnya bergerak dalam berdansa dibawah langit tengah malam dengan cahaya bulan bersama hamparan bintang sebagai penerang.
maka ia anggukkan kepala, sebab baila juga setuju. christy menurutnya adalah orang yang tepat.
pun gerakan berdansa keduanya menjadi semakin intens dan tidak lagi temui kesalahan. christy menuntunnya dengan sebaik mungkin, dan baila dapat terarahkan dengan baik. satu tangan keduanya saling berada di pinggang satu sama lain, dan satu tangan lainnya saling bertaut seiring rasa yang semula tak terasa familiar sudah temui masing-masing nyamannya untuk saling berlabuh.
"gimana?" christy tanyai baila yang sudah terlalu jauh ia bawa kedalam dekap nyaman bernamakan cinta.
sedangkan baila? salah tingkah. "gimana... apa?"
"kamu udah cukup berani?"
dan yang ditanya lantas mengangguk mantap. "selama itu sama kamu, aku berani."
*flashback off*
"bai," christy mencoba melepaskan tangannya kala baila dengan memaksa membawanya jauh dari hingar bingar pesta dansa di kali kedua. "tolong lepas dulu."
dan maunya secara sengaja memang membawa christy jauh, jauh sekali sampai bangunan besar tempat pesta dansa itu sudah hampir tidak lagi terlihat. baila membawanya terlalu jauh. "gak."
"bahkan dari status sosial pun kita gak bisa bersama, bai, kamu tau kan?"
maka terlepas cekalan tangannya pada pergelangan tangan christy. baila terdiam, tapi ia biarkan lagi christy untuk bicara sedang kedua telinganya ia biarkan untuk menjadi pendengar.
"perempuan menyukai sesama perempuan di era ini pun sama sekali bukan hal yang masuk akal," ujar christy, lagi. "gak selamanya cinta harus kita biarkan saling menang, baila. kita hidup didunia bukan secara keseluruhan harus semuanya kehendak kita."
baila yang terasa mulai kosong memilih untuk tetap bertanya, "terus yang waktu itu apa?"
"anggap saja tidak pernah terjadi."
tapi kali ini rasanya baila kepalang marah. "waktu itu kamu memberi aku ruang buat lebih berani menerima diri aku sendiri yang menyukai sesama perempuan. waktu itu kamu nerima aku yang suka kamu, waktu itu kamu bilang aku orang yang tepat-"
"anggap aja gak pernah ada, baila," christy menyela cepat. "aku gak lebih dari sekedar pelayan. kala itu aku beruntung bisa merasakan secara langsung tanpa harus jadi pelayan, dan betul, seperti yang kemarin kukatakan kalau pesta dansa bukan pertama kalinya buatku, karena aku pelayan. sedangkan kamu bisa ketemu sama orang yang lebih baik dari aku, yang setara dengan kamu."
"dan kamu pikir aku sejahat itu ya aku akan ninggalin kamu setelah aku lihat kamu yang sebenarnya?"
"baila," christy menangis, tak kalah seperti baila yang biarkan amarah dan sedihnya menguasainya saat itu. "gak ada pelayan yang bisa berpasangan sama bangsawan."
"bisa," dan ia tetap bersikeras meski berkali-kali diterpa tentangan dan penolakan. "bisa. aku punya cara, kita kabur."
"gak semudah itu, kan?"
"aku gak bisa-"
"sama," lalu luluh lantak keras kepala baila ketika tubuhnya sudah ditarik masuk kedalam dekapan hangat ditengah rasa sakit. "kalau kita egois, kedepannya gak ada yang bahagia. kamu tau kan kalau terkadang jika kita mencintai seseorang harus dengan cara melepaskan?"
dan perlahan eksistensi christy yang semula memeluknya mulai menghilang dari pandangannya, namun ia sama sekali tidak panik. alih-alih panik, justru ia segera menoleh ke belakangnya-
christy lainnya, yang hendak mengajaknya kembali ke zona seharusnya.
tidak perlu waktu lama untuk bersiap, sepasang netranya sudah lebih dulu terbuka meski tubuhnya sudah berada diatas ranjang dengan nyaman. seakan-akan baru bangun tidur, padahal sedang mengalami patah hati yang berkepanjangan.
hingga akhirnya baila rasakan sebuah tangan berada dipinggangnya, pun disaat itu juga baru ia sadari bahwa sampai detik ini dirinya yang selalu menjadi "yang direlakan" karena begitu besar rasa cinta 'orang sebelumnya' terhadap dirinya.
"ity... kangen..." untuk pertama kalinya lagi setelah sekian lama, baila kembali menyebut nama yang sebelumnya selalu ada dalam relung hatinya. meski sudah tidak lagi ada di dunia ini.
