Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-03-02
Completed:
2026-03-02
Words:
2,056
Chapters:
5/5
Comments:
2
Kudos:
24
Bookmarks:
2
Hits:
158

Irama Interaksi

Summary:

Yudis dan Aya dipinta untuk duet di Pentas seni mendatang. Mula-mula, keduanya canggung dengan satu sama lain meskipun telah saling mengenal. Semakin sering berinteraksi, baik Yudis dan Aya, keduanya kini saling nyaman dengan keberadaan satu sama lain dan menunggu interaksi selanjutnya.

Notes:

All character here might be OOC.

Chapter 1: Chapter 1

Chapter Text

Di sekolah ini, Yudistira dikenal sebagai seorang vokalis berbakat yang memiliki suara yang indah. Dari siswa hingga guru, semuanya memuji Yudistira ketika ia bernyanyi. Tak terkecuali panitia Pentas seni sekolah yang sudah berencana membuatnya bernyanyi untuk Pentas seni sekolah.

“Yud, ayolah. Mau kan, manggung?” Sudah tiga hari Yudis dirayu untuk mengisi Pentas seni, selama tiga hari itu pula ia menolak tawaran tersebut.

“Nggak dulu deh, canggung gue kalau sama Aya. Lagian ‘kan, gue juga bakal manggung bareng Pandavva,” tolak Yudis dengan jawaban yang sudah ia ulang berkali-kali.

“Masa canggung, sih? ‘Kan Aya, adeknya temen band lo.” Masalahnya, karena itu lah Yudis merasa canggung harus berinteraksi dengan Aya, adik dari gitaris dari bandnya, Arjuna.

Setelah perdebatan yang panjang, serta rasa muak yang tertimbun akibat terus saja dirayu untuk duet dengan Aya di Pentas seni, akhirnya Yudis memilih untuk menyetujuinya.

Sepulang sekolah ini, ia sudah berjanji dengan Aya melalui perantara panitia Pentas seni. Sejujurnya ia merasa berat berjalan menuju ruang musik dan membahas pertunjukkan duetnya dengan Aya. Meskipun ia sudah mengenal Aya bertahun-tahun, Yudis jarang sekali berinteraksi dengan Aya.

Setiap kali Yudis datang bermain di rumah Arjuna, Aya cenderung memilih kabur dari pandangan Arjuna dan teman-temannya. Gadis yang berumur di bawah setahun dengannya itu menunjukkan sifat pemalu dan rasa enggannya setiap kali Yudis bertemu dengannya.

“Oi, Yudis!” Sambutan dari temannya yang merupakan panitia Pentas seni ketika Yudis memasuki ruang masuk tidak dihiraukan oleh Yudis. Ia memilih langsung mencari kursi yang berjauhan dengan Aya dan berharap pertemuan hari ini segera berakhir. Mata Yudis tertuju pada perempuan dengan rambut panjang yang menunjukkan gerak-gerik canggungnya.

“Langsung aja, kita mau pilih lagu buat duet nanti, ‘kan?” Yudis membuka suara, memotong penjelasan terkait Pentas seni.

“Boleh, kalau dari kalian mau lagu apa?” Yudis dan Aya saling membaca air muka satu sama lain, keduanya sama-sama menaikkan bahu tanda tidak tahu ingin menyanyikan lagu apa.

“Gimana kalau lagu jatuh cinta gitu?” Ucap panita Pentas seni dengan nada menggoda, Yudis jelas akan menolaknya. Ia sudah cukup canggung akan duet dengan Aya, menyanyikan lagu tentang jatuh cinta dengan Aya akan mengundang teman-temannya menggodanya nanti.

“Boleh, gimana kalau nyanyi lagu dari Hivi?” saran Aya, menyebutkan satu band yang terkenal di kalangan kelompok umur mereka. Diskusi terus berjalan dengan lancar hingga mendapatkan kesehatan Yudis dan Aya akan menyanyikan Mata ke Hati dari Hivi untuk Pentas seni.