Actions

Work Header

Mr. Ordinary

Summary:

Aku ini bukan ahli dalam bidang apapun,

benar 'kah?

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Di umurku yang ke dua puluh dua, aku baru menyadari sesuatu: kita cenderung melihat dunia dalam hitam dan putih, sebagai sesuatu yang bertolak belakang. Sebagai yang teratas dan terbawah, seakan tidak ada ruang untuk yang berada di tengah-tengah.

Orang tua selalu memberi nasihat pada anaknya agar mereka dapat menjadi yang nomor satu dan tidak menjadi nomor terbelakang. Para guru akan memberikan apresiasi pada si ketua OSIS dan 'nasihat' pada si biang onar. Orang-orang akan bertepuk tangan pada mereka yang pandai matematika dan bersorak memuja pada mereka yang pandai berseni.

Lalu, bagaimana dengan mereka yang tidak menonjol? Bagaimana dengan mereka yang tidak bergerak ekstrem ke sisi manapun? Apakah mereka akan dilupakan begitu saja, dianggap sebagai komponen yang tidak penting untuk diingat?

Bagaimana dengan aku?

Namaku Jeon Wonwoo, seorang remaja—atau pemuda? tanpa gelar superlatif dalam hal apapun. Aku anak tengah, dihimpit oleh si sulung Mas Cheol dan si bontot Chan. Sebelum kalian membayangkan yang tidak-tidak tentang keluargaku, jawabannya tidak. Keluargaku baik-baik saja. Kedua saudaraku menyayangiku, kedua orang tuaku juga tidak pernah membandingkanku ataupun membuatku merasa kecil dan aku juga menyayangi mereka. 

Lagi, sebelum kalian mengataiku terlalu mendramatisasi, aku jelaskan kondisiku. Aku anak tengah yang sekarang tengah berkuliah di fakultas psikologi salah satu universitas yang terkenal dengan jaket almamater berwarna kuning di Depok. IPK-ku rata-rata, tidak sebagus itu untuk dibanggakan tetapi juga tidak seburuk itu untuk dipermalukan. Kemampuan sosialisasiku juga standar, tidak terlalu supel hingga disebut social butterfly tetapi juga tidak begitu tertutup dan penyendiri. Aktivitas organisasi, kemampuan seni, masak, public speaking, teatrikal, semua hanya rata-rata. Jika diminta memilih satu bidang yang menjadi keahlianku, aku tidak akan bisa—karena aku merasa tidak ahli di semua bidang, sekali lagi, hanya rata-rata.

Jika pertanyaan yang sama dilontarkan pada Mas Cheol ataupun Chan, jawabannya pasti berbeda. Mas Cheol pasti akan menjawab teknologi, dan Chan akan tanpa ragu menjawab seni tari. Kedua saudaraku itu sangat keren di mataku. Mas Cheol yang kini tengah merintis usaha startup video game-nya lalu Chan yang sudah berkeliling dunia memenangkan kejuaraan tari.

Kadang, aku merasa seperti bintang Absolutno yang berada diantara dua Sirius—yang paling redup diantara dua bintang paling terang.

"Nu, ayo makan jangan melamun."

Satu sosok Sirius lainnya dalam hidupku adalah orang ini, Kim Mingyu, sahabat kecilku sekaligus kekasihku. Dia ini... nyaris sempurna, definisi seseorang yang serba bisa dan pandai di segalanya. Akademik, olahraga, seni, public speaking, memasak, semua bisa ia lakukan dengan hasil di atas rata-rata. Tidak heran kalau pada akhirnya dia dinobatkan sebagai duta kampus, menjadi wajah kampus ini sekaligus menjadi kebanggaan universitas dan tentu, fakultas teknik. Orang terdekatku selain keluargaku.

"Kamu kenapa sih, Nu? Penuh banget kepalanya?"

"Hm? Nggak, kepikiran UAS aja."

Mingyu meraih kentang goreng, memasukannya ke mulutnya. "Kenapa? Materinya susah?"

"Nggak. Udah, nggak usah dipikir, nanti aku cari cara."

Mingyu mengangguk tanpa bertanya lebih lanjut, dan aku kembali larut dalam pikiranku. Sebenarnya, apa yang aku pikirkan saat ini bukanlah pemikiran sehari-hari. Aku belum pernah memikirkan hal ini—dan mungkin tidak akan, jika saja tugas esai sialan yang menjadi penentu nilai semester empat ini mengambil tema "Pengenalan atas Kemampuan Diri". Karena memikirkan topik esai sialan itu, aku malah berpikir sangat jauh dan menganalisa segala sesuatu. Aku merasa kecil dan rasanya aku ingin menangis sekarang juga jika aku tidak tahu malu untuk menangis di tengah restoran cepat saji.

"Nu..."

Rasanya aku terlalu asik dengan pikiranku sampai-sampai aku tidak sadar bahwa kini Mingyu sudah selesai makan, bahkan sudah mencuci tangannya hingga bersih, meninggalkan aku dengan burgerku yang baru kumakan setengah.

"Oh, maaf." Aku buru-buru menghabiskan makananku dan beranjak mencuci tangan. Begitu aku kembali, Mingyu sudah berdiri dengan seulas senyuman simpul yang aku tahu jelas artinya. Diam-diam, aku menghela napas.

"Kamu menyeramkan."

"Dan kamu menggemaskan."

Aku tertawa kecil sambil meraih tasku sementara tangan kananku digenggam erat oleh Mingyu. Kami berjalan menuju motor Mingyu yang terparkir rapi, memakai helm, lalu melaju membelah jalan raya dalam hening. Aku yang melingkarkan lenganku di pinggangnya dibalas Mingyu yang sesekali mengusap punggung tanganku. Hitungan menit, kami sudah sampai di indekos Mingyu. Kekasihku itu peka, setiap kali dia merasa bahwa aku sedang banyak pikiran, solusi ini yang selalu ia tawarkan. Sebatas sebuah pelukan hangat dan usapan lembut di kepala sambil berbaring bersisian. Dan ajaibnya, solusi itu selalu manjur membuatku tenang—seperti sekarang ini. Aku baru saja merebahkan diriku pada kasurnya yang empuk, tetapi rasanya beban pikiranku sudah menghilang seperempat.

"Kamu mau ganti baju? Kaos kamu masih ada beberapa disini."

"Nanti aja. Kamu kesini."

Mingyu terkekeh pelan namun tak ayal ia menurut, merebahkan tubuh jangkungnya di sebelahku. Lengan kirinya ditaruh menjadi bantal di bawah kepalaku, sementara tangan kanannya sudah mendarat nyaman di kepalaku, memberi usapan halus seiring aku yang memeluk erat dirinya.

"Gyu."

"Hm?"

"Menurut kamu, what do I do best?"

"Can I pick more than one?"

"Satu aja Mingyuuu. 'Kan best, berarti yang paling paling paling jago aku lakuin."

"Hmm, sebentar ya aku mikir dulu." Mingyu terdiam tanpa menghentikan usapannya pada kepalaku. "I think you're best at being you."

"Gyuuuuu, serius!"

"Lho, ini aku serius, sayang." Mingyu meregangkan pelukan kami dan beralih menatap kedua mataku lekat. Sial, bisa-bisanya aku salah tingkah di saat seperti ini.

"Kamu punya ambisi, tapi nggak terlalu ambisius. Kamu punya prinsip yang kuat, tapi tetap fleksibel dan bisa kompromi di saat tertentu. Kamu baik—baik banget malah, tapi kamu juga tahu kapan harus tegas."

"Hmm. I appreciate your answer tapi maksudku 'tuh kayak bidang apa yang paling aku kuasai ya, Gyu? Aku ngerasanya aku biasa aja di semua bidang, I mean I know how to do them but not mastering them. Paham nggak, Gyu?"

"Oh, kamu mau jawaban yang lebih konkret ya?" Aku mengangguk. "Hm, then I'll say you're best in consulting."

"Huh?"

"You have magic with your words, yang, sumpah. Kamu inget nggak waktu Soonyoung sama Seokmin berantem gara-gara Seokmin ngerasa Soonyoung nggak punya waktu buat Seokmin? You talk with them, bukan kasih nasihat tapi omongan kamu 'tuh bikin mereka mikir. Akhirnya mereka baikan sampe nangis-nangis."

"Hm..."

"Atau kamu inget nggak, waktu Chan bingung mau milih sekolah swasta yang ada ekskul tarinya atau negeri yang bakal mempermudah ambil PTN tapi nggak ada ekskul tarinya? Aku masih inget banget kata-kata kamu, 'Chan udah besar sekarang, udah bisa ambil keputusan sendiri. Keputusan manapun yang kamu ambil nanti, jangan disesalin ya Chan. Kak Won yakin kamu pasti lebih tahu mana yang harus kamu pilih.'"

"Gyu..."

"Wah pas itu aku berasa jadi orang paling beruntung sedunia karena punya kamu, Nu. Oh, atau kamu inget nggak, waktu aku bingung mau nyalon duta kampus atau nggak? Kamu kasih plus minusnya, kamu kasih tahu segala kemungkinan yang bisa terjadi. Akhirnya, aku yakin mau maju karena kamu, Nu. Kamu bukan kasih saran atau mendikte orang lain harus begini begitu, tapi kamu kasih alasan, kasih dasar pertimbangan. And I really think that's magic you do, Nu."

"Mingyu udah dulu..."

Mungkin Mingyu mendengar suaraku yang semakin melirih dan tanganku yang semakin erat menggenggam kausnya. Pada akhirnya, kekasihku itu tertawa pelan sambil memberi kecupan-kecupan ringan di pucuk kepalaku.

"Sssttt, udah jangan nangis. Nanti kalo udah tenang, boleh ya isi kepalanya bagi ke aku? Oke, ganteng?"

Aku hanya bisa mengangguk dan semakin mengeratkan pelukanku pada si beruang besar. Mingyu salah, seharusnya akulah orang yang paling beruntung karena memiliki dirinya. Jika ia dibayar setiap kali lelaki itu menenangkan dirinya, maka Mingyu pasti sudah kaya raya. Di kehidupan sebelumnya, mungkin aku adalah pahlawan sampai-sampai dihadiahi seorang Mingyu yang sebegini berharganya.

"Gyu."

"Hm? Mau cerita sekarang? Atau kalo kamu belum siap juga nggak apa, sayang. Jangan dipaksa, oke?"

Aku menggeleng pelan. "Mau cerita."

"Okedeh, Nu cerita, aku dengerin."

"Jangan dipotong ya?"

"Iya, sayang."

Aku menarik napasku dalam-dalam, pelukan kulonggarkan, pandangan kunaikkan dan kini aku sudah beradu tatap dengan Mingyu yang juga balas menatapku hangat.

"It's actually my essay... aku diminta buat esai tentang pengenalan terhadap kemampuan diriku. Terus, ya setelah aku pikir-pikir, aku nggak punya satu bidang yang aku benar-benar kuasai gitu nggak sih? Kayak yaaa, standar aja. Aku bisa, tapi I'm not a master. Kemampuanku di bidang-bidang itu tuh bisa diabaikan aja gitu, karena ya orang-orang cuma inget the top of the class or the exact opposite—the rock bottom.

"Terus ya aku mellow aja... Kayak, aku ternyata gampang banget dilupain, ya. Nothing special to remember, nothing special to be proud of. Kalo nanti Mas Cheol, Chan, Mama, Papa, atau kamu lupa sama aku, ya wajar sih soalnya I'm not the brightest star to be remembered."

"Sayang—"

"Jangan dipotong dulu akunya, Mingyuu."

"Iya, tapi nanti aku mau gantian ngomong, ya?"

"Iyaaa. Yaudah aku lanjutin ya—Terus ya udah sebenarnya gitu aja. Tapi setelah denger jawaban kamu tadi pikiran itu udah hilang kok, Gyu. Maaf ya Mingyu kamu pacaran sama aku yang gampang mellow dan kepikiran ini-itu, kadang I wonder how can you bear with me while sometimes I can't even bear myself. Terus makasih juga, rasanya aku yang jadi orang paling beruntung karena punya kamu, Mingyu. Makasih ya, udah sabar sama aku, udah sayang-sayang aku, udah jadi pendengar dan advisor yang super keren buat aku.

"Ini amit-amit sih, Mingyu, semoga ini nggak pernah kejadian—tapi, kalau nanti kamu bosan sama aku, kamu udah worn out sama aku, kamu kasih aku aba-aba ya Mingyu. Seenggaknya, kamu pamitan dulu biar aku bisa siap-siap. Oke udah gitu aja. Aku sayaaaaang banget sama kamu, Gyu."

Aku yakin, saat ini mataku pasti sudah memerah menahan tangis. Pelupuk mataku terasa penuh oleh air mata yang rasanya siap jatuh kapan saja. Tetapi aku tidak sendiri. Mingyu yang ada di hadapanku juga tidak jauh berbeda, bahkan pipi Mingyu sudah dialiri satu dua tetes air mata yang tidak terbendung. Melihatnya, aku tertawa kecil dengan suara sumbang.

"Mingyuuu, katanya aku nggak boleh nangis, kok malah kamu yang nangis?" Aku kembali terkekeh sembari tanganku mengusap jejak air mata dengan perlahan. Kekasih besarku itu juga ikut terkekeh meskipun air matanya kembali mengalir. Sebelah tangannya kini berpindah dari pucuk kepalaku menjadi menangkup tanganku yang masih bertahan di pipinya.

"Aku ralat deh tadi. You're the best at making me cry and feel loved." Mingyu membawa jemariku untuk kemudian ia kecupi satu persatu. Orang ini rasanya tidak pernah berkaca ya? Justru akulah yang seharusnya bersyukur karena Mingyu benar-benar tahu bagaimana cara membuatku tersipu dan merasa sangat dicintai. "Bentar ya sayang, let me compose myself."

"You have all the time in the world, Gyu."

Mingyu beberapa kali menarik napas dalam-dalam, mencoba menghentikan gelombang emosi yang menggulung menjadi satu persatu tetesan air mata.

"Oke, I'll start ya sayang. Pertama, makasih ya sayang, kamu udah terbuka sama aku. Kamu mau berbagi dan percaya sama aku. Kita udah kenal berapa tahun ya, Nu? Lima belas tahun—"

"Tujuh belas, Mingyu."

"—Oh, malah lebih ya ternyata. Kita udah kenal tujuh belas tahun, dari kita umur lima ya? Waduh udah lama banget, hahaha. Tapi, tahu nggak Nu, selama itu kita kenal, tapi ada satu hal yang belum bisa aku pahami seratus persen—you and those train of thoughts in that pretty head of yours."

"Maaf... I'm being difficult ya, Gyu?"

"No, no, no, it doesn't mean that way, sayang. Maaf wording aku jelek banget. Maksud aku, you think a lot, kamu mikirin hal-hal yang bahkan aku nggak kepikiran. That's so amazing of you sayang, it's your charm. Kamu nggak wajib cerita semuanya ke aku, tapi aku boleh minta kamu janji satu hal nggak?"

"Apa?"

Tangan Mingyu kini kembali bergerak menuju puncak kepalaku, memberinya usapan lembut. "Kalau pikiran yang ada disini udah mulai jelek dan bikin kamu sedih, bagi sama aku ya? Atau kalau disini udah terlalu penuh, bagi isinya sama aku ya?"

Senyum tidak bisa dihindari lagi. Cara Mingyu berbicara selalu penuh dengan kelembutan dan aku hanya manusia lemah yang tentu akan luluh dengan perlakuan semanis itu.

"Oke, aku janji."

Mingyu tersenyum dan kini ganti pipiku yang menjadi sasaran kecupannya.

"Aku lanjut ya. Kedua, aku mau marah banget sama kamu. How can you think so low of yourself? Wonwoo, kamu nggak harus menonjol untuk diingat. You don't need to be so extravagant to be loved. You can just being you and I will still love you, remember you until death do us apart. Bukan hanya aku, Mas Cheol, Chan, Papa dan Mama pasti juga akan ingat dan sayang sama kamu, Nu.

"Who cares about Sirius the brightest star if it will eventually burnt out and fade? You can be a star, a lighthouse, or anything you want and you will shine in your own way. You can sit on the top, the bottom, in the middle, I don't even care, Nu. Dimanapun posisi kamu, seterang apapun cahaya kamu, nggak akan mengubah rasa sayang dan percayaku ke kamu, nggak akan mengubah kenyataan bahwa all I see is you. Aku percaya kamu bisa melakukan apapun dan jadi apapun selama kamu berusaha. Dan apapun hasilnya, aku akan selalu bangga sama kamu karena kamu udah mau berusaha.

"Ketiga, aku bersyukur kalau aku bisa ngasih rasa nyaman ke kamu. I'm really grateful that I can be your safe place, your shoulder to lean on and you don't have to be sorry, sayang. Nggak pernah sekalipun aku menyesal jadi pacar kamu. I'm glad to be your constant reminder to love yourself, I'm glad to love and to be loved by you, I'm glad to be your anything you want and need me to be, sayang. Jadi, jangan bilang makasih sama aku ya, sayang? It's my pleasure.

"Terakhir, aku nggak bisa janji untuk selamanya. Tapi untuk sekarang atau dalam beberapa tahun yang akan datang, aku nggak ada pikiran sedikitpun untuk ninggalin kamu sayang. I'll be around as much as you want me to, or as long as God wants me to. Aku sayaaang banget sama kamu. And you know, sayang?"

"Apa?"

"We're both lucky to have each other."

Aku tersenyum seiring hatiku yang semakin menghangat dan pelukan yang semakin mengerat. "We are, indeed."

Seiring matahari yang semakin tenggelam sore itu, pelukan kami semakin hangat diselingi beberapa kali tawa dan rengekan manja. Dan ya, aku beruntung dan aku sangat bangga terhadap kekasihku,

dan aku juga bangga pada diriku sendiri.

 

 

("'Namaku Jeon Wonwoo, dan aku bukanlah ahli dalam suatu bidang. Tetapi aku ahli dalam menjadi diriku sendiri.' Yang, kata kamu ini bukan jawaban yang kamu mau?"

"Ya emang, tapi setelah dipikir-pikir aku mau nulis itu aja. Kalo kata orang, you don't give me what I want but what I need. Ahahaha, geli nggak kamu?"

"Merinding, yang. Kamu kerasukan siapa?"

"Sama, sih. Tapi alasan lainnya, mau tau nggak, Gyu?"

"Apa tuh?"

"Aku berasa keren aja nulis gitu, hahahaha."

"Aduhhhhh sayang kamu lucu banget, mau gigit."

"Hahaha jangan gigit—ADUH MINGYU!"

"Hehe maaf yang, kelepasan.")

Notes:

I wrote this on my questioning myself period during the past exam (re: hell) week because I felt like shit dan tulisan ini secara garis besar adalah isi pikiranku saat itu (tentu dengan beberapa modifikasi) hhhh. Mingyu's answers are actually real words I received from a dear friend of mine who passed away 5 years ago, so I guess this is also a reminiscence of him (I miss you, a lot). Anyway, how was it? Feel free to leave your thoughts!

Annnnd I'm currently working on Orange Blossom so hehe maaf lama ya.. :]