Work Text:
Mydeimos tertinggal banyak.
Ia pikir ketika kembali, ia hanya perlu menebus kebersamaan mereka yang hilang. Namun, ternyata bukan itu saja. Ia juga perlu menebus waktu dari kelahiran Leon, putranya.
Ya, putra.
Mydeimos kini seorang ayah.
Dan kini, ia ingin mengulang segalanya.
~*~
“...Leon.”
“Ya, Ayah?”
Ayah . Ia benar-benar menjadi seorang ayah. Rasanya seperti baru kemarin ia melamar Phainon dan melangsungkan pernikahan di depan para keturunan Chrysos dan warga Okhema.
Waktu berlalu terlalu cepat, bukan hal baik maupun buruk. Ia jadi tidak bisa melihat perkembangan awal Leon.
Anak-anak tumbuh terlalu cepat , ia sering mendengar perkataan tersebut dari ibu-ibu Okhema. Dulu ia berpikir itu tidak mungkin karena waktu yang dihabiskan untuk merawat anak sangatlah banyak. Namun sekarang, ia merasa setuju pada perkataan tersebut.
Mydei sudah pernah membicarakan ini dengan Phainon, namun istrinya hanya menjawab, jangan menyesali masa lalu, Mydeimos. Kau hanya perlu menatap kedepan dan menebus waktu yang tidak bisa kau berikan padanya.
Berpegang teguh pada perkataan Phainon saat itu, disinilah dia mengajak Leon untuk bermain. Mydei bisa melakukannya dengan lancar bersama anak-anak Okhema lainnya, namun entah mengapa rasanya canggung dengan anaknya sendiri.
“...Kau ingin bermain apa?”
“Apapun aku mau asalkan sama ayah.”
Leon selalu menjawab ini. Mydei kehabisan ide.
Jika saja Phainon disini, dia pasti tahu apa yang harus dilakukan.
….
Tidak, ia tidak bisa terus-menerus meminta bantuan Phainon. Ini adalah tanggung jawabnya. Ini adalah tugas pertamanya sebagai seorang ayah, mengajak anaknya bermain. Tapi, masalah lain muncul. Permainan apa yang Leon sukai?
Mereka sudah bermain macam-macam, petak umpet, kejar-kejaran, dan lain sebagainya. Dari sekian banyaknya permainan, Leonidas tidak terpaku pada satu permainan saja, dan itu membuatnya bingung.
Tanpa Mydei sadari, Leon mengambil sebuah buku dan berlari kecil ke arahnya.
“Ayah, aku ingin ayah membacakanku ini.”
Mydei mengambil buku yang Leon bawa. Sang Putri dan Singa Perkasa . Ah, buku cerita legendaris di Okhema. Mustahil setiap anak tidak tahu jalan kisahnya.
“Kau ingin dibacakan ini? Tidak mau yang lainnya?”
“Tidak. Aku suka yang ini.”
Mydei lalu duduk dengan Leon di sampingnya. Tangan besarnya membuka halaman buku yang tipis itu.
“..Alkisah, di suatu kerajaan, hiduplah seorang putri yang cantik jelita. Rambutnya seputih salju dengan sepasang mata yang indah layaknya batu safir. Ia adalah putri yang baik hati pada semua orang.”
“Suatu hari, kerajaannya diserang oleh penjahat bertopeng yang memiliki kekuatan gelap. Kerajaannya hancur dan sang putri terpaksa melarikan diri. Ia berjalan tanpa arah sembari memikirkan keluarganya. Pakaiannya yang indah perlahan rusak dan sobek. Sang putri tidak lagi terlihat rupawan, ia semakin kurus.”
“Ketika kakinya tidak sanggup lagi berjalan, ia bertemu dengan seekor singa yang besar dan menyeramkan. Singa itu berjalan mendekatinya. ‘Ah, sepertinya ini akhir dari hidupku ,’ pikir sang Putri. Namun, anehnya sang singa tak kunjung memakannya. Ia justru memberinya buah delima yang terjatuh dari pohon.”
Mydei melirik anaknya yang tak terdengar suaranya. Leonidas menatap buku itu dengan mata berbinar-binar. Ternyata ia sungguh menyukai buku ini . Mydei kembali melanjutkan.
“–sang putri akhirnya berteman dengan sang singa untuk mengalahkan penjahat bertopeng itu–”
Mydei membacakan kisah sambil mencoba terdengar menarik. Walaupun suaranya aneh, Leonidas tidak menjauh. Ia semakin semangat ketika ayahnya membalik halaman.
“Ah! Aku suka yang ini! Singanya ternyata pangeran yang dikutuk dan akhirnya menikah dengan si putri!”
Mydei mengernyit. Dongeng ini aneh juga ternyata setelah dipikir-pikir. Penulisnya terdengar memaksakan romansa antara singa dan putri. Selera anaknya itu cukup buruk, sama seperti seseorang yang ia kenal.
“–dan akhirnya mereka hidup damai selamanya. Tamat.”
“Yeey!” Leon bertepuk tangan.
“Ayah cara ceritanya beda sama ibu. Suaranya ayah lebih keras, kalo ibu lebih kecil!”
“...Ibumu sering membacakan ini?”
“Iya! Hampir tiap malam. Katanya ibu suka cerita ini.”
“....”
Mydei memutuskan untuk tidak membahas lebih jauh. Leon sibuk menceritakan adegan favoritnya pada Mydei hingga mereka tidak menyadari seseorang berambut putih berjalan mendekat.
“Gimana mainnya, dua orang yang aku sayangi se-Amphoreus?”
“Phainon.” / “Ibu!”
Phainon terkekeh dan duduk disamping Leon.
“Tadi ayah cerita yang biasanya ibu bacain!”
“Oooh yang itu? Gimana? Bagusan ibu yang ceritain atau ayah?” Phainon menyeringai pada Mydei.
“Ayah!” Mydei menahan tawa. Phainon terlihat kecewa.
“Kenapa ayah? Bukan ibu?”
“Ayah! Soalnya ayah keliatan lebih keren!” Mydei mengacak rambut anaknya.
“Berarti ayah menang ya? Ibumu berarti nggak keren dong?”
“Mydei!” / “Iya!”
Phainon mencubit lengan Mydei sementara Leon memeluknya. Mydei menepis tangan Phainon dan memeluknya.
Ia memeluk keduanya dan tidak berniat melepaskannya.
Selamanya.
